<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pesantren Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/pesantren/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/pesantren/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Tue, 19 Aug 2025 06:34:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Pesantren Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/pesantren/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>ASAR Humanity Panen Ikan Nila untuk Ketahanan Pangan Santri di Subang</title>
		<link>https://jakpos.id/asar-humanity-panen-ikan-nila-untuk-ketahanan-pangan-santri-di-subang/</link>
					<comments>https://jakpos.id/asar-humanity-panen-ikan-nila-untuk-ketahanan-pangan-santri-di-subang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2025 06:34:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Humanitas]]></category>
		<category><![CDATA[ASAR Humanity]]></category>
		<category><![CDATA[Budidaya Ikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=89420</guid>

					<description><![CDATA[<p>Program yang dimulai enam bulan lalu ini menjadi salah satu ikhtiar mendukung ketahanan pangan santri,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/asar-humanity-panen-ikan-nila-untuk-ketahanan-pangan-santri-di-subang/">ASAR Humanity Panen Ikan Nila untuk Ketahanan Pangan Santri di Subang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Program yang dimulai enam bulan lalu ini menjadi salah satu ikhtiar mendukung ketahanan pangan santri, khususnya bagi santri mukim</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://jakpos.id/"><b>JAKPOS</b></a>, <strong>SUBANG</strong> – ASAR Humanity bersama relawan dan Key Opinion Leader (KOL) memanen ikan nila di kolam budidaya Pondok Pesantren Tahfiz Ar-Rasyid Cabang Subang. Program yang dimulai enam bulan lalu ini menjadi salah satu ikhtiar mendukung ketahanan pangan santri, khususnya bagi santri mukim yang mengikuti program tahfiz Al-Qur’an.</p>
<p>Pondok Pesantren Tahfiz Ar-Rasyid berdiri pada Februari 2020 dan saat ini memiliki sekitar 400 santri. Dari jumlah tersebut, 50 santri mukim (SMP, SMA, dan mahasiswa) fokus pada program tahfiz dengan beasiswa hingga jenjang S2. Dukungan pangan menjadi salah satu kebutuhan pokok pesantren, dan program budidaya ikan hadir sebagai solusi nyata untuk keberlanjutan.</p>
<p>“Alhamdulillah, hari ini kami memanen perdana lebih dari 500kg ikan nila dari kolam pondok setelah 6 bulan dirawat. Ini menjadi langkah awal bagi program pangan berikutnya. Kami mengucapkan jazaakumullahu khairan kepada ASAR Humanity dan para donatur. Semoga ikan yang dikonsumsi para santri menjadi tenaga untuk para penghafal Al-Qur’an,” ujar Ustadz Ihsan Bisyiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfiz Ar-Rasyid Cabang Subang.</p>
<h3>Suara Santri: Panen Jadi Pengalaman Berharga</h3>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-post-89420 wp-image-90871" src="https://res.cloudinary.com/dvd4tnrxr/images/v1755584677/asar2-FILEminimizer/asar2-FILEminimizer.jpg?_i=AA" alt="" width="811" height="501" /></p>
<p>Bagi para santri, panen ini bukan hanya soal pangan, tetapi juga pengalaman berharga. Zahru (15), santri SMP asal Maluku, mengungkapkan rasa syukurnya.</p>
<p>“Alhamdulillah saya dari Maluku bisa belajar di sini. Senang sekali ikut panen ikan hari ini, karena disini jarang sekali makan ikan. Dari jam 8 pagi sampai siang, kami ikut menangkap ikan bersama teman-teman. Harapannya ke depan kami bisa belajar budidaya ikan supaya pangan santri tercukupi dari hasil usaha kami. Terima kasih kepada ASAR Humanity dan para donatur.”</p>
<h4>Rangkaian Kegiatan</h4>
<p>Prosesi panen di kolam Subang diikuti KOL, relawan, dan pengurus pondok. Hasil panen sebagian langsung dinikmati bersama santri dan relawan, sementara sisanya dibagikan kepada warga sekitar pondok. Acara dilanjutkan dengan kegiatan “Ikan Sehat untuk Santri” di pesantren, berupa sesi memasak, talkshow mini bertema ketahanan pangan, dan makan bersama santri.</p>
