<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Merdeka Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/merdeka/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/merdeka/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Sun, 24 Aug 2025 23:14:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Merdeka Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/merdeka/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Merdeka dalam Islam: Sadar Memosisikan Diri sebagai ‎Hamba Allah</title>
		<link>https://jakpos.id/merdeka-dalam-islam-sadar-memosisikan-diri-sebagai-hamba-allah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2025 23:14:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=91054</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; “Kemerdekaan menurut Islam dapat diartikan sebagai kondisi saat seseorang sadar dan ‎berusaha keras&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/merdeka-dalam-islam-sadar-memosisikan-diri-sebagai-hamba-allah/">Merdeka dalam Islam: Sadar Memosisikan Diri sebagai ‎Hamba Allah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://jakpos.id/go/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; “Kemerdekaan menurut Islam dapat diartikan sebagai kondisi saat seseorang sadar dan ‎berusaha keras untuk memosisikan diri sebagai hamba Allah,” ungkap Pemerhati Remaja, Qonita Diyaana Al Aziza dalam kajian keputrian, Refleksi Hari ‎Kemerdekaan, Jumat (22/08/2025) di salah satu SMK di Depok. ‎</p>
<p>Pasalnya, menurut mahasiswi yang akrab disapa Kak Qonita tersebut, seorang Muslim ‎harus memilki cara pandang yang cemerlang yang bebas dari penghambaan kepada ‎makhluk. ‎<br />
‎<br />
“Kita harus memiliki cara pandang yang cemerlang. Orang-orang yang seperti ini baru ‎percaya diri mereka merdeka ketika bebas dari penghambaan sesama makhluk, juga ‎merdeka dari paksaan pemikiran dan ideologi buatan manusia,” ungkapnya. ‎</p>
<p>Dalam kesempatan yang sama, Kak Qonita mengaitkan kemerdekaan dengan rakyat ‎Palestina yang saat ini sedang mengalami pelaparan sistemik. ‎<br />
‎<br />
“Jadi benarkah sudah merdeka? Lalu bagaimana dengan Palestina? Saat ini Gaza ‎sedang mengalami pelaparan yang sistemik,” ujarnya di hadapan sekitar 90 siswi. ‎</p>
<p>Terkait pelaparan sistemik di Gaza, Kak Qonita mengungkap ada 4 fase. “Tahap awal pelaparan sistemik yang terjadi di Gaza adalah kekurangan makanan ‎pokok, tahap menengah ketergantungan pada bantuan, tahap kronisnya yaitu ‎malnutrisi akut, anak-anak meninggal, yang selanjutnya tahap massal yang berpotensi ‎genosida dalam,” bebernya. ‎</p>
<p>Tak hanya itu, menurutnya, ada empat faktor penyebab dunia gagal menolong Gaza, yakni, karena PBB lembaga internasional memberi bantuan terbatas, negara Muslim saat ini terpecah-pecah, tak punya kepemimpinan tunggal, donasi hanya solusi jangka pendek dan tidak adanya solusi jangka panjang dan sistemik. ‎</p>
<p>Oleh karena itu, terang Kak Qonita, solusi untuk membebaskan palestina harus mengirimkan ‎pasukan militer. ‎“Karena Israel menyerang Palestina pakai militer, jadi kita harus melawan mereka ya ‎dengan militer juga,” tegasnya. ‎</p>
<p>“Yang harus dilakukan saat ini adalah menyempurnakan kemerdekaan yang sudah kita ‎rasakan dengan berusaha sungguh-sungguh mewujudkan kemerdekaan hakiki itu. Kalau ingin meraih kemerdekaan yang hakiki, ada dalam Islam. Karena Islam ‎mencakup segala aspek kehidupan, dalam segi politik, kesehatan, pendidikan, bahkan ‎ekonomi,” bebernya. ‎</p>
<p>Tak hanya itu, ia pun mengungkapkan wujud nyata dari kemerdekaan yang hakiki dengan melepaskan diri dari belenggu sekularisme. ‎<br />
‎<br />
