<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>media sosial Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/media-sosial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/media-sosial/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jun 2025 01:06:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>media sosial Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/media-sosial/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dampak yang Ditimbulkan dari Media Sosial di Dunia Pendidikan</title>
		<link>https://jakpos.id/dampak-yang-ditimbulkan-dari-media-sosial-di-dunia-pendidikan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2025 01:06:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88586</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Media sosial adalah platform digital yang memungkinkan pengguna untuk berinteraksi, berbagi informasi, dan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dampak-yang-ditimbulkan-dari-media-sosial-di-dunia-pendidikan/">Dampak yang Ditimbulkan dari Media Sosial di Dunia Pendidikan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/brain-rot-ancaman-media-sosial-terhadap-kesehatan-otak-remaja/">Media sosial</a> adalah platform digital yang memungkinkan pengguna untuk berinteraksi, berbagi informasi, dan membangun jaringan sosial. Platform ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita, mempengaruhi cara orang berkomunikasi, berbisnis, dan mendapatkan informasi. Perkembangan internet dan World Wide Web telah membawa kemunculan platform media sosial seperti Facebook, YouTube, Twitter, Tiktok dan Instagram.</p>
<p>Dengan adanya platform tersebut, dapat memudahkan sebagai sumber ilmu pengetahuan dan media pembelajaran bagi semua orang. Media sosial dapat menyediakan akses yang mudah untuk bahan pembelajaran seperti e-book, video tutorial, video mengajar dan lain sebagainya. Contohnya siswa dapat belajar menari <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/tanpa-panci-presto-ini-7-cara-tradisional-olah-daging-jadi-empuk/">tradisional,</a> membuat kreatifitas dan belajar bahasa asing dari aplikasi YouTube.</p>
<p>Adanya media sosial sangat menguntungkan dan memberikan dampak yang positif bagi para siswa dan guru, akan tetapi disisi lain bisa memberikan dampak negatif juga. Berikut dampak-dampak yang ditimbulkan dari media sosial:</p>
<h3>Dampak Positif</h3>
<p><strong>Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan</strong><br />
Media sosial sangat membantu pelajar pada era digital seperti sekarang ini. Dengan adanya media sosial, para pengguna seperti siswa maupun guru dapat dengan mudah berkomunikasi, mengajar dan saling berbagi ilmu pengetahuan ataupun bahan pembelajaran, mengupdate ilmu pengetahuan yang terbaru, sehingga mereka mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas.</p>
<p><strong>Mudah dalam mengakses berbagai informasi</strong><br />
Penggunaan media sosial dapat lebih mudah bagi penggunanya dalam mendapatkan informasi dikarenakan lebih cepat dan efesien. Informasi yang didapatkan bisa berbagai hal, contohnya informasi tentang mata pelajaran di sekolah, kesenian, kesehatan, olahraga dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Membangun jaringan antar pelajar dan komunitas belajar</strong><br />
Media sosial memberikan kemudahan bagi siswa untuk membangun jaringan dan bergabung dengan komunitas belajar yang lebih luas dan efektif. Dengan cara mengikuti atau bergabung dalam forum diskusi seperti Quora, LinkedIn, Facebook, Webinar dll, siswa dapat terhubung dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama dan belajar dari pengalaman mereka. Perkumpulan komunitas ini dapat membantu siswa memperoleh wawasan, ide baru, memperluas sudut pandang, dan membuka peluang untuk pengembangan diri.</p>
<p><strong>Dapat mengasah kreatifitas dan keterampilan baru</strong><br />
Penggunaan medsos memberikan banyak sekali manfaat untuk pelajar, salah satunya dapat mengasah kreatifitas dan keterampilan dari hal-hal baru yang dilihat dari media sosial, seperti belajar menari / dance, menggambar, menyulam dari konten video. Media sosial bisa dikatakan juga berfungsi sebagai metode pembelajaran karena berguna untuk mengasah keterampilan dan kreatifitas siswa.</p>
<h3>Dampak Negatif</h3>
<p><strong>Tidak dapat mengatur waktu</strong><br />
Dampak negatif bagi pelajar jika terlalu banyak bermain media sosial ialah tidak bisa membagi waktu antara bermain sosial media dengan kegiatan belajarnya, sehingga bisa menghambat aktivitas sehari-hari mereka, seperti malas untuk mengerjakan tugas dari sekolah (PR). Selain siswa, dampak buruk bagi guru jika bermain sosmed yaitu lupa akan mengajar muridnya, mengabaikan pekerjaannya dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Sulit untuk berinteraksi dan membangun komunikasi terhadap sesama</strong><br />
Hal ini terjadi karena pelajar lebih memilih berkomunikasi melalui media sosial, sehingga berinteraksi dengan teman sekitarnya jadi jarang. Selain sulit berinteraksi dengan temannya, dampak lainnya yaitu sulit untuk berkomunikasi. Komunikasi melalui media sosial tidaklah efektif karena akan menggunakan aturan ejaan dan tata bahasa yang tidak beraturan dan tidak baik. Hal ini mengakibatkan anak menjadi semakin sulit berkomunikasi dan mempengaruhi kemampuan akan komunikasinya dikarenakan tidak dapat membedakan komunikasi antara di media sosial dan dunia nyata. Lalu keterampilan menulisnya di sekolah akan berkurang dikarenakan penggunaan ejaan dan tata bahasa tidak dilatih dengan baik.</p>
<p><strong>Malas untuk melakukan aktivitas</strong><br />
Siswa atau pelajar yang terlalu fokus terhadap sosial media, biasanya mereka akan lupa akan waktu belajar dan malas untuk melakukan aktivitas lainnya. Tentu hal ini berdampak buruk bagi pelajar, karena dapat mempengaruhi daya berpikir untuk mencakup pembelajaran dan prestasi mereka.</p>
<p><strong>Tidak peduli dengan lingkungan sekitar</strong><br />