<p>“Panen ini adalah bukti nyata bahwa program pangan sederhana dapat memberi dampak besar. Dengan dukungan donatur, Influencer, dan relawan, santri bisa mendapatkan gizi lebih baik sekaligus belajar kemandirian. Hal ini juga menegaskan komitmen ASAR Humanity untuk terus memberdayaakan pesantren-pesantren di penjuru negeri,” tegas Arizan Setiawan, GM Program ASAR Humanity</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/asar-humanity-panen-ikan-nila-untuk-ketahanan-pangan-santri-di-subang/">ASAR Humanity Panen Ikan Nila untuk Ketahanan Pangan Santri di Subang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/asar-humanity-panen-ikan-nila-untuk-ketahanan-pangan-santri-di-subang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/res.cloudinary.com/dvd4tnrxr/images/v1755584553/asar-FILEminimizer/asar-FILEminimizer.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>ASAR Humanity Panen Ikan Nila untuk Ketahanan Pangan Santri di Subang</title>
		<link>https://jakpos.id/asar-humanity-panen-ikan-nila-untuk-ketahanan-pangan-santri-di-subang-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2025 06:25:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Humanitas]]></category>
		<category><![CDATA[ASAR Humanity]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Pesantren Tahfiz Ar-Rasyid]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=90868</guid>

					<description><![CDATA[<p>Program yang dimulai enam bulan lalu ini menjadi salah satu ikhtiar mendukung ketahanan pangan santri, khususnya bagi santri mukim</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/asar-humanity-panen-ikan-nila-untuk-ketahanan-pangan-santri-di-subang-2/">ASAR Humanity Panen Ikan Nila untuk Ketahanan Pangan Santri di Subang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Program yang dimulai enam bulan lalu ini menjadi salah satu ikhtiar mendukung ketahanan pangan santri, khususnya bagi santri mukim</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://jakpos.id/go/"><strong>DEPOKPOS</strong></a>, <strong>SUBANG</strong> – ASAR Humanity bersama relawan dan Key Opinion Leader (KOL) memanen ikan nila di kolam budidaya Pondok Pesantren Tahfiz Ar-Rasyid Cabang Subang. Program yang dimulai enam bulan lalu ini menjadi salah satu ikhtiar mendukung ketahanan pangan santri, khususnya bagi santri mukim yang mengikuti program tahfiz Al-Qur’an.</p>
<p>Pondok Pesantren Tahfiz Ar-Rasyid berdiri pada Februari 2020 dan saat ini memiliki sekitar 400 santri. Dari jumlah tersebut, 50 santri mukim (SMP, SMA, dan mahasiswa) fokus pada program tahfiz dengan beasiswa hingga jenjang S2. Dukungan pangan menjadi salah satu kebutuhan pokok pesantren, dan program budidaya ikan hadir sebagai solusi nyata untuk keberlanjutan.</p>
<p>“Alhamdulillah, hari ini kami memanen perdana lebih dari 500kg ikan nila dari kolam pondok setelah 6 bulan dirawat. Ini menjadi langkah awal bagi program pangan berikutnya. Kami mengucapkan jazaakumullahu khairan kepada ASAR Humanity dan para donatur. Semoga ikan yang dikonsumsi para santri menjadi tenaga untuk para penghafal Al-Qur’an,” ujar Ustadz Ihsan Bisyiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfiz Ar-Rasyid Cabang Subang.</p>
<h3>Suara Santri: Panen Jadi Pengalaman Berharga</h3>
<p><img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-post-90868 wp-image-90871" src="https://res.cloudinary.com/dvd4tnrxr/images/v1755584677/asar2-FILEminimizer/asar2-FILEminimizer.jpg?_i=AA" alt="" width="811" height="501" /></p>
<p>Bagi para santri, panen ini bukan hanya soal pangan, tetapi juga pengalaman berharga. Zahru (15), santri SMP asal Maluku, mengungkapkan rasa syukurnya.</p>
<p>“Alhamdulillah saya dari Maluku bisa belajar di sini. Senang sekali ikut panen ikan hari ini, karena disini jarang sekali makan ikan. Dari jam 8 pagi sampai siang, kami ikut menangkap ikan bersama teman-teman. Harapannya ke depan kami bisa belajar budidaya ikan supaya pangan santri tercukupi dari hasil usaha kami. Terima kasih kepada ASAR Humanity dan para donatur.”</p>
<h4>Rangkaian Kegiatan</h4>
<p>Prosesi panen di kolam Subang diikuti KOL, relawan, dan pengurus pondok. Hasil panen sebagian langsung dinikmati bersama santri dan relawan, sementara sisanya dibagikan kepada warga sekitar pondok. Acara dilanjutkan dengan kegiatan “Ikan Sehat untuk Santri” di pesantren, berupa sesi memasak, talkshow mini bertema ketahanan pangan, dan makan bersama santri.</p>
