DEPOK – Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) mendorong penguatan kemitraan antara perguruan tinggi dan media melalui pengembangan Connectivity Hub (C-Hub).
Upaya tersebut menjadi salah satu fokus The 8th University, Government, Industry, and Community (UGIC) Forum bertajuk “Strengthening University-Media Partnerships for the C-Hub Initiative” yang digelar Kamis (27/8) di Gedung ITTC UI, Depok.
Forum UGIC merupakan wadah kolaborasi antara universitas, pemerintah, industri, dan masyarakat yang dikembangkan untuk mempertemukan berbagai perspektif dalam menjawab kebutuhan publik.
Pada penyelenggaraan kedelapan ini, perhatian secara khusus diarahkan pada penguatan keterlibatan sektor industri dan komunitas, terutama pers dan jejaring media sebagai mitra strategis FIB UI dan Universitas Indonesia.
Pembahasan tersebut menjadi semakin relevan seiring pengembangan Connectivity Hub (C-Hub), sebuah infrastruktur inovatif yang dirancang untuk menjembatani kepakaran akademik dengan kebutuhan masyarakat dan industri.
Melalui C-Hub, pengetahuan dan hasil riset perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat diterjemahkan menjadi pengetahuan publik yang lebih mudah diakses dan memberikan dampak lebih luas.
Eva Latifah, Ph.D., PIC UGIC C-Hub FIB UI sekaligus penanggung jawab kegiatan, menjelaskan bahwa keterlibatan media menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem C-Hub.
“Kami ingin C-Hub menjadi ruang yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Dalam proses itu, media bukan hanya menjadi saluran untuk menyampaikan informasi, tetapi mitra strategis yang membantu pengetahuan dari universitas menjadi lebih relevan, mudah dipahami, dan dapat menjangkau publik yang lebih luas,” ujar Eva.
Melalui forum ini, FIB UI juga membuka ruang untuk mendapatkan masukan langsung dari praktisi media, baik dari media cetak, daring, maupun penyiaran.
Dialog tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi bagi model kemitraan universitas-media yang bersifat timbal balik: perguruan tinggi menyediakan kepakaran dan sumber pengetahuan yang kredibel, sementara media membantu menerjemahkan serta memperluas jangkauan pengetahuan tersebut kepada publik.
Memahami Cara Kerja Media di Era Digital
Dalam paparannya mengenai “How to Engaged with Media”, M. Syakur Usman, S.S. mengangkat perubahan lanskap media dan pola konsumsi informasi masyarakat di era digital. Syakur, yang saat ini menjabat sebagai Chief Editor Getpost.id dan memiliki pengalaman lebih dari dua dekade di berbagai media, menekankan pentingnya institusi memahami kebutuhan dan dinamika kerja media sebelum membangun kemitraan.
Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan disrupsi digital dan semakin besarnya pengaruh media sosial terhadap distribusi informasi. Perspektif tersebut sejalan dengan arah pengembangan C-Hub yang tidak menempatkan media semata-mata sebagai kanal publikasi, tetapi sebagai mitra dalam ekosistem produksi dan distribusi pengetahuan.
Kolaborasi yang dibangun diharapkan memungkinkan akademisi memahami kebutuhan publik melalui perspektif media, sekaligus memberikan akses yang lebih baik bagi media terhadap pengetahuan, penelitian, dan kepakaran yang dimiliki universitas.
Syakur juga menekankan bahwa membangun hubungan dengan media membutuhkan komunikasi yang berkelanjutan. Institusi perlu memahami kebutuhan jurnalis dan kebijakan redaksi, sekaligus memastikan informasi yang disampaikan memiliki nilai berita.
Relasi yang positif dengan jurnalis, dukungan press release dan press kit yang memadai, serta media gathering dapat menjadi bagian dari upaya membangun kemitraan tersebut.
Dari Publikasi Menuju Kemitraan Strategis
Sementara itu, Emir Chairullah, Ph.D., dalam paparannya “How Universities Engage with Media and Corporations”, membawa diskusi lebih jauh dengan melihat keterlibatan media dan korporasi sebagai bagian dari kemitraan strategis universitas untuk mendukung pendidikan, penelitian, dan inovasi.
Dalam hubungannya dengan media, universitas memiliki berbagai bentuk keterlibatan yang dapat dikembangkan, tidak terbatas pada siaran pers.
Kolaborasi dapat mencakup media briefing, penyediaan komentar ahli untuk pemberitaan, komunikasi melalui media sosial, diseminasi hasil penelitian, hingga kampanye edukasi publik.
Menurut Emir, keterlibatan eksternal dapat memperluas visibilitas dan dampak penelitian universitas sekaligus membuka peluang pendanaan, inovasi, serta meningkatkan daya serap lulusan.
Pada saat yang sama, media dan perusahaan memperoleh akses terhadap kepakaran akademik, dukungan inovasi, dan talenta dari lingkungan universitas.
Karena itu, kemitraan yang kuat membutuhkan perjanjian yang transparan, strategi komunikasi yang jelas, penciptaan nilai bersama, tata kelola dan kepatuhan yang etis, serta evaluasi dampak secara berkala.
Prinsip-prinsip tersebut menjadi penting agar hubungan universitas, media, dan industri tidak bersifat transaksional, tetapi mampu menghasilkan manfaat yang berkelanjutan bagi seluruh pihak.
Melalui The 8th UGIC Forum, FIB UI berharap dapat merumuskan langkah-langkah kolaboratif yang lebih konkret bersama jejaring media untuk mendukung pengembangan C-Hub.
Ke depan, kemitraan tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi universitas sebagai sumber pengetahuan yang kredibel sekaligus memastikan hasil penelitian dan kepakaran akademik dapat menjangkau masyarakat dalam bentuk yang relevan, mudah dipahami, dan memiliki dampak nyata.