<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pasar Kemiri Muka Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/pasar-kemiri-muka/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/pasar-kemiri-muka/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 May 2017 12:06:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Pasar Kemiri Muka Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/pasar-kemiri-muka/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pradi Minta Rencana Penggusuran Pasar Kemiri Ditunda</title>
		<link>https://jakpos.id/pradi-minta-rencana-penggusuran-pasar-kemiri-ditunda/</link>
					<comments>https://jakpos.id/pradi-minta-rencana-penggusuran-pasar-kemiri-ditunda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 May 2017 12:06:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Kemiri]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Kemiri Muka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=12019</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOK &#8211; Pasar Kemiri Muka yang berlokasi di Kelurahan Pasar Kemiri Muka Kecamatan Beji ini&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pradi-minta-rencana-penggusuran-pasar-kemiri-ditunda/">Pradi Minta Rencana Penggusuran Pasar Kemiri Ditunda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-post-12019 wp-image-11990" src="http://res.cloudinary.com/depok-pos/image/upload/v1495048299/DSC_6811_copy_lraiyh.jpg" alt="" width="700" height="469" /></p>
<p>DEPOK &#8211; Pasar Kemiri Muka yang berlokasi di Kelurahan Pasar Kemiri Muka Kecamatan Beji ini masih merupakan pasar tradisional yang masih bertahan di pusat Kota Depok. Berada diantara gedung tinggi menjulang yang berjejer di sepanjang Jalan Margonda, Depok.</p>
<p>Pasar yang dihinuni ribuan pedagang ini menjadi terombang-ambing dengan isu penggusuran. Pemerintah Kota Depok telah kalah telak dalam sengketa kepemilikan lahan pasar dengan PT. Petamburan di Pengadilan.</p>
<p>Diantara pedagang sendiri ternyata masih banyak yang belum mengetahui rencana penggusuran ini, sedangkan yang sudah mengetahui tetap berharap rencana penggusuran ini bisa dibatalkan atau minimal ditunda.</p>
<p>“Kalaupun rencana penggusuran tetap dilakukan, kami berharap pemerintah bisa menyediakan tempat pengganti untuk kami tetap bisa menafkahi keluarga kami,” ujar Ibrahim, pedagang ikan di Pasar Kemiri.</p>
<p>Aktivitas jual beli di Pasar Kemiri Muka masih terlihat stabil dan mereka merasa tidak terganggu dengan isu penggusuran ini. Pengunjung pun menyayangkan kalau Pasar kemiri Muka akan digusur “Seharusnya jangan digusur, lebih baik direnovasi saja agar lebih baik lagi,” keluh Lina.</p>
<p>Pedagang yang terhimpun ke dalam asosiasi pedagang menyampaikan aspirasi mereka dengan tegas menolak penggusuran ini.</p>
<p>Sementera di lokasi berbeda, Wakil Walikota Pradi Supriatna mengatakan bahwa pihaknya terus mengupayakan agar penggusuran Pasar Kemiri Muka tidak dilakukan sebelum masuk bulan suci Ramadhan ataupun selama Ramadhan hingga lebaran.</p>
<p>&#8220;Kami dari Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) kemarin rapat, diantaranya ada Pak Walikota, Kapolres, Dandim, Kajari dan ketua PN. Memang keputusannya itu sudah harus dikosongkan, namun kami terus berupaya ada kesepakatan baru yang bisa kami temukan, tapi sebelum itu kami juga meminta ke Pengadilan Negeri walaupun sudah ada perintah (pengosongan Pasar Kemiri) tolong ditunda, kalau bisa setelah lebaran,&#8221; ujar Pradi Supriatna saat ditemui disela-sela kegiatannya di Hotel Bumi Wiyata, Kamis (18/5/2017).</p>
<p>Sementara untuk relokasi pedagang Pasar Kemiri Muka, Pradi mengaku pihak Pemkot masih mendiskusikan hal tersebut ke beberapa dinas dan Bapeda (Badan Pemerintah Daerah) agar jika penggusuran tetap dilakukan para pedagang sudah langsung bisa berdagang kembali di tempat yang baru tanpa harus kehilangan mata pencarian mereka. (Laela Sabrina Murti/PNJ)</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pradi-minta-rencana-penggusuran-pasar-kemiri-ditunda/">Pradi Minta Rencana Penggusuran Pasar Kemiri Ditunda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/pradi-minta-rencana-penggusuran-pasar-kemiri-ditunda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pasar Kemiri Muka dan Kenangan Tragedi &#8217;98</title>
