<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Oase Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/oase/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/oase/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Sep 2025 02:26:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Oase Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/oase/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dahsyatnya Pahala Satu Huruf Al-Quran</title>
		<link>https://jakpos.id/dahsyatnya-pahala-satu-huruf-al-quran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2025 02:26:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=91559</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Al-Qur’an merupakan kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai pedoman hidup bagi&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dahsyatnya-pahala-satu-huruf-al-quran/">Dahsyatnya Pahala Satu Huruf Al-Quran</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://jakpos.id/go/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Al-Qur’an merupakan kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai pedoman hidup bagi umat manusia. Kehadiran Al-Qur’an bukan hanya sebagai bacaan, tetapi juga sebagai petunjuk, rahmat, dan pembeda antara yang hak dan yang batil. Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang sangat tinggi, bahkan setiap huruf yang dibaca akan dibalas dengan pahala berlipat ganda.</p>
<p>Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW. bersabda, “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” Hadits ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-Nya.</p>
<p>Dengan hanya melafalkan huruf demi huruf dari Al-Qur’an, seorang Muslim sudah mendapatkan pahala yang melimpah. Bayangkan bila ia membaca satu ayat, satu halaman, bahkan satu juz, maka pahala yang diperoleh semakin berlipat-lipat.</p>
<p>Membaca Al-Qur’an bukan hanya sekadar ibadah, melainkan juga amalan yang mendatangkan keuntungan besar. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Ta’ala dalam surah Fathir ayat 29, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi.” Ayat ini menggambarkan bahwa membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang menguntungkan, sebuah “perdagangan” yang tidak pernah rugi karena balasannya datang langsung dari Allah yang Maha Pemurah.</p>
<p>Keutamaan membaca Al-Qur’an tidak berhenti di dunia saja, tetapi juga akan dirasakan pada hari kiamat. Rasulullah SAW. bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat kepada para pembacanya.” (HR. Muslim). Betapa mulianya Al-Qur’an ini, ia tidak hanya menjadi petunjuk selama kita hidup, tetapi juga menjadi penolong ketika kita membutuhkan pertolongan paling besar, yakni di hari akhir. Syafaat Al-Qur’an akan mendatangi mereka yang tulus membaca dan mengamalkannya, seolah menjadi sahabat setia yang membela pembacanya di hadapan Allah.</p>
<p>Selain itu, Al-Qur’an juga menjadi sarana pengangkat derajat seseorang. Nabi Muhammad SAW. bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini, dan merendahkan kaum yang lain dengan sebab ia.” (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa siapa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup akan dimuliakan oleh Allah, baik di dunia dengan wibawa dan cahaya keimanan, maupun di akhirat dengan derajat yang tinggi di sisi-Nya. Sebaliknya, orang yang berpaling dari Al-Qur’an akan kehilangan kemuliaan dan terjerumus dalam kehinaan.</p>
<p>Membaca Al-Qur’an juga memberikan ketenangan batin. Allah berfirman dalam surah Ar-Ra’d ayat 28, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Al-Qur’an adalah dzikir terbaik, karena di dalamnya terkandung nama-nama Allah, kisah-kisah para nabi, hukum syariat, serta doa-doa yang penuh makna. Hati seorang mukmin yang dekat dengan Al-Qur’an akan lebih damai dan tenteram dibandingkan mereka yang jauh darinya. Tidak heran, banyak orang yang merasa tenang hanya dengan mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an.</p>
<p>Lebih dari itu, Rasulullah SAW. juga mengibaratkan rumah yang di dalamnya dibacakan Al-Qur’an sebagai rumah yang hidup, sedangkan rumah yang kosong dari bacaan Al-Qur’an seperti kuburan. Beliau bersabda, “Permisalan rumah yang dibacakan di dalamnya Al-Qur’an dan rumah yang tidak dibacakan Al-Qur’an adalah seperti perbedaan antara orang hidup dan orang mati.” (HR. Muslim). Hal ini menegaskan bahwa keberkahan Al-Qur’an tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya. Rumah yang dipenuhi bacaan Al-Qur’an akan bercahaya, penuh rahmat, dan dijauhi oleh setan.</p>
<p>Salah satu kabar gembira yang juga sangat menenangkan adalah bahwa membaca Al-Qur’an tetap berpahala meski dilakukan dengan terbata-bata. Rasulullah SAW. bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir dalam membacanya, maka ia bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata, dan terasa berat baginya, maka ia mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini sangat memotivasi, khususnya bagi mereka yang sedang belajar membaca Al-Qur’an. Allah tidak melihat kefasihan semata, tetapi juga melihat kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada-Nya.</p>
<p>Dari penjelasan ini, jelaslah bahwa membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang penuh dengan keutamaan. Satu huruf saja dibalas sepuluh kebaikan, apalagi bila dibaca dengan khusyuk, penuh tadabbur, dan diiringi dengan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Membacanya menjadi sumber pahala, ketenangan hati, cahaya dalam rumah, syafaat di hari kiamat, serta pengangkat derajat di sisi Allah. Bahkan orang yang belum fasih pun tetap diberikan pahala berlipat karena usahanya.</p>
<p>Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita menjadikan membaca Al-Qur’an sebagai kebiasaan meski hanya beberapa ayat setiap hari. Dengan cara ini, kita dapat menjaga hubungan dengan Allah, menambah pahala yang terus mengalir, dan menyiapkan bekal untuk akhirat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk ahli Al-Qur’an, yaitu orang-orang yang senantiasa dekat dengannya dan mendapatkan syafaatnya di hari kiamat.</p>
