<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sejarah Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/kategori/history/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/kategori/history/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Sep 2025 06:35:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Sejarah Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/kategori/history/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jejak H. Mashudi: Perjalanan Hidup Antara Militer dan Kepemudaan</title>
		<link>https://jakpos.id/jejak-h-mashudi-perjalanan-hidup-antara-militer-dan-kepemudaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2025 06:35:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=91388</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Letnan Jenderal (Purn.) H. Mashudi merupakan salah satu tokoh nasional yang memiliki kiprah&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/jejak-h-mashudi-perjalanan-hidup-antara-militer-dan-kepemudaan/">Jejak H. Mashudi: Perjalanan Hidup Antara Militer dan Kepemudaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://epokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Letnan Jenderal (Purn.) H. Mashudi merupakan salah satu tokoh nasional yang memiliki kiprah penting dalam sejarah Indonesia, baik di bidang militer, pemerintahan, maupun pembinaan generasi muda. Kiprahnya dimulai sejak masa perjuangan kemerdekaan, ketika ia aktif dalam dunia militer dan turut berperan dalam menjaga kedaulatan bangsa. Setelah pensiun dari militer, Mashudi melanjutkan pengabdiannya melalui dunia pemerintahan dengan berbagai jabatan strategis yang dijalankannya dengan penuh dedikasi. Tidak berhenti di situ, ia juga dikenal luas sebagai tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap generasi muda, khususnya melalui Gerakan Pramuka Indonesia yang turut ia besarkan. Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan perjalanan hidup dan pengabdian H. Mashudi, sekaligus menganalisis kontribusinya dalam membangun bangsa melalui tiga aspek utama: militer, pemerintahan, dan pembinaan generasi muda. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif, makalah ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif tentang sosok Mashudi sebagai figur yang patut diteladani dalam semangat perjuangan, kepemimpinan, dan pembinaan karakter generasi penerus bangsa.</p>
<p>Sejarah perjalanan bangsa Indonesia banyak diwarnai oleh tokoh-tokoh yang mengabdikan hidupnya tidak hanya di bidang militer dan pemerintahan, tetapi juga dalam pembinaan generasi muda. Salah satu tokoh yang memiliki peran besar di ketiga bidang tersebut adalah Letnan Jenderal (Purn.) H. Mashudi. Mashudi dikenal luas sebagai perwira Divisi Siliwangi yang turut menjaga kedaulatan Republik Indonesia, kemudian dipercaya sebagai Gubernur Jawa Barat periode 1960–1970. Namun, kiprah dan pengabdiannya tidak berhenti pada ranah militer maupun pemerintahan. Ia kemudian tampil sebagai sosok penting dalam Gerakan Pramuka Indonesia, sebuah organisasi kepemudaan yang berperan strategis dalam pembentukan karakter bangsa.</p>
<p>Sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pada periode 1978–1993, Mashudi berhasil membawa Pramuka ke tingkat perkembangan yang lebih maju. Dedikasinya dalam membina generasi muda mendapat pengakuan tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di dunia internasional. Hal ini dibuktikan dengan penghargaan Bronze Wolf Award dari Organisasi Kepanduan Dunia pada tahun 1985, sebuah penghargaan tertinggi yang jarang diberikan kepada tokoh di luar Eropa dan Amerika.</p>
<p>Artikel ini bertujuan untuk menguraikan perjalanan hidup dan kontribusi H. Mashudi, khususnya dalam bidang kepramukaan, serta menegaskan relevansi kepemimpinannya sebagai teladan bagi generasi muda Indonesia.</p>
<p>1. Awal Karier Militer dan Pendidikan Awal</p>
<p>Mashudi, yang lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat, pada tahun 1919, sudah menunjukkan ketertarikan pada bidang militer sejak muda. Sebelum proklamasi kemerdekaan, banyak pemuda Indonesia yang mendapatkan pelatihan militer dari Jepang melalui organisasi seperti Pembela Tanah Air (PETA). Meskipun detail spesifik mengenai pelatihan awal Mashudi tidak selalu terekam secara luas, dapat dipastikan bahwa dasar-dasar kemiliteran yang diperolehnya di masa ini menjadi fondasi bagi perannya di kemudian hari. Ia mempelajari disiplin, taktik dasar, dan struktur komando yang sangat berguna dalam masa revolusi. Pengalaman ini membekalinya dengan pemahaman awal tentang perang gerilya dan pentingnya persatuan dalam menghadapi musuh.</p>
<p>2. Keterlibatan dalam Perjuangan Kemerdekaan</p>
<p>Ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, Mashudi dengan cepat mengintegrasikan diri ke dalam barisan pejuang yang berupaya mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kembalinya kekuatan kolonial Belanda (NICA) dan Sekutu. Jawa Barat, sebagai salah satu medan pertempuran paling sengit, menjadi saksi bisu perjuangan Mashudi. Ia tidak hanya terlibat dalam pertempuran fisik, tetapi juga dalam upaya konsolidasi kekuatan rakyat dan pemuda yang bersenjata seadanya. Masa ini adalah periode di mana keberanian pribadi dan inisiatif sangat dibutuhkan, dan Mashudi menunjukkan kedua kualitas tersebut dalam berbagai operasi pertahanan di wilayahnya. Ia menjadi bagian dari gelombang patriot yang tanpa ragu menghadapi senjata modern musuh dengan semangat juang yang membara.</p>
<p>3. Membina Generasi Muda: Peran di Gerakan Pemuda</p>
<p>Setelah berkarya di lingkungan militer dan pemerintahan, Letnan Jenderal (Purn.) H. Mashudi melanjutkan pengabdiannya dengan fokus pada pembentukan karakter bangsa melalui Gerakan Pramuka. Peran ini menandai fase penting dalam hidupnya, menunjukkan visi jangka panjangnya terhadap pentingnya pendidikan non-formal dan pembinaan moral bagi generasi penerus.</p>
<p>Mashudi menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka selama periode yang cukup panjang, dari tahun 1978 hingga 1993. Ini adalah masa di mana Gerakan Pramuka memerlukan kepemimpinan yang kuat untuk terus relevan dan berkembang di tengah perubahan sosial dan kebijakan pemerintah. Di bawah kepemimpinannya, Kwarnas berupaya keras untuk memasyarakatkan kembali nilai-nilai kepramukaan dan menjadikannya sebagai wadah efektif bagi pendidikan karakter.</p>
<p>Selama periode tersebut, Mashudi memprakarsai atau mendukung berbagai program yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan jangkauan Gerakan Pramuka. Meskipun detail spesifik program ini membutuhkan penelusuran arsip Kwarnas, secara umum dapat dikatakan bahwa fokusnya adalah pada penguatan kurikulum kepramukaan, pelatihan bagi para pembina, serta peningkatan jumlah anggota. Ia juga berupaya agar kegiatan Pramuka tidak hanya berpusat di perkotaan, tetapi juga menjangkau daerah-daerah terpencil, sehingga lebih banyak anak muda dapat merasakan manfaat pendidikan karakter melalui kegiatan alam terbuka, keterampilan, dan semangat kebersamaan. Mashudi sangat percaya bahwa Pramuka adalah instrumen ampuh untuk menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, kemandirian, cinta tanah air, dan semangat gotong royong kepada generasi muda, yang merupakan fondasi penting bagi masa depan bangsa. Kepemimpinannya ini meninggalkan warisan penting dalam sejarah Gerakan Pramuka Indonesia, menjadikannya salah satu tokoh kunci dalam pengembangan organisasi kepanduan di Indonesia.</p>
<p>Letnan Jenderal (Purn.) H. Mashudi adalah sosok yang memberikan kontribusi besar bagi<br />
bangsa Indonesia melalui tiga bidang utama: militer, pemerintahan, dan pembinaan generasi<br />
muda. Sejak masa perjuangan kemerdekaan, ia menunjukkan keberanian dan dedikasi dalam<br />
mempertahankan kedaulatan negara. Perannya kemudian berlanjut ketika ia dipercaya sebagai<br />
Gubernur Jawa Barat, di mana ia mendorong pembangunan daerah dengan semangat<br />
kepemimpinan yang visioner. Puncak pengabdiannya tampak dalam kiprahnya di Gerakan<br />