Penggunaan media sosial tanpa pengawasan orang tua dan membiarkannya secara terus menerus akan memberikan pengaruh buruk kepada anak dan akan mengubah karakternya menjadi egois karena akan mementingkan dirinya sendiri. Anak-anak akan lebih cuek dengan lingkungan sekitarnya, sehingga tidak akan lagi peduli dengan lingkungannya. Jika orang tua membiarkannya tanpa pengawasan terus menerus maka anak-anak menjadi kurang memiliki rasa empati di lingkungan sekitarnya.</p>
<p><em>Thryan Keren Puspita Duha</em><br />
<em>Akuntansi S1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis</em><br />
<a href="https://www.depokpos.com/2025/06/pkm-universitas-pamulang-peran-sociopreneurship-dalam-mendorong-inovasi-untuk-mengatasi-tantangan-sosial-dan-ekonomi-umkm-di-pamulang/"><em>Universitas Pamulang</em></a></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dampak-yang-ditimbulkan-dari-media-sosial-di-dunia-pendidikan/">Dampak yang Ditimbulkan dari Media Sosial di Dunia Pendidikan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/images.theconversation.com/files/412863/original/file-20210723-25-e49mc3.jpg?ixlib=rb-4.1.0&#038;rect=25%2C225%2C5524%2C3037&#038;q=45&#038;auto=format&#038;w=926&#038;fit=clip&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Ketergantungan Anak pada Media Sosial Sejak Dini</title>
		<link>https://jakpos.id/ketergantungan-anak-pada-media-sosial-sejak-dini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Jun 2025 05:44:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88468</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOPOS &#8211; Perkembangan teknologi memberikan dampak besar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak. Pada usia&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ketergantungan-anak-pada-media-sosial-sejak-dini/">Ketergantungan Anak pada Media Sosial Sejak Dini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOPOS</strong></a> &#8211; Perkembangan teknologi memberikan dampak besar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak. Pada usia yang seharusnya diisi dengan interaksi langsung dan permainan fisik, kini banyak anak justru tenggelam dalam dunia media sosial, bahkan sebelum mereka cukup dewasa untuk memahaminya.</p>
<p>Fenomena ini menunjukkan adanya ketergantungan sejak dini, yang tidak hanya memengaruhi perkembangan emosional dan sosial, tetapi juga dapat menimbulkan gangguan perilaku di masa mendatang.</p>
<h3>Peran Orang Tua</h3>
<p>Orang tua memiliki peran utama dalam membentuk kebiasaan digital anak. Anak belajar melalui contoh, sehingga perilaku orang tua dalam menggunakan gawai pun berpengaruh besar. Oleh karena itu, pengawasan dan pendampingan sangat diperlukan. Orang tua perlu memperkenalkan batasan penggunaan gawai sejak dini serta memberikan pemahaman tentang konten yang layak dan tidak layak diakses.</p>
<p>Selain itu, keterlibatan orang tua dalam aktivitas sehari-hari anak seperti bermain, membaca, atau berdiskusi ringan dapat menjadi alternatif yang lebih sehat dibandingkan penggunaan gawai secara terus-menerus.</p>
<h4>Solusi untuk Mengurangi Ketergantungan Anak pada Media Sosial</h4>
<p><strong>1. Membatasi Waktu Penggunaan</strong><br />
Terapkan aturan waktu penggunaan gawai, misalnya hanya 1 jam per hari. Gunakan fitur pengawasan orang tua untuk membantu mengatur durasi.</p>
<p><strong>2. Menciptakan Zona Bebas Gawai</strong><br />
Tetapkan area tertentu di rumah, seperti ruang makan atau kamar tidur, sebagai zona tanpa gawai agar anak dapat fokus pada interaksi nyata.</p>
<p><strong>3. Mengalihkan pada Kegiatan Positif</strong><br />
Ajak anak mengikuti kegiatan fisik seperti olahraga, menggambar, atau kegiatan sosial agar mereka tidak hanya bergantung pada media digital.</p>
<p><strong>4. Menjadi Teladan yang Baik</strong><br />
Orang tua perlu menunjukkan perilaku yang bijak dalam menggunakan media sosial. Keteladanan adalah pendidikan yang paling efektif.</p>
<p><em>Siti Latifhatul Rohmah<br />
Fakultas Ekonomi dan Bisnis-Prodi Akuntansi Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ketergantungan-anak-pada-media-sosial-sejak-dini/">Ketergantungan Anak pada Media Sosial Sejak Dini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/www.itworks.id/wp-content/uploads/2018/07/kids-social-media.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Dampak Positif dan Negatif Influencer Media Sosial terhadap Moral dan Perilaku Remaja</title>
		<link>https://jakpos.id/dampak-positif-dan-negatif-influencer-media-sosial-terhadap-moral-dan-perilaku-remaja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2025 13:51:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88292</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Influencer media sosial memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir dan bertindak, khususnya di&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dampak-positif-dan-negatif-influencer-media-sosial-terhadap-moral-dan-perilaku-remaja/">Dampak Positif dan Negatif Influencer Media Sosial terhadap Moral dan Perilaku Remaja</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Influencer media sosial memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir dan bertindak, khususnya di kalangan remaja. Influencer bukan hanya sekedar selebritas tradisional, melainkan individu yang mampu menjangkau audiens yang luas melalui konten kreatif di platform seperti Instagram, YouTube, dan tiktok. Remaja yang masih mengembangkan identitas dan kepribadian mereka dipengaruhi secara luas dan rumit oleh fenomena ini dalam hal gaya hidup, mentalitas, dan prinsip moral mereka.</p>
<p>Dampak positif influencer terhadap moral dan perilaku remaja sangat berarti, terutama dalam aspek pengembangan diri dan kesejahteraan psikologis. Influencer yang mengunggah konten edukatif, motivasi, dan gaya hidup sehat bisa menginspirasi remaja untuk membangun kebiasaan positif, meningkatkan rasa kepercayaan diri, serta memudahkan mereka untuk bersosialisasi. Konten-konten tersebut juga membantu remaja menjadi lebih terbuka terkait lingkungan sekitar dan memperluas wawasan sosial mereka.</p>
<p>Dampak positif lainnya adalah peningkatan rasa kepedulian sosial dan empati. Konten yang mengangkat isu sosial dan inspiratif mampu menumbuhkan kesadaran sosial remaja, mendorong mereka untuk berbagi, membantu sesama, dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar.</p>
