Ramadhan dan Konsumerisme: Mengapa Pengeluaran Semakin Meningkat?

Oleh: Anisa Bella Fathia S.Si., Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Sahabat Muslimah, Ramadhan adalah bulan latihan menahan diri. Menahan dari lapar, haus, marah, juga urusan harta. Namun faktanya justru pengeluaran di bulan Ramadhan semakin meningkat. Pasar dan tempat jajanan semakin ramai, masyarakat berburu takjil dari selepas ashar sampai menjelang Maghrib. Hidangan berbuka melimpah tak jarang menumpukkan sampah. Meski waktu makan lebih sedikit dibanding hari biasa, namun food waste justru meningkat.

Bacaan Lainnya

Menurut Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Poppy Diana Sari STP MP, peningkatan food waste saat Ramadhan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan belanja hingga budaya dalam menyajikan makanan. Mendekati waktu berbuka puasa, orang-orang lapar mata, mereka juga berbelanja bahan makanan segar tanpa perencanaan yang matang. Selain itu, promo Ramadhan yang ditawarkan hotel dan restoran semakin menjamur. Pada akhirnya perut tak cukup menghabiskan semua makanan tersebut, makanan basi dan berakhir di tempat sampah. Miris, di saat saudara kita di Palestina kesulitan makanan untuk berbuka.

Fenomena konsumtif seperti ini pun terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri, pusat perbelanjaan penuh dengan orang-orang yang ingin membeli baju lebaran. Seolah stigma “baju baru dipakai di hari Raya” seperti barang wajib tak bisa ditawar. Padahal dalam Islam tidak ada perintah memakai baju baru, pakaian lama namun masih bagus dan baik tetap sah untuk dipakai shalat di hari raya. Sampai-sampai masjid yang asalnya penuh jamaah shalat tarawih semakin hari semakin sepi, karena jamaahnya sibuk mempersiapkan perintilan-perintilan Idul Fitri (mendekor rumah, membuat kue, masak dan lain-lain). Padahal mendekati hari raya atau 10 hari terakhir di bulan Ramadhan adalah hari-hari penuh berkah dan istimewa. Malam-malam penuh kemuliaan, malam-malam yang dicintai Rasulullah SAW dan umat Islam dianjurkan untuk mencari malam Lailatul Qadar tersebut.

Sayang, umat Muslim malah terlena dengan kesibukan duniawinya. Hingga akhirnya berpisah dengan bulan Ramadhan begitu saja dan menyesal melewatkannya. Bila diamati, fenomena seperti ini tidak terjadi begitu saja. Walaupun masyarakat Indonesia mayoritas Muslim, nampaknya ini hanya bicara soal rasa keislamannya saja. Perasaannya adalah perasaan Islam, namun peraturan yang dijalankan bukanlah Islam. Melainkan sekuler atau memisahkan agama dengan kehidupan.

Wajar saja, kita hanya merasakan Ramadhan hanya sahur dan berbuka bersama. Kenyataannya, pola sikap kita masih kental dengan sekularisme. hedonisme, konsumerisme menghiasi bulan puasa kita. Karena, di hari-hari biasa pun keseharian kita sudah akrab dengan budaya tersebut. Akhirnya saat berbuka puasa malah menjadi ajang festival kuliner dan pelampiasan dari menahan haus dan lapar.

Bulan Ramadhan seharusnya melatih kita untuk sederhana, secukupnya dalam masalah makanan. Bukankah salah satu hikmah berpuasa supaya kita simpati pada orang-orang miskin yang menahan lapar?. Di zaman sekarang juga informasi mudah didapat, berbuka dengan cukup dan tepat justru menjaga tubuh dari lonjakan gula darah. Menyehatkan tubuh. Yang seharusnya kita kejar adalah masalah ibadah bukan hanya masalah perut. Yakinkah ibadah kita di bulan puasa ini diterima oleh Allah? Yakinkah Allah masih beri kesempatan untuk bertemu dengan ramadhan tahun depan?

Sahabat Muslimah, saatnya kita berubah menjadi pribadi yang tidak terbawa budaya konsumtif, cerdas membelanjakan harta dan fokus berlomba dalam kebaikan. Semoga Allah menerima ibadah puasa kita semua. Aamiin []

Pos terkait