<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ulama Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/ulama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/ulama/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Aug 2025 13:02:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Ulama Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/ulama/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</title>
		<link>https://jakpos.id/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/</link>
					<comments>https://jakpos.id/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2025 13:02:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=89353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Para ulama dahulu, selalu melakukan perjalanan keilmuan untuk mencari ilmu pengetahuan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/">Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Para ulama dahulu, selalu melakukan perjalanan keilmuan untuk mencari ilmu pengetahuan dari sumber aslinya, para Syeikh. Ada ulama yang memperdalam Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqh, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, dan berbagai ilmu pengetahuan Islam. Mereka, para Ulama tersebut, melakukan Rihlah Ilmiah dari satu guru ke guru lainya. Dari suatu daerah ke daerah lainnya hanya untuk memperdalam suatu disiplin ilmu pengetahuan. Ada yang belajar dengan seorang cuma satu tahun atau lebih. Ada juga yang hanya singgah sementara hanya untuk menguji kemampuan ilmu yang dimilikinya.</p>
<p>Dengan cara seperti itu, banyaklah mata rantai atau Sanad keilmuan seseorang, sehingga ia boleh disebut sebagai seorang ilmuan yang mumpuni dalam bidang tertentu, misalnya Ustadz Marzuki, ia terus belajar dan memperdalam ilmu fiqh, maka mata rantai keilmuannya terus bersambung sanadnya hingga ke imam fiqh empat mazhab; Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanbali, dan Imam Hanafi. Begitu juga mereka yang memperdalam keilmuan Islam lainnya, pasti semua memiliki sanad yang jelas. Ternyata, tidak hanya mereka yang memiliki mata rantai keilmuan, kita juga memilikinya.</p>
<p>Dahulu kita pernah belajar keilmuan Islam di IAIN Syatif Hidayatullah, Jakarta. Kita mencari ilmu dan belajar dari para dosen yang sangat hebat. Misalnya, Kita belajar Bahasa Arab dari Prof.Dr. D. Hidayat,MA. Beliau, sekira tahun 1980-an masih sangat energik. Pintar, muda dan ganteng. Ia menjadi salah seorang dosen favorit, karena wajahnya yang mirip musisi musik pop legendaris, A.Riyanto.</p>
<p>Kemudian di fakultas yang sama, kita juga belajar ‘Arudh dari Prof. Khotibul Umam. Sepertinya, saat itu, hanya beliau yang bisa mengajar ilmu ‘Arudh, sebuah disiplin ilmu yang jarang dikuasai seseorang. Begitu juga dengan materi Ilmu Bayan dan Ma’ani, yang diberikan oleh Dr. AM. Hidayatullah, MA. Dosen yang satu ini memiliki khas tersendiri. Selain menguasai ilmu tersebut, beliau juga seorang qari’. Suaranya sangat bagus. Itu kami buktikan sendiri. Hampir di setiap acara fakultas, ia menjadi pembaca al-Qur’an.</p>
<p>Selain mereka, ada salah seorang dosen asli Betawi, yang pernah menjabat pemantu dekan. Kemudian ia menjadi dekan fakultas Adab periode pasca prof. Dr. Nabilah Lubis. Ia juga mengajar kami ilmu sejarah. Ia adalah Dr. Abdul Choir, MA. Bahkan saya sendiri saat menulis Risalah Sarjana Muda (BA), beliaulah yang menjadi pembimbing. Saat itu, ia tengah menjabat Pembantu Dekan I Bidan Akademik.</p>
<p>Di samping yang telah disebutkan di stas, ada salah seorang dosen asli Mesir, bernama Prof.Dr. Nabilah Lubis, MA. Ia juga pernah menakhodai fakultas Adab pada periode ‘96-an. Kita belajar banyak tentang bahasa dan Sastra Arab. Belajar Bahasa Arab dari native speaker, menjadi lebih menarik.</p>