		<link>https://jakpos.id/pasar-kemiri-muka-dan-kenangan-tragedi-98/</link>
					<comments>https://jakpos.id/pasar-kemiri-muka-dan-kenangan-tragedi-98/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 May 2016 06:24:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Kemiri Muka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5973</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOK &#8211; Kios-kios yang ada di Pasar Kemiri Muka sudah berdiri sejak kurang lebih 25&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pasar-kemiri-muka-dan-kenangan-tragedi-98/">Pasar Kemiri Muka dan Kenangan Tragedi &#8217;98</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5974" aria-describedby="caption-attachment-5974" style="width: 600px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/gdwpm_images/0B0VmhKFEqTcAdzZyc0FPUWpNQkU.jpg"><img decoding="async" class="size-full wp-post-5973 wp-image-5974" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/gdwpm_images/0B0VmhKFEqTcAdzZyc0FPUWpNQkU.jpg" alt="Suasana di salah satu bagian di Pasar Kemiri di pagi hari yang mulai sepi pembeli." width="600" height="338" /></a><figcaption id="caption-attachment-5974" class="wp-caption-text">Suasana di salah satu bagian di Pasar Kemiri di pagi hari yang mulai sepi pembeli.</figcaption></figure>
<p>DEPOK &#8211; Kios-kios yang ada di Pasar Kemiri Muka sudah berdiri sejak kurang lebih 25 tahun lalu ini masih saja banyak yang terlihat kosong, tidak ditempati. Keadaan ini masih lebih baik dibandingkan saat pasar yang terletak di sepanjang jalan dari Fly Over Depok hingga belakang Dmall, Depok, Jawa Barat, ini baru didirikan dan masih sepi.</p>
<p>Pasar mulai ramai ketika para pedagang di daerah Jl. Dewi Sartika dan Jl. Anyelir Raya dipindahkan. Pemindahan inipun tidak berjalan semudah itu, tidak sedikit pedagang yang menolak dipindahkan karena kondisi pasar yang masih sepi dan akses yang sulit. Salah satunya adalah pedagang sembako, Bong Sutardijoyo.</p>
<p>Pria yang akrab disapa dengan Ko Aciu ini telah berdagang sejak tahun 1989 ini mengaku sempat tidak berjualan selama satu bulan dikarenakan tidak ingin pindah ke Pasar Kemiri</p>
<p>“Waktu itu di Nusantara, di Perumnas tepatnya ada pasar juga, bukan Pasar Depok Baru Jaya ya… saya jualan di sana. Habis itu pedagang dipindahkan ke Pasar Kemiri karena pasar itu mau digusur. Saya nggak mau tuh. Selama satu bulan saya ke sana-sini cari tempat untuk dagang , tapi karena tidak dapat juga akhirnya saya dagang di Pasar Kemiri,” cerita pria kelahiran Singkwang ini sambil menambahkan bahwa anak pertamanya lahir tiga hari setelah ia berdagang di sana.</p>
<p>Sebagai salah seorang pedagang keturunan Tionghoa, Ko Aciu berbagi kenangannya mengenai peristiwa kerusuhan pada tahun 1998 yang sempat merenggut nyawa dan harta benda beberapa warga etnis.</p>
<p>“Waktu itu istri sama anak-anak saya pulang kampung ke Kalimantan. Saya sendirian di sini dan saya masih nggak tahu tentang hal itu. Masih sempet-sempetnya saya keluar pergi nonton bioskop,” ujarnya diselingi tawa mengingat hal itu. “ Waktu di luar, ada teman sesame pedagang yang ngasih tahu, kata dia, ‘heh kamu… jangan nonton. Itu yang cina-cina lagi diserangin. Kamu pulang aja, barang dagangan suruh anak buah yang rapiin.’ Yaudah… habis itu saya langsung rapihin barang dagangan saya,pulang ke rumah, terus saya pakuin itu semua jendela pakai triplek.”</p>
<p>Ia juga memberitahu bagaimana saudaranya tertimpa kemalangan saat itu. Kakak perempuannya menjadi salah satu korban dari peristiwa itu. Toko kakaknya yang berlokasi di Depok Lama habis dijarah oleh oknum-oknum.</p>
<p>“Tapi, saat itu yang lucu pas hari keduanya. Saya tetap buka toko paginya pukul 02.00 . Waktu saya lagi ada pembeli, tahu-tahu dari jauh ada yang teriak ngasih tahu kalau rombongan yang ngerusuh sudah sampai di Depok Mall situ. Wah! Panik saya buru-buru tutup took sama anak buah saya. Lucunya, pembeli tadi, ibu-ibu gitu, dia latah dia ikutan panik ‘eh saya takut. Eh tapi ini belum selesai. Eh tapi saya takut.’ Yasudah saya suruh anak buah saya bantuin si ibu itu dulu baru tutup toko,” ia kembali tertawa mengingat kejadian tersebut.</p>
<p>Setelahnya ia mengeluhkan keadaan pasar yang sepi, tidak seramai dulu sebelum banyak mall-mall besar merajalela. Namun, demikian ia tetap bekerja seperti biasa dan mengaku tidak kesulitan materi.</p>