<p><em>Nadiya Alya Syafira</em><br />
<em>Mahasiswa IAI SEBI</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dahsyatnya-pahala-satu-huruf-al-quran/">Dahsyatnya Pahala Satu Huruf Al-Quran</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/img.inews.co.id/media/600/files/inews_new/2022/08/09/ilmu_tajwid.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Islam Turun Membawa Misi Kemerdekaan Hakiki</title>
		<link>https://jakpos.id/islam-turun-membawa-misi-kemerdekaan-hakiki/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Aug 2025 10:18:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=90568</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Di hadapan sekitar 45 tokoh Muslimah, Mubalighah Kota Depok Ustadzah Zulfa Ummu Raisa&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/islam-turun-membawa-misi-kemerdekaan-hakiki/">Islam Turun Membawa Misi Kemerdekaan Hakiki</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://jakpos.id/go/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Di hadapan sekitar 45 tokoh Muslimah, Mubalighah Kota Depok Ustadzah Zulfa Ummu Raisa mengungkapkan, Islam diturunkan dengan membawa misi kemerdekaan yakni memerdekakan umat manusia dari penghambaan kepada sesama manusia dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah SWT.</p>
<p>Hal tersebut dijelaskannya dalam Forum Tokoh Muslimah Depok (FTMD#25): Mewujudkan Kemerdekaan Hakiki dengan Syari’ah Islam Kaffah, Sabtu (2/8/2025) di Depok.</p>
<p>“Misi tersebut Rasulullah SAW sampaikan dalam suratnya kepada penduduk Najran,” ujarnya.</p>
<p>Kemudian ia pun membacakan isi surat tersebut yang dikutip dari Al-Bidayah wa an- Nihayah (V/553) karya Al-Hafiz Ibnu Katsir, “Amma ba’du. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan sesama hamba (manusia).”</p>
<p>Tak hanya itu, lanjut Zulfa, menjelang meletusnya Perang Qadisiyah (636 M), Panglima Perang Kekhalifahan Rasyidah Saad bin Abi Waqash, yang diangkat oleh Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, mengirim sejumlah utusannya untuk menemui Rustam Farrakhzad, jenderal Persia saat itu. Salah satunya utusannya yakni Rib’iy bin Amir (seorang sahabat Nabi SAW yang mulia dan pemberani).</p>
<p>Pada waktu itu, menurutnya, Rib’iy bin Amir pun mengungkapkan kedatangannya dengan berkata, “Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan diri kepada sesama manusia agar mereka menghambakan diri hanya kepada Rabb manusia. Dia mengeluarkan mereka dari dunia yang sempit menuju akhirat yang luas, dan mengeluarkan mereka dari kezaliman agama-agama yang ada kepada keadilan Islam.”</p>
<h3>Kemerdekaan Hakiki</h3>
<p>Ia pun menambahkan, kemerdekaan hakiki hanya bisa diraih dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam bingkai kepemimpinan khilafah.</p>
<p>Itu semua lanjutnya, harus bisa diwujudkan. Adapun caranya, dengan menyempurnakan kemerdekaan saat ini dengan mewujudkan ketundukan sepenuhnya pada semua aturan Allah, melepaskan diri dari belenggu sistem yang bertentangan dengan tauhid yakni kapitalisme maupun komunisme maupun seluruh ide-ide turunannya, serta menegakkan aturan Allah secara menyeluruh.</p>
<p>Bahkan, menurutnya, penerapan syariah Islam dan kepemimpinan Islam akan mewujudkan kemerdekaan hakiki yang insyaallah akan terwujud baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah al-A’raf ayat 96, yang artinya:</p>
<p>“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.”[Siti Aisyah}</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/islam-turun-membawa-misi-kemerdekaan-hakiki/">Islam Turun Membawa Misi Kemerdekaan Hakiki</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Renungan dari Sayap-sayap Para Malaikat</title>
		<link>https://jakpos.id/renungan-dari-sayap-sayap-para-malaikat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 May 2025 03:33:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=87063</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Manusia sering kali mengukur kekuatan berdasarkan ukuran: tinggi, berat, luas, dan jumlah. Namun&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/renungan-dari-sayap-sayap-para-malaikat/">Renungan dari Sayap-sayap Para Malaikat</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Manusia sering kali mengukur kekuatan berdasarkan ukuran: tinggi, berat, luas, dan jumlah. Namun bagaimana jika yang kita ukur adalah kebesaran Allah? Bisakah kita bayangkan? Tidak mungkin. Tetapi Allah memberi kita isyarat lewat ciptaan-Nya—terutama para malaikat, makhluk-Nya yang tak terlihat namun luar biasa. Dalam artikel ini, kita akan mencoba merenungkan kebesaran Allah melalui kisah menakjubkan Nabi Muhammad SAW melihat Malaikat Jibril, dan bagaimana satu demi satu, para malaikat lainnya menunjukkan betapa tak terjangkaunya keagungan Sang Pencipta.</p>
<p>Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, beliau pernah melihat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Jibril memiliki enam ratus sayap yang memenuhi ufuk langit. Setiap helai bulu di sayapnya menyimpan cahaya dan keindahan yang luar biasa. Ketika Nabi melihatnya, beliau begitu terperanjat hingga jatuh tersungkur ke bumi karena kagum dan takut.</p>
<p>Namun, dalam catatan para ulama dan atsar yang disampaikan oleh generasi awal, disebutkan bahwa sebesar apapun Malaikat Jibril, masih ada malaikat lain yang lebih dahsyat: Malaikat Izrail, sang pencabut nyawa. Jika seluruh sayap Jibril dibentangkan, belumlah sebanding dengan satu sayap Malaikat Izrail. Malaikat ini diberi kemampuan untuk mencabut nyawa seluruh makhluk, dari awal penciptaan hingga hari kiamat—suatu tugas yang luar biasa agung dan menakutkan sekaligus.</p>
<p>Tapi bahkan Malaikat Izrail bukanlah yang terbesar. Di atasnya, ada para Malaikat Serafim—malaikat pengangkat ‘Arsy Allah. Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa jumlah malaikat pengangkat ‘Arsy adalah delapan. Jika seluruh sayap Malaikat Izrail dibentangkan, maka belum akan menyamai satu sayap dari malaikat pengangkat ‘Arsy. Dalam satu riwayat, bahkan dikisahkan bahwa jarak antara cuping telinga dan pundaknya membutuhkan perjalanan tujuh ratus tahun. Bayangkan, itu baru satu bagian tubuh dari malaikat pengangkat ‘Arsy.</p>