Pramuka, ketika ia menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional selama 15 tahun (1978–1993).<br />
Di bawah kepemimpinannya, Gerakan Pramuka berkembang pesat sebagai sarana pendidikan<br />
karakter, kedisiplinan, dan kepemimpinan bagi generasi muda. Pengakuan internasional<br />
melalui Bronze Wolf Award menegaskan peran penting Mashudi, tidak hanya di Indonesia,<br />
tetapi juga dalam kepanduan dunia.</p>
<p>Dengan demikian, perjalanan hidup H. Mashudi menjadi teladan nyata tentang bagaimana<br />
seorang pemimpin dapat mengabdikan dirinya secara menyeluruh bagi bangsa. Ia berhasil<br />
memadukan semangat juang, integritas, dan kepedulian terhadap generasi muda, sehingga<br />
meninggalkan warisan berharga bagi pembangunan karakter dan masa depan Indonesia.</p>
<p>Oleh : Shafwatun Nida Haraka<br />
Jurusan Akuntansi Syari’ah<br />
Institut Agama Islam SEBI</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/jejak-h-mashudi-perjalanan-hidup-antara-militer-dan-kepemudaan/">Jejak H. Mashudi: Perjalanan Hidup Antara Militer dan Kepemudaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/www.euroschoolindia.com/blogs/wp-content/uploads/2023/07/how-to-learn-history.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Mantan Guru SMA Ini Banting Setir, Sekarang Punya Harta Rp307,16 T</title>
		<link>https://jakpos.id/mantan-guru-sma-ini-banting-setir-sekarang-punya-harta-rp30716-t/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Aug 2025 09:03:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Zhong Huijuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=90603</guid>

					<description><![CDATA[<p>Siapa sangka, seorang guru kimia SMA bisa menjadi salah satu orang terkaya dunia?</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/mantan-guru-sma-ini-banting-setir-sekarang-punya-harta-rp30716-t/">Mantan Guru SMA Ini Banting Setir, Sekarang Punya Harta Rp307,16 T</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Siapa sangka, seorang guru kimia SMA bisa menjadi salah satu orang terkaya dunia? </em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://jakpos.id/go/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Dialah Zhong Huijuan, perempuan yang berhasil membangun kerajaan farmasi di China, Hansoh Pharmaceutical Group.</p>
<p>Berdasarkan catatan Forbes, Minggu (10/8), total kekayaan Zhong mencapai US$18,9 miliar atau setara Rp307,16 triliun (asumsi kurs Rp16.252 per dolar AS).</p>
<p>Seperti apa kisah hidup Zhong Huijuan hingga menjadi salah satu orang terkaya di dunia?</p>
<p>Dilansir dari berbagai sumber, Zhong lahir di Lianyungang, Jiangsu, China pada April 1961. Tak banyak informasi mengenai keluarga yang membesarkannya.</p>
<p>Saat kuliah, Zhong mengambil jurusan kimia di Jiangsu Normal University. Setelah lulus, ia mengajar mata pelajaran tersebut di Sekolah Menengah Yan&#8217;an di Lianyungang.</p>
<p>Tak lama, Zhong menikah dengan Sun Piaoyang, manajer di pabrik farmasi pelat merah di kota tersebut.</p>
<p>Pada 1995, Zhong memutuskan untuk berhenti mengajar dan membantu suaminya mengurus perusahaan farmasi yang baru didirikan, Jiangsu Hansoh Pharmaceutical.</p>
<p>Perusahaan itu didirikan oleh Sun bersama sejumlah investor dari Hong Kong. Awalnya, perusahaan hanya memiliki 10 karyawan.</p>
<p>Salah satu kunci kesuksesan perusahaan adalah kebijakan Zhong yang mendukung lini riset dan pengembangan (R&amp;D) perusahaan.</p>
<p>Ia tak ragu menyisihkan 5 persen hingga 10 persen keuntungan perusahaan untuk mengembangkan obat antibiotik, psikotropika, endokrin, antidiabetes, pencernaan hingga kanker.</p>
<p>Tak heran, di tangan Zhong, Hansoh sukses menjelma menjadi produsen obat terbesar di China. Melihat perkembangan itu, investor pun semakin banyak.</p>
<p>Hansoh berhasil mengumpulkan US$344 juta dari sembilan investor utama, termasuk dana kekayaan negara Singapura, GIC, dan perusahaan investasi Tiongkok, Boyu Capital.</p>
<p>Pada musim panas 2019, Hansoh Pharmaceutical akhirnya resmi melantai di Bursa Saham Hong Kong dengan raupan dana US$1 miliar. Kala itu, valuasi perusahaan mencapai US$10 miliar.</p>
<p>Zhong memiliki 66 persen saham perusahaan melalui Sunrise Trust. Sehari setelah Hansoh melantai, Zhong masuk jajaran perempuan terkaya di Asia dengan total harta US$10,5 miliar.</p>
<p>Kekayaan Zhong sempat mendekati US$20 miliar lantaran saham Hanson melesat ketika pandemi covid-19.</p>
<p>Pada 2022, Hansoh bermitra dengan Bill &amp; Melinda Gates Foundation untuk menyokong Global Health Drug Discovery Institute.</p>
<p>Saat ini, Zhong masih menjabat sebagai CEO Hansoh Pharmaceutica dan tinggal bersama keluarganya di Shanghai. Ia juga melibatkan putri semata wayangnya, Sun Yuan, sebagai direktur eksekutif perusahaan.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/mantan-guru-sma-ini-banting-setir-sekarang-punya-harta-rp30716-t/">Mantan Guru SMA Ini Banting Setir, Sekarang Punya Harta Rp307,16 T</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/cdn.nona.my/2022/02/436448-696x365.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Merdeka atau Mati Syahid</title>
		<link>https://jakpos.id/merdeka-atau-mati-syahid-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2025 01:59:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[17 Agustus]]></category>
		<category><![CDATA[Kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=90326</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Pekikan para pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia menyeruak ke permukaan yang selalu&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/merdeka-atau-mati-syahid-2/">Merdeka atau Mati Syahid</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Pekikan para pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia menyeruak ke permukaan yang selalu bergema saat bangsa Indonesia melakukan perlawanan terhadapa kolonial Belanda. Mereka bersatu padu, mulai rakyat biasa sampai para sultan, para ulama dan intelektual hingga mereka yang tak berpendidikan tinggi berjuang mengangkat senjata apa adanya, mulai dari bambu runcing, keris, golok, mandau, rencong dan semua senjata tradisional, hingga persenjataan modern, mereka pergunakan untuk mengusir dan melawan penjajah Belanda agar mereka segera meninggalkan wilayah Indonesia.</p>
<p>Bangsa Indonesia sudah merasa muak dengan penindasan yang dilakukan Belanda dan antek-anteknya. Bangsa Indonesia ingin segera merdeka. Untuk itu, semua elemen masyarakat bergerak bersatu melawan ketidakadilan dan kesewenangan. Peperangan demi peperangan terus terjadi, seperti perang Aceh (1873-1904), Perang Paderi (1823-1836),Perang Diponegoro (1825-1830), dan peperangan lain terus bergejolak, sebagai bukti adanya perlawanan rakyat Indonesia. Dalam setiap peperangan, selalu ada pekik suara, Merdeka atau Mati Mati Syahid, dan pekikan suara Takbir,Allahu Akbar. Kalimat tersebut selalu keluar dari mulut para pejuang kemerdekaan untuk memberikan semangat juang bagi rakyat agar terus bergerak maju pantang mundur.</p>
<h3>Kehadiran Belanda di Indonesia</h3>
<p>Kedatangan orang Belanda ke Indonesia terjadi pada 1596. Kedatangannya pertama kali hanya untuk mencari bahan rempah produk Sumber Daya Alam asli Indonesia. Tujuh tahun kemudian, 1603 M, mereka hampir menguasai seluruh produk dan hasil rempah dari Indonesia. Belanda merasa membutuhkan perusahaan dan tempat penyimpanan barang sebelum dibawa ke Eropa. Untuk itu, pada 1603, Belanda mendirikan perusahaan pertama di Indonesia, yaitu *VOC(Vereenidge Oast Indiche Compagni)*.</p>
<p>Sejak saat itulah terjadi hegemoni ekonomi atas wilayah Indonesia. Kekuatan ekonomi Belanda karena mendapat sokongan sumber daya alam berupa rempah dan hasil bumi lainnya, menyebabkan Belanda perlu memperkuat jeratannya agar wilayah penghasil rempah terbesar di dunia ini, tidak direbut bangsa Eropa lainnya yang memang tengah gencar melakukan penjarahan hasil bumi, seperti bangsa Porugis, Inggris, Spanyol dan lainnya.</p>
<h3>JV. Z. Coon datang</h3>
