<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Resensi Buku Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/resensi-buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/resensi-buku/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 Dec 2023 03:06:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Resensi Buku Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/resensi-buku/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Resensi Novel &#8220;Namaku Alam&#8221;: Hubungan Interpersonal, Asmara, Bromance, dan Keluarga</title>
		<link>https://jakpos.id/resensi-novel-namaku-alam-hubungan-interpersonal-dalam-namaku-alam-asmara-bromance-dan-keluarga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Dec 2023 03:06:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Namaku Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Novel Namaku Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62357</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul Buku : Namaku Alam Penulis : Leila S. Chudori Terbit : 20 September 2023&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-namaku-alam-hubungan-interpersonal-dalam-namaku-alam-asmara-bromance-dan-keluarga/">Resensi Novel &#8220;Namaku Alam&#8221;: Hubungan Interpersonal, Asmara, Bromance, dan Keluarga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Judul Buku : Namaku Alam</em><br />
<em>Penulis : Leila S. Chudori</em><br />
<em>Terbit : 20 September 2023</em><br />
<em>Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)</em><br />
<em>Jumlah Hal : 424</em><br />
<em>Peresensi : Alfiyyah Fadiyah, Hilma Aufiana</em></p>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Bisakah sebuah novel mengungkap sejarah terpendam tentang tragedi besar suatu negeri sekaligus mengangkat kisah relasi personal sang tokoh utama?</p>
<p>Namaku Alam 1 merupakan spin off dari buku berjudul Pulang karya Leila S. Chudori. Leila mulai menulis novel &#8220;Pulang&#8221; pada tahun 2006 dan menyelesaikannya pada tahun 2012. Seno Gumira Ajidarma menilai &#8220;Pulang&#8221; sebagai novel dengan teknik seamless realism, menciptakan pengalaman membaca yang menyatu dengan situasi dalam novel. Leila S. Chudori mengangkat tema kejujuran, keyakinan, tekad, prinsip, dan pengorbanan dalam gaya bercerita yang intelektual dan puitis. Terinspirasi oleh penulis dunia seperti Kafka, Dostoyevski, Lawrence, dan Joyce, Leila juga memadukan pengaruh Baratayuda dan Ramayana dalam tulisannya.</p>
<p>Melalui novel Namaku Alam, Leila menceritakan tentang tokoh utama yang bernama Alam dalam menjalani kehidupannya sebagai anak simpatisan Gerakan 30 September 1965 atau G30S PKI. Cap “anak pengkhianat negara” melekat pada identitasnya dan menghantui hidupnya. Latar belakang keluarga Alam ini lah yang menempa kehidupan pertemanan, hubungan dengan keluarga, hingga kisah percintaannya.</p>
<p>Alam memiliki kemampuan photographic memory yang membuatnya tidak bisa melupakan semua hal dalam kehidupannya, baik itu memori baik ataupun buruk. Kejadian pertama yang dia ingat adalah ketika sekelompok orang menggeledah rumahnya untuk mencari keberadaan bapaknya. Alam yang saat itu masih berumur 3 tahun bersembunyi di bawah meja dan mendengarkan semua keributan itu. Alam juga ingat ketika ia bersama Ibunya, Kenanga, dan Bulan diperintahkan untuk ke Budi Kemuliaan untuk menemani ibunya diinterogasi.</p>
<p>Persamaan latar belakang keluarga membuat Alam menjalin persahabatan dengan Bimo. Bimo adalah anak seorang simpatisan PKI yang tidak bisa pulang ke Indonesia akibat kebijakan Soeharto yang melarang para simpatisan PKI di luar negeri untuk kembali ke Indonesia jika tidak mengakui kekuasaannya. Dengan kisah masa lalu dan bayang-bayang kedua bapak mereka yang menghantui keseharian mereka, Alam dan Bimo saling menguatkan dan berbagi cerita. Hubungan persahabatan antara Alam dan Bimo secara tidak langsung menyinggung toxic masculinity yang ada dalam konstruksi masyarakat. Bahwa laki-laki tidak menunjukkan afeksi kepada teman laki-laki lainnya dan bahwa persahabatan antara laki-laki bukanlah hal yang dapat diromantisasi.</p>
<p>SEANDAINYA KAMI binatang, aku adalah anjing pelacak dan Bimo adalah kelinci putih yang manis, jinak tanpa curiga. Jika kami di dunia tumbuhan, aku adalah kaktus berduri yang cenderung menikam jika merasa terancam, sementara Bimo adalah dedaunan adiantum (Yu Kenanga menyebutnya suplir) yang halus, berbatang bak benang tipis yang anggun. Jika kami ada di dalam benak John Lennon, maka aku adalah bagian dari partitur &#8220;Come Together&#8221; sedangkan Bimo hidup dalam lagu &#8220;O, My Love&#8221; yang lembut mengelus bak suara buluh perindu. Jika kami hidup di jagat Mahabharata, sudah jelas aku adalah Bima, dan dia yang bernama Bimo justru mewakili seorang Yudhistira. Di dunia seni, Bimo yang berbakat melukis itu diam-diam ingin menjadi seorang Sudjojono, sedangkan aku di masa SMA tergila-gila pada Guernica karya Pablo Picasso.</p>
<p>Melalui analogi yang dideskripsikan oleh karakter Alam, menunjukkan kuatnya persahabatan laki-laki antara Bimo dan Alam yang mungkin jarang kita temukan di novel-novel fiksi lainnya. Dari potongan cerita di atas juga menunjukkan kemampuan Leila dalam memanfaatkan imajinasi dan kreativitasnya untuk menyampaikan karakter dan jalinan di antara mereka menggunakan personifikasi lewat binatang, tumbuhan, musik, kisah mahabarata, hingga sebuah karya seni. Dekripsi ini tidak hanya memperdalam tiap karakter yang ada dalam cerita, namun juga dapat menghadirkan daya tarik emosional sendiri terhadap tiap karakter kepada pembaca.</p>
<p>Teknik penulisan Leila S. Chudori tidak bisa diragukan lagi dalam pemilihan diksi untuk menceritakan Alam dan kehidupannya. Leila mengakui bahwa ketika ia menulis terdapat pengaruh penulis seperti N.H. Dini, Virginia Woolf, Susan Sontag, Sylvia Plath, Anne Sexton, dan Simone de Beauvoir. Ia menghargai kejujuran dan orisinalitas dalam tulisan N.H. Dini serta kemandiriannya dalam membangun karya tanpa bergantung pada entourage. Bagi Leila, kemampuan menaklukkan bahasa adalah kunci utama dalam menulis fiksi, mengantar pembaca ke dalam dunia alternatif yang diciptakan oleh pengarang. Hal inilah yang menjadikan karya-karya Leila termasuk Namaku Alam memiliki cerita yang mengalir dan menghanyutkan pembaca. Teknik Leila dalam mengakhiri setiap bab dan memilih kalimat-kalimat yang mengundang rasa penasaran di awal bab dapat membuat pembaca tidak mudah menghentikan proses pembacaan.</p>
<p>Leila juga berhasil menjadikan Alam sebagai idola baru bagi para pembaca buku. Selain sosoknya yang cerdas karena kemampuan photographic memory, sejak kecil Alam hidup dikelilingi oleh perempuan mandiri dan berdaya seperti Ibu, Kenanga, dan Bulan. Hal tersebutlah yang membuat Alam mengerti tentang perjuangan seorang ibu dan wanita tanpa kehadiran laki-laki. Percikan feminisme ini juga dapat kita lihat dari bagaimana Alam tidak setuju apabila ibunya disebut sebagai janda, melainkan orang tua tunggal.</p>
<p>Buku ini berhasil mengangkat kembali isu 1965 yang kurang banyak dibahas, yaitu dari segi keluarga dari simpatisan PKI. Media ataupun sejarah lebih banyak membahas mengenai kronologi peristiwa, perdebatan dalang dari tragedi besar G30S PKI, ataupun tokoh-tokohnya. Tidak banyak yang menyinggung keluarga korban, trauma, dan stigma yang membayangi mereka seumur hidup. Selain isu penting peristiwa G30S PKI, Leila juga menghadirkan romansa masa SMA di dalamnya. Kisah Alam dan Dara di buku ini terhalang oleh latar belakang keluarga yang berbeda, Alam dengan keluarga yang lebih sederhana dan Dara dengan keluarga dan gaya hidup yang elit. Di sisi lain, Tommy kakak dari Dara sangat anti terhadap latar belakang Alam yang merupakan anak dari simpatisan PKI bahkan menghina Alam di acara keluarga Dara.</p>
<p>Meskipun buku ini mengangkat isu dan tema yang memantik diskusi berbagai akademisi atau pun kalangan pembaca buku, buku ini tidak memiliki konflik besar seperti novel Pulang. Konflik dalam buku ini lebih terfokus pada diri Alam dan konflik identitas yang ia hadapi sebagai korban tidak langsung dari peristiwa G30S PKI. Selain itu, pada beberapa bab terdapat ketidaksinambungan yang membuat bab-bab tersebut seolah-olah berdiri sendiri, tanpa bersambung dengan bab sebelum maupun sesudahnya.</p>