<p>Semua perbandingan ini bukan untuk mengukur siapa paling kuat di antara para malaikat. Namun menjadi cermin bagi kita, betapa maha dahsyat dan besar Allah yang menciptakan mereka semua. Jika ciptaan-Nya saja demikian luar biasa, bagaimana dengan Sang Pencipta? Jika Jibril saja membuat Nabi terjatuh karena ketakutan, bagaimana jika Allah yang menampakkan Diri-Nya?</p>
<p>Allah berfirman dalam Al-Qur’an: *&#8217;Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka.&#8217;* (QS. An-Nahl: 50)</p>
<p>Kita mungkin tak akan pernah bisa membayangkan kebesaran Allah secara sempurna. Namun melalui kisah dan isyarat dalam wahyu, Allah memperlihatkan kepada kita bahwa kekuasaan-Nya tak berbatas. Jika hari ini kita merasa sombong, cukup renungkan: jika satu helai sayap Jibril saja bisa menutup langit, dan itu pun belum apa-apa dibanding malaikat lainnya, lalu siapa kita? Dan bagaimana kebesaran Allah, Tuhan dari segala yang ada?</p>
<p><em>Muhammad Fadhil Abdul Aziz</em><br />
<em>Dari penerima Beasiswa ACME Free UKT, Imam Budi Hartono</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/renungan-dari-sayap-sayap-para-malaikat/">Renungan dari Sayap-sayap Para Malaikat</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwneHG6JPGcYTsgHwHQ9FRPDLeZn5KL9mIRRFg1e1DSy62Xtr8Qg3PJVhK2-qoXaCAn2p90zFPYyX8ulX3njE0inPDk8r1mmjRFznvFISxBphSFcd5NrnPbCaeT3GPGNU6iMS0DEEMiu-d/s1600/allah+ta%2527ala.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Fenomena Masih Maraknya Perdukunan di Daerah</title>
		<link>https://jakpos.id/fenomena-masih-maraknya-perdukunan-di-daerah/</link>
					<comments>https://jakpos.id/fenomena-masih-maraknya-perdukunan-di-daerah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Dec 2017 01:25:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=16213</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Mardhiyatun Nurul Ulfi Kemajuan peradaban manusia, sering kali diukur dengan kemajuan teknologi dan semakin lepasnya&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/fenomena-masih-maraknya-perdukunan-di-daerah/">Fenomena Masih Maraknya Perdukunan di Daerah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Mardhiyatun Nurul Ulfi</p>
<p>Kemajuan peradaban manusia, sering kali diukur dengan kemajuan teknologi dan semakin lepasnya masyarakat dari praktik-praktik berbau tahayul. Namun lain halnya, dizaman sekarang ini praktik perudukunan justru marak bak cendawan di musim penghujan.</p>
<p>Praktik perdukuknan memiliki akar dalam sejarah. Perdukunan memang sudah dikenal lama oleh masyarakat kita. Dan ilmu ini pun turun-temurun saling diwarisi, hingga saat ini dukun masih mendapatkan tempat bukan saja disisi masyarakat tradsional, tetapi juga ditengah lingkungan modern.</p>
<p>Hakikat dukun yang tidak bisa dilepaskan dari keterikatan dengan jin (setan). Sedangkan meminta bantuan kepada jin termasuk syirik yang paling besar terhadap Allah SWT. Meminta bantuan kepada jin dalam beberapa perkara tidaklah akan bisa terjadi kecuali dengan taqarrub(mendekatkan diri) kepada jin tersebut dengan sesuatu yang termasuk peribdatan.</p>
<figure id="attachment_16215" aria-describedby="caption-attachment-16215" style="width: 512px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-post-16213 wp-image-16215" src="https://res.cloudinary.com/de5lnco7h/image/upload/v1513646632/Praktik-Perdukunan-dari-Masa-ke-Masa_qcgphq.jpg" alt="" width="512" height="341" /><figcaption id="caption-attachment-16215" class="wp-caption-text">Ilustrasi. (Istimewa)</figcaption></figure>
<p>Jika kita telusuri lebih jauh, maka tak dapat dipungkiri bahwa tegaknya bendera kekufuran melalui sihir dan perdukunan jelas mengancam dan merusak akidah umat.</p>
<p>Ironisnya ini terjadi dimasayarakat yang mengaku religius dan agamis. Dan bila kita amati kehidupan ditengah masyarakat maka kita sering mendapati penyakit TBC, yaitu Tahayul dengan hal-hal mistik, Bid’ah dan Khurafat. Itulah sederet fenomena keganjilan dalam permasalahan aqidah yang ada ditengah masyarakat muslimin dimana kita berada didalam nya. Seorang muslim yang jujur ketika ditanya tentang hukum perdukunan, tentu saja akan menjawab bahwa itu adalah hal yang terlarang dan merupakan perbuatan syirik kepada Allah SWT. Yang dimana spekulasi mereka berbanding terbalik dengan apa yang sebenarnya terjadi.</p>
<p>Dukun atau yang sering disebut dengan “orang pinter” adalah suatu profesi yang tidak asing kedengarannya di telinga masyarakat pada umumnya. Walaupun nama atau istilahnya berbeda antar satu daerah dengan daerah yang lainnya, Dukun adalah profesi yang sangat populer. Keterlibatan mereka dalam kehidupan masyarakat selama ini sangat kuat.</p>
<p>Tidak dipungkiri,meski saat ini kita hidup dalam era digital, tetapi pada sebagian masyarakat masih ada saja yang memeprcayai bahwa dukun adalah sosok yang bisa dimintai jasa untuk kepentingan tertentu. Diketahui bahwa dukun merupakan orang yang memiliki kemampuan tertentu untuk membantu seseorang. Dukun yang dimaksud dalam pengamatan atau observasi saya adalah paranormal yang membantu masyarakat dalam masalah jodoh, pelaris bagi pedagang,kekuasaan politik, dan disukai atau dihormati orang lain. Hal tersebut masih sering saya jumpai di daerah tempat tinggal saya.</p>
<p>Fenomena kesyirikan dan pelanggaran tauhid banyak terjadi di masyarakat kita, karena kurangnya pengetahuan mereka tentang masalah tahuid dan keimanan, serta hal-hal yang bisa mendangkalkan bahkan merusak akidah atau keyakinan seorang muslim.</p>
<p>Kenyaataan pahit yang dialami umat islam sekarang ini berupa kebodohan dalam masalah aqidah dan masalah-masalah keyakinan lainnya, serta perpecahan dalam metodologi pemahaman dan pengamalan islam . Apalagi sekarang ini penyebaran dakwah islam diberbagai belahan bumi tidak lagi sesuai dengan aqidah dan manhaj generasi pertama yang telah mampu melahirkan generasi terbaik.</p>