“Dengan mewujudkan ketundukan sepenuhnya pada semua aturan Allah SWT, ‎melepaskan diri dari belenggu sistem yang bertentangan dengan tauhid, yakni ‎sekularisme yang berusaha memisahkan agama dari kehidupan, berganti seraya ‎menegakkan pelaksanaan syariah Islam secara menyeluruh. Dengan itu kemerdekaan ‎hakiki terwujud, terang-benderang, kehidupan berkemakmuran dan mulia akan dapat ‎dirasakan oleh semua anggota masyarakat,” pungkasnya. [Mustikawati]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/merdeka-dalam-islam-sadar-memosisikan-diri-sebagai-hamba-allah/">Merdeka dalam Islam: Sadar Memosisikan Diri sebagai ‎Hamba Allah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/storage.googleapis.com/sahabat-pegadaian-asset-prd/migrated-media/2024--07--makna-kemerdekaan-indonesia.webp?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Merdeka Seratus Persen: Refleksi Kesejahteraan Dosen di HUT RI ke-80</title>
		<link>https://jakpos.id/merdeka-seratus-persen-refleksi-kesejahteraan-dosen-di-hut-ri-ke-80/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2025 23:29:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[17 Agustus]]></category>
		<category><![CDATA[HUT RI ke-80]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=90826</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK, Dosen MAS FDIKOM UIN Jakarta.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/merdeka-seratus-persen-refleksi-kesejahteraan-dosen-di-hut-ri-ke-80/">Merdeka Seratus Persen: Refleksi Kesejahteraan Dosen di HUT RI ke-80</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK, Dosen MAS FDIKOM UIN Jakarta.</strong></em></p>
<p>Delapan puluh tahun Indonesia merdeka adalah momentum penuh makna. Bangsa ini telah melewati berbagai fase: perjuangan mempertahankan kedaulatan, pembangunan ekonomi, transisi demokrasi, hingga menghadapi era digital. Namun di balik gegap gempita perayaan HUT RI ke-80, ada pertanyaan reflektif yang tak kalah penting: apakah dosen—sebagai garda terdepan pembentuk intelektual bangsa—sudah benar-benar merdeka dalam kesejahteraan?</p>
<p>Dosen adalah sosok yang mengemban misi mulia. Mereka bukan hanya pengajar di ruang kelas, tetapi juga peneliti, pengabdi masyarakat, dan penjaga moral intelektual bangsa. Melalui tangan mereka, lahir para dokter, insinyur, politisi, aktivis, ulama, hingga birokrat. Tetapi, ironisnya, kesejahteraan dosen masih sering menjadi isu yang terpinggirkan. Gaji dan tunjangan sebagian besar dosen, baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta, jauh dari kata memadai. Banyak dosen yang harus mencari pekerjaan tambahan untuk menopang kebutuhan keluarga. Tidak sedikit pula yang menghadapi beban kerja administratif yang menumpuk tanpa diiringi apresiasi setara.</p>
<p>Jika kita merenung sejenak, kemerdekaan seharusnya tidak hanya dipahami sebagai terbebas dari penjajahan kolonial, tetapi juga terbebas dari keterbelengguan struktural yang membuat insan akademik sulit mencapai kesejahteraan. Kemerdekaan sejati adalah saat para dosen dapat mengabdikan dirinya sepenuhnya pada tridharma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian—tanpa dihantui kekhawatiran tentang kebutuhan dasar hidupnya.</p>
<p>Pada momentum HUT RI ke-80 ini, kita diajak untuk kembali pada semangat para pendiri bangsa yang bercita-cita melahirkan masyarakat adil dan makmur. Pertanyaannya: apakah adil jika dosen, yang menjadi fondasi peradaban, justru masih harus berjuang keras demi kebutuhan hidup sehari-hari? Apakah makmur jika profesi intelektual ini tak memberikan jaminan masa depan yang layak?</p>
<p>Refleksi ini bukan sekadar keluhan, melainkan ajakan moral. Negara perlu hadir lebih serius dalam memperjuangkan kesejahteraan dosen, bukan hanya dalam bentuk tunjangan dan gaji, tetapi juga ekosistem akademik yang sehat, penghargaan atas karya ilmiah, serta perlindungan sosial yang memadai. Sebab, ketika dosen sejahtera, bangsa ini akan menikmati buahnya dalam bentuk generasi yang lebih cerdas, kritis, dan berdaya saing.</p>
<p>HUT RI ke-80 seharusnya menjadi momentum menegaskan kembali komitmen kemerdekaan yang holistik. Kemerdekaan tidak bisa hanya dirayakan dengan seremoni, melainkan diwujudkan dalam kebijakan nyata yang memastikan setiap anak bangsa, termasuk para dosen, dapat hidup bermartabat.</p>
