<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mahasiswa Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/mahasiswa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/mahasiswa/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Sep 2025 05:43:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Mahasiswa Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/mahasiswa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dari Manga ke Jalanan: Bendera One Piece Jadi Wajah Ketidakpuasan Publik</title>
		<link>https://jakpos.id/dari-manga-ke-jalanan-bendera-one-piece-jadi-wajah-ketidakpuasan-publik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2025 05:43:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Bendera]]></category>
		<category><![CDATA[Bendera One Piece]]></category>
		<category><![CDATA[Demo DPR]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[One Piece]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=91576</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Haqi Ibadurrohman, Mahasiswa Institut Agama Islam SEBI Depok</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dari-manga-ke-jalanan-bendera-one-piece-jadi-wajah-ketidakpuasan-publik/">Dari Manga ke Jalanan: Bendera One Piece Jadi Wajah Ketidakpuasan Publik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Haqi Ibadurrohman, Mahasiswa Institut Agama Islam SEBI Depok</strong></em></p>
<p><a href="https://jakpos.id/go/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Fenomena budaya populer kerap melampaui batas hiburan. Salah satu contohnya adalah bagaimana bendera One Piece Jolly Roger bergambar tengkorak dengan topi jerami tidak hanya berkibar di layar manga dan anime, tetapi juga mulai hadir di ruang publik sebagai simbol protes sosial dan politik.</p>
<p>Banyak bajak laut One Piece menggunakan Jolly Roger sebagai simbol perjuangan melawan penindasan. Salah satunya Sun Pirates, Jolly Roger tidak lebih dari sebuah simbol kekuasaan, yang memamerkan kekuatan kru bajak laut untuk mengintimidasi musuh dan korban.</p>
<p>Bajak laut yang sudah mapan-terkenal sebagai Empat Kaisar-telah dikenal menandai seluruh kota dan bahkan pulau dengan Jolly Roger, menganggap lokasi tersebut sebagai “wilayah kekuasaan” mereka dan menjanjikan perlindungan dan pembalasan terhadap serangan dari luar. Bajak laut yang lebih idealis-dan para simpatisannya-telah menggunakan tanda tersebut untuk mendukung prinsip-prinsip kebebasan yang lebih luas, keyakinan pribadi, dan bahkan persahabatan.</p>
<h3>Dari Fiksi Ke Aksi Nyata</h3>
<p>Fenomena bendera One Piece yang runtuh menunjukkan bagaimana karya kreatif dapat menjadi sarana komunikasi sosial dan melampaui batas hiburan. Sekarang, apa yang dulunya hanya sebatas cerita tentang bajak laut yang mengejar mimpi di lautan luas, bertransformasi menjadi representasi dari perjuangan nyata yang terjadi di tengah masyarakat.</p>
<p>Dalam dunia fiksi, Luffy dan kru Topi Jerami terkenal karena keberanian mereka menentang kekuasaan dan memperjuangkan kebebasan. Para penggemar menghidupkan kembali semangat ini ketika mereka membawa bendera tersebut dalam acara sosial.</p>
<p>Oleh karena itu, pesan kebebasan dan perlawanan yang dibawa One Piece tidak lagi terbatas pada manga atau film, tetapi menjadi semangat yang tersebar di lingkungan umum.kebebasan dan perlawanan yang dibawa One Piece tidak lagi terbatas pada manga atau film, tetapi menjadi semangat yang tersebar di lingkungan umum.</p>
<p>Bendera Topi Jerami dan poster tuntutan massa dikibarkan di berbagai demonstrasi. Kehadirannya tidak hanya memperkuat simbol protes, tetapi juga memupuk rasa solidaritas di antara peserta aksi, terutama generasi muda. Menggunakan simbol budaya populer yang universal dan relevan dengan kehidupan sehari-hari tampaknya lebih relevan bagi mereka daripada simbol politik yang kaku.</p>
<h4>Antara Hiburan Dan Politik</h4>
<p>Fakta bahwa bendera One Piece muncul di ruang publik menunjukkan betapa tidak jelasnya perbedaan antara politik dan hiburan. Ketika simbolnya dipindahkan ke kehidupan nyata, apa yang semula dianggap sebagai karya fiksi manga dan anime yang menghibur ternyata mampu menghasilkan makna politik.</p>
<p>Budaya populer dapat menjadi bahasa politik baru. Generasi muda yang terbiasa dengan anime sering kali lebih mudah mengenali simbol-simbol hiburan daripada jargon politik formal. Oleh karena itu, bendera One Piece bukan sekadar hiasan, itu adalah alat komunikasi politik yang menggambarkan prinsip-prinsip kebebasan, solidaritas, dan menentang ketidakadilan.</p>
<p>Namun, fenomena ini juga menimbulkan perdebatan. Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa penggunaan simbol hiburan dalam konteks politik dapat membuat tuntutan menjadi kurang serius. Di sisi lain, ada orang lain yang melihatnya sebagai cara inovatif untuk menghubungkan anak muda dengan masalah politik yang selama ini dianggap kaku.</p>
<p>Pada akhirnya, munculnya bendera One Piece di jalanan menunjukkan dinamika baru bahwa politik dapat dikomunikasikan melalui simbol budaya populer yang lebih sederhana dan biasa di masyarakat.</p>
<h5>Resonansi dengan Realitas Sosial</h5>
<p>Tidak mengherankan bahwa bendera One Piece muncul di ruang publik karena kemampuan kisahnya untuk menyampaikan nilai-nilai sosial yang dialami banyak orang di dunia nyata. Meskipun kisahnya berasal dari dunia fiksi, One Piece menyampaikan nilai-nilai seperti kebebasan, solidaritas, dan perjuangan melawan ketidakadilan yang universal.</p>
<p>Misalnya, Kru Topi Jerami digambarkan sebagai kelompok kecil yang berani menentang sistem kekuasaan yang kuat, seperti Pemerintah Dunia yang korup, para bangsawan yang menindas, dan penguasa yang kejam yang mengekang rakyatnya.<br />
Storyline ini menunjukkan bagaimana masyarakat menghadapi ketidakadilan seperti penyalahgunaan kekuasaan, kesenjangan sosial, atau pembatasan kebebasan berekspresi.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Fakta bahwa bendera One Piece berkibar di tempat umum menunjukkan bagaimana budaya populer dapat melampaui batas hiburan dan menjadi bahasa politik baru. Sekarang, apa yang dulunya hanya fantasi fiksi tentang bajak laut dan kebebasan, digunakan oleh masyarakat, terutama generasi muda, sebagai simbol persatuan, perjuangan, dan perjuangan untuk keadilan.</p>
<p>Bendera Topi Jerami yang muncul di acara sosial bukan sekadar ikon hiburan itu adalah alat komunikasi yang lebih mudah dipahami dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari anak muda daripada jargon politik yang kaku. Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya populer memiliki daya resonansi yang kuat terhadap realitas sosial, meskipun ada pro dan kontra.</p>
<p>Oleh karena itu, menampilkan bendera One Piece di jalanan menunjukkan bahwa politik sekarang dapat dikomunikasikan melalui media kreatif dan tidak lagi terbatas pada simbol formal. Ia menunjukkan perubahan dalam cara masyarakat khususnya generasi muda menunjukkan ketidakpuasan publik dan menegaskan bahwa gagasan dapat menghasilkan tindakan nyata untuk perubahan.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dari-manga-ke-jalanan-bendera-one-piece-jadi-wajah-ketidakpuasan-publik/">Dari Manga ke Jalanan: Bendera One Piece Jadi Wajah Ketidakpuasan Publik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/ranbitv.com/wp-content/uploads/2025/08/1755597374994.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Kuliah Sambil Berkarya: Jalan Menuju Sukses di Era Digital</title>