<p>Untuk mempermudah pengaturan wilayah dan jalur pedagangan VOC, maka dikirimlah seorang berstatus gubernur jenderal yang akan menjadi wakil kerajaan Belanda di Indonesia.</p>
<p>Untuk itu, pada 1626 dikirimlan seorang wakil kerajaan Belanda bernama Jan Vieter Z Coon. Ia bertugas sebagai gubernur jenderal mewakili Kerajaan Belanda yang mengawasi produk dan hasil sumber daya alam Indonesia berupa rempah yang menjadi barang komoditi berharga di Eropa dan dunia saat itu. Karena menguntungkan, kekuatan hegemoni ekonomi ini terus berkembang menjadi hegemoni politik. Terutama setelah VOC dibubarkan karena merugi pada 1887, maka cengkeraman politik kian menjadi.</p>
<p>Sejak saat itulah Belanda dan kekuatan politik militer kian menggasak kekuatan politik Indonesia. Dan terjadi perubahan otientasi Belanda dari sekadar berdagang dan menguasai wilayah (kolonialisme), menjadi mencampuri urusan politik pemerintahan para Sultan dan penguasa Indonesia (imperialisme). Sejak saat itulah, Belanda menerapkan politik devide et impera, politik adu domba dan pecah belah di antara sesama warga Indonesia. Tujuannya, agar ribumi tidak melakukan perlawanan menentang kehadiran Belanda.</p>
<h3>Rakyat Indonesia Bergerak</h3>
<p>Sejak terjadinya kolonialisme dan imperialisme atas wilayah dan pemerintahan para Sultan di Indonesia, semua rakyat dan para Sultan bersatu bergerak melawan penjajah Belanda yang dianggap kafir. Rakyat, terdiri dari para ulama dan masyarakat biasa terus menyuarakan pekikan kemerdekaan. Sampai seorang ulama terkenal dari Palembang, Syeikh Abdushamad al-Palimbani menulis satu karya monumental yang dapat membangkitan semangat juang untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Karya tersebut adalah Jihad fi Sabilillah, yang menganjurkan masyarakat Muslim Indonesia untuk berjihad di jalan Allah demi memerdekakan Negara Republik Indonesia.</p>
<p>Bahkan, para pemuda, baik yang ada di tanah air, di Timur Tengah dan Belanda, mereka selalu berdiskusi secara intens mengenai situasi saat itu tentang Indonesia yang masih di bawah pemerintahan Kerajaan Belanda. Untuk menyatukan visi dan misi gerakan kemerdekaan Indonesia, para Pemuda melakukan Kongres Pemuda pada 1928. Kongres ini menyepakati adanya persamaan persepsi tentang Indonesia. Mereka bersepakat tentang wilayah, Indonesia, menyatukan suku bangsa menjadi satu bangsa, Indonesia. Menyatukan bahasa pemersatu, yaitu bahasa Indonsia. Visi tersebut perlu disatukan untuk memudahkan jalannya pergerakan menuju cita-cita tunggal, Indonesia merdeka.</p>
<p>Setelah terjadinya kesepakatan tersebut, semua elemen hanya mengakui wilayahnya adalah Indonesia. Tidak ada yang bergerak cuma mengatasnamakan daerahnya saja. Pengakuan Indonesia sebagai bangsa, membuat mereka bergerak atas nama Indonesia. Tidak ada lagi yang bergerak atas nama penguasa daerah atau wilayah tertentu. Bahkan, mereka hanya sepakat bahwa bahasa yang dijadikan bahasa nasional sebagai bahasa komunikasi adalah bahasa Indonesia. Menghilangkan keegoan bahasa daerah masing-masing.</p>
<p>Setelah adanya kesepakatan tersebut, maka semua elemen masyarakat bergerak lebih fokus hanya satu tujuan: Indonesia Merdeka. Di tengah gencarnya perjuangan bangsa untuk mencapai kemerdekaan, pada 1943 tentara Jepang datang dan menguasai Indonesia (1943-1945). Meski begitu, rakyat terus bergerak melawan tentara Dainippon, tanpa rasa takut. Perpaduan antara perang fisik dengan diplomasi, akhirnya pergerakan tersebut mencapai puncaknya pada 17 Agustus 1945, yaitu Hari Kemerdekaan Indonesia, dengan pembacaan teks Proklamasi oleh Soekarno dan Muhammad Hatta atas nama bangsa Indonesia.</p>
<p>Tapi kemerdekaan hari itu tidak diakui oleh Belanda. Tetapi, negara-negara Islam, seperti Palestina, Mesir dengan tegas mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Karenanya Belanda dan sekutunya datang kembali untuk menguasai Indonesia kembali. Maka terjadilah Perang Kemerdekaan hingga Belanda dan sekutunya pergi meninggalkan Indonesia tanpa memperoleh apapun. Bahkan Jenderal WS. Mallaby tewas dalam perang kemerdekaan Indonesia. Semua berjuang dengan senjata apa adanya diringi pekikan suara takbir, Allahu Akbar, dan kata Merdeka. Indonesia bisa merdeka.</p>
<p>Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat.{odie}.</p>
<p>Pamulang, 05 Agustus 2025<br />
Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/merdeka-atau-mati-syahid-2/">Merdeka atau Mati Syahid</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/suaraislam.id/wp-content/uploads/2021/08/merdeka-atau-mati.jpg?fit=640%2C420&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Merdeka atau Mati Syahid</title>
		<link>https://jakpos.id/merdeka-atau-mati-syahid/</link>
					<comments>https://jakpos.id/merdeka-atau-mati-syahid/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2025 01:58:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[17 Agustus]]></category>
		<category><![CDATA[Kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka atau Mati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=89356</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Pekikan para pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia menyeruak ke permukaan yang selalu&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/merdeka-atau-mati-syahid/">Merdeka atau Mati Syahid</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Pekikan para pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia menyeruak ke permukaan yang selalu bergema saat bangsa Indonesia melakukan perlawanan terhadapa kolonial Belanda. Mereka bersatu padu, mulai rakyat biasa sampai para sultan, para ulama dan intelektual hingga mereka yang tak berpendidikan tinggi berjuang mengangkat senjata apa adanya, mulai dari bambu runcing, keris, golok, mandau, rencong dan semua senjata tradisional, hingga persenjataan modern, mereka pergunakan untuk mengusir dan melawan penjajah Belanda agar mereka segera meninggalkan wilayah Indonesia. Bangsa Indonesia sudah merasa muak dengan penindasan yang dilakukan Belanda dan antek-anteknya. Bangsa Indonesia ingin segera merdeka. Untuk itu, semua elemen masyarakat bergerak bersatu melawan ketidakadilan dan kesewenangan. Peperangan demi peperangan terus terjadi, seperti perang Aceh (1873-1904), Perang Paderi (1823-1836),Perang Diponegoro (1825-1830), dan peperangan lain terus bergejolak, sebagai bukti adanya perlawanan rakyat Indonesia. Dalam setiap peperangan, selalu ada pekik suara, Merdeka atau Mati Mati Syahid, dan pekikan suara Takbir,Allahu Akbar. Kalimat tersebut selalu keluar dari mulut para pejuang kemerdekaan untuk memberikan semangat juang bagi rakyat agar terus bergerak maju pantang mundur.</p>
<h3>Kehadiran Belanda di Indonesia</h3>
<p>Kedatangan orang Belanda ke Indonesia terjadi pada 1596. Kedatangannya pertama kali hanya untuk mencari bahan rempah produk Sumber Daya Alam asli Indonesia. Tujuh tahun kemudian, 1603 M, mereka hampir menguasai seluruh produk dan hasil rempah dari Indonesia. Belanda merasa membutuhkan perusahaan dan tempat penyimpanan barang sebelum dibawa ke Eropa. Untuk itu, pada 1603, Belanda mendirikan perusahaan pertama di Indonesia, yaitu *VOC(Vereenidge Oast Indiche Compagni)*. Sejak saat itulah terjadi hegemoni ekonomi atas wilayah Indonesia. Kekuatan ekonomi Belanda karena mendapat sokongan sumber daya alam berupa rempah dan hasil bumi lainnya, menyebabkan Belanda perlu memperkuat jeratannya agar wilayah penghasil rempah terbesar di dunia ini, tidak direbut bangsa Eropa lainnya yang memang tengah gencar melakukan penjarahan hasil bumi, seperti bangsa Porugis, Inggris, Spanyol dan lainnya.</p>
<h3>JV. Z. Coon datang</h3>
<p>Untuk mempermudah pengaturan wilayah dan jalur pedagangan VOC, maka dikirimlah seorang berstatus gubernur jenderal yang akan menjadi wakil kerajaan Belanda di Indonesia.<br />