<p>Di zaman yang serba modern masih banyak yang menggunakan dukun sebagai alternatif untuk memeperkaya diri. Menyaksikan hal tersebut, praktek sihir yang sudah merejalela dan transparan khususnya yang berada di setiap daerah, membuat bulu kuduk merinding. Bagaimana mungkin sebuah dosa besar berlangsung sangat transparan dan tidak ada tindakan apapun dari segelinitir orang yang bisa dikatakan lebih paham akan kesesatan yang terjadi.</p>
<p>Kepercayaan masyarakat terkait perdukunan memang mengakar cukup kuat dan menjadi sebuah mitos tersendiri. Nilai spiritual atau mistis sebenarnya selalu ada dalam setiap diri manusia menjadi kebutuhan yang mendasar untuk menyelesaikan masalah kehidupan. Manusia dalam mengahdapi berbagai permasalahan memilih jalan keluar yang rasional, ada pula yang irrasional. Bahkan yang rasional tentu dilakukan berkaitan dengan melalui cara berfikir logis. Namun fakta sosial menyatakan bahwa masyarakat banyak mencari hal-hal mistis. Salah satunya mereka mencari jalan keluar permaslahan hiudpnya melalui penanyaan atau paranormal. Agama seringkali menjadi salah satu jalan keluar dari berbagai persoalan tersebut. Walau begitu, tak sedikit pula yang bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri. Fenomena sebuah fakta sosial yang nyata terjadi dimasayarakat. Sebagai contoh, dari mulai pemilihan kepala desa, pencalonan anggota dewan, bupati, gubernur dan presiden tak bisa dilepaskan dari hal tersebut.</p>
<p>Saya berusaha mempelajari fakta sosial tersebut, adapun pembahasan tidak memasuki wilayah benar arau tidaknya prilaku kepercayaan terhadap paranormal tersebut. Akan tetapi hanya mencoba melalui kajian sosiologis dari adanya kenyataan yang terjadi sebagai sebuah gambaran nyata fenomena tersebut. Sebagaimana kenyataan terjadi didaerah kelahiran saya sendiri yang masih ada atau bisa katakan banyak yang masih percaya kepada dukun dan menggunakan jasa dukun untuk membantu berbagai deret masalah kehidupan.</p>
<p>Istilah dukun biasa disebut paranormal atau sebaliknya masyarakat menyebut paranormal itu dukun tapi pada kenyataan dilapangan, dukun atau paranormal tidak mau dianggap dukun hanya saja sang dukun menganggap dirinya sama saja dengan masyarakat sekitar, hanya saja yang membedakan bahwa sang dukun punya kelebihan indra ke enam sehingga bisa menerawang dan dianggap memiliki kekuatan supranatural.</p>
<p>Dari pengamatan awal didapatkan bebrapa tujuan masyarakat menggunakan jasa dukun. Memperoleh hubungan harmonis dan damai, termasuk soal jodoh, pelaris dagangan bagi pedagang dan mengatur cuaca bagi petani dan masyarakat yang mempunyai hajatan seperti mantu (perkawinan), sunatan (khitanan), bahkan untuk mendapatkan kedudukan politik mereka masih memanfaatkan media perdukunan.</p>
<p>Dari hasil pra survei tersebut dapat dipahami bahwa masyarakat memanfaatkan jasa dukun memiliki beberapa tujuan. Pada praktek perdukunan tersebut, masyarakat memiliki kepercayaan bahwa tujuannya dapat terwujud. Yang berarti masyarakat tidak memiliki aqidah yang kuat, miris memang.</p>
<p>Selama ini memang ada kelompok masyarakat yang merasa sangat terbantu bahkan diuntungkan dengan adanya praktik perdukunan, namun banyak juga yang merasa sangat dirugikan bahkan kecewa dengan adanya praktik ini. Sebagai bukti yang pernah saya alami sendiri bahwa dunia perdukunan tersebut masih dianut oleh masyarakat didaerah saya yang kebetulan daerah pariwisata, dimana adanya persaingan usaha yang tidak sehat dengan cara seseorang meminta jimat pelaris kepada dukun atau yang biasa mereka sebut orang pintar agar diberi kelancaran dalam usaha dagang mereka. Dimana ada salah satu pengunjung yang datang ketempat saya berjualan tetapi mereka tidak melihat apa yang saya jual. Secara logika, hal tersebut tidak masuk akal. Karena apa? Hal tersebut hanya bisa dilakukan oleh dukun yang sudah jelas bersekutu dengan syaitan. Maka dari itu, walaupun saya yang awalnya tidak mempercayai adanya praktik perdukunan tersebut. Tetapi nyatanya saya pernah menjadi korban keegoisan seseorang yang menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadi.</p>
<p>Secara umum status paranormal dan dukun dalam kacamata masyarakat awam dipandang sebagai sebuath status sosial yang terhormat dan bergengsi. Hal tersebut terlihat dari maraknya kalangan pejabat, pengusaha kecil, konglomerat, pedagang asongan, petani, nelayan, politius hingga PSK, untuk emlancarkan usahanya datang ramai-ramai ke paranormal, duku atau kyai karomah.</p>
<p>Berdasarkan hal yang telah dijabarkan diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor penyebab masyarakat mempercayai duku, yaitu mereka tidak berpegang teguh kepada aqidah yang benar, kurang nya kesabaran dalam menerima ujian kemiskinan, dan banyak diantara masyarakat yang ingin keluar dari masalah dengan cara yang instan tanpa memikirkan resiko dan dosa yang diemban. Berdasarkan pernyataan diatas daoat dioahami bahwa kepercayaan terhadap dukun dapat disebabkan oleh beberapa faktor diatas memberikan gambaran yang menjadi landasan pengamatanan saya mengenai dunia perdukunan.</p>
<p>Kenyataannya keberadaan dukun secara fungsional masih tetap dibutuhkan sehingga masyarakat tetap memiliki kepercayaan terhadapnya. Maraknya perdukunan disebabkan oleh lemahnya Aqidah atau imam mereka dan kurang nya pemahaman agama. Hal tersebut merupakan faktor utama bagi seseorang untuk mencari alternatif lain untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Meminta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat merupakan solusi yang sebenarnya lebih tepat untuk menyelesaikan masalah.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/fenomena-masih-maraknya-perdukunan-di-daerah/">Fenomena Masih Maraknya Perdukunan di Daerah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/fenomena-masih-maraknya-perdukunan-di-daerah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bersyukur Itu Penting, Mengeluh Adalah Keputusasaan</title>
		<link>https://jakpos.id/bersyukur-itu-penting-mengeluh-adalah-keputusasaan/</link>