<p>Dampak negatif influencer terhadap moral dan perilaku remaja meliputi penurunan kualitas bahasa, hilangnya rasa malu, dan lunturnya rasa hormat akibat konten yang tidak mendidik serta penggunaan bahasa kasar serta munculnya perasaan tidak percaya diri dan obsesi terhadap kesempurnaan yang tidak realistis karena paparan citra influencer yang ideal. Dorongan gaya hidup konsumtif dan materialistis yang memicu tekanan sosial, masalah keuangan, dan stres psikologis. serta penyebaran konten standar kecantikan tidak realistis yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan sosial.</p>
<p>Oleh karena itu, diperlukan pendekatan menyeluruh melalui pendidikan literasi digital, pengawasan keluarga, sekolah, dan peran aktif platform media sosial agar remaja mampu menyaring pengaruh influencer secara kritis dan memanfaatkannya secara positif demi perkembangan moral dan perilaku yang sehat serta bertanggung jawab. Pendekatan ini juga harus mencakup pembelajaran tentang kesejahteraan digital, keamanan berinternet, serta kemampuan mengenali dan menangkal misinformasi, sehingga remaja dapat menggunakan media sosial secara seimbang dan aman dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p><em>Alfiah Dwi Wahyu Hidayah</em><br />
<em>Prodi Akuntansi</em><br />
<em>Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dampak-positif-dan-negatif-influencer-media-sosial-terhadap-moral-dan-perilaku-remaja/">Dampak Positif dan Negatif Influencer Media Sosial terhadap Moral dan Perilaku Remaja</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/www.ideaimaji.com/blog/wp-content/uploads/2018/04/Social-Media-Influencer.jpg?w=620&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Dampak Penggunaan Media Sosial pada Kesehatan Remaja Indonesia</title>
		<link>https://jakpos.id/dampak-penggunaan-media-sosial-pada-kesehatan-remaja-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2025 02:08:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88186</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; 191,4 juta orang terus menggunakan media sosial, dan 92% remaja berusia 13 hingga&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dampak-penggunaan-media-sosial-pada-kesehatan-remaja-indonesia/">Dampak Penggunaan Media Sosial pada Kesehatan Remaja Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; 191,4 juta orang terus menggunakan media sosial, dan 92% remaja berusia 13 hingga 17 tahun online setiap hari. Penggunaan media sosial yang berlebihan dan tidak digunakan dengan benar berpotensi menimbulkan masalah kesehatan mental. Data dari Riset Kesehatan Dasar di Indonesia menunjukkan kondisi kesehatan mental remaja di negara itu yang sangat mengkhawatirkan. Menurut survei nasional ini, 9,8% remaja Indonesia mengalami gangguan mental emosional, dengan gejala yang beragam mulai dari kecemasan ringan hingga depresi berat. 30% siswa menunjukkan gejala kecemasan yang signifikan, dan 15% menunjukkan gejala depresi klinis.</p>
<p>Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024) menunjukkan bahwa 25% remaja Indonesia mengalami masalah dengan citra tubuh. Masalah ini tidak hanya terkait dengan ketidakpuasan terhadap penampilan mereka, tetapi juga terkait dengan masalah kesehatan mental lainnya. Studi kolaboratif antara Kementerian Kesehatan dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia menunjukkan bahwa masalah citra tubuh terkait dengan masalah kesehatan mental yang lebih kompleks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat puluh persen remaja mengalami kesulitan membangun dan mempertahankan hubungan sosial dengan teman sebaya dan keluarga.</p>
<p>Remaja adalah masa di mana manusia berusia belasan tahun beralih dari anak-anak ke dewasa. Ini adalah masa transisi dari anak-anak ke dewasa dan mencerminkan cara berpikir remaja yang masih dalam koridor berpikir konkret. usia sepuluh hingga dua puluh tahun, atau fase remaja, adalah masa peralihan dari anak menjadi dewasa.</p>
<p>Instagram, sebagai media sosial, memiliki fitur yang berbeda dari pendahulunya. Ini adalah media sosial di mana pengguna akun berbagi informasi, termasuk teks, gambar, suara, dan video, baik dengan orang lain maupun perusahaan. Selain memiliki kemampuan untuk menyimpan foto dan video, pengguna dapat mengirim pesan atau berbicara dengan orang lain.</p>
<p>Kehidupan masyarakat modern telah menjadi bagian dari pertumbuhan teknologi yang cepat di era digital. Platform sosial media seperti Instagram, Twitter, Tiktok, Facebook, dan lainnya memungkinkan pengguna untuk bebas mengakses informasi secara berkelanjutan, yang dikenal sebagai kelangsungan akses terbuka. sementara algoritma mengarah pada konten viral di sosial media. Hal ini menyebabkan kecenderungan pengguna untuk menggunakan sosial media yang berlebihan. Oleh karena itu, paparan konten yang ringan dan berlebihan menjadikan mereka sebagai &#8220;musuh&#8221; unik karena mereka &#8220;diserang&#8221; secara membabi buta dengan menggulir layar secara terus menerus, metode bersosial media yang sangat sederhana.</p>
<p>Di antara efeknya adalah overload informasi, terutama informasi ringan, yang menyebabkan kelelahan, kelelahan, dan kehilangan fokus. Kondisi ini dikenal sebagai kemunduran intelektual. Tidak hanya kesehatan mental pengguna yang terpengaruh oleh kemunduran intelektual, tetapi juga kemampuan halus mereka untuk melihat, memproses, dan mengevaluasi data secara kritis juga terpengaruh.</p>
<p>Generasi muda melihat peningkatan penonton konten viral karena mereka dapat melihat berjam-jam konten di beranda dan feed akun tanpa filter dan kadang-kadang tidak dapat mengontrolnya. Selain itu, dalam situasi di mana dia merasa konten tersebut mencerminkan perasaannya, Akhir-akhir ini, kepuasan instan menyebabkan kecanduan. Keadaan ini berdampak pada produktivitas individu, bahkan pengambilan keputusan dalam situasi di mana perasaannya telah divalidasi, serta kualitas komunikasi interpersonal hingga hubungan sosial secara umum.</p>