Untuk itu, pada 1626 dikirimlan seorang wakil kerajaan Belanda bernama Jan Vieter Z Coon. Ia bertugas sebagai gubernur jenderal mewakili Kerajaan Belanda yang mengawasi produk dan hasil sumber daya alam Indonesia berupa rempah yang menjadi barang komoditi berharga di Eropa dan dunia saat itu. Karena menguntungkan, kekuatan hegemoni ekonomi ini terus berkembang menjadi hegemoni politik. Terutama setelah VOC dibubarkan karena merugi pada 1887, maka cengkeraman politik kian menjadi. Sejak saat itulah Belanda dan kekuatan politik militer kian menggasak kekuatan politik Indonesia. Dan terjadi perubahan otientasi Belanda dari sekadar berdagang dan menguasai wilayah (kolonialisme), menjadi mencampuri urusan politik pemerintahan para Sultan dan penguasa Indonesia (imperialisme). Sejak saat itulah, Belanda menerapkan politik devide et impera, politik adu domba dan pecah belah di antara sesama warga Indonesia. Tujuannya, agar ribumi tidak melakukan perlawanan menentang kehadiran Belanda.</p>
<h3>Rakyat Indonesia Bergerak</h3>
<p>Sejak terjadinya kolonialisme dan imperialisme atas wilayah dan pemerintahan para Sultan di Indonesia, semua rakyat dan para Sultan bersatu bergerak melawan penjajah Belanda yang dianggap kafir. Rakyat, terdiri dari para ulama dan masyarakat biasa terus menyuarakan pekikan kemerdekaan. Sampai seorang ulama terkenal dari Palembang, Syeikh Abdushamad al-Palimbani menulis satu karya monumental yang dapat membangkitan semangat juang untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Karya tersebut adalah Jihad fi Sabilillah, yang menganjurkan masyarakat Muslim Indonesia untuk berjihad di jalan Allah demi memerdekakan Negara Republik Indonesia.</p>
<p>Bahkan, para pemuda, baik yang ada di tanah air, di Timur Tengah dan Belanda, mereka selalu berdiskusi secara intens mengenai situasi saat itu tentang Indonesia yang masih di bawah pemerintahan Kerajaan Belanda. Untuk menyatukan visi dan misi gerakan kemerdekaan Indonesia, para Pemuda melakukan Kongres Pemuda pada 1928. Kongres ini menyepakati adanya persamaan persepsi tentang Indonesia. Mereka bersepakat tentang wilayah, Indonesia, menyatukan suku bangsa menjadi satu bangsa, Indonesia. Menyatukan bahasa pemersatu, yaitu bahasa Indonsia. Visi tersebut perlu disatukan untuk memudahkan jalannya pergerakan menuju cita-cita tunggal, Indonesia merdeka.</p>
<p>Setelah terjadinya kesepakatan tersebut, semua elemen hanya mengakui wilayahnya adalah Indonesia. Tidak ada yang bergerak cuma mengatasnamakan daerahnya saja. Pengakuan Indonesia sebagai bangsa, membuat mereka bergerak atas nama Indonesia. Tidak ada lagi yang bergerak atas nama penguasa daerah atau wilayah tertentu. Bahkan, mereka hanya sepakat bahwa bahasa yang dijadikan bahasa nasional sebagai bahasa komunikasi adalah bahasa Indonesia. Menghilangkan keegoan bahasa daerah masing-masing. Setelah adanya kesepakatan tersebut, maka semua elemen masyarakat bergerak lebih fokus hanya satu tujuan: Indonesia Merdeka. Di tengah gencarnya perjuangan bangsa untuk mencapai kemerdekaan, pada 1943 tentara Jepang datang dan menguasai Indonesia (1943-1945). Meski begitu, rakyat terus bergerak melawan tentara Dainippon, tanpa rasa takut. Perpaduan antara perang fisik dengan diplomasi, akhirnya pergerakan tersebut mencapai puncaknya pada 17 Agustus 1945, yaitu Hari Kemerdekaan Indonesia, dengan pembacaan teks Proklamasi oleh Soekarno dan Muhammad Hatta atas nama bangsa Indonesia. Tapi kemerdekaan hari itu tidak diakui oleh Belanda. Tetapi, negara-negara Islam, seperti Palestina, Mesir dengan tegas mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Karenanya Belanda dan sekutunya datang kembali untuk menguasai Indonesia kembali. Maka terjadilah Perang Kemerdekaan hingga Belanda dan sekutunya pergi meninggalkan Indonesia tanpa memperoleh apapun. Bahkan Jenderal WS. Mallaby tewas dalam perang kemerdekaan Indonesia. Semua berjuang dengan senjata apa adanya diringi pekikan suara takbir, Allahu Akbar, dan kata Merdeka. Indonesia bisa merdeka.</p>
<p>Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat.{odie}.</p>
<p>Pamulang, 05 Agustus 2025<br />
Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/merdeka-atau-mati-syahid/">Merdeka atau Mati Syahid</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/merdeka-atau-mati-syahid/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/assets-a1.kompasiana.com/items/album/2020/08/17/screenshot-20200816-221130-5f39f860097f36058b530182.png?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Menelusuri Jejak Haji di Indonesia: Dari Simbol Kesalehan hingga Instrumen Kolonial</title>
		<link>https://jakpos.id/menelusuri-jejak-haji-di-indonesia-dari-simbol-kesalehan-hingga-instrumen-kolonial-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 May 2025 01:40:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=86986</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK*</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menelusuri-jejak-haji-di-indonesia-dari-simbol-kesalehan-hingga-instrumen-kolonial-2/">Menelusuri Jejak Haji di Indonesia: Dari Simbol Kesalehan hingga Instrumen Kolonial</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK*</strong></em></p>
<p>Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia menunaikan ibadah haji. Di Indonesia, haji telah menjadi simbol status sosial, spiritualitas, bahkan identitas kultural yang istimewa. Gelar “Haji” bukan hanya menunjukkan seseorang telah melaksanakan rukun Islam kelima, tetapi juga menjadi penanda kesalehan dan kehormatan sosial. Namun, sejarah panjang gelar ini menunjukkan bahwa ia bukan semata produk kultural, melainkan juga bentukan dari dinamika kolonialisme dan kontrol sosial.</p>
<p>Sejarawan Azyumardi Azra dalam karyanya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara menyoroti bagaimana Tanah Suci menjadi ruang bertemunya ulama Nusantara dengan jaringan intelektual global yang membawa arus pemikiran pembaruan dan antikolonialisme. Para jamaah haji tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga mengalami transformasi intelektual dan ideologis yang kemudian dibawa pulang ke tanah air.</p>
<p>Karena itu, pemerintah kolonial Belanda memandang para haji sebagai sosok potensial yang perlu diawasi. Berdasarkan saran Christiaan Snouck Hurgronje, seorang orientalis dan penasihat utama pemerintah Hindia Belanda, dikeluarkanlah Ordonansi Haji 1916 sebagai upaya untuk mengatur—dan sebenarnya mengendalikan—arus umat Islam yang pergi ke Tanah Suci. Tujuan utamanya bukan hanya administratif, tetapi juga politis: mencegah munculnya pemimpin-pemimpin lokal yang terinspirasi oleh semangat perlawanan Islam global.</p>
<p>Snouck Hurgronje menyadari bahwa Islam, jika dimobilisasi secara sosial-politik, bisa menjadi ancaman serius bagi stabilitas kolonial. Oleh karena itu, ia menyarankan agar ibadah haji dan ekspresi keagamaan dibiarkan berjalan sebatas ritual, tetapi diawasi agar tidak menjadi kekuatan politik.</p>
<p>Sejarawan Taufik Abdullah menambahkan bahwa para haji bukanlah figur pasif. Mereka sering kali menjadi penggerak perubahan di daerah asalnya—baik dalam bentuk pendidikan Islam, pembentukan organisasi sosial, maupun perlawanan terhadap ketidakadilan struktural. Kasus Haji Wasid dalam Pemberontakan Petani Banten 1888 menjadi salah satu bukti bagaimana pengalaman spiritual haji bisa menjelma menjadi energi resistensi sosial.</p>
<p>Dari perspektif Mazhab Ciputat—yang dikenal sebagai aliran pemikiran Islam progresif, kontekstual, dan rasional yang berkembang sejak era Harun Nasution, Nurcholish Madjid, hingga Azyumardi Azra—fenomena haji tidak bisa dipisahkan dari relasi antara agama, negara, dan kekuasaan. Mazhab ini mendorong kita untuk tidak hanya melihat haji secara normatif-teologis, tetapi juga secara sosiologis, historis, dan politis.</p>
<p>Mazhab Ciputat memandang agama sebagai kekuatan kultural yang hidup di tengah masyarakat dan senantiasa dipengaruhi oleh konstruksi sosial dan politik. Gelar “Haji” dalam masyarakat Indonesia misalnya, adalah produk dari relasi kolonial yang justru memanfaatkan agama sebagai alat kontrol sosial. Gelar itu, meskipun kini dimaknai sebagai prestise moral, pada awalnya lahir sebagai bagian dari proyek administrasi dan kontrol kolonial terhadap umat Islam.</p>