<p>Melalui Namaku Alam, Leila S Chudori berhasil menggambarkan hubungan kuat antara para karakter yang berada dalam bayang-bayang tragedi sejarah yang kelam. Meskipun tidak ada konflik yang berarti terkait sejarah itu sendiri, Leila menghadirkan lapisan menarik lainnya yang dapat dieksplorasi oleh pembaca, yakni penggalian emosional setiap karakter yang merupakan korban dari sebuah tragedi, melalui hubungan interpersonal yang ada dalam cerita.</p>
<p>Alfiyyah Fadiyah<br />
Hilma Aufiana</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-namaku-alam-hubungan-interpersonal-dalam-namaku-alam-asmara-bromance-dan-keluarga/">Resensi Novel &#8220;Namaku Alam&#8221;: Hubungan Interpersonal, Asmara, Bromance, dan Keluarga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/www.gramedia.com/blog/content/images/2023/08/Namaku-Alam-Mockup.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Resensi Novel &#8220;Pukul Setengah Lima&#8221;: Memaknai “Pulang” dari Sudut pandang Anak Broken Home</title>
		<link>https://jakpos.id/resensi-novel-pukul-setengah-lima-memaknai-pulang-dari-sudut-pandang-anak-broken-home/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Dec 2023 02:50:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Novel Pukul Setengah Lima]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62346</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul Buku : Pukul Setengah Lima Penulis : Rintik Sedu (Nadhifa Allya Tsana) Tebal Buku&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-pukul-setengah-lima-memaknai-pulang-dari-sudut-pandang-anak-broken-home/">Resensi Novel &#8220;Pukul Setengah Lima&#8221;: Memaknai “Pulang” dari Sudut pandang Anak Broken Home</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Judul Buku : Pukul Setengah Lima</em><br />
<em>Penulis : Rintik Sedu (Nadhifa Allya Tsana)</em><br />
<em>Tebal Buku : 208 Halaman</em><br />
<em>Tahun Terbit : 2023</em><br />
<em>Penerbit : Gramedia Pustaka Tama</em><br />
<em>Genre : Fiksi Romantis</em><br />
<em>Peresensi: Astri Ayu Lestari , Daniel Renanda</em></p>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Pulang, Sebuah kata yang merentangkan makna lebih dari sekedar perjalanan fisik. Pulang bukan hanya kembali ke suatu tempat, melainkan sebuah proses mendalam tentang mengukir kenangan. Namun tidak semua orang dapat memaknai pulang sebagai kata yang nyaman, sering kali pulang menjadi hal yang dihindari ,seperti yang dikutip Devina Annesya dalam bukunya Muara Rasa “pulang bukan selalu hal yang membahagiakan bagi setiap orang.”, hal ini yang dirasakan oleh tokoh dalam buku Pukul Setengah Lima yang ditulis Nadhifa Allya Tsana atau Rintik Sedu.</p>
<p>Nadhifa Allya Tsana atau yang biasa dikenal dengan sebutan pena Rintik Sedu adalah seorang penulis sekaligus penyiar radio. Tsana berhasil menghasilkan beberapa karya buku bahkan diadaptasi menjadi film dan series. Buku-buku yang telah diterbitkan diantaranya Geez and Ann 1 (2017), Geez and Ann 2 (2017), Buku Rahasia Geez (2018), Buku Minta Dibanting (2020), Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang? (2020), Geez and Ann 3 (2020), Kata (2020), dan Buku Minta Disayang (2021). Melihat buku buku yang selalu menempati rak best seller, tidak lengkap rasanya jika tidak membahas bukunya yang baru dilahirkannya berjudul “Pukul setengah lima”. Walaupun novel ini baru diterbitkan pada 21 september 2023 lalu, namun antusias dari pembaca sangatlah tinggi. Hal ini dibuktikan dengan angka pemesanan Pre-order yang tembus hingga 3.000.</p>
<p>Terjebak dalam kebohongan adalah seperti bermain bola salju, semakin digulingkan, semakin besar bentuknya dan semakin sulit untuk dihentikannya. Mungkin ini merupakan kalimat yang cocok untuk mendeskripsikan Alina, Tokoh utama dalam novel ini. Pukul Setengah Lima.</p>
<p>“Pukul setengah lima” Menceritakan seorang gadis bernama Alina yang sangat pandai membohongi dirinya, cuek, apatis, dan Egois. Hal ini bukan semena semena karena Alina menginginkannya, namun karena ada suatu alasan dibaliknya. Alina bahkan rela melakukan kebohongan ketika berkenalan dengan seorang laki laki yang ditemui di bus. Terlalu lama berbohong membuat Alina terjebak dalam permainan dan kepalsuan yang dibuatnya sendiri. Membaca novel ini seperti sedang melihat point of view dari anak yang menjadi korban dari “Broken Home”. Dalam novel ini, Tsana sangat cerdas. Tsana cerdas dalam memilih kata yang tepat untuk membangun atmosfir dalam cerita ini menjadi nyata dan menggambarkan kejadian sehari hari yang biasa dialami oleh anak korban broken home. Sehingga para pembaca berhasil masuk ke dalam cerita dan merasakan emosi atas semua peristiwa yang terjadi dalam novel Pukul Setengah Lima. Tidak hanya itu, kecerdasan Tsana dalam memilih kata membuat novel ini memiliki banyak kalimat indah yang membuat pembaca menjadi semakin menyukainya. Salah satu contohnya adalah “Aku tidak suka pulang, aku tidak suka harus merasa berusaha hanya untuk melangkah pulang. Sebab pulang seharusnya tidak membutuhkan usaha, hanya butuh hati riang, dan gembira. Namun ini berbeda. Tempat pulangku menyeramkan. Rumah menjadi tempat luka ibu dan aku kembali muncul. Rumahku sudah tidak aman lagi. Sudah tidak ada orang waras di dalamnya” Selain bagus, kalimat ini juga memiliki makna. Dalam kalimat ini, Tsana juga ingin membahas dan memfokuskan mengenai isu yang masih sering dialami oleh banyak anak tidak bersalah yang menjadi korban broken home. Hingga saat ini jika ditelusuri dalam kehidupan sehari hari. Sering sekali ditemukan KDRT dan broken home, bahkan menurut KemenPPPA mencapai angka 18.261 kasus. Dari adegan ini bisa disimpulkan bahwa tidak semua orang memiliki tempat untuk pulang. Seharusnya, rumah bukanlah sumber kegelisahan dan luka. Pulang seharusnya membawa sukacita dan ketenangan. Namun, realitanya berbeda.</p>
<p>Berbicara soal novel ini, kurang rasanya jika tidak membahas tentang Alur dan struktur. Tsana membangun cerita ini dengan awal yang tidak diduga. Dimulai dengan permintaan putus dari pacarnya bernama Tio, kemudian Alina menciptakan realitas baru dengan menjadikan dirinya sebagai “Marni” hingga Alina bertemu dengan orang baru bernama Danu. Selama melakukan kegiatan dengan Danu, Alina seketika akan mengingat kembali masa lalunya bersama Tio. Secara keseluruhan hampir semua isi dalam buku ini sudah baik, namun alur yang maju mundur membuat pembaca pemula tidak akan langsung mengerti dan bingung. Terlebih, Tsana tidak memberikan urutan waktu, tanda, dan banyak sekali flashback yang bisa ditemui di tiap bab-nya. Namun Tsana berhasil menutupinya dengan ending yang tidak ditebak. Alur dan Struktur ini mirip dengan buku Tsana sebelumnya yakni Kata (2020) dan juga Geez dan Ann 1 (2018) yang juga ditulis menggunakan alur maju-mundur dan dengan Struktur waktu yang tidak pasti. Hal ini menggambarkan ciri khas dari tulisan yang dibuat oleh Tsana.</p>
<p>Cerita terus berlanjut hingga sampai tiba tiba saja Danu menghilang dan tidak bertemu lagi dengan Alana di halte bus seperti biasanya, ini membuat pertanyaan besar bagi pembaca sehingga membangun rasa penasaran namun sayangnya hingga akhir Bab buku ini tidak dijelaskan mengapa Danu menghilang dan dimana keberadaannya. Setelah satu tahun kemudian keadaan keluarga Alana mulai membaik, karena sang Bapak akhir meninggalkan rumah mereka, Alana dan Ibunya juga meninggalkan rumah itu dan menjualnya, setidaknya bagi Alana tidak ada lagi kenangan buruk yang harus terus Alana ingat. di Akhir cerita Alana mengulang ceritanya menjadi “orang lain” di sebuah gerbong kereta Api. Ending Pukul setengah Lima ini bisa terbilang menggantung, karena masih terdapat banyak misteri yang belum terpecahkan, tentang bagaimana akhirnya bapaknya meninggalkan keluarganya, Danu, dan mengapa Alana terus menjalani realitas baru yang sebelumnya telah ia ketahui bahwa tidak akan berujung baik.</p>