<p>Kini, mereka sudah pensiun dan tinggal menikmati masa tua yang bahagia. Karena itu, untuk memperkuat ikatan tali silaturrahmi antara guru-murid, kami punya program melakukan kunjungan ke tempat tinggal mereka. Harapannya, ilmu yang kita peroleh bermanfaat untuk umat bangsa dan negara. Selain tengah melacak jaringan dan sanad keilmuan kita. Semoga bermanfaat(Odie).</p>
<p><em>Murodi al-Batawi</em><br />
<em>Pamulang,03-08-2025</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/">Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/www.senibudayabetawi.com/wp-content/uploads/2021/07/WhatsApp-Image-2021-07-14-.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</title>
		<link>https://jakpos.id/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2025 13:00:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=90320</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah-2/">Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Para ulama dahulu, selalu melakukan perjalanan keilmuan untuk mencari ilmu pengetahuan dari sumber aslinya, para Syeikh. Ada ulama yang memperdalam Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqh, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, dan berbagai ilmu pengetahuan Islam. Mereka, para Ulama tersebut, melakukan Rihlah Ilmiah dari satu guru ke guru lainya. Dari suatu daerah ke daerah lainnya hanya untuk memperdalam suatu disiplin ilmu pengetahuan. Ada yang belajar dengan seorang cuma satu tahun atau lebih. Ada juga yang hanya singgah sementara hanya untuk menguji kemampuan ilmu yang dimilikinya.</p>
<p>Dengan cara seperti itu, banyaklah mata rantai atau Sanad keilmuan seseorang, sehingga ia boleh disebut sebagai seorang ilmuan yang mumpuni dalam bidang tertentu, misalnya Ustadz Marzuki, ia terus belajar dan memperdalam ilmu fiqh, maka mata rantai keilmuannya terus bersambung sanadnya hingga ke imam fiqh empat mazhab; Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanbali, dan Imam Hanafi. Begitu juga mereka yang memperdalam keilmuan Islam lainnya, pasti semua memiliki sanad yang jelas. Ternyata, tidak hanya mereka yang memiliki mata rantai keilmuan, kita juga memilikinya.</p>
<p>Dahulu kita pernah belajar keilmuan Islam di IAIN Syatif Hidayatullah, Jakarta. Kita mencari ilmu dan belajar dari para dosen yang sangat hebat. Misalnya, Kita belajar Bahasa Arab dari Prof.Dr. D. Hidayat,MA. Beliau, sekira tahun 1980-an masih sangat energik. Pintar, muda dan ganteng. Ia menjadi salah seorang dosen favorit, karena wajahnya yang mirip musisi musik pop legendaris, A.Riyanto.</p>
<p>Kemudian di fakultas yang sama, kita juga belajar ‘Arudh dari Prof. Khotibul Umam. Sepertinya, saat itu, hanya beliau yang bisa mengajar ilmu ‘Arudh, sebuah disiplin ilmu yang jarang dikuasai seseorang. Begitu juga dengan materi Ilmu Bayan dan Ma’ani, yang diberikan oleh Dr. AM. Hidayatullah, MA. Dosen yang satu ini memiliki khas tersendiri. Selain menguasai ilmu tersebut, beliau juga seorang qari’. Suaranya sangat bagus. Itu kami buktikan sendiri. Hampir di setiap acara fakultas, ia menjadi pembaca al-Qur’an.</p>
<p>Selain mereka, ada salah seorang dosen asli Betawi, yang pernah menjabat pemantu dekan. Kemudian ia menjadi dekan fakultas Adab periode pasca prof. Dr. Nabilah Lubis. Ia juga mengajar kami ilmu sejarah. Ia adalah Dr. Abdul Choir, MA. Bahkan saya sendiri saat menulis Risalah Sarjana Muda (BA), beliaulah yang menjadi pembimbing. Saat itu, ia tengah menjabat Pembantu Dekan I Bidan Akademik.</p>
<p>Di samping yang telah disebutkan di stas, ada salah seorang dosen asli Mesir, bernama Prof.Dr. Nabilah Lubis, MA. Ia juga pernah menakhodai fakultas Adab pada periode ‘96-an. Kita belajar banyak tentang bahasa dan Sastra Arab. Belajar Bahasa Arab dari native speaker, menjadi lebih menarik.</p>
<p>Kini, mereka sudah pensiun dan tinggal menikmati masa tua yang bahagia. Karena itu, untuk memperkuat ikatan tali silaturrahmi antara guru-murid, kami punya program melakukan kunjungan ke tempat tinggal mereka. Harapannya, ilmu yang kita peroleh bermanfaat untuk umat bangsa dan negara. Selain tengah melacak jaringan dan sanad keilmuan kita. Semoga bermanfaat(Odie).</p>
