Proses pengaturan jumlah uang beredar dalam suatu negara disebut sebagai pengertian dari kebijakan moneter. Tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas nilai uang dalam menghadapi pengaruh internal dan eksternal (Ahmad & Ismail, 2019). Stabilitas nilai uang menunjukkan stabilitas harga yang berdampak pada kemampuan suatu negara untuk mencapai tujuan pembangunannya. Menurut Yungucu & Saiti (2016), tujuan kebijakan moneter Islam sama dengan konvensional, yaitu menjaga stabilitas uang, kemakmuran ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang optimal, dan mendorong keadilan bagi masyarakat.
Meskipun tujuan akhirnya sama, kebijakan moneter Islam berbeda dari konsep moneter konvensional, terutama dalam hal target dan pemilihan instrumen. Perbedaan mendasar antara kedua jenis instrumen tersebut adalah prinsip Islam melarang jaminan atas nilai nominal atau tingkat suku bunga (Sarker, 2016). Akibatnya, penetapan suku bunga sebagai target tidak mungkin tercapai jika sejalan dengan tujuan pelaksanaan kebijakan moneter Islam.
Untuk melakukan kebijakan ekonomi moneter dalam ekonomi Islam, Bank Sentral Islam memerlukan instrumen bebas bunga. Bank Sentral dapat menggunakan banyak instrumen bebas bunga untuk menambah atau mengurangi jumlah uang beredar dalam keadaan ini. Penghapusan sistem bunga tidak berpengaruh pada kemampuan perekonomian untuk mengontrol jumlah uang beredar, karena sektor moneter selalu berkorelasi langsung dengan sektor riil (Wisandani et al., 2017). Penghapusan bunga dan penerapan bagi hasil di sisi lain, adalah sistem built-in yang akan menghubungkan kedua sektor ini. Berdasarkan alasan ini, bagi hasil dianggap lebih stabil baik dalam jangka panjang maupun pendek, dibandingkan dengan sistem bunga, yang sangat sensitif terhadap perubahan (Sarker, 2016).
Uang secara eksklusif digunakan sebagai alat transaksi dan untuk berjaga-jaga dalam ekonomi Islam. Uang tidak dapat diperdagangkan karena bukan komoditas dengan harga. Uang adalah barang publik, oleh karena itu uang yang tidak digunakan secara produktif (aset menganggur) akan dikenakan pajak, mengurangi nilainya. Akibatnya, uang harus digunakan di sektor produktif/riil (flow concept). Dalam ekonomi Islam, sektor moneter tidak dapat mengambil manfaat dari keberhasilan sektor riil dengan menyediakan uang untuk mendukung perekonomian yang bertumpu pada sektor riil (Choudhury, 2018). Sehingga, kebijakan moneter hanyalah pelengkap untuk menutupi kebutuhan pembiayaan sektor riil.
Menurut pakar ekonomi Islam, sejumlah kebijakan intervensi moneter konvensional, seperti reserve requirement, selecting credit ceiling, moral suasion, change in monetary base, dan jenis surat berharga berbasis ekuitas masih dapat digunakan untuk mengendalikan uang dan kredit, selama sesuai dengan prinsip syariah, seperti Wadiah, Musyarakah, Mudharabah, Ar-Rahn, dan Al-Ijarah (Wisandani et al., 2017). Melalui mekanisme transmisi harga dan output yang berdampak pada variabel lain seperti tenaga kerja dan pendapatan negara, kebijakan moneter yang dikelola dengan baik akan menghasilkan tingkat perekonomian yang stabil.
Kebijakan moneter merupakan alat yang penting untuk mengendalikan permintaan dan penawaran uang, yang pada gilirannya membantu mendorong pertumbuhan ekonomi (Audah & Kasri, 2020). Kebijakan Moneter dapat mempengaruhi ekonomi melalui berbagai cara, diantaranya melalui interest rates channel, exchange rates channel, bank credit channel, dan asset prices channel. Kebijakan moneter ditransmisikan kepada permintaan agregat melalui jalur suku bunga. Sementara itu, nilai tukar mata uang berdampak pada output ekonomi melalui ekspor neto. Kebijakan moneter dapat mengatur kuantitas pinjaman yang disalurkan oleh sektor perbankan melalui jalur kredit bank dengan mempengaruhi likuiditas di sistem perbankan, yang berdampak pada perekonomian. Selanjutnya, saluran harga aset menunjukkan bagaimana kebijakan moneter dapat mengubah harga aset seperti saham bisnis atau real estat, dan dengan demikian mempengaruhi total output (Boivin et al., 2010).