<p>Dengan penuh keterampilan dan kepekaan, Tsana berhasil merangkai sebuah cerita yang tidak hanya rapi dan terstruktur dengan baik, tetapi juga mempersembahkan isu-isu sosial yang mendalam. Dalam bukunya, Tsana dengan gesit mengangkat permasalahan KDRT dan broken home, memberikan suara kepada yang terpinggirkan, terutama anak-anak yang seringkali tidak memiliki tempat untuk pulang. &#8220;Pukul Setengah Lima&#8221; bukan sekadar kisah perjalanan pulang, melainkan juga refleksi yang menggugah, serta sebuah buku yang mengajarkan untuk menerima diri sendiri. Melalui setiap halaman, Tsana tidak hanya mengeksplorasi keindahan perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin yang penuh makna.</p>
<p><em>Daniel Renanda, Astri Ayu Lestari</em><br />
<em>Universitas Indonesia</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-pukul-setengah-lima-memaknai-pulang-dari-sudut-pandang-anak-broken-home/">Resensi Novel &#8220;Pukul Setengah Lima&#8221;: Memaknai “Pulang” dari Sudut pandang Anak Broken Home</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/media.karousell.com/media/photos/products/2023/10/21/rintik_sendu_pukul_setengah_li_1697874957_f78fb2b9.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Resensi Novel &#8220;Perjamuan Arwah&#8221;: Makan Bersama Para Arwah</title>
		<link>https://jakpos.id/resensi-novel-perjamuan-arwah-makan-bersama-para-arwah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Dec 2023 02:38:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Novel Perjamuan Arwah]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62340</guid>

					<description><![CDATA[<p>Baihaqi Hakim Mursalin dan Kinanti Syabitha Azni Info buku Judul: Perjamuan Arwah Penulis: Wicak Hidayat&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-perjamuan-arwah-makan-bersama-para-arwah/">Resensi Novel &#8220;Perjamuan Arwah&#8221;: Makan Bersama Para Arwah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Baihaqi Hakim Mursalin dan Kinanti Syabitha Azni</strong></em></p>
<p><em>Info buku</em><br />
<em>Judul: Perjamuan Arwah</em><br />
<em>Penulis: Wicak Hidayat</em><br />
<em>Bahasa: Indonesia</em><br />
<em>Tahun terbit: 15 November 2023</em><br />
<em>Penerbit: Elex Media Komputindo</em><br />
<em>Jumlah halaman: 134</em></p>
<p>“Dunia ini cukup untuk tujuh generasi, tetapi tidaklah cukup untuk tujuh orang serakah.” —Mahatma Gandhi</p>
<p>Menelusuri toko, di antara rak-rak penuh dengan bundel-bundel berisi ribuan huruf dan terbungkus rapi dengan plastik, mencuat sebuah buku dengan warna yang cukup memikat puluhan mata pengunjung. Tergenggam oleh tangan, buku itu pun semakin menarik gairah pembaca ketika warna merah sampulnya tercetak sejumlah tentakel gurita dengan seorang gadis yang hendak melarikan diri dari kumalan sang hewan. Jemari pun mulai membalikkan buku, membaca kumpulan huruf dan kata yang ada di bagian belakang. Rangkaian itu pun mulai menarik perhatian mata; mereka berdua pun mendekat, mulai membaca…</p>
<p>Terjebak tagihan pinjol yang menumpuk, Mira mencari bantuan Jay, adiknya yang memiliki pekerjaan yang lebih stabil. Namun, sang adik tiba-tiba menghilang. Membawa Mira pada upaya pencarian yang malah membuatnya terjebak dalam ritual gelap terkait kejahatan masa lalu. Di meja perjamuan dalam ritual tersebut, setiap orang punya keinginan terpendam yang harus diwujudkan. Untuk memenuhinya, ada harga yang harus dibayar. Sanggupkah Mira menanggung konsekuensi demi bisa kembali menemukan sang adik?</p>
<p>Paragraf di atas merupakan sinopsi dari buku berjudul Perjamuan Merah karya Wicaksono Surya Hidayat, seorang penulis yang tinggal Depok, Jawa Barat. Ia mengawali karirnya dalam dunia jurnalistik pada 2003, kemudian buku pertamanya hadir pada 2005. Beberapa karyanya masuk ke dalam Lok Tong (kumpulan cerpen sayembara menulis Kementerian Negara pemuda dan Olahraga, Creative writing Institute, 2006) dan antologi Bunga Matahari (antologi puisi, Avatar ress, 2005). Pada 2021, ceritanya yang bertajuk Buku Merah telah dijadikan sebuah film pendek untuk tayang di festival film di Malaysia. Salah satu cerpennya, Merah Pedas, telah terbit di harian Kompas dan masuk dalam antologi Hujan Klise (penerbit Buku Kompas, 2018).</p>
<p>Dalam memilih “pakem” bagi novel ini, penulis menggunakan tema horor yang sering terdengar oleh masyarakat Indonesia, bahkan juga oleh anak-anak dalam pergaulan mereka, yaitu tentang hubungan budaya Jawa dengan Belanda, seperti yang termaktub dalam novel ini dengan kehadiran seorang ndoro yang bisa berbahasa Belanda. Di dalam novel juga disisipkan kata-kata pendek Belanda, tetapi kurang cukup dipahami oleh pembaca meskipun telah dijelaskan secara tersirat.</p>
<p>Penggunaan istilah ndoro juga menjadi sorotan. Istilah ini didefinisikan oleh KBBI sebagai ‘kata sapaan kepada orang bangsawan atau majikan’ atau ‘majikan’. Namun, istilah ini bisa dibilang arkais dan sudah tak lazim lagi dituturkan, meskipun dalam konteks tertentu dapat ditemui pada masyarakat Jawa, terutama di lingkungan yang masih memegang kuat nilai-nilai tradisional. Namun, penting untuk diperhatikan bahwa penggunaan sapaan ini mungkin tidak seumum dulu dan dapat mempunyai keberagaman tergantung pada wilayah, lapisan masyarakat, dan konteks budaya. Dalam novel, penulis memakai istilah ini pada salah satu tokoh antagonisnya yang menunjukkan kedudukan dan ilmu gaibnya yang tinggi dan penuh kuasa yang menentukan jalannya cerita pada novel ini.</p>
<p>Membandingkan dengan karyanya yang lain yaitu Merah Pedas, novel ini juga mengangkat unsur emosional. Jika Merah Pedas mengenai kisah kekeluargaan dan cinta, maka Perjamuan Arwah mengenai kebutuhan tak terbatas yang berlebihan akan segala hal yang diidamkan oleh para tokoh dalam perjamuan. Dalam perjamuan semua keinginan mereka dapat dikabulkan dengan syarat sepadan, tentunya dengan plot twist yang mengundang keterkejutan dari diri pembaca.</p>
<p>Kedua karya Wicak ini mengandung kisah tentang keluarga yang harmonis dan dalam novel Perjamuan Arwah diceritakan dengan alur mundur. Contohnya ketika orang tua Mira pergi untuk menghabiskan waktunya berdua. Dimana hal tersebut adalah hal yang biasa mereka lakukan. Namun sayangnya pada suatu hari kedua orang tua Mira mengalami kecelakan yang mengakibatkan mereka kehilangan nyawanya. Semua masalah Mira dan saudaranya dimulai dari sini.</p>
<p>Dalam kedua buku, perangkaian kata-kata sangat cukup terperinci, jelas, dan imajinatif sehingga pembaca akan jauh lebih mudah menilai suasana dalam cerita tersebut seolah-olah merasakan kejadian tersebut. Contohnya dalam sebuah petikan, “ketika Mira menuangkan isi poci itu ke cangkir. Cairan berwarna kuning agak jingga mengalir memenuhi cangkir. Aroma jamu yang pekat menyeruak, dibarengi aroma manis dengan sedikit pedas dan asam jawa.”</p>
<p>Dari novel perjamuan arwah ini kita mendapatkan pesan moral bahwa dalam kehidupan ini keluarga adalah harta yang paling berharga, kekayan dan keserakahan tidak akan dapat menggantikan hubungan persaudaraan dan kekeluargaan. Selain itu kita juga belajar bahwa segala sesuatu pasti ada imbalannya, yang sering kita sebut timbal balik. Jangan sampai hanya karena kepuasan duniawi kita mengorbankan hal yang paling berharga yang kita miliki.</p>
<p>Baihaqi Hakim Mursalin dan Kinanti Syabitha Azni</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-perjamuan-arwah-makan-bersama-para-arwah/">Resensi Novel &#8220;Perjamuan Arwah&#8221;: Makan Bersama Para Arwah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/elexmedia.s3.amazonaws.com/product/9786230051098.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Resensi Novel &#8220;Yellowface&#8221;: Kebohongan, Identitas, dan Konfrontasi</title>
		<link>https://jakpos.id/resensi-novel-yellowface-kebohongan-identitas-dan-konfrontasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Dec 2023 02:24:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Novel Yellowface]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62333</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul : Yellowface Penulis : Rebecca F. Kuang Tahun Terbit : 2023 ISBN : 978-602-06-7280-9&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-yellowface-kebohongan-identitas-dan-konfrontasi/">Resensi Novel &#8220;Yellowface&#8221;: Kebohongan, Identitas, dan Konfrontasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Judul : Yellowface</strong></em><br />
<em><strong>Penulis : Rebecca F. Kuang</strong></em><br />
<em><strong>Tahun Terbit : 2023</strong></em><br />
<em><strong>ISBN : 978-602-06-7280-9</strong></em><br />