<p><em>Murodi al-Batawi</em><br />
<em>Pamulang,03-08-2025</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah-2/">Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/para-ulama-betawi-tempo_220128200837-467.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tradisi I’tikaf Dalam Islam di Bulan Ramdhan: Analisis Historis Filosofis</title>
		<link>https://jakpos.id/tradisi-itikaf-dalam-islam-di-bulan-ramdhan-analisis-historis-filosofis/</link>
					<comments>https://jakpos.id/tradisi-itikaf-dalam-islam-di-bulan-ramdhan-analisis-historis-filosofis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Feb 2025 08:18:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Itikaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=82746</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi. I&#8217;tikaf adalah salah satu tradisi Islam yang telah dilakukan sejak zaman&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tradisi-itikaf-dalam-islam-di-bulan-ramdhan-analisis-historis-filosofis/">Tradisi I’tikaf Dalam Islam di Bulan Ramdhan: Analisis Historis Filosofis</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi.</strong></em></p>
<p>I&#8217;tikaf adalah salah satu tradisi Islam yang telah dilakukan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini memiliki makna yang sangat dalam dan kaya, baik dari segi historis maupun filosofis. Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang tradisi i&#8217;tikaf dari zaman Nabi hingga kini, hukumnya, dan amalan yang dianjurkan dalam beri&#8217;tikaf.</p>
<h3>Sejarah I&#8217;tikaf</h3>
<p>I&#8217;tikaf telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya sejak zaman awal Islam. Nabi Muhammad SAW biasa melakukan i&#8217;tikaf di Masjid Nabawi selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan untuk mencari malam Lailatul Qadar. (HR. Bukhari, No. 2026).</p>
<p>Para sahabat Nabi Muhammad SAW juga melakukan i&#8217;tikaf di masjid, bahkan beberapa di antaranya melakukan i&#8217;tikaf selama 20 hari. (HR. Muslim, No. 1172).</p>
<h3>Hukum I&#8217;tikaf</h3>
<p>Hukum i&#8217;tikaf adalah sunnah mu&#8217;akkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. I&#8217;tikaf dapat dilakukan oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan, yang telah mencapai usia baligh dan memiliki kemampuan untuk melakukan i&#8217;tikaf. (QS. Al-Baqarah, Ayat 187).</p>
<h3>Mengapa Harus di Masjid?</h3>
<p>I&#8217;tikaf harus dilakukan di masjid karena beberapa alasan:</p>
<p>1. Masjid adalah tempat yang suci dan memiliki keutamaan yang sangat besar. (QS. Al-Imran, Ayat 110).<br />
2. Masjid adalah tempat yang dapat membantu seseorang untuk fokus pada ibadah dan memperdalam hubungan dengan Allah SWT. (QS. Al-&#8216;Ankabut, Ayat 45).</p>
<h3>Bolehkan I&#8217;tikaf Selain di Masjid?</h3>
<p>I&#8217;tikaf dapat dilakukan di tempat lain selain masjid, tetapi harus memenuhi beberapa syarat:</p>
<p>1. Tempat tersebut harus suci dan memiliki keutamaan yang besar.<br />
2. Tempat tersebut harus dapat membantu seseorang untuk fokus pada ibadah dan memperdalam hubungan dengan Allah SWT.</p>
<p>Namun, perlu diingat bahwa i&#8217;tikaf di masjid memiliki keutamaan yang sangat besar dan dapat membantu seseorang untuk memperdalam kesadaran spiritual dan memperkuat ikatan sosial. (QS. Al-Hajj, Ayat 41).</p>
<h3>Amalan yang Dianjurkan dalam Beri&#8217;tikaf</h3>
<p>Berikut adalah beberapa amalan yang dianjurkan dalam beri&#8217;tikaf:</p>
<p>1. Shalat lima waktu dengan khusyu&#8217; dan tawadhu&#8217;.<br />
2. Tilawatil Qur&#8217;an dengan tartil dan memahami maknanya.<br />
3. Dzikir kepada Allah SWT dengan membaca doa-doa dan istighfar.<br />
4. Berdoa kepada Allah SWT untuk memohon pahala, ampunan, dan keselamatan.<br />
