DEPOKPOS – Sayuti Melik merupakan salah satu yang sudah tidak asing pada sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesian. Aktif pada bidang jurnalistik serta politik Indonesia, dia dikenal sebab bertugas menjadi pengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di 1945.
Tak hanya itu, beliau juga merupakan salah satu pahlawan nasional yan berjasa pada Proklamasi Kemerdekaan RI di 17 Agustus 1945. buat mengenal lebih jauh perihal beliau, berikut adalah biografi Sayuti Melik dan kiprahnya pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ingin diketahui.
Biografi Singkat Sayuti Melik
Sayuti Melik mempunyai nama lengkap Mohammad Ibnu Sayuti. beliau lahir di Kadisobo, Rejodani, Sleman, Yogyakarta, tanggal 25 November 1908. Sayuti Melik ialah anak dari Abdul Muin alias Partiprawiro serta Sumilah. Sayuti Melik memulai pendidikannya pada Sekolah Onko Loro yang setara dengan SD (Sekolah Dasar) pada Desa Srowolan dan beliau meninggal pada tanggal 27 februari 1989 setelah setahun sakit, dan dimakamkan di taman makam pahlawan.
Jiwa nasionalisme pada diri Sayuti Melik didapat dari didikan ayahnya yang waktu itu menentang kebijakan Belanda terkait penanaman tembakau pada sawah milik mereka. Biografi Sayuti Melik, tokoh yang mengetik teks proklamasi berlanjut ketika beliau belajar nasionalisme dari guru sejarahnya di Solo.
Di usia belasan tahun itu, Sayuti sudah tertarik belajar Marxisme yang diklaim sebagai ideologi menentang penjajahan. sementara itu, Sayuti bertemu dengan Soekarno di Bandung pada tahun 1926. Selang beberapa saat, beliau dicurigai tergabung pada aktivitas PKI sampai ditangkap sang Belanda. beliau ditahan sampai berkali-kali hingga akhirnya bertemu dengan SK Trimurti.
Sepulang dari pembuangannya, Sayuti menikah dengan SK Trimurti yang juga seorang aktivis wanita pada 19 Juli 1938. dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai 2 anak yakni Moesafir karma Boediman serta Heru Baskoro.
Mereka lalu mendirikan Koran Pesat di Semarang. tetapi, tulisan mereka yang kerap mengkritik tajam pemerintah Hindia Belanda membuat mereka keluar masuk penjara. waktu Jepang berkuasa, koran yang didirikan pasangan suami istri ini pun dibredel sampai Trimurti ditangkap oleh tentara Jepang. Akhirnya, dengan bantuan Soekarno, Sayuti serta Trimurti kembali bersatu sesudah sentra tenaga warga (Putera) didirikan.
Sayuti Melik mencurahkan dirinya buat menulis puisi, cerita pendek, serta esai dalam bahasa Melayu. Karyanya seringkali mencerminkan nilai-nilai budaya Melayu, termasuk estetika alam, cinta, dan ketahanan sosial dan politik. salah satu karyanya yang terkenal merupakan puisi-puisi yang estetika alam dan kehidupan sehari-hari di Riau.
Puisi Sayuti Melik tak jarang diklaim menjadi representasi sastra Melayu terbaru yang menggabungkan tradisi sastra menggunakan sentuhan pada masa kini. Karyanya sering kali dihargai karena kemampuannya dalam menggambarkan emosi, pengalaman, dan makna dalam istilah-istilah yang indah .
Meskipun Sayuti Melik wafat pada usia yang masih muda, warisannya dalam dunia sastra Melayu terus berlanjut serta masih dihargai sampai saat ini. Karya-karyanya memainkan peran krusial pada mempromosikan dan melestarikan kekayaan budaya Melayu melalui sastra.
Peran Sayuti Melik Dalam Proklamasi Kemerdekaan RI
Sayuti Melik adalah salah satu tokoh penting yang terlibat dalam pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Lantas, apa saja peran Sayuti Melik? Berikut di bawah ini beberapa diantaranya:
⦁ Berada di Sisi Bung Karno
Di masa Jepang menjajah Indonesia, Koran Pesat pun ditutup oleh pemerintahan Jepang, dan istri Sayuti pun ditangkap karena dianggap sebagai komunis. Setelah didirikannya PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), Trimukti pun dibebaskan atas perintah Soekarno. Sejak saat itu, Sayuti dan Trimurti bisa hidup Bersama dengan damai dan selalu berada di sisi Soekarno.
⦁ Sebagai Anggota PPKI
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dibuat 7 Agustus 1945 serta diketuai sang Ir. Soekarno. Anggota awalnya ialah 21 orang. Selanjutnya tanpa sepengetahuan Jepang, keanggotaan bertambah 6 orang termasuk didalamnya.
Sayuti Melik Sayuti Melik pula termasuk pada grup Menteng 31, yang berperan pada penculikan Soekarno dan Hatta pada lepas 16 Agustus 1945. Penculikan dilakukan menggunakan tujuan agar Soekarno serta Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang, serta segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
⦁ Saksi Penyusunan Teks Proklamasi
Sebelum sebagai juru ketik proklamasi, Sayuti Melik sudah terlibat pada proses penyusunannya naskah proklamasi semenjak awal. beliau diketahui sebagai saksi penyusunan teks proklamasi kemerdekaan pada ruang makan rumah Laksamana Maeda.
Sayuti Melik mewakili golongan belia buat membantu Soekarno menyusun naskah proklamasi. Sedangkan Moh Hatta dibantu sang Sukarni. setelah terselesaikan didesain, Sayuti Melik mengusulkan supaya naskah proklamasi ditandatangani oleh Soekarno serta Mohammad Hatta.
Di awal, sempat terjadi perdebatan mengenai siapa yang akan menandatangani naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Soekarno mulanya mengusulkan supaya naskah proklamasi ditandatangani oleh semua peserta yg datang, mirip deklarasi kemerdekaan Amerika serikat.
Akan tetapi, usulan tadi ditolak oleh golongan belia yang menginginkan bebas dari imbas Jepang. Sayuti Melik pun akhirnya mengusulkan agar Soekarno dan Hatta saja yang menandatangani naskah proklamasi.
Alasan pemilihan Soekarno serta Hatta ialah karena ke 2 tokoh ini telah diakui menjadi pemimpin masyarakat Indonesia. Usulan Sayuti Melik pun disetujui oleh para peserta yg datang, sehingga Soekarno serta Hatta yang menandatangani teks proklamasi atas nama masyarakat Indonesia.
⦁ Mengubah Tiga Kata dalam Naskah Proklamasi
Soekarno meminta Sayuti Melik untuk mengetik teks proklamasi yang telah disusun bersama. Naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia asal Soekarno diketik sang Sayuti Melik dengan alasan supaya tak menimbulkan persepsi yang galat perihal proklamasi.
Ditemani BM Diah, Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi di ruang bawah dekat dapur tempat tinggal Laksamana Maeda. pada proses pengetikan, Sayuti Melik mengganti tiga istilah di dalamnya teks proklamasi yang sudah disusun sebelumnya. Kata tadi adalah istilah ‘tempoh’ diganti menjadi ‘tempo, ‘wakil-wakil bangsa Indonesia’ diubah menjadi ‘atas nama bangsa Indonesia’, serta pengubahan tulisan bulan serta hari.
Imroatul Mufidah
Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

