<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Resensi Novel Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/resensi-novel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/resensi-novel/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Mon, 25 Dec 2023 04:32:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Resensi Novel Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/resensi-novel/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Resensi Novel  &#8216;Malam Seribu Jahanam&#8217;: Jaga yang Hidup, Antar yang Mati</title>
		<link>https://jakpos.id/resensi-novel-malam-seribu-jahanam-jaga-yang-hidup-antar-yang-mati/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Dec 2023 04:32:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Intan Paramadhita]]></category>
		<category><![CDATA[Malam Seribu Jahanam]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62412</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul : Malam Seribu Jahanam Penulis : Intan Paramadhita Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-malam-seribu-jahanam-jaga-yang-hidup-antar-yang-mati/">Resensi Novel  &#8216;Malam Seribu Jahanam&#8217;: Jaga yang Hidup, Antar yang Mati</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Judul : Malam Seribu Jahanam</em><br />
<em>Penulis : Intan Paramadhita</em><br />
<em>Penerbit : Gramedia Pustaka Utama</em><br />
<em>Tahun : Juni, 2023</em><br />
<em>Tebal : 355 halaman</em><br />
<em>ISBN : 978-602-06-7144-4</em></p>
<p><strong><a href="https://www.depokpos.com/">DEPOKPOS</a> </strong>&#8211; Mimpi buruk tidak selalu datang dari pihak eksternal, internal keluarga juga bisa ikut andil dari hancurnya mimpi yang telah kita rajut selama ini. Perbedaan latar belakang pengetahuan, prinsip ideologi dan kepercayaan terhadap suatu dapat berujung pada ‘Pengkhianatan’. Intan Paramaditha, seorang penulis sekaligus akademisi Indonesia, Beliau seringkali menulis karya sastra yang berkaitan dengan isu gender, seksualitas, budaya, hingga politik. Karya-karyanya kerap kali mendapatkan penghargaan baik di kancah nasional maupun internasional, diantaranya: Novelnya yang berjudul The Wandering (Harvill Secker/ Penguin Random House UK) yang diterjemahkan dari bahasa Indonesia oleh Stephen J. Epstein, masuk nominasi Stella Prize di Australia dan mendapat penghargaan Tempo Best Literary Fiction in Indonesia, English PEN Translates Award, dan PEN / Hibah Dana Terjemahan Heim dari PEN Amerika. Selain itu esainya, “Tentang Pertanyaan Rumit Seputar Penulisan Tentang Perjalanan,” terpilih untuk Penulisan Perjalanan Amerika Terbaik 2021. Kegemaran Intan dalam menuliskan cerita dengan genre gothic seakan menjadi sebuah identitas atas gaya penulisan. Seperti karya-karya yang pernah diterbitkan sebelumnya seperti Kumpulan Budak Setan (2010), Sihir Perempuan (2017), Gentayangan (2017), dan Apple and Knife (2018).</p>
<p>Alasan kami meresensi novel ini adalah karena banyaknya latar kejadian yang dekat sekali dengan realita dan isu sosial yang marak terjadi di kehidupan nyata dewasa ini. Misalnya, novel ini membawa isu-isu ekstrim yang terjadi dengan membawa embel-embel agama, dalam novel ini juga mengandung kritik terhadap budaya dominan, muslim kelas menengah yang tinggal di Jawa, atas kekerasan yang terjadi dengan argumen bahwa ‘kekerasan bukan lah peristiwa, melainkan sebuah struktur’, Intan Paramaditha menjelaskan mengenai maksud dari kata ‘struktur’ disini adalah sebuah kejadian atau peristiwa yang terjadi secara sistematis dan tidak hanya sekali terjadi kemudian selesai. Lantas keterkaitan seperti apa yang diceritakan dalam novel ‘Malam Seribu Jahanam’ dengan realita sosial yang yang ada?</p>
<p>&#8220;Malam Seribu Jahanam&#8221; mengisahkan kisah tiga kakak beradik yang bernama Mutiara si anak sulung sebagai &#8216;sang penjaga&#8217; kemudian Maya &#8216;sang pengelana&#8217; si anak tengah yang hidup jauh dari rumah, dan Annisa si anak kesayangan &#8216;pengantin&#8217; yang bungsu. Cerita ini diceritakan oleh narator yaitu &#8216;sang pendongeng&#8217; yang bernama Rosalinda. Mutiara anak sulung yang selalu diandalkan dalam keadaan apapun, harus tahan banting, dituntut sempurna hingga harus menjaga keluarganya sampai tua. Maya mengeksplorasi dunia dengan bertualang ke luar negeri dengan buku-bukunya. Sementara itu, Annisa adik bungsu kesayangan mereka harus pergi meninggalkan mereka dengan jejak tercerai-berai yang penuh dengan kerumitan dan pengkhianatan hingga menguji ketabahan keluarganya.</p>
<p>Novel ini memadukan elemen religi, feminis dan drama emosional keluarga, menciptakan pengalaman membaca yang mendalam dan tak terlupakan hingga halaman terakhir. Tokoh utama dalam novel ini sulit ditebak karena semua bab membahas cerita dari semua sudut pandang tokoh dan masing-masing dari mereka memiliki kesalahan dan dosa. Novel ini diangkat dari kisah nyata bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya, meskipun begitu cerita ini dimodifikasi dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga cerita ini berbeda dengan kenyataannya. Cerita ini juga mengangkat isu sosial yang terjadi di realita, misalnya: kekerasan, diskriminasi, primordialisme hingga radikalisme. Novel ini dapat membuka wawasan karena memperlihatkan sudut pandang yang berbeda dari sisi yang dialami kaum marjinal (transpuan), misalnya seperti kesulitan yang dialami oleh tokoh Rosadi alias Rosalinda selama hidupnya dalam menghadapi realita sosial. Malam Seribu Jahanam mengantarkan pembaca untuk mengenal lebih dekat dengan karakter sang penulis, Intan Paramaditha, yang mana beliau merupakan penulis yang sering membahas isu-isu sosial seperti hubungan antar gender, seksualitas, budaya dan politik. Dalam wawancaranya, Intan Paramaditha pernah mengungkapkan niatnya secara eksplisit tentang pesan apa yang ingin disampaikan, sehingga resensi ini dibuat dengan penyesuaian yang dilakukan berdasarkan apa yang beliau ingin sampaikan.</p>
<p>Berdasarkan karya-karya yang pernah dibuat sebelumnya, gaya penulisan yang diterapkan pada novel ini sangat menggambarkan bahwa novel ini dibuat oleh Intan Paramaditha. Secara komposisi, digambarkan alur yang maju-mundur dengan interval waktu yang terlalu jauh, sehingga membuat pembaca merasa semakin bingung akan jalan cerita yang ingin disampaikan. Untuk dapat mengerti secara utuh apa isi dari novel ini, dibutuhkan pengetahuan umum yang luas, karena untuk masyarakat awam, banyak sekali pemilihan diksi yang agak segmented yang hanya diketahui oleh kelompok-kelompok tertentu saja. Misalnya, istilah-istilah yang dipakai dalam terorisme. Disisi lain, hal tersebut dapat memperkaya wawasan pembaca setelah membacanya. Penggambaran situasi juga dilakukan secara detail membantu pembaca untuk masuk ikut ke dalam cerita, sehingga pembaca dapat merasakan emosi di dalamnya.</p>
<p>Novel ini memiliki keterkaitan dengan novel sebelumnya yang berjudul “Sihir Perempuan” yang mana terdapat kalimat “Revolusi dimulai oleh saudara tiri yang buruk rupa”. Kalimat tersebut memiliki kesinambungan dengan cerita-cerita dalam novel “Sihir Perempuan”, misalnya pada cerita yang berjudul “Perempuan Tanpa Ibu Jari”. Dalam novel tersebut, saudara tiri yang buruk rupa secara eksplisit ditujukkan kepada saudara tiri Sindelarat, sedangkan pada novel ini, secara implisit ditujukkan kepada Rosalinda, yang merupakan orang yang sudah dianggap seperti anak angkat keluarga Hajjah Victoria.</p>
<p>Novel ini sangat menarik untuk dibaca, karena menyajikan cerita yang mengandung isu sosial yang sangat erat kaitannya dengan realita sosial. Misalnya radikalisme yang terjadi atas nama agama, kekerasan, diskriminasi terhadap kaum marginal seperti LGBT, hingga primordialisme yang seringkali terjadi, dimana kita dituntut untuk hidup sesuai dengan tradisi atau norma adat maupun tuntutan yang juga mengatasnamakan agama yang ditanamkan dan berlaku sejak kecil.</p>
<p><em>Zaky Rizqy Zaidaan dan Rusmasiela Mewipiana Presilla</em><br />
<em>Mahasiswa jurusan Sastra Belanda Universitas Indonesia</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-malam-seribu-jahanam-jaga-yang-hidup-antar-yang-mati/">Resensi Novel  &#8216;Malam Seribu Jahanam&#8217;: Jaga yang Hidup, Antar yang Mati</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrVSy85meeiNg3gOdM53JQ6A0qE7YS0_5HnkvRjoIgFyZImVrp8mqejR4IbdP2yZcsf-99wTyQ6L-q33c5L_U6Ha3ZSa89gqSA1j_cR3TrTIol14mhJKInFrC3xCLCqC45ekzLK-5fpZu80q6w_6stKjNASY25cgnOQN9l4STX202eEzqCEQiuNgL7/s16000/jahannam.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Resensi Novel Hotel Mooi Indië</title>
		<link>https://jakpos.id/resensi-novel-hotel-mooi-indie/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Dec 2023 02:29:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Hotel Mooi Indië]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62399</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul Buku : Hotel Mooi Indie Penulis : Sekar Ayu Asmara Tanggal Terbit : Maret&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-hotel-mooi-indie/">Resensi Novel Hotel Mooi Indië</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Judul Buku : Hotel Mooi Indie<br />