<p>Konten viral telah berhasil mengalihkan perhatian viewersnya. Beberapa tahun belakangan, pengguna sosial media berlomba-lomba membuat konten tanpa mempertimbangkan muatan konten, yang terpenting adalah viral terlebih dahulu. Audiens secara aktif memahami dan mengidentifikasi perspektif, perasaan, dan pemikiran yang berkaitan dengan kontroversi. Sehingga, konten yang kontroversial ini biasanya akan lebih mudah viral atau fyp (for your page).</p>
<p>Hal ini tersedia di semua platform sosial media seperti tiktok, Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, dan lainnya. Banyak paradigma, kebiasaan, dan bahkan proses pengambilan keputusan telah diubah oleh kemudahan membuat konten dan akses bersosial media. Terciptanya konten yang tidak bertanggung jawab telah memiliki banyak efek negatif yang tidak dapat dikendalikan. Selain itu, etika bermedia sosial yang tidak diperbaiki membuat konten yang tidak berguna berkembang dengan cepat.</p>
<p>Konten receh benar-benar menghibur. Namun demikian, viewersnya dapat berubah pikiran karena hal ini. Bayangkan setelah menonton konten hiburan selama 7-15 detik, lalu melompat ke konten sedih selama 7-15 detik, dan kemudian melompat lagi ke konten berita terbaru selama 7-15 detik. Ini dapat menyebabkan mood tidak menentu. Ketidakjelasan dan ketergantungan pada perasaan disebabkan oleh pergeseran perasaan yang cepat dari bahagia, sedih, dan serius. Sebagai akibatnya, fungsi kognitif terganggu, yang berdampak pada kesehatan mental.</p>
<p><em>Rasya Dini Ramadhani</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dampak-penggunaan-media-sosial-pada-kesehatan-remaja-indonesia/">Dampak Penggunaan Media Sosial pada Kesehatan Remaja Indonesia</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/sulselprov.go.id/upload/post/1513591925.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Berani Menyerukan Suara dan Hak di Media Sosial, Adakah Kebebasan?</title>
		<link>https://jakpos.id/berani-menyerukan-suara-dan-hak-di-media-sosial-adakah-kebebasan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Dec 2023 03:24:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62288</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Setiap manusia memiliki hak asasi masing-masing, salah satunya yaitu kebebasan dalam berpendapat. Kebebasan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/berani-menyerukan-suara-dan-hak-di-media-sosial-adakah-kebebasan/">Berani Menyerukan Suara dan Hak di Media Sosial, Adakah Kebebasan?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Setiap manusia memiliki hak asasi masing-masing, salah satunya yaitu kebebasan dalam berpendapat. Kebebasan berpendapat adalah hak asasi manusia untuk menyalurkan atau mengutarakan pendapat dan ekspresi melalui opini, kritik, dan protes tanpa disertai adanya paksaan, pembatas, dan penghalang. Hak atas kebebasan berekspresi telah diakui sebagai hak asasi manusia dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan hukum hak asasi manusia internasional oleh PBB.</p>
<p>Kebebasan berpendapat diatur sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM pada Pasal 2 dijelaskan “Negara Republik Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia sebagai hak yang secara kodrati melekat pada dan tidak terpisahkan dari manusia, yang harus dilindungi, dihormati, dan ditegakkan demi peningkatan martabat kemanusiaan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecerdasan serta keadilan” (UU No. 39 Tahun 1999).</p>
<p>Sama halnya dengan kebebasan berpendapat di lingkungan masyarakat, kebebasan berpendapat di dunia media sosial juga merupakan bagian dari hak asasi manusia yang harus dilindungi. Dalam konteks kebebasan berpendapat dan hak asasi manusia melalui media sosial, penting untuk mempertimbangkan keseimbangan antara kebebasan individu untuk menyatakan pendapat mereka dan perlindungan terhadap hak-hak orang lain. Hak-hak ini sangat penting dan harus dihormati, tetapi juga harus dilakukan dengan tanggung jawab dan mempertimbangkan bagaimana hal itu berdampak pada orang lain.</p>
<p>Adanya perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi, terkhusus pada perkembangan internet dan aplikasi juga menjadi sarana untuk mengutarakan kebebasan pendapat berupa kutipan atau tulisan yang disebar luaskan. Salah satu jejaring sosial yang menarik perhatian khusus para pengguna internet ialah Twitter (sekarang berubah nama menjadi X).</p>
<p>Menurut We Are Social, pengguna Twitter sebanyak 564,1 juta per Juli 2023 dan menempati peringkat ke 14 sebagai pengguna media sosial terbanyak di dunia. Indonesia berada di posisi keempat dengan pengguna Twitter terbanyak di dunia pada Juli 2023 yang mencapai 25,25 juta pengguna per Juli 2023. Sedangkan pengguna sebanyak 98,5 juta per Juli 2023 ditempati oleh Amerika Serikat sebagai posisi teratas pengguna Twitter terbanyak. Kemudian disusul negara Jepang sebagai posisi kedua dan India menempati posisi ketiga.</p>
<p>Salah satu manfaat media sosial adalah dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengemukakan apa yang dipikirkan dan apa yang menjadi kritik terhadap lingkungan sosial yang ada di sekitar. Maraknya penggunaan Twitter (X) semakin memudahkan masyarakat untuk langsung menyuarakan pendapatnya. Melalui media sosial tersebut tiap individu semakin diberikan kebebasan dalam menyampaikan aspirasi, memberi dukungan, serta menyalurkan informasi.</p>
<p>Namun nyatanya banyak terjadi peristiwa di mana para individu melampaui batas-batas yang telah ditentukan oleh Hukum dan HAM yang berlaku di Indonesia. Sehingga penting untuk mempertimbangkan keseimbangan antara kebebasan individu untuk menyatakan pendapat mereka dan perlindungan terhadap hak-hak orang lain. Memerlukan kesadaran bersama, upaya kolaboratif, dan regulasi yang bijaksana untuk memastikan bahwa media sosial tetap menjadi wadah yang mendukung pertukaran ide yang sehat, bertanggung jawab, dan adil bagi semua penggunanya.</p>