		<link>https://jakpos.id/kuliah-sambil-berkarya-jalan-menuju-sukses-di-era-digital/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2025 00:04:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah Sambil Berkarya]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=91014</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Rizqita Octavia Ramadhani, Mahasiswi Akuntansi Syariah Institut Agama Islam SEBI</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/kuliah-sambil-berkarya-jalan-menuju-sukses-di-era-digital/">Kuliah Sambil Berkarya: Jalan Menuju Sukses di Era Digital</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh Rizqita Octavia Ramadhani, Mahasiswi Akuntansi Syariah Institut Agama Islam SEBI</strong></em></p>
<p>Di era digital saat ini, mahasiswa tidak lagi hanya dituntut untuk berfokus pada bangku kuliah. Dunia digital membuka ruang yang luas bagi siapa saja yang ingin berkarya, bahkan tanpa harus menunggu gelar sarjana di tangan. Kuliah sambil berkarya menjadi pilihan cerdas bagi generasi muda yang ingin menyiapkan masa depan dengan lebih matang.</p>
<h3>Mengapa Harus Kuliah Sambil Berkarya?</h3>
<p>Kuliah memberikan fondasi ilmu pengetahuan dan kemampuan berpikir kritis, sementara berkarya melatih keterampilan praktis serta membangun jejaring. Keduanya adalah kombinasi ideal untuk menghadapi dunia kerja maupun dunia usaha.</p>
<p>Beberapa alasan penting mengapa kuliah sambil berkarya relevan di era digital, antara lain:</p>
<p>1. Pengalaman Nyata – Mahasiswa dapat langsung mengaplikasikan teori yang dipelajari di kampus ke dalam karya nyata.<br />
2. Membangun Portofolio – Di dunia digital, karya adalah identitas. Portofolio menjadi nilai lebih yang seringkali lebih berharga dibanding sekadar ijazah.<br />
3. Kemandirian Finansial – Dengan berkarya, mahasiswa bisa membuka peluang mendapatkan penghasilan sejak dini.<br />
4. Melatih Soft Skill – Kerja sama tim, manajemen waktu, hingga komunikasi publik akan terasah secara alami.</p>
<h3>Peluang Berkarya di Era Digital</h3>
<p>Teknologi telah membuka pintu besar bagi mahasiswa untuk berkarya tanpa batasan ruang dan waktu. Beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan antara lain;</p>
<p>• Content Creator: Menjadi penulis blog, podcaster, atau YouTuber.<br />
• Freelancer Digital: Menyediakan jasa desain grafis, penerjemahan, atau coding.<br />
• Bisnis Online: Membuka toko daring, menjual produk handmade, atau menjadi reseller.<br />
• Startup &amp; Inovasi: Mengembangkan aplikasi atau platform berbasis digital yang menjawab kebutuhan masyarakat.</p>
<h4>Kunci Sukses Menjalani Keduanya</h4>
<p>Agar kuliah sambil berkarya berjalan seimbang, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:</p>
<p>1. Manajemen Waktu – Buat jadwal prioritas antara kuliah, tugas, dan aktivitas berkarya.<br />
2. Disiplin dan Konsistensi – Jangan menunda pekerjaan, karena konsistensi adalah kunci keberhasilan.<br />
3. Fokus pada Tujuan – Ingat bahwa kuliah adalah investasi jangka panjang, sedangkan berkarya adalah langkah membangun masa depan.<br />
4. Networking – Manfaatkan komunitas, dosen, dan teman untuk memperluas relasi serta peluang.</p>
<h4>Menjadi Generasi Emas Digital</h4>
<p>Kuliah sambil berkarya bukanlah beban, melainkan kesempatan. Generasi muda yang mampu mengintegrasikan keduanya akan tumbuh sebagai pribadi yang unggul, kreatif, dan siap menghadapi persaingan global.</p>
<p>Era digital bukan hanya menuntut gelar, tetapi juga bukti nyata berupa karya, inovasi, dan kontribusi. Jadi, jangan ragu untuk memulai langkah kecil sejak di bangku kuliah, karena dari situlah pintu kesuksesan terbuka lebar.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/kuliah-sambil-berkarya-jalan-menuju-sukses-di-era-digital/">Kuliah Sambil Berkarya: Jalan Menuju Sukses di Era Digital</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/imgcdn.espos.id/@espos/images/2025/06/20250617092121-kuliah-sambil-kerja.jpg?width=500&#038;height=300&#038;quality=60&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Peran Mahasiswa dalam Membangun Perubahan Sosial</title>
		<link>https://jakpos.id/peran-mahasiswa-dalam-membangun-perubahan-sosial/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Aug 2025 00:09:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=90687</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Mahasiswa sering disebut sebagai agent of change atau agen perubahan. Julukan ini bukan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/peran-mahasiswa-dalam-membangun-perubahan-sosial/">Peran Mahasiswa dalam Membangun Perubahan Sosial</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://jakpos.id/go/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Mahasiswa sering disebut sebagai agent of change atau agen perubahan. Julukan ini bukan tanpa alasan. Di pundak merekalah harapan untuk membawa masyarakat menuju kondisi yang lebih baik, adil, dan sejahtera. Dengan bekal pengetahuan, keterampilan berpikir kritis, dan idealisme yang masih terjaga, mahasiswa memiliki posisi strategis dalam menggerakkan perubahan sosial di berbagai bidang.</p>
<p><strong>1. Pendidikan dan Pencerahan Masyarakat</strong><br />
Mahasiswa tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri. Pengetahuan yang mereka peroleh di bangku kuliah dapat menjadi modal untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Misalnya, mengadakan pelatihan literasi digital di desa, membantu UMKM memahami strategi pemasaran online, atau menjadi relawan pengajar di daerah terpencil. Aksi-aksi ini secara langsung meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masyarakat.</p>
<p><strong>2. Penggerak Advokasi dan Kepedulian Sosial</strong><br />
Mahasiswa juga kerap terlibat dalam advokasi terhadap isu-isu sosial, seperti lingkungan, kesetaraan gender, atau hak asasi manusia. Melalui diskusi publik, seminar, hingga aksi damai, mereka berperan mengangkat isu-isu penting agar mendapat perhatian publik dan pemerintah. Kepekaan terhadap masalah sosial menjadi energi yang mendorong lahirnya kebijakan yang lebih berpihak pada rakyat.</p>
<p><strong>3. Inovasi dan Solusi Kreatif</strong><br />
Kemajuan teknologi dan terbukanya akses informasi membuat mahasiswa memiliki peluang besar untuk menciptakan solusi kreatif. Mereka dapat membuat aplikasi yang membantu petani memasarkan hasil panen, mendirikan komunitas daur ulang sampah, atau mengembangkan teknologi sederhana yang mempermudah pekerjaan masyarakat. Inovasi ini bukan hanya ide di atas kertas, tetapi bisa diwujudkan menjadi perubahan nyata.</p>
<p><strong>4. Menjaga Moral dan Nilai Kritis</strong><br />
Di tengah derasnya arus globalisasi, mahasiswa berperan sebagai penjaga nilai-nilai moral dan pemikiran kritis. Mereka tidak hanya menerima informasi mentah-mentah, tetapi juga menimbang, mengkritisi, dan menyampaikan pandangan alternatif. Peran ini penting agar masyarakat tidak terjebak dalam informasi menyesatkan atau budaya instan yang merugikan.</p>
<p><strong>5. Kolaborasi dan Pemberdayaan</strong><br />
Perubahan sosial tidak bisa dilakukan sendirian. Mahasiswa dapat menjalin kerja sama dengan komunitas lokal, LSM, maupun pemerintah untuk menjalankan program pemberdayaan. Kolaborasi ini memastikan gerakan yang mereka lakukan memiliki dampak jangka panjang dan berkesinambungan.</p>
<p>Peran mahasiswa dalam membangun perubahan sosial tidak hanya terbatas di ruang akademik, tetapi juga mencakup kontribusi nyata di tengah masyarakat. Dengan semangat muda, idealisme, dan kapasitas intelektual yang dimiliki, mahasiswa dapat menjadi penggerak utama lahirnya perubahan positif. Tantangan memang ada, tetapi selama semangat untuk mengabdi tetap menyala, mahasiswa akan selalu menjadi motor penggerak peradaban.</p>
