<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>menulis Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/menulis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/menulis/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Jul 2025 10:09:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>menulis Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/menulis/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menulis yang Dipaksakan, Kreativitas yang Terkorbankan</title>
		<link>https://jakpos.id/menulis-yang-dipaksakan-kreativitas-yang-terkorbankan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2025 10:09:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kreatifitas]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=89132</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kreativitas bukanlah mesin produksi. Ia tidak bisa dipaksa terus-menerus berjalan tanpa jeda</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menulis-yang-dipaksakan-kreativitas-yang-terkorbankan/">Menulis yang Dipaksakan, Kreativitas yang Terkorbankan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Kreativitas bukanlah mesin produksi. Ia tidak bisa dipaksa terus-menerus berjalan tanpa jeda</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Banyak orang berkata, “semakin sering kamu menulis, semakin bagus tulisanmu.” Nasihat itu memang terdengar logis, bahkan meyakinkan. Tapi bagaimana jika yang terjadi justru berkebalikan dari kenyataannya? Semakin sering <a href="https://www.depokpos.com/2024/12/meningkatkan-keterampilan-menulis-bahasa-indonesia-melalui-metode-kreatif-di-sekolah/">menulis</a>, semakin lelah, semakin kosong dan semakin minim kreatifitas yang muncul.</p>
<p>Tak sedikit penulis muda, <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/islam-sebagai-penawar-luka-tawuran-pelajar-depok/">pelajar</a>, atau mahasiswa yang awalnya menulis dengan semangat tinggi menuangkan pikiran dan hati mereka ke dalam cerpen, puisi, <a href="https://www.depokpos.com/2025/05/review-artikel-al-musaqoh-dan-muzaraah-syarat-dan-rukun-beserta-perbedaan-dan-dalil-dalil/">artikel</a>, atau jurnal harian. Namun seiring waktu, mereka mulai merasa terjebak dalam rutinitas. Menulis setiap hari, tapi rasanya tak pernah merasa cukup. Tulisan bertumpuk, tetapi tak ada yang benar-benar membaca, tak ada yang menanggapi, seolah tulisan yang dibuat hanya lewat begitu saja.</p>
<p>Dalam tahap ini, menulis menjadi seperti bekerja dalam ruang hampa, sunyi, membosankan, dan perlahan mematikan gairah. Masalahnya bukan terletak pada semangat menulis itu sendiri, tapi pada bagaimana kita merespons proses kreatif tersebut.</p>
<p><a href="https://www.depokpos.com/2025/01/menumbuhkan-kreativitas-generasi-muda-dalam-mengelola-lingkungan-hidup/">Kreativitas</a> bukanlah mesin produksi. Ia tidak bisa dipaksa terus-menerus berjalan tanpa jeda, tanpa bahan bakar dari hati dan pikiran yang jernih. Ketika menulis berubah menjadi target yang harus dikejar setiap hari entah demi algortima di sosial media atau demi pembuktian diri, maka tulisan yang lahir bukan lagi karya indah yang dapat dinikmati melainkan hanya sekadar tulisan tanpa <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/perubahan-pola-asuh-orang-tua-di-era-digital-antara-gadget-pendidikan-dan-kedekatan-emosional-2/">emosi</a> dan perasaan penulisnya.</p>
<p>Dalam kondisi seperti ini, menulis tidak lagi menjadi proses mengekspresikan diri, melainkan sebuah beban. Apalagi jika tidak ada ruang apresiasi atau dukungan dari lingkungan sekitar. Banyak penulis yang akhirnya merasa tulisannya sia-sia karena tak dibaca, tak dianggap, atau hanya dihargai dalam bentuk “likes” dan “views” yang kosong tanpa umpan balik dari pembaca. Karya yang lahir dari tekanan semacam itu sering terasa hambar, tidak tulus dan kurang menyentuh.</p>
<p>Saya percaya bahwa menulis seharusnya menjadi bagian dari proses hidup, bukan sekadar bukti bahwa kita bisa atau sanggup menulis dengan baik. Menulis bukan tentang konsistensi tanpa isi, tapi tentang kehadiran makna yang utuh dalam setiap kata. Maka, jeda bukanlah bentuk kegagalan. Itu justru diperlukan sebagai bagian dari proses kreatif itu sendiri. Diam dapat menjadi ruang di mana kreatifitas kembali tumbuh dan dari ketenangan itulah muncul ide-ide baru dalam berkarya.</p>
<p>Yang kita butuhkan bukan sekadar dorongan untuk terus menulis, tetapi ekosistem yang suportif, komunitas yang benar-benar peduli, pembaca yang memberi umpan balik jujur, bahkan mentor yang memberi arah dalam proses kreatif. Menulis bukan soal siapa yang paling sering menerbitkan karya, tapi siapa yang tulisannya benar-benar hidup, dan membuat orang lain merasa hidup pula saat membacanya.</p>
<p>Sebab menulis yang dipaksakan hanya akan mengorbankan kreativitas. Dan kreativitas yang terkuras adalah kehilangan paling dalam yang bisa dialami seorang penulis.</p>
<p>Fiqri Fadhillah Ramadhan</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menulis-yang-dipaksakan-kreativitas-yang-terkorbankan/">Menulis yang Dipaksakan, Kreativitas yang Terkorbankan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/staiku.ac.id/wp-content/uploads/2023/05/remaja-berkarakter.png?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Menulislah Meski Kau Bukan Ahlinya</title>
		<link>https://jakpos.id/menulislah-meski-kau-bukan-ahlinya/</link>