<p>“Setidaknya cukup untuk menyekolahkan anak dan memberi makan keluarga,” tutup ayah tiga anak itu.</p>
<p><strong>Junihen Citrawang</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pasar-kemiri-muka-dan-kenangan-tragedi-98/">Pasar Kemiri Muka dan Kenangan Tragedi &#8217;98</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/pasar-kemiri-muka-dan-kenangan-tragedi-98/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untuk Pasar Kemiri yang Lebih Baik</title>
		<link>https://jakpos.id/untuk-pasar-kemiri-yang-lebih-baik/</link>
					<comments>https://jakpos.id/untuk-pasar-kemiri-yang-lebih-baik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 May 2016 21:27:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Kemiri]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Kemiri Muka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5830</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOK &#8211; Pusat perbelanjaan dibangun di sana-sini, tetapi itu seperti melupakan nasib para pedagang kecil&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/untuk-pasar-kemiri-yang-lebih-baik/">Untuk Pasar Kemiri yang Lebih Baik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5840" aria-describedby="caption-attachment-5840" style="width: 640px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/wp-content/uploads/2016/05/3-640x480.jpg"><img decoding="async" class="size-full wp-post-5830 wp-image-5840" src="http://www.depokpos.com/go/wp-content/uploads/2016/05/3-640x480.jpg" alt="Pasar kemiri di malam hari. (foto: Brian Hikari Janna)" width="640" height="480" /></a><figcaption id="caption-attachment-5840" class="wp-caption-text">Pasar kemiri di malam hari. (foto: Brian Hikari Janna)</figcaption></figure>
<p>DEPOK &#8211; Pusat perbelanjaan dibangun di sana-sini, tetapi itu seperti melupakan nasib para pedagang kecil di pasar, seperti Pak Sono, yang sehari-harinya berjualan buah dan sayur di Pasar Kemiri.</p>
<p>Pak Sono punya cerita. Tentang dirinya, pasarnya, dan wakil rakyatnya.</p>
<p>Sungguh miris, lokasinya hanya berjarak 15 menit jalan kaki dari kantor walikota Depok. Namun, mungkin sebagian orang akan enggan datang ke Pasar Kemiri, karena kondisinya, yang menurut kalangan atas “jorok”.</p>
<p>“Kalau soal kualitas barang sebenarnya sama. Hanya tempatnya yang beda. Di supermarket kan bersih, di sini ya begini.” Kata Sono.</p>
<p>Dia juga bilang, kalau membersihkan saluran air saja, para pedagang harus patungan untuk membayar tukang sapu. Kalau tidak begitu, ketika hujan, pasti air akan meluap dan aktivitas akan mati seketika. Ini seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah setempat bukan?</p>
<p>Pengelolaan tata letak pasar juga menjadi masalah, menurut Sono. Penempatan pedagang di Pasar Kemiri terkesan asal-asalan. Tidak seperti pasar di kampung halamannya, Sragen, yang tempat pedagangnya sudah dikelompokan sedemikian rupa, sehingga jenis dagangannya sama.</p>
<p>“Kalau dikelompokan begitu, buat pedagang enak, buat pengunjung pun jadi lebih mudah dalam berbelanja.” Ujar Sono.</p>
<p>Masih menurut Sono, masalah lain di Pasar Kemiri adalah terlalu banyaknya tempat pemotongan ayam. Ini menyebabkan pasar menjadi bau, tempatnya yang sembarangan juga sangat mengganggu. Coba bayangkan, maukah Anda makan di tempat yang di sampingnya ada pemotongan ayam? Parahnya, tempat seperti itu benar ada di Pasar Kemiri.</p>
<p>15 tahun lebih Sono berjualan, Pasar Kemiri masih seperti itu-itu saja. Keadaanya seperti tidak ada pengelolanya. Kalaupun ada perbaikan, itu hanya pengecoran jalan di sebagian daerah pasar, yang itu tidak menyelesaikan semua masalah di sana.</p>
<p>Pasar adalah jantung ekonomi suatu daerah, tak terkecuali Pasar Kemiri. Jika ingin suatu daerah maju, pengelolaan pasar harus diperhatikan dengan benar bukan?</p>
<p><b>Brian Hikari Janna</b></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/untuk-pasar-kemiri-yang-lebih-baik/">Untuk Pasar Kemiri yang Lebih Baik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/untuk-pasar-kemiri-yang-lebih-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pasar Kemiri di Malam Hari</title>
		<link>https://jakpos.id/pasar-kemiri-di-malam-hari/</link>