<p><em>Rizqita Octavia Ramadhani, Mahasiswi Akuntansi Syariah Institut Agama Islam SEBI.</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/peran-mahasiswa-dalam-membangun-perubahan-sosial/">Peran Mahasiswa dalam Membangun Perubahan Sosial</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/pwmjateng.com/wp-content/uploads/2021/10/IMG-20210317-WA0014.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Menjemput Mimpi dari Ujung Negeri: Kisah Sandi Pamungkas, Mahasiswa Asal Natuna yang Tembus Ajang Nasional</title>
		<link>https://jakpos.id/menjemput-mimpi-dari-ujung-negeri-kisah-sandi-pamungkas-mahasiswa-asal-natuna-yang-tembus-ajang-nasional/</link>
					<comments>https://jakpos.id/menjemput-mimpi-dari-ujung-negeri-kisah-sandi-pamungkas-mahasiswa-asal-natuna-yang-tembus-ajang-nasional/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2025 02:47:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Pertamina]]></category>
		<category><![CDATA[UPER]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=89398</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sandi bukan berasal dari keluarga berada. Ayahnya seorang anggota TNI yang kerap berpindah tugas, ibunya&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menjemput-mimpi-dari-ujung-negeri-kisah-sandi-pamungkas-mahasiswa-asal-natuna-yang-tembus-ajang-nasional/">Menjemput Mimpi dari Ujung Negeri: Kisah Sandi Pamungkas, Mahasiswa Asal Natuna yang Tembus Ajang Nasional</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Sandi bukan berasal dari keluarga berada. Ayahnya seorang anggota TNI yang kerap berpindah tugas, ibunya seorang ibu rumah tangga</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://jakpos.id/"><b>JAKPOS </b></a>&#8211; Di sudut utara Indonesia, di antara pulau-pulau kecil yang terhampar di Laut Natuna Utara, seorang anak muda tumbuh dengan mimpi yang jauh lebih besar dari batas cakrawala tempat tinggalnya. Namanya Sandi Pamungkas, putra daerah dari Natuna, Kepulauan Riau, yang kini mengangkat nama Universitas Pertamina (UPER) di panggung nasional sebagai Mahasiswa Berprestasi.</p>
<p>Dalam langkah sunyi yang berakar dari wilayah 3T—terdepan, terluar, dan tertinggal—Sandi justru menyalakan semangat yang tak padam untuk membuktikan bahwa tempat lahir tak menentukan batas cita-cita.<br />
“Saya tidak ingin Natuna hanya dikenal karena letaknya yang jauh. Saya ingin Natuna dikenal lewat prestasi anak-anak mudanya,” ujar Sandi.</p>
<h3>Tumbuh dari Tanah Terpinggirkan, Berpijak pada Tekad Besar</h3>
<p>Sandi bukan berasal dari keluarga berada. Ayahnya seorang anggota TNI yang kerap berpindah tugas, ibunya seorang ibu rumah tangga. Namun justru dari situ ia belajar tentang tanggung jawab, ketekunan, dan ketabahan.</p>
<p>Sejak duduk di bangku sekolah menengah, ia sudah jatuh hati pada dunia teknologi. Sandi melihat langsung bagaimana keterbatasan akses di daerah asalnya tak hanya menjadi hambatan, tetapi juga peluang besar bagi mereka yang mampu membawa solusi. “Saya ingin menciptakan teknologi yang berguna bagi orang banyak, bukan sekadar ikut tren,” katanya.</p>
<p>Berbekal nilai akademik cemerlang dan segudang kegiatan sekolah, Sandi berhasil meraih Beasiswa Generasi Juara TNI AD. Beasiswa itu membawanya ke UPER, jauh dari tanah kelahiran, namun dekat dengan impian yang selama ini ia tanam. “Beasiswa ini bukan akhir dari perjuangan, tapi awal dari komitmen saya untuk terus berkontribusi,” ucapnya.</p>
<h4>Moo Apps, dan 500 Prestasi Lainnya</h4>
<p>Selama kuliah di Program Studi Ekonomi, Sandi tak hanya fokus belajar. Ia aktif di berbagai kompetisi nasional dan internasional. Total, ia sudah meraih lebih dari 500 penghargaan, termasuk 100 di tingkat internasional.<br />
Salah satu karya yang membawanya dikenal dunia adalah Moo Apps—aplikasi pemantau kesehatan hewan ternak yang kini digunakan di berbagai wilayah di Indonesia, dan tengah dikembangkan bersama Kementerian Perekonomian Digital Taiwan.</p>
<p>“Moo Apps lahir dari keresahan saya melihat peternak kecil yang kerap merugi karena hewan sakit. Saya ingin mereka punya alat bantu berbasis teknologi yang mudah dipakai.”</p>
<h4>“Safety-Eye”: Dari Kampus untuk Keselamatan Kerja Migas</h4>
<p>Kini, Sandi tengah bersiap mengikuti Seleksi Mahasiswa Berprestasi Nasional 2025. Ia mewakili UPER dan LLDIKTI Wilayah III setelah meraih juara dua tingkat wilayah. Dalam ajang tersebut, ia membawa gagasan sistem keselamatan kerja berbasis AI untuk industri migas bernama Safety-Eye.</p>
<p>Berdasarkan data Kementerian ESDM (2024), sektor migas memiliki tingkat kecelakaan kerja 2,5 kali lebih tinggi dibanding sektor lainnya. Safety-Eye hadir sebagai solusi: sistem berbasis kamera cerdas dan sensor untuk mendeteksi kelelahan, suhu tubuh, serta penggunaan alat pelindung diri secara otomatis.</p>
<h5>Dukungan Kampus dan Dosen Pembimbing</h5>
<p>Menurut KaProdi Ekonomi, Dr. Feriansyah, S.E., M.Si., Sandi merupakan mahasiswa yang tidak hanya konsisten dalam capaian akademik, tetapi juga tekun, mandiri, dan visioner dalam mengembangkan ide-ide solutif yang bermakna dan bermanfaat bagi masyarakat.</p>
<p>“Sandi bukan hanya bekerja keras, tapi juga bekerja cerdas. Ia mampu melihat celah persoalan dan merancang solusi konkret berbasis teknologi. Saya bangga membimbingnya karena dia tidak hanya membawa nama baik dirinya, tapi juga daerah asal dan almamater,” tutur Feri.</p>
<p><strong>Menembus Batas, Menyalakan Harapan</strong></p>
<p>Kisah Sandi adalah bukti nyata bahwa tekad, inovasi, dan pendidikan dapat menembus batas-batas geografis dan sosial. Ia membawa semangat perubahan bagi tanah kelahirannya, sekaligus mengharumkan nama UPER di kancah nasional dan internasional. Kini, dari Natuna untuk Indonesia, Sandi Pamungkas menunjukkan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu jauh jika keberanian dan kerja keras ikut melangkah.</p>
<p>Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, MS., IPU., turut mengapresiasi pencapaian ini.</p>
<p>“Sandi adalah bukti bahwa mahasiswa dari daerah 3T pun bisa bersaing di tingkat nasional. Ia merepresentasikan semangat UPER untuk melahirkan inovator muda yang berdampak bagi masyarakat dan bangsa.”</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menjemput-mimpi-dari-ujung-negeri-kisah-sandi-pamungkas-mahasiswa-asal-natuna-yang-tembus-ajang-nasional/">Menjemput Mimpi dari Ujung Negeri: Kisah Sandi Pamungkas, Mahasiswa Asal Natuna yang Tembus Ajang Nasional</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/menjemput-mimpi-dari-ujung-negeri-kisah-sandi-pamungkas-mahasiswa-asal-natuna-yang-tembus-ajang-nasional/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/www.waspada.id/wp-content/uploads/2025/07/IMG-20250728-WA0035-700x400.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>5 Tips Jitu Menjadi Mahasiswa Produktif Tanpa Burnout</title>
		<link>https://jakpos.id/5-tips-jitu-menjadi-mahasiswa-produktif-tanpa-burnout/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2025 03:18:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Produktif]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=90535</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Nuraziz Ummu Hanifah, Mahasiswa IAI SEBI Menjadi mahasiswa itu kadang terasa seperti berada di&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/5-tips-jitu-menjadi-mahasiswa-produktif-tanpa-burnout/">5 Tips Jitu Menjadi Mahasiswa Produktif Tanpa Burnout</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Nuraziz Ummu Hanifah, Mahasiswa IAI SEBI</strong></em></p>