Penulis : Sekar Ayu Asmara<br />
Tanggal Terbit : Maret 2023<br />
Penerbit : Bentang Pustaka<br />
Jumlah Halaman : 144<br />
Genre : Horor, Romance<br />
Berat : 0.2 kg<br />
ISBN : 9786231860620<br />
Lebar : 13.0 cm<br />
Panjang : 20.5cm<br />
Bahasa : Indonesia</p>
<p><em>Dia geram.</em><br />
<em>Dia marah.</em><br />
<em>Dia kecewa.</em></p>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Perselingkuhan, pintu kedua yang menjanjikan cahaya. Sisi gelap yang memeluk rahasia dalam senja. Ketika perselingkuhan terjadi, kedua pihak akan saling terluka. Mempertahankan masing-masing ego, terlarut dalam pilihan diri. Perpisahan bukan menjadi akhir segalanya, mereka hanya memilih untuk berhenti melukai.</p>
<p>Ketika kedua insan memutuskan untuk saling berkomitmen menjaga hubungan bahkan memasuki fase yang lebih serius, janji yang terucap bukan hanya sekadar ucapan belaka melainkan dibuktikan dengan tindakan nyata. Setelah memasuki fase pernikahan, hendaknya antar pasangan memahami betapa pentingnya saling mengerti dan mengisi kekurangan masing-masing. Tidak heran jika perselingkuhan terjadi karena adanya komunikasi maupun hubungan yang kurang baik diantara pasangan. Selain itu, rasa bosan kerap melanda pasangan suami istri, bahkan berujung pada perceraian. Maka, situasi seperti inilah yang membuat dosa-dosa di masa lalu kembali terulang. Nafsu sesaat untuk berhubungan kembali dengan mantan pasangan makin membara ketika semesta mencoba mempertemukan dengan keadaan yang jauh berbeda atau bahkan sama, hanya dengan suasana yang berbeda.</p>
<h3>Biografi Penulis</h3>
<p>Buku “Hotel Mooi Indië” merupakan karya dari seorang yang cukup multitalenta sebagai sutradara film, pelukis, produser musik hingga penulis skenario bernama Sekar Ayu Asmara Wanita kelahiran Jakarta ini menghabiskan masa kecilnya dengan berpindah negara mengikuti karier ayahnya yang menjabat sebagai Duta Besar. Ia pun pernah menetap di Afghanistan, Turki, dan Belanda. Semua bidang seni yang ditekuni, dipelajarinya secara otodidak. Film pertamanya, Biola Tak Berdawai, mendapatkan anugerah The Naguib Mahfouz Prize di Cairo International Film Festival 2003. Penghargaan bergengsi ini diberikan kepada sutradara film pertama. Film keduanya, Belahan Jiwa, juga memenangkan penghargaan The Best International Feature Film di ajang New York International Independent Video and Film Festival 2007.</p>
<h3>Sinopsis</h3>
<p>Setiap orang baik pria maupun wanita memiliki sebuah keinginan untuk menjalin cinta dengan orang yang diinginkannya. Berbagai usaha akan dilakukan untuk menaklukkan sang pujaan hati hingga berlanjut pada tahap mempertahankan cinta terhadap pasangan atau menuju jenjang yang lebih serius yang dinamakan ‘pernikahan’.</p>
<p>Kisah diawali dengan kehidupan rumah tangga Wening dan Rudy yang pada masa-masa awal terasa menyenangkan, tetapi makin memburuk seiring berjalannya waktu. Watak asli seorang Rudy terungkap di kala mereka berpindah ke rumah barunya yang berada di Malang. Kemudian, sang sutradara muda, Bimo, begitu setia kepada seorang wanita yakni istrinya Bunga karena perlakuan tidak senonoh ayahnya terhadap sang ibu. Loyalitas hati seorang Bimo nyatanya tidaklah kokoh hingga ajal memisahkan. Nyatanya ia berselingkuh dengan aktris muda kawakan bernama Klariza. Kemudian, Ketut, seorang dokter yang sedang mendalami ilmu orthopedi telah menikah muda karena menghamili adik kelasnya semasa sekolah. Keharmonisan keluarga ini sangatlah buruk yang mengakibatkan munculnya pihak ketiga sebagai pemuas nafsu sang suami.</p>
<p>Mereka tidaklah saling mengenal tetapi persamaan mereka adalah berselingkuh. Secara kebetulan, kedatangan mereka juga di tanggal yang sama tepat pada 1 Juni. Perbuatan mereka itulah yang mengundang kekuatan hitam yang bersarang di hotel ini dalam membalaskan dendamnya di masa lalu.</p>
<h3>Resensi</h3>
<p>Novel “Hotel Mooi Indie” merupakan novel bergenre horor. Tidak hanya menceritakan kisah horor yang terjadi pada malam 1 Juni di Hotel Mooi Indie, novel ini juga dibumbui kisah romansa yang terjadi pada setiap tokohnya. Berlatar belakang di kota Malang, novel ini banyak menceritakan keragaman dan tradisi yang ada di kota Malang. Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju mundur atau campuran. Hal ini dapat dilihat di masing-masing bab, dimana pada awalnya penulis memperkenalkan tokoh dan menceritakan kegiatan masing-masing tokoh pada masa kini, namun di bab berikutnya penulis menceritakan masa lalu atau kejadian yang terjadi pada tokoh tersebut, atau masa lalu tokoh lainnya.</p>
<p>Kisah pada setiap tokoh mengalami perkembangan dari setiap babnya walaupun terkesan berpindah-pindah atau tidak secara runtut menjelaskan tiap tokoh. Perselingkuhan dalam cerita menjadi topik pembahasan yang dialami setiap pasangan, ditambah adanya karma dari setiap perbuatan tersebut yang menimpa mereka di hotel ini. Sehingga pembaca dibuat sedikit bergidik ngeri membaca isi dari cerita tersebut.</p>
<p>Latar waktu pada cerita ini terbagi menjadi dua. Pertama pada tahun 1930 di saat pemilik Hotel Mooi Indië, Rudy tengah menjalani kehidupannya sebagai seorang pelukis sekaligus suami Wening. Kemudian, pada tokoh-tokoh lainnya tidak dijelaskan secara eksplisit tahun berapa terjadinya, tetapi tampaknya di masa-masa modern dan maju seperti saat ini. Dibuktikan pada kalimat “Gaya tempo dulu tetap dipertahankan. Tapi, ditambah fasilitas dan teknologi masa kini. Wi-Fi-nya aja udah 5G”. Hal inilah yang menjadi perbedaan diantara persamaan permasalahan yang ada.</p>
<p>Latar tempat yang digunakan adalah Hotel Mooi Indië. Semula terlihat seperti hotel yang mewah dengan gaya art deco tahun 1920-1930an. Keadaan hotel yang sangat ramai oleh orang-orang yang menginap dan keindahan-keindahan lainnya. Namun, itu semua sirna ketika Bimo, Dirga, Tatiana, Ketut dan Savitri tersadarkan bahwa hotel tersebut tidak seperti apa yang terlihat di awal. Contoh bukti konkretnya adalah kantor concierge yang di awal terlihat rapi dan tertata tetapi nyatanya merupakan tempat yang terlantar bahkan seperti bekas terjadi kebakaran di sana.</p>
<p>Penyesalan yang terjadi pada beberapa tokoh akibat tindakan gegabah mereka, dimulai dengan adanya suara-suara rintihan berupa “sapa wae kang maru kudu mati…”. Selain itu, terdapat sebuah tangan yang kerap menghantui mereka seperti memegang leher Bimo, memutar kenop air panas saat Ketut tengah mandi, dan berusaha menggapai leher Tatiana. Tangan ini milik Wening, yang pada semasa hidupnya ia dihukum oleh Rudy karena memergoki kelakuan bejat suaminya saat bercinta dengan Ponirah, pembantu di rumah mereka di salah satu kamar yang tidak boleh dibahas olehnya. Sehingga, tangan kanan Wening dipotong dengan kampak oleh suaminya sebagai bentuk hukuman.</p>
<p>Selain itu, novel ini juga memberikan sedikit wawasan mengenai penggunaan kata ‘gebetan’ yang begitu populer hingga masa kini. Pada halaman 35, ketika membahas kehidupan seorang DJ bernama Freedom, dijelaskan asal muasal kata ‘gebetan’. Awalnya merupakan singkatan dari GBT atau akronimnya adalah Gerakan Bawah Tanah yang cukup populer di era 1970-an. Seiring berjalannya waktu, singkatan ini sering disebut ‘gebet’ yang memiliki arti incaran seseorang untuk dijadikan pacar. Bagi orang yang dijadikan target sebagai pacar akan ditambahkan imbuhan -an di akhir kata menjadi ‘gebetan’.</p>
<h3>Penokohan :</h3>
<p>Tokoh utama dalam novel ini adalah Wening dan Rudy. Sebagaimana diceritakan kisah mereka yang awalnya adalah pemilik Hotel Mooi Indië. Rudy merupakan keturunan ayah Banda Naira dan ibu Belanda. Ia memiliki wajah yang sangat tampan dan mahir melukis. Kecintaannya terhadap dunia seni ternyata juga membawa jodoh kepadanya. Ia bertemu Wening, seorang penari topeng yang awalnya dimintai oleh Rudy menjadi objek sketsanya. Wening adalah seorang yang sabar. Ia sabar menghadapi Rudy, suaminya yang berselingkuh dengan janda di kamar hotel tak bernomor milik mereka.</p>
<p>Bimo adalah seorang sutradara film horor, ia sedang meneliti hal-hal horor yang bisa dijadikan sebagai film terbarunya. Semasa kecil, ia sering mendapati ayahnya menyeleweng dari ibunya, ia juga menjadi saksi ibunya berusaha bunuh diri akibat depresi melihat kelakuan ayahnya. Namun, sifat menyeleweng ayahnya turun kepadanya. Bimo sosok yang setia kepada istrinya karena ia memegang teguh janjinya kepada sang Ibu. Kesetiaan yang dimilikinya tidak sebesar hawa nafsunya, kecantikan Klariza membuat dirinya terlena dalam lingkaran perselingkuhan.</p>
<p>Klariza, perempuan dengan paras menawan dan juga aktris yang memulai karirnya di dunia foto model. Hubungan profesional antara dirinya dengan Bimo terjadi ketika mereka menggarap sebuah film. Bimo selaku sutradara sedangkan Klariza selaku pemerannya. Benih-benih asmara tumbuh seiring berjalannya waktu. Ibu Klariza selalu mengingatkan agar tidak merebut suami orang, tetapi pesona yang terpancar dari dalam diri Bimo sangatlah berbeda daripada pria-pria lainnya sehingga ia pun sangat sulit untuk menolaknya.</p>
