<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/rumah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/rumah/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Mon, 25 Dec 2023 05:02:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Rumah Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/rumah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Gen Z dan Tantangan Memiliki Rumah</title>
		<link>https://jakpos.id/gen-z-dan-tantangan-memiliki-rumah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Dec 2023 05:02:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Z]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62428</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagaimana solusi untuk membantu generasi Z mempunyai rumah?</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/gen-z-dan-tantangan-memiliki-rumah/">Gen Z dan Tantangan Memiliki Rumah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Bagaimana solusi untuk membantu generasi Z mempunyai rumah?</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Ketika mendengar ancaman sulit mempunyai rumah bagi generasi Z pasti alasan yang terfikirkan oleh kita adalah karena harga properti yang terus meningkat. Tetapi pada kenyataanya jika dibandingkan dengan peluang-peluang bisnis di masa generasi Z meningkatnya harga rumah bukanlah faktor utama masalah ini. Lalu apa yang menjadi masalahnya?</p>
<p><strong>Gen Z atau Generasi Z adalah</strong> mereka yang lahir antara pertengahan 1997 sampai 2012. Pada tahun 2023 mereka berada di rentang usia produktif yaitu 12-26 tahun. memasuki usia produktif, generasi ini memperlihatkan gaya hidup yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Bukan hanya dalam budaya berpakaian dan berbahasa tetapi juga dalam memilih pekerjaan. dibalik itu generasi ini juga dihadapkan dengan sejumlah tantangan serius yang mennatang, dimana biaya hidup yang terus meningkat, beban utang pendidikan menjadi lebih berat, dan pasar kerja berubah secara dinamis.</p>
<p>Generasi Z dikenal sebagai &#8220;digital natives&#8221; karena mereka merupakan generasi pertama yang tumbuh dengan akses meluas ke internet dan teknologi digital sejak usia dini. Tidak heran Kemajuan teknologi yang sangat menarik, mudah dan cepat ini memunculkan peluang-peluang baru yang tidak terjarah oleh generasi-generasi sebelumnya. Karena hal itulah mereka lebih menyukai pekerjaan kreatif yang berkaitan dengan teknologi dan media sosial atau bekerja di start up yang memiliki peluang mempercepat karir dengan gaji yang cukup menggiurkan.</p>
<p>Adanya pandemi Covid-19 di tahun 2020 lalu juga menjadi gebrakan baru bagi generasi ini karena perusahaan-perusahaan jadi mengenal media-media yang dapat mempekerjakan seseorang tanpa harus merekrutnya sebagai karyawan tetap. Peluang yang memberi keuntungan bagi kedua belah pihak ini menjadi concern bagi generasi Z dalam memilih pekerjaan. mereka menjadi lebih memperhatikan work life balance dimana mereka mempertimbangkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan yang dimana pada generasi sebelumnya hal ini bukanlah suatu pertimbangan.</p>
<p>Tak heran jika mereka lebih menyukai pekerjaan yang bebas sebagai freelencer yang pekerjaannya dapat di lakukan di mana saja dan kapan saja. Karena kenyataannya, menjadi seorang freelancer memungkinkan mereka untuk mencapai klien dari berbagai lokasi, dengan potensi penghasilan keseluruhan yang seringkali melebihi Upah Minimum Regional (UMR). Terutama, hal ini menjadi lebih signifikan bagi mereka yang tinggal di luar wilayah Jabodetabek.</p>