<p>Menjadi mahasiswa itu kadang terasa seperti berada di tengah pertandingan maraton yang nggak jelas garis finisnya di mana. Di satu sisi, kita dituntut untuk aktif: ikut organisasi, ngejar IPK tinggi, magang, nulis skripsi, bahkan kadang sambil kerja part-time. Tapi di sisi lain, tubuh dan pikiran juga punya batas. Nggak jarang, produktif yang dikejar malah jadi boomerang. Capek terus, semangat ngedrop, ujung-ujungnya burnout.</p>
<p>Padahal, produktif bukan berarti harus sibuk terus. Produktif yang sehat justru terasa seimbang. Nggak bikin lelah berlebihan, tapi tetap membawa kita maju. Nah, berikut ini lima tips jitu biar kamu tetap jadi mahasiswa yang produktif tanpa kelelahan mental dan fisik yang berkepanjangan:</p>
<p><strong>1. Stop Glorifikasi “Sibuk” — Produktif Itu Bukan Soal Jadwal Padat</strong></p>
<p>Coba jujur: berapa kali kamu merasa bangga bilang “Aduh, minggu ini full banget jadwal aku”?<br />
Padahal, jadwal padat belum tentu produktif. Kadang justru kita mengisi waktu dengan banyak kegiatan yang nggak punya dampak besar untuk tujuan kita. Daripada ikut lima kegiatan setengah-setengah, lebih baik fokus dua hal yang benar-benar kamu cintai dan konsisten di sana. Produktif bukan soal banyaknya aktivitas, tapi soal dampak dan arah.</p>
<p><strong>2. Jadikan Istirahat sebagai Rutinitas, Bukan Hadiah</strong></p>
<p>Kebanyakan mahasiswa baru istirahat setelah burnout. Padahal istirahat seharusnya rutin, bukan darurat. Sisipkan waktu untuk tidur cukup, jalan kaki sore, atau nonton film tanpa rasa bersalah. Kalau kamu terus bekerja tanpa rehat, otakmu akan mogok juga. Jangan tunggu &#8220;kecapean banget&#8221; baru rehat—istirahat itu bagian dari kerja juga.</p>
<p><strong>3. Buat Daily List dengan Skala Prioritas (dan Jangan Over-target!)</strong></p>
<p>Menulis to-do list itu penting, tapi lebih penting lagi memilah: mana yang harus hari ini, dan mana yang bisa besok. Gunakan metode skala prioritas seperti Eisenhower Matrix: bedakan yang penting-dan-mendesak dari yang hanya kelihatannya sibuk tapi nggak urgent.</p>
<p>Jangan isi daftar harianmu dengan 15 tugas dalam sehari—itu resep kecewa. Tiga atau empat tugas yang terselesaikan itu jauh lebih baik dari sepuluh yang cuma setengah jadi.</p>
<p><strong>4. Sediakan Waktu untuk Hal yang Bikin Kamu Senang (dan Bukan Akademik!)</strong></p>
<p>Produktif bukan berarti jadi robot kuliah. Sisihkan waktu untuk hal-hal yang kamu suka: main musik, gambar, journaling, beresin kamar sambil denger playlist favorit, atau ngobrol santai bareng teman. Aktivitas semacam ini menjaga kewarasan dan bikin kamu merasa &#8220;hidup&#8221;, bukan sekadar &#8220;jalanin tugas&#8221;.</p>
<p><strong>5. Kenali Pola Energi Harianmu dan Atur Ritmenya</strong></p>
<p>Ada orang yang semangatnya meledak di pagi hari, ada yang otaknya baru nyala habis Isya. Kamu yang mana? Kenali jam-jam terbaikmu dan gunakan untuk kerja berat seperti ngerjain tugas atau skripsi. Jangan ikut ritme orang lain. Produktivitas paling optimal datang ketika kamu bekerja selaras dengan energimu sendiri.</p>
<h3>Kamu Nggak Harus “Super” Untuk Bisa Maju</h3>
<p>Menjadi mahasiswa produktif tidak harus sempurna, tidak harus selalu “on fire”, dan tidak harus terlihat sibuk di mata orang lain. Yang penting kamu tahu ke mana arahmu, kamu jujur dengan kemampuanmu, dan kamu sayang dengan tubuh serta pikiranmu sendiri.</p>
<p>Ingat, kamu bukan mesin. Kamu manusia. Dan manusia yang bijak tahu kapan harus jalan cepat, kapan harus pelan, bahkan kapan harus berhenti sejenak untuk bernapas.<br />
Produktif, iya. Tapi tetap waras.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/5-tips-jitu-menjadi-mahasiswa-produktif-tanpa-burnout/">5 Tips Jitu Menjadi Mahasiswa Produktif Tanpa Burnout</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/osccdn.medcom.id/images/content/2020/04/06/ec72d3178f8c51f9ee3e22f9137356df.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Peningkatan Kasus Bunuh Diri di Kalangan Mahasiswa</title>
		<link>https://jakpos.id/peningkatan-kasus-bunuh-diri-di-kalangan-mahasiswa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Dec 2023 01:50:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62026</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tindakan Bunuh Diri : Perlu Perhatian Dari data yang didapat tingkat kecenderungan ide dan upaya&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/peningkatan-kasus-bunuh-diri-di-kalangan-mahasiswa/">Peningkatan Kasus Bunuh Diri di Kalangan Mahasiswa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tindakan Bunuh Diri : Perlu Perhatian</p>
<p>	Dari data yang didapat tingkat kecenderungan ide dan upaya bunuh diri dikalangan mahasiswa ada pada tingkat tinggi. Ide bunuh diri dikalangan mahasiswa perlu diperhatikan karena memiliki potensi untuk merealisasikannya dan beralih menjadi tindakan bunuh diri. Hal ini dikarenakan pikiran individu untuk melakukan bunuh diri yang sewaktu-waktu dapat muncul dan memicu individu melakukan tindakan bunuh diri secara impulsif, maka tidak heran jika perilaku bunuh diri (suicidal behavior) dapat terjadi hanya dengan sedikit dorongan dari ide. Handriani menyatakan bahwa tindakan bunuh diri akan selalu didahului oleh ide bunuh diri (suicide ideation). Sehingga perlu adanya pencegahan dan penanganan yang serius, seperti melakukan edukasi terhadap mahasiswa terkait dampak dari bunuh diri yang akan ditimbulkan baik dilingkungan keluarga, sahabat maupun orang sekitar. Selain dukungan sosial (social support), perlu adanya literasi tentang kesehatan mental yang harus dilakukan.</p>
<p>Kasus Tindakan Bunuh Diri : Di Kota Semarang Meningkat</p>
<p>	Pada tahun 2023 kasus mengenai bunuh diri kian meningkat di kalangan mahasiswa, salah satunya kasus pada bulan oktober yang menimpa Mahasiswa Universitas Negeri Semarang dan Mahasiswa UDINUS Semarang. Berdasarkan kasus bunuh diri di kota Semarang, stres merupakan salah satu faktor penyebab tindakan bunuh diri. Studi menunjukan mahasiswa mengalami stres sebanyak 45% berpikir tidak sanggup melanjutkan hidup, 20% putus asa, 5% berpikir untuk menyakiti diri sendiri. Stres yang dialami mahasiswa seringkali terkait masalah dalam menyesuaikan diri dengan keadaan terkhusus terutama untuk mahasiswa baru yang belum mengenal cara belajar yang efektif untuk diterapkan selama studi perguruan tinggi, kecemasan terkait ujian hingga takut gagal juga merupakan salah satu penyebab stres yang dialami.</p>
<p>Stres Faktor Tindakan Bunuh Diri</p>
<p>	Berdasarkan hasil penelitian, mahasiswa rentan berpikir untuk melakukan tindakan bunuh diri secara emosioal sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan masalah. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 36 mahasiswa (58,1%) dari total 62 partisipan memiliki tingkat kecenderungan ide (suicide ideation) dan upaya bunuh diri (suicide attempt) yang tinggi. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa usia terbukti memengaruhi ide dan upaya pada mahasiswa. Hal ini disebabkan oleh masa transisi yang signifikan karena jauh dari rumah, dukungan sosial keluarga dan perlunya penyesuaian dengan lingkungan baru, serta tak luput dengan pergaulan bebas yang melakukan penyalagunaan alkohol dan obat-obatan. Untuk mencegah terjadinya tindakan bunuh diri yang terus meningkat dapat dilakukan 3 upaya yaitu; upaya di sektor kesehatan, uapaya dalam pembatasan alat dan fasilitas yang dapat digunakan untuk bunuh diri, dan upaya dalam pengelolaan media masa dalam pelaporan kasus (percobaan) bunuh diri. Mahasiswa juga disarankan perlu melakukan olahraga karena dapat mengatasi stres kronik dan ide bunuh diri. </p>