<p>“Panen ini adalah bukti nyata bahwa program pangan sederhana dapat memberi dampak besar. Dengan dukungan donatur, Influencer, dan relawan, santri bisa mendapatkan gizi lebih baik sekaligus belajar kemandirian. Hal ini juga menegaskan komitmen ASAR Humanity untuk terus memberdayaakan pesantren-pesantren di penjuru negeri,” tegas Arizan Setiawan, GM Program ASAR Humanity</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/asar-humanity-panen-ikan-nila-untuk-ketahanan-pangan-santri-di-subang-2/">ASAR Humanity Panen Ikan Nila untuk Ketahanan Pangan Santri di Subang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tips Memilih Pesantren yang Cocok dari Dr Awaluddin Faj, M.Pd.I</title>
		<link>https://jakpos.id/tips-memilih-pesantren-yang-cocok-dari-dr-awaluddin-faj-m-pd-i/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2025 06:14:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Memilih Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88142</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di tengah dinamika zaman yang makin kompleks, banyak orangtua mulai melirik kembali pondok pesantren sebagai pilihan utama pendidikan anak. Fenomena ini bukan tanpa alasan.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tips-memilih-pesantren-yang-cocok-dari-dr-awaluddin-faj-m-pd-i/">Tips Memilih Pesantren yang Cocok dari Dr Awaluddin Faj, M.Pd.I</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Di tengah dinamika zaman yang makin kompleks, banyak orangtua mulai melirik kembali pondok pesantren sebagai pilihan utama pendidikan anak. Fenomena ini bukan tanpa alasan. </em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Pesantren kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai lembaga keagamaan tradisional, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan pusat pendidikan yang mampu menjawab tantangan masa depan.</p>
<p>Menariknya, tren ini tak hanya terjadi di kawasan rural, namun juga di kalangan urban dan kelas menengah terdidik. Lembaga pendidikan Islam semakin bertransformasi, menggabungkan nilai-nilai spiritual dengan pendekatan kurikulum modern yang terintegrasi.</p>
<p>Namun, dengan ragam pilihan dan sistem yang berbeda-beda, muncul satu pertanyaan besar di benak banyak orangtua: “Bagaimana memilih pesantren yang tepat untuk anak kami?”</p>
<p>Pertanyaan ini menjadi topik utama dalam sebuah seminar daring bertajuk “Parenting Pesantren: Tips Memilih Pesantren yang Tepat untuk Sang Buah Hati”, yang menghadirkan Dr. Awaluddin Faj, M.Pd.I, seorang praktisi pendidikan Islam dan konsultan parenting pesantren.</p>
<p>Berbekal pengalaman lebih dari satu dekade dalam dunia pesantren modern, ia membagikan sejumlah pertimbangan penting bagi para orangtua sebelum menitipkan pendidikan anak ke lembaga pesantren.</p>
<h3>Berikut adalah enam poin yang patut menjadi acuan:</h3>
<h4>1. Telusuri Akar Sejarah Pesantren</h4>
<p>Menurut Dr. Awaluddin, sejarah suatu pesantren bisa mencerminkan jati diri dan konsistensi nilai yang ditanamkan. “Pesantren yang tumbuh dari gagasan pendidikan murni biasanya punya landasan visi yang kuat,” ujarnya. Ia menyarankan agar orangtua meluangkan waktu menelusuri jejak digital pesantren, mulai dari pendiriannya hingga tujuan-tujuannya.</p>
<h4>2. Cermati Profil Pengasuh dan Tenaga Pendidik</h4>
<p>Bukan hanya soal nama besar, kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh siapa yang mengasuh dan membimbing santri. Tenaga pendidik idealnya bukan sekadar kompeten secara akademis, namun juga menjadi figur teladan dalam perilaku sehari-hari. “Santri tidak hanya mendengar nasihat, tapi meniru,” tambahnya.</p>
<h4>3. Pahami Kurikulum dan Model Pembelajaran</h4>
<p>Tidak semua pesantren seragam. Ada yang menekankan tahfiz (penghafalan Al-Qur’an), ada yang mengusung pendekatan modern, salafiyah, bahkan model hybrid. Maka penting bagi orangtua memahami apakah pendekatan yang digunakan sesuai dengan potensi dan kebutuhan anak. Pesantren dengan pendidikan formal yang terintegrasi juga bisa menjadi pilihan tepat bagi orangtua yang menginginkan keseimbangan antara ilmu agama dan umum.</p>
<h4>4. Evaluasi Fasilitas dan Biaya</h4>