<h3>Apa kaitannya dengan membeli rumah?</h3>
<p>Melihat kondisi di atas sepertinya kita akan berfikir seharusnya generasi Z lebih mudah menghasilkan uang dan membeli rumah. Namun kita lupa, setiap yang berdampak positif pasti terdapat sisi negatif nya. Tidak semua dari mereka dapat memanfaatkannya dan berhasil. Mungkin saja bagi mereka yang berhasil memanfaatkan segala peluang, kemajuan dan kemudahan di masa ini mereka dapat membeli rumah bahkan dengan cash sekalipun. Tetapi, bagaimana dengan mereka yang belum berhasil dan memiliki penghasilan rendah?</p>
<p>Satu-satunya hal yang dapat dilakukan bagi mereka yang memiliki penghasilan rendah-menengah adalah dengan mengajukan pembiayaan kredit ke bank atau yang biasa dikenal dengan KPR. Namun, kembali lagi melihat kondisi di atas dapat disimpulkan generasi Z cenderung memiliki kecenderungan untuk bekerja secara fleksibel, dengan kemudahan berpindah pekerjaan bahkan ke kota yang berbeda.</p>
<p>Banyak dari mereka yang hanya menetap dalam satu posisi pekerjaan selama 1-2 tahun sebelum memutuskan untuk berpindah ke peluang pekerjaan lainnya. Meskipun terlihat sebagai pilihan pribadi, hal ini sebagian besar disebabkan oleh kenyataan bahwa mereka harus beradaptasi dengan sistem kerja yang sering kali tidak menguntungkan bagi mereka.</p>
<p>Sedangkan, syarat seseorang mengajukan KPR diantaranya adalah memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap. Pekerjaan yang tidak tetap, gaji yang tidak pasti dan lokasi pekerjaan yang berpindah-pindah inilah yang menjadikan generasi Z menjadi takut untuk mengambil komitmen jangka panjang.</p>
<p>Menteri keuangan Sri Mulyani juga pernah mengatakan generasi Z akan semakin sulit punya rumah meskipun mereka membutuhkannya karena daya beli generasi ini yang tidak sebanding dengan harga rumah yang lebih tinggi .</p>
<h3>Bagaimana solusi untuk membantu generasi Z mempunyai rumah?</h3>
<p><strong>Edukasi dan Sosialisasi</strong></p>
<p>Edukasi terkait keuangan dan sosialisasi atas apa yang bisa terjadi di masa depan adalah salah satu cara agar generasi Z lebih aware dan melek terhadap ancaman di masa depan. Hal ini juga dapat membentuk sikap para generasi muda untuk lebih termotivasi dan mulai menata keuangan serta perencanaan masa depan mereka sedari dini mungkin.</p>
<p><strong>Program- program pemerintah</strong></p>
<p>Dalam hal ini peranan pemerintah sangat diperlukan, karena generasi muda adalah aset negara yang sangat berharga. Jangan sampai, akibat melonjaknya harga rumah dan pendapatan yang tidak sepadan. generasi-generasi muda ini memilih untuk tinggal dan berkarya di luar negri. Dengan adanya program-program yang membantu generasi muda ini untuk memiliki rumah keyakinan generasi muda akan tujuan kepemilikan rumah bukanlah suatu yang mustahil akan meningkat.</p>
<p>Terdapat beberapa program pemerintah dengan tujuan membantu generasi muda untuk memiliki rumah sudah ada, di antaranya :</p>
<ul>
<li>Program satu juta rumah</li>
<li>Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP)</li>
<li>Program Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM)</li>
<li>Program Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT)</li>
<li>Program Kredit Kepemilikan Rumah Subsidi Selisih Bunga (KPR SSB)</li>
</ul>
<p><strong>Pengembangan karir dan peluang kerja</strong></p>
<p>Melalui program pengembangan karir dan peluang pekerjaan, seperti pelatihan keterampilan dan magang, Generasi Z dapat membangun niat untuk merencanakan karir dan meningkatkan peluang mereka untuk mendapatkan penghasilan yang stabil.</p>