<p>Ketut seorang dokter muda yang begitu menunjukkan ketampanan lelaki lokal Bali. Di umurnya yang ke 28 tahun ini, ia memiliki anak yang sudah berumur 10 tahun, karena menyetubuhi adik kelasnya bernama Putu Wahyuni. Walaupun dia berusaha bertanggung jawab, nyatanya pernikahan mereka tidaklah harmonis. Percekcokan sering terjadi bahkan Ketut kerap mencicipi beberapa perempuan. Nafsu birahinya terpuaskan ketika bertemu seorang DJ bernama Freedom. Dengannya, Ketut merasa senang dan segala keinginan seksualnya terpenuhi.</p>
<p>Dirga, mahasiswa Sastra Jawa yang hendak ke Malang menemui ayahnya. Di sana ia dipertemukan dengan seorang wanita yang gemar membaca buku. Dari pertemuannya itulah terjalin kedekatan diantara mereka dan tumbuh benih-benih cinta. Namun, hubungan yang dijalin tidaklah membuat Dirga menjadi seorang yang setia. Tatiana yang berkesempatan mengundang Dirga sebagai narasumber di podcastnya, rupanya membuka kesempatan lainnya untuk berhubungan lebih jauh. Hasrat seksual yang tinggi mengakibatkan mereka melakukan hubungan di kamar 205, tempat Tatiana menginap.</p>
<p>Tatiana, food vlogger kelahiran Jakarta dan besar di Kota Minneapolis, Negara Bagian Minnesota, Amerika Serikat sebetulnya telah menjalin hubungan dengan Pandu, pria tinggi besar yang tengah membangun bisnis start-up bersama teman-temannya. Perlu diketahui, ia kerap merasa tidak tenang di saat LDR-an dengan Pandu dikarenakan ahli seksologinya mengatakan bahwa libidonya di atas rata-rata. Sehingga, untuk mengatasi hasrat seksualnya yang tinggi, ia pun terpaksa melampiaskannya kepada Dirga yang kebetulan terbuai dengan kemolekan tubuhnya.</p>
<p>Penjaga kantor concierge, Agung Widura tampak seperti orang yang mengetahui informasi mengenai hotel tersebut dengan baik. Agung menjelaskan pada Bimo bahwa di sana terdapat makam para topeng tanpa batu nisan. Ia pun menjelaskan secara gamblang bagaimana ritual tarian topeng ini berlangsung. Faktanya adalah Agung Widura adalah manusia jelmaan arwah Gus Wiwiek yang merupakan seniman dan teman baik dari Wening. Ia begitu berjasa ketika mencoba mencegah upaya bunuh diri yang akan dilakukan oleh Wening dan ia juga yang membuatkan tangan palsu untuknya. Wening begitu banyak berhutang budi pada Gus Wiwiek yang rela membantu dirinya dalam menjalani hari-hari bersama Rudy yang tak beradab itu.</p>
<p>Savitri merupakan anak pengusaha sukses bernama Bharoto Wibowo yang bergerak di bidang properti sekaligus pemilik Hotel Mooi Indië saat ini. Kebetulan ia sedang menginap di hotel tersebut, sedangkan sang ayah sedang sibuk mengembangkan sayap resornya ke wilayah lain di Indonesia. Ketika kejadian mistis menimpa mereka yang telah berselingkuh, ia pun juga turut mengalaminya walaupun sebetulnya ia hanyalah arwah yang membantu mereka keluar dari hotel terkutuk ini.</p>
<h3>Kelebihan Buku :</h3>
<p>Buku ini mengangkat cerita yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Tema perselingkuhan yang dibahas dalam buku ini akan memberikan perspektif baru dan pesan moral mengenai konsekuensi jika melakukan perselingkuhan. Cerita Hotel Mooi Indië ini juga memberikan sedikit sentuhan cerita thriller dalam ceritanya. Penulis mampu membawa imajinasi pembaca melalui setiap pemilihan kata yang digunakan, sehingga pembaca cukup mudah membayangkan situasi dan keadaan yang terjadi dalam cerita. Diksi yang digunakan cukup sederhana. Sehingga pembaca tidak diberatkan dengan istilah-istilah, tetapi murni perbendaharaan kata yang sederhana.</p>
<p>Bahasa yang digunakan oleh penulis pun adalah bahasa sehari-hari atau bahasa yang umumnya orang Indonesia atau gen-Z mengerti. Jadi, pembaca kemungkinan bisa dengan cepat memahami alur cerita yang dibangun penulis.</p>
<p>Setiap kalimat dalam cerita tidak dibuat secara bertele-tele tetapi lebih terkesan padat dan jelas. Meskipun pada setiap kalimat cerita terlihat agak panjang tetapi pembaca tidak akan terlalu bosan untuk melanjutkan membaca cerita selanjutnya. Bahkan, pembaca akan dibuat penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.</p>
<h3>Kekurangan Buku :</h3>
<p>Cerita Hotel Mooi Indië ini sedikit kurang greget. Klimaks persoalan yang dibahas dalam cerita ini tidak terlihat begitu jelas. Dalam cerita ini diceritakan bahwa ada teror tangan hantu yang menghantui masing-masing pasangan yang berselingkuh di Hotel Mooi Indië pada malam 1 Juni. Namun konflik yang ada dalam cerita tidak begitu bisa tersampaikan kepada pembaca, dikarenakan saat penjelasan konflik dimana masing-masing tokoh dihantui oleh Wening dan tangan hantu miliknya, penulis kembali menjelaskan cerita masing-masing tokoh, sehingga kesannya perasaan deg-degan dan mencekam yang dibangun saat cerita berlangsung tiba-tiba hilang digantikan rasa bingung karena harus mencerna cerita lain dari masing-masing tokoh.</p>
<p>Dari awal bab, penulis memperkenalkan masing-masing tokoh dan masa lalunya. Namun hal ini membuat sedikit tidak nyaman dikarenakan pada masing-masing bab penulis terkesan menceritakan satu tokoh, namun tiba-tiba melompat kembali menceritakan tokoh lainnya. Hal ini membuat seolah-olah penulis terlalu rumit saat menjelaskan tokoh-tokohnya. Sehingga pembaca disarankan untuk membaca buku ini lebih dari sekali untuk memahami bagaimana runtutan cerita dari masing-masing tokoh.</p>
<p>Buku ini juga membahas beberapa hal dan adegan dewasa. Diksi yang digunakan dan cerita yang disampaikan juga terkesan kasar dan tidak ramah untuk anak-anak dan remaja. Maka sebaiknya perlu dicantumkan di sampul buku kalau buku ini tidak cocok untuk anak-anak dan remaja.</p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<p>Setiap perbuatan pasti akan mendapat balasan yang setimpal. Hal inilah yang disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Walaupun begitu, kepada setiap individu yang berselingkuh bukan berarti balasan terhadap mereka adalah kematian, tetapi cukup diberikan pengalaman yang membuat mereka jera akan perbuatan yang telah dilakukan. Sehingga harapannya para pelaku kemaksiatan ini tidak mengulangi perbuatannya dan sebisa mungkin membangun keharmonisan kembali antara dirinya dengan pasangannya.</p>
<p><em>Idlal Agung Kawiswara Basuki Putra</em><br />
<em>Mahasiswa Program Studi Belanda Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-hotel-mooi-indie/">Resensi Novel Hotel Mooi Indië</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/cdn.gramedia.com/uploads/picture_meta/2023/6/9/g9htrjvtzpjmq9gyyphqmy.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Resensi Novel &#8220;Namaku Alam&#8221;: Hubungan Interpersonal, Asmara, Bromance, dan Keluarga</title>
		<link>https://jakpos.id/resensi-novel-namaku-alam-hubungan-interpersonal-dalam-namaku-alam-asmara-bromance-dan-keluarga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Dec 2023 03:06:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Namaku Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Novel Namaku Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62357</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul Buku : Namaku Alam Penulis : Leila S. Chudori Terbit : 20 September 2023&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-namaku-alam-hubungan-interpersonal-dalam-namaku-alam-asmara-bromance-dan-keluarga/">Resensi Novel &#8220;Namaku Alam&#8221;: Hubungan Interpersonal, Asmara, Bromance, dan Keluarga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Judul Buku : Namaku Alam</em><br />
<em>Penulis : Leila S. Chudori</em><br />
<em>Terbit : 20 September 2023</em><br />
<em>Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)</em><br />
<em>Jumlah Hal : 424</em><br />
<em>Peresensi : Alfiyyah Fadiyah, Hilma Aufiana</em></p>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Bisakah sebuah novel mengungkap sejarah terpendam tentang tragedi besar suatu negeri sekaligus mengangkat kisah relasi personal sang tokoh utama?</p>
<p>Namaku Alam 1 merupakan spin off dari buku berjudul Pulang karya Leila S. Chudori. Leila mulai menulis novel &#8220;Pulang&#8221; pada tahun 2006 dan menyelesaikannya pada tahun 2012. Seno Gumira Ajidarma menilai &#8220;Pulang&#8221; sebagai novel dengan teknik seamless realism, menciptakan pengalaman membaca yang menyatu dengan situasi dalam novel. Leila S. Chudori mengangkat tema kejujuran, keyakinan, tekad, prinsip, dan pengorbanan dalam gaya bercerita yang intelektual dan puitis. Terinspirasi oleh penulis dunia seperti Kafka, Dostoyevski, Lawrence, dan Joyce, Leila juga memadukan pengaruh Baratayuda dan Ramayana dalam tulisannya.</p>
<p>Melalui novel Namaku Alam, Leila menceritakan tentang tokoh utama yang bernama Alam dalam menjalani kehidupannya sebagai anak simpatisan Gerakan 30 September 1965 atau G30S PKI. Cap “anak pengkhianat negara” melekat pada identitasnya dan menghantui hidupnya. Latar belakang keluarga Alam ini lah yang menempa kehidupan pertemanan, hubungan dengan keluarga, hingga kisah percintaannya.</p>