					<comments>https://jakpos.id/pasar-kemiri-di-malam-hari/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 May 2016 21:21:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Kemiri]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Kemiri Muka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5842</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOK &#8211; Jalan Margonda yang dipenuhi ruko, perkantoran, hotel dan apartemen, yang hampir semua aktivitas&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pasar-kemiri-di-malam-hari/">Pasar Kemiri di Malam Hari</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5843" aria-describedby="caption-attachment-5843" style="width: 600px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/11.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-post-5842 wp-image-5843" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/11.jpg" alt="Pasar Kemiri di malam hari (foto: Fidya Dwi Utami)" width="600" height="400" /></a><figcaption id="caption-attachment-5843" class="wp-caption-text">Pasar Kemiri di malam hari (foto: Fidya Dwi Utami)</figcaption></figure>
<p>DEPOK &#8211; Jalan Margonda yang dipenuhi ruko, perkantoran, hotel dan apartemen, yang hampir semua aktivitas ekonomi berada di sana, mungkin juga beberapa orang tidak menyadari keberadaan pasar.</p>
<p>Seperti yang kita ketahui tentang pasar tradisional, Pasar Kemiri Muka juga seperti itu, becek, kotor dan tidak terawat. Tetapi, itu dulu sebelum Pemkot Depok mengubahnya. Dari akses masuk yang di berikan hingga jalan yang tadinya becek dan terbuat dari tanah, sekarang sudah di perbaiki menjadi lebih layak. Pasar Kemiri Muka dapat diakses dari D’mall atau Jl. Kedondong, Margonda, Depok.</p>
<p>Pada siang hari pasar ini terlihat sepi hanya sedikit yang berdagang, hanya pedagang sembako dan beberapa tukang sayur yang mungkin belum habis pada dini hari. Tetapi, pada dini hari sekitar jam satu malam hingga menjelang subuh, pasar berubah menjadi mempunyai kehidupan.</p>
<p>Sekitar jam 10 hingga jam 12 malam agen-agen mengantarkan barang dagangan ke penjual menggunakan mobil pick-up, barang dagangan yang berasal dari pasar induk terdekat. Sebelum ke pedagang barang-barang tersebut harus di periksa oleh agen, tetapi tidak semua barang berasal dari agen. Hanya toko-toko kecil yang mengambl barang dagangannya di agen. Salah satunya Suyatno (52), yang berdagang bumbu dapur, mengambil semua barang dagangannya dari agen. Suyatno berdagang di Pasar Kemiri Muka dari tahun 2008, saat paar pertama kali didirikan.</p>
<p>Saat barang dagangan datang, Suyatno langsung membereskan dan mengemas barang dangangannya. Selagi sibuk, ia melakukan interaksi antar pedagang lain untuk menghilangkan rasa kantuk yang dirasa. Bukan hal yang mudah melawan rasa kantuk, apalagi sore hari habis turun hujan yang membuat udara menjadi dingin pada malam hari. Berbincanglah cara paling ampuh untuk menghilangkan rasa kantuk.. Menurutnya, Berbincang bersama istri dan pedagang lainnya membuat ia menjadi lebih semangat.</p>
<p>Berkeliling pasar pada malam hari memang mempunyai rasa yang berbeda, melihat para pedagang mengemas barang, berbincang atau sekedar ngopi bareng, hingga ada yang tertidur disamping barang dagangannya. Ada sedikit rasa takut saat melewati lorong-lorong di Pasar Kemiri Muka, tetapi sesaat hilang melihat para pedagang yang serius memilah barang dagangannya, tukang daging yang memotong daging dengan hentakkan yang seirama, dan juga para pedagang ayam. Berbeda dengan siang hari para pedagang sedikit lebih santai dan mungkin bisa di bilang lebih malas.</p>
<p>Malam hari juga Pasar Kemiri Muka lebih banyak pembeli, karena barang dagangannya lebih segar. Pembeli, didominasi pedagang sayur dan restoran-restoran di sekitar Pasar Kemiri Muka juga pelanggan tetap, Ibu rumah tangga. Karena, Pasar Kemiri Muka juga dekat dengan pemukiman warga.</p>
<p>Ramainya pembeli khususnya saat dini hari dan kurangnya lahan membuat para pedagang berinisiatif mencari dan mendirikan lahan tambahan untuk menjajakan barang dagangannya, bahkan sampai ke bahu rel kereta hingga trotoar jalan yang harusnya menjadi fasilitas umum pejalan kaki. Tetapi, itu dulu sebelum PT. KAI mengubahnya, bahu rel kereta sekarang dipagar dan pasar menjadi terlihat lebih rapi, jika dilihat dari fly over Jl. Arief Rahman Hakim.</p>