<p>Melalui kombinasi edukasi, sosialisasi, dan solusi finansial yang dapat memotivasi dan membentuk niat positif, Generasi Z dapat melangkah menuju kepemilikan rumah dengan keyakinan dan kesiapan yang lebih baik. Dengan dukungan dari pemerintah, lembaga keuangan, dan komunitas, masa depan kepemilikan rumah bagi Generasi Z dapat menjadi lebih terjangkau dan berkelanjutan.</p>
<p><em>Mevita Thalita Isna</em><br />
<em>STEI SEBI</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/gen-z-dan-tantangan-memiliki-rumah/">Gen Z dan Tantangan Memiliki Rumah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/media.suara.com/pictures/970x544/2017/10/06/27867-jual-beli-rumah-properti.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Rumah Terindah</title>
		<link>https://jakpos.id/rumah-terindah/</link>
					<comments>https://jakpos.id/rumah-terindah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 May 2016 12:11:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=5690</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tak seperti biasanya, sore ini begitu sunyi dan lengang. Suasananya santai dan udaranya sejuk untuk&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/rumah-terindah/">Rumah Terindah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5691" aria-describedby="caption-attachment-5691" style="width: 576px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/logo-home-sweet-home-clipart-2.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-post-5690 wp-image-5691 size-full" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2016/05/logo-home-sweet-home-clipart-2.jpg" alt="logo-home-sweet-home-clipart-2" width="576" height="400" /></a><figcaption id="caption-attachment-5691" class="wp-caption-text">Ilustrasi</figcaption></figure>
<p>Tak seperti biasanya, sore ini begitu sunyi dan lengang. Suasananya santai dan udaranya sejuk untuk dihirup.<br />
Langit sore ini berwarna kekuningan, ini semua karena sebelum senja tadi terjadi mencairnya air hujan. Ia membiaskan cahaya di langit, biasanya lahir si pelangi.,namun tak terlihat kali ini.</p>
<p>Ruang kamar kos ini lumayan nyaman, walaunpun penuh barang karena dihuni oleh dua gadis. Memang tidak senyaman kamar di rumah tetapi kamar ini bisa membuat nyaman saat tertidur lelap.</p>
<p>Tidak akan pernah ada tempat nyaman rumah sendiri. Ya, perasaan nyaman saat di rumah. Rasanya bisa membagi seluruh gundah gulana hingga keceriaan di rumah. Selalu menganggap rumah adalah surga. Sore yang sejuk ini mengingatkan pada sosok Ayah.</p>
<p>Seorang pria yang paruh baya itu selalu membersihkan gigi, menyisir rambut, mengantar kemanapun putrinya ingin pergi walaupun berkendara berpuluh-puluh kilometer, beliau selalu ada saat menengok kebelakang. Ayah adalah rumah.</p>
<p>Ayah adalah pria yang sangat pekerja keras, ulet, dan tidak pernah putus asa. Ia bekerja sebagai desainer grafis di perusahaan advertising swasta di Jakarta, kesibukannya kadang membuat ia tak bisa setiap hari berjumpa dengan putrinya. Setiap kali didekatnya, ada hal yang selalu menyenangkan untuk dilihat oleh mata. Terlihat saat guratan senyumnya muncul, senyumnya selalu berbinar walaupun wajahnya pucat pasi.</p>
<p>Hal yang paling indah yang bisa dibagikan itu ada tiga: waktu, ilmu, dan materi. Ketiga hal itu didapat dari ayah. Yang paling utama adalah ayah rela memberikan banyak waktu dan ilmunya. Itu yang paling berarti.</p>
<p>Saat masih kanak-kanak putrinya jarang bisa bertemu dengan ayahnya. Karena sibuk mengurusi event di luar kota, ia pernah tidak bertemu dengannya selama enam bulan lebih. Hanya suara yang dapat mempertemukan keduanya. Setiap malam hal yang ditunggu adalah telepon dari ayah. Putrinya selalu merindukannya.</p>