<p>Satu hal yang sering luput dari perhatian adalah kesesuaian biaya dengan fasilitas. Fasilitas bukanlah segalanya, tapi bisa mencerminkan perhatian pengelola terhadap kenyamanan dan keamanan anak. Orangtua perlu menakar kemampuan finansial secara realistis, sembari mempertimbangkan kebutuhan anak dalam menjalani kehidupan pesantren yang mandiri.</p>
<h4>5. Perhatikan Reputasi dan Output Alumni</h4>
<p>Bukan hanya akreditasi atau penghargaan, tapi juga narasi dari para alumni dan orangtua yang pernah mempercayakan anaknya. “Testimoni yang jujur lebih kuat dari sekadar brosur,” kata Dr. Awaluddin. Alumni yang berhasil di bidang akademik, sosial, atau spiritual menunjukkan keberhasilan sistem pendidikan pesantren tersebut.</p>
<h4>6. Lakukan Kunjungan Langsung</h4>
<p>Tidak ada yang bisa menggantikan observasi langsung. Suasana lingkungan, interaksi antar santri, bahkan cara para guru menyapa tamu bisa menjadi cermin budaya lembaga tersebut. “Kita bisa tahu lebih banyak dari apa yang tidak dikatakan,” pungkasnya.</p>
<h3>Menemukan Rumah Kedua bagi Anak</h3>
<p>Memilih pesantren bukan semata soal label “agama”, tapi tentang menemukan rumah kedua yang bisa menumbuhkan anak menjadi pribadi yang tangguh, berilmu, dan berakhlak. Maka penting bagi orangtua untuk terlibat aktif dalam proses pencarian, bukan hanya menyerahkan keputusan pada tren atau impresi sesaat.</p>
<p>Dengan pertimbangan yang cermat, anak tak hanya akan merasa aman, tetapi juga mendapatkan pendidikan yang seimbang—antara ruhani dan intelektual, antara disiplin dan kasih sayang.</p>
<p>Bagi yang masih ragu atau ingin mengenal lebih dalam dunia pesantren, berbagai forum parenting daring kini makin terbuka. Salah satunya yang digagas Konsultan Pendidikan Sekolah Islam di Depok, yang secara rutin menggelar diskusi terbuka seputar pendidikan Islam dan parenting modern.</p>
<p>Karena pada akhirnya, pesantren bukanlah tempat menitipkan anak, tapi tempat menumbuhkan mereka.</p>
<p><em>M Farhan Hidayat</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tips-memilih-pesantren-yang-cocok-dari-dr-awaluddin-faj-m-pd-i/">Tips Memilih Pesantren yang Cocok dari Dr Awaluddin Faj, M.Pd.I</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/suka-suka.web.id/wp-content/uploads/2017/09/cover.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pesantren: Asal-usul Kelembagaan</title>
		<link>https://jakpos.id/pesantren-asal-usul-kelembagaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2025 02:49:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=85662</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Murodi al-Batawi Pesantren yang kita kenal sekarang ini, memiliki latar histotis yang sangat lama&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pesantren-asal-usul-kelembagaan/">Pesantren: Asal-usul Kelembagaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Pesantren yang kita kenal sekarang ini, memiliki latar histotis yang sangat lama dan panjang. Institusi ini merupakan lembaga pendidikan tertua dan khas Indonesia. Ia telah memainkan peran yang sangat penting dalam proses pencerdasan generasi Muslim Indonesia.</p>
<p>Dari lembaga inilah lahir para Ulama, Mujahid, Pemikir, budayawan dan intelektual hebat serta para pejuang kemerdekaan Indonesia dan ternama. Sebut saja, miisalnya, KH. Wahab Hasbullah. KH. Hasyim Asy’ari, KH. Holil Bangkalan. Syeikh Nawai al-Bantani, KH. Nur Ali, dan lain sebagainya.</p>
<p>Mereka telah memainkan persan pada posisi mssing, dengan tidak meninggalkan peran dan fungsinya sebagai Ulama. Bahkan tidak hanya sebatas perjuangan kemerdekaan Indonesia, juga pra kemerdekaan dan pascakemerdekaan. Menjadi penyuluh di tengah gulitanya ilmu pengetahuan.</p>
<h3>Pengertian dan Asal Usul Pesantren</h3>
<p>Banyak ahli berbeda pendapat mengenai asal usul dan penamaan pesantren. Salah seorang di antaranya, Abu Hamid. Ia mengatakan bahwa diksi pesantren berasal dari bahasa Sanskerta yang memperoleh wujud dan pengertiannya tersendiri dalam bahasa Indonesia. Kata Pesantren berasal dari kata Sant yang berarti orang baik.</p>
<p>Kemudian disambung dengan kata tra/tri, yang betarti Suka Menolong. Di diksi Santri diberi awalan Pe dan akhiran an. Jadi kata Pesantreaan dan kemudian berubah menjadi Pesantren, yang berarti tempat pendidikan anak-anak supaya menjadi orang baik. Institusi ini sudah ada jauh sebelum agama Islam datang ke Indonesia.</p>