<p>Dalam semangat Islam rasional dan kontekstual ala Harun Nasution, haji seharusnya dimaknai sebagai proses penyadaran spiritual yang membuahkan etika sosial. Bukan sekadar gelar kehormatan, tetapi panggilan untuk melawan ketimpangan dan ketidakadilan. Mazhab Ciputat akan mengajak kita melihat bahwa pengalaman haji bukan puncak dari kesalehan individual, melainkan titik awal dari komitmen moral untuk perubahan sosial.</p>
<p>Lebih jauh lagi, Azyumardi Azra sebagai representasi Mazhab Ciputat generasi baru, menunjukkan bahwa ibadah haji sejak dahulu merupakan bagian dari dinamika Islam kosmopolitan. Para haji menjadi perantara pertukaran ide, pembaruan pemikiran, dan pembentukan solidaritas lintas bangsa. Maka dari itu, pembatasan terhadap haji oleh kolonial bukan hanya persoalan kontrol administratif, melainkan strategi untuk memutus jejaring kesadaran Islam global yang semakin berpengaruh terhadap gerakan pembebasan nasional.</p>
<p>Sudah saatnya umat Islam di Indonesia merefleksikan ulang makna haji—tidak hanya sebagai ritual individual, tetapi sebagai pengalaman transformasi sosial. Dalam kerangka Mazhab Ciputat, haji adalah medium pembebasan spiritual yang menuntut tanggung jawab sosial. Ibadah ini harus membentuk manusia yang sadar akan ketertindasan, peka terhadap ketimpangan, dan terlibat dalam perjuangan etis untuk kemanusiaan.</p>
<p>Sebagaimana warisan para haji dalam sejarah Indonesia: mereka bukan hanya pulang dengan gelar, tetapi dengan tekad untuk membangun masyarakat yang lebih adil, tercerahkan, dan merdeka dari segala bentuk penindasan.</p>
<p><strong><em>*Penulis adalah Trio MAS FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.</em></strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menelusuri-jejak-haji-di-indonesia-dari-simbol-kesalehan-hingga-instrumen-kolonial-2/">Menelusuri Jejak Haji di Indonesia: Dari Simbol Kesalehan hingga Instrumen Kolonial</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/jamaah-haji-asal-aceh-1880-_180313121513-162.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pemberontakan Petani Banten 1888: Lembaran Awal Kebangkitan Nasional yang Terlupakan</title>
		<link>https://jakpos.id/pemberontakan-petani-banten-1888-lembaran-awal-kebangkitan-nasional-yang-terlupakan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 May 2025 23:16:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Pemberontakan Petani Banten 1888]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=86941</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK* Setiap kali 20 Mei datang, perhatian publik&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pemberontakan-petani-banten-1888-lembaran-awal-kebangkitan-nasional-yang-terlupakan/">Pemberontakan Petani Banten 1888: Lembaran Awal Kebangkitan Nasional yang Terlupakan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK*</strong></em></p>
<p>Setiap kali 20 Mei datang, perhatian publik biasanya tertuju pada Boedi Oetomo (1908), organisasi priyayi Jawa yang sering dianggap sebagai simbol awal kebangkitan nasional. Narasi ini begitu kuat mengakar dalam pendidikan sejarah kita. Namun, sejarah bukan sekadar urutan tanggal dan tokoh elite. Ada momen-momen perlawanan dari bawah yang justru lebih awal dan penuh daya dorong kebangsaan, salah satunya adalah “Pemberontakan Petani Banten 1888”.</p>
<p>Perlawanan rakyat Banten ini dipimpin oleh Haji Wasid—seorang guru agama dari daerah Caringin Banten Selatan dan memiliki kedekatan dengan tarekat—dan para petani dari kalangan bawah, yang sudah lama tertekan oleh sistem tanam paksa, tekanan ekonomi kolonial, serta kontrol ketat terhadap aktivitas keagamaan. Pemberontakan ini bukan hanya ekspresi marah sesaat, tetapi lahir dari akumulasi kesadaran sosial dan spiritual masyarakat yang merasa terasing di negeri sendiri.</p>
<p>Sejarawan besar Indonesia, Sartono Kartodirdjo, dalam riset klasiknya Pemberontakan Petani Banten 1888 (1966), menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar letupan emosional atau fanatisme keagamaan, tetapi “sebuah gerakan sosial yang terorganisir dan mencerminkan “kesadaran kolektif terhadap ketimpangan struktural kolonialisme”. Dalam hal ini, petani dan tokoh tarekat—jaringan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) di Banten di bawah mursyid (guru utama)-nya, Syekh Haji Abdul Karim—bukan aktor pasif, tetapi pelaku sejarah yang mampu merumuskan tindakan politik berbasis pada nilai keadilan dan keberagamaan.</p>
<p>Hal senada juga dikemukakan oleh Taufik Abdullah, yang menyoroti bahwa perlawanan keagamaan seperti di Banten 1888 adalah cermin dari “politik moral masyarakat”—yakni upaya menegakkan kembali tatanan sosial yang dianggap telah dilanggar oleh kekuasaan kolonial. Ini menjadi penting untuk dibaca dalam konteks kebangkitan nasional, karena menunjukkan bahwa sebelum elit-elit terpelajar menyusun wacana kebangsaan, rakyat di akar rumput sudah terlebih dahulu membangun resistensi dan cita-cita keadilan.</p>
<p>Namun sayangnya, narasi sejarah kita cenderung lebih menyoroti kebangkitan yang datang dari atas—dari pusat kekuasaan, dari tokoh elite terpelajar. Padahal, Pemberontakan Petani Banten 1888 memiliki bobot historis dan moral yang tak kalah penting, bahkan mungkin lebih autentik dalam menyuarakan aspirasi kemerdekaan. Di sinilah pentingnya membongkar kembali narasi besar sejarah nasional kita yang terlalu Jawa-sentris dan elit-sentris.</p>
<p>Jika kita memakai semangat Mazhab Ciputat—sebuah pendekatan intelektual yang kritis, rasional, dan transformatif—maka peristiwa seperti pemberontakan Banten 1888 layak dibaca sebagai embrio kesadaran kebangsaan yang muncul dari nalar etik rakyat kecil. Mereka melawan tidak dengan kalkulasi politik modern, tetapi dengan keyakinan bahwa tatanan yang menindas harus diakhiri. Dan keyakinan semacam itu adalah bentuk awal dari nasionalisme kultural dan spiritual.</p>
<p>Karena itu, ketika bangsa ini merayakan “Bangkit Bersama, Wujudkan Indonesia Kuat”, kita patut bertanya ulang: sudahkah kita mengakui kebangkitan yang lahir dari darah dan air mata rakyat? Apakah kita telah cukup adil menempatkan mereka dalam sejarah?</p>
<p>Pemberontakan Petani Banten 1888 memang tidak memiliki manifesto kebangsaan tertulis atau struktur organisasi modern. Tapi dalam semangat dan keberaniannya, terdapat benih-benih nasionalisme yang murni—bukan karena pendidikan Barat, tetapi karena dorongan iman dan rasa keadilan.</p>
<p>Maka, kebangkitan nasional tak layak dirayakan tanpa mengingat mereka yang lebih dulu bangkit, bahkan ketika namanya tak pernah tercatat dalam buku pelajaran. Di tengah gegap gempita seremoni, suara rakyat Banten 1888 tetap menggema: bahwa kebangkitan bukan milik segelintir elite, tapi hak seluruh anak bangsa yang berani melawan ketidakadilan.</p>
<p>* Penulis adalah Trio MAS FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pemberontakan-petani-banten-1888-lembaran-awal-kebangkitan-nasional-yang-terlupakan/">Pemberontakan Petani Banten 1888: Lembaran Awal Kebangkitan Nasional yang Terlupakan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/d220hvstrn183r.cloudfront.net/attachment/21672.large?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>RA Kartini, Potret Santriwati Pejuang Perempuan Indonesia</title>
		<link>https://jakpos.id/ra-kartini-potret-santriwati-pejuang-perempuan-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2025 02:57:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[RA Kartini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=85868</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Murodi al-Batawi Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia selalu memperingati hari lahir RA. Kartini,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ra-kartini-potret-santriwati-pejuang-perempuan-indonesia/">RA Kartini, Potret Santriwati Pejuang Perempuan Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></p>
<p>Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia selalu memperingati hari lahir RA. Kartini, seorang perempuan ningrat Jepara yang mau memperjuangkan hak-hak kaum perempuan Indonesia.</p>