					<comments>https://jakpos.id/menulislah-meski-kau-bukan-ahlinya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Apr 2017 09:18:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[cara menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=11253</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menulis merupakan aktivitas yang positif. Dimana setiap orang bisa mengeluarkan pendapat, idea atau gagasannya dalam&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menulislah-meski-kau-bukan-ahlinya/">Menulislah Meski Kau Bukan Ahlinya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_11263" aria-describedby="caption-attachment-11263" style="width: 535px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-post-11253 wp-image-11263" src="http://res.cloudinary.com/depok-pos/image/upload/v1492420665/76tips-produktif-menulis-setiap-hari_h0t4h4.jpg" alt="" width="535" height="235" /><figcaption id="caption-attachment-11263" class="wp-caption-text">Ilustrasi. (Istimewa)</figcaption></figure>
<p>Menulis merupakan aktivitas yang positif. Dimana setiap orang bisa mengeluarkan pendapat, idea atau gagasannya dalam sebuah tulisan. Setiap orang tentu nya memiliki potensi nya masing-masing. Namun, tahukah bahwa kegiatan tulis-menulis dapat di lakukan oleh semua orang. Mencurahkan sebuah kata dan kalimat di atas kertas nyata ataupun kertas elektronik. Mencatatkan agar kita tidak lupa apa yang terjadi di masa kini. Lalu menjadi sebuah kenangan ataupun sejarah ataupun tulisan yang bermanfaat bagi diri maupun orang lain. Begitu pentingnya menulis, menuntut siapa saja untuk mampu menulis atau berkomunikasi tertulis dengan baik dan benar. Kita sering menipu diri dengan menyebut bahwa ‘saya tidak mampu menulis’. Sungguh banyak sekali orang-orang yang menyebutkan kata seperti itu. Bila kita renungi kembali, sejak dini kita telah dilatih untuk menulis. Mengarang, membuat puisi, dan lain sebagainya yang sebelumnya telah kita pelajari di mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sebenarnya tidak ada orang yang tidak bisa menulis. Belum terbiasa dan rasa malas yang terkadang hadir pada diri, itulah yang sebenarnya harus kita perangi. Menulis tidak selalu berkutat dengan buku tebal. Diary, artikel, puisi, essay, cerpen, dan lain sebagainya adalah tulisan sederhana yang dapat dilakukan oleh semua orang.</p>
<p>Namun, kadang untuk memulai semua itu orang sulit untuk memulainya. Apa yang mau di tulis ? mulai dari mana ? ah takut tulisan kita di kritik orang ? dan lain sebagai nya. kalimat-kalimat itu tentu saya sebagai pemerhati pernah mengalami nya. banyak sekali manfaat yang dapat kita ambil dalam menulis. Tahukah para ilmuan, filsuf dan para ulama terdahulu dan lain sebagainya. Setelah mereka meninggal, mereka meninggalkan sebuah karya. Karya yang di cari oleh para pencari ilmu. Melalui apa mereka memberikan sebuah karya ? dengan sebuah tulisan lah. Sehingga karya-karya mereka sampai saat ini dapat di kenang oleh zaman, sekalipun mereka sudah tiada. Petuah Ali bin Abi Thalib menyatakan “ ikatlah ilmu dengan Menulis” dan Imam Syafii berfatwa bahwa “Ilmu itu di ibaratkan binatang buruan yang sudah di tangkap sehingga untuk mengikatnya harus di tulis” Buya Hamka berpendapat dengan “menulis membuat hidup yang kita jalani ini tidak sekedar hidup” dengan tulisan ilmu dapat di abadikan walaupun pemiliknya sudah tidak ada lagi, Dasyatnya tulisan ini membuat generasi kita selanjutnya dapat mengetahui Ilmu-ilmu yang diciptakan pengetahuan-pengetahuan umum dan agama, informasi masalah Agama pun dapat di ketahui.</p>
<p>Sengaja saya singgung motivasi-motivasi diatas: jika kamu ingin menjadi penulis, atau setidaknya piawai menggoreskan tinta, kata kuncinya adalah ‘nekad’. Tolong buang jauh-jauh rasa pesimistis dalam diri anda. Karena bedanya penulis sama yang bukan penulis adalah dia sudah memulai nya menulis sedangkan kamu belum. Syarat yang paling mendasar adalah rakus dalam membaca dan mulailah untuk menulis. Apapun itu, tulisankanlah. Baca apa saja. Berita, Majalah, Informasi-Informasi dari Internet, Buku-Buku Fiksi non Fiksi dan lain sebagai nya. setelah itu tuangkan lah dalam sebuah tulisan. Jangan bingung lagi mau nulis apa, semua akan terasa mudah jika kamu sudah memulainya.</p>
<p>Ingat, Kegiatan menulis bukan untuk seorang “Penulis” saja bukan untuk seorang “Ahli” dalam bidang nya. namun, menulis dapat dilakukan oleh kita semua, yang punya tekad dan kemauan untuk memberikan sebuah karya untuk masyarakat luas yang akan terus di kenang sampai kita tiada. Percayalah semuanya sama. Cuma beda nya ya itu tadi, seorang penulis mereka telah lebih dahulu mencoba menulis dari pada kita. Kemudian mereka telah memberikan ratusan tulisan atau pun artikel nya dari buah pikirannya yang mereka alirkan melalui tangan nya.</p>
<p>Sudah siapkah untuk menulis ? atau masih takut ? atau mau nunggu dua hari, tiga hari, setahun atau sepuluh tahun lagi atau tetap mau mengurung diri bahwa kau bukan seorang pemenang ? menulislah, kau adalah seorang pemenang.</p>
<p><em><strong>Ditulis oleh : Reni Marlina (Media Tabloid Intan’s Writer)</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menulislah-meski-kau-bukan-ahlinya/">Menulislah Meski Kau Bukan Ahlinya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/menulislah-meski-kau-bukan-ahlinya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