<p>Maka, sebagai penutup ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: sudahkah kita benar-benar merdeka, jika para dosen bangsa ini masih harus berjuang keras demi kesejahteraannya?</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/merdeka-seratus-persen-refleksi-kesejahteraan-dosen-di-hut-ri-ke-80/">Merdeka Seratus Persen: Refleksi Kesejahteraan Dosen di HUT RI ke-80</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/ik.imagekit.io/goodid/gnfi/uploads/articles/large-merdeka-39c9e477addc788b07ce7864e63b970b.jpg?tr=w-768%2Ch-576%2Cfo-center&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Merdeka atau Mati Syahid</title>
		<link>https://jakpos.id/merdeka-atau-mati-syahid-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2025 01:59:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[17 Agustus]]></category>
		<category><![CDATA[Kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=90326</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Pekikan para pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia menyeruak ke permukaan yang selalu&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/merdeka-atau-mati-syahid-2/">Merdeka atau Mati Syahid</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Pekikan para pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia menyeruak ke permukaan yang selalu bergema saat bangsa Indonesia melakukan perlawanan terhadapa kolonial Belanda. Mereka bersatu padu, mulai rakyat biasa sampai para sultan, para ulama dan intelektual hingga mereka yang tak berpendidikan tinggi berjuang mengangkat senjata apa adanya, mulai dari bambu runcing, keris, golok, mandau, rencong dan semua senjata tradisional, hingga persenjataan modern, mereka pergunakan untuk mengusir dan melawan penjajah Belanda agar mereka segera meninggalkan wilayah Indonesia.</p>
<p>Bangsa Indonesia sudah merasa muak dengan penindasan yang dilakukan Belanda dan antek-anteknya. Bangsa Indonesia ingin segera merdeka. Untuk itu, semua elemen masyarakat bergerak bersatu melawan ketidakadilan dan kesewenangan. Peperangan demi peperangan terus terjadi, seperti perang Aceh (1873-1904), Perang Paderi (1823-1836),Perang Diponegoro (1825-1830), dan peperangan lain terus bergejolak, sebagai bukti adanya perlawanan rakyat Indonesia. Dalam setiap peperangan, selalu ada pekik suara, Merdeka atau Mati Mati Syahid, dan pekikan suara Takbir,Allahu Akbar. Kalimat tersebut selalu keluar dari mulut para pejuang kemerdekaan untuk memberikan semangat juang bagi rakyat agar terus bergerak maju pantang mundur.</p>
<h3>Kehadiran Belanda di Indonesia</h3>
<p>Kedatangan orang Belanda ke Indonesia terjadi pada 1596. Kedatangannya pertama kali hanya untuk mencari bahan rempah produk Sumber Daya Alam asli Indonesia. Tujuh tahun kemudian, 1603 M, mereka hampir menguasai seluruh produk dan hasil rempah dari Indonesia. Belanda merasa membutuhkan perusahaan dan tempat penyimpanan barang sebelum dibawa ke Eropa. Untuk itu, pada 1603, Belanda mendirikan perusahaan pertama di Indonesia, yaitu *VOC(Vereenidge Oast Indiche Compagni)*.</p>
<p>Sejak saat itulah terjadi hegemoni ekonomi atas wilayah Indonesia. Kekuatan ekonomi Belanda karena mendapat sokongan sumber daya alam berupa rempah dan hasil bumi lainnya, menyebabkan Belanda perlu memperkuat jeratannya agar wilayah penghasil rempah terbesar di dunia ini, tidak direbut bangsa Eropa lainnya yang memang tengah gencar melakukan penjarahan hasil bumi, seperti bangsa Porugis, Inggris, Spanyol dan lainnya.</p>
<h3>JV. Z. Coon datang</h3>
<p>Untuk mempermudah pengaturan wilayah dan jalur pedagangan VOC, maka dikirimlah seorang berstatus gubernur jenderal yang akan menjadi wakil kerajaan Belanda di Indonesia.</p>
<p>Untuk itu, pada 1626 dikirimlan seorang wakil kerajaan Belanda bernama Jan Vieter Z Coon. Ia bertugas sebagai gubernur jenderal mewakili Kerajaan Belanda yang mengawasi produk dan hasil sumber daya alam Indonesia berupa rempah yang menjadi barang komoditi berharga di Eropa dan dunia saat itu. Karena menguntungkan, kekuatan hegemoni ekonomi ini terus berkembang menjadi hegemoni politik. Terutama setelah VOC dibubarkan karena merugi pada 1887, maka cengkeraman politik kian menjadi.</p>