<p>Dalam sejarah hidupnya, ia bersama Abendanon, seorang perempuan Belanda mencoba membuka mata fisik dan mata hati untuk bergerak melakukan perlawanan terhadap ketidaksetaraan kaum perempuan di mata kaum lelaki Jawa dan Indonesia pada umumnya.</p>
<p>Mereka selalu ditempatkan pada posisi dan status sosial yang tidak mengenakan. Mereka diposisikan sebagai manusia kelas rendah. Tidak punya hak apapun dalam status sosial.</p>
<p>Bahkan banyak kaum perempuan harus menerima kenyataan bila mereka dinikahkan oleh pasangan yang mereka tidak pernah kenal sebelumnya. Padahal usia mereka masih di bawah umur, seperti yang terjadi pada RA. Kartini.</p>
<h3>Biografi, pemikiran dan Gerakan RA Kartini.</h3>
<p>Raden Ajeng Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia yang lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Indonesia. Ia dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dan pejuang emansipasi kaum kaum perempuan Indonesia, terutama kaum perempuan Jawa.</p>
<p>RA. Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Ayahnya, R.M.A.A. Sosroningrat, adalah seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara. Ibunya, Mas Ajeng Ngasirah, adalah putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Kartini memiliki 11 saudara kandung dan tiri, dan ia adalah anak perempuan tertua dari semua saudara sekandung.</p>
<p>Kemudian saat memasuki usia sekolah RA. Kartini bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) hingga usia 12 tahun, di mana ia belajar bahasa Belanda. Setelah itu, ia harus tinggal di rumah karena harus dipingit, sebuah tradisi Jawa yang membatasi kebebasan perempuan. Meskipun demikian, Kartini terus belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi di Belanda.</p>
<h3>Pendidikan RA Kartini</h3>
<p>Raden Ajeng Kartini memiliki latar belakang pendidikan yang cukup baik bila dibandingkan dengan anak perempuan sezamannya. Ia pernah sekolah di _Europeesche Lagere School (ELS): Kartini bersekolah di ELS, sebuah sekolah dasar untuk orang Eropa dan pribumi yang terpilih. Ia bersekolah di sini hingga usia 12 tahun.</p>
<p>Selain itu, ia juga belajar sendiri setelah tidak bersekolah lagi. Kartini terus belajar sendiri dan mengembangkan pengetahuannya melalui membaca buku-buku dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi di Belanda.</p>
<p>Di samping itu, RA. Kartini juga belajar dan menjadi santri perempuan Kyai Soleh Darat, seorang ulama yang berpengaruh di Semarang, Jawa Tengah. Ia mempelajari ajaran Islam dan tafsir Al-Qur&#8217;an dengan Kyai Soleh Darat. RA. Kartini belajar Tafsir al-Qur’an dengan Kyai Soleh Darat. Tafsir pertama yang dikajinya Tafsir Qs. al-Fatihah. Setelah dicermati, ternyata materi tafir berbahasa Jawa sangat menarik perhatian RA. Kartini.</p>
<p>Karena itu, RA. Kartini meminta kepada Kyai Soleh Darat, menerjemahkan tafsir al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Tujuannya, agar masyarakat Jawa bisa memahami makna dan isi kandungan sl-qur’an, sebagai sumber utama ajaran Islam. Permohonan tersebut dipenuhi oleh Kyai Soleh Darat.</p>
<h3>Pemikiran RA. Kartini</h3>
<p>Kartini memiliki pemikiran yang maju tentang emansipasi wanita dan pendidikan. Ia percaya bahwa perempuan harus memiliki kebebasan untuk menuntut ilmu dan belajar. Kartini juga percaya bahwa perempuan harus memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal pendidikan dan pekerjaan.</p>
<p>Dalam surat-suratnya, Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Ia juga menulis tentang pentingnya pendidikan dan kebebasan bagi perempuan.</p>
<p>Kartini menikah dengan K.R.M. Adipati Aryo Singgih Djojoadhiningrat, seorang bupati Rembang, pada tahun 1903 dalam usia 24 tahun. Suaminya mendukung keinginan Kartini untuk mendirikan sekolah bagi perempuan Jawa.</p>
<p>Setelah Kartini wafat pada tahun 1904, surat-suratnya diterbitkan dalam sebuah buku berjudul &#8220;Door Duisternis Tot Licht&#8221; (Dari Kegelapan Menuju Cahaya) oleh J.H. Abendanon. Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul &#8220;Habis Gelap Terbitlah Terang&#8221;.</p>
<h3>Warisan pemikiran dan Gerakan</h3>
<p>Kartini dianggap sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Ia berperan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan pendidikan di Indonesia. Hari lahirnya, 21 April, diperingati sebagai Hari Kartini untuk menghormatinya.</p>
<p>Di antara warisan yang ditinggalkannya adalaha karya *Habis Gelap Terbitlah Terang* buku kumpulan surat-surat Kartini yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Kemudian Surat-surat Kartini buku kumpulan surat-surat Kartini yang diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno.<br />
Letters from Kartini Buku kumpulan surat-surat Kartini yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Joost Coté.</p>
<p>Selain itu, RA. Kartini juga meninggalkan warisan penting dalam bentuk pendidikan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hak-hak perempuan dan pendidikan.</p>
<p>Demikian lintasan sejarah RA. Ajeng Kartini. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Selamat memperingati Hari Kartini ke 146 Tahun (21 April 1879- 21 April 2025).</p>
<p>Pamulang.21 April 2025.<br />
Murodi al- Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ra-kartini-potret-santriwati-pejuang-perempuan-indonesia/">RA Kartini, Potret Santriwati Pejuang Perempuan Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/blog-asset.jakmall.com/blog/content/images/2021/04/1x-5.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pesantren: Asal-usul Kelembagaan</title>
		<link>https://jakpos.id/pesantren-asal-usul-kelembagaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2025 02:49:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=85662</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Murodi al-Batawi Pesantren yang kita kenal sekarang ini, memiliki latar histotis yang sangat lama&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pesantren-asal-usul-kelembagaan/">Pesantren: Asal-usul Kelembagaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Pesantren yang kita kenal sekarang ini, memiliki latar histotis yang sangat lama dan panjang. Institusi ini merupakan lembaga pendidikan tertua dan khas Indonesia. Ia telah memainkan peran yang sangat penting dalam proses pencerdasan generasi Muslim Indonesia.</p>
<p>Dari lembaga inilah lahir para Ulama, Mujahid, Pemikir, budayawan dan intelektual hebat serta para pejuang kemerdekaan Indonesia dan ternama. Sebut saja, miisalnya, KH. Wahab Hasbullah. KH. Hasyim Asy’ari, KH. Holil Bangkalan. Syeikh Nawai al-Bantani, KH. Nur Ali, dan lain sebagainya.</p>
<p>Mereka telah memainkan persan pada posisi mssing, dengan tidak meninggalkan peran dan fungsinya sebagai Ulama. Bahkan tidak hanya sebatas perjuangan kemerdekaan Indonesia, juga pra kemerdekaan dan pascakemerdekaan. Menjadi penyuluh di tengah gulitanya ilmu pengetahuan.</p>
<h3>Pengertian dan Asal Usul Pesantren</h3>
<p>Banyak ahli berbeda pendapat mengenai asal usul dan penamaan pesantren. Salah seorang di antaranya, Abu Hamid. Ia mengatakan bahwa diksi pesantren berasal dari bahasa Sanskerta yang memperoleh wujud dan pengertiannya tersendiri dalam bahasa Indonesia. Kata Pesantren berasal dari kata Sant yang berarti orang baik.</p>
<p>Kemudian disambung dengan kata tra/tri, yang betarti Suka Menolong. Di diksi Santri diberi awalan Pe dan akhiran an. Jadi kata Pesantreaan dan kemudian berubah menjadi Pesantren, yang berarti tempat pendidikan anak-anak supaya menjadi orang baik. Institusi ini sudah ada jauh sebelum agama Islam datang ke Indonesia.</p>
<p>Pada saat itu, Pesantren merupakan lembaga pendidikan agama Budha dan Hindu. Dan Pesantren mengalami transformasi luar biasa semenjak awal kedatangan Islam di Infonesia.</p>
<p>Sedangkan menurut Zamakhsyari Dhofier, bahwa kata Pesantren berasal dari kata dasar Santri yang berasal dari bahasa Tamil yang berarti Guru Mengaji. Sedangkan menurut CC. Berg, diksi pesantren berasal dari kata Shastra yang berarti Buku-Buku Suci, Buku-buku Agama dan Buku-buku pengetahuan.</p>