<p>Kesimpulan : Pernyataan Di Atas</p>
<p>	Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa kasus tindakan (percobaan) bunuh diri terus meningkat disetiap tahunnya di kalangan mahasiswa. Faktor penyebab ide dan tindakan bunuh diri yang dilakukan adalah salah satunya stres yang dialaminya, baik stres positif maupun stres negatif. Studi menunjukan mahasiswa mengalami stres sebanyak 45% berpikir tidak sanggup melanjutkan hidup, 20% putus asa, 5% berpikir untuk menyakiti diri sendiri. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 36 mahasiswa (58,1%) dari total 62 partisipan memiliki tingkat kecenderungan ide (suicide ideation) dan upaya bunuh diri (suicide attempt) yang tinggi. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa usia terbukti memengaruhi ide dan upaya pada mahasiswa. Stres dikalangan mahasiswa banyak terkait mengenai perihal adaptasi dengan lingkungan baru, jauhnya dari lingkungan keluarga, dan stres terkait tugas yang diberikan karena dianggap memberatkan sebagian mahasiswa, termasuk mahasiswa baru yang baru saja masuk di dunia perkuliahan dan belum mengetahui metode pembelajaran di bangku perkuliahan. Selain stres tugas yang diberikan, stres terhadap lingkungan pertemanan juga termasuk kedalam faktor penyebab ide dan tindakan bunuh diri. </p>
<p>Evellyn Sandra Auliya<br />
Mahasiswa Universitas Sebelas Maret</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/peningkatan-kasus-bunuh-diri-di-kalangan-mahasiswa/">Peningkatan Kasus Bunuh Diri di Kalangan Mahasiswa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/suarakampus.com/wp-content/uploads/2021/03/IMG-20210317-WA0014.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Relasi Pertemanan terhadap Kualitas Diri Mahasiswa</title>
		<link>https://jakpos.id/pengaruh-relasi-pertemanan-terhadap-kualitas-diri-mahasiswa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Dec 2023 01:47:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62023</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Manusia merupakan makhluk sosial yang berarti tidak dapat berdiri sendiri dalam rangka memenuhi&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pengaruh-relasi-pertemanan-terhadap-kualitas-diri-mahasiswa/">Pengaruh Relasi Pertemanan terhadap Kualitas Diri Mahasiswa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Manusia merupakan makhluk sosial yang berarti tidak dapat berdiri sendiri dalam rangka memenuhi seluruh kebutuhannya. Hal tersebut menuntut manusia untuk berinteraksi dengan manusia yang lain. Karena setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda, dalam berinteraksi antarsesama manusia perlu memperhatikan norma-norma, sikap, serta kesopanan dalam berbahasa.</p>
<p>Menurut Havighurst, tugas perkembangan remaja adalah mencapai hubungan yang matang antarteman sebaya yang nantinya akan berdampak pada pembentukan karakter dalam diri remaja. Menurut Santrock (2011), rentang usia dewasa berkisar antara 18 tahun hingga 25 tahun. Dengan demikian, mahasiswa tergolong manusia dewasa yang artinya telah melewati masa remajanya dan melaksanakan tugas perkembangan sebagai remaja.</p>
<p>Di masa perkuliahan mahasiswa sebagai makhluk sosial sangat membutuhkan teman sebaya sebagai pendukung keberlangsungan perkuliahan terutama dalam meningkatkan kualitas diri. Dalam memilih relasi pertemanan bukanlah hal yang bisa disepelekan karena kualitas relasi pertemanan nantinya berdampak pada kualitas diri mahasiswa baik dari segi pola pikir, rasa tanggung jawab, kedisiplinan, maupun perkembangan psikologis mahasiswa. Hal tersebut sesuai dengan teori Bandura bahwa perilaku individu merupakan hasil pengelolaan observasi pada lingkungannya. Sederhananya, ketika kita berteman dengan penjual parfum kita akan tertular aroma wangi dari parfumnya, sebaliknya kita akan bau sampah bila bermain-main dengan sampah. Maksudnya adalah ketika relasi pertemanan kita berkualitas secara tidak langsung memberikan pengaruh kepada diri kita sehingga berevolusi ke arah yang positif, sebaliknya apabila relasi pertemanan kita adalah orang-orang yang suka menunda-nunda, bermalas-malasan, dan tidak bertanggung jawab maka diri kita akan terbawa arus untuk bersikap demikian.</p>
<p>Pernahkah kalian menemui fenomena mahasiswa yang membentuk kelompok-kelompok tertentu bahkan hubungan antarkelompok tersebut tidak terlalu akrab? Kira-kira apa penyebab fenomena tersebut bisa terjadi? Fenomena tersebut bisa saja terjadi akibat perbedaan frekuensi, pola pikir, tujuan, bahkan prinsip yang dipegang dalam suatu kelompok. Relasi pertemanan dalam suatu kelompok juga tidak selalu berjalan mulus, padahal sebagai mahasiswa perlu hadirnya teman sebaya sebagai support system setelah keluarga. Agar terjalin relasi pertemanan yang optimal maka setiap individu penting untuk memahami dan mampu beradaptasi dengan baik. Adapun salah satu upaya agar relasi pertemanan dapat terjalin secara optimal yaitu melalui analisis perilaku asertif.</p>
<p>Menurut Skinner (1983) dalam Soekidjo Notoatmodjo (2005), perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap rangsangan dari luar. Menurut Sri Purwanti, asertif adalah kemampuan berkomunikasi secara jujur dan menunjukkan ekspresi sesuai dengan perasaan dan pikiran serta kebutuhan kita. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah reaksi seseorang terhadap rangsangan luar yang dikomunikasikan dan diekspresikan secara jujur dan sesuai porsinya. Tujuan dari perilaku asertif adalah mengkomunikasikan sesuatu secara jujur sehingga terbentuk suasana saling percaya antarmanusia yang satu dengan manusia yang lain. Adapun menurut Rakos (dalam Santosa) orang yang asertif memiliki kemampuan untuk:</p>
<p>Berkata &#8220;tidak&#8221;<br />
Meminta pertolongan<br />
Mengekspresikan perasaan-perasaan yang positif maupun yang negatif secara wajar<br />
Berkomunikasi dengan hal-hal yang bersifat umum</p>
<p>Setelah menganalisis perilaku asertif, kita perlu mengetahui fungsi dari teman sebaya sehingga relasi pertemanan dapat terjalin secara optimal dan manusia dapat berevolusi ke arah yang positif.</p>
<p>Menurut Kelly dan Hansen dalam Desmita (2015:220-221) ini memiliki 6 fungsi diantaranya:</p>
<p>Mengontrol impuls impuls agresif. Melalui interaksi dengan teman sebaya, remaja belajar bagaimana memecahkan pertentangan-pertentangan dengan cara-cara lain selain tindakan secara langsung.</p>
<p>Memperoleh dorongan emosional dan sosial serta menjadi lebih independent. Teman sebayanya memberikan dorongan bagi remaja untuk mengambil peran dan tanggung jawab yang baru. Dorongan yang diperoleh remaja dari teman-teman sebaya mereka ini menyebabkan berkurangnya ketergantungan remaja pada dorongan keluarga mereka.</p>
<p>Meningkatkan keterampilan-keterampilan sosial, mengembangkan kemampuan penalaran, dan belajar untuk mengekspresikan perasaan-perasaan dengan cara-cara yang lebih matang. Melalui percakapan dan perdebatan dengan teman sebaya, remaja belajar mengekspresikan ide-ide dan perasaan-perasaan serta mengembangkan kemampuan mereka untuk memecahkan masalah.</p>
<p>Mengembangkan sikap terhadap seksualitas dan tingkah laku peran jenis kelamin. Sikap-sikap seksualitas dan tingkah laku peran jenis kelamin terutama terbentuk melalui teman sebayanya. Remaja belajar mengenai tingkah laku dan sikap yang mereka asosiasikan dengan laki-laki dan perempuan muda.</p>