					<comments>https://jakpos.id/bersyukur-itu-penting-mengeluh-adalah-keputusasaan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 May 2017 17:26:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=11681</guid>

					<description><![CDATA[<p>Akan datang masa dimana kita Hanya mampu berkeluh dan menyesal Berharap doa dapat memutar waktu,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/bersyukur-itu-penting-mengeluh-adalah-keputusasaan/">Bersyukur Itu Penting, Mengeluh Adalah Keputusasaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="aligncenter wp-post-11681 wp-image-11682" src="http://res.cloudinary.com/depok-pos/image/upload/v1494091468/nevergiveup1_vqb3io.jpg" width="800" height="418" /></p>
<blockquote><p>Akan datang masa dimana kita<br />
Hanya mampu berkeluh dan menyesal<br />
Berharap doa dapat memutar waktu,<br />
Percalah waktu masih tersisa,<br />
Percayalah hanya kita yang bisa beri nyawa segala harapan.</p></blockquote>
<p>Sudahkah hari ini kita bersyukur?Atas apa yang sudah Tuhan berikan tanpa terhitung. Nyatanya kita masih sering memikirkan tentang betapa ‘tidak beruntungnya’, bukan tentang betapa ‘beruntungnya’. Padahal belum tentu hal itu benar. Padahal banyak karunia-Nya yang perlu disyukuri.</p>
<p>Manusia memang tidak ada satupun yang sempurna. Namun tanpa sadar kita terlalu memimpikan hal-hal yang sempurna. Hinga akhirnya termakan ambisi yang berujung depresi. Setiap manusia pasti memiliki masalah, dari yang mudah hingga sulit untuk dilalui.</p>
<p>Saat masalah yang datang dianggap terlalu berat, kita sering menghujat diri sendiri maupun orang lain, berkeluh kesah dan merasa tak ada satu orangpun mengerti. Sesak didada beradu dengan kesunyian. Putus asa. Akhirnya menyendiri adalah satu-satunya obat yang mampu meredakan.</p>
<p>Ketika mengeluh tentang sesuatu keadaan yang menurut kita tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, semua umpatan, kata-kata negatif pun keluar dari bibir kita, dan juga perasaan yang tidak nyaman dengan keadaan tersebut, akibatnya kita pun enggan untuk bersyukur atas kejadian tersebut, namun jika kita mau mengambil waktu sebentar untuk menyadarinya dengan logika dan akal sehat , percayalah bahwa akan selalu ada kebaikan dalam hal yang kita rasa buruk, bersyukur bahwa kita masih diberi kesempatan untuk merasakan kejadian tersebut sehingga kita dapat belajar, bersyukur bahwa kejadian itu terjadi pada saat ini, bukan diwaktu yang lain, masih banyak hal yang dapat kita ambil untuk terus tetap bersyukur daripada mengeluh</p>
<p>Mungkin kita semua pernah mengalami saat dimana kita merasa terperosok ke dalam lubang yang paling dalam. Masalah sekolah, kerjaan, atau keluarga pasti pernah mengusik ketenangan fikiran.</p>
<p>Sekadar tidak mendapat nilai sempurna dari tugas kuliah, atau melihat kemampuan teman yang begitu hebat, kita sering merasa putus asa. Mengeluh dan menyalahkan diri sendiri. Kenapa sih gue bodoh banget? Kenapa Tuhan enggak kasih gue kemampuan seperti mereka? Gue capek kaya gini terus!Gue emang enggak bisa apa-apa!Gue emang enggak punya apa-apa! Gue emang enggak mungkin bisa kaya mereka!</p>
<p>Semua fikiran dan keluh itu hanya akan membuat kita semakin terpuruk. Memang benar setiap orang memiliki kemampuannya masing-masing, namun seharusnya kita dapat lebih belajar dari mereka. Untuk menjadi pribadi yang lebih baik.</p>
<p>Tidak muda?! Ya, memang tidak akan mudah mengikhlaskan rasa lelah yang sudah menggunung menjadi amarah. Tetapi disanalah kita diuji. Seberapa tangguh hati kita mengubah semua itu menjadi motivasi.</p>
<p>Kenyataanya masih banyak yang perlu disyukuri. Bersyukur adalah hal paling penting dalam hidup, karena dengan bersyukur masalah apapun yang datang akan terlewati lebih mudah. Hari-hari yang kita lalui akan lebih bahagia. Tanpa melupakan apa yang kita miliki belum tentu dimiliki orang lain.</p>
<p>Diluar sana banyak sekali orang-orang yang tidak semudah membuka tutup saji dimeja makan untuk menikmati makanan lezat. Diluar sana masih ada yang melewati malam beratap langit. Diluar sana masih ada yang membaca buku hanya asik dengan gambar tanpa bisa membaca isi tulisannya. Apakah itu semua terlintas dalam benak kita?</p>
<p>Maka bersyukurlah atas semua yang telah dimiliki saat ini, cintailah apa yang kita miliki, dan tingglkan jauh-jauh kebiasaan mengeluh karena ia hanya akan melemahkan potensi serta rasa percaya diri kita. <em><strong>(Siti Anisa/PNJ)</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/bersyukur-itu-penting-mengeluh-adalah-keputusasaan/">Bersyukur Itu Penting, Mengeluh Adalah Keputusasaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/bersyukur-itu-penting-mengeluh-adalah-keputusasaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjalin Ukhuwah Tanpa Tatap Wajah</title>
		<link>https://jakpos.id/menjalin-ukhuwah-tanpa-tatap-wajah/</link>
					<comments>https://jakpos.id/menjalin-ukhuwah-tanpa-tatap-wajah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 May 2017 15:40:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=11675</guid>

					<description><![CDATA[<p>Manusia bukanlah makhluk yang dapat hidup sendiri. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menjalin-ukhuwah-tanpa-tatap-wajah/">Menjalin Ukhuwah Tanpa Tatap Wajah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_11676" aria-describedby="caption-attachment-11676" style="width: 830px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-post-11675 wp-image-11676" title="Ilustrasi." src="http://res.cloudinary.com/depok-pos/image/upload/v1494085170/ilustrasi-_121211153535-362_eyeb2a.jpg" alt="" width="830" height="556" /><figcaption id="caption-attachment-11676" class="wp-caption-text">Ilustrasi. (Istimewa)</figcaption></figure>
<p>Manusia bukanlah makhluk yang dapat hidup sendiri. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk dapat bertahan hidup. Sebagai makhluk sosial, manusia pasti harus berinteraksi dengan manusia lain. Dalam bersosialisasi, manusia pun perlu petunjuk atau pedoman.</p>
