<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tradisi Betawi Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/tradisi-betawi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/tradisi-betawi/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 May 2024 06:23:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Tradisi Betawi Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/tradisi-betawi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sahibul Hikayat: Tradisi Betawi yang Nyaris Tak Terdengar</title>
		<link>https://jakpos.id/sahibul-hikayat-tradisi-betawi-yang-nyaris-tak-terdengar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 May 2024 06:23:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahibul Hikayat]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=68398</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Dahulu, sebelum ada media TV swasta, yang menayangkan berbagai hiburan, mulai&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/sahibul-hikayat-tradisi-betawi-yang-nyaris-tak-terdengar/">Sahibul Hikayat: Tradisi Betawi yang Nyaris Tak Terdengar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Dahulu, sebelum ada media TV swasta, yang menayangkan berbagai hiburan, mulai dari sintron, musik, travelling, dan tayangan lainnya, Radio menjadi salah satu media komunikasi yang dibanggakan.</p>
<p>Pada era 70-an, hanya ada RRI, dan beberapa Radio Swasta, seperti RKM, Radio Kayu Manis. Hampir setiap saat, masyarakat, terutama masyarakat Betawi, selalu mendengarkan program acara tertentu. Kalau ingin mendengarkan ceramah agama Islam, mereka mendengarkan siaran Kuliah Subuh dari RRI dan RKM.</p>
<p>Para penyiar dan penceramahnya orang-orang tertentu dan hebat, seperti KH. Kosim Nurseha, Buya Hamka dan Zakiah Daradjat, penceramah agama Islam di RRI. Sementara KH. Kosim Nurseha, selalu mengisi ceramah di RKM ( Radio Kayu Manis). Beliau menjadi penceramah tetap fi Radio tersebut. Baik mereka yang mengisi acara di RRI atau di RKM, mereka juga sebagai pengisi acara keagamaan di stasion TVRI, saat malam Jum’at. Jadi, mereka adalah orang-orang hebat saat itu. Jika saatnya tiba, masyarakat pendengar dengan khusuk mendengarkan isi ceramah yang disampaikan. Bahkan masyarakat pendengar selalu menantikan jadual acara tersebut.</p>
<p>Bahkan para pendengar juga sangat antusias mendengarkan acara sandiwara Brama Kumbara, yang mulai disiarkan era 80 an. Semua telinga mendekat ke Radio untuk mendengarkan jalannya cerita Brama Kumbara tersebut.</p>
<p>Dan ketika RRI dan Radio Swatsa membuat program cerita rakyat, Sohibul Hikayat, hampir semua orang Betawi mendengarkan cerita yang dibawakan oleh Sang Empunya cerita, Sohibul Hikayat. Terutama ketika Jait, sang Sohibul Hikayat, menceitakan kisah seorang putri raja, yang diculik makhluk Jin, semua telinga terpasang mendengarkan kelanjutan cerita tersebut.</p>
<p>Dalam setiap awal cerita, selalu dimulsi dengan ksta, “Syahdan, Bang Jait, melanjutkan ceritanya sampai jin itu masuk ke botol, tapi dia lupa, kalau sang puteri itu makhluk kasar, yang gak bisa mengecil dan menghilang. Akhirnya para prajutit berhasil membawa pulang sang puteri ke istana raja. Jin yang terperangkap di dalam botol, gak bisa ke luar. Di situlah Sang Sohibul Hikayat berperan dengan mengatakan<br />
“Rasain lu jin, emang enak dalam botol, yang pengap. Gsk bisa keluar lu jin”.</p>
<p>Tradisi cerita Betawi yang melegenda ini, terpengaruh dari cerita masyarakat Kota Bagdad, yang tertuang dalam satu karya Alfu Lailah Wa Lailah. Semua</p>