<p>Memperkuat penyesuaian moral dan nilai-nilai, umumnya orang dewasa mengajarkan kepada anak-anak mereka tentang apa yang benar dan apa yang salah. Di dalam teman sebaya, remaja mencoba mengambil keputusan atas diri mereka sendiri. Remaja mengevaluasi nilai yang dimilikinya dan yang dimiliki oleh lingkungan teman sebayanya, serta memutuskan mana yang benar. Proses evaluasi ini dapat membantu remaja mengembangkan kemampuan penalaran moral mereka.</p>
<p>Meningkatkan harga diri. Menjadi orang yang disukai oleh sejumlah besar teman-teman sebayanya membuat remaja merasa enak atau senang tentang dirinya.</p>
<p>Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sebagai mahasiswa, relasi pertemanan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan perkuliahan terutama dalam meningkatkan kualitas diri mahasiswa. Setelah melakukan survei, didapatkan sekitar 87% dari total 123 responden setuju bahwa relasi pertemanan berpengaruh terhadap kualitas diri mahasiswa. Salah satu alasan yang dapat mewakili responden lainnya diungkap oleh mahasiswa ITB yang berinisial AK,&#8221;Menurut saya, lingkungan pertemanan sangat berpengaruh dengan kualitas diri mahasiswa karena pada masa ini mahasiswa sedang mencari jati dirinya dan sering mencoba banyak hal yang baru. Mahasiswa terkhusus mahasiswa baru juga masih belum bisa dianggap sepenuhnya dewasa dan juga masih labil. Oleh karena itu, teman berperan dalam memberikan solusi atau pendapat dari permasalahan yang dialami sehingga bisa mempengaruhi pemikiran dan juga perbuatan mahasiswa.&#8221; Agar relasi pertumbuhan terjalin secara optimal, salah satu upaya yang dapat diterapkan adalah dengan berperilaku asertif yang berarti bersikap dan mengekspresikan suatu respon dari rangsangan luar dengan jujur dan tidak berlebihan. Dengan kita bersikap apa adanya dalam berinteraksi, hukum alam akan secara otomatis memilah relasi pertemanan mana yang bisa mendukung perkembangan diri kita dan mana yang nantinya akan menghambat atau bahkan memberikan dampak buruk pada diri kita. Apabila kita ingin meningkatkan kualitas diri, kita bisa memilih untuk berada di lingkungan yang bisa mendukung perkembangan diri kita dan berkata &#8220;tidak&#8221; pada orang-orang yang memberikan dampak buruk, namun hal ini tidak secara mutlak menolak berinteraksi dan menutup diri dengan mereka. Dengan demikian, sebagai individu kita bisa mendapatkan relasi pertemanan yang sejalan dengan pola pikir, tujuan, dan prinsip hidup sehingga dapat mendukung diri kita tumbuh secara optimal menuju pribadi yang lebih berkualitas.</p>
<p>Azizah Dwi Permata<br />
Mahasiwa Uiversitas Sebelas Maret</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pengaruh-relasi-pertemanan-terhadap-kualitas-diri-mahasiswa/">Pengaruh Relasi Pertemanan terhadap Kualitas Diri Mahasiswa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/asset.kompas.com/crops/c7UiLEBSiJzu035mknLFMCsI41A=/90x0:756x444/750x500/data/photo/2023/01/16/63c4c5820c279.png?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Menggali Dinamika Perilaku Konsumsi Alkohol pada Mahasiswa</title>
		<link>https://jakpos.id/menggali-dinamika-perilaku-konsumsi-alkohol-pada-mahasiswa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Dec 2023 07:51:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Konsumsi Alkohol]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Normalisasi konsumsi alkohol]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61981</guid>

					<description><![CDATA[<p>Normalisasi konsumsi alkohol menjadi faktor risiko peningkatan beban penyakit tidak menular, ekonomi negara, dan waktu hidup yang tidak produktif.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menggali-dinamika-perilaku-konsumsi-alkohol-pada-mahasiswa/">Menggali Dinamika Perilaku Konsumsi Alkohol pada Mahasiswa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Normalisasi konsumsi alkohol menjadi faktor risiko peningkatan beban penyakit tidak menular, ekonomi negara, dan waktu hidup yang tidak produktif. Institusi pendidikan seharusnya merupakan tempat untuk membangun kesadaran dan mengarahkan peserta didiknya dalam perilaku yang positif.</p>
<p>Pendekatan awal yang dapat dilakukan adalah memahami latar belakang perilaku konsumsi alkohol pada mahasiswa guna menyesuaikan intervensi yang optimal.</p>
<p>Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa kelompok usia yang rentan mengonsumsi alkohol ada di angka 20–24 tahun. Validasi lainnya berasal dari National Survey on Drug Use and Health yang juga mengatakan hal serupa, bahwa sebanyak 49,3% mahasiswa mengonsumsi alkohol.</p>
<p>Dilihat dari transisi demografi dan epidemiologi, generasi tersebut adalah aset yang berharga untuk menopang produktivitas bangsa lewat masa bonus demografi. Namun, jika perilaku konsumsi ini kian marak terjadi, beban ekonomi dan kemerosotan kualitas hidup akan di depan mata.</p>
<p>Bisa dibayangkan seberapa banyak uang negara yang dialokasikan membiayai dampak penyakit akibat faktor resiko konsumsi alkohol. Maka dari itu, peribahasa “mencegah lebih baik daripada mengobati” perlu kita aplikasikan pada isu ini.</p>
<p>Institusi, dilihat dari terminologinya menyasar pada adanya aturan, mekanisme, dan penegakan untuk membentuk insan di dalamnya dengan nilai dan moral yang dikehendaki. Hal itu pula yang mendasari tujuan dari adanya universitas tempat mahasiswa menimba ilmu, katanya.</p>
<p>Urgensi permasalahan konsumsi alkohol jangan dipandang sebelah mata, merasa bukan kodrat universitas mengatasi hal tersebut, atau bahkan acuh dengan fenomena yang kerap ditemukan ini. Pendekatan yang diharapkan bukan yang membabi buta, menyengsarakan, atau bahkan langsung diambil alih oleh peradilan. Intervensi yang dekat dan hangat menjadi krusial bagi mahasiswa untuk diajarkan dan dididik terkait apa yang benar dan apa yang salah (dibaca: discretio).</p>
<p>Lalu mulai dari mana? Langkah pertama adalah mengetahui alasan mereka mengonsumsi alkohol. Intervensi yang baik adalah yang menjawab permasalahan dari akarnya, bukan dari asumsi pengambil kebijakan belaka.</p>
<p>Membahas mengenai teori perilaku, disebutkan oleh Ajzen (1991) adanya kerangka berpikir mengenai tiga faktor yang mempengaruhi planned behavior, yaitu: attitudes (dari dalam diri), subjective norm (dari lingkungan), dan behavior control (penghambat atau kontrol). Sebuah penelitian sederhana dari kami mengategorikan variabel tersebut menjadi sebuah kerangka yang tidak terlalu abstrak yaitu adanya pengaruh stres (dari diri), pergaulan dan media sosial (dari lingkungan), serta hubungan dari orang tua (sebagai kontrol perilaku).</p>
<p>Ternyata, asumsi dari penelitian ini untuk menengok variabel tersebut menuai hasil yang menarik. Demotivasi atau kondisi stres memang mengakibatkan mahasiswa mengkonsumsi alkohol, tetapi jika dikaji lebih dalam, penyebab demotivasi tersebut sangat beragam; mulai dari beban akademik, organisasi, kesibukan, dan lainnya.</p>
<p>Coping mechanism dari demotivasi ini perlu diteliti lebih lanjut, apakah memberikan pleasure sementara bagi mereka atau eksistensi diri apa yang didapatkan? Pergaulan meliputi ajakan teman karena telah tersedianya sarana sangat berpengaruh bagi konsumsi mereka. Tidak luput, ada sebagian orang yang menjadi inisiator (mengajak) teman-temannya dan jika kondisi serta materi memadai, jawaban ‘iya’ menjadi mudah diucapkan.</p>
<p>Perguruan tinggi kebanyakan juga menjadi titik awal bagi seseorang untuk merantau dan berpisah dari orang tua . Hal ini menimbulkan perubahan perilaku dari yang awalnya terkontrol, bisa berubah menjadi lebih ‘kendur’ karena minimnya proteksi keluarganya. Ditambah dengan masa life crisis dan pencarian jati diri mahasiswa yang menimbulkan desakan keingintahuan untuk mencoba.</p>
