<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sagra Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/sagra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/sagra/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Dec 2023 04:01:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Sagra Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/sagra/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Resensi Buku Sagra Karya Ida Ayu Oka Rusmini</title>
		<link>https://jakpos.id/resensi-buku-sagra-karya-ida-ayu-oka-rusmini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Dec 2023 04:01:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ida Ayu Oka Rusmini]]></category>
		<category><![CDATA[Sagra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62310</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul Buku : Sagra Penulis : Ida Ayu Oka Rusmini Tahun Terbit : 29 Maret&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-buku-sagra-karya-ida-ayu-oka-rusmini/">Resensi Buku Sagra Karya Ida Ayu Oka Rusmini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Judul Buku : Sagra<br />
Penulis : Ida Ayu Oka Rusmini<br />
Tahun Terbit : 29 Maret 2023<br />
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama<br />
Jumlah Halaman : 182<br />
Genre : Fiksi (18+), Feminisme, Bali<br />
Bahasa : Indonesia</p>
<p>“Hyang Widhi, apakah kau laki-laki? Sehingga kau tak pernah memahami keinginan dan bahasa perempuan sepertiku?” – Oka Rusmini dalam Sagra.</p>
<p>Apa pandangan Anda sebagai pembaca ketika melihat Tuhan dimanusiakan? Bagaimana semestinya kita berdialog dengan Tuhan?</p>
<p>“Apakah sebagai perempuan aku terlalu loba, tamak, sehingga Kau pun tak mengizinkanku memiliki impian?”</p>
<p>Kumpulan cerpen Sagra memiliki kekhasan yang menghimpun menjadi beberapa kisah perempuan dengan ragam latar belakang, persoalan hidup, dan tekanan yang menghimpit. Kisah yang intens di dalamnya mengisahkan mengenai lukisan kehidupan perempuan yang terepresi oleh adat patriarki. Dengan gamblang, kisah-kisahnya menguak adat Bali yang begitu kental dengan keindahannya yang kerap kali menjelma sebagai instrumen harmonis dalam berdialog dengan Hyang Widhi.</p>
<p>Oka Rusmini populer sebagai penulis yang mengangkat cerita feminisme terutama yang berkaitan dengan budaya Bali. Dia memulai karirnya sebagai wartawan Bali Post sejak 1990 hingga kini. Karyanya yang paling populer berjudul Tarian Bumi (2000) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Earth Dance. Banyak penghargaan yang dimenangkan oleh Oka atas novel-novelnya yang menakjubkan dengan setia mengangkat tema feminisme perempuan Bali yang terkekang oleh adat dan norma Bali. Seperti yang terkandung dalam novel: Tarian Bumi (2000), Patiwangi (2003), Kenanga (2003), Warna Kita (2007). Pada akhirnya, karya-karyanya mengantarkan Oka untuk meraih Penghargaan Penulis Asia Tenggara (2012) dari pemerintah Thailand serta penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa (2014).</p>
<p>Oka sungguh mahir membuat cerita yang mengajak pembaca terlarut dalam dunia melalui kacamata perempuan. Dengan gaya bahasa khasnya serta ide feminis terhadap hukum Bali, ia mengemas tulisan-tulisannya secara ‘telanjang’ dan berani untuk mengekspresikan tubuh perempuan yang tersayat-sayat akibat persetubuhan. Hal tersebut terdapat pada salah satu cerpennya yaitu Kakus. Ia menuangkannya lewat kalimat “Tangan-tangannya yang kurus dan dipenuhi urat-urat yang menonjol mulai menyentuh kulitku, Hyang Widhi, aku seperti menari di atas bangkai.”</p>
<p>Di dalam novel Sagra ini, terdapat 11 cerpen yang disajikan dengan latar belakang sosial budaya Bali. Sagra menyorot perempuan sebagai pusat dari semesta tiap kisahnya. Hal ini sudah menjadi lumrah diadopsi oleh Oka, bahkan bisa dibilang ini merupakan ciri khas yang tak luput dari karya sastranya. Salah satu cerpennya antara lain berjudul “Putu Menolong Tuhan” yang bercerita tentang seorang wanita yang dibunuh dengan didorong ke sumur oleh cucunya bernama Putu. Putu merupakan keturunan brahmana yang dibesarkan di lingkungan sudra. Selama hidup, Odah-nya putu dianggap jahat karena perilaku buruk yang dilakukannya. Putu merasa telah membantu Tuhan dengan menyingkirkan orang jahat. Cerpen lain berjudul “Pemahat Abad” mengisahkan tentang Kopag, seorang brahmana yang pandai mengukir dan memahat patung. Sayangnya, ia harus membayar karma dari perbuatan ayahnya dengan terlahir buta. Dengan keunikannya tersendiri, Kopag menilai kecantikan seorang perempuan yang dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang.</p>