<p>Islam, Agama <em>rahmatan lil’alamin</em> hadir sebagai Agama yang mengatur semua kehidupan umatnya, tak terkecuali dalam bersosialisasi. Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa menjalin hubungan dengan sesama keluarga, tetangga, masyarakat, maupun negara. Sesuai dengan Firman Allah dalam QS. Al-Hujarat ayat 10:</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّمَا الْمًؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ  وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian,  dan bertakwalah kalian  kepada Allah supaya kalian  mendapatkan rahmat.”</em> (QS al-Hujurat :10)</p>
<p>Dalam islam, menjalin hubungan antar sesama dikenal dengan ukhuwah. Ukhuwah yang berasal dari bahasa arab ini mengandung makna persaudaraan. Ukhuwah antar sesama kadang sering diartikan sebagai menjalin hubungan dengan seseorang atau sekelompok individu yang sering berinteraksi secara langsung atau tatap muka.</p>
<p>Namun, kini ukhuwah tak harus melulu tatap muka dalam menjalin komunikasi. Karena pada era yang serba canggih ini, ukhuwah dapat tercipta melalui komunikasi melalui gadget.</p>
<p>Sebagai contoh, kini ada sebuah komunitas baru yang mengajak semua umat muslim di berbagai wilayah yang tersebar di penjuru dunia untuk membaca al-quran satu hari satu juz yang sering disingkat ODOJ (One Day One Juz). Dalam komunitas ini, anggota ODOJ harus tergabung dalam grup whatsapp yang akan dimasukkan oleh admin ODOJ.</p>
<p>Dalam komunitas inilah, para ODOJers (anggota ODOJ) menjalin hubungan ukhuwah. Tak jarang pula komunitas ini mengadakan kajian yang juga dilaksanakan hanya di dalam grup whatsapp saja. Bahkan, grup yang dibatasi antara anggota akhwat (perempuan) dan ikhwan (laki-laki) ini pun menjadi ajang untuk menceritakan keluh kesah yang dialami salah satu anggota tentang pekerjaan atau masalah pribadinya.</p>
<p>Karena, kedekatan itulah hubungan yang hanya dilakukan di dalam gadget dapat menciptakan ukhuwah yang sangat indah dan tetap terjalin tanpa harus bertemu namun tetap saling mengingatkan dalam kebaikan dan mendoakan untuk kebaikan bersama. <em><strong>(Miranda Nur Husna/PNJ)</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menjalin-ukhuwah-tanpa-tatap-wajah/">Menjalin Ukhuwah Tanpa Tatap Wajah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/menjalin-ukhuwah-tanpa-tatap-wajah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mewujudkan Keluarga Islami</title>
		<link>https://jakpos.id/mewujudkan-keluarga-islami/</link>
					<comments>https://jakpos.id/mewujudkan-keluarga-islami/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 May 2017 15:56:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga islami]]></category>
		<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=11626</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di awal berkembangnya manusia, dari sejak keluarga Nabi Adam dan Hawwa, fondasi suatu keluarga menjadi&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/mewujudkan-keluarga-islami/">Mewujudkan Keluarga Islami</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_11627" aria-describedby="caption-attachment-11627" style="width: 680px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-post-11626 wp-image-11627" src="http://res.cloudinary.com/depok-pos/image/upload/v1493913250/keluarga-muslim-31o7ms5aq4yaviegwcbci2_hirl1u.jpg" alt="" width="680" height="400" /><figcaption id="caption-attachment-11627" class="wp-caption-text">Ilustrasi.</figcaption></figure>
<p>Di awal berkembangnya manusia, dari sejak keluarga Nabi Adam dan Hawwa, fondasi suatu keluarga menjadi sesuatu yang ditegaskan oleh Allah swt sebagai sebuah sarana untuk menegakkan kehidupan. Dan itulah salah satu tanda kekuasaan allah sejak zaman nabi Adam as sampai Allah mewariskan bumi ini beserta isinya. Dari itulah keluarga merupakan sistem Allah dalam islam, petunjuk Nabi, sekaligus prilaku atau akhlak bagi umat manusia. Karenanya, kehidupan sebuah keluarga muslim menjadi nilai ibadah yang komprehensif, dan tradisi yang harus dihidupkan, dan dibina secara terus menerus.</p>
<p>Keluarga adalah sistem ilahi yang diberikan oleh Allah swt untuk semua mahluk hidup yang telah di ciptak-Nya. Keluarga juga sebagai komponen terpenting dalam masyarakat, adalah cikal bakal yang membentuk karakter suatu bangsa. Jika keluarga terbentuk dengan baik dan benar, berati keluarga,masyarakat dan bangsa pun akan menjadi baik dan benar. Kehidupan keluarga, ibarat sebuah kapal yang membelah lautan. Tujuan yang ingin dijangkaunya sangat jauh, medan gelombang yang akan ditempuh bukanlah hal yang mudah untuk dilewati. Nah, disanalah sebuah keluarga akan diuji dalam mengendalikan arah kapal agar bisa menembus berbagai arah agar sampai ke tujuan. Terutama seorang ayah,yang akan membimbing semua keluarga,terutama istri dan anak-anaknya. Dan kemampuan kendali keluarga yang dipegang oleh seorang ayah, jika tanpa dukungan ketaan pada Allah SWT ,maka akan menjadi sebuah kapal yang mudah di ombang-ambingkan gelombang. Gampang dihanyutkan oleh terpaan angin. Penumpang kapal pun akan selalu berada dalam keadaan takut, khawatir,dan nyaris tidak akan ada kedamaian, ketenangan dan sebuah kenangan yang akan dikenang.</p>
<p>Tetapi kondisi ini tidak akan terjadi pada sebuah keluarga yang selalu kerjasama, taat perintah Allah SWT, beramal shalih dan bertakwa,dan menjadikan keluarga sebagai patner agar lebih dekat denga Allah SWT baik itu antara anak denga orang tua. Dan itulah syarat akan hadirnya sebuah keluarga yang dinaungi ketenangan,kedamaiaan dan menegakkan perintah allah dan menjauhi larangannya. Mengabaikan hak-hak dan peraturan Allah swt, hanya akan memunculkan kondisi yang akan menjauhkan dari kenyamanan. Dan akan mendatangka situasi keluarga yang penuh denga kekerasan, dan ketertekana dari berbagai sisi.</p>
<p>Dan dari sisi inilah kita akan menemukan sebuag garis yang akan mengkaitkan antara ketaatan pada allah swt dan kebahagian sebuah keluarga. Dan dari sini pula kita akan melihat keadaan kondisi umat islam yang saat ini ternyata umat islam sangatlah jauh dari apa yang diinginkan islam. Dimana umat islam berada di masa penuh dengan ketidakadilan, tantangan, godaan, fitnah, kezaliman, dan kemaksiatan bahkan banyak yang terlena dengan dunia.</p>