<em><strong>Jumlah Halaman : 336 halaman</strong></em><br />
<em><strong>Alih Bahasa : Poppy D. Chusfani</strong></em><br />
<em><strong>Penerbit : Gramedia Pustaka Utama</strong></em></p>
<p>Dalam kisah penuh intrik, June Hayward memiliki pertemanan tak biasa dengan Athena Liu. Seharusnya mereka bisa menjadi penulis muda dengan berbagai kesamaan dalam hal pencapaian, seperti berkuliah di Yale dan melakukan debut di tahun yang sama dalam dunia penerbitan. Namun, Athena menjadi sosok yang digemari dalam berbagai genre sastra, sementara June harus mengalami kekecewaan karena buku pertamanya gagal total. June berpikir bahwa cerita tentang gadis-gadis kulit putih biasa tidak diminati oleh siapa pun.</p>
<p>Di sebuah malam, saat mereka sedang berada di apartemen Athena, June menyaksikan tewasnya Athena karena sebuah insiden di hadapannya. Kemudian ia bertindak secara impulsif, di mana ia mencuri sebuah draf mahakarya Athena yang belum selesai. Sebuah novel eksperimental mengenai kontribusi yang tidak diakui dari buruh Tionghoa terhadap upaya perang Inggris dan Prancis selama Perang Dunia I. June melanjutkan dan mengirimkan draf tersebut kepada Brett, agennya. Namun, ia mengakuinya sebagai karya murni ciptaannya sendiri. Ia menerbitkan sebuah novel dengan identitas barunya sebagai Juniper Song, lengkap dengan foto penulis yang bertentangan dengan etnis aslinya sebagai wanita berkulit putih. June menegaskan kepada publik bahwa aspek sejarah yang terdapat dalam bukunya layak untuk diceritakan, bahkan oleh siapapun yang menceritakannya.</p>
<p>Buku dengan judul “The Last Front” ini berhasil masuk ke dalam jajaran buku terlaris versi Goodreads dan The New York Times. Keberhasilan novel baru June ini terancam ketika tuduhan plagiarisme karena penulisannya menyerupai karya-karya Athena. Gaya penulisan dalam buku tersebut memang sudah sangat melekat pada diri Athena. June pada dasarnya tidak bisa lepas dari bayang-bayang Athena, dan bukti yang muncul satu per satu untuk mengancam dan menjatuhkan kesuksesan June. Puncaknya, Athena datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya melalui akun Twitter @HantuAthenaLiu dan akun Instagram pribadinya yang kembali aktif dengan unggahan terbaru yang mengintimidasinya.</p>
<p>Seringkali June berpikir logis bahwa kondisi stres atau ketakutan dirinya memberi pengaruh pada persepsi dirinya yang berhalusinasi akan hantu Athena. Namun, cepat atau lambat, kebenaran akan segera terungkap. Ia terus berpacu dengan waktu dan keadaan untuk melindungi rahasianya. Karya terbarunya yang berjudul “Mother Witch” juga diserang oleh publik secara habis-habisan karena diketahui mengambil penggalan paragraf pada karya pertama Athena saat masih berkuliah di Yale. Pada dasarnya hal ini kembali kepada diri June sendiri, yakni bagaimana cara ia mampu menyikapi dan bangkit dari hal tersebut?</p>
<p>Dengan perspektif June selaku orang pertama yang mengalir sepanjang cerita, maka segala sesuatu yang kita kenali tentang Athena dan penerbitan secara keseluruhan disaring melalui pemahaman June. Ini menjadi sebuah pendekatan yang menarik, terutama jika dilihat dari sisi penulis “Yellowface”, yaitu R. F. Kuang, yang merupakan seorang wanita Amerika keturunan Tionghoa yang menulis dari perspektif seorang wanita berkulit putih. Lebih lanjut lagi di dalam cerita, pertukaran budaya kembali terjadi ketika June, sang wanita berkulit putih, justru menerbitkan sebuah buku yang mengambil tema dari sejarah buruh Tionghoa pada masa Perang Dunia I, meskipun tentu saja ide tersebut merupakan hasil curian dari Athena.</p>
<p>Hal ini merupakan sebuah representasi “Yellowface” atau “Si Wajah Kuning” dalam bahasa Indonesia, karena June seringkali secara sengaja menampilkan dirinya sebagai wanita berkulit kuning, sebuah representasi warna kulit orang Asia. June juga marah apabila orang lain menganggapnya memutarbalikkan rasisme dan melihat dirinya sebagai korban karena menanggung beban hak istimewa karena ditinggal oleh Athena. Bentuk representasi ini juga bisa dianggap sebagai rasisme karena menggunakan nama dari suatu etnis untuk keuntungan dan kepentingan orang yang memiliki etnis yang berbeda. Sampai sekarang, rasisme masih menjadi sikap yang terjadi di manapun di dunia walaupun dianggap sebagai sebuah hal yang tabu. Meskipun begitu, R. F. Kuang berhasil menuliskan isu tersebut di dalam novel ini secara tersirat namun bisa meningkatkan kesadaran akan rasisme yang seringkali diterima oleh orang Asia Amerika.</p>
<p>Sepanjang cerita, tentu saja para pembaca masuk ke dalam pemikiran June, di mana hal ini bisa menjadi hal yang unik. Pembaca dapat menilai seberapa jauh ia membenarkan tindakan “gila” nya yang mengerikan dan tidak etis sebagai seorang penulis. Seringkali ia melakukan tindakan ini ketika sedang berinteraksi dengan komunitas Tionghoa Amerika, terutama ketika ia berada di sebuah klub buku kecil untuk orang tua. Pada saat itu ia bahkan berpikir akan muntah saat menyantap hidangan Tionghoa yang umum disajikan. Pada akhirnya buku ini mengungkap siklus pelecehan budaya yang terjadi, serta persaingan. Buku ini cenderung lebih termasuk pada genre satir apabila dibandingkan dengan genre horor meskipun penulis sebenarnya berhasil menciptakan atmosfer yang menyeramkan dengan menghadirkan elemen misteri yang menyelubungi keseluruhan cerita. Namun, sorotan dalam cerita lebih berfokus kepada beragam isu berlapis-lapis selain rasisme yang digambarkan dalam novel ini, yang membuatnya sangat atraktif untuk dibaca.</p>
<p>Dalam penokohan, penggambaran sifat dari June yang tercela dijelaskan secara tersirat namun pembaca dapat dengan mudah mengetahuinya. Sikap licik dan keinginan untuk terkenal secara instan membuat June mencari dan melegalkan segala cara untuk mencapai kesuksesan. Pada dasarnya setiap tokoh mencari keuntungan dari satu sama lain. Selain June, sifat dari Geoff, mantan kekasih Athena, yang menjadi salah satu karakter penting dalam cerita ini, dituliskan secara tersirat namun juga sangat mudah untuk “dibenci” oleh para pembaca. Sama seperti June, Geoff juga dituliskan sebagai orang yang akan melakukan segala cara demi mendapatkan keuntungan walaupun cara yang dilakukan sangat amat tidak etis karena tidak menghormati Athena yang sudah meninggal. Ia memeras June dengan mengatasnamakan Athena guna mencari keuntungannya sendiri. Bahkan hal ini juga terlihat ketika Athena, yang dipandang sebagai sosok yang lugu, jauh sebelum para pembaca mengetahui fakta bahwa ia pernah mencuri ide cerita dari June ketika mereka mereka masih berkuliah di Yale.</p>
<p>Isu hubungan dengan teman dan keluarga juga cukup dimunculkan dalam cerita ini. June haus akan kontak antar manusia, pelukan, percakapan jujur ​​tentang hal-hal yang penting, tawa dan kekonyolan. Tetapi itu semua hanya menjadi angan-angan June. Ayahnya diketahui sudah meninggal dalam cerita dan novel pertamanya menceritakan tentang kesedihan akan kematian ayahnya. Ibunya adalah seorang wanita praktis yang setelah ditinggal oleh suaminya, melakukan berbagai pekerjaan yang memungkinkannya memiliki tabungan yang cukup untuk menyekolahkan kedua putrinya hingga perguruan tinggi. Ia sekarang tinggal dengan nyaman di rumahnya sendiri. Nasib June cukup malang. Ibu dengan latar belakang pekerja keras tentu saja tidak mampu memahaminya, bahkan ia bersikeras menyarankan June untuk berhenti sebagai penulis dan memulai pekerjaan baru yang keuangannya lebih stabil. Hubungannya dengan adiknya hanya biasa-biasa saja. Tidak ada minat mencari cinta atau teman baru. Hidupnya bersifat satu dimensi, mengejar ketenaran sastra. Tidak ada nasib yang lebih buruk daripada diusir dari dunia penerbitan.</p>
<p>Kuang sebagai seseorang yang ahli di bidangnya juga membeberkan semua representasi tentang bagaimana media sosial seperti Twitter bisa tampak seperti dunia bagi para penulis, yang kemungkinan besar cukup terisolasi dalam dunia menulis mereka sendiri. Beragam komentar negatif yang ditulis oleh para pengguna Twitter di dalam buku ini seringkali mempengaruhi kesehatan mental sang penulis, meskipun mereka hanyalah sebagian kecil dari jumlah pembaca, dan biasanya tidak terlalu berdampak terhadap penjualan buku. Penulis seperti June ingin merasa dipuja, penting, berharga, dan diinginkan, dan ia berharap untuk memiliki para pengikut yang senantiasa menunggu dengan cemas untuk postingan media sosial berikutnya.</p>