<p>Mayoritas masyarakat masih jarang mengemukakan pendapatnya dalam media sosial. Penurunan keinginan individu berpendapat disebabkan oleh banyaknya konten yang mengandung komentar negatif sehingga memicu perselisihan antar individu. Umumnya masyarakat menerima informasi sesuai dengan minat dan pendapatnya masing-masing serta menghindari adanya perdebatan. Keadaan ini disebut selective attention yang mana suatu individu akan mengalihkan perhatian secara lebih terhadap konten yang sesuai dengan keinginan dan minatnya, sehingga akan cenderung lebih sedikit melihat konten yang negatif dan tidak sesuai dengan minat dan keinginannya.</p>
<p>Kebebasan berpendapat dan hak asasi manusia melalui media sosial juga harus memperhatikan penyebaran informasi yang menyesatkan atau propaganda. Individu harus mempertimbangkan dampak dari informasi pribadi yang mereka bagikan melalui media sosial dan memastikan bahwa hak-hak privasi mereka tetap terlindungi.</p>
<p><strong>Dampak Positif</strong></p>
<p>Pendapat yang dikemukakan pada media sosial dapat memberikan dampak baik positif dan negatif dalam berbagai aspek seperti aspek sosial, psikologis, politik, ekonomi, ideologi, dan sebagainya. Dampak positif, diantaranya adalah.</p>
<p>Mendapatkan pengetahuan baru dan insight yang lebih luas karena mudahnya akses informasi.<br />
Kemudahan persebaran jalur informasi dan kebebasan menyuarakan pendapat juga dapat meningkatkan perekonomian negara dimana banyak sekali orang yang memanfaatkan e-commerce.</p>
<p>Ruang yang diberikan untuk berpendapat juga dapat membantu memberikan aspirasi terhadap berbagai permasalahan politik. Secara positif, hal ini dapat dilihat bahwa kebebasan berpendapat di media sosial dapat menyatukan berbagai orang dari wilayah yang berbeda untuk bersatu apabila ada kebijakan pemerintah yang tidak mengutamakan masyarakat. Hal tersebut dapat menyebabkan pengaruh pendapat di media sosial terhadap sebuah permasalahan sangat besar.</p>
<p><strong>Dampak Negatif</strong></p>
<p>Kebebasan pendapat ini apabila tidak dimanfaatkan dengan baik dan bijak dapat memberikan dampak negatif. Hal ini dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia dari generasi yang ada. Dampak yang sering kita temukan atau rasakan yaitu sering terjadi pro-kontra, adanya cyberbullying, norma dan etika turun, mampu menyebabkan insecurity yang tinggi, dan penyebaran hoaks.</p>
<p><strong>Cyberbullying</strong></p>
<p>Cyberbullying adalah tindakan negatif yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok tertentu dengan cara mengirimkan pesan teks, foto, gambar meme, dan video ke akun media sosial seseorang dengan tujuan untuk menyindir, menghina, melecehkan, mendiskriminasi bahkan mempersekusi individu. Cyberbullying kebanyakan dilakukan oleh remaja dengan mengirim kalimat kasar, vulgar, negatif, dan kurang etis yang bermaksud menghibur pengguna internet agar tertawa. Atau istilah jaman sekarang sering kali menyebutnya dirty jokes. Cyberbullying bukan hanya terjadi di dalam media sosial saja tetapi juga dapat terjadi di kehidupan nyata.</p>
<p><strong>Norma dan Etika Turun</strong></p>
<p>Seseorang yang beretika baik dalam menggunakan media sosial kemungkinan akan mencerminkan nilai-nilai baik dalam masyarakat. Norma dan etika ini dapat menurun karena adanya kurang edukasi moral, adanya rasa ingin menjadi yang terbaik di media sosial, adanya pengaruh dari budaya asing, dan lain-lain.</p>
<p><strong>Penyebaran Hoaks</strong></p>
<p>Hoaks merupakan dampak negatif dan tantangan yang paling banyak dirasakan. Hoaks dapat menimbulkan keributan sehingga berpotensi untuk membentuk pemahaman publik terhadap suatu hal. Adanya pembentukan pemahaman yang salah ini apabila ditambah dengan intoleransi akan memicu terjadinya perpecahan.</p>
<p><strong>Adanya Pro-Kontra</strong></p>
<p>Selain penyebaran hoaks, pro-kontra juga diyakini menjadi tantangan yang akan dihadapi oleh responden sebagai pengguna media sosial. Informasi dan kebijakan yang dikemukakan oleh seorang tokoh publik dapat menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat. Masyarakat dapat terbagi ke dalam dua pihak dimana terdapat beberapa masyarakat cenderung mendukungatau pro pendapat yang diberikan, sementara terdapat beberapa masyarakat lainnya cenderung menolak atau kontra terhadap pendapat tersebut.<br />
Perbedaan pendapat ini dapat menimbulkan arogansi pada tiap kubu yang dapat menimbulkan konflik. Perbedaan pendapat ini akan memaksakan pendapat mereka hingga menyudutkan kubu satu sama lain. Konflik dapat terjadi dalam bentuk perbedaan pendapat, permusuhan, pemaksaan pendapat, serta pengecaman terus berlangsung di dunia maya hingga persepsi meluas ke dunia nyata.</p>
<h3>Tips Menyampaikan Pendapat yang Dapat Diterima dengan Baik</h3>
<p>Nah, perlu diperhatikan beberapa tips ketika menyampaikan pendapat, baik secara langsung atau dalam media sosial agar dapat diterima dengan baik, tanpa menyakiti pihak lain, serta tidak menimbulkan dampak negatif. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan.</p>
<p>Memikirkan serta menyaring terlebih dahulu tentang pendapat yang akan diungkapkan.<br />
Memperhatikan kepada siapa pendapat kita ini ditujukan. Apakah kepada orang lebih tua, sebaya, atau yang lebih muda.</p>
<p>Menghindari konten sensitif yang dapat memicu konflik. Kita perlu mempertimbangkan keakuratan dan kebenaran melalui data faktual serta fakta-fakta sebelum menyampaikan pendapat. Ketika tidak memperhatikan kebenaran suatu konten maka akan menyebabkan tersebarnya konten yang mengandung hoax atau dusta.</p>
<p><strong>Bersikap Toleransi</strong></p>
<p>Ketika kita menyampaikan pendapat, sebaiknya harus disertai sikap toleransi. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain ketika pendapat tidak disetujui. Namun, kita juga harus menempatkan konteks ketika menyuarakan pendapat di media sosial. Misalnya dalam sudut pandang warga negara, menyampaikan pendapat kepada pemerintah merupakan tugas dari pemerintah itu.</p>
<p><strong>Bersikap Tanggung Jawab</strong></p>
<p>Mengapa harus tanggung jawab? Karena kita harus berani mengambil dan menerima segala konsekuensi baik positif maupun negatif ketika berani berpendapat di media sosial. Dalam menyampaikan pendapat kita pasti sudah mengetahui apa timbal balik yang akan kita dapat nantinya.</p>