Pertumbuhan ekonomi yang stabil tercermin dari tingkat inflasi terjaga dan penekanannya pada penciptaan lapangan kerja. Dalam literatur dijelaskan bahwa bank sentral merupakan aktor utama dalam menjaga stabilitas ekonomi (Sarker, 2016). Fungsi utama bank sentral adalah menjaga agar inflasi tetap terkendali. Begitu banyak bank sentral mengikuti kerangka penargetan moneter, sementara beberapa bank sentral lainnya juga mengikuti kerangka penargetan inflasi kebijakan moneter. Namun, dalam kedua keadaan tersebut, tugas utama bank sentral adalah menyediakan cadangan jumlah uang beredar yang cukup untuk menghindari perubahan harga dan tingkat pengangguran yang besar di masa depan.
Pada dasarnya, persediaan uang dan suku bunga sangat ditekankan sebagai sasaran operasional sekaligus indikator untuk mengevaluasi posisi kebijakan moneter (Ahmad & Ismail, 2019). Dalam literature ditemukan bahwa uang secara signifikan mempengaruhi output riil. Nelson (2003) mempertimbangkan kandungan informasi dalam uang dengan memeriksa spesifikasi permintaan uang model. Hal ini menunjukkan bahwa persediaan uang merespons tingkat output agregat dan karenanya uang memiliki peran yang berpotensi berguna sebagai variabel indikator. Studi menyimpulkan bahwa peran uang sebagai indikator kebijakan tergantung pada stabilitas permintaan uang. Ini adalah salah satu kekurangan dalam menggunakan uang stok sebagai indikator kebijakan moneter.
Paradigma Keynesian, berbeda dengan kerangka Monetarist, yang lebih menekankan pada tingkat suku bunga. Suku bunga yang lebih tinggi menjadi sinyal untuk pengetatan kebijakan moneter, sedangkan suku bunga yang lebih rendah menjadi sinyal untuk kebijakan yang lebih longgar. Bernanke dan Blinder (1992) mendokumentasikan menggunakan tingkat tagihan Treasury tiga bulan, tingkat obligasi pemerintah sepuluh tahun, dan tingkat dana federal (fed) untuk menganalisis berbagai kegiatan ekonomi. Temuanya menyimpulkan bahwa suku bunga dana fed fund adalah indikator yang paling signifikan untuk dibandingkan dengan variabel lain karena mengandung begitu banyak konten informasi ekonomi.
Para peneliti kemudian melanjutkan ke ukuran lain untuk menunjukkan interaksi berbagai indikator kebijakan moneter. Indeks Kondisi Moneter, yang menggabungkan suku bunga dan nilai tukar menjadi ukuran kebijakan moneter tunggal, telah diusulkan. Indeks Kondisi Moneter (MCI), yang menggabungkan fluktuasi suku bunga dan nilai tukar, dapat membantu otoritas moneter dalam memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang keadaan moneter secara keseluruhan (Freedman, 1995).
Sistem moneter Islam melarang penggunaan instrumen bunga dalam kebijakannya, memungkinkan pasar untuk mencapai keseimbangan antara permintaan dan penawaran uang (Wisandani et al., 2017). Pada saat perekonomian aktif, uang yang disuplai oleh kreditur akan diterima oleh debitur, sehingga menghasilkan return yang tinggi (profit and loss sharing), tetapi pada saat perekonomian lemah, uang yang ditawarkan kreditur tidak akan sepenuhnya diterima oleh debitur, sehingga menghasilkan pengembalian yang rendah. Teknik ini akan menghasilkan situasi di mana pertumbuhan uang berhubungan baik dengan aktivitas dan kebutuhan ekonomi. Mekanisme ini pada akhirnya dapat menghapus kelebihan dari likuiditas yang disebabkan oleh peningkatan jumlah uang bukan dari peningkatan kegiatan ekonomi (Omer, 2019)
Lu’lu Jilan Zain