<p>Alam memiliki kemampuan photographic memory yang membuatnya tidak bisa melupakan semua hal dalam kehidupannya, baik itu memori baik ataupun buruk. Kejadian pertama yang dia ingat adalah ketika sekelompok orang menggeledah rumahnya untuk mencari keberadaan bapaknya. Alam yang saat itu masih berumur 3 tahun bersembunyi di bawah meja dan mendengarkan semua keributan itu. Alam juga ingat ketika ia bersama Ibunya, Kenanga, dan Bulan diperintahkan untuk ke Budi Kemuliaan untuk menemani ibunya diinterogasi.</p>
<p>Persamaan latar belakang keluarga membuat Alam menjalin persahabatan dengan Bimo. Bimo adalah anak seorang simpatisan PKI yang tidak bisa pulang ke Indonesia akibat kebijakan Soeharto yang melarang para simpatisan PKI di luar negeri untuk kembali ke Indonesia jika tidak mengakui kekuasaannya. Dengan kisah masa lalu dan bayang-bayang kedua bapak mereka yang menghantui keseharian mereka, Alam dan Bimo saling menguatkan dan berbagi cerita. Hubungan persahabatan antara Alam dan Bimo secara tidak langsung menyinggung toxic masculinity yang ada dalam konstruksi masyarakat. Bahwa laki-laki tidak menunjukkan afeksi kepada teman laki-laki lainnya dan bahwa persahabatan antara laki-laki bukanlah hal yang dapat diromantisasi.</p>
<p>SEANDAINYA KAMI binatang, aku adalah anjing pelacak dan Bimo adalah kelinci putih yang manis, jinak tanpa curiga. Jika kami di dunia tumbuhan, aku adalah kaktus berduri yang cenderung menikam jika merasa terancam, sementara Bimo adalah dedaunan adiantum (Yu Kenanga menyebutnya suplir) yang halus, berbatang bak benang tipis yang anggun. Jika kami ada di dalam benak John Lennon, maka aku adalah bagian dari partitur &#8220;Come Together&#8221; sedangkan Bimo hidup dalam lagu &#8220;O, My Love&#8221; yang lembut mengelus bak suara buluh perindu. Jika kami hidup di jagat Mahabharata, sudah jelas aku adalah Bima, dan dia yang bernama Bimo justru mewakili seorang Yudhistira. Di dunia seni, Bimo yang berbakat melukis itu diam-diam ingin menjadi seorang Sudjojono, sedangkan aku di masa SMA tergila-gila pada Guernica karya Pablo Picasso.</p>
<p>Melalui analogi yang dideskripsikan oleh karakter Alam, menunjukkan kuatnya persahabatan laki-laki antara Bimo dan Alam yang mungkin jarang kita temukan di novel-novel fiksi lainnya. Dari potongan cerita di atas juga menunjukkan kemampuan Leila dalam memanfaatkan imajinasi dan kreativitasnya untuk menyampaikan karakter dan jalinan di antara mereka menggunakan personifikasi lewat binatang, tumbuhan, musik, kisah mahabarata, hingga sebuah karya seni. Dekripsi ini tidak hanya memperdalam tiap karakter yang ada dalam cerita, namun juga dapat menghadirkan daya tarik emosional sendiri terhadap tiap karakter kepada pembaca.</p>
<p>Teknik penulisan Leila S. Chudori tidak bisa diragukan lagi dalam pemilihan diksi untuk menceritakan Alam dan kehidupannya. Leila mengakui bahwa ketika ia menulis terdapat pengaruh penulis seperti N.H. Dini, Virginia Woolf, Susan Sontag, Sylvia Plath, Anne Sexton, dan Simone de Beauvoir. Ia menghargai kejujuran dan orisinalitas dalam tulisan N.H. Dini serta kemandiriannya dalam membangun karya tanpa bergantung pada entourage. Bagi Leila, kemampuan menaklukkan bahasa adalah kunci utama dalam menulis fiksi, mengantar pembaca ke dalam dunia alternatif yang diciptakan oleh pengarang. Hal inilah yang menjadikan karya-karya Leila termasuk Namaku Alam memiliki cerita yang mengalir dan menghanyutkan pembaca. Teknik Leila dalam mengakhiri setiap bab dan memilih kalimat-kalimat yang mengundang rasa penasaran di awal bab dapat membuat pembaca tidak mudah menghentikan proses pembacaan.</p>
<p>Leila juga berhasil menjadikan Alam sebagai idola baru bagi para pembaca buku. Selain sosoknya yang cerdas karena kemampuan photographic memory, sejak kecil Alam hidup dikelilingi oleh perempuan mandiri dan berdaya seperti Ibu, Kenanga, dan Bulan. Hal tersebutlah yang membuat Alam mengerti tentang perjuangan seorang ibu dan wanita tanpa kehadiran laki-laki. Percikan feminisme ini juga dapat kita lihat dari bagaimana Alam tidak setuju apabila ibunya disebut sebagai janda, melainkan orang tua tunggal.</p>
<p>Buku ini berhasil mengangkat kembali isu 1965 yang kurang banyak dibahas, yaitu dari segi keluarga dari simpatisan PKI. Media ataupun sejarah lebih banyak membahas mengenai kronologi peristiwa, perdebatan dalang dari tragedi besar G30S PKI, ataupun tokoh-tokohnya. Tidak banyak yang menyinggung keluarga korban, trauma, dan stigma yang membayangi mereka seumur hidup. Selain isu penting peristiwa G30S PKI, Leila juga menghadirkan romansa masa SMA di dalamnya. Kisah Alam dan Dara di buku ini terhalang oleh latar belakang keluarga yang berbeda, Alam dengan keluarga yang lebih sederhana dan Dara dengan keluarga dan gaya hidup yang elit. Di sisi lain, Tommy kakak dari Dara sangat anti terhadap latar belakang Alam yang merupakan anak dari simpatisan PKI bahkan menghina Alam di acara keluarga Dara.</p>
<p>Meskipun buku ini mengangkat isu dan tema yang memantik diskusi berbagai akademisi atau pun kalangan pembaca buku, buku ini tidak memiliki konflik besar seperti novel Pulang. Konflik dalam buku ini lebih terfokus pada diri Alam dan konflik identitas yang ia hadapi sebagai korban tidak langsung dari peristiwa G30S PKI. Selain itu, pada beberapa bab terdapat ketidaksinambungan yang membuat bab-bab tersebut seolah-olah berdiri sendiri, tanpa bersambung dengan bab sebelum maupun sesudahnya.</p>
<p>Melalui Namaku Alam, Leila S Chudori berhasil menggambarkan hubungan kuat antara para karakter yang berada dalam bayang-bayang tragedi sejarah yang kelam. Meskipun tidak ada konflik yang berarti terkait sejarah itu sendiri, Leila menghadirkan lapisan menarik lainnya yang dapat dieksplorasi oleh pembaca, yakni penggalian emosional setiap karakter yang merupakan korban dari sebuah tragedi, melalui hubungan interpersonal yang ada dalam cerita.</p>
<p>Alfiyyah Fadiyah<br />
Hilma Aufiana</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-namaku-alam-hubungan-interpersonal-dalam-namaku-alam-asmara-bromance-dan-keluarga/">Resensi Novel &#8220;Namaku Alam&#8221;: Hubungan Interpersonal, Asmara, Bromance, dan Keluarga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/www.gramedia.com/blog/content/images/2023/08/Namaku-Alam-Mockup.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Resensi Novel &#8220;Pukul Setengah Lima&#8221;: Memaknai “Pulang” dari Sudut pandang Anak Broken Home</title>
		<link>https://jakpos.id/resensi-novel-pukul-setengah-lima-memaknai-pulang-dari-sudut-pandang-anak-broken-home/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Dec 2023 02:50:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Novel Pukul Setengah Lima]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62346</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul Buku : Pukul Setengah Lima Penulis : Rintik Sedu (Nadhifa Allya Tsana) Tebal Buku&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-pukul-setengah-lima-memaknai-pulang-dari-sudut-pandang-anak-broken-home/">Resensi Novel &#8220;Pukul Setengah Lima&#8221;: Memaknai “Pulang” dari Sudut pandang Anak Broken Home</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Judul Buku : Pukul Setengah Lima</em><br />
<em>Penulis : Rintik Sedu (Nadhifa Allya Tsana)</em><br />
<em>Tebal Buku : 208 Halaman</em><br />
<em>Tahun Terbit : 2023</em><br />
<em>Penerbit : Gramedia Pustaka Tama</em><br />
<em>Genre : Fiksi Romantis</em><br />
<em>Peresensi: Astri Ayu Lestari , Daniel Renanda</em></p>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Pulang, Sebuah kata yang merentangkan makna lebih dari sekedar perjalanan fisik. Pulang bukan hanya kembali ke suatu tempat, melainkan sebuah proses mendalam tentang mengukir kenangan. Namun tidak semua orang dapat memaknai pulang sebagai kata yang nyaman, sering kali pulang menjadi hal yang dihindari ,seperti yang dikutip Devina Annesya dalam bukunya Muara Rasa “pulang bukan selalu hal yang membahagiakan bagi setiap orang.”, hal ini yang dirasakan oleh tokoh dalam buku Pukul Setengah Lima yang ditulis Nadhifa Allya Tsana atau Rintik Sedu.</p>
<p>Nadhifa Allya Tsana atau yang biasa dikenal dengan sebutan pena Rintik Sedu adalah seorang penulis sekaligus penyiar radio. Tsana berhasil menghasilkan beberapa karya buku bahkan diadaptasi menjadi film dan series. Buku-buku yang telah diterbitkan diantaranya Geez and Ann 1 (2017), Geez and Ann 2 (2017), Buku Rahasia Geez (2018), Buku Minta Dibanting (2020), Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang? (2020), Geez and Ann 3 (2020), Kata (2020), dan Buku Minta Disayang (2021). Melihat buku buku yang selalu menempati rak best seller, tidak lengkap rasanya jika tidak membahas bukunya yang baru dilahirkannya berjudul “Pukul setengah lima”. Walaupun novel ini baru diterbitkan pada 21 september 2023 lalu, namun antusias dari pembaca sangatlah tinggi. Hal ini dibuktikan dengan angka pemesanan Pre-order yang tembus hingga 3.000.</p>