<p>Dengan demikian, istilah pesantren tersebut masuk ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan dan perkembangan agama Hindu sebelum kedatangan agama Islam. Setelah datangnya agama Islam institusi ini ditransformasikan ke dalam sistem Islam dan kemudian kontens lembaga pesantren ini diisi dengan program pendidikan Islam sesuai dengan tujuan program pengembangan agama Islam.</p>
<p>Berdasarkan alasan terminologis, persamaan bentuk antara pesantren dan pendifikan Hindu di India dapat dianggap sebagai petunjuk untuk menjelaskan mengenai asal usul sistem pendidikan pesantren.</p>
<p>Pada zaman kerajaan dahulu, ada kebijakan yang dikeluarkan oleh kerajaan untuk memberikan satu wilayah atau daerah yang diperuntukan bagi pengembangan pendidikan dan diserahkan kepada tokoh agama untuk dimanfaatkan sebagai daerah otonomi penuh untuk pengembangan ajaran agama Hindu. Daerah itu diberi nama Perdikan, yang dibebaskan dari berbagai pungutan pajak, seperti yang dikenakan pada daerah lain.</p>
<p>Para pengelola dan guru di lembaga pendidikan Hindu ini tidak mendapat gaji, tetapi mendapatkan penghormatan luar biasa dari kerajaan dan masyarakat. Daerah perdikan biasanya terketak di pedesaan dan jauh dari pusat kota dan keramaian, sehingga mereka, baik para guru maupun para murid terbebas dari pengaruh dari luar, dan mereka hanya fokus mengajarkan dan mengembangkan ajaran agama Hindu dan Budha.</p>
<p>Diperkirakan, menurut Ziemek, pesantren di Indonesia mencontoh bentuk lembaga pendidikan Hindu-Budha dengan mengubah bentuk pendidikan Asrama dan Mandala, seperti lembaga pendidikan yang ada di Infia, Burma/Myanmar dan Muangthai ataupun di Jawa pra Islam.</p>
<p>Sedangkan menurut Clifford Geertz mengatakan bahwa pengertian Santri diturunkan dari bahasa Sanskerta, Shasstri yang berarti ilmuan Hindu yang pandai menulis. Kata Shashtri punya arti seirang pelajar yang ingin memperdalam ilmu agama. Kemudian diksi ini dalam tradisi penduduk Jawa muslim diadopsi menjadi penduduk Jawa yang menganut Islam dengan sunguh-sungguh, rajin shalat, dan sebagainya. Demikian pengertian istilah Santri dan pesantren. {Odie}</p>
<p><em><strong>Murodi Al Batawi</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pesantren-asal-usul-kelembagaan/">Pesantren: Asal-usul Kelembagaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/cdn0-production-images-kly.akamaized.net/DgDLLXRfDIKhxtdlQibYiYGQsbM=/500x281/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4081786/original/076140900_1657179248-IMG-20220707-WA0040.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Bunuh Diri, Buku, dan Bungou Stray Dogs: Warisan Kelam Dazai Osamu</title>
		<link>https://jakpos.id/bunuh-diri-buku-dan-bungou-stray-dogs-warisan-kelam-dazai-osamu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2025 23:34:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Anime]]></category>
		<category><![CDATA[Dazai Osamu]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=85306</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Dazai Osamu, salah satu sastrawan paling ikonik dari era Showa Jepang, dikenal bukan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/bunuh-diri-buku-dan-bungou-stray-dogs-warisan-kelam-dazai-osamu/">Bunuh Diri, Buku, dan Bungou Stray Dogs: Warisan Kelam Dazai Osamu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Dazai Osamu, salah satu sastrawan paling ikonik dari era Showa Jepang, dikenal bukan hanya karena karya-karyanya yang mengiris hati, tetapi juga karena kehidupan pribadinya yang penuh luka dan kehancuran.</p>
<p>Pria bernama asli Tsushima Shuji ini lahir pada 19 Juni 1909 di Aomori, Jepang, dari keluarga bangsawan yang terpandang.</p>
<p>Namun, di balik status sosialnya yang tinggi, Dazai menjalani hidup yang penuh kehampaan, penderitaan mental, dan pencarian jati diri yang tak berujung.</p>
<h3>Masa Muda dengan Kegelisahan Sejak Dini</h3>
<p><img decoding="async" class="size-full aligncenter" src="https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/77/Osamu_Dazai.jpg" /></p>
<p>Sejak muda, Dazai sudah menunjukkan bakat menulis. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang cerdas, namun tertutup dan rapuh secara emosional. Kematian ibunya dan sikap ayah yang dingin memperburuk kondisi batinnya.</p>
<p>Ia mulai terjerumus ke dalam dunia alkohol, wanita, dan percobaan bunuh diri. Dalam usianya yang masih muda, ia sudah beberapa kali mencoba mengakhiri hidup tanda bahwa dirinya tak pernah benar-benar merasa hidup.</p>
<h3><strong>Karya yang Mencerminkan Diri Sendiri</strong></h3>
<p>Karya-karya Dazai seringkali mencerminkan penderitaannya sendiri. Novel seperti No Longer Human (Ningen Shikkaku) dan The Setting Sun (Shayo) menjadi semacam cermin batin yang memantulkan luka terdalam penulisnya.</p>
<p>No Longer Human, yang menjadi salah satu mahakaryanya, dianggap sebagai semacam surat bunuh diri yang panjang. Tokoh utama dalam novel tersebut merasa terasing dari masyarakat dan tidak mampu menjalani kehidupan &#8220;normal,&#8221; persis seperti Dazai sendiri.</p>
<h3>Cinta yang Tak Pernah Menyelamatkan</h3>
<p>Dazai jatuh cinta berkali-kali, tetapi cinta baginya bukanlah penyembuh luka, justru kerap menjadi bagian dari tragedi. Ia menikah, namun tetap berselingkuh dan menjalani hubungan yang rumit.</p>
<p>Beberapa kali ia mencoba bunuh diri bersama pasangannya. Salah satunya berhasil selamat, yang lainnya tidak. Cinta dan kematian baginya seolah menjadi dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.</p>
<h3>Akhir yang Sunyi</h3>
<p>Pada 13 Juni 1948, Dazai dan kekasihnya, Tomie Yamazaki, mengikatkan tubuh mereka dan terjun ke Sungai Tamagawa. Jenazah mereka ditemukan enam hari kemudian, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-39.</p>
<p>Ia akhirnya berhasil mengakhiri hidupnya setelah beberapa kali gagal, meninggalkan dunia dengan tubuh yang tenggelam dan hati yang barangkali sudah karam jauh sebelumnya.</p>
<h3>Warisan dalam Dunia Nyata dan Fiksi di Bungou Stray Dogs</h3>
<p>Karakter Dazai Osamu di anime Bungou Stray Dogs(sumber:website/fandombsd)<br />
Nama Dazai Osamu tak hanya hidup dalam sejarah sastra, tapi juga dihidupkan kembali dalam budaya pop modern, salah satunya lewat anime Bungou Stray Dogs.</p>
<p>Dalam anime tersebut, karakter Dazai digambarkan sebagai detektif eksentrik yang memiliki obsesi pada kematian dan percobaan bunuh diri sebuah referensi langsung pada kehidupan nyata sang penulis.</p>
<p>Kemampuannya bernama No Longer Human, yang memungkinkannya menetralkan kekuatan orang lain, juga merupakan penghormatan pada karya terkenalnya.</p>
<p>Meski versi animenya penuh aksi dan humor gelap, sosok Dazai di Bungou Stray Dogs tetap menyimpan sisi kelam dan tragis, mencerminkan dualitas antara kekuatan dan luka batin yang mendalam.</p>
<p>Ia menjadi simbol bagaimana warisan seorang sastrawan bisa terus hidup, bahkan dalam bentuk yang tak terduga.</p>
<p><em><strong>Tania Firda Praditha</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/bunuh-diri-buku-dan-bungou-stray-dogs-warisan-kelam-dazai-osamu/">Bunuh Diri, Buku, dan Bungou Stray Dogs: Warisan Kelam Dazai Osamu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/static0.gamerantimages.com/wordpress/wp-content/uploads/2023/09/collage-maker-23-sep-2023-07-24-pm-9591.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Ruwatan Anak: Melestarikan Tradisi Jawa di Tengah Arus Modernisasi</title>
		<link>https://jakpos.id/ruwatan-anak-melestarikan-tradisi-jawa-di-tengah-arus-modernisasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2025 01:38:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=85092</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Suku Jawa merupakan salah satu suku yang terbesar di Indonesia dengan kekayaan adat&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ruwatan-anak-melestarikan-tradisi-jawa-di-tengah-arus-modernisasi/">Ruwatan Anak: Melestarikan Tradisi Jawa di Tengah Arus Modernisasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Suku Jawa merupakan salah satu suku yang terbesar di Indonesia dengan kekayaan adat dan tradisi yang tetap terjaga hingga saat ini dengan metode pelestarian turun temurun melalui keturunannya. Salah satu tradisi yang masih terjaga hingga saat ini adalah tradisi ruwatan, khususnya ruwatan anak dengan media wayang kulit.</p>