<p>Jumiati (40) yang berdagang makanan seperti tahu, nugget, sosis, bakso dan sembako, bercerita jika saat pertama kalinya berjualan di Pasar Kemiri Muka jalanannya becek, tidak terawat. Sebelumnya Jumiati bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga, saat anak pertamanya kelas 2 SMA, ia berdagang mengikuti suaminya yang berdagang sama seperti yang ia dagangkan, tetapi berbeda tempat dengan suaminya. Biasanya ia berdagang dari menjelang subuh hingga siang hari jam 12.</p>
<p><strong>Fidya Dwi Utami</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pasar-kemiri-di-malam-hari/">Pasar Kemiri di Malam Hari</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/pasar-kemiri-di-malam-hari/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jasa Sol Sepatu di Pasar Kemiri Tetap Bertahan</title>
		<link>https://jakpos.id/jasa-sol-sepatu-di-pasar-kemiri-tetap-bertahan/</link>
					<comments>https://jakpos.id/jasa-sol-sepatu-di-pasar-kemiri-tetap-bertahan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 May 2016 08:04:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Kemiri]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Kemiri Muka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5815</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOK – Sama halnya seperti pasar tradisional lainnya, sol sepatu juga ada di Pasar Kemiri.&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/jasa-sol-sepatu-di-pasar-kemiri-tetap-bertahan/">Jasa Sol Sepatu di Pasar Kemiri Tetap Bertahan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5824" aria-describedby="caption-attachment-5824" style="width: 640px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-post-5815 wp-image-5824" src="http://res.cloudinary.com/depok-pos/image/upload/v1463126581/asep_640x427_i6omx6.jpg" width="640" height="427" /><figcaption id="caption-attachment-5824" class="wp-caption-text">Foto: Deria)</figcaption></figure>
<p>DEPOK – Sama halnya seperti pasar tradisional lainnya, sol sepatu juga ada di Pasar Kemiri. Sol sepatu ini sudah ada sejak 1992. Asep, tukang sol sepatu yang ada di pasar ini sudah menjadi tukang sol sepatu dari tahun 2006. Awalnya sol sepatu ini dijalakan oleh orang tuannya tetapi dengan keterbatasan usia dan kesehatan akhirnya Asep mengambil alih pekerjaan ini.</p>
<p>Uniknya, tidak seperti tukang sol lainnya yang selalu berdampingan dengan penjual baju, Asep harus berdampingan dengan penjual sayur, buah, dan gorengan. “Ya sebelumnya sih pernah bareng sama yang jualan baju, tapi karena tempatnya suka berubah-berubah soalnya kan dulu ada pembangunan flyover tuh terus jadi berebutan dan cepat-cepatan deh nyari lahannya, ya akhirnya yang terakhir dapat di sini deh,” ujar Asep.</p>
<p>Dalam sehari Asep dapat menerima sembilan hingga sepuluh pasang sepatu.Pelanggan Asep terdiri dari berbagai kalangan usia, mulai dari remaja hingga dewasa. Terkadang Asep juga harus mengahadapi pelanggan yang protes karena sepatunya tidak sesuai dengan yang diinginkan dan meminta macam-macam. Biasanya Asep menyelesaikan aktivitasnya menjadi tukan sol sepatu sampai pukul 21.00 WIB.</p>
<p>Asep harus membayar iuran setiap bulan sebesar Rp100.000 dan harian sekitar Rp9.000. Tidak hanya membayar retribusi, Asep juga harus membayar iuran kepada preman-preman yang ada di Pasar Kemiri ini.</p>
<p>“Preman sih pasti ada, apalagi kalau udah mau puasa atau lebaran kaya sekarang tuh ya pasti pedagang-pedagang udah nyiapin jatah gitu lah buat mereka,” ujar Asep. Menurut pria kelahiran tahun 1990 ini, preman-preman tidak pernah mengganggu para pedagang yang ada di Pasar Kemiri ini.</p>
<p>Asep berharap semoga pemerintah bisa lebih baik lagi dan lebih perhatian, seperti lebih memperbaiki kenyamanan dan kebersihan terhadap lingkungan Pasar Kemiri Muka ini.</p>
<p><strong>Deria Octaviena<br />
Politeknik Negeri Jakarta</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/jasa-sol-sepatu-di-pasar-kemiri-tetap-bertahan/">Jasa Sol Sepatu di Pasar Kemiri Tetap Bertahan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/jasa-sol-sepatu-di-pasar-kemiri-tetap-bertahan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Helaian Daun Kelapa Tak Sesuai Harapan</title>
		<link>https://jakpos.id/helaian-daun-kelapa-tak-sesuai-harapan/</link>