<p>Terjebak dalam kebohongan adalah seperti bermain bola salju, semakin digulingkan, semakin besar bentuknya dan semakin sulit untuk dihentikannya. Mungkin ini merupakan kalimat yang cocok untuk mendeskripsikan Alina, Tokoh utama dalam novel ini. Pukul Setengah Lima.</p>
<p>“Pukul setengah lima” Menceritakan seorang gadis bernama Alina yang sangat pandai membohongi dirinya, cuek, apatis, dan Egois. Hal ini bukan semena semena karena Alina menginginkannya, namun karena ada suatu alasan dibaliknya. Alina bahkan rela melakukan kebohongan ketika berkenalan dengan seorang laki laki yang ditemui di bus. Terlalu lama berbohong membuat Alina terjebak dalam permainan dan kepalsuan yang dibuatnya sendiri. Membaca novel ini seperti sedang melihat point of view dari anak yang menjadi korban dari “Broken Home”. Dalam novel ini, Tsana sangat cerdas. Tsana cerdas dalam memilih kata yang tepat untuk membangun atmosfir dalam cerita ini menjadi nyata dan menggambarkan kejadian sehari hari yang biasa dialami oleh anak korban broken home. Sehingga para pembaca berhasil masuk ke dalam cerita dan merasakan emosi atas semua peristiwa yang terjadi dalam novel Pukul Setengah Lima. Tidak hanya itu, kecerdasan Tsana dalam memilih kata membuat novel ini memiliki banyak kalimat indah yang membuat pembaca menjadi semakin menyukainya. Salah satu contohnya adalah “Aku tidak suka pulang, aku tidak suka harus merasa berusaha hanya untuk melangkah pulang. Sebab pulang seharusnya tidak membutuhkan usaha, hanya butuh hati riang, dan gembira. Namun ini berbeda. Tempat pulangku menyeramkan. Rumah menjadi tempat luka ibu dan aku kembali muncul. Rumahku sudah tidak aman lagi. Sudah tidak ada orang waras di dalamnya” Selain bagus, kalimat ini juga memiliki makna. Dalam kalimat ini, Tsana juga ingin membahas dan memfokuskan mengenai isu yang masih sering dialami oleh banyak anak tidak bersalah yang menjadi korban broken home. Hingga saat ini jika ditelusuri dalam kehidupan sehari hari. Sering sekali ditemukan KDRT dan broken home, bahkan menurut KemenPPPA mencapai angka 18.261 kasus. Dari adegan ini bisa disimpulkan bahwa tidak semua orang memiliki tempat untuk pulang. Seharusnya, rumah bukanlah sumber kegelisahan dan luka. Pulang seharusnya membawa sukacita dan ketenangan. Namun, realitanya berbeda.</p>
<p>Berbicara soal novel ini, kurang rasanya jika tidak membahas tentang Alur dan struktur. Tsana membangun cerita ini dengan awal yang tidak diduga. Dimulai dengan permintaan putus dari pacarnya bernama Tio, kemudian Alina menciptakan realitas baru dengan menjadikan dirinya sebagai “Marni” hingga Alina bertemu dengan orang baru bernama Danu. Selama melakukan kegiatan dengan Danu, Alina seketika akan mengingat kembali masa lalunya bersama Tio. Secara keseluruhan hampir semua isi dalam buku ini sudah baik, namun alur yang maju mundur membuat pembaca pemula tidak akan langsung mengerti dan bingung. Terlebih, Tsana tidak memberikan urutan waktu, tanda, dan banyak sekali flashback yang bisa ditemui di tiap bab-nya. Namun Tsana berhasil menutupinya dengan ending yang tidak ditebak. Alur dan Struktur ini mirip dengan buku Tsana sebelumnya yakni Kata (2020) dan juga Geez dan Ann 1 (2018) yang juga ditulis menggunakan alur maju-mundur dan dengan Struktur waktu yang tidak pasti. Hal ini menggambarkan ciri khas dari tulisan yang dibuat oleh Tsana.</p>
<p>Cerita terus berlanjut hingga sampai tiba tiba saja Danu menghilang dan tidak bertemu lagi dengan Alana di halte bus seperti biasanya, ini membuat pertanyaan besar bagi pembaca sehingga membangun rasa penasaran namun sayangnya hingga akhir Bab buku ini tidak dijelaskan mengapa Danu menghilang dan dimana keberadaannya. Setelah satu tahun kemudian keadaan keluarga Alana mulai membaik, karena sang Bapak akhir meninggalkan rumah mereka, Alana dan Ibunya juga meninggalkan rumah itu dan menjualnya, setidaknya bagi Alana tidak ada lagi kenangan buruk yang harus terus Alana ingat. di Akhir cerita Alana mengulang ceritanya menjadi “orang lain” di sebuah gerbong kereta Api. Ending Pukul setengah Lima ini bisa terbilang menggantung, karena masih terdapat banyak misteri yang belum terpecahkan, tentang bagaimana akhirnya bapaknya meninggalkan keluarganya, Danu, dan mengapa Alana terus menjalani realitas baru yang sebelumnya telah ia ketahui bahwa tidak akan berujung baik.</p>
<p>Dengan penuh keterampilan dan kepekaan, Tsana berhasil merangkai sebuah cerita yang tidak hanya rapi dan terstruktur dengan baik, tetapi juga mempersembahkan isu-isu sosial yang mendalam. Dalam bukunya, Tsana dengan gesit mengangkat permasalahan KDRT dan broken home, memberikan suara kepada yang terpinggirkan, terutama anak-anak yang seringkali tidak memiliki tempat untuk pulang. &#8220;Pukul Setengah Lima&#8221; bukan sekadar kisah perjalanan pulang, melainkan juga refleksi yang menggugah, serta sebuah buku yang mengajarkan untuk menerima diri sendiri. Melalui setiap halaman, Tsana tidak hanya mengeksplorasi keindahan perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin yang penuh makna.</p>
<p><em>Daniel Renanda, Astri Ayu Lestari</em><br />
<em>Universitas Indonesia</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-pukul-setengah-lima-memaknai-pulang-dari-sudut-pandang-anak-broken-home/">Resensi Novel &#8220;Pukul Setengah Lima&#8221;: Memaknai “Pulang” dari Sudut pandang Anak Broken Home</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/media.karousell.com/media/photos/products/2023/10/21/rintik_sendu_pukul_setengah_li_1697874957_f78fb2b9.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Resensi Novel &#8220;Perjamuan Arwah&#8221;: Makan Bersama Para Arwah</title>
		<link>https://jakpos.id/resensi-novel-perjamuan-arwah-makan-bersama-para-arwah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Dec 2023 02:38:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Novel Perjamuan Arwah]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62340</guid>

					<description><![CDATA[<p>Baihaqi Hakim Mursalin dan Kinanti Syabitha Azni Info buku Judul: Perjamuan Arwah Penulis: Wicak Hidayat&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-perjamuan-arwah-makan-bersama-para-arwah/">Resensi Novel &#8220;Perjamuan Arwah&#8221;: Makan Bersama Para Arwah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Baihaqi Hakim Mursalin dan Kinanti Syabitha Azni</strong></em></p>
<p><em>Info buku</em><br />
<em>Judul: Perjamuan Arwah</em><br />
<em>Penulis: Wicak Hidayat</em><br />
<em>Bahasa: Indonesia</em><br />
<em>Tahun terbit: 15 November 2023</em><br />
<em>Penerbit: Elex Media Komputindo</em><br />
<em>Jumlah halaman: 134</em></p>
<p>“Dunia ini cukup untuk tujuh generasi, tetapi tidaklah cukup untuk tujuh orang serakah.” —Mahatma Gandhi</p>
<p>Menelusuri toko, di antara rak-rak penuh dengan bundel-bundel berisi ribuan huruf dan terbungkus rapi dengan plastik, mencuat sebuah buku dengan warna yang cukup memikat puluhan mata pengunjung. Tergenggam oleh tangan, buku itu pun semakin menarik gairah pembaca ketika warna merah sampulnya tercetak sejumlah tentakel gurita dengan seorang gadis yang hendak melarikan diri dari kumalan sang hewan. Jemari pun mulai membalikkan buku, membaca kumpulan huruf dan kata yang ada di bagian belakang. Rangkaian itu pun mulai menarik perhatian mata; mereka berdua pun mendekat, mulai membaca…</p>
<p>Terjebak tagihan pinjol yang menumpuk, Mira mencari bantuan Jay, adiknya yang memiliki pekerjaan yang lebih stabil. Namun, sang adik tiba-tiba menghilang. Membawa Mira pada upaya pencarian yang malah membuatnya terjebak dalam ritual gelap terkait kejahatan masa lalu. Di meja perjamuan dalam ritual tersebut, setiap orang punya keinginan terpendam yang harus diwujudkan. Untuk memenuhinya, ada harga yang harus dibayar. Sanggupkah Mira menanggung konsekuensi demi bisa kembali menemukan sang adik?</p>
<p>Paragraf di atas merupakan sinopsi dari buku berjudul Perjamuan Merah karya Wicaksono Surya Hidayat, seorang penulis yang tinggal Depok, Jawa Barat. Ia mengawali karirnya dalam dunia jurnalistik pada 2003, kemudian buku pertamanya hadir pada 2005. Beberapa karyanya masuk ke dalam Lok Tong (kumpulan cerpen sayembara menulis Kementerian Negara pemuda dan Olahraga, Creative writing Institute, 2006) dan antologi Bunga Matahari (antologi puisi, Avatar ress, 2005). Pada 2021, ceritanya yang bertajuk Buku Merah telah dijadikan sebuah film pendek untuk tayang di festival film di Malaysia. Salah satu cerpennya, Merah Pedas, telah terbit di harian Kompas dan masuk dalam antologi Hujan Klise (penerbit Buku Kompas, 2018).</p>
<p>Dalam memilih “pakem” bagi novel ini, penulis menggunakan tema horor yang sering terdengar oleh masyarakat Indonesia, bahkan juga oleh anak-anak dalam pergaulan mereka, yaitu tentang hubungan budaya Jawa dengan Belanda, seperti yang termaktub dalam novel ini dengan kehadiran seorang ndoro yang bisa berbahasa Belanda. Di dalam novel juga disisipkan kata-kata pendek Belanda, tetapi kurang cukup dipahami oleh pembaca meskipun telah dijelaskan secara tersirat.</p>
