DEPOKPOS – Lahan adalah permukaan bumi yang berupa tanah, batuan dan mengandung mineral serta cairan yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupan manusia. Lahan juga memiliki kesesuaian dalam permukaan bumi yang memiliki beberapa fungsi beraneka ragam dari seluruh penjuru bumi, diantaranya lahan berfungsi sebagai sumber daya alami, tetapi semakin kesini fungsi lahan sebagai sumber daya alami semakin menurun karena adanya campur tangan manusia dalam dinamika tersebut secara luas dan dalam waktu tertentu.
Lahan bangunan merupakan hasil akhir dari campur tangan manusia yang bersifat dinamis dan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup mulai dari primer sampai sekunder. Pada luas total lahan pertanian di Indonesia saat ini berkisar 70 juta Ha, sedangkan lahan yang efektif untuk produksi pertanian hanya 45 Ha.
Hal tersebut dapat terjadi karena luas lahan semakin kesini semakin menurun luasnya akibat dari alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian yang mencapai luas total 50-70 ribu Ha per tahun. Dan salah satu daerah ataupun kota di Indonesia yang terkena dampak dari alih fungsi lahan adalah Kota Depok.
Kota Depok merupakan wilayah termuda yang ada di Jawa Barat. Penggunaan tanah di Kota Depok mengalami perubahan yang sangat signifikan pada tahun 2001-2017. Penggunaan tanah terbangun di Kota Depok pada tahun 2001 memiliki persentase 43,17% dan naik menjadi 88,14% pada tahun 2017, penggunaan tanah terbangun mengalami peningkatan sebesar 44,97% dalam kurun waktu 2001-2017.
Sedangkan, pada penggunaan tanah yang tidak terbangun di Kota Depok pada tahun 2001 memiliki persentase 56,83% dan mengalami penurunan menjadi 11,85% pada tahun 2017, dari data tersebut tanah tidak terbangun mengalami penurunan sebesar 44,98% dalam kurun waktu 2001-2017. Hal tersebut disebabkan karena adanya alih fungsi lahan karena semakin banyak pertumbuhan atau berkembangnya populasi masyarakat di kota Depok.
Perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya yang semula berubah menjadi fungsi lain yang berdampak negatif terhadap lingkungan sekitar dan potensi lahan itu sendiri merupakan pengertian dari alih fungsi lahan atau biasa dikenal sebagai konversi lahan.
Indonesia termasuk ke dalam Negara yang memiliki iklim tropik dengan suhu rata-rata tahunan pada pantai atau pada ketinggian 0 meter adalah 26°C. Setiap naik 100 meter suhu rata-rata tahunan turun 0,6°C, dan suhu rata-rata musiman hampir tidak ada bedanya antara musim kemarau (panas) dengan musim hujan.
Namun demikian, ada bagian-bagian pulau yang beriklim sejuk hingga dingin dengan hadirnya salju abadi. Meskipun iklim di Negara Indonesia termasuk iklim tropik, namun pada tumbuhan tropik hanya dapat tumbuh pada ketinggian tertentu mulai dari 500 meter hingga 1.000 meter dan ketinggian 2.000 meter merupakan batas dari tumbuhnya pohon yang berbatang besar. Dan pada ketinggian di atas 2.000 meter, tumbuhan yang tumbuh berupa semak dan rumput.
Di atas ketinggian 4.200 meter sudah terdapat salju, dan tumbuhan sudah tidak dapat ditemukan bahkan lumut pun sudah tidak ada. Bentuk lahan berdasarkan klasifikasi penggunaan lahan akibat proses adaptasi manusia terhadap lahan tersebut dapat digambarkan melalui peta-peta muka bumi atau tanah yang disebut dengan tata guna lahan/tanah.
Semakin kecil skala berarti semakin dekat dengan bumi, dan peta akan semakin terlihat rinci. Hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya tipe untuk penggunaan lahan di bumi. Bentuk lahan berdasarkan klasifikasi penggunaan lahan pada peta skala 1 : 200.000 perkampungan, persawahan, pertanian kering semusim + perkebunan + kebun campur, hutan, padang + tanah tandus, perairan darat + kolam, dll.