<p>Pada saat itu, Pesantren merupakan lembaga pendidikan agama Budha dan Hindu. Dan Pesantren mengalami transformasi luar biasa semenjak awal kedatangan Islam di Infonesia.</p>
<p>Sedangkan menurut Zamakhsyari Dhofier, bahwa kata Pesantren berasal dari kata dasar Santri yang berasal dari bahasa Tamil yang berarti Guru Mengaji. Sedangkan menurut CC. Berg, diksi pesantren berasal dari kata Shastra yang berarti Buku-Buku Suci, Buku-buku Agama dan Buku-buku pengetahuan.</p>
<p>Dengan demikian, istilah pesantren tersebut masuk ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan dan perkembangan agama Hindu sebelum kedatangan agama Islam. Setelah datangnya agama Islam institusi ini ditransformasikan ke dalam sistem Islam dan kemudian kontens lembaga pesantren ini diisi dengan program pendidikan Islam sesuai dengan tujuan program pengembangan agama Islam.</p>
<p>Berdasarkan alasan terminologis, persamaan bentuk antara pesantren dan pendifikan Hindu di India dapat dianggap sebagai petunjuk untuk menjelaskan mengenai asal usul sistem pendidikan pesantren.</p>
<p>Pada zaman kerajaan dahulu, ada kebijakan yang dikeluarkan oleh kerajaan untuk memberikan satu wilayah atau daerah yang diperuntukan bagi pengembangan pendidikan dan diserahkan kepada tokoh agama untuk dimanfaatkan sebagai daerah otonomi penuh untuk pengembangan ajaran agama Hindu. Daerah itu diberi nama Perdikan, yang dibebaskan dari berbagai pungutan pajak, seperti yang dikenakan pada daerah lain.</p>
<p>Para pengelola dan guru di lembaga pendidikan Hindu ini tidak mendapat gaji, tetapi mendapatkan penghormatan luar biasa dari kerajaan dan masyarakat. Daerah perdikan biasanya terketak di pedesaan dan jauh dari pusat kota dan keramaian, sehingga mereka, baik para guru maupun para murid terbebas dari pengaruh dari luar, dan mereka hanya fokus mengajarkan dan mengembangkan ajaran agama Hindu dan Budha.</p>
<p>Diperkirakan, menurut Ziemek, pesantren di Indonesia mencontoh bentuk lembaga pendidikan Hindu-Budha dengan mengubah bentuk pendidikan Asrama dan Mandala, seperti lembaga pendidikan yang ada di Infia, Burma/Myanmar dan Muangthai ataupun di Jawa pra Islam.</p>
<p>Sedangkan menurut Clifford Geertz mengatakan bahwa pengertian Santri diturunkan dari bahasa Sanskerta, Shasstri yang berarti ilmuan Hindu yang pandai menulis. Kata Shashtri punya arti seirang pelajar yang ingin memperdalam ilmu agama. Kemudian diksi ini dalam tradisi penduduk Jawa muslim diadopsi menjadi penduduk Jawa yang menganut Islam dengan sunguh-sungguh, rajin shalat, dan sebagainya. Demikian pengertian istilah Santri dan pesantren. {Odie}</p>
<p><em><strong>Murodi Al Batawi</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pesantren-asal-usul-kelembagaan/">Pesantren: Asal-usul Kelembagaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/cdn0-production-images-kly.akamaized.net/DgDLLXRfDIKhxtdlQibYiYGQsbM=/500x281/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4081786/original/076140900_1657179248-IMG-20220707-WA0040.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Kitab Kuning dan Tradisi Pesantren</title>
		<link>https://jakpos.id/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Oct 2024 02:06:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Kuning]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=77387</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Paling tidak, ada empat komponen yang harus diketahui ketika kita berbicara&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/">Kitab Kuning dan Tradisi Pesantren</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Paling tidak, ada empat komponen yang harus diketahui ketika kita berbicara soal pondok pesantren; yaitu, Pondok Pesantren, Kyai, Santri dan Kitab Kuning.</p>
<h3>Pondok</h3>