<p>Gaya bahasa Kuang dalam buku ini dapat dismpaikan sebagai elegan dan terperinci. Ia pandai dalam memilih kata-kata dengan cermat dan menciptakan kalimat-kalimat yang terstruktur dengan baik. Kuang cenderung mengungkapkan pemikirannya dengan penuh pertimbangan, memperlihatkan kedalaman pemikiran dan kejernihan dalam menyampaikan gagasannya. Ia juga seringkali menggunakan kata-kata yang lebih mendalam dan menyelidiki konsep-konsep yang lebih kompleks, menciptakan lapisan dalam dialog dan narasinya. Setiap tokoh bisa mencerminkan kepribadiannya masing-masing, karena seringkali Kuang memberikan kontras dengan gaya bahasa karakter lain dalam cerita. Hal ini membantu para pembaca untuk mengenal setiap karakter sebagai individu yang berbeda dengan keunikan dan kekhasannya sendiri.</p>
<p>Meskipun begitu, sangat disayangkan bahwa buku ini memiliki beberapa kekurangan. Tidak sedikit masalah dari June dapat diatasi dengan mudah dan beberapa karakter mengalami perubahan sifat total yang cenderung dipaksakan. Pemaksaan ini dilakukan agar narasi yang ingin dibawa tetap bisa dilanjutkan, walaupun pada akhirnya mengorbankan kontinuitas dari sifat beberapa karakter. Fase klimaks yang terjadi menjelang akhir cerita juga membuat pembaca merasa sedikit kecewa karena alur ceritanya yang maju dan mundur ini kurang memuaskan dan sering berlompatan, meskipun pembaca masih cukup untuk mengerti dengan jalannya cerita.</p>
<p>“Yellowface” mengangkat permasalahan yang berat dan tabu tentang keberagaman dan rasisme budaya. Bukan hanya dalam industri penerbitan, tetapi juga mengenai suara dan sejarah masyarakat Asia di Amerika. Ada begitu banyak hal ditulis dalam novel yang seringkali membuat pembaca merasa tidak nyaman, tetapi juga terasa begitu nyata karena sebagian besar berdasarkan fakta. Sebagai contoh pengambilan tema dari sejarah buruh Tionghoa pada masa Perang Dunia I dapat membuka kembali luka lama keturunan para buruh tersebut. Cerita ini bukan sekadar narasi tentang kejadian-kejadian misterius, melainkan sebuah penggalian mendalam mengenai tekanan sosial, perjuangan dalam mempertahankan citra sempurna, serta konsekuensi dari rahasia yang tersembunyi.</p>
<p>Selain itu, industri penerbitan yang kompetitif antar sesama di dalam dunia nyata juga terkadang menganggap keberhasilan penjualan merupakan hal yang utama. Karena pada dasarnya industri bukanlah tentang kreativitas, tetapi tentang apa yang memiliki potensi penjualan yang tinggi di kalangan masyarakat guna menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Kuang ingin membocorkan seperti apa penerbitan bagi mereka yang berada di luar dunianya. Akhir kata, buku ini memberikan nuansa yang cukup relevan dengan masa kini, kritis, sangat cocok dan mudah untuk dipahami oleh pembaca usia dewasa tanpa perlu memahami seluk beluk dunia penerbitan sebelumnya.</p>
<p><em>Gabriel Perigrinus Satrio dan Reiner Ayrton Joseph<br />
Mahasiswa Universitas Indonesia semester 5 jurusan Sastra Belanda</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-yellowface-kebohongan-identitas-dan-konfrontasi/">Resensi Novel &#8220;Yellowface&#8221;: Kebohongan, Identitas, dan Konfrontasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/cdn1-production-images-kly.akamaized.net/kodzJWKJmf0jXSzzr6hvW7TuZ4s=/839x0:3273x2434/1200x900/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4681160/original/068047100_1702256084-novel.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Resensi Novel “Dompet Ayah Sepatu Ibu”: Perjalanan Panjang Keluar dari Kemiskinan</title>
		<link>https://jakpos.id/resensi-novel-dompet-ayah-sepatu-ibu-perjalanan-panjang-keluar-dari-kemiskinan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Dec 2023 02:15:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Dompet Ayah Sepatu Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62330</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul : Dompet Ayah Sepatu Ibu Penulis : J.S Khairen Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-dompet-ayah-sepatu-ibu-perjalanan-panjang-keluar-dari-kemiskinan/">Resensi Novel “Dompet Ayah Sepatu Ibu”: Perjalanan Panjang Keluar dari Kemiskinan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Judul : Dompet Ayah Sepatu Ibu</em><br />
<em>Penulis : J.S Khairen</em><br />
<em>Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia</em><br />
<em>Tahun Terbit : 17 Juli 2023</em><br />
<em>Kota Terbit : Jakarta</em><br />
<em>Jumlah Halaman : 216 Halaman</em><br />
<em>ISBN : 9786020530222</em></p>
<blockquote>
<h3><em>Kemiskinan telah merenggut dunia dari mereka.</em><br />
<em>Kemiskinan membuat bermimpi pun harus tahu diri.</em></h3>
</blockquote>
<p>Kutipan di atas berasal dari karya terbaru J.S. Khairen, &#8220;Dompet Ayah Sepatu Ibu&#8221;. Dalam novel ini, pembaca akan diajak untuk menyaksikan perjalanan hidup yang dipenuhi dengan tantangan akibat kemiskinan. Kisah yang diangkat dalam novel ini tak lain adalah cerminan dari pengalaman hidup pribadi sang penulis.</p>
<p>J.S. Khairen merupakan seorang penulis kelahiran Padang, yang namanya semakin berkembang seiring dengan kesuksesan karyanya. Penulis yang telah menghasilkan sejumlah buku fiksi dan non-fiksi ini memiliki sejumlah karya yang tidak hanya menarik perhatian pembaca, tetapi juga berhasil menembus sebagai best seller di toko buku offline maupun online.</p>
<p>Diantara karya-karya populer dari J.S. Khairen adalah &#8220;Melangkah&#8221; (2020), &#8220;Kado Terbaik&#8221; (2022), dan &#8220;Bungkam Suara&#8221; (2023). Sejak tahun 2013 hingga saat ini, J.S Khairen telah menerbitkan 20 buku. Novel terbarunya, yang dirilis pada tanggal 17 Juli 2023, berjudul &#8220;Dompet Ayah Sepatu Ibu&#8221; dan membahas tema yang menggambarkan realitas perjuangan hidup dalam lingkup keluarga.</p>
<p>Dalam novel &#8220;Dompet Ayah Sepatu Ibu,&#8221; disampaikan kisah dua individu yang menghadapi kesulitan dalam hidup mereka. Cerita ini memfokuskan pada dua karakter utama, Zenna dan Asrul. Zenna, seorang anak keenam dari sebelas bersaudara, tinggal bersama keluarganya di lereng gunung Singgalang. Sejak masa kecil, Zenna telah terbiasa bekerja keras untuk mencari nafkah. Setiap hari, dia menempuh perjalanan naik-turun gunung ke sekolah dengan sepatu yang sudah usang, sambil membawa jagung rebus untuk dijual.</p>
<p>Di sisi lain, di punggung gunung Marapi, Asrul bersama adiknya, Irsal, dan ibunya, Umi, harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ayah mereka menikah lagi dan tinggal bersama istri keduanya. Asrul juga berasal dari latar belakang yang sulit, selalu mengintip dompetnya setiap kali menerima uang dari ayahnya. Meskipun mereka kadang-kadang mendapat uang dari ayah mereka, keuangan keluarga mereka tetap sulit.</p>
<p>Takdir mempertemukan Zenna dan Asrul di kampus. Hubungan mereka semakin kuat dan Koran Harian Semangat menjadi saksi kisah hidup mereka. Meski kehidupan mereka semakin membaik dan akhirnya mereka menikah, tantangan terus berdatangan.</p>
<p>Struktur novel ini terdiri dari 27 bab, setiap bab merupakan cerita pendek yang saling berkaitan. Walaupun pada awalnya terasa agak membingungkan dengan narasi yang saling bergantian mengisahkan Zenna dan Asrul, namun hal ini menjadi jelas bagi pembaca setelah membaca beberapa saat. Penulis dapat membuat pembaca menyatu dengan cerita dan mendalami setiap nuansa emosional yang disajikan.</p>
<p>Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. Melalui alur ini pembaca diajak untuk melihat bagaimana perjalanan hidup Zenna dan Asrul, mulai dari masa-masa mereka lulus SMA hingga ke tahap pernikahan dan kemudian berkeluarga. Penggunaan sudut pandang orang ketiga oleh penulis menempatkan pembaca dalam peran sebagai pengamat yang mengamati cerita dan mengikuti setiap cobaan dan kebahagiaan para karakter. Bahasa yang digunakan juga merupakan percakapan sehari-hari sehingga mempermudah pemahaman pembaca terhadap jalan cerita. Ada juga dialog-dialog yang menggunakan campuran bahasa Minang untuk mendekatkan pembaca pada latar belakang budaya Sumatera Barat yang menjadi latar tempat cerita dalam novel ini.</p>