5. Menghafal Al-Qur&#8217;an dan memperdalam pemahaman tentang kitab suci.</p>
<h3>Pendapat Para Ulama</h3>
<p>Pendapat Para Ulama 4 Mazhab tentang Tradisi I&#8217;tikaf selama Ramadhan</p>
<p>Para ulama dari empat mazhab fikih (Hanafi, Maliki, Syafi&#8217;i, dan Hanbali) memiliki pendapat yang sama tentang pentingnya tradisi i&#8217;tikaf selama Ramadhan. Berikut adalah pendapat para ulama dari empat mazhab fikih tentang tradisi i&#8217;tikaf selama Ramadhan:</p>
<h4><strong>Mazhab Hanafi</strong></h4>
<p>Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa i&#8217;tikaf adalah sunnah mu&#8217;akkadah yang sangat dianjurkan selama Ramadhan. (Al-Fatawa al-Hanafiyyah, Jilid 2, Halaman 234).</p>
<h4>Mazhab Maliki</h4>
<p>Imam Malik menyatakan bahwa i&#8217;tikaf adalah sunnah yang sangat dianjurkan selama Ramadhan, terutama selama 10 hari terakhir. (Al-Mudawwanah, Jilid 1, Halaman 345</p>
<h4>Mazhab Syafi&#8217;i</h4>
<p>Imam Syafi&#8217;i menyatakan bahwa i&#8217;tikaf adalah sunnah mu&#8217;akkadah yang sangat dianjurkan selama Ramadhan. (Al-Umm, Jilid 2, Halaman 123).</p>
<h4>Mazhab Hanbali</h4>
<p>Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa i&#8217;tikaf adalah sunnah yang sangat dianjurkan selama Ramadhan, terutama selama 10 hari terakhir. (Al-Mughni, Jilid 3, Halaman 456).</p>
<h3>Pendapat Para Ulama Tafsir tentang Tradisi I&#8217;tikaf selama Ramadhan</h3>
<p>Para ulama tafsir juga memiliki pendapat yang sama tentang pentingnya tradisi i&#8217;tikaf selama Ramadhan. Berikut adalah pendapat beberapa ulama tafsir tentang tradisi i&#8217;tikaf selama Ramadhan:</p>
<h4>Imam Ibn Kathir</h4>
<p>Imam Ibn Kathir menyatakan bahwa i&#8217;tikaf adalah salah satu cara untuk memperoleh keutamaan dan pahala selama Ramadhan. (Tafsir Ibn Kathir, Jilid 2, Halaman 234).</p>
<h4>Imam Al-Tabari</h4>
<p>Imam Al-Tabari menyatakan bahwa i&#8217;tikaf adalah sunnah yang sangat dianjurkan selama Ramadhan, terutama selama 10 hari terakhir. (Tafsir Al-Tabari, Jilid 3, Halaman 456).</p>
<h4>Pendapat Para Ulama Hadits tentang Tradisi I&#8217;tikaf selama Ramadhan</h4>
<p>Para ulama hadits juga memiliki pendapat yang sama tentang pentingnya tradisi i&#8217;tikaf selama Ramadhan. Berikut adalah pendapat beberapa ulama hadits tentang tradisi i&#8217;tikaf selama Ramadhan:</p>
<h4>Imam Bukhari</h4>
<p>Imam Bukhari menyatakan bahwa i&#8217;tikaf adalah salah satu cara untuk memperoleh keutamaan dan pahala selama Ramadhan. (Shahih Bukhari, Jilid 2, Halaman 123).</p>
<h4>Imam Muslim</h4>
<p>Imam Muslim menyatakan bahwa i&#8217;tikaf adalah sunnah yang sangat dianjurkan selama Ramadhan, terutama selama 10 hari terakhir. (Shahih Muslim, Jilid 2, Halaman 456)</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Dengan demikian dapat dikatakan bahwa I&#8217;tikaf adalah salah satu tradisi Islam yang memiliki makna yang sangat dalam dan kaya, baik dari segi historis maupun filosofis. Hukum i&#8217;tikaf adalah sunnah mu&#8217;akkadah, dan harus dilakukan di masjid untuk memperoleh keutamaan yang sangat besar. Amalan yang dianjurkan dalam beri&#8217;tikaf meliputi shalat, tilawatil Qur&#8217;an, dzikir, dan berdoa.</p>
<p>Para ulama Mazhab fiqih, ulama Tafir dan hadis sepakat dengan pendapat para ulama terdahulu bahwa beri’tikaf sebaiknya dilakukan di mesjid sembari berdzikir berdo’a dan membaca al-Qur’an dan memahami isinya dengan baik.Semoga bermanfaat.[Odie[.</p>
<p>Pamulang, 25 Februari 2025<br />
Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/tradisi-itikaf-dalam-islam-di-bulan-ramdhan-analisis-historis-filosofis/">Tradisi I’tikaf Dalam Islam di Bulan Ramdhan: Analisis Historis Filosofis</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/tradisi-itikaf-dalam-islam-di-bulan-ramdhan-analisis-historis-filosofis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/wahdah.or.id/wp-content/uploads/2014/06/itikaf1.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