<p>Pondok merupakan tempat para santri menginap dan beristirahat. Di tempat inilah para santri banyak beraktifitas di luar mengaji atau bersekolah. Para santri dari berbagai daerah yang datang ke suatu pesantren berkumpul. Mereka bertemu, berdiskusi, tidur, terkadang para santri salafiyah memasak dan makan di pondok tersebut. Kegiatan rutin yang mereka lakukan ini terjadi setiap saat. Dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali. Mereka belajar kelompok dan berdiskusi tentang materi yang baru diterima dari pimpinan pondok (kyai) atau dari para asatidz. Mereka saling memperkenalkan diri, mulai dati nama, asal usul dan lain sebagainya. Pada beberapa Pondok Pesantren tradisional, Salafiyah, mereka tidur dalam barak yang luas. Mereka, dahuli, membeli kasur sendiri atau cukup hanya tikar sebagai alas tidur mereka. Namun sekarang, hampir semua Pondok Pesantren sudah memiliki kamar untuk para santri, sehingga jarang yang tidur di barak. Mereka tidur di kamar dengan tempat tidur bertongkat dua. Dalam satu kamar ada yang diisi maksimal delapan orang.</p>
<h3>Kyai atau Ajengan dan Tuan Guru</h3>
<p>Sementara Kyai merupakan ungkapan atau gelar yang diberikan masyarakat Jawa, bagi orang yang dituakan atau berilmu. Sementara Ajengan, merupakan gelar keagamaan yang diberikan oleh masyarakat Jawa Barat. Sedang Guru atau Tuan Guru, gelar yang diberikan oleh masyarakat Betawi dan masyarakat Nusa Tenggara Barat. Dan Buya, merupakan gelar yang diberikan oleh masyarakat Melayu Sumatera. Mereka ini adalah role model bagi masyarakat kebanyakan. Kyai, Ajengan, Guru dan Tuan Guru, merupakan seorang alim pemilik pondok tersebut. Ia memiliki kompetensi keilmuan agama yang mumpuni dan memiliki otoritas keilmuan untuk mengajarkannya pada para santri.</p>
<p>Dahulu, sebelum menjadi Kyai dan pemilik Pondok Pesantren, mereka juga pasti pernah monfok pada pondok pesantren tertentu. Bahkan tidak hanya satu pondok mereka belajar mencari ilmu, selesai menguasai suat bidang ilmu tertentu, mereka pindah ke pondok pesantren lain untuk belajar dan mencari ilmu keagamaan lainnya, seperti usai mondok pada Kyai yang mengusai ilmu hadits, ia belajar pada kyai yang mengajarkan ilmu tafsir dan ilmu hadits. Begitulah tradisi rihlah ilmiah yang dilakukan para santri dahulu dan mungkin juga saat ini. Mereka berpindah dari satu kyai ke kyai lain untuk mempelajari ilmu keagamaan.</p>
<p>Selain mengajar para santri, ia juga mengajar para asatidz dan santri senior tentang disiplin suatu ilmu agama tertentu, seperti fiqh, tauhid, tafsir, hadits, nahwu sharaf dan lain-lain.</p>
<h3>Santri</h3>
<p>Santri merupakan para pelajar yang datang pada suatu lembaga pendidikan Islam, semisal Pondok Pesantren, untuk mempelajari bidang ilmu agama Islam. Mereka sengaja mendatangi dan mondok pada suatu Pondok Pesantren, sesuai dengan keinginan mereka untuk belajar bidang ilmu keagamaan yang menjadi minat besar mereka. Biasanya para santri belajar ilmu dasar terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke jenjang lebih tinggi lagi. Seperti belajar ilmu nahwu, dimulai dengan mengkaji Kitab al- Jurumiyah, dilanjutkan dengan belajar kitab Nahwu al-Wadhih, kemudian Kawakib al-Durruyah dan al-Fiyah Ibnu Malik.</p>
<p>Untuk mengkaji kitab fiqh, para santri belajar kitab Safinah al-Najah dan lain sebagainya. Dalam tradidi pesantren, kita yang menjadi bahan belajar dan rujukan sering disebut dengan istilah Kitab Kuning.</p>
<h3>Kitab Kuning: Tradisi Pesantren</h3>
<p>Kitab Kuning meripakan sebuah istilah khas Indonesia. Disebut kitab kuning karena hampir sebagian besar kitab tersebut dicetak dengan kertas warna kuning. Dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2019 tentang Pesantren telah ditegaskan bahwa kitab kuning adalah kitab keislaman berbahasa Arab atau kitab keislaman berbahasa lainnya yang menjadi rujukan tradisi keilmuan Islam di pesantren.</p>
<p>Sebagai sistem pengetahuan di pesantren, eksistensi Kitab Kuning sudah ada sejak abad 1-2 Hijriyah dan berkembang hingga sekarang. Tradisi literasi keislaman ini mampu tetap bertahan sebab ia memiliki khazanah keilmuan yang sangat luas(Fayumi). Dengan kata lain, Kitab Kuning ini merupakan hasil kreatifitas dan ijtihadi para ulama Pondok Pesantren yang terdiri dari berbagai bidang krilmuan Islam dan mampu bertahan hingga kini karena pesantren telah mengembangkan dan mempertahankan tradisi keilmuan Islam ini dengan baik, sehingga generasi muslim selalu mencarinya dengan mendatangi dan mondok di sebuah pesantren di Indonesia.</p>