<p>Penggunaan istilah ndoro juga menjadi sorotan. Istilah ini didefinisikan oleh KBBI sebagai ‘kata sapaan kepada orang bangsawan atau majikan’ atau ‘majikan’. Namun, istilah ini bisa dibilang arkais dan sudah tak lazim lagi dituturkan, meskipun dalam konteks tertentu dapat ditemui pada masyarakat Jawa, terutama di lingkungan yang masih memegang kuat nilai-nilai tradisional. Namun, penting untuk diperhatikan bahwa penggunaan sapaan ini mungkin tidak seumum dulu dan dapat mempunyai keberagaman tergantung pada wilayah, lapisan masyarakat, dan konteks budaya. Dalam novel, penulis memakai istilah ini pada salah satu tokoh antagonisnya yang menunjukkan kedudukan dan ilmu gaibnya yang tinggi dan penuh kuasa yang menentukan jalannya cerita pada novel ini.</p>
<p>Membandingkan dengan karyanya yang lain yaitu Merah Pedas, novel ini juga mengangkat unsur emosional. Jika Merah Pedas mengenai kisah kekeluargaan dan cinta, maka Perjamuan Arwah mengenai kebutuhan tak terbatas yang berlebihan akan segala hal yang diidamkan oleh para tokoh dalam perjamuan. Dalam perjamuan semua keinginan mereka dapat dikabulkan dengan syarat sepadan, tentunya dengan plot twist yang mengundang keterkejutan dari diri pembaca.</p>
<p>Kedua karya Wicak ini mengandung kisah tentang keluarga yang harmonis dan dalam novel Perjamuan Arwah diceritakan dengan alur mundur. Contohnya ketika orang tua Mira pergi untuk menghabiskan waktunya berdua. Dimana hal tersebut adalah hal yang biasa mereka lakukan. Namun sayangnya pada suatu hari kedua orang tua Mira mengalami kecelakan yang mengakibatkan mereka kehilangan nyawanya. Semua masalah Mira dan saudaranya dimulai dari sini.</p>
<p>Dalam kedua buku, perangkaian kata-kata sangat cukup terperinci, jelas, dan imajinatif sehingga pembaca akan jauh lebih mudah menilai suasana dalam cerita tersebut seolah-olah merasakan kejadian tersebut. Contohnya dalam sebuah petikan, “ketika Mira menuangkan isi poci itu ke cangkir. Cairan berwarna kuning agak jingga mengalir memenuhi cangkir. Aroma jamu yang pekat menyeruak, dibarengi aroma manis dengan sedikit pedas dan asam jawa.”</p>
<p>Dari novel perjamuan arwah ini kita mendapatkan pesan moral bahwa dalam kehidupan ini keluarga adalah harta yang paling berharga, kekayan dan keserakahan tidak akan dapat menggantikan hubungan persaudaraan dan kekeluargaan. Selain itu kita juga belajar bahwa segala sesuatu pasti ada imbalannya, yang sering kita sebut timbal balik. Jangan sampai hanya karena kepuasan duniawi kita mengorbankan hal yang paling berharga yang kita miliki.</p>
<p>Baihaqi Hakim Mursalin dan Kinanti Syabitha Azni</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-perjamuan-arwah-makan-bersama-para-arwah/">Resensi Novel &#8220;Perjamuan Arwah&#8221;: Makan Bersama Para Arwah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/elexmedia.s3.amazonaws.com/product/9786230051098.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Resensi Novel &#8220;Yellowface&#8221;: Kebohongan, Identitas, dan Konfrontasi</title>
		<link>https://jakpos.id/resensi-novel-yellowface-kebohongan-identitas-dan-konfrontasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Dec 2023 02:24:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Novel Yellowface]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62333</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul : Yellowface Penulis : Rebecca F. Kuang Tahun Terbit : 2023 ISBN : 978-602-06-7280-9&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-yellowface-kebohongan-identitas-dan-konfrontasi/">Resensi Novel &#8220;Yellowface&#8221;: Kebohongan, Identitas, dan Konfrontasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Judul : Yellowface</strong></em><br />
<em><strong>Penulis : Rebecca F. Kuang</strong></em><br />
<em><strong>Tahun Terbit : 2023</strong></em><br />
<em><strong>ISBN : 978-602-06-7280-9</strong></em><br />
<em><strong>Jumlah Halaman : 336 halaman</strong></em><br />
<em><strong>Alih Bahasa : Poppy D. Chusfani</strong></em><br />
<em><strong>Penerbit : Gramedia Pustaka Utama</strong></em></p>
<p>Dalam kisah penuh intrik, June Hayward memiliki pertemanan tak biasa dengan Athena Liu. Seharusnya mereka bisa menjadi penulis muda dengan berbagai kesamaan dalam hal pencapaian, seperti berkuliah di Yale dan melakukan debut di tahun yang sama dalam dunia penerbitan. Namun, Athena menjadi sosok yang digemari dalam berbagai genre sastra, sementara June harus mengalami kekecewaan karena buku pertamanya gagal total. June berpikir bahwa cerita tentang gadis-gadis kulit putih biasa tidak diminati oleh siapa pun.</p>
<p>Di sebuah malam, saat mereka sedang berada di apartemen Athena, June menyaksikan tewasnya Athena karena sebuah insiden di hadapannya. Kemudian ia bertindak secara impulsif, di mana ia mencuri sebuah draf mahakarya Athena yang belum selesai. Sebuah novel eksperimental mengenai kontribusi yang tidak diakui dari buruh Tionghoa terhadap upaya perang Inggris dan Prancis selama Perang Dunia I. June melanjutkan dan mengirimkan draf tersebut kepada Brett, agennya. Namun, ia mengakuinya sebagai karya murni ciptaannya sendiri. Ia menerbitkan sebuah novel dengan identitas barunya sebagai Juniper Song, lengkap dengan foto penulis yang bertentangan dengan etnis aslinya sebagai wanita berkulit putih. June menegaskan kepada publik bahwa aspek sejarah yang terdapat dalam bukunya layak untuk diceritakan, bahkan oleh siapapun yang menceritakannya.</p>
<p>Buku dengan judul “The Last Front” ini berhasil masuk ke dalam jajaran buku terlaris versi Goodreads dan The New York Times. Keberhasilan novel baru June ini terancam ketika tuduhan plagiarisme karena penulisannya menyerupai karya-karya Athena. Gaya penulisan dalam buku tersebut memang sudah sangat melekat pada diri Athena. June pada dasarnya tidak bisa lepas dari bayang-bayang Athena, dan bukti yang muncul satu per satu untuk mengancam dan menjatuhkan kesuksesan June. Puncaknya, Athena datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya melalui akun Twitter @HantuAthenaLiu dan akun Instagram pribadinya yang kembali aktif dengan unggahan terbaru yang mengintimidasinya.</p>
<p>Seringkali June berpikir logis bahwa kondisi stres atau ketakutan dirinya memberi pengaruh pada persepsi dirinya yang berhalusinasi akan hantu Athena. Namun, cepat atau lambat, kebenaran akan segera terungkap. Ia terus berpacu dengan waktu dan keadaan untuk melindungi rahasianya. Karya terbarunya yang berjudul “Mother Witch” juga diserang oleh publik secara habis-habisan karena diketahui mengambil penggalan paragraf pada karya pertama Athena saat masih berkuliah di Yale. Pada dasarnya hal ini kembali kepada diri June sendiri, yakni bagaimana cara ia mampu menyikapi dan bangkit dari hal tersebut?</p>
<p>Dengan perspektif June selaku orang pertama yang mengalir sepanjang cerita, maka segala sesuatu yang kita kenali tentang Athena dan penerbitan secara keseluruhan disaring melalui pemahaman June. Ini menjadi sebuah pendekatan yang menarik, terutama jika dilihat dari sisi penulis “Yellowface”, yaitu R. F. Kuang, yang merupakan seorang wanita Amerika keturunan Tionghoa yang menulis dari perspektif seorang wanita berkulit putih. Lebih lanjut lagi di dalam cerita, pertukaran budaya kembali terjadi ketika June, sang wanita berkulit putih, justru menerbitkan sebuah buku yang mengambil tema dari sejarah buruh Tionghoa pada masa Perang Dunia I, meskipun tentu saja ide tersebut merupakan hasil curian dari Athena.</p>
<p>Hal ini merupakan sebuah representasi “Yellowface” atau “Si Wajah Kuning” dalam bahasa Indonesia, karena June seringkali secara sengaja menampilkan dirinya sebagai wanita berkulit kuning, sebuah representasi warna kulit orang Asia. June juga marah apabila orang lain menganggapnya memutarbalikkan rasisme dan melihat dirinya sebagai korban karena menanggung beban hak istimewa karena ditinggal oleh Athena. Bentuk representasi ini juga bisa dianggap sebagai rasisme karena menggunakan nama dari suatu etnis untuk keuntungan dan kepentingan orang yang memiliki etnis yang berbeda. Sampai sekarang, rasisme masih menjadi sikap yang terjadi di manapun di dunia walaupun dianggap sebagai sebuah hal yang tabu. Meskipun begitu, R. F. Kuang berhasil menuliskan isu tersebut di dalam novel ini secara tersirat namun bisa meningkatkan kesadaran akan rasisme yang seringkali diterima oleh orang Asia Amerika.</p>
<p>Sepanjang cerita, tentu saja para pembaca masuk ke dalam pemikiran June, di mana hal ini bisa menjadi hal yang unik. Pembaca dapat menilai seberapa jauh ia membenarkan tindakan “gila” nya yang mengerikan dan tidak etis sebagai seorang penulis. Seringkali ia melakukan tindakan ini ketika sedang berinteraksi dengan komunitas Tionghoa Amerika, terutama ketika ia berada di sebuah klub buku kecil untuk orang tua. Pada saat itu ia bahkan berpikir akan muntah saat menyantap hidangan Tionghoa yang umum disajikan. Pada akhirnya buku ini mengungkap siklus pelecehan budaya yang terjadi, serta persaingan. Buku ini cenderung lebih termasuk pada genre satir apabila dibandingkan dengan genre horor meskipun penulis sebenarnya berhasil menciptakan atmosfer yang menyeramkan dengan menghadirkan elemen misteri yang menyelubungi keseluruhan cerita. Namun, sorotan dalam cerita lebih berfokus kepada beragam isu berlapis-lapis selain rasisme yang digambarkan dalam novel ini, yang membuatnya sangat atraktif untuk dibaca.</p>