<p>Sejak saat itulah Belanda dan kekuatan politik militer kian menggasak kekuatan politik Indonesia. Dan terjadi perubahan otientasi Belanda dari sekadar berdagang dan menguasai wilayah (kolonialisme), menjadi mencampuri urusan politik pemerintahan para Sultan dan penguasa Indonesia (imperialisme). Sejak saat itulah, Belanda menerapkan politik devide et impera, politik adu domba dan pecah belah di antara sesama warga Indonesia. Tujuannya, agar ribumi tidak melakukan perlawanan menentang kehadiran Belanda.</p>
<h3>Rakyat Indonesia Bergerak</h3>
<p>Sejak terjadinya kolonialisme dan imperialisme atas wilayah dan pemerintahan para Sultan di Indonesia, semua rakyat dan para Sultan bersatu bergerak melawan penjajah Belanda yang dianggap kafir. Rakyat, terdiri dari para ulama dan masyarakat biasa terus menyuarakan pekikan kemerdekaan. Sampai seorang ulama terkenal dari Palembang, Syeikh Abdushamad al-Palimbani menulis satu karya monumental yang dapat membangkitan semangat juang untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Karya tersebut adalah Jihad fi Sabilillah, yang menganjurkan masyarakat Muslim Indonesia untuk berjihad di jalan Allah demi memerdekakan Negara Republik Indonesia.</p>
<p>Bahkan, para pemuda, baik yang ada di tanah air, di Timur Tengah dan Belanda, mereka selalu berdiskusi secara intens mengenai situasi saat itu tentang Indonesia yang masih di bawah pemerintahan Kerajaan Belanda. Untuk menyatukan visi dan misi gerakan kemerdekaan Indonesia, para Pemuda melakukan Kongres Pemuda pada 1928. Kongres ini menyepakati adanya persamaan persepsi tentang Indonesia. Mereka bersepakat tentang wilayah, Indonesia, menyatukan suku bangsa menjadi satu bangsa, Indonesia. Menyatukan bahasa pemersatu, yaitu bahasa Indonsia. Visi tersebut perlu disatukan untuk memudahkan jalannya pergerakan menuju cita-cita tunggal, Indonesia merdeka.</p>
<p>Setelah terjadinya kesepakatan tersebut, semua elemen hanya mengakui wilayahnya adalah Indonesia. Tidak ada yang bergerak cuma mengatasnamakan daerahnya saja. Pengakuan Indonesia sebagai bangsa, membuat mereka bergerak atas nama Indonesia. Tidak ada lagi yang bergerak atas nama penguasa daerah atau wilayah tertentu. Bahkan, mereka hanya sepakat bahwa bahasa yang dijadikan bahasa nasional sebagai bahasa komunikasi adalah bahasa Indonesia. Menghilangkan keegoan bahasa daerah masing-masing.</p>
<p>Setelah adanya kesepakatan tersebut, maka semua elemen masyarakat bergerak lebih fokus hanya satu tujuan: Indonesia Merdeka. Di tengah gencarnya perjuangan bangsa untuk mencapai kemerdekaan, pada 1943 tentara Jepang datang dan menguasai Indonesia (1943-1945). Meski begitu, rakyat terus bergerak melawan tentara Dainippon, tanpa rasa takut. Perpaduan antara perang fisik dengan diplomasi, akhirnya pergerakan tersebut mencapai puncaknya pada 17 Agustus 1945, yaitu Hari Kemerdekaan Indonesia, dengan pembacaan teks Proklamasi oleh Soekarno dan Muhammad Hatta atas nama bangsa Indonesia.</p>
<p>Tapi kemerdekaan hari itu tidak diakui oleh Belanda. Tetapi, negara-negara Islam, seperti Palestina, Mesir dengan tegas mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Karenanya Belanda dan sekutunya datang kembali untuk menguasai Indonesia kembali. Maka terjadilah Perang Kemerdekaan hingga Belanda dan sekutunya pergi meninggalkan Indonesia tanpa memperoleh apapun. Bahkan Jenderal WS. Mallaby tewas dalam perang kemerdekaan Indonesia. Semua berjuang dengan senjata apa adanya diringi pekikan suara takbir, Allahu Akbar, dan kata Merdeka. Indonesia bisa merdeka.</p>
<p>Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat.{odie}.</p>
<p>Pamulang, 05 Agustus 2025<br />
Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/merdeka-atau-mati-syahid-2/">Merdeka atau Mati Syahid</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/suaraislam.id/wp-content/uploads/2021/08/merdeka-atau-mati.jpg?fit=640%2C420&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Merdeka atau Mati Syahid</title>
		<link>https://jakpos.id/merdeka-atau-mati-syahid/</link>
					<comments>https://jakpos.id/merdeka-atau-mati-syahid/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2025 01:58:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[17 Agustus]]></category>
		<category><![CDATA[Kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka atau Mati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=89356</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Pekikan para pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia menyeruak ke permukaan yang selalu&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/merdeka-atau-mati-syahid/">Merdeka atau Mati Syahid</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Pekikan para pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia menyeruak ke permukaan yang selalu bergema saat bangsa Indonesia melakukan perlawanan terhadapa kolonial Belanda. Mereka bersatu padu, mulai rakyat biasa sampai para sultan, para ulama dan intelektual hingga mereka yang tak berpendidikan tinggi berjuang mengangkat senjata apa adanya, mulai dari bambu runcing, keris, golok, mandau, rencong dan semua senjata tradisional, hingga persenjataan modern, mereka pergunakan untuk mengusir dan melawan penjajah Belanda agar mereka segera meninggalkan wilayah Indonesia. Bangsa Indonesia sudah merasa muak dengan penindasan yang dilakukan Belanda dan antek-anteknya. Bangsa Indonesia ingin segera merdeka. Untuk itu, semua elemen masyarakat bergerak bersatu melawan ketidakadilan dan kesewenangan. Peperangan demi peperangan terus terjadi, seperti perang Aceh (1873-1904), Perang Paderi (1823-1836),Perang Diponegoro (1825-1830), dan peperangan lain terus bergejolak, sebagai bukti adanya perlawanan rakyat Indonesia. Dalam setiap peperangan, selalu ada pekik suara, Merdeka atau Mati Mati Syahid, dan pekikan suara Takbir,Allahu Akbar. Kalimat tersebut selalu keluar dari mulut para pejuang kemerdekaan untuk memberikan semangat juang bagi rakyat agar terus bergerak maju pantang mundur.</p>
<h3>Kehadiran Belanda di Indonesia</h3>
<p>Kedatangan orang Belanda ke Indonesia terjadi pada 1596. Kedatangannya pertama kali hanya untuk mencari bahan rempah produk Sumber Daya Alam asli Indonesia. Tujuh tahun kemudian, 1603 M, mereka hampir menguasai seluruh produk dan hasil rempah dari Indonesia. Belanda merasa membutuhkan perusahaan dan tempat penyimpanan barang sebelum dibawa ke Eropa. Untuk itu, pada 1603, Belanda mendirikan perusahaan pertama di Indonesia, yaitu *VOC(Vereenidge Oast Indiche Compagni)*. Sejak saat itulah terjadi hegemoni ekonomi atas wilayah Indonesia. Kekuatan ekonomi Belanda karena mendapat sokongan sumber daya alam berupa rempah dan hasil bumi lainnya, menyebabkan Belanda perlu memperkuat jeratannya agar wilayah penghasil rempah terbesar di dunia ini, tidak direbut bangsa Eropa lainnya yang memang tengah gencar melakukan penjarahan hasil bumi, seperti bangsa Porugis, Inggris, Spanyol dan lainnya.</p>
<h3>JV. Z. Coon datang</h3>
<p>Untuk mempermudah pengaturan wilayah dan jalur pedagangan VOC, maka dikirimlah seorang berstatus gubernur jenderal yang akan menjadi wakil kerajaan Belanda di Indonesia.<br />
Untuk itu, pada 1626 dikirimlan seorang wakil kerajaan Belanda bernama Jan Vieter Z Coon. Ia bertugas sebagai gubernur jenderal mewakili Kerajaan Belanda yang mengawasi produk dan hasil sumber daya alam Indonesia berupa rempah yang menjadi barang komoditi berharga di Eropa dan dunia saat itu. Karena menguntungkan, kekuatan hegemoni ekonomi ini terus berkembang menjadi hegemoni politik. Terutama setelah VOC dibubarkan karena merugi pada 1887, maka cengkeraman politik kian menjadi. Sejak saat itulah Belanda dan kekuatan politik militer kian menggasak kekuatan politik Indonesia. Dan terjadi perubahan otientasi Belanda dari sekadar berdagang dan menguasai wilayah (kolonialisme), menjadi mencampuri urusan politik pemerintahan para Sultan dan penguasa Indonesia (imperialisme). Sejak saat itulah, Belanda menerapkan politik devide et impera, politik adu domba dan pecah belah di antara sesama warga Indonesia. Tujuannya, agar ribumi tidak melakukan perlawanan menentang kehadiran Belanda.</p>