<p>Kitab kuning memiliki banyak bidang keilmuan seperti tafsir, hadis, fikih, sejarah, dan lain sebagainya. Dalam bidang fikih saja sangat luas macamnya, misalnya ada fikih umum, fikih ibadah, fikih perkawinan, fikih perdagangan (mu’amalah), fikih perbandingan madzhab, fikih kontemporer, fikih lingkungan hidup, fikih perempuan, fikih politik, dan lain-lain. Selain itu, ada juga macam kitab kuning yang menggunakan model syarakh (penjelasan) sebagai Meski Kitab Kuning menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa yang digunakan. Tetapi, ada Kitab Kuning yang ditulis dalam huruf Arab berbahasa Melayu atau seting disebut dengan Arab Pegon atau Arab Jawi.</p>
<p>Tradisi mengaji Kitab Kuning biasanya dilakukan dengan model pengajaran Sorogan, Wtonan dan Bandongan. Model sorogan, santri biasanya mendatangi Kyai ata Ustadz dengan membawa kitab tertentu untuk dipelajari. Sedang Wetonsn, bissanya santri belsjar Kitab Kuning sesuai waktu yang ditentukan oleh Kyai. Sementara Bandongan, para ssntri membentuk lingkaran untuk mengkaji Kitab Kuning bersama para santri lsinnya. Dsn sang Kyai berada di tengah lingkaran menjadi pengajarnya (Odie).</p>
<p><em>Pamulang,</em><br />
<em>25 Oktober 2025.</em></p>
<p><em>Murodi al-Batawi</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/">Kitab Kuning dan Tradisi Pesantren</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcRa7vg5lsV6QOGr5IIPPGwBYLpO9AXXcPPowfT7mZpzVtD_QdLHHbkCa5E&#038;s=10&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tiga Bentuk Penyelenggaraan Pendidikan di Pondok Pesantren</title>
		<link>https://jakpos.id/tiga-bentuk-penyelenggaraan-pendidikan-di-pondok-pesantren/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Dec 2023 13:23:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Pesantren]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61664</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia sampai sekarang tetap memberikan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tiga-bentuk-penyelenggaraan-pendidikan-di-pondok-pesantren/">Tiga Bentuk Penyelenggaraan Pendidikan di Pondok Pesantren</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia sampai sekarang tetap memberikan kontribusi penting di bidang pendidikan keagamaan.</p>
<p>Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang memiliki akar kuat pada masyarakat muslim Indonesia, dalam perjalanannya mampu menjaga dan mempertahankan keberlangsungan dirinya serta memiliki model pendidikan multi aspek.</p>
<p>Berdasarkan bangunan fisik atau sarana pendidikan yang dimiliki, pesantren mempunyai lima tipe berdasarkan ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki pesantren itu sendiri.</p>
<p>Sedangkan berdasarkan kurikulum, pesantren terbagi tiga, yaitu pesantren tradisional (salafiyah), pesantren modern (khalaf atau asriyah) dan pesantren komprehensif (kombinasi). Pesantren memiliki lima dasar element, yaitu masjid, kyai, pondok, santri, dan pengajian kitab kuning.</p>
<p>Pondok pesantren merupakan tempat dimana orang-orang berkumpul untuk belajar lebih dalam tentang agama islam. Selain itu santri-santri bertempat tinggal bersama dekat ustadz disekitar lingkungan pesantren, hal ini dapat diperjelas bahwa pondok pesantren tempat menuntut ilmu sekaligus tempat tinggal.</p>
<p>Cara mengajar dan belajar dipesantren umumnya masih secara tradisional, masih seperti dulu, meskipun pada jaman sekarang ini banyak juga pesantren yang telah mengikuti cara-cara modern. Meskipun demikian, cara khas yang telah melekat pada diri pesantren tidak pernah pudar.</p>
<p>Pondok pesantren juga merupakan bagian dari sistem pendidikan agama islam di indonesia, didirikan karena adanya tuntunan dan kebutuhan zaman. Hal semacam ini bisa dilihat dari sejarah, dimana pondok pesantren adalah lembaga pendidikan agama islam yang sudah lama di indonesia.</p>
<p>Pesantren telah lama berdiri sebelum indonesia merdeka, bahkan sebelum terdapat lembaga-lembaga pendidikan ala penjajah di indonesia, pondondok pesantren sudah berdiri. Perkembangan pondok pesantren di indonesia tergolong sangat cepat, hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya dijumpai pondok-pondok disetiap daerah yang berada dinusantara.</p>
<p>Secara definisi, pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional agama islam untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan semua ajaran agama islam dengan menekankan moral agama sebagai kehidupan dalam sehari-hari.</p>