<p>Namun, satu hal yang menarik adalah pengaruh value dan budaya keluarga dalam perilaku konsumsi alkohol cukup berperan bagi mereka. Jawaban baik, buruk, benar, dan salah memang relatif dan normatif karena dibangun dari budaya di tempat tinggal. Penemuan adanya tradisi dan pengaruh kebiasaan orang tua juga berkorelasi dengan konsumsi mereka.</p>
<p>Variabel penghambat yang ditemukan ternyata tidak hanya bersumber dari arahan dan pengawasan orang tua, tetapi juga dari status sosial demografi mereka. Wanita terbukti lebih sadar akan dampak negatif konsumsi alkohol yang relatif lebih besar dibanding pria.</p>
<p>Demotivasi mahasiswa menjadi faktor yang berkontribusi untuk berujung pada konsumsi alkohol. Namun, diperlukan penelitian lebih mendalam dan mendetail mengenai gambaran pleasure/eksistensi diri yang didapatkan mahasiswa dengan mengonsumsi alkohol untuk mendukung temuan awal ini.</p>
<p>Konsumsi alkohol juga tidak luput dari faktor ajakan pergaulan serta adanya sarana yang mumpuni bagi mereka untuk menggelar kebiasaan tersebut. Orang tua sangat berpengaruh dalam memberi teladan dan mengontrol buah hati mereka. Untuk itu, intervensi pendekatan yang baik ke depannya harus melibatkan semua pihak dan mencoba memahami masalah dari kacamata yang holistik.</p>
<p>Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia<br />
Metodologi Penelitian Kualitatif Kesehatan 2023<br />
Kelompok 5</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menggali-dinamika-perilaku-konsumsi-alkohol-pada-mahasiswa/">Menggali Dinamika Perilaku Konsumsi Alkohol pada Mahasiswa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/jurnalpost.com/wp-content/uploads/2022/12/Minuman-Keras.webp?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Peran Mahasiswa Sebagai Generasi Emas</title>
		<link>https://jakpos.id/peran-mahasiswa-sebagai-generasi-emas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Dec 2023 07:37:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61975</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Mahasiswa adalah suatu generasi yang dipundaknya terbebani berbagai macam harapan, dan diatas pundaknyalah&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/peran-mahasiswa-sebagai-generasi-emas/">Peran Mahasiswa Sebagai Generasi Emas</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Mahasiswa adalah suatu generasi yang dipundaknya terbebani berbagai macam harapan, dan diatas pundaknyalah sebuah amanat besar untuk memimpin bangsa ini diletakkan. Hal ini dapat dimengerti karena mahasiswa diharapkan sebagai generasi penerus. generasi yang akan melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya, generasi yang mengisi dan melanjutkan estafet pembangunan.</p>
<p>Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. &#8220;The founding leaders&#8221; Indonesia telah meletakkan dasar-dasar dan tujuan kebangsaan sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945. Kita mendirikan negara Republik Indonesia untuk maksud melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan untuk ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk mencapai cita-cita tersebut, bangsa kita telah pula bersepakat membangun kemerdekaan kebangsaan dalam susunan organisasi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Negara Hukum yang bersifat demokratis (democratische rechtsstaat) dan sebagai Negara Demokrasi konstitutional (constitutional democracy) berdasarkan Pancasila.</p>
<p>Dalam upaya mewujudkan cita-cita itu, tentu banyak permasalahan, tantangan, hambatan, rintangan, dan bahkan ancaman yang harus dihadapi. Masalah-masalah yang harus kita hadapi itu beraneka ragam corak dan dimensinya. Banyak masalah yang timbul sebagai warisan masa lalu, banyak pula masalah-masalah baru yang terjadi sekarang ataupun yang akan datang dari masa depan kita, selain itu, mahasiswa dan pemuda sekarang juga harus mampu beradaptasi dengan dunia global yang semakin modern. Dari pandangan mata telanjang kita, memang fenomena-fenomena tersebut bukanlah suatu permasalahan berat yang harus dan mesti ditakuti.</p>
<p>Namun yang perlu diwaspadai adalah virus-virus yang ditimbulkan oleh fenomena sosial abstrak tersebut, sehingga mahasiswa dan pemuda tidak hanya menjadi pemuda yang cerdas, berkualitas dan tanggguh, tetapi juga menjadi mahasiswa yang kuat, yang mampu bertahan ditengah derasnya arus kebobrokan moral yang disebabkan oleh menduanianya pengaruh barat atau westernisasi.</p>
<p>Dalam menghadapi beraneka persoalan tersebut, selalu ada kecemasan, kekhawatiran, atau bahkan ketakutan-ketakutan sebagai akibat kealfaan atau kesalahan yang kita lakukan atau sebagai akibat hal-hal yang berada di luar jangkauan kemampuan kita, seperti karena terjadinya bencana alam atau karena terjadinya krisis keuangan di negara lain yang berpengaruh terhadap perekonomian kita di dalam negeri. Dalam perjalanan bangsa kita selama 105 tahun terakhir sejak kebangkitan nasional, selama 88 tahun terakhir sejak sumpah pemuda, selama 68 tahun terakhir sejak kemerdekaan, ataupun selama 18 tahun terakhir sejak reformasi, banyak kemajuan yang telah kita capai, tetapi masih jauh lebih banyak lagi yang belum dan mesti kita kerjakan. Saking banyaknya permasalahan yang kita hadapi, terkadang orang cenderung larut dalam keluh kesah tentang kekurangan, kelemahan, dan ancaman- ancaman yang harus dihadapi yang seolah-olah tidak tersedia lagi jalan untuk keluar atau solusi untuk mengatasi keadaan.</p>
<p>Perkembangan kegiatan berpemerintahan dan bernegara setelah sepuluh tahun terus menerus bergerak cepat, memerlukan langkah-langkah konsolidasi yang tersistematisasikan. Berbagai fungsi yang bersifat tumpang tindih perlu ditata ulang. Berbagai kegiatan yang alfa dikerjakan, perlu ditangani dengan cara yang lebih baik. Penting bagi kita semua, terutama kaum muda Indonesia, membiasakan diri yaitu untuk mengerjakan apa saja yang semestinya kita kerjakan guna memperbaiki keadaan dan meningkatkan produktifitas kita sebagai bangsa dan negara. Setiap anak bangsa perlu bertekad melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing melebihi apa yang seharusnya dikerjakan, dengan hanya mengambil hak tidak melebihi hak yang memang seharusnya diterima.</p>
<p>Generasi Emas</p>
<p>Generasi emas yang diharapkan yaitu generasi yang cerdas komprehensif, antara lain produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul. Kenapa disebut Generasi Emas, karena emas adalah logam mulia, yang tak lekang oleh zaman. Kemajuan bangsa ini akan ditentukan dengan adanya generasi penerus yang bersifat mulia baik secara intelektual ataupun moral. Membentuk atau mencetak generasi emas tentulah tak semudah membalik telapak tangan. Perlu proses panjang yang bertumpu pada pembangunan karakter anak bangsa.</p>
<h3>Peran Mahasiswa</h3>
<p>Mahasiswa dapat menjadi Iron Stock, yaitu mahasiswa diharapkan menjadi manusia- manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus-menerus, Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan.</p>
<p>Lantas sekarang apa yang kita bisa lakukan dalam memenuhi peran Iron Stock tersebut? Jawabannya tak lain adalah dengan memperkaya diri kita dengan berbagai pengetahuan baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan, dan tak lupa untuk mempelajari berbagai kesalahan yang pernah terjadi di generasi-generasi sebelumnya. Kata iron stock sendiri mengacu pada sifat dan kodrat dari besi itu sendiri, yakni berkarat seiring dengan berjalannya jam waktu. Sehingga diperlukan pengganti dengan besi- besi baru yang lebih kuat dan kokoh. Begitulah juga dengan mahasiswa sebagai iron stock, yang suatu saat nanti akan digantikan dengan generasi penerusnya. Hal ini juga sesuai dengan kodrat manusia yang fana, yang memiliki keterbatasan waktu, tenaga, dan pikiran.</p>