<p>Tradisi ini dipercaya oleh masyarakat suku Jawa sebagai penolak bala (mala petaka) pada individu. Tradisi ini mengandung nilai nilai luhur mengenai harmoni hidup, keselarasan alam, dan hubungan manusia dengan Sang Penciptanya.</p>
<h3>Sejarah Munculnya Tradisi Ruwatan di Jawa</h3>
<p>Ruwatan dalam bahasa Jawa memiliki arti “dilepas” atau “dibebaskan”. Sehingga secara keseluruhan ruwatan memiliki pengertian yakni sebuah upacara yang berasal dari Jawa dan digunakan untuk membebaskan atau melepaskan seseorang dari hukuman atau kutukan yang membawa sial atau membahayakan.</p>
<p>Konon tradisi ini erat kaitannya dengan mitologi Jawa terkait kisah Batara kala (Dewa waktu). Batara kala adalah putra Batara Guru (Dewa Siwa) yang memiliki wujud raksasa.</p>
<p>Konon Batara kala meminta makanan kepada Batara guru berupa manusia. Batara guru pun mengizinkannya dengan syarat orang yang dimakan haruslah wong sukerto yaitu orang yang memiliki kesialan. Sehingga untuk menghindari seseorang dimakan Batara kala maka dilakukan ruwatan wayang dengan maksud memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk tetap memberikan keselamatan.</p>
<p>Versi cerita yang berbeda menyatakan bahwa ruwatan wayang ini digunakan ditukarnya wong sukerto dengan sesajen agar tidak dimakan oleh Batara Kala.</p>
<h3>Konsekuensi Jika Tidak Melakukan Ruwatan Anak</h3>
<p>Masyarakat suku jawa mempercayai bahwa apabila tidak melakukan ruwatan akan mendatangkan bala (kesialan) bagi yang tidak seseorang yang tidak di ruwat. Berikut adalah beberapa kesialan yang dapat dialami oleh orang yang tidak melakukan ruwatan:</p>
<p>1. Hidup sengsara<br />
Masyarakat Jawa mempercayai bahwa tidak melakukan ruwatan anak dapat memicu kesengsaraan hidup seperti rezeki yang tidak lancar, apabila memiliki usaha maka usahanya gagal, dan sering mendapatkan cobaan hidup lainnya</p>
<p>2. Sakit sakitan<br />
Kepercayaan yang muncul akibat individu jika tidak melakukan ruwatan yakni sakit sakitan. Hal ini sudah dipercaya dari zaman dahulu hingga sekarang meskipun peralatan medis cukup canggih dalam menangani segala macam penyakit. Tetapi masyarakat Jawa sebagaian percaya bahwa jika ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh obat dan peralatan medis ini diakibatkan jika individu tadi belum melakukan tradisi ruwatan.</p>
<p>3. Gila<br />
Konsekuensi apabila tidak melakukan tradisi ruwatan yaitu memiliki penyakit gila yang tidak dapat disembuhkan.</p>
<p>4. Kematian<br />
Akibat fatal menurut kepercayaan suku Jawa apabila tidak melakukan tradisi ini adalah kematian.</p>
<h3>Kategori yang Membutuhkan Ruwatan Anak</h3>
<p>Secara keseluruhan semua suku Jawa dengan inisiatif sendiri akan adanya konsekuensi yang didapat apabila tidak melakukan ruwatan anak maka sebagian besar masyarakat suku Jawa melakukan tradisi ini. Namun ada beberapa pengkategorian yang harus melakukan ruwatan yaitu wong sukerto.</p>
<p>Siapa saja yang termasuk dalam kategori wong sukerto? berikut penjelasannya:</p>
<p>1. Ontang-anting yaitu anak tunggal laki-laki.<br />
2. Unting-unting yaitu anak tunggal wanita.<br />
3. Gedhana-gedhini yaitu satu anak laki-laki dan satu anak wanita dalam keluarga.<br />
4. Uger-uger lawang yaitu dua anak laki-laki dalam keluarga.<br />
5. Kembar sepasang yaitu dua anak wanita dalam keluarga.<br />
6. Pendhawa yaitu lima anak laki-laki dalam keluarga.<br />
7. Pendhawa pancala putri yaitu lima anak perempuan dalam keluarga.<br />
8. Gotong Mayit yaitu tiga anak wanita semua.<br />
9. Cukil dulit yaitu tiga anak laki-laki semua.<br />
10. Serimpi yaitu empat anak wanita semua.<br />
11. Sarambah yaitu empat anak laki-laki semua.<br />
12. Sendang kapit pancuran yaitu anak tiga, dua laki-laki, yang tengah wanita.<br />
13. Pancuran kapit sendang yaitu anak tiga, dua wanita, yang tengah laki-laki.<br />
14. Sumala yaitu anak cacat sejak lahir.<br />
15. Wungle yaitu anak lahir bule.<br />
16. Margana yaitu anak lahir sewaktu ibunya dalam perjalanan.<br />
17. Wahana yaitu anak lahir sewaktu ibunya sedang pesta.<br />
18. Wuyungan yaitu anak lahir di waktu perang atau lagi ada bencana.<br />
19. Julung sungsang yaitu nak lahir di tengah hari.<br />
20. Julung sarab yaitu anak lahir waktu matahari terbenam.<br />
21. Julung caplok yaitu anak lahir di senja hari.<br />
22. Julung kembang yaitu anak lahir saat fajar.<br />
23. Kembar yaitu dua anak laki-laki atau wanita lahir bersamaan.</p>
<h3>Proses Ritual Tradisi Ruwatan Anak Dengan Wayang Kulit</h3>
<p>Adapun proses ritual yang harus dilakukan, berikut adalah prosedurnya:</p>
<p>1. Pihak keluarga yang ingin melaksanakan tradisini ini mengundang dalang beserta wayang di sanggar seni dalang. Biaya yang diperlukan cukup mahal yaitu kurang lebih 15jt perkiraan ini disesuaikan dengan lokasi dan daerah masing masing</p>
<p>2. Menyiapkan sesajen. Sesajen ini beraneka macam yaitu jajan pasar 7 rupa, bunga setaman yang ditempatkan di mendengan, tumpeng, panggang ayam, ketupat lepet, jarik batik berjumlah 7, ayam hidup yang di ikat, kekehan yaitu mainan seperti gangsing, krakal (kayu pembajak biasa digunakan untuk membajak sapi), kain cele digunakan untuk menutupi tumpeng, jagung 2 ikat, padi 2 ikat, 2 pohon tebu, bunga jambe, buah kelapa berjumlah 2, serta membakar dupa dan kemenyan.</p>
<p>3. Setelahnya dalang memulai pagelaran wayang dengan cerita Bathara kala yang ingin memakan anak. Di saat ini pula bunga setaman digunakan mandi orang yang diruwat sedangkan sisa bunganya dipecahkan di perempatan jalan desa setempat. Hal ini bermaksud untuk mensucikan diri.</p>
<p>4. Orang yang melakukan ruwatan diharuskan duduk dan melihat penampilan wayang. Disaat ini pula dupa dibakar dan orang yang melakukan ruwatan diharuskan melihat proses pembakaran dupa ini. Adapun efek yang dirasakan yaitu merasakan capek seperti telah dikejar oleh orang lain.</p>
<p>Respon Pemerintah Terkait Tradisi Ruwatan Anak dengan Media Wayang Kulit di Jawa</p>
<p>Dalam menjaga adat dan tradisi ini pemerintah senantiasa melakukan dukungan secara eksplisit agar tradisi ini tidak hilang dan tergerus zaman yang semakin modernisasi. Berikut adalah respon Pemerintah terkait Tradisi ruwatan wayang di Jawa:</p>
<p>1. Melalui kementerian pendidikan kebudayaan riset dan teknologi (Kemendikbudristek) secera keseluruhan ruwatan diakui sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda sejak tahun 2013.</p>
<p>2. Pemerintah memberikan dukungan berupa hibah dan pelatihan kepada dalang wayang kulit untuk menjaga kelestarian ruwatan</p>
<p>3. Integrasi dengan pendidikan berupa beberapa sekolah dan perguruan tinggi di Jawa mengadakan workshop ruwatan untuk memperkenalkan tradisi ini kepada generasi muda.</p>
<h3>Tantangan Tradisi Ruwatan Anak di Era Moderenisasi</h3>
<p>Tantangan yang harus dihadapi tradisi ini yaitu:</p>
<p>1. Era moderenisasi mengakibatkan generasi muda cenderung lebih mengutamakan nilai-nilai modern, yang dapat mengurangi minat mereka terhadap tradisi seperti ruwatan.</p>
<p>2. Ketidak sesuaian dengan pemikiran modern, adanya akses informasi yang lebih luas, beberapa orang merasa bahwa praktik ini tidak lagi sesuai dengan pemikiran modern, sehingga menyebabkan pergeseran pandangan terhadap arti pentingnya ruwatan.</p>
<p>3. Minimnya regenerasi pelaku budaya seperti dalang yang memimpin alur cerita wayang.</p>
<p><em>Bella Ima Fauziyah<br />
Mahasiswa Prodi Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya.</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ruwatan-anak-melestarikan-tradisi-jawa-di-tengah-arus-modernisasi/">Ruwatan Anak: Melestarikan Tradisi Jawa di Tengah Arus Modernisasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcR3bA9_9k5IKOpUPoZnjSGpMlUEdhSJov_J3w&#038;s&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