<p>Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan islam yang mengalami perkembangan bentuk sesuai dengan perubahan zaman, serta adanya dampak kemajuan tegnologi yang mempengaruhi ilmu pengetahuan.</p>
<p>Terdapat tiga bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren, yaitu:</p>
<p><strong>Bandungan dan sorogan</strong>, adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama islam yang pendidikan dan pengajarannya diberikan dengan cara nonklasikal, dimana seorang kiai mengajar santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis oleh ulama besar semenjak abad tengah. Para santri pada pondok pesantren bentuk ini biasanya tinggal di dalam pondok yang telah disediakan.</p>
<p><strong>Kalog</strong>, adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama islam yang pada dasarnya sama dengan pondok pesantren, tetapi para santrinya tidak disediakan tempat tinggal didalam pondok pesantren, namun tinggal tersebar di sekeliling pesantren, dimana cara dan metode pendidikan dan pengajarannya diberikan dengan cara sistem weton, yaitu para santri datang pada waktu-waktu tertentu.</p>
<p><strong>Modern</strong>, adalah lembaga gabungan antara sistem pendidikan pondok dan pesantren yang memberikan pendidikan dan pengajaran agama islam dengan sisitem bandungan, sorogan ataupun wetonan dengan para santri disediakan asrama. Selain menyelenggarakan pendidikan nonformal juga menyelenggarakan pendidikan formal bentuk madrasah dan sekolah umum dan berbagai banyak tingkatan dan aneka kejuruan menurut kebutuhan masyarakat.</p>
<p>Ketiga bentuk pondok pesantren ini memberikan gambaran bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan sekolah, luar sekolah dan masyarakat yang tumbuh dari masyarakat, milik masyarakat dan untuk masyarakat.</p>
<p>Kehadiran pesantren di tengah-tengah masyarakat tidak hanya sebagai lembaga pendidikan tetapi sebagai lembaga penyiaran agama Islam. Sejak awal kehadiran pesantren ternyata mampu mengadaptasi diri dengan masyarakat. Pesantren juga berhasil menjadikan dirinya sebagai pusat gerakan pengembangan Islam.</p>
<p>Dalam banyak hal, sistem dan lembaga pesantren telah dimodernisasi dan disesuaikan dengan tuntutan perkembangan zaman, sehingga secara otomatis akan mempengaruhi kurikulum yang mengacu pada tujuan institusional lembaga tersebut.</p>
<p>Pondok pesantren harus mampu mempertahankan ciri khas pesantren dalam eksitensinya di tengah-tengah masyarakat. Kurikulum adalah salah satu instrument dari suatu lembaga pendidikan, termasuk pendidikan pesantren dalam mencapai tujuan pendidikan.</p>
<p>Adapun tujuan pendidikan pondok pesantren yaitu untuk membentuk kepribadian seorang muslim yang berpengetahuan luas tentang ajaran-ajaran islam dan mampu mengamalkannya didalam kehidupan sehai-hari. Sehingga bermanfaat bagi agama, masyarakat, dan negara.</p>
<p>Pondok pesantren merupakan sistem pendidikan agama Islam yang tertua sekaligus merupakan ciri khas yang mewakili Islam tradisional Indonesia yang eksistensinya telah teruji oleh sejarah dan berlangsung hingga kini.</p>
<p>Pada mulanya merupakan sistem pendidikan Islam yang dimulai sejak munculnya masyarakat Islam di Indonesia. Munculnya masyarakat Islam di Indonesia berkaitan dengan proses Islamisasi, dimana proses Islamisasi terjadi melalui pendekatan dan penyesuaian dengan unsur-unsur kepercayaan yang sudah ada sebelumnya, sehingga terjadi percampuran atau akulturasi.</p>
<p>Saluran Islamisasi terdiri dari berbagai cara antara lain melalui perdagangan, perkawinan, pondok pesantren dan kebudayaan atau kesenian. Secara definisi, pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional Islam untuk belajar memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran–ajaran agama Islam dengan menekankan pentingnya moral agama sebagai pedoman hidup sehari-sehari dalam masyarakat.</p>
<p><em>Lutfi Nurohmah</em><br />
<em>Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tiga-bentuk-penyelenggaraan-pendidikan-di-pondok-pesantren/">Tiga Bentuk Penyelenggaraan Pendidikan di Pondok Pesantren</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/storage.nu.or.id/storage/post/16_9/big/145511464656bb499642acd_1688042800.webp?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