<p>Sohibul Hikayat, selain mengisi acara di radio, dia juga sering dipanggil untuk acara pernikahan, menghibur para tetamu undangan. Biasanya, sekitar jam 8.00 sampai jam 10.00 malam dia bercerita. Berhikayat tentang kehidupan para raja dan istana. Ide ceritanya selalu merujuk ke cerita istana Baghdad. Karena referensinya adalah Cerita Seribu Satu Malam, alfu lailah wa lailah. Semua cerita selalu berpulang ke raja Syahriyar dan permaisuri. Jadi ceritanya selalu tentang raja, permaisuri, istana, Jin, Tukang Sihir dan tempat-tempat tertentu di Timur Tengah.</p>
<p>Cerita seperti inilah yang selalu disampaikan lewat tutur kata Sang Empunya Cerita. Tentu saja sudah banyak mendapatkan modifikasi alur cerita dari Cerita rakyat Bagdad dan Persia ke dalam cerita khas Islam Nusantara dan Betawi.</p>
<h3>Sohibul Hikayat Sebagai Media Dakwah.</h3>
<p>Meskipun pada masa awalnya referensi cerita dalam Sohibul Hikayat bernuansa Timur Tengah dan Nusantara, lama kelamaan, merefer ke tradisi dan cerita lokal di Betawi sebagai penanda identitas Betawi, sehingga banyak cerita bernuansa kebetawian.</p>
<p>Sebagaimana diketahui bahwa Sohibul Hikayat, merupakan saduran dari cerita yang pernah terjadi pada masa Harun sl-Radyid dari Dinasti Bani Abbasiyah(750-1258 M), yang berarti banyak cerita tentang kondisi masyarakat Islam yang religius. Kisah-kisah tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, termasuk sastra dan budaya, menjadi bahan menarik untuk dijadikan sebagai media dakwah. Cuma, tradisi bertutur cerita ini stau Sohibul Hikayat, sudah hilang. Bahkan nyaris tak terdengar.(Odie).</p>
<p><em>Pamulang, 07-05-2024</em><br />
<em>Murodi al-Batawi</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/sahibul-hikayat-tradisi-betawi-yang-nyaris-tak-terdengar/">Sahibul Hikayat: Tradisi Betawi yang Nyaris Tak Terdengar</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/www.senibudayabetawi.com/wp-content/uploads/2021/10/maxresdefault-3.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Silat Betawi: Tradisi Maen Pukulan Masyarakat Betawi</title>
		<link>https://jakpos.id/silat-betawi-tradisi-maen-pukulan-masyarakat-betawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Apr 2024 01:46:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Silat Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=67672</guid>

					<description><![CDATA[<p>Maen pukulan bukan berarti orang Betawi dengan seenak jidatnya mau pukul orang lain begitu saja</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/silat-betawi-tradisi-maen-pukulan-masyarakat-betawi/">Silat Betawi: Tradisi Maen Pukulan Masyarakat Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Dalam bahasa Betawi, permainan silat disebut <em><strong>Maen Pukulan</strong></em>. Tapi jangan salah memahaminya. Maen pukulan bukan berarti orang Betawi dengan seenak jidatnya mau pukul orang lain begitu saja, tanpa sebab. Kalau dipahami begitu, berarti orang Betawi suka kekerasan dan berkelahi. Suka bermusuhan dan mencari musuh. Padahal tidak seperti itu.</p>
<p>Orang Betawi sangat egaliter dan mau menerima siapa saja mau datang dan berkunjung ke rumah orang Betawi. Banyak cerita menarik dari beberapa teman yang baru datang ke tanah Betawi dari daerah, baik untuk sekolah, untuk bekerja atau untuk berdagang atau hanya mengadu nasib di tanah Betawi.</p>
<p>Mereka sering mengatakan orang Betawi itu sangat baik, ramah dan mau menolong. Bahkan orang Betawi dahulu mau menampung sementara mereka yang ingin mengadu nasib di tanah Betawi, Jakarta dan sekitarnya. Mereka diberikan fasilitas kamar dan tempat tidur serta makan, tanpa bayar sebelum mereka mendapatkan pekerjaan dan penghasilan.</p>
<p>Bahkan kemudian banyak di antara mereka yang dijadikan menantu untuk dinikahkan dengan puterinya. Peristiwa seperti itu terjadi sebelum tumbuh berkembangnya kontrakan. Tapi jangan salah, jangan sesekali menipu, bermain curang nakal dengan orang Betawi. Akan dihajar habis.</p>