<p>Rasanya tidak pernah ingin jauh dari Ayah, Ayah mengajarkan banyak hal. Ayah selalu menanamkan kepercayaan dan menjadikan putrinya anak perempuan yang berani. Hingga sekarang. Ia juga mengajarkan untuk selalu menjadi diri sendiri dalam keadaan apapun. Teringat pada perkataan ayah “Bekalmu nasi goreng maka kamu akan jadi nasi goreng, bekalmu mi goreng maka kamu akan jadi mi goreng, bekalmu cahaya maka jadilah cahaya” Ayah membekali anaknya dengan itu semua hingga menjadikan anaknya kuat seperti sekarang.</p>
<p>Ayah selalu berusaha untuk menafkahi keluarganya, dengan cara apapun asalkan halal ia rela. Dengan kuatnya ia melakukan itu semua agar aku bisa lanjut bersekolah dan makan makanan yang sehat setiap harinya. Kehebatannya menyembunyikan segala sedih dan kepiluannya hingga ini masih membuat takjub.</p>
<p>Saat ada masalah dan tidak tahu lagi harus bagaimana, ayah menjadi tempat berbagi cerita. Berbagi waktu dan cerita dengannya adalah hal yang paling nyaman dan menentramkan hati. ia selalu mau mendengarkan semua keluh kesah, Ayah selalu tertawa bila sedang bercerita sedih. “ya kalau temen atau dosen ngeselin kok ya jangan di balikin kesel dong, nanti juga dia capek sendiri hahahaha anak ayah enggak boleh cengeng ah” ujarnya saat bercerita.</p>
<p>Setiap kali menghabiskan waktu rasanya tidak pernah cukup, rasanya ingin berbagi cerita dan tawa dengannya. Tapi bukankah memang begitu? Waktu memang tidak pernah selalu cukup.</p>
<p>Ayah selalu menegaskan “jangan pernah pelit sama siapapun, kalo punya ilmu, waktu atau uang ya bagi juga ke orang lain, jangan dimakan sendiri. Mau kamu jadi orang serakah terus perutnya buncit? ”</p>
<p>Sesungguhnya berbagi itu hal yang mudah jika kita mulai dari hal kecil hingga ke hal yang besar. Tidak peduli sesulit apapun itu, berbagi harus dilakukan. Karena sedari kecil hingga besar selalu diajarkan berbagi.</p>
<p>Rumah selalu memberikan tempat ternyaman untuk melakukan banyak hal, saat sedih pun bisa terasa nyaman di dalam rumah untuk mengobati rasa sedih. Ayah bak rumah yang menjadi tempat ternyaman, tempat di mana bisa meluapkan segala rasa yang ada dalam hati. Memang terkadang rasanya ingin pergi dan lari dari rumah untuk mencari banyak hal baru. Terkadang, rasanya ingin jauh dari Ayah agar bisa menghadapi dunia. Karena Ayah sudah menjadikan putrinya wanita yang hebat dan tidak takut akan apapun.</p>
<p>Setelah jauh dari rumah, banyak bertemu orang, memperhatikan banyak hal, sekarang banyak orang yang tidak menjadi dirinya sendiri dalam usaha menjadi dirinya sendiri. Memang hal yang terlihat mudah namun sulit untuk dilakukan. Ayah bilang “tetaplah jadi diri sendiri, nggak ada yg kayak ade. Orang kepala batu ini cuma ada satu di dunia. Ade spesial pokoknya”.</p>
<p>Sebagai manusia pasti ingin mencari apa yang diinginkan bagaimanapun caranya. Walaupun hingga mengelilingi dunia, banyak bertemu orang, berkendara berpuluh-puluh bahkan ribuan kilometer, makan pagi dan makan siang di tempat yang berbeda, berbicara banyak hal hingga mendengarkan apapun yang ditemui telinga dan ini adalah apa yang kita inginkan, setelah itu baru setelahnya akan sadar sesungguhnya hal inginkan adalah pulang ke rumah.</p>
<p><strong>Sonya Annasha Bonita</strong><br />
<strong> Mahasiswi Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/rumah-terindah/">Rumah Terindah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/rumah-terindah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