					<comments>https://jakpos.id/helaian-daun-kelapa-tak-sesuai-harapan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 May 2016 18:45:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Kemiri Muka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5809</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bau tidak sedap, becek, kotor, dan berisik itulah potret sesungguhnya pasar tradisional. Tawaran para penjual&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/helaian-daun-kelapa-tak-sesuai-harapan/">Helaian Daun Kelapa Tak Sesuai Harapan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5810" aria-describedby="caption-attachment-5810" style="width: 640px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-post-5809 wp-image-5810" src="http://res.cloudinary.com/depok-pos/image/upload/v1463078585/1_640x427_umqu3b.jpg" width="640" height="427" /><figcaption id="caption-attachment-5810" class="wp-caption-text">Kios penjual daun kelapa di Pasar kemiri Muka. (Foto: Ripal Septiana)</figcaption></figure>
<p>Bau tidak sedap, becek, kotor, dan berisik itulah potret sesungguhnya pasar tradisional. Tawaran para penjual dan lalu-lalang pengunjung membuatnya terlihat sibuk. Sebelum matahari terbit, aktivitas di sini sudah berjalan. Bahkan hingga larut malam pasar ini tak pernah tidur.</p>
<p>Begitulah gambaran jika kita berkunjung ke sebuah pasar tradisional yang ada di kota Depok. Pasar ini bernama Pasar Kemiri. Letaknya berdekatan dengan stasiun Depok Baru. Posisinya yang berdekatan dengan rel kereta membuatnya seperti terpisah menjadi dua bagian. Di atas pasar ini terdapat fly over yang menghubungkan jalan Arif Rahman Hakim dengan jalan Margonda.</p>
<p>Apabila menelusuri ke bagian dalam pasar, kita akan menemukan sebuah kios yang hanya menyediakan daun kelapa. Sepintas memang terlihat menarik, jika kita perhatikan, di dalam kios ini tak menyediakan berbagai barang. Tidak seperti kios lainnya yang menyediakan berbagai sayuran dan kebutuhan pangan.</p>
<p>Kios yang berukuran 3 kali 2 meter ini berada di ujung sebelah utara Pasar Kemiri. Di sampingnya terdapat kios yang menjual pisang. Di dalam kios ini hanya terdapat sebuah meja tempat menjajakan daun kelapa yang diikat. Selain di atas meja, daun kelapa ini pun diletakan di setiap sudut sehingga kios ini terlihat penuh dengan daun kelapa.</p>
<p>Daun kelapa yang identik dengan janur dan ketupat ini memang tidak seperti barang-barang pasar pada umumnya. Tidak setiap orang membutuhkan daun kelapa. Terlebih lagi selain bulan Ramadhan, penjualan daun kelapa tidak terlalu menguntungkan.</p>
<p>Epul selaku penjaga kios ini mengaku tidak banyak perbedaan di bulan Ramadhan dengan hari-hari biasanya. “Ya kalau hari-hari biasa mah paling laku se-ikat kecil” ujar laki-laki asal Pandeglang, Banten.</p>
<p>Harga per ikat daun kelapa tidak pernah tetap. Biasanya harga normal satu ikat daun kelapa Rp.20.000. Namun karena konsumennya kurang ia selalu membanting harga. Terlebih lagi kondisi daun kelapa yang tidak bisa bertahan lama. Terkadang sebelum sampai ke pasar barang sudah rusak sehingga tidak terjual.</p>
<p>Meskipun penjualannya tidak menentu dan tidak menguntungkan seperti pasar pada umumnya, ia masih bisa menutupi kehidupan sehari-hari walaupun pas-pasan.</p>
<p>Ripal Septiana<br />
Mahasiswa Jurnalistik<br />
Politeknik Negeri Jakarta</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/helaian-daun-kelapa-tak-sesuai-harapan/">Helaian Daun Kelapa Tak Sesuai Harapan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/helaian-daun-kelapa-tak-sesuai-harapan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita 2 Tunanetra yang Mengais Rezeki di Pasar Kemiri Muka</title>
		<link>https://jakpos.id/cerita-2-tunanetra-yang-mengais-rezeki-di-pasar-kemiri-muka/</link>