<p>Karena orang Betawi memiliki slogan, Ikan Bawal Ikan Teri. Ente Jual Ane Beli, bahkan bukan hanya satu yang dibeli, diborong semuanya. Artinya, kalau tidak jujur, bermain curang dan melakukan tindakan dan perilaku tak senonoh, atau menipu, habis diusir dari tempat tinggalnya dan dilarang kembali dan bertemu lagi.</p>
<p>Kalau masih berani menunjukkan batang hidungnya, baru dilakukan tindakan kekerasan, dengan cara adu kekuatan fisik. Adu kekuatan fisik ini dalam komunitas etnis Betawi sering disebut “Maen Pukulan “atau bahasa sekarang kemudian dikenal dengan debutan “Permainan Silat”.</p>
<p>Maen Pukulan atau Silat, merupakan cara orang Betawi mempertahankan diri dari serangan lawan. Karena itu, kita sering disajikan dengan tayangan bertajuk Silat, seperti Si Pitung, Si Ronda dan lain sebagainya, dalam tayangan tersebut berbagai bentuk perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Betawi dan tokohnya, baik perlawanan tehadap kolonial Belanda ataupun perlawanan dari pencurian atau perampokkan yang terjadi di wilayah Betawi.</p>
<p>Di situ pertunjukkan permaian Silat sangat kental sekali. Dengan kemampuan fisik dan kehebatan seseorang dalam perkelahian tersebut, menunjukkan bahwa “Maen Pukulan”sangat mengungguli setiap perkelahian. Dari situlah kemudian permaian Silat mengalami pertimbuhan dan perkembangan sampai saat ini.</p>
<p>Karena begitu memukaunya permainan Silat ini, akhirnya UNESCO, mengakui bahwa Silat merupakan Warisan Budaya tak Benda pada 2019 di Bogota, Colombia yang ditetapkan dalam Sidang ke-14 Intergovermental Committee for the Safeguarding of the Intengible Cultural Heritage.</p>
<p>Karenanya wajar kalau kini dan seterusnya, tradisi Maen Pukulan ini diwiriskan pada generasi penerus bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Betawi.</p>
<h3><em>Terbentuknya Maen Pukulan Betawi</em></h3>
<p>Tidak dikatahui dengan pasti kapan saat lahirnya Maen Pukulan atau Silat Betawi. Namun hal pasti yang dapat dikatakan di sini bahwa ada tiga etnis besar yang berpengaruh bagi terbentuknya Maen Pukulan di Betawi. Pertama etnis Cina. Kedua etnis Jawa Cirebon dan etnis Sunda Banten, dan ketiga etnis Melayu Sumatera dan Bugis. Komunitas etnis masyarakat ini memberikan kontribusi besar dalam pembentukan tradisi Maen Pukulan.</p>
<p>Masing-masing daerah memiliki tradisi bela diri kemudian mereka padukan dengan tradisi masyarakat Betawi. Tradisi ini lahir pada 19 April 1932. Sejak saat itu, Maen Pukulan Betawi mengalami perkembangan signifikan, terutama pada saat penjajahan Belanda. Orang Betawi banyak melakukan perlawanan dengan menggunakan tangan kosong dan ada juga yang menggunakan golok.</p>
<p>Mereka menyebut Belanda dengan sebutan Kompeni, yang diambil dari kata Compagni atau VOC ( Verinidge Oast Indchie Compagni). Mereka seringkali berhadapan dengan kompeni dan pasukannya, Demang dan anak buahnya. Demang menggunakan pasukan pribumi yang juga memiliki keahlian Silat. Akhirnya yang bertarung adalah pribumi anti Kompeni dengan pribumi pro Kompeni. Mereka saling adu kekuatan fisik dan keterampilan Maen Pukulan.</p>
<h3><em>Ragam Maen Pukulan Betawi</em></h3>
<p>Secara keseluruhan, ketetapan UNESCO ibi tidak hanya dikhusukan untuk Silat dari tanah Betawi, tetapi ada beberapada daerah yang masih memelihara tradisi tersebut. Di antaranya, Pencak dari Jawa Barat, Silat Si Bandrong dari Banten, Silek Minang dari Sumatera Barat, Silek Tigo Bulan dari Riau, Silat Beksi dan Cingkrik dari DKI Jakarta (Betawi), dan masih banyak lagi Maen Pukulan dari Betawi; seperti Mustika Kwitang, Pusaka Djakarta, Troktok, dan Sabeni Tenabang.</p>
<p>Dalam artikel ini hanya akan menjelaskan dua jenis atau ragam Silat Betawi, seperti Silat Beksi dan Cingkrik saja. Karena kedua ragam Silat ini lebih mengandalkan kecepatan, kecekatan tangan dan kaki. Mereka para pesilat ini siap bertarung meski di tempat sempit sekalipun.</p>
<h3><em>Silat Beksi</em></h3>