<p>Contoh kasus yang sedang booming banget nih di media sosial, Belinda The Winner Of MasterChef Indonesia season 11 (MCI 11). Pasalnya Kiki dirasa lebih cocok dan layak untuk menjadi pemenang MCI 11 ketimbang Belinda. Netizen pun berbondong-bondong untuk menyuarakan hal itu di media sosial sehingga hal tersebut menjadi viral dan menuai pro dan kontra.</p>
<p>Menurut komentar di Tik Tok, cuitan di twitter, dan unggahan di Instagram yang saya amati, netizen banyak menemukan kejanggalan dan ketidakadilan pada grand final MCI season 11. Mulai dari adanya team challenge pada grand final yang menurut netizen dirasa aneh dan kurang masuk akal, adanya penilaian yang jomplang dari komentar para juri, adanya gap 19 point, hasil penilaian yang tidak langsung diumumkan membuat netizen berspekulasi bahwa ada perubahan nilai di balik layar. Selain itu juga Kiki, salah satu peserta grand final, yang diduga membantu Belinda memotong lamb di mana scene itu dicut dan tidak ditayangkan di TV membuat netizen bertanya-tanya. Netizen juga menduga-duga latar belakang pendidikan peserta berpengaruh pada kejuaraan MCI Season 11 ini, pasalnya Belinda yang lulusan luar negeri sedangkan Kiki hanya SMK.</p>
<p>Dari kasus tersebut, masyarakat diberikan kebebasan penuh untuk menyuarakan pendapatnya di media sosial tetapi harus tetap menjunjung nilai etika dan kebenaran suatu informasi.</p>
<p>Jupita Saputri<br />
Mahasiswa Universitas Sebelas Maret</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/berani-menyerukan-suara-dan-hak-di-media-sosial-adakah-kebebasan/">Berani Menyerukan Suara dan Hak di Media Sosial, Adakah Kebebasan?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/assets-global.website-files.com/5eb6815bc8e0bd376c3cae22/638e0d3f8cee32314161765b_Desain%20tanpa%20judul.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Fenomena Hate Speech di Media Sosial dan Dampaknya</title>
		<link>https://jakpos.id/fenomena-hate-speech-di-media-sosial-dan-dampaknya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Dec 2023 12:47:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Hate Speech]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[UU ITE]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62080</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hate speech dapat diartikan sebagai segala bentuk tindakan maupun tulisan yang sifatnya dilarang, dikarenakan dapat memicu terjadinya konflik</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/fenomena-hate-speech-di-media-sosial-dan-dampaknya/">Fenomena Hate Speech di Media Sosial dan Dampaknya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Hate speech dapat diartikan sebagai segala bentuk tindakan maupun tulisan yang sifatnya dilarang, dikarenakan dapat memicu terjadinya konflik</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Globalisasi menandai awal dari perkembangan teknologi dan informasi di seluruh dunia. Perkembangan teknologi ini memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalani aktivitas atau kegiatan setiap hari (Astrid Faidlatul Habibah, 2021). Perkembangan teknologi juga memberikan berbagai manfaat lainnya seperti munculnya e-commerce, e-wallet, mobile banking dan media sosial.</p>
<p>Media sosial merupakan tempat dimana setiap penggunanya dapat berpartisipasi, membagikan informasi maupun cerita, bahkan pengguna media sosial juga dapat membagikan foto dan video dalam kehidupan sehari-hari (Cahyono, 2016). Hal ini memberikan dampak positif dimana setiap orang di dunia dapat berinteraksi dengan mudah. Namun, arus informasi yang mudah dan cepat juga memberikan dampak negatif. Misalnya, seperti doxing, hacking, cyberbullying dan hate speech.</p>
<p>Hate speech dapat diartikan sebagai segala bentuk tindakan maupun tulisan yang sifatnya dilarang, dikarenakan dapat memicu terjadinya konflik (Marpaung, L, 2010). Menurut Cohen hate speech atau ujaran kebencian, merupakan ujaran yang memiliki motif negatif atau jahat serta ditunjukkan kepada seseorang atau kelompok lainnya (Azhar, 2020). Berdasarkan beberapa pendapat ahli sebelumnya, maka dapat dipahami bahwa hate speech merupakan ujaran yang ditujukan baik untuk seseorang maupun suatu kelompok tertentu dengan tujuan yang negatif, serta dapat memicu konflik dan perpecahan.</p>
<p>Kementerian Komunikasi dan Informatika, menjelaskan bahwa pada 2018 hingga tahun 2021 saja terdapat 3.640 konten yang memicu konflik dan permusuhan. Pada dasarnya konten atau postingan ini bersifat diskriminatif serta merendahkan suku, agama, ras, maupun adat istiadat lainnya. Kementerian Komunikasi dan Informatika Kemudian melakukan take-down terhadap postingan atau konten-konten yang terindikasi dapat memicu konflik dan perpecahan (KOMINFO, 2021).</p>
<p>Berdasasarkan latar belakang yang sudah diuraikan diatas, maka penulis bermaksud untuk melakukan kajian dengan judul “Fenomena Hate Speech di Media Sosial dan Dampaknya”</p>
<p>Media sosial merupakan sarana dimana setiap orang didunia dapat bertemu dan saling berinteraksi. Karena kemudahan, kecepatan dan luasnya jaringan media sosial, menyebabkan arus informasi menyebar begitu cepat. Arus informasi yang begitu cepat tidak hanya memberikan dampak positif, namun juga memberikan dampak negatif. Salah satu dampak negatif yang muncul adalah hate speech.</p>
<p>Hate speech dalam media sosial terjadi karena adanya gesekan atau ketegangan antara kelompok-kelompok tertentu (Rohman, 2016). Menurut pendapat Haidar Buldan Tantowi sebagai ahli psikologi internet UGM, Menjelaskan terdapat beberapa alasan yang menyebabkan hate speech dalam media sosial dapat terjadi (UGM, 2022), diantaranya:</p>
<p>Prasangka buruk terhadap kelompok lainnya dan merendahkan kelompok lainnya dapat menyebabkan terjadinya hate speech. Misalnya seperti menjelekkan warna kulit, bentuk tubuh atau kekurangan seseorang.</p>
<p>Trolling atau dapat diartikan bahwa sang pelaku tidak didasari oleh rasa prasangka buruk terhadap kelompok lainnya, tetapi hanya mencari kesenangan setelah melakukan hate speech.</p>
<p>Kondisi lingkungan media sosial yang dapat mendorong seseorang melakukan hate speech dengan cara memanfaatkan anonimitas. Jadi seseorang dapat menggunakan second account untuk menyembunyikan identitasnya dan kemudian melakukan ujaran kebencian melalui komentar dalam postingan seseorang.</p>