					<comments>https://jakpos.id/cerita-2-tunanetra-yang-mengais-rezeki-di-pasar-kemiri-muka/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 May 2016 07:58:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Kemiri Muka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5781</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOK &#8211; Sudah lebih dari seperempat abad, pasar Kemiri Muka yang terletak di Kecamatan Beji, &#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/cerita-2-tunanetra-yang-mengais-rezeki-di-pasar-kemiri-muka/">Cerita 2 Tunanetra yang Mengais Rezeki di Pasar Kemiri Muka</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5782" aria-describedby="caption-attachment-5782" style="width: 640px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/image2-640x608.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-post-5781 wp-image-5782 size-full" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/image2-640x608.jpg" alt="image2 (640x608)" width="640" height="608" /></a><figcaption id="caption-attachment-5782" class="wp-caption-text">Suami istri tuna netra yang mengais rezeki di Pasar Kemiri Muka. (foto Putri Lestari)</figcaption></figure>
<p>DEPOK &#8211; Sudah lebih dari seperempat abad, pasar Kemiri Muka yang terletak di Kecamatan Beji,  hidup memenuhi kebutuhan warga sekitar. Pasar Kemiri beroperasi mulai pukul 00.00 sampai dengan waktu yang tidak ditentukan selama tujuh hari penuh.</p>
<p>Di sisi lain, di pinggir pasar, ada pemandangan yang merenyuhkan hati. Dua orang tuna netra yang juga merupakan sepasang suami istri turut mengais rupiah dengan mengamen dan diiringi sebuah alat putar lagu sederhana.</p>
<p>Mereka adalah Dadang (50) dan Ayu (37) yang sudah mengamen di pinggir Pasar Kemiri selama lebih dari 10 tahun. Setiap hari keduanya tiba di Depok pukul 15.00 dan pulang ke kontrakannya di Bojong Gede pukul 21.00.</p>
<p>Alasan Dadang memilih sisi Pasar Kemiri sebagai lokasi mengamen adalah sudah banyak tempat yang disinggahi rekan-rekannya. Dadang dan istri merasa bersyukur lantaran mereka tidak diwajibkan membayar uang “keamanan”. Namun keduanya cukup memiliki kesadaran diri.</p>
<p>“Alhamdulillah ngga bayar sewa, cuma saya inisiatif kasih satu bugkus rokok ke orang keamanan di pasar satu minggu sekali,” ungkap Dadang. Dalam waktu Kurang dari satu hari, bapak tujuh anak itu mampu mengantongi Rp75.000 sampai Rp150.000.</p>
<p>Upah yang Dadang dan Ayu peroleh digunakan untuk membiayai hidup mereka dan tiga buah hatinya yang masih sekolah. Dadang sudah mengamen sejak kelas 6 SD untuk membiayai kebutuhan pendidikannya, untuk itu Dadang sebenarnya pernah punya cita-cita.</p>
<p>“Cita-cita pernah punya, pengin jadi Nahdatul Ulama,” kenang alumni SMK Kejuruan Musik itu. Kini, agar dapat mensyiarkan nilai-nilai kebaikan, Dadang dan istri mengamen dengan hanya menyanyikan lagu-lagu milik raja dangdut Rhoma Irama yang menurutnya mengandung imbauan.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Pasar Kemiri Muka merupakan pasar tradisional tempat beretemunya penjual dengan pembeli yang bersifat tradisional. Dikatakan demikian, karena transaksi di pasar tradisional boleh melalui proses tawar-menawar hingga kesepakatan harga diraih. Begitu pun yang terjadi di Pasar Kemiri, Depok.</p>
<p>Ada yang unik dari pasar yang bersebelahan dengan Stasiun Depok Baru itu, yakni Semangat para pedagang yang antusias menawarkan barang dagangannya kepada setiap calon pembeli. Kebanyakan dari pedagang yang bersemangat tinggi itu berasal dari kaum adam.</p>
<p>Ketika para calon pembeli melewati lapak satu per satu, para pemilik lapak akan saling teriak menyebutkan harga-harga dagangannya. Sebagian dari yang mendengarnya mungkin terganggu, namun tidak banyak pula yang justru menahan tawa.</p>
<p>Hal ini karena teriakan para pedagang yang berintonasi serta menggunakan kata-kata yang menggelitik perut. Misalnya saja, “Kacangnya, bu, pak! Yah dikacangin, ” teriak salah seorang pedagang kacang kepada siapa saja yang melintasi lapaknya.</p>
<p><strong>Putri Lestari</strong><br />
<strong>Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/cerita-2-tunanetra-yang-mengais-rezeki-di-pasar-kemiri-muka/">Cerita 2 Tunanetra yang Mengais Rezeki di Pasar Kemiri Muka</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/cerita-2-tunanetra-yang-mengais-rezeki-di-pasar-kemiri-muka/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pasar Kemiri Muka, Mbah Somo dan Sayuran</title>
		<link>https://jakpos.id/pasar-kemiri-muka-mbah-somo-dan-sayuran/</link>
					<comments>https://jakpos.id/pasar-kemiri-muka-mbah-somo-dan-sayuran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 May 2016 02:13:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Kemiri Muka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5705</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap hari aku selalu menyapa hangatnya sang surya dipagi hari. Selalu berlomba lomba untuk mengejar&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pasar-kemiri-muka-mbah-somo-dan-sayuran/">Pasar Kemiri Muka, Mbah Somo dan Sayuran</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Setiap hari aku selalu menyapa hangatnya sang surya dipagi hari. </em><br />