<p>Namun, meski Khairen mampu menggambarkan alur perjalanan hidupnya sedetail mungkin, pembaca merasakan bahwa alur ini sedikit “terburu-buru” ketika memasuki penghujung bab 25 hingga epilog. Jalan cerita nya juga cukup klise dan mudah ditebak, seperti kisah perjalanan orang yang awalnya tidak mampu menjadi berkecukupan pada umumnya.</p>
<p>Untuk gaya bahasa yang digunakan oleh penulis, Khairen sering kali menggunakan metafora untuk menjelaskan suasana hati atau perasaan yang tengah dialami oleh tokoh utama dalam cerita. Misalnya “Ia paksa hatinya sesejuk Telaga Dewi di puncak Gunung Singgalang” dimana penulis menggunakan metafora ini untuk mengilustrasikan karakter tokoh utama yang berusaha tangguh di tengah cobaan.</p>
<p>Tak sampai di situ, contoh metafora lain yang digunakan oleh penulis misalnya “Saat itu juga, tangisnya lepas. Raungnya mengalahkan riung hutan bambu.” Perumpamaan ini menyiratkan tangisan seseorang yang sangat kuat bahkan melebihi suara riung hutan bambu. Hal ini menggambarkan emosi yang sangat besar dan mendalam.</p>
<p>Selain itu, terdapat perumpamaan “Air bah sudah menyusut, pindah ke kelopak mata Asrul.” dan “Ia pejamkan matanya sambil menangis merarau.” Perumpamaan ini menggambarkan seseorang yang menangis sambil menutup mata dengan suara yang memekik keras. Hal ini memberikan gambaran betapa sedihnya penderitaan yang dialami tokoh tersebut. Tampaknya kalimat perumpamaan memang merupakan ciri khas penulisan J.S. Khairen dalam novelnya. Suasana hati yang dialami oleh karakter diilustrasikan dengan detail, tak sebatas ditulis dengan adjective singkat seperti “sedih”, “bahagia”, “murung” saja. Selain ciri khas, penggunaan metafora ini berhasil memperlihatkan kemahiran J.S Khairen sebagai sastrawan untuk mengatasi keterbatasan leksikon atau ungkapan. Namun, tentu saja tak semua pembaca nantinya akan langsung menangkap makna dibalik metafora yang sering digunakan oleh penulis. Bisa saja beberapa metafora tersebut diartikan secara bias oleh pembaca.</p>
<p>Meski demikian, perlu diingat kembali bahwa penggunaan metafora ini memang ciri khas penulisan Khairen. Sebagai contoh lain, ia pun juga menggunakan gaya kepenulisan ini pada cerpen Catatan Harian Matahari Sebelum Kiamat, yakni pada kalimat “Tubuh mereka panjang-panjang seperti plasma api. Melihatku mendekat, mereka menggeliat. Memberikan tarian selamat datang ibu.” melalui platform Medium.</p>
<p>Selain itu, J.S. Khairen menggambarkan karakter dengan cukup detail melalui keseharian dan kerja keras yang dituai baik oleh Zenna dan Asrul. Karakter Zenna yang merupakan anak tengah di keluarganya mau tak mau harus menghidupi saudara-saudaranya yang masih kecil. Meski demikian, usahanya untuk membanggakan dan menghidupi keluarganya pun tak pernah padam. Khairen menggambarkan sosok Zenna sebagai sosok pekerja keras dan mau belajar pada bab sembilan “Tekad yang Keras”. Penulis juga menggambarkan situasi dimana peran perempuan diragukan untuk melakukan pekerjaan berat. Pada bab sembilan, Zenna bertekad untuk menjadi kuli pengrajin emas guna menghidupi adik-adiknya, sama seperti mendiang ayahnya dulu.</p>
<p>Pemilik toko emas tampak tak yakin. “Tangan Abakmu tangan kasar, tak cocok untuk perempuan” “Biarlah. Aku bisa.” Suaranya masih susah keluar. “Yang penting adik-adikku bisa sekolah.”</p>
<p>Melalui dialog ini, penulis menggarisbawahi karakter Zenna yang keras kepala dan begitu berprinsip guna mensejahterakan kehidupan adik-adiknya. Toh, usahanya ini berbuah besar sebab ketika adik-adiknya sudah tumbuh dewasa dan selesai kuliah, semuanya hidup sejahtera berkat tekad kuat Zenna sejak ia masih remaja. Sementara Asrul, sifatnya yang jahil dan cenderung nekat justru membawanya ke pengalaman-pengalaman hidup yang tak terduga. Misalnya, ketika ia berniat melamar di suatu kantor redaksi Harian Semangat hanya dengan mengandalkan surat-surat cinta lambat laun memperlihatkan kelihaiannya dalam menulis hingga menjadi wartawan terbaik se Indonesia seiring ia beranjak dewasa. Kedua tokoh ini sama-sama memiliki prinsip dan moral yang baik, yakni memuliakan ibu dan mensejahterakan keluarganya.</p>
<p>Dibalik sifat-sifat baik tokoh utama itu, ketika dihadapkan oleh pilihan untuk menikah, keduanya sama sekali tak berpikir kritis. Di Indonesia, pepatah bahwa “menikah membuka pintu rezeki” melekat di pikiran sebagian besar masyarakat Indonesia. Pepatah yang ditelan mentah-mentah oleh Asrul dan Zenna ini memberi gambaran lain bahwa kedua tokoh tersebut tidak berpikir panjang sebelum mulai berumah tangga. Secara finansial, mereka pun belum siap padahal menikah membutuhkan persiapan yang matang secara mental dan finansial supaya tidak berimbas ke anak-anak serta generasi selanjutnya.</p>
<p>Novel &#8220;Dompet Ayah Sepatu Ibu&#8221; juga menyajikan cerita yang sangat dekat dengan realitas masyarakat Indonesia. Dalam narasinya, novel ini menggambarkan situasi saat keluarga yang hidup dalam kemiskinan seringkali memilih untuk menikahkan anaknya dengan keluarga yang lebih berkecukupan. Dalam cerita ini, penulis memberikan potret kehidupan yang penuh dengan dinamika sosial, seringkali pertimbangan ekonomi menjadi faktor penentu utama dalam pengambilan keputusan tentang pernikahan. Penceritaan tentang tokoh utama, khususnya Zenna, memberikan sudut pandang mendalam tentang kenyataan pahit yang sering dihadapi oleh perempuan pada masyarakat kurang mampu.</p>
<p>Secara keseluruhan, novel ini mampu membawa pembaca melewati dinamika kehidupan yang penuh lika-liku dan membangun sebuah kisah yang inspiratif. Bagaimana privilege digambarkan, yang mungkin awalnya tidak ada, dapat diwujudkan melalui perjalanan hidup yang penuh perjuangan. Kisah ini memberi pesan mendalam kepada pembaca bahwa keluar dari lingkaran kemiskinan struktural bukanlah hal yang mustahil, melainkan suatu perjalanan yang membutuhkan langkah nyata dan keberanian untuk mengubah nasib.</p>
<p>Di benak pembaca, kini tertanam perspektif bahwa “dompet ayah” dan “sepatu ibu” bukan lagi sekadar dompet dan sepatu biasa, melainkan saksi perjalanan kehidupan kedua tokoh utama, Zenna dan Asrul, untuk keluar dari kemiskinan.</p>
<p><em>Resensi ditulis oleh Anggun Lia Rifani dan Sarah Khansa Alexandra</em><br />
<em>Mahasiswi Program Studi Belanda Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-dompet-ayah-sepatu-ibu-perjalanan-panjang-keluar-dari-kemiskinan/">Resensi Novel “Dompet Ayah Sepatu Ibu”: Perjalanan Panjang Keluar dari Kemiskinan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/images-na.ssl-images-amazon.com/images/S/compressed.photo.goodreads.com/books/1692266010i/197081629.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Resensi Buku Gadis Kretek, Romansa Seorang Gadis dan Jejak Kretek</title>
		<link>https://jakpos.id/resensi-buku-gadis-kretek-romansa-seorang-gadis-dan-jejak-kretek/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Dec 2023 04:28:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Gadis Kretek]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62322</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul : Gadis Kretek Penulis : Ratih Kumala Genre : Novel Sejarah Tahun Terbit :&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-buku-gadis-kretek-romansa-seorang-gadis-dan-jejak-kretek/">Resensi Buku Gadis Kretek, Romansa Seorang Gadis dan Jejak Kretek</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Judul : Gadis Kretek</em><br />
<em>Penulis : Ratih Kumala</em><br />
<em>Genre : Novel Sejarah</em><br />
<em>Tahun Terbit : 2023 (cetakan kedelapan)</em><br />
<em>Penerbit : Gramedia Pustaka Utama</em><br />
<em>Halaman : 274</em><br />
<em>Bahasa : Indonesia</em><br />
<em>ISBN : 978-979-22-8141-5</em><br />
<em>Harga Buku : Rp 63.000, 00</em></p>
<p>Gadis Kretek merupakan novel cerita sejarah karya Ratih Kumala, buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2012. Per tahun 2023 buku ini sudah melalui cetakan yang ke delapan, per tahun ini juga buku ini mulai banyak dicari kembali oleh pembaca karena munculnya adaptasi serial sebanyak 5 episode dari buku ini dengan judul yang sama di platform streaming Netflix. Cetakan terbaru buku ini memiliki foto Jeng Yah yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo di bagian sampul.</p>
