Saat Umat Islam Tidak Memiliki Perisai: Mengurai Akar Kelemahan Umat dalam Tatanan Politik Global Modern

Oleh: Dian Salindri, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Berbagai tragedi yang menimpa umat Islam di belahan dunia sering kali menimbulkan pertanyaan yang sama, mengapa umat sebesar ini tampak lemah ketika menghadapi kezaliman? Umat perlu melihat kembali dahulu pengaruh Islam mengatur kehidupan dan bagaimana perubahan tatanan politik dunia.

Bacaan Lainnya

Sering kali Islam dipersempit hanya sebagai ajaran spiritual yang mengatur hubungan individu dengan Tuhan. Padahal sejarah mencatat Islam pernah hadir bukan sekadar sebagai agama ritual, melainkan sebagai sistem peradaban yang memimpin dunia selama berabad-abad.

Semua dimulai di Madinah. Ketika Rasulullah ﷺ membangun masyarakat baru, beliau tidak hanya mendirikan masjid sebagai pusat ibadah, tetapi juga membentuk struktur kepemimpinan dan tata kelola yang berlandaskan wahyu. Syariat menjadi rujukan dalam hukum, ekonomi, hubungan sosial, hingga kebijakan luar negeri. Dalam waktu singkat, masyarakat yang sebelumnya terpecah oleh fanatisme suku berubah menjadi umat yang kuat dalam ikatan akidah.

Kepemimpinan itu kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, hingga Utsmaniyah. Selama lebih dari tiga belas abad, dunia menyaksikan lahirnya pusat-pusat ilmu, kemajuan sains, stabilitas politik, dan keamanan lintas wilayah di bawah kepemimpinan Islam. Dalam Islam, kepemimpinan memiliki fungsi strategis sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:”Imam (khalifah) itu adalah perisai; kaum Muslim berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kata junnah dalam hadits tersebut berarti perisai atau pelindung. Artinya, kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar simbol administratif, tetapi institusi yang menjaga keselamatan, kehormatan, dan keberlangsungan akidah umat.

Sejarah mencatat bagaimana peran “perisai” ini dijalankan. Ketika seorang Muslimah dilecehkan di wilayah Amuriyah dan menyeru nama khalifah, Khalifah Al-Mu‘tasim Billah merespons dengan mengirim pasukan hingga wilayah tersebut ditaklukkan. Respons ini menunjukkan bahwa kehormatan umat berada dalam perlindungan negara.

Pada masa Harun ar-Rasyid, wibawa politik Islam begitu diperhitungkan sehingga surat-surat diplomatiknya kepada penguasa Romawi menunjukkan posisi yang tidak bisa diremehkan. Pada era Sultan Abdul Hamid II, tekanan politik Eropa terhadap dunia Islam juga dihadapi dengan upaya menjaga kehormatan umat.

Menariknya, perlindungan dalam sistem tersebut tidak hanya diberikan kepada Muslim. Non-Muslim yang hidup dalam naungan pemerintahan Islam memperoleh jaminan keamanan jiwa dan harta. Ketika Umar bin Khattab memasuki Yerusalem, beliau menjamin keselamatan gereja dan para pemeluknya. Fakta sejarah Andalusia juga menunjukkan bagaimana masyarakat lintas agama hidup relatif aman dan berkembang dalam iklim intelektual yang kondusif.

Namun setelah institusi kepemimpinan Islam terakhir runtuh pada 1924, dunia Islam berubah drastis. Wilayah yang dahulu berada dalam satu kepemimpinan terpecah menjadi negara-bangsa dengan kepentingan nasional masing-masing. Ikatan akidah yang dahulu menyatukan perlahan digantikan oleh sekat-sekat nasionalisme.

Dalam tatanan politik global modern, setiap negara bergerak berdasarkan kepentingan nasional, keamanan, dan stabilitas politiknya sendiri. Solidaritas keagamaan sering kali berada di posisi sekunder dibandingkan pertimbangan diplomasi.

Akibatnya, umat Islam hari ini menyaksikan berbagai tragedi kemanusiaan, penjajahan di Palestina, penderitaan Muslim Uyghur, pengusiran Rohingya, diskriminasi terhadap Muslim di India, hingga konflik di berbagai negeri Muslim. Banyak tragedi tersebut berulang tanpa respons kolektif yang mampu menghentikan kezaliman secara efektif.

Padahal Rasulullah ﷺ menggambarkan umat Islam sebagai satu tubuh; jika satu bagian sakit, seluruh tubuh merasakan dampaknya (HR. Bukhari dan Muslim). Gambaran ini menunjukkan ikatan umat seharusnya melampaui batas geografis. Sebagian ulama mengaitkan kondisi ini dengan peringatan Rasulullah tentang penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. yang melemahkan umat ketika orientasi material mengalahkan keberanian moral.

Tulisan ini bukan sekadar ajakan romantisme sejarah. Namun sejarah memberi pelajaran, ketika umat memiliki kepemimpinan yang berfungsi sebagai “perisai”, terdapat sistem yang mampu melindungi rakyat dan menjaga kehormatan umat. Umat Islam hari ini bukan umat kecil. Jumlahnya besar, sumber dayanya melimpah, dan pengaruh demografinya signifikan. Potensi ini menuntut kesadaran bahwa Islam bukan hanya ajaran ibadah individual, tetapi juga sistem kehidupan yang mengatur masyarakat secara menyeluruh.

Sejarah telah menunjukkan, Islam pernah menjadi kekuatan peradaban. Masa depan umat akan ditentukan oleh sejauh mana mereka mampu mengambil pelajaran dari sejarah itu, bukan sekadar mengenangnya, tetapi menjadikannya inspirasi untuk membangun kembali kekuatan politik dan peradaban yang berlandaskan syariat.

Karena sebuah umat tidak akan bangkit hanya dengan nostalgia, melainkan dengan pemikiran Islam yang jernih, keberanian, dan komitmen terhadap nilai yang diyakininya.[]

Pos terkait