<p>Hingga, jelas jika kemudian dalam membentuk sebuah keluarga, maka hal itu pun akan menjadi bagian dari menjalankan agama. Memelihara keluarga adalah salah satu wujud keimanan, mencegah wabah yang mengancam keluarga adalah jihad, dan menjaga buah dari hasil kerja keras dalam menjaga keluarga untuk keturunan adalah bagian dari menegakkan syiar-syiar Allah swt.</p>
<p>Artinnya: <em>“hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari apai neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,” (Qs. At-Tahrim:6)</em>. Sebuah keluarga muslim apabila benar dalam membentuk dan penyiapannya, benar dalam pengamalan dan benar dalam sistem islam dalam kehidupan, maka menjadi batu bata pembentukan masyarakat Muslim yang komitmen dengan aturan Allah dalam kehidupan ini.</p>
<p>Jadi, saat ini keluarga muslim sangat membutuhkan seorang murobbi(pendidik) yang berwawasan luas,yang bisa mengikat atau menyatukan antara pemikiran dan praktik amalnya, berdasarkan prinsip ajaran islam yang jelas. Hal yang sangat penting saat ini adalah sosok pemimpin dalam keluarga yang memahami seluk-beluk tarbiyah (pendidikan dan pembinaan) yang mulia. Sosok pemimpin dalam keluarga itu harus menjadi panutan yang mampu mengatasi berbagai fenomena krisis sebuah keluarga.</p>
<p>Kita sebagai umat muslim harus menyadari perkembangan sosial dan agama yang terus mengancam generasi muda yang membuat mereka lupa tugas utama mereka. Terutama dalam perkembngan sebuah keluarga yang kehilangan rujukan syar’iyyah dan tidak mengetahui perkembngan, tuntutan, perubahan dan dinamika zaman, tidak mungkin bisa mereka memimpin sebuah keluarga.</p>
<p>Harus disadari juga bahwa berbicara tentang keluarga islam,maka akan berkaitan tentang keagungan nilai-nilai islam dalam membangun keluarga, penjelasan peran dan misi tidak ada manfaat jika sebatas bicara belaka tanpa disertai penyusunan,langkah-langkah,konsep, dan program dalam realita keluarga. dah hal ini karena praktik tarbiyah terdapat keluarga adalah proses yang bertahap, berjenjang, dan berkelanjutan dimana setiap fase usia orang-orang di dalam sebuah keluarga tersebut memiliki sarana dan perangkatnya sendiri sangat vital dan tidal bisa disepelekan. Artinnya, proses pembinaan terhadap keluarga merupakan cara paling ideal bagi terwujudnya perbaikkan. (<strong>Lisa Andrina/STEI SEBI)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/mewujudkan-keluarga-islami/">Mewujudkan Keluarga Islami</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/mewujudkan-keluarga-islami/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bisnis Dalam Kacamata Islam</title>
		<link>https://jakpos.id/bisnis-dalam-kacamata-islam/</link>
					<comments>https://jakpos.id/bisnis-dalam-kacamata-islam/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2017 09:44:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=10137</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Fathimah Khoirotun Hisaan Berbicara soal bisnis, siapa sih orang yang tidak akan tergiur dengan keuntungan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/bisnis-dalam-kacamata-islam/">Bisnis Dalam Kacamata Islam</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_10138" aria-describedby="caption-attachment-10138" style="width: 708px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/business-ethics-jpg/"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-post-10137 wp-image-10138" src="http://www.depokpos.com/go/wp-content/uploads/gdwpm_images/0B0VmhKFEqTcAY2lIenhJb1ZYVDA.jpg" alt="" width="708" height="340" /></a><figcaption id="caption-attachment-10138" class="wp-caption-text">Ilustrasi.</figcaption></figure>
<p>Oleh: Fathimah Khoirotun Hisaan</p>
<p>Berbicara soal bisnis, siapa sih orang yang tidak akan tergiur dengan keuntungan yang melimpah hanya dengan cara – cara sederhana yang sangat mudah untuk dilakukan. Misalnya dengan memainkan gadget saja di zaman sekarang ini sudah bisa menghasilkan jutaan rupiah bahkan milyaran.</p>
<p>Bisnis banyak dilakukan oleh berbagai kalangan dari anak sekolahan sampai orangtua. Bisnisnya pun beragam, ada kuliner, fashion, jasa, pendidikan dan masih banyak lagi. Bisnis mereka pun dengan latar belakang yang berbeda – beda. Ada yang menjadikan bisnis sebagai penghasilan utamanya, ada yang berbisnis karena memang hobi, ada bisnis yang muncul karena memanfaatkan barang – barang yang bagi sebagian orang sudah tidak bermanfaat tetapi ia modifikasi sehingga barang tersebut memiliki nilai jual dan masih banyak lagi. Dengan menerapkan prinsip ATM (Amati Tiru dan Modifikasi) atau ATP (Amati Tiru Plek) siapapun bisa menjadi pengusaha.</p>
<p>Zaman sekarang orang maunya apa-apa yang simpel, pesan makanan cepat saji pake jasa antar pula, beli baju udah tinggal ambil gadget buka online shop pilih deh sesuka hati tanpa harus keluar rumah, mau pergi gak ada kendaraan tinggal buka aplikasi pesan deh antar jemput pake aplikasi dengan hanya bermodalkan gadget. Udah deh pokonya zaman sekarang tuh orang udah gak mau ribet sana, ribet sini cuma buat hal sepele. Kalo ada yang lebih praktis kenapa harus milih yang ribet?</p>
<p>Saya adalah termasuk orang yang menggeluti dunia bisnis meskipun belum sesukses para pengusaha yang profitnya sudah milyaran, tetapi setidaknya banyak jejak yang harus saya ikuti dari mereka. Nah, kita sebagai seorang muslim penting nih memilih bisnis mana yang harus kita jalani agar berjalan sesuai dengan syariatNya.</p>
<p>Dalam ilmu ekonomi bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya untuk mendapatkan laba. Secara historis kata bisnis berasal dari bahasa inggris business dari kata busy yang berarti sibuk dalam konteks individu, komunitas ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keutungan.</p>
<p>Secara etimologis bisnis berarti keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang sibuk melakukan pekerjaan yang menghasilkan keuntungan.</p>
