DEPOKPOS – “Kemerdekaan menurut Islam dapat diartikan sebagai kondisi saat seseorang sadar dan berusaha keras untuk memosisikan diri sebagai hamba Allah,” ungkap Pemerhati Remaja, Qonita Diyaana Al Aziza dalam kajian keputrian, Refleksi Hari Kemerdekaan, Jumat (22/08/2025) di salah satu SMK di Depok.
Pasalnya, menurut mahasiswi yang akrab disapa Kak Qonita tersebut, seorang Muslim harus memilki cara pandang yang cemerlang yang bebas dari penghambaan kepada makhluk.
“Kita harus memiliki cara pandang yang cemerlang. Orang-orang yang seperti ini baru percaya diri mereka merdeka ketika bebas dari penghambaan sesama makhluk, juga merdeka dari paksaan pemikiran dan ideologi buatan manusia,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kak Qonita mengaitkan kemerdekaan dengan rakyat Palestina yang saat ini sedang mengalami pelaparan sistemik.
“Jadi benarkah sudah merdeka? Lalu bagaimana dengan Palestina? Saat ini Gaza sedang mengalami pelaparan yang sistemik,” ujarnya di hadapan sekitar 90 siswi.
Terkait pelaparan sistemik di Gaza, Kak Qonita mengungkap ada 4 fase. “Tahap awal pelaparan sistemik yang terjadi di Gaza adalah kekurangan makanan pokok, tahap menengah ketergantungan pada bantuan, tahap kronisnya yaitu malnutrisi akut, anak-anak meninggal, yang selanjutnya tahap massal yang berpotensi genosida dalam,” bebernya.
Tak hanya itu, menurutnya, ada empat faktor penyebab dunia gagal menolong Gaza, yakni, karena PBB lembaga internasional memberi bantuan terbatas, negara Muslim saat ini terpecah-pecah, tak punya kepemimpinan tunggal, donasi hanya solusi jangka pendek dan tidak adanya solusi jangka panjang dan sistemik.
Oleh karena itu, terang Kak Qonita, solusi untuk membebaskan palestina harus mengirimkan pasukan militer. “Karena Israel menyerang Palestina pakai militer, jadi kita harus melawan mereka ya dengan militer juga,” tegasnya.
“Yang harus dilakukan saat ini adalah menyempurnakan kemerdekaan yang sudah kita rasakan dengan berusaha sungguh-sungguh mewujudkan kemerdekaan hakiki itu. Kalau ingin meraih kemerdekaan yang hakiki, ada dalam Islam. Karena Islam mencakup segala aspek kehidupan, dalam segi politik, kesehatan, pendidikan, bahkan ekonomi,” bebernya.
Tak hanya itu, ia pun mengungkapkan wujud nyata dari kemerdekaan yang hakiki dengan melepaskan diri dari belenggu sekularisme.
“Dengan mewujudkan ketundukan sepenuhnya pada semua aturan Allah SWT, melepaskan diri dari belenggu sistem yang bertentangan dengan tauhid, yakni sekularisme yang berusaha memisahkan agama dari kehidupan, berganti seraya menegakkan pelaksanaan syariah Islam secara menyeluruh. Dengan itu kemerdekaan hakiki terwujud, terang-benderang, kehidupan berkemakmuran dan mulia akan dapat dirasakan oleh semua anggota masyarakat,” pungkasnya. [Mustikawati]