<p>Silat Beksi konon ceritanya diambil dari bahasa Tiong hoa ; yaitu Bie Sie. Bie artinya pertahanan dan Sie artinya empat. Artinya pertahanan dari empat penjuru. Ada yang berpendapat bahwa penemu aliran Beksi ini seorang Cina peranakan, bernama Lie Tjeng Hok(1854-1951).</p>
<p>Lie Tjeng Hok menggabungkan bela diri keluarganya dengan ilmu dari para guru Silat di Betawi dan mengajarkannya pada masyarakat Cina Benteng di sekitar Kampung Dadap, Kota Tangerang. Kemudian aliran silat ini menyebar ke daerah Petukangan Selatan dan daerah Batu Jaya, Batu Cepet, Tangerang.</p>
<h3>Cingkrik</h3>
<p>Seni Silat bela diri ini betasal dari daerah Rawa Belong. Tokoh si Pitung seting disebut sebagai pahlawan Betawi yang memulai maen pukulan ini di Rawa Belong. Ragam Silat ini yang masih ada hingga sekarang adalah Cingkrik Goning dan Cingkrik Sinan. Dua nama tokoh yang masih mempertahankan tradisi maen pukulan Betawi ini.</p>
<p>Kedua Cingkrik ini masih bertahan hingga kini dan dilanjutkan oleh TB. Bambang Sudradjat, sebagai penerus Cingkrik Goning. Sementara Cingkrik Sinan terus bertahan di daerah Rawa Belong dan dilanjutkan oleh Bang Bachtiar.</p>
<p>Sedang di daerah Bekasi masih ada penerus Maen Pukulan ini dan dilanjutkan oleh Guru Tholib yang mengajarkan Silat atau Maen Pukulan Betawi. Keberlanjutan tradisi ini perlu dilestarikan oleh masyarakat Betawi.</p>
<p>Bagi masyarakat Betawi, hanya dua diksi atau dua kata yang bisa menyelamatkan dan membahagiakan mereka; di dunia dan akhirat; yaitu Shalat dan Silat. Shalat akan menyelamatkan mereka di kehidupan akhirat kelak, dan Silat akan menyelamatkan kehidupan mereka di dunia. InsyaAllah. (Odie)</p>
<p><em>Pamulang, 20 April 2024</em><br />
<em>Murodi al-Batawi</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/silat-betawi-tradisi-maen-pukulan-masyarakat-betawi/">Silat Betawi: Tradisi Maen Pukulan Masyarakat Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/www.askara.co/assets/images/news/2020/01/20200129123604_normal.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Palang Pintu: Tradisi Serah Terima Pengantin di Betawi</title>
		<link>https://jakpos.id/palang-pintu-tradisi-serah-terima-pengantin-di-betawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Apr 2024 01:05:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=67407</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Di hampir semua acara respsi pernikahan di kalangan komunitas etnis Betawa,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/palang-pintu-tradisi-serah-terima-pengantin-di-betawi/">Palang Pintu: Tradisi Serah Terima Pengantin di Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Di hampir semua acara respsi pernikahan di kalangan komunitas etnis Betawa, selalu ada tradisi dan budaya Palang Pintu. Biasanya, sebelum pengantin pria dan rombongannya memasuki rumah pengantin wanita, selalu disambut oleh rombongan pengantin wanita. Rombongan tersebut dengan para Jawaranya, datang menghampiri rombongan pria. Di saat itulah terjadi sambutan berbalas pantun. Kian lama suasana semakin tegang dengan intonasi yang sangat tinggi.</p>
<p>Setelah berbalas pantun, dan suasana semakin panas, maka Jawara perempuan datang menghadang rombongan pengantin lelaki. Menantang Jawara dari pengantin lelaki untuk mengadu kesaktian dan kekuatan. Menurut Jawara pihak perempuan, mereka tidak bisa dan tidak boleh memasuki area perumahan pengantin perempuan, sebelum Jawara pengantin lelaki dapat mengalahkan dan melumpuhkan Jawara dari pengantin perempuan.</p>
<p>Di saat itulah terjadi adu kekuatan fisik, bahkan masing-masing menggunakan senjata golok mereka. Adu senjata golok juga sering terdengar suaranya, sampai mengerikan melihatnya. Tapi, akhirnya Jagoan dari pihak pengantin perempuan dapat dilumpuhkan dan dikalahkan.</p>