<h3>Rakyat Indonesia Bergerak</h3>
<p>Sejak terjadinya kolonialisme dan imperialisme atas wilayah dan pemerintahan para Sultan di Indonesia, semua rakyat dan para Sultan bersatu bergerak melawan penjajah Belanda yang dianggap kafir. Rakyat, terdiri dari para ulama dan masyarakat biasa terus menyuarakan pekikan kemerdekaan. Sampai seorang ulama terkenal dari Palembang, Syeikh Abdushamad al-Palimbani menulis satu karya monumental yang dapat membangkitan semangat juang untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Karya tersebut adalah Jihad fi Sabilillah, yang menganjurkan masyarakat Muslim Indonesia untuk berjihad di jalan Allah demi memerdekakan Negara Republik Indonesia.</p>
<p>Bahkan, para pemuda, baik yang ada di tanah air, di Timur Tengah dan Belanda, mereka selalu berdiskusi secara intens mengenai situasi saat itu tentang Indonesia yang masih di bawah pemerintahan Kerajaan Belanda. Untuk menyatukan visi dan misi gerakan kemerdekaan Indonesia, para Pemuda melakukan Kongres Pemuda pada 1928. Kongres ini menyepakati adanya persamaan persepsi tentang Indonesia. Mereka bersepakat tentang wilayah, Indonesia, menyatukan suku bangsa menjadi satu bangsa, Indonesia. Menyatukan bahasa pemersatu, yaitu bahasa Indonsia. Visi tersebut perlu disatukan untuk memudahkan jalannya pergerakan menuju cita-cita tunggal, Indonesia merdeka.</p>
<p>Setelah terjadinya kesepakatan tersebut, semua elemen hanya mengakui wilayahnya adalah Indonesia. Tidak ada yang bergerak cuma mengatasnamakan daerahnya saja. Pengakuan Indonesia sebagai bangsa, membuat mereka bergerak atas nama Indonesia. Tidak ada lagi yang bergerak atas nama penguasa daerah atau wilayah tertentu. Bahkan, mereka hanya sepakat bahwa bahasa yang dijadikan bahasa nasional sebagai bahasa komunikasi adalah bahasa Indonesia. Menghilangkan keegoan bahasa daerah masing-masing. Setelah adanya kesepakatan tersebut, maka semua elemen masyarakat bergerak lebih fokus hanya satu tujuan: Indonesia Merdeka. Di tengah gencarnya perjuangan bangsa untuk mencapai kemerdekaan, pada 1943 tentara Jepang datang dan menguasai Indonesia (1943-1945). Meski begitu, rakyat terus bergerak melawan tentara Dainippon, tanpa rasa takut. Perpaduan antara perang fisik dengan diplomasi, akhirnya pergerakan tersebut mencapai puncaknya pada 17 Agustus 1945, yaitu Hari Kemerdekaan Indonesia, dengan pembacaan teks Proklamasi oleh Soekarno dan Muhammad Hatta atas nama bangsa Indonesia. Tapi kemerdekaan hari itu tidak diakui oleh Belanda. Tetapi, negara-negara Islam, seperti Palestina, Mesir dengan tegas mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Karenanya Belanda dan sekutunya datang kembali untuk menguasai Indonesia kembali. Maka terjadilah Perang Kemerdekaan hingga Belanda dan sekutunya pergi meninggalkan Indonesia tanpa memperoleh apapun. Bahkan Jenderal WS. Mallaby tewas dalam perang kemerdekaan Indonesia. Semua berjuang dengan senjata apa adanya diringi pekikan suara takbir, Allahu Akbar, dan kata Merdeka. Indonesia bisa merdeka.</p>
<p>Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat.{odie}.</p>
<p>Pamulang, 05 Agustus 2025<br />
Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/merdeka-atau-mati-syahid/">Merdeka atau Mati Syahid</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/merdeka-atau-mati-syahid/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/assets-a1.kompasiana.com/items/album/2020/08/17/screenshot-20200816-221130-5f39f860097f36058b530182.png?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