<p>Banyak dari kita berfikir bahwa bisnis itu adalah bagaimana kita mendapatkan laba/keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil &#8211; kecilnya. Namun dalam pandangan islam bukan seperti itu, kita boleh mencari keuntungan yang sebesar-besarnya tetapi tujuan kita harus tetap satu yaitu menggapai keridhanNya. Untuk apa kita kaya? Bisnis kita sukses? Finansial kita lancar karena bisnis yang kita jalani? Tetapi Allah tidak ridha dengan itu.</p>
<p>Hal pertama yang harus kita perhatikan dalam dalam melakukan bisnis adalah niat. Sebagaimana dalam hadits arba’in yang pertama إنَّمَاالأَعْمَالُ بِاانِّيَاتِ “Sesungguhnya segala perbuatan itu berlandaskan niat..” Ketika niatnya hanya untuk mendapatkan profit yang tinggi ya itulah yang kita dapatkan nantinya, hanya sekedar profi saja. Tetapi ketika kita niatkan dengan bisnis kita Allah ridha dengannya, membuat kita semakin bersyukur dan mendekat padaNya maka insyaallah kita akan mendapatkannya.</p>
<p>Ada sebuah kisah tentang seseorang yang berbisnis pulsa, zaman sekarang berapa sih profit yang didapatkan dari berjualan pulsa? Tidak seberapa mungkin bagi sebagian orang. Tapi disini saya belajar hal yang positif tentang niat. Saya heran mengapa dia mampu bertahan berjualan pulsa dengan profit yang mungkin tidak seberapa, belum lagi ketika ada yang membeli dan membayarnya di akhir. Dia pun bercerita, sebenarnya tidak ada yang membedakan saya dengan penjual pulsa lainnya. Setiap kali ada yang ingin membeli pulsa kepada saya, saya hanya mendo’akan kebaikan kepada pelanggan saya. Misalnya ada anak remaja yang membeli pulsa kepada saya, saya berdo’a Ya Allah mudahkan urusan orang ini, mudah – mudahan dengan pulsa ini menjadiakan dia mudah untuk menghubungi orangtuanya agar kebahagiaan senantiasa hadir dalam keluarganya. Seperti itualah kira – kira singkat kisahnya.</p>
<p>Betapa indahnya ketika segala sesuatu kita niatkan untuk kebaikan, dalam bisnis kita berinteraksi dengan pelanggan, bertemu dengan banyak orang. Bayangkan jika setiap kali kita bertemu dengan pelanggan lalu saling mendo’akan, indah bukan?</p>
<p>Hal yang kedua adalah bermanfaat, bagaimana bisnis yang kita jalani ini bukan hanya sekedar bermanfaat bagi diri kita sendiri namun bagi oranglain. Dengan bisnis kita orang – orang semakin mudah melakukan aktivitasnya, dengan bisnis kita orang – orang semakin dekat dengan Allah. Ada kutipan perkataan dari seorang motivator Edvan M Kautsar dalam bukunya Be a Passionpreneur “Semakin bermanfaat hidup seseorang, maka akan semakin tinggi nilainya di hadapan Tuhan dan manusia.”</p>
<p>Misalnya dalam bisnis dunia pendidikan, seperti bimbingan belajar (bimbel) kita berbagi ilmu yang kita miliki untuk membantu oranglain yang memerlukan ilmu kita. Dalam bisnis transportasi kita membantu orang yang memiliki keterbatasan dalam kendaraan untuk bisa sampai pada tempat tujuannya dengan kendaraan yang kita miliki. Seorang motivator, berusaha memberikan energi positif bagi pesertanya, adalah bentuk usaha yang dilakukan agar memberikan manfaat bagi oranglain.</p>
<p>Hal yang ketiga adalah sistemnya, bagaimana bisnis yang kita jalani ini bersih dari hal-hal yang dilarang dalam syariat. Sistem keuangan kita terhindar dari riba, barang – barang yang kita perjual belikan terbebas dari ihtikar dan gharar. Dimana ihtikar adalah penimbunan barang, ketika permintaan naik kita menimbun barang tersebut dan ketika di pasaran barang tersebut langka kita menjual barang tersebut degan harga yang tinggi, itu dilarang dalam islam. Dan gharar adalah ketidak jelasan, barang yang kita perjual belikan harus jelas kepemilikannya dan akadnya pun harus jelas apakah sebagai pinjaman, pemberian atau yang lainnya.</p>
<p>Rasulullah adalah seorang pengusaha muslim yang kaya raya beliau mengajarkan umatnya untuk menjadi muslim mandiri yang kaya, namun jangan sampai kita salah mengartikan kaya yang dimaksud, jangan sampai kita menjadikan segala cara dihalalkan hanya untuk mendapatkan keuntungan. Beberapa prinsip dalam bisnis yang Rasulullah terapkan.</p>
<p>1. Jujur dalam berbisnis<br />
Kejujuran adalah kunci utama dalam berbisnis, karena kejujurannya Rasulullah mendapat gelar Al – Amin yang memiliki arti terpercaya. Jelaskan apa adanya keadaan barang yang kita jual.</p>
<p>2. Menghormati pelanggan<br />
Rasulullah memperlakukan pelanggan layaknya saudara yang kita memiliki tanggungjawab untuk membantunya. Inti bisnis yang sesungguhnya adalah kegiatan dimana kita membantu seseorang dalam memecahkan masalahnya.</p>
<p>3. Menepati janji<br />
Dalam melayani pelanggan kita harus menepati janji, seperti ketika kita membuat deadline pembayaran, sudah seharusnya kita menepatinya sesuai dengan kesepakatan antara kedua pihak</p>
<p>4. Hanya menjual produk yang berkualitas<br />
Barang yang kita jual adalah barang yang memang layak untuk dijual jangan sampai kita menjual barang yang rusak atau cacat sehingga menimbulkan kerugian bagi pelanggan kita.</p>
<p>5. Tidak menjelek – jelekkan pesaing<br />
Pesaing dalam dunia bisnis adalah hal yang wajar, ingatlah Allah telah mengatur rezeki setiap hambaNya. Karena pada hakikatnya prinsip bisnis adalah memberikan kepuasan kepada pelanggan bukan menjatuhkan pesaing.</p>
<p>6. Jangan sampai bisnis mengganggu aktivitas Ibadah<br />
Bisnis bukanlah semata – mata yangharus dikejar. Ada banyak orang yang melupakan shalat dan bahkan lupa membayar zakat karena sibuk dalam bisnisnya. Justru hal terpenting adalah bagaimana Allah ridha atas apa yang kita kerjakan.<br />
Untuk itu marilah kita menjadi pembisnis muslim yang senantiasa menerapkan sunah – sunahNya dan semoga bisnis yang kita jalani terhindar dari apa yang dilarang dalam syariat.<br />
Wallahu’alam bi sawwab.. (Fathimah Khoirotun Hisaan)</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/bisnis-dalam-kacamata-islam/">Bisnis Dalam Kacamata Islam</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/bisnis-dalam-kacamata-islam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