<em>Selalu berlomba lomba untuk mengejar pagi . </em><br />
<em>Selalu bangun terlebih dahulu sebelum ayam berkokok. </em><br />
<em>Ku susuri jalan setapak dengan langkah kuda. </em><br />
<em>Aku berharap banyak kepada pembeli yang menghampiri daganganku. Sayuran yang  ku gelar memanjang di sekitar emperan jalan.</em></p>
<figure id="attachment_5707" aria-describedby="caption-attachment-5707" style="width: 508px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/mbah-somo-508x640.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-post-5705 wp-image-5707" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/mbah-somo-508x640.jpg" alt="Mbah Somo, salah satu penjual sayur di Pasar Kemiri Muka." width="508" height="323" /></a><figcaption id="caption-attachment-5707" class="wp-caption-text">Mbah Somo, salah satu penjual sayur di Pasar Kemiri Muka.</figcaption></figure>
<p>DEPOK &#8211; Minggu, 8 Mei 2016. Mbah Somo harus rela bangun sebelum ayam berkokok demi mendapatkan sayur segar yang berharga miring untuk di jual kembali. Tak ada sedikit pun kata lelah baginya untuk berjualan. masih harus mencari nafkah dengan berjualan sayur di pasar demi menyambung kebutuhan hidup sehari-hari.</p>
<p>Mbah somo, wanita yang lahir di pekalongan 67 tahun yang lalu ini, sudah 10 tahun menyambung hidupnya dengan berjualan sayur di salah satu sudut di Pasar Kemiri Muka, Beji, Depok.</p>
<p>Bermodalkan gubuk yang terbuat dari seng bekas, ia rela kepanasan dan dinginan demi kelangsungan hidupnya. Bukan hanya untuk berjualan saja, gubuk tersebut juga di gunakan untuk sandaran Mbah Somo ketika malam tiba.</p>
<p>Lalu lalang para calon pembeli pun membuat hatinya senang, karena dari sana lah pundi-pundi rezekinya berdatangan. Satu demi satu pembeli menghampiri dagangannya, seakan lelahnya terobati setelah hasil kerja kerasnya bisa terpenuhi.</p>
<p>Persaingan dagang pun seketika dimulai, para pedagang saling mempromosikan daganganya agar pembeli ingin membelinya. sayangnya mbah somo pun tak ingin kalah dengan pedagang lain. Tumbuhnya yang sudah tak muda lagi, juga ikut mempromosikan dagangannya. &#8220;Ayo cabe sekilo 5 ribu, kentang sekilo 8 ribu, wortel sekilo 15 ribu&#8221;. (Suara terikannya seakan memanggil pembeli agar membeli sayurannya)</p>
<p>Namun bukan hal yang mudah untuk bisa semua dagangannya habis, Mbah Somo rela menurunkan harga sayur-sayurannya ketika senja sudah mulai nampak. Karena baginya, buat apa merelakan semua yang ada kalau nantinya akan merubah warna dan membusuk.</p>
<p>Mungkin penjual lain berfikir berjualan itu akan merubah nasib kehidupan, tapi nyatanya sampai saat ini mbah somo masih tetap menjadi penjual sayur. Ia berjualan bukan untuk merubah nasib, tapi dia berjualan untuk mencari biaya makan dan sebagainya dari tangannya sendiri.</p>
<p>Bahkan ia rela tidak bisa bertemu keluarganya setiap hari, haya waktu-waktu tertentu saja mbah somo bisa pulang kerumah dan bertemu keluarganya yang dikampung. Apalagi saat ini, bulan ramadhan akan datang. Biasanya ia tak sama sekali pulang kampung, karena di bulan tersebutlah pembeli sedang ramai kepasar untuk membeli sayuran sayuran untuk berbuka dan sahur.</p>
<p>Dari Mbah Somo lah kita dapat pembelajaran baru. segala sesuatu yang kita lakukan tidak ada batasan usia, baik tua maupun muda kita harus mengahadapi realita kehidupan sedemikian rupa. Meskipun kehidupan itu sepahit dan sekejam apa pun harus kita lalui, jangan pernah ada sedikit pun ada kata lelah atau pun menyerah. Karena sekali kita berbicara menyerah, apa yang kita lakukan selama ini akan sia-sia saja.</p>
<p><strong>Rachmania Putri</strong><br />
<strong> Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta.</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pasar-kemiri-muka-mbah-somo-dan-sayuran/">Pasar Kemiri Muka, Mbah Somo dan Sayuran</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/pasar-kemiri-muka-mbah-somo-dan-sayuran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