<p>Setelah itu, penjaga palang pintu mengizinkan pengatin pria dan rombongan dengan segala barang bawaannya dipersilahkan memasuki rumah penganyin perempuan. Setelah itu, kedua pengantin disandingkan duduk bersama. Setelah semua prosesi selesai, para tetamu undangan dipersilahkan memberikan ucapan selamat menempuh hidup baru buat mereka berdua. Bak raja dan ratu, keduanya senyum sumringah duduk berdua di pelaminan. Menyambut para tetamu yang terus berdatangan.</p>
<h3>Palang pintu: Perspektif Historis Antroplogis</h3>
<p>Secara histotoris, tradisi Palang Pintu dimulai pada 1874 di daerah Kemayoran, Batavia. Pada saat itu, si Pitung datang melamar seorang putri Jawara Kemayoran. Orang tua si perempuan tidak begitu saja mau menerima kedatangan si Pitung, sebelum diuji.</p>
<p>Ujian pertama dia harus dapat mengalahkan bapaknya perempuan itu, karena bapaknya seorang Jawara. Makan tantangan pertama adu pantun. Balas pantun ini simbol sebagai kemampuan si calon menantu untuk menjaga tradisi lisan, berpantun.</p>
<p>Setelah lama berpantun, akhirnya calon mertua mengakui kehebatan calon menantunya itu. Tapi, calon mertua tidak puas hanya sampai di situ. Dia mengajak calon menantu berkelahi menggunakan secara maksimal keahlian bela dinya, silat, Silat Betawi.</p>
<p>Setelah lama bertanding dengan mengerahkan keahlian bela diri dengan menggunakan golok masing-masing akhirnya sang calon mertua mengaku kalah. Tapi sang calon menantu, belum diizinkan masuk ke rumahnya. Sang mertua masih ingin tahu kemampuan agamanya. Dia di tes lagi untuk membaca al-Qur’an dan baca Shalawat. Jika semuanya dipenuhi oleh calon pengantin pria, calon mertua dan rombongannya diizinkan memasuki rumah mertua dan menemui calon isterinya.</p>
<p>Setelah sang calon menantu dan rombongan diterima dan diizinkan memasuki rumah pengantin perempuan.</p>
<p>Kemudian, calon pengantin pria dan tombongan dengan berbagai barang bawaan, diminta untuk memasuki rumah pengantin perempuan, dan barang bawaan; seperti lemari, tempat tidur lengkap, binatang peliharaan, biasanya kambing dan ayam, buah-buahan, sayur-sayuran, snack, dodol, uli tape ketan, dan roti buaya.</p>
<p>Tradisi ini terus dilestarikan oleh komunitas etnis masyarakat Betawi hingga kini. Karena, tradiysi ini memilki makna yang sangat luar biasa dalam kehidupan masyarakat Betawi.</p>
<p>Tradisi berbalas pantun, merupakan upaya melestarikan tradisi lisan yang ada di masyarakat Betawi. Dalam hal ini masyarakat Betawi sangat peduli untuk terus melestarikannya.</p>
<p>Sementara adu kekuatan fisik yang dilakukan pihak perempuan, upaya melindungi puterinya dari orang yang tidak benar. Terlebih akan menjadi pasanga seumur hidup. Karenanya sang susmi harus bisa menjaga isterinya dari gangguan orang jahat.</p>
<p>Sedang membaca al-Qur’an dan Shalawat, untuk mengetahui ilmu agama yang dia kuasai. Sebab orang tua tidak ingin setelah anaknya dinikahi oleh orang yang kurang atau bahkan tidak beragama, khawatir anaknya akan dipimpin oleh imam yang tidak benar. Sebab dalam pandangan masyarakat Betawi, anak perempuan yang dinikahi itu, menjadi tanggungjawab suami. Dan suami jadi imam yang membimbing isterinya menjadi isteri Salehah, yang selamat dunia akhirat. Sementara orang tuanya sebelum putrinya menikah menjadi tanggungjawab orang tua. Jika imamnya tidak benar, khawatir anaknya tidak akan selamat dunia akhirat. Itulah makna filosofi dari acara Palang Pintu, sebuah tradisi Betwai yang nyaris punah {Odie}.</p>
<p>Pamulang, 14 April 2024</p>
<p>Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/palang-pintu-tradisi-serah-terima-pengantin-di-betawi/">Palang Pintu: Tradisi Serah Terima Pengantin di Betawi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/voinews.id/indonesian/media/k2/items/cache/0f8a517c876e581e314b3c9b529d3fc4_XL.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