<p>Dalam penokohan, penggambaran sifat dari June yang tercela dijelaskan secara tersirat namun pembaca dapat dengan mudah mengetahuinya. Sikap licik dan keinginan untuk terkenal secara instan membuat June mencari dan melegalkan segala cara untuk mencapai kesuksesan. Pada dasarnya setiap tokoh mencari keuntungan dari satu sama lain. Selain June, sifat dari Geoff, mantan kekasih Athena, yang menjadi salah satu karakter penting dalam cerita ini, dituliskan secara tersirat namun juga sangat mudah untuk “dibenci” oleh para pembaca. Sama seperti June, Geoff juga dituliskan sebagai orang yang akan melakukan segala cara demi mendapatkan keuntungan walaupun cara yang dilakukan sangat amat tidak etis karena tidak menghormati Athena yang sudah meninggal. Ia memeras June dengan mengatasnamakan Athena guna mencari keuntungannya sendiri. Bahkan hal ini juga terlihat ketika Athena, yang dipandang sebagai sosok yang lugu, jauh sebelum para pembaca mengetahui fakta bahwa ia pernah mencuri ide cerita dari June ketika mereka mereka masih berkuliah di Yale.</p>
<p>Isu hubungan dengan teman dan keluarga juga cukup dimunculkan dalam cerita ini. June haus akan kontak antar manusia, pelukan, percakapan jujur ​​tentang hal-hal yang penting, tawa dan kekonyolan. Tetapi itu semua hanya menjadi angan-angan June. Ayahnya diketahui sudah meninggal dalam cerita dan novel pertamanya menceritakan tentang kesedihan akan kematian ayahnya. Ibunya adalah seorang wanita praktis yang setelah ditinggal oleh suaminya, melakukan berbagai pekerjaan yang memungkinkannya memiliki tabungan yang cukup untuk menyekolahkan kedua putrinya hingga perguruan tinggi. Ia sekarang tinggal dengan nyaman di rumahnya sendiri. Nasib June cukup malang. Ibu dengan latar belakang pekerja keras tentu saja tidak mampu memahaminya, bahkan ia bersikeras menyarankan June untuk berhenti sebagai penulis dan memulai pekerjaan baru yang keuangannya lebih stabil. Hubungannya dengan adiknya hanya biasa-biasa saja. Tidak ada minat mencari cinta atau teman baru. Hidupnya bersifat satu dimensi, mengejar ketenaran sastra. Tidak ada nasib yang lebih buruk daripada diusir dari dunia penerbitan.</p>
<p>Kuang sebagai seseorang yang ahli di bidangnya juga membeberkan semua representasi tentang bagaimana media sosial seperti Twitter bisa tampak seperti dunia bagi para penulis, yang kemungkinan besar cukup terisolasi dalam dunia menulis mereka sendiri. Beragam komentar negatif yang ditulis oleh para pengguna Twitter di dalam buku ini seringkali mempengaruhi kesehatan mental sang penulis, meskipun mereka hanyalah sebagian kecil dari jumlah pembaca, dan biasanya tidak terlalu berdampak terhadap penjualan buku. Penulis seperti June ingin merasa dipuja, penting, berharga, dan diinginkan, dan ia berharap untuk memiliki para pengikut yang senantiasa menunggu dengan cemas untuk postingan media sosial berikutnya.</p>
<p>Gaya bahasa Kuang dalam buku ini dapat dismpaikan sebagai elegan dan terperinci. Ia pandai dalam memilih kata-kata dengan cermat dan menciptakan kalimat-kalimat yang terstruktur dengan baik. Kuang cenderung mengungkapkan pemikirannya dengan penuh pertimbangan, memperlihatkan kedalaman pemikiran dan kejernihan dalam menyampaikan gagasannya. Ia juga seringkali menggunakan kata-kata yang lebih mendalam dan menyelidiki konsep-konsep yang lebih kompleks, menciptakan lapisan dalam dialog dan narasinya. Setiap tokoh bisa mencerminkan kepribadiannya masing-masing, karena seringkali Kuang memberikan kontras dengan gaya bahasa karakter lain dalam cerita. Hal ini membantu para pembaca untuk mengenal setiap karakter sebagai individu yang berbeda dengan keunikan dan kekhasannya sendiri.</p>
<p>Meskipun begitu, sangat disayangkan bahwa buku ini memiliki beberapa kekurangan. Tidak sedikit masalah dari June dapat diatasi dengan mudah dan beberapa karakter mengalami perubahan sifat total yang cenderung dipaksakan. Pemaksaan ini dilakukan agar narasi yang ingin dibawa tetap bisa dilanjutkan, walaupun pada akhirnya mengorbankan kontinuitas dari sifat beberapa karakter. Fase klimaks yang terjadi menjelang akhir cerita juga membuat pembaca merasa sedikit kecewa karena alur ceritanya yang maju dan mundur ini kurang memuaskan dan sering berlompatan, meskipun pembaca masih cukup untuk mengerti dengan jalannya cerita.</p>
<p>“Yellowface” mengangkat permasalahan yang berat dan tabu tentang keberagaman dan rasisme budaya. Bukan hanya dalam industri penerbitan, tetapi juga mengenai suara dan sejarah masyarakat Asia di Amerika. Ada begitu banyak hal ditulis dalam novel yang seringkali membuat pembaca merasa tidak nyaman, tetapi juga terasa begitu nyata karena sebagian besar berdasarkan fakta. Sebagai contoh pengambilan tema dari sejarah buruh Tionghoa pada masa Perang Dunia I dapat membuka kembali luka lama keturunan para buruh tersebut. Cerita ini bukan sekadar narasi tentang kejadian-kejadian misterius, melainkan sebuah penggalian mendalam mengenai tekanan sosial, perjuangan dalam mempertahankan citra sempurna, serta konsekuensi dari rahasia yang tersembunyi.</p>
<p>Selain itu, industri penerbitan yang kompetitif antar sesama di dalam dunia nyata juga terkadang menganggap keberhasilan penjualan merupakan hal yang utama. Karena pada dasarnya industri bukanlah tentang kreativitas, tetapi tentang apa yang memiliki potensi penjualan yang tinggi di kalangan masyarakat guna menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Kuang ingin membocorkan seperti apa penerbitan bagi mereka yang berada di luar dunianya. Akhir kata, buku ini memberikan nuansa yang cukup relevan dengan masa kini, kritis, sangat cocok dan mudah untuk dipahami oleh pembaca usia dewasa tanpa perlu memahami seluk beluk dunia penerbitan sebelumnya.</p>
<p><em>Gabriel Perigrinus Satrio dan Reiner Ayrton Joseph<br />
Mahasiswa Universitas Indonesia semester 5 jurusan Sastra Belanda</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-yellowface-kebohongan-identitas-dan-konfrontasi/">Resensi Novel &#8220;Yellowface&#8221;: Kebohongan, Identitas, dan Konfrontasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/cdn1-production-images-kly.akamaized.net/kodzJWKJmf0jXSzzr6hvW7TuZ4s=/839x0:3273x2434/1200x900/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4681160/original/068047100_1702256084-novel.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Resensi Novel “Dompet Ayah Sepatu Ibu”: Perjalanan Panjang Keluar dari Kemiskinan</title>
		<link>https://jakpos.id/resensi-novel-dompet-ayah-sepatu-ibu-perjalanan-panjang-keluar-dari-kemiskinan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Dec 2023 02:15:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Dompet Ayah Sepatu Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62330</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul : Dompet Ayah Sepatu Ibu Penulis : J.S Khairen Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-dompet-ayah-sepatu-ibu-perjalanan-panjang-keluar-dari-kemiskinan/">Resensi Novel “Dompet Ayah Sepatu Ibu”: Perjalanan Panjang Keluar dari Kemiskinan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Judul : Dompet Ayah Sepatu Ibu</em><br />
<em>Penulis : J.S Khairen</em><br />
<em>Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia</em><br />
<em>Tahun Terbit : 17 Juli 2023</em><br />
<em>Kota Terbit : Jakarta</em><br />
<em>Jumlah Halaman : 216 Halaman</em><br />
<em>ISBN : 9786020530222</em></p>
<blockquote>
<h3><em>Kemiskinan telah merenggut dunia dari mereka.</em><br />
<em>Kemiskinan membuat bermimpi pun harus tahu diri.</em></h3>
</blockquote>
<p>Kutipan di atas berasal dari karya terbaru J.S. Khairen, &#8220;Dompet Ayah Sepatu Ibu&#8221;. Dalam novel ini, pembaca akan diajak untuk menyaksikan perjalanan hidup yang dipenuhi dengan tantangan akibat kemiskinan. Kisah yang diangkat dalam novel ini tak lain adalah cerminan dari pengalaman hidup pribadi sang penulis.</p>
<p>J.S. Khairen merupakan seorang penulis kelahiran Padang, yang namanya semakin berkembang seiring dengan kesuksesan karyanya. Penulis yang telah menghasilkan sejumlah buku fiksi dan non-fiksi ini memiliki sejumlah karya yang tidak hanya menarik perhatian pembaca, tetapi juga berhasil menembus sebagai best seller di toko buku offline maupun online.</p>
<p>Diantara karya-karya populer dari J.S. Khairen adalah &#8220;Melangkah&#8221; (2020), &#8220;Kado Terbaik&#8221; (2022), dan &#8220;Bungkam Suara&#8221; (2023). Sejak tahun 2013 hingga saat ini, J.S Khairen telah menerbitkan 20 buku. Novel terbarunya, yang dirilis pada tanggal 17 Juli 2023, berjudul &#8220;Dompet Ayah Sepatu Ibu&#8221; dan membahas tema yang menggambarkan realitas perjuangan hidup dalam lingkup keluarga.</p>