<p>Rekontraksi Gerakan Pemuda dalam Upaya mengembalikan masa depan bangsa yang di nantikan keberadaanya dalam perwujudan kehidupan bangsa dan Negara Indonesia karena pemuda merupakan pewaris sejarah Bangsa yang mempuyai kesempatan dan kemamuan yang sangat tinggi yang memiliki peran sentralnya dalam berbangai bidang untuk kemajuan antara lain:</p>
<p>1. Pemuda dan Mahasiswa harus sebagai agen perubahan<br />
2. Pemuda harus bersatu dalam kepentingan yang sama.<br />
3. Mengembalikan semangat nasionalisme dan partriotisme di kalalangan generasi muda<br />
4. Menguatkan semangat nasionalisme tanpa harus meninggalkan jati diri daerah.</p>
<p>Febrian Fajar Dwi Widiatmaja<br />
Mahasiswa UNS</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/peran-mahasiswa-sebagai-generasi-emas/">Peran Mahasiswa Sebagai Generasi Emas</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/suarakampus.com/wp-content/uploads/2021/03/IMG-20210317-WA0014.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Hal yang Sebaiknya Dihindari Mahasiswa dalam Mengelola Keuangan</title>
		<link>https://jakpos.id/hal-yang-sebaiknya-dihindari-oleh-mahasiswa-dalam-mengelola-keuangan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Dec 2023 02:29:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Pengelolaan Keuangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61965</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mahasiswa seringkali memiliki sumber pendapatan yang terbatas</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/hal-yang-sebaiknya-dihindari-oleh-mahasiswa-dalam-mengelola-keuangan/">Hal yang Sebaiknya Dihindari Mahasiswa dalam Mengelola Keuangan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Saat mahasiswa memasuki kehidupan perguruan tinggi, mereka seringkali dihadapkan pada tantangan keuangan yang signifikan, seperti biaya kuliah, dan pengeluaran sehari-hari. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan strategi pengelolaan keuangan yang efektif guna menghindari masalah keuangan dan mendukung perkembangan mereka selama masa kuliah.</p>
<p>Mahasiswa seringkali memiliki sumber pendapatan yang terbatas. Mereka juga mungkin tergoda untuk menghabiskan uang mereka untuk membeli barang-barang mewah atau aktivitas sosial lainnya. Terlebih lagi, pertama kali mengelola uang mereka sendiri, mahasiswa dapat merasa tidak siap dan tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana mengatur keuangan mereka dengan baik.</p>
<p>Strategi pengelolaan keuangan yang efektif bagi mahasiswa dapat membantu mereka mencapai tujuan keuangan mereka. Dengan demikian, latar belakang mengenai strategi pengelolaan keuangan yang efektif bagi mahasiswa mencerminkan pentingnya mengelola keuangan di perguruan tinggi dan mendorong mahasiswa untuk mengambil langkah-langkah konkret dalam merencanakan dan mengelola keuangan mereka dengan bijak.</p>
<p><strong>Bagaimana cara mengelola uang dengan bijak tetapi kebutuhan kita tetap terpenuhi?</strong></p>
<p>Pertama-tama, kesadaran tentang mengelola pendapatan dan pengeluaran harian merupakan langkah awal yang penting. Buatlah catatan rinci tentang sumber pendapatan, seperti uang bulanan dari orang tua ataupun pekerjaan paruh waktu. Selanjutnya, identifikasi pengeluaran rutin seperti biaya kuliah, makanan, transportasi, dan kebutuhan lainnya. Dengan ini, kita dapat merencanakan pengelolaan keuangan dengan lebih efektif.</p>
<p>Salah satu strategi utama adalah membuat anggaran bulanan yang realistis. Pisahkan antara kebutuhan dan keinginan, dan alokasikan dana sesuai prioritas. Pastikan untuk menyisihkan sebagian dana untuk berjaga-jaga terhadap hal yang tidak diinginkan.</p>
<p>Selanjutnya manfaatkan diskon, diskon dapat membantu mahasiswa menghemat uang pada berbagai kebutuhan sehari-hari seperti makanan, pakaian, atau barang-barang kebutuhan lainnya. Dengan memanfaatkan diskon, mahasiswa dapat membeli barang-barang tersebut dengan harga yang lebih murah, sehingga mereka dapat menghemat uang untuk kebutuhan lainnya.</p>
<p>Manfaatkan teknologi untuk mempermudah pengelolaan keuangan Anda. Ada berbagai aplikasi dan platform yang dirancang khusus untuk membantu melacak pengeluaran, membuat anggaran, dan mengelola tagihan. Dengan menggunakan alat-alat ini, kita dapat dengan mudah memantau kondisi keuangan dan membuat keputusan yang lebih baik.</p>
<p>Berikut adalah beberapa hal yang sebaiknya dihindari oleh mahasiswa dalam mengelola keuangan :</p>
<p><strong>Tidak merencanakan uang Anda</strong><br />
Memiliki rencana pengeluaran dan pendapatan membantu Anda memikirkan cara menghemat uang dan membelanjakannya dengan benar. Jika Anda tidak membuat rencana keuangan sama sekali, hal sebaliknya bisa terjadi.</p>
<p><strong>Berbelanja tanpa pikir panjang</strong><br />
Mungkin selama ini kita mudah tergiur dengan diskon dan diskon. Faktanya, sebagian besar barang yang kita beli sebenarnya tidak diperlukan. Artinya, Anda tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Itu sebabnya penting untuk memikirkan apa yang Anda butuhkan saat berbelanja.</p>
<p><strong>Belanja yang tidak berprinsip</strong><br />
Tekanan teman sebaya menjadi salah satu penyebab banyak anak muda menjadi boros. Misalnya, sulit menolak ajakan menginap di kafe atau kedai kopi. Artinya Anda harus mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak Anda perlukan.</p>
<p><strong>Tidak membuat rencana jangka panjang</strong><br />
Tidak membuat rencana jangka panjang dalam hidup adalah salah satu kesalahan terbesar dalam pengelolaan keuangan. Faktanya, penting untuk memprioritaskan apa yang benar-benar ingin Anda lakukan dan capai dalam hidup.</p>
<p><strong>Tidak memiliki dana darurat</strong><br />
Menyiapkan dana darurat juga merupakan langkah penting dalam perencanaan keuangan pribadi bagi pelajar. Mengumpulkan uang dalam jumlah besar bisa jadi sulit, namun ada beberapa langkah yang dapat Anda ambil untuk memulai dan memberikan perlindungan dalam keadaan darurat.</p>
<p>Strategi pengelolaan keuangan yang efektif bagi mahasiswa memegang peranan krusial dalam menciptakan stabilitas finansial. Mahasiswa dapat mencapai keberhasilan ini dengan cara membuat anggaran yang realistis, memprioritaskan pengeluaran, dan menetapkan tujuan keuangan yang jelas.</p>
<p>Dengan disiplin, pemahaman, dan penerapan strategi ini, mahasiswa dapat mengelola keuangan mereka dengan bijak, mengelola keuangan mahasiswa bukan sekedar tugas sehari-hari, namun juga merupakan investasi masa depan mahasiswa. Dengan menciptakan kebijakan keuangan yang berkelanjutan, siswa dapat mengembangkan kebiasaan yang berdampak positif pada aktivitas keuangan mereka.</p>
<p>Manajemen keuangan yang cerdas di perguruan tinggi bukan hanya tentang kelangsungan hidup, tetapi juga tentang membangun landasan yang kuat untuk kesuksesan finansial di masa depan.</p>
<p>Alfredho Fathurrahman Rizquna Ahmadi<br />
Mahasiswa Universitas Sebelas Maret</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/hal-yang-sebaiknya-dihindari-oleh-mahasiswa-dalam-mengelola-keuangan/">Hal yang Sebaiknya Dihindari Mahasiswa dalam Mengelola Keuangan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/ik.imagekit.io/10tn5i0v1n/article/614ddfc9f67e980001d2aae2.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