<p>Sagra sendiri tergolong ke dalam kumpulan cerpen yang bergenre dewasa. Tema seputar seksualitas dan tubuh perempuan dibahas dengan frontal oleh Oka. Tubuh dianggap sebagai sesuatu yang secara fundamental melekat dengan perempuan setelah seluruh aspek kehidupan dianggap menjadi milik laki-laki. Perempuan juga memiliki perasaan, memiliki hati, hak untuk hidup, dan hak untuk diperlakukan sebagai manusia, sebagai subjek dan bukan sebagai objek. Oleh karena itu, pada buku fisiknya dilabeli 18+. Di dalam novel ini terdapat kata atau kalimat yang mengandung unsur dewasa. Hal tersebut dapat ditemui pada judul “Pesta Tubuh” yang bertuliskan :</p>
<p>‘Kami anak perempuan di bawah lima belas tahun, dihabisi di tempat tidur’&#8230;. ‘Kami harus melayani sepuluh sampai lima belas laki laki’ &#8230;. ‘ tubuh kecil kami di telanjangi, diikat, dihirup digigiti, ditusuk berkali-kali&#8230; Laki laki kuning langsat itu menyantap tubuh kami dengan rakusnya’.</p>
<p>Pesta Tubuh adalah salah satu dari cerpen yang berceritakan perempuan-perempuan Indonesia yang dipaksa untuk melayani para penjajah. Tak jarang dari mereka yang masih berusia belasan tahun.</p>
<p>Bahasa yang digunakan dalam Sagra cukup sulit untuk dimengerti karena kebanyakan memakai analogi atau perumpamaan. Seperti pada judul “Api Sita” pada saat ia sedang berada di antara perempuan muda, yang bertuliskan :</p>
<p>‘dia mulai memahami arti satu demi satu potongan tubuh barunya. Bongkahan bunga kecil di dadanya dengan batu kecil yang selalu tegak bila diusapnya. Bongkahan bunga kecil yang di selangkanagannya selalu lapar pada malam hari. Bunga itu akan merekah, mengalirkan air berwarna putih setiap tangannya menggosoknya’.</p>
<p>Pada analogi diatas, sebuah gunung kecil di dada serta batu kecil yang selalu tegak merupakan perumpamaan dari payudara dan puting nya, dan bongkahan bunga di selangkanganya yang selalu lapar di maksudkan adalah alat kelamin wanita.</p>
<p>Alur cerita kebanyakan cerpen dalam novel ini mengadopsi alur maju-mundur sehingga pembaca mendapatkan kilasan balik akan bagaimana tragedi bermula. Latar belakang pemeran utama dijelaskan secara rinci dengan monolog yang menyelingi cerita.</p>
<p>Sagra sendiri merupakan judul cerpen yang mengisahkan cerita kompleks seorang gadis bernama Sagra.</p>
<p>Cerita ini diawali dengan kematian anak keturunan brahmana yang meninggal dalam sebuah bak mandi, ia adalah anak kedua dari Cemeti, yaitu anak dari Pidada, keluarga keturunan brahmana. Setelah kematian anaknya, Cemeti bunuh diri dengan meminum racun. Sagra adalah orang sudra yang menjadi pengasuh anak dalam keluarga brahmana [ keluarga Pidada, ibu dari Cemeti ] tersebut. Cerita mengalir mundur mengisahkan latar belakang Sagra; anak dari Sewir yang merupakan teman dari Pidada. Ayah Sagra yaitu Jegog, telah lama meninggal di kali Badung. Sementara itu, beberapa tahun kemudian, suami dari Pidada juga meninggal di kali Badung. Masyarakat setempat menganggap itu sebuah kutukan karena Sewir hamil di luar nikah. Mereka menuntut serangkaian upacara agar desa itu dibebaskan dari kutukan. Sagra tidak mengetahui yang sebenarnya bahwa ayah dari Sagra adalah seorang pria keturunan brahmana, suami dari Pidada.</p>
<p>Sagra tidak hanya menampilkan tentang kumpulan kisah-kisah dari masyarakat Bali, namun juga memberikan pengetahuan tentang bahasa bali sehari-hari yang orang bali ucapkan.</p>
<p>‘Sagra’ merupakah salah satu judul dari cerpen yang ada di buku ini. Sagra dijadikan sebagai judul buku karena ceritanya yang menarik dan mengandung pesan kepada setiap pembacanya. Kisah yang menceritakan percintaan rahasia antar keluarga yang terjadi dalam perbedaan kasta di Bali. Bencana, karma dan kemelut terjadi dalam dua keluarga ini, Sudra dan Brahmana.</p>
<p>“Hyang Jagat, Dosa apa yang ditanam dinasti Pidada dan dinasti leluhurku? Rahasia apa yang mereka tanam dalam lubang kematian? Tidak inginkah orang-orang itu mengakui dosa mereka atau kutukan yang harus dibayar, sehingga rangkaian kematian di sekitar hidupku bisa kuhentikan!”</p>
<p>Hingga akhir cerita, penulis tidak menceritakan fakta yang sebenarnya dan mengajak pembaca untuk mengetahui fakta dari sudut pandang masing masing. Oka sengaja menyiratkan pesan ini agar pembaca mengerti segala macam dosa yang telah dilakukan, pasti ada karmanya.</p>
<p>Irzy Raihan Aryo Nugroho<br />
Mahasiswa Program Studi Belanda Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/resensi-buku-sagra-karya-ida-ayu-oka-rusmini/">Resensi Buku Sagra Karya Ida Ayu Oka Rusmini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/cdn.gramedia.com/uploads/picture_meta/2023/3/30/e2vqmu9lhuzjy6uurff9fj.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