<p>Kasus Hate speech di media sosial yang semakin meningkat perlu mendapatkan perhatian yang serius karena dapat memberikan kerugian seperti stress, depresi tekanan sosial hingga yang paling buruk adalah mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Namun, hate speech merupakan tindakan yang melanggar hukum, sebagaimana sudah diatur melalui UU ITE atau dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang transaksi elektronik. Pelaku hate speech dapat dijatuhi hukuman pidana penjara paling lama enam tahun atau membayar denda paling banyak satu miliyar.</p>
<p>Berdasarkan bahaya dari masalah hate speech yang sudah diuraikan sebelumya, maka terdapat beberapa langkah antisipasi untuk menghindari hate speech di media sosial diantaranya:</p>
<p>Jangan melakukan komentar terhadap hal atau masalah yang tidak kita kuasai.</p>
<p>Jangan melakukan komentar negatif atau mengina dan menghakimi orang lain di media sosial.</p>
<p>Jangan memancing amarah atau emosi orang lain melalui komentar kita di media sosial.</p>
<p>Jangan ragu untuk melaporkan apabila menjadi korban ataupun menemui kasus hate speech di media sosial.</p>
<p>Perkembangan teknologi dan informasi memberikan berbagai kemudahan dalam kehidupan manusia. Perkembangan teknologi juga menyebabkan munculnya media sosial sebagai sarana masyarakat diseluruh dunia untuk berinteraksi, namun pada kenyataanya dalam penggunaan media sosial juga memicu meningkatnya kasus hate speech atau ujaran kebencian. Kasus hate speech ini terjadi oleh berbagai faktor seperti prasangka buruk terhadap kelompok lain, trolling dan lingkungan media sosial yang mendorong pelaku untuk dapat menyembunyikan identitasnya.</p>
<p>Teknologi memang sangat membantu dalam kehidupan masyarakat. namun, tidak menutup kemungkinan kejahatan dapat terjadi di media sosial. Oleh karena itu, hendaknya bagi masyarakat dapat menggunakan media sosial sebaik mungkin, selain itu jangan memancing amarah orang lain, merendahkan orang lain di media sosial maupun memposting kegiatan pribadi yang dapat memicu terjadinya hate speech.</p>
<p><em>Safira Aulia Nisa&#8217;</em><br />
<em>Mahasiswa Universitas Sebelas Maret</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/fenomena-hate-speech-di-media-sosial-dan-dampaknya/">Fenomena Hate Speech di Media Sosial dan Dampaknya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/media.suara.com/pictures/970x544/2017/09/01/93986-ujaran-kebencian.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Sarana Sosialisasi Pencegahan Kenakalan Remaja</title>
		<link>https://jakpos.id/pemanfaatan-media-sosial-sebagai-sarana-sosialisasi-pencegahan-kenakalan-remaja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 Dec 2023 02:10:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kenakalan Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61249</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Pada saat ini, kita berada pada zaman teknologi dibidang informasi dan komunikasi sangatlah&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pemanfaatan-media-sosial-sebagai-sarana-sosialisasi-pencegahan-kenakalan-remaja/">Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Sarana Sosialisasi Pencegahan Kenakalan Remaja</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Pada saat ini, kita berada pada zaman teknologi dibidang informasi dan komunikasi sangatlah maju dan berkembang dari tahun ke tahun, khususnya di media sosial.</p>
<p>Media sosial ialah media daring atau online yang terhubung melalui jaringan internet dari seluruh belahan dunia, dimana para pengguna bisa lebih mudah untuk berkomunikasi dengan jarak jauh. Dan menciptakan konten media melalui tiktok, instagram, whatsapp, twitter, dan lain sebagainya.</p>
<p>Pengguna media sosial khususnya para remaja, sangatlah mempengaruhi dalam keberlangsungan hidup mereka baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Dari perubahan remaja dalam hal berperilaku komunikasi, pola hidup, serta kebiasaan kebiasaan yang baru dengan media sosial.</p>
<p>Perubahan-perubahan yang dialami oleh remaja dipengaruhi oleh media sosial, tentunya memberi dampak pada perkembangan remaja baik itu dampak negatif atau dampak positif.</p>
<p>Masa Remaja ialah masa dimana para remaja mencari sebuah “Jati diri” atau yang biasa kita kenal dengan identitas diri. Perlunya pengarahan atau bimbingan dari guru dan orang tua untuk membentuk sebuah jati diri anak remaja agar menjadi indentitas diri yang positif sehingga dapat menjadi kepribadian yang kuat dan kokoh dalam perjalanan hidupnya di masa kini maupun di masa yang akan datang.</p>
<p>Para remaja akan besar kemungkinan mengembangkan suatu perilaku yang menyimpang, menutup diri dan masyarakat serta melakukan berbagai kriminalitas. Yang dapat menyebabkan para remaja dapat melaukan berbagai bentuk kenalakan remaja yang dia apatkan di media sosial, ada beberapa faktor pendukung yaitu pengaruh teman sebaya, kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal, serta tempat pendidikannya.</p>
<p>Teman sebaya memainkan peran penting dalam perkembangan remaja. Hubungan teman sebaya yang baik mungkin diperlukan untuk perkembangan sosial yang normal pada masa remaja. Orang tua dapat memberikan contoh atau petunjuk yang baik kepada anak remaja mengenai cara-cara mereka berhubungan dengan teman sebaya mereka. Media sosial merupakan media komunikasi yang sering digunakan masyarakat.</p>
<p>Pengaruh media sosial bagi para remaja jika tidak dibimbing dengan benar maka mereka akan mudah terjerumus pada suatu bentuk kenakalan remaja. Para remaja perlu melakukan penyaringan komunikasi pada media sosial agar dapat membuka jejaring sosial sesuai dengan usianya sehingga dengan harapan dapat mengurangi bentuk kenakalan remaja.</p>
<p>Pandemi akibat covid-19 yang melanda hampir seluruh negara didunia menyebabkan guncangan pada berbagai sektor kehidupan. Namun, kondisi ini tidak mempengaruhi peredaran gelap narkotika berkurang. Justru sebaliknya selama pandemi kasus peredaran gelap narkotika semakin naik.</p>