<p>Sang penulis novel, Ratih Kumala merupakan seseorang yang mengenyam pendidikan di jurusan sastra, tepatnya di Sastra Inggris di Universitas Sebelas Maret. Buku pertama Ratih Kumala yang ia tulis berjudul Tabula Rasa yang juga mendapatkan penghargaan di Sayembara Novel Dewan Kesenian di tahun yang sama saat buku ini pertama kali diterbitkan yaitu tahun 2004.</p>
<p>Dalam sejarahnya keluarga Ratih Kumala juga pernah memiliki bisnis kretek keluarga di kota Muntilan, Jawa Tengah. Dengan latar belakang keluarga tersebut lah yang menginspirasi Ratih Kumala dalam menuliskan buku Gadis Kretek. Hal ini juga merupakan hal yang menarik, karena di dalam buku tersebut hanya satu nama kota yang disamarkan yaitu Kota M, beberapa pembaca berspekulasi bahwa kota yang dimaksud merupakan kota Muntilan yang berada di Jawa Tengah.</p>
<p>Di dalam novel ini cerita dimulai dari perspektif seorang lelaki bernama Lebas yang memiliki dua orang kakak lelaki serta sang ayah yang sedang dalam keadaan sakit parah. Keluarga Lebas memiliki sebuah perusahaan keluarga yang bergerak di bidang rokok dengan nama Rokok Cap Djagad Raja. Namun seiring dengan berjalannya cerita terjadi perubahan perspektif dengan alur mundur ke tahun 1940-an, yang menceritakan tentang seorang lelaki bernama Idroes Moeria yang merupakan seorang buruh linting klobot yang menyukai seorang anak gadis dari seorang Juru Tulis, bernama Roemaisa.</p>
<p>Namun kisah percintaan Idroes Moeria dan Roemaisa tidak selalu berjalan dengan lancar. Pada awalnya, Idroes Moeria harus bersaing dengan seseorang yang ia anggap teman dekatnya yang juga menyukai Roemaisa, Soedjagad. Hingga akhirnya Idroes Moeria menikahi Roemaisa dan mulai membangun usaha klobotnya hingga menjadi terkenal di Kota M hingga ke kota-kota lain di Pulau Jawa. Idroes Moeria dan Roemaisa dikaruniai dua orang anak perempuan, Dasiyah dan Rukayah.</p>
<p>Dasiyah, putri sulung Idroes Moeria sedari kecil sudah senang membantu sang ayah melinting dengan karyawan lainnya di pabrik kretek, seiring dengan berkembangnya Dasiyah berkembang pula minat sang anak untuk melanjutkan bisnis keluarga tersebut. Dari situlah nama Jeng Yah muncul. Hingga pada suatu hari ia bertemu dengan seorang lelaki bernama Soeraja, mereka jatuh cinta namun cinta mereka tidak selalu berjalan dengan mulus dan Soeraja harus pergi meninggalkan Jeng Yah.</p>
<p>Novel ini merupakan novel dengan latar sejarah Indonesia yang cukup kental, mulai dari jalan cerita mengenai perkembangan kretek di daerah Jawa Tengah hingga peristiwa penting bangsa lainnya seperti pemberontakan PKI di Jawa. Dalam sejarahnya kretek merupakan salah satu kebutuhan lokal masyarakat akan rempah-rempah terutama di Jawa. Salah satu tokoh terkenal yang memperkenalkan campuran tembakau, cengkeh dan saus pada kretek adalah Haji Jamhari yang berasal dari Kudus, Jawa Tengah. Beliau-lah yang disebut sebagai salah satu pelopor kretek yang ada di Indonesia, hingga akhirnya berkembang menjadi salah satu industri yang menopang ekonomi nasional.</p>
<p>Misteri dimana sebenarnya Kota M masih terus berlanjut, namun berdasarkan sejarah Indonesia sendiri, hal-hal yang disebutkan di dalam novel mengenai Kota M cukup merujuk kepada Madiun, dimana Madiun merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang menjadi daerah penghasil kretek di Jawa serta keberadaan pemberontakan Partai Komunis Indonesia pada tahun 1948, beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia. Namun, hal tersebut masih terus menjadi misteri yang cukup menarik bagi para pembaca, dan membuat pembaca mencari tahu lebih dalam mengenai hal tersebut.</p>
<p>Salah satu hal yang cukup menarik lainnya adalah bagaimana Idroes Moeria mempercayakan bisnis keluarga yang ia miliki kepada Jeng Yah sepenuhnya, walaupun Jeng Yang merupakan seorang wanita, serta bagaimana warga di Kota M menerima dengan baik hal tersebut. Hal ini cukup menarik mengingat budaya patriarki yang cukup kental di lingkungan keluarga dan masyarakat Jawa, namun Jeng Yah bisa merepresentasikan bahwa wanita juga bisa dan patut menjalankan bisnis keluarga sang ayah dan mencapai keberhasilan dalam melakukannya.</p>
<p>Salah satu hal yang cukup disayangkan mengenai buku ini adalah, di awal buku, cerita lebih banyak berfokus kepada Idroes Moeria dan Roemaisa, sehingga pembaca akan mengira bahwa mereka-lah karakter utama dalam cerita ini. Namun di tengah dan di akhir buku terbukti bahwa mereka bukanlah karakter utama, melainkan Soeraja dan Jeng Yah. Hal ini berbanding terbalik isi dari serial, dimana penceritaan difokuskan pada Soeraja dan Jeng Yah sehingga penonton dapat lebih memfokuskan cerita.</p>
<p>Di tengah-tengah buku juga terdapat karakter yang seperti ‘hilang’ dari cerita yaitu, Soedjagad. Pembaca tidak diberikan informasi lebih lanjut kemana Soedjagad ‘pergi’ meskipun di awal cerita, Soedjagad merupakan karakter yang sering muncul dan berkaitan secara langsung dengan Idroes Moeria. Hal ini mungkin terjadi juga karena adanya perubahan fokus dari Idroes Moeria dan Roemaisa menuju Jeng Yah dan Soedjagad,</p>
<p>Di dalam novel ini juga banyak berisi detil-detil yang tidak ada di dalam serial. Walaupun buku ini menggunakan alur maju dan mundur, pembaca tidak akan mengalami kesulitan dalam memahami alur cerita. Mungkin pembaca akan merasa sedikit bingung di bagian awal, namun cerita dapat dibaca dan dipahami dengan mudah, serta penggambaran latar yang jelas, membantu pembaca untuk membayangkan situasi dan kondisi yang ada di dalam buku.</p>
<p>Bagi para penonton serial Netflix Gadis Kretek, buku ini akan banyak memberikan lebih banyak informasi yang cukup signifikan mengenai cerita secara keseluruhan. Karena penceritaan yang cukup detailing, pembaca dapat benar-benar memahami dan mengikuti cerita secara mendalam sehingga penonton yang juga membaca buku ini dapat lebih memahami cerita.</p>
<p><em>Karen N. Qursyah, Naveesha Mazaya Prayoga </em><br />
<em>Mahasiswa Prodi Sastra Belanda Universitas Indonesia</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-buku-gadis-kretek-romansa-seorang-gadis-dan-jejak-kretek/">Resensi Buku Gadis Kretek, Romansa Seorang Gadis dan Jejak Kretek</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/www.gramedia.com/blog/content/images/2023/11/Gadis-Kretek-Netflix.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Resensi Buku &#8220;Kucing Bernama Dickens&#8221;</title>
		<link>https://jakpos.id/resensi-buku-kucing-bernama-dickens/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Dec 2023 10:48:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[A Dickens of a Cat]]></category>
		<category><![CDATA[Callie Smith Grant]]></category>
		<category><![CDATA[Kucing Bernama Dickens]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62120</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Kucing itu mengingatkanku pada lengan Tuhan yang mengulurkan persahabatan sejati, pangkuan yang hangat, dan pemujaan yang nyata.” — Clover, Twila Bennett, h. 28</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-buku-kucing-bernama-dickens/">Resensi Buku &#8220;Kucing Bernama Dickens&#8221;</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Judul : Kucing Bernama Dickens</em><br />
<em>Penulis : Callie Smith Grant</em><br />
<em>Genre : Fiksi/Kumpulan Cerita</em></p>
<p><em>“Kucing itu mengingatkanku pada lengan Tuhan yang mengulurkan persahabatan sejati, pangkuan yang hangat, dan pemujaan yang nyata.”</em> — Clover, Twila Bennett, h. 28</p>
<p>Kucing, makhluk berwajah imut dengan kedua bola matanya yang berbinar disertai dengan tingkahnya yang terkadang berada di luar dugaan manusia. Melalui tingkahnya tersebut, kucing sebenarnya tengah mengungkapkan perasaannya atau bahkan menyampaikan pesan-Nya kepada kita, tetapi kita enggan untuk meluangkan waktu sejenak dan merenungi kehadiran makhluk menggemaskan itu di dunia ini. Banyak pula dari kita yang terkadang sampai hati menyiksa kucing tanpa sebab yang jelas. Padahal, apabila kita mengasihi dan bersahabat dengan kucing, akan hadir berbagai keajaiban dalam hidup kita.</p>