Dalam menanggulangi terjadinya alih fungsi lahan maka, kota Depok mengembangkan pertanian perkotaan dengan memanfaatkan lahan pekarangan dan memaksimalkan lahan yang ada dengan menerapkan konsep pertanian perkotaan “urban farming”.
“Urban farming” adalah konsep pengolahan lahan dari pertanian konvensional ke pertanian perkotaan dengan menggunakan prinsip memanfaatkan lahan pertanian maupun lahan non pertanian yang sempit dengan berbagai bentuk seperti pekarangan rumah, kebun komunitas, balkon rumah ataupun balkon kantor dan lainnya, maupun lahan kosong untuk membantu ketahanan pangan.
Dengan ikon buah belimbingnya Kota Depok diharapkan untuk tetap melestarikan buah belimbing yang menjadi ikon dari Kota Depok. Dengan adanya petani Kota Depok yang masih membudidayakan tanaman buah belimbing diharapkan dalam penerapan urban farming ini akan tetap membudidayakan buah belimbing.
Tidak hanya dengan urban farming tetapi Kota Depok juga menggunakan lahan tidur milik kementerian pertanian sebagai lahan pertanian namun belum ada kejelasan terdalam lagi untuk penggunaan lahan tidur milik kementerian pertanian.
Konsep urban farming dapat diharapkan mampu memajukan sektor pertanian, perikanan maupun ketahanan pangan untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga ataupun kebutuhan pangan sehari-sehari masyarakat Kota Depok.
Urban farming bisa dalam bentuk apa saja karena tujuan dari urban farming adalah untuk memanfaatkan lahan yang ada sebagai lahan pertanian, contoh urban farming yang sering dilakukan akhir-akhir ini oleh para masyarakat Kota Depok adalah melakukan penanaman dengan cara hidroponik.
Hidroponik sendiri merupakan salah satu metode dalam membudidayakan tanaman dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan media tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi hara bagi tanaman.
Teknik budidaya hidroponik ini biasanya hanya fokus pada tanaman-tanaman terutama jenis sayuran dan buah-buahan tanpa menggunakan media tanam berupa tanah. Media tanam yang dapat digunakan berupa sekam bakar, hidroton, dan rockwool. Selain itu hidroponik juga merupakan kegiatan bercocok tanam yang biasanya dikerjakan dalam kamar kaca dengan menggunakan medium air yang berisi zat hara.
Dalam penggunaan penanaman dengan cara hidroponik ada keuntungan yang di dapat yaitu mulai dari perawatan tanaman yang lebih praktis dibandingkan dengan penanaman tanaman pada media tanah, tanaman lebih mudah diganti, produksi tanaman pun akan lebih terjamin, gangguan hama bisa lebih terkontrol, pemakaian pupuk yang lebih hemat (efisien), dan tanaman yang mati akan lebih mudah diganti dengan tanaman yang baru.
Namun, dalam menggunakan hidroponik juga memiliki kekurangan yaitu mulai dari modal yang cukup besar, butuh perhatian ekstra, dan perlu keterampilan untuk merawatnya. Adapun jenis teknik hidroponik yaitu Static Solution Culture, di Indonesia teknik ini disebut dengan teknik apung dan sistem sumbu dan merupakan cara menanam hidroponik menggunakan air statis atau air yang tidak mengalir.
Dan ada sistem hidroponik Aeroponik, sistem aeroponik adalah sistem bercocok tanaman dengan menggunakan atau memberdayakan udara tanpa menggunakan media tanah. Contoh tanaman hidroponik adalah selada, tomat, mentimun, bawang merah, kangkung, dll.
Dengan dilakukannya urban farming dan teknik hidroponik diharapkan kedepannya pertanian di Kota Depok dapat berjalan dengan baik dan dapat menjaga ketahanan pangan untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari masyarakat.
Rahayu Anggraini
Program Studi Agribisnis Fakultas Sains Dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