<p>Kedekatan masyarakat dengan media sosial dapat dimanfaatkan denga menyelundupkan gerakan sosialisasi anti narkoba dikalangan masyarakat. Penyuluhan narkoba ditengah pandemi bisa lebih menekan laju kasus narkotika yang saat ini selain Covid-19 kasus Narkoba juga.</p>
<p>Efektivitas penyuluhan menggunakan media sosial sebagai media yang mudah ditemukan dan mudah diakses semua kalangan untuk meningkatkan kesadaraan masyarakat akan bahaya narkoba bisa menjadi kunci untuk tersebarnya pengetahuan bahaya narkotika.</p>
<p>Cyber Bullying adalah bullyin yang terjadi melalui perantaraan media sosial dan korban dilecehkan atau dianiaya melalui media sosial. Proses pencegahan cyber bullying memerlukan ukuran yang jelas untuk menghindari kemungkinan kerusakan yang ada.</p>
<p>Pertama adalah memaksakan disiplin diri di antara pengguna media sosial. Ketika membuat akun media sosial, maka pengguna perlu memahami kegunaannya, tujuan, kemampuan, kemungkinan efek yang ada, media sosial melakukan kampanye anti cyber bullying secara berkala.</p>
<p>encegahan Tawuran di media sosial ini bukan melalui konten saja pelaku tawuran dapat menkampanyekan stop tawuran, tapo dngan silaturahmi, penyaluran hobi secara bersama dan membangun perselisihan di bidang yang sehat, yaitu ajang sepak bola dan olahraga lainnya antar sekolah.</p>
<p>Mulai dari menciptakan suasana lingkungan keluarga yang damai, lingkungan masyarakat yang rukun, tidak melalukan berbagai tindakan-tindakan kriminalitas, lingkungan sekolah yang berperan aktif untuk membangun karakter para remaja.</p>
<p>Pentingnya bagi para remaja untuk berinteraksi sosial agar adanya kesanggupan perindividu untuk saling berhubungan maupun berkerja sama dengan individu lainnya sehingga saling memengaruhi, mengubah, memperbaiki sifat maupun perilaku individu satu sama lain sehinggan terciptaknya hubungan timbal balik yang baik untuk kepribadian masing-masing.</p>
<p>Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi harus dapat dimanfaatkan untuk kesejateraan masyarakat. Teknologi tersebut merupakan alat untuk mewujudkan bangsa yang cerdas dan maju.</p>
<p>Internet dapat memberikan manfaat besar bagi pendidikan, penelitian, niaga dan aspek kehidupan lainnya. kita harus mendorong anak-anak dan para remaja untuk menggunakan internet sebagai alat yang penting untuk membantu pendidikan, meningkatkan pengetahuan, dan memperluas kesempatan serta keberdayaan dalam meraih kehidupan yang lebih baik.</p>
<p>Para remaja selalu tertarik dengan belajar hal-hal baru, namun terkadang mereka tidak menyadari resiko yang dapat ditimbulkan. Secara umum terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi pengunaan media sosial, yaitu faktor internal seperti kontrol diri, kepercayaan terhadap aplikasi media sosial, kepuasaan terhadap media sosial, serta sikap dalam menggunakan media sosial dan faktor eksternal seperti pengasuhan orang tua berupa pembatasan kontrol perilaku pada remaja.</p>
<p>Pada saat ini, sangat sedikit anak remaja di indonesia yang memiliki karakter kuat, karena tingginya kenakalan remaja di Indonesia, sehingga sebagai bukti bahwa gagalnya remaja untuk memanfaatkan potensi yang dimilikinya.</p>
<p>Masyarakat sangat mengharapkan peran remaja untuk dapat meningkatkan pembangunan Negara Indonesia di masa yang akan datang. Pentingnya membangun karakter anak remaja agar mereka terbiasa untuk berperilaku secara positif dan menjauhi perilaku yang bersifat negatif.</p>
<p>Pendidikan karakter lebih efektif diawali ketika di lingkungan keluarga karena pendidikan karakter akan lebih baik ketika diterapkan sejak dini.</p>
<p>Pemanfaatan media sosial bagi remaja, dampak positif nya yaitu : Memperluas jaringan pertemanan berkat media sosial ini menjadi lebih mudah bereman dengan orang lain diseluruh dunia. Anak dan remaja akan temotivasi untuk belajar mengembangkan diri melalui teman-teman yang mereka jumpai secara online. Situs jejaring sosial membuat anak dan temaja lebih bersahabat, perhatian dan empati.</p>
<p>Sebagai media penyebaran informasi. Informasi yang up to date sangat mudah menyebar melalui situs jejaring sosial. Sebagai sarana untuk mengembangkan ketarampilan dan sosial. Membangun koneksi positif dengan orang-orang yang minta dan tujuan yang sama.</p>
<p>Selain itu media sosial juga memudahkan masyarakat untuk saling berkomunikasi secara digital dengan siapapun. Kita sebagai pengguna perlu bijak dalam menggunakan media sosial tersebut.</p>
<p>Pengaruh internet dapat membawa pengaruh positif yaitu menjadi pusat informasi dalam media pembelajaran atau sebagai sarana penunjang dalam kelompok remaja. Internet juga bisa menjadi media komunikasi remaja melalui jejaring sosial yang sudah beraneka macam, kita dapat berkomunikasi dan menambah teman dengan orang banyak.</p>
<p>Hal positif lainnya para remaja dapat mengembangkan talenta yang dimilikinya seperti membuat situs sendiri dan mengembangkannya, membuat cerpen dan lain-lain. Media sosial dapat digunakan juga sebagai tempat untuk menyebarluaskan informasi positif seperti kampanye anti bullying, sebagai informasi pembelajaran.</p>
<p>Penggunaan media sosial oleh para remaja menambah relasi pertemanan, mendukung aktivitas belajar sebab proses pembelajaran selama Covid-19 juga telah memanfaatkan media sosial sebagai media dan sumber belajar.</p>
<p>Tindak kenakalan remaja yang diakibatkan oleh media sosial yaitu memfasilitasi komunikasi antara remaja yang melakukakn tindakan kenakalan seperti bullying, tawuran, dan kekerasan.</p>
<p>Salah satu kasus yang sering ditemukan namun sering dianggap sepele adalah mengomentari postingan seseorang dengan kata-kata yang tidak baik. Hal tersebut dapat terjadi akibat adanya kurang pengawasan dari pihak pendamping seperti orang tua, keluarga, guru, dan lingkungan sekitar.</p>
<p>Selain itu mereka juga perlu memberika edukasi terkait penggunaan media sosial, seperti konten apa saja yang boleh mereka aksesk, sehingga mereka dapat membatasi dirinya dalam bermain media sosial.</p>
<p>Kenakalan remaja merupakan salah satu gejala dari sosial, hal ini mengakibatkan remaja cederung mengembangkan perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang di kalang