<p>Buku berjudul “Kucing Bernama Dickens” merupakan sebuah kumpulan cerita pendek mengenai kucing dan kehidupan manusia karya Callie Smith Grant. Buku tersebut diterbitkan pada 7 September 2023 oleh penerbit Baca. Buku “Kucing Bernama Dickens” terdiri dari 236 halaman dengan 24 cerita pendek di dalamnya. Buku tersebut adalah buku terjemahan yang berjudul asli “A Dickens of a Cat” dalam bahasa Inggris. Di Amerika Serikat, buku “A Dickens of a Cat” diterbitkan pada tahun 2007 oleh Baker Publishing Group di Michigan.</p>
<p>Callie Smith Grant adalah editor dari buku “A Prince among Dogs” dan “A Dickens of a Cat”. Ia juga merupakan penulis dari beberapa buku non-fiksi untuk pembaca muda dan dewasa serta banyak cerita maupun puisi yang bertemakan hewan dalam antologi Guidepost dan di majalah seperti Small Farmers Journal. Callie Smith Grant sangat menyukai berbagai jenis hewan. Ia menuliskan banyak cerita hewan yang berhasil diterbitkan dan berhasil memenangkan Medali Maxwell dari Dog Writers Association of America melalui karya “Second-Chance Dog”, “Second-Chance Cats” (memenangkan Medali Muse dari Cat Writers&#8217; Association), The Horse of My Dreams, The Horse of My Heart, The Dog Next Door, The Cat in the Window, The Dog at My Feet, dan The Cat in My Lap.</p>
<p>Setiap orang yang memiliki kucing tentunya punya kisah tersendiri dengan kucingnya. Beberapa orang memiliki pengalaman dengan keseharian hidup mereka yang selalu ditemani dengan kucing, hingga pengalaman buruk berupa ditinggal mati oleh kucing kesayangannya. Bahkan, ada yang mengalami sebuah kejadian mengagumkan seperti terselamatkan karena kehadiran seekor kucing. Inilah yang menjadi beberapa alasan mengapa penulis mengambil kucing sebagai inspirasi karyanya. Buku berjudul “Kucing Bernama Dickens” karya Callie Smith Grant merupakan gambaran dari berbagai pengalaman hidup yang dialaminya bersama seekor kucing. Salah satu yang masih lekat dalam ingatan Callie adalah ketika kucing membangunkan seorang temannya saat terjadi kebakaran di rumahnya. Hal-hal tersebutlah yang penulis rangkum dalam 24 cerita pendek yang ditulis oleh 22 kontributor. Para kontributor tersebut rata-rata merupakan pencinta hewan atau yang memiliki hewan peliharaan. Pada setiap cerita pendek dalam buku “Kucing Bernama Dickens”, kucing memainkan peran penting dalam cerita. Isi dari cerita-cerita tersebut membahas permasalahan hidup yang biasa terjadi di kehidupan manusia dan kemudian kucing datang sebagai ‘solusi’ dari permasalahan itu.</p>
<p>Ketika seseorang dilanda masalah atau mengalami suatu penyakit keras, maka ia akan merasa cemas dan beranggapan bahwa ia tidak akan memiliki masa depan. Alih-alih masalah diselesaikan atau berjuang melawan penyakit yang diderita, rasa takut dan rasa cemas hanya akan membuat kondisi seseorang semakin memburuk. Memang demikianlah yang berlangsung di sekitar kita, termasuk yang dialami oleh Gwen Ellis dalam cerita pendek “Kucing Bernama Dickens”. Cerita pendek tersebut sangat lekat dengan reaksi kita apabila kita tengah putus asa, hingga terkadang kita tidak menyadari bahwa kebahagiaan dari dalam diri sendiri merupakan ‘solusi’ dari masalah atau ‘obat’ dari penyakit itu sendiri. Hal serupa lainnya, ketika seorang anak mendapat hukuman di sekolahnya akibat kenakalan yang diperbuatnya, orang tua dari anak tersebut pasti akan marah atau bahkan tidak mengharapkan anak itu lagi dalam hidupnya. Cerita pendek “Kucing yang Menyelamatkan Seorang Bocah” oleh Linda S. Clare benar-benar menggambarkan perasaan orang tua terhadap sikap anaknya yang nakal dan merasa tidak tahan lagi untuk mengurus anaknya itu. Selain itu, cerita pendek tersebut juga sangat berkaitan erat dengan ketidaktahuan orang tua atas sikap anaknya, yang mungkin saja positif dan berguna bagi orang lain.</p>
<p>Cerita pendek “Keajaiban-Keajaiban Kecil” oleh Lonnie Hull DuPont dapat dijadikan suatu asupan rohani bagi pembacanya. Cerita pendek tersebut mengajarkan bagaimana seharusnya kita mensyukuri hal-hal kecil yang kita punya dalam kehidupan ini dan menyadari bahwa Sang Pencipta selalu menjaga kita. Dengan tokoh “Aku” yang mengenang kembali ibunya yang telah meninggal serta menyadari adanya kehidupan berikutnya setelah kehidupan ini, cerita pendek “Keajaiban-Keajaiban Kecil” patut dinobatkan sebagai cerita paling religius dalam buku ini. Gelar tersebut juga berlaku untuk cerita pendek “Kucing Pemakan Segala” oleh Tracie Peterson, di mana tokoh “Aku” dan anaknya selalu melibatkan Tuhan dalam segala hal yang tengah dihadapinya. Percakapan yang dilakukan oleh keduanya tidak pernah luput dari menyebut kata “Tuhan”.</p>
<p>Pada cerita pendek “Sang Pendamai”, Callie Smith Grant sebagai penulis secara tidak langsung melukiskan apa yang ia rasakan ketika ia melihat kucing yang tersesat dan ingin sekali merawatnya. Callie mengungkapkan sifatnya yang iba dan tidak tega terhadap kucing tersebut walaupun ia dan suaminya harus mempertimbangkan hal itu dengan matang. Callie juga secara tidak langsung menggambarkan karakternya dan suaminya yang tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Hal yang sama terlihat pula pada cerita pendek “Kucing Ibuku” oleh Renie Burghardt. Dalam setiap kalimat yang ditulis dalam cerita tersebut, Renie berusaha mengekspresikan rasa rindunya kepada ibunya yang telah meninggal dan hanya mewariskan seekor kucing kepadanya. Renie juga menjelaskan perasaannya bahwa ia begitu menyayangi kucing warisan ibunya tersebut.</p>
<p>Pada cerita pendek “Keajaiban-Keajaiban Kecil” oleh Lonnie Hull DuPont terdapat adegan sedih yang akan membuat kita meneteskan air mata. Ini terjadi ketika sang dokter hewan hendak menawarkan kepada tokoh “Aku” dan suaminya untuk menyuntik mati kucingnya yang diduga menderita FIP (feline infectious perintonitis) alias radang selaput rongga perut yang ganas serta menular karena kucing itu tidak akan hidup lama. Kabar buruk tentang kematian hewan menggemaskan tersebut serta tokoh “Aku” dan suaminya yang lebih memilih untuk merawat kucing malang itu hingga kematiannya tiba menjadi puncak kesedihan yang dirasakan ketika membaca cerita pendek “Keajaiban-Keajaiban Kecil”. Kesedihan luar biasa juga dapat ditemukan pada cerita pendek “Frankie, si Kucing Penjaga” oleh Alyce McSwain. Cerita tersebut mampu menyentuh hati kecil kita dengan karakter Frankie si kucing yang begitu setia kepada tokoh Robert dan Frankie berusaha menyampaikan bahwa ia ingin berpamitan kepada Robert karena perpisahan antara mereka telah tiba untuk selamanya. Tidak hanya itu, cerita pendek “Frankie, si Kucing Penjaga” dibawakan dalam kalimat-kalimat yang indah dan puitis.</p>
<p>Ketika membaca buku, kita berharap bahwa kita mendapatkan sesuatu yang baru dari buku tersebut. Buku berjudul “Kucing Bernama Dickens” patut mendapatkan apresiasi atas isi ceritanya yang mengandung wawasan baru, misalnya pada cerita pendek “Konser Terakhir” oleh Terri Castillo-Chapin. Cerita pendek tersebut mengenalkan tokoh Yuri Kuklachev dari Teater Moskow Rusia yang bepergian ke seluruh dunia dengan dua puluh ekor kucing rumahan. Begitu juga pada cerita pendek “Kucing Ibuku” oleh Renie Burghardt yang kaya akan peristiwa sejarah Perang Dunia II dan dampak perang yang dirasakan tokoh “Aku”.</p>
<p>Buku ini tidak banyak memberikan ilustrasi di dalamnya dan hanya dipenuhi oleh narasi-narasi, sehingga pembaca yang tidak terbiasa mungkin akan merasa bosan dengan alur ceritanya. Di samping tidak adanya ilustrasi, buku ini juga tidak berwarna, sehingga pembaca yang tidak terbiasa mungkin akan merasa bosan dengan alur ceritanya. Namun, secara keseluruhan, setiap cerita pendek dalam buku tersebut dituliskan dengan bahasa yang mampu menarik hati kita dan membawa kita mengikuti perjalanan dalam cerita. Selain itu, diselipkan beragam kutipan indah, informasi singkat atau fakta unik, dan peribahasa mengenai kucing. Bagi penggemar binatang dan hewan peliharaan, khususnya kucing, sudah siapkah untuk membaca buku “Kucing Bernama Dickens”?</p>
<p>NASTITI SWASIWI N.<br />
RIFAT<br />
Mahasiswa Sastra Belanda Universitas Indonesia</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-buku-kucing-bernama-dickens/">Resensi Buku &#8220;Kucing Bernama Dickens&#8221;</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/images.tokopedia.net/img/cache/700/VqbcmM/2023/10/20/cb9bd2bd-6f0a-4a97-ada8-3a1fd00915bf.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