<p>Dalam novel &#8220;Dompet Ayah Sepatu Ibu,&#8221; disampaikan kisah dua individu yang menghadapi kesulitan dalam hidup mereka. Cerita ini memfokuskan pada dua karakter utama, Zenna dan Asrul. Zenna, seorang anak keenam dari sebelas bersaudara, tinggal bersama keluarganya di lereng gunung Singgalang. Sejak masa kecil, Zenna telah terbiasa bekerja keras untuk mencari nafkah. Setiap hari, dia menempuh perjalanan naik-turun gunung ke sekolah dengan sepatu yang sudah usang, sambil membawa jagung rebus untuk dijual.</p>
<p>Di sisi lain, di punggung gunung Marapi, Asrul bersama adiknya, Irsal, dan ibunya, Umi, harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ayah mereka menikah lagi dan tinggal bersama istri keduanya. Asrul juga berasal dari latar belakang yang sulit, selalu mengintip dompetnya setiap kali menerima uang dari ayahnya. Meskipun mereka kadang-kadang mendapat uang dari ayah mereka, keuangan keluarga mereka tetap sulit.</p>
<p>Takdir mempertemukan Zenna dan Asrul di kampus. Hubungan mereka semakin kuat dan Koran Harian Semangat menjadi saksi kisah hidup mereka. Meski kehidupan mereka semakin membaik dan akhirnya mereka menikah, tantangan terus berdatangan.</p>
<p>Struktur novel ini terdiri dari 27 bab, setiap bab merupakan cerita pendek yang saling berkaitan. Walaupun pada awalnya terasa agak membingungkan dengan narasi yang saling bergantian mengisahkan Zenna dan Asrul, namun hal ini menjadi jelas bagi pembaca setelah membaca beberapa saat. Penulis dapat membuat pembaca menyatu dengan cerita dan mendalami setiap nuansa emosional yang disajikan.</p>
<p>Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. Melalui alur ini pembaca diajak untuk melihat bagaimana perjalanan hidup Zenna dan Asrul, mulai dari masa-masa mereka lulus SMA hingga ke tahap pernikahan dan kemudian berkeluarga. Penggunaan sudut pandang orang ketiga oleh penulis menempatkan pembaca dalam peran sebagai pengamat yang mengamati cerita dan mengikuti setiap cobaan dan kebahagiaan para karakter. Bahasa yang digunakan juga merupakan percakapan sehari-hari sehingga mempermudah pemahaman pembaca terhadap jalan cerita. Ada juga dialog-dialog yang menggunakan campuran bahasa Minang untuk mendekatkan pembaca pada latar belakang budaya Sumatera Barat yang menjadi latar tempat cerita dalam novel ini.</p>
<p>Namun, meski Khairen mampu menggambarkan alur perjalanan hidupnya sedetail mungkin, pembaca merasakan bahwa alur ini sedikit “terburu-buru” ketika memasuki penghujung bab 25 hingga epilog. Jalan cerita nya juga cukup klise dan mudah ditebak, seperti kisah perjalanan orang yang awalnya tidak mampu menjadi berkecukupan pada umumnya.</p>
<p>Untuk gaya bahasa yang digunakan oleh penulis, Khairen sering kali menggunakan metafora untuk menjelaskan suasana hati atau perasaan yang tengah dialami oleh tokoh utama dalam cerita. Misalnya “Ia paksa hatinya sesejuk Telaga Dewi di puncak Gunung Singgalang” dimana penulis menggunakan metafora ini untuk mengilustrasikan karakter tokoh utama yang berusaha tangguh di tengah cobaan.</p>
<p>Tak sampai di situ, contoh metafora lain yang digunakan oleh penulis misalnya “Saat itu juga, tangisnya lepas. Raungnya mengalahkan riung hutan bambu.” Perumpamaan ini menyiratkan tangisan seseorang yang sangat kuat bahkan melebihi suara riung hutan bambu. Hal ini menggambarkan emosi yang sangat besar dan mendalam.</p>
<p>Selain itu, terdapat perumpamaan “Air bah sudah menyusut, pindah ke kelopak mata Asrul.” dan “Ia pejamkan matanya sambil menangis merarau.” Perumpamaan ini menggambarkan seseorang yang menangis sambil menutup mata dengan suara yang memekik keras. Hal ini memberikan gambaran betapa sedihnya penderitaan yang dialami tokoh tersebut. Tampaknya kalimat perumpamaan memang merupakan ciri khas penulisan J.S. Khairen dalam novelnya. Suasana hati yang dialami oleh karakter diilustrasikan dengan detail, tak sebatas ditulis dengan adjective singkat seperti “sedih”, “bahagia”, “murung” saja. Selain ciri khas, penggunaan metafora ini berhasil memperlihatkan kemahiran J.S Khairen sebagai sastrawan untuk mengatasi keterbatasan leksikon atau ungkapan. Namun, tentu saja tak semua pembaca nantinya akan langsung menangkap makna dibalik metafora yang sering digunakan oleh penulis. Bisa saja beberapa metafora tersebut diartikan secara bias oleh pembaca.</p>
<p>Meski demikian, perlu diingat kembali bahwa penggunaan metafora ini memang ciri khas penulisan Khairen. Sebagai contoh lain, ia pun juga menggunakan gaya kepenulisan ini pada cerpen Catatan Harian Matahari Sebelum Kiamat, yakni pada kalimat “Tubuh mereka panjang-panjang seperti plasma api. Melihatku mendekat, mereka menggeliat. Memberikan tarian selamat datang ibu.” melalui platform Medium.</p>
<p>Selain itu, J.S. Khairen menggambarkan karakter dengan cukup detail melalui keseharian dan kerja keras yang dituai baik oleh Zenna dan Asrul. Karakter Zenna yang merupakan anak tengah di keluarganya mau tak mau harus menghidupi saudara-saudaranya yang masih kecil. Meski demikian, usahanya untuk membanggakan dan menghidupi keluarganya pun tak pernah padam. Khairen menggambarkan sosok Zenna sebagai sosok pekerja keras dan mau belajar pada bab sembilan “Tekad yang Keras”. Penulis juga menggambarkan situasi dimana peran perempuan diragukan untuk melakukan pekerjaan berat. Pada bab sembilan, Zenna bertekad untuk menjadi kuli pengrajin emas guna menghidupi adik-adiknya, sama seperti mendiang ayahnya dulu.</p>
<p>Pemilik toko emas tampak tak yakin. “Tangan Abakmu tangan kasar, tak cocok untuk perempuan” “Biarlah. Aku bisa.” Suaranya masih susah keluar. “Yang penting adik-adikku bisa sekolah.”</p>
<p>Melalui dialog ini, penulis menggarisbawahi karakter Zenna yang keras kepala dan begitu berprinsip guna mensejahterakan kehidupan adik-adiknya. Toh, usahanya ini berbuah besar sebab ketika adik-adiknya sudah tumbuh dewasa dan selesai kuliah, semuanya hidup sejahtera berkat tekad kuat Zenna sejak ia masih remaja. Sementara Asrul, sifatnya yang jahil dan cenderung nekat justru membawanya ke pengalaman-pengalaman hidup yang tak terduga. Misalnya, ketika ia berniat melamar di suatu kantor redaksi Harian Semangat hanya dengan mengandalkan surat-surat cinta lambat laun memperlihatkan kelihaiannya dalam menulis hingga menjadi wartawan terbaik se Indonesia seiring ia beranjak dewasa. Kedua tokoh ini sama-sama memiliki prinsip dan moral yang baik, yakni memuliakan ibu dan mensejahterakan keluarganya.</p>
<p>Dibalik sifat-sifat baik tokoh utama itu, ketika dihadapkan oleh pilihan untuk menikah, keduanya sama sekali tak berpikir kritis. Di Indonesia, pepatah bahwa “menikah membuka pintu rezeki” melekat di pikiran sebagian besar masyarakat Indonesia. Pepatah yang ditelan mentah-mentah oleh Asrul dan Zenna ini memberi gambaran lain bahwa kedua tokoh tersebut tidak berpikir panjang sebelum mulai berumah tangga. Secara finansial, mereka pun belum siap padahal menikah membutuhkan persiapan yang matang secara mental dan finansial supaya tidak berimbas ke anak-anak serta generasi selanjutnya.</p>
<p>Novel &#8220;Dompet Ayah Sepatu Ibu&#8221; juga menyajikan cerita yang sangat dekat dengan realitas masyarakat Indonesia. Dalam narasinya, novel ini menggambarkan situasi saat keluarga yang hidup dalam kemiskinan seringkali memilih untuk menikahkan anaknya dengan keluarga yang lebih berkecukupan. Dalam cerita ini, penulis memberikan potret kehidupan yang penuh dengan dinamika sosial, seringkali pertimbangan ekonomi menjadi faktor penentu utama dalam pengambilan keputusan tentang pernikahan. Penceritaan tentang tokoh utama, khususnya Zenna, memberikan sudut pandang mendalam tentang kenyataan pahit yang sering dihadapi oleh perempuan pada masyarakat kurang mampu.</p>
<p>Secara keseluruhan, novel ini mampu membawa pembaca melewati dinamika kehidupan yang penuh lika-liku dan membangun sebuah kisah yang inspiratif. Bagaimana privilege digambarkan, yang mungkin awalnya tidak ada, dapat diwujudkan melalui perjalanan hidup yang penuh perjuangan. Kisah ini memberi pesan mendalam kepada pembaca bahwa keluar dari lingkaran kemiskinan struktural bukanlah hal yang mustahil, melainkan suatu perjalanan yang membutuhkan langkah nyata dan keberanian untuk mengubah nasib.</p>
<p>Di benak pembaca, kini tertanam perspektif bahwa “dompet ayah” dan “sepatu ibu” bukan lagi sekadar dompet dan sepatu biasa, melainkan saksi perjalanan kehidupan kedua tokoh utama, Zenna dan Asrul, untuk keluar dari kemiskinan.</p>
<p><em>Resensi ditulis oleh Anggun Lia Rifani dan Sarah Khansa Alexandra</em><br />
<em>Mahasiswi Program Studi Belanda Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-novel-dompet-ayah-sepatu-ibu-perjalanan-panjang-keluar-dari-kemiskinan/">Resensi Novel “Dompet Ayah Sepatu Ibu”: Perjalanan Panjang Keluar dari Kemiskinan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/images-na.ssl-images-amazon.com/images/S/compressed.photo.goodreads.com/books/1692266010i/197081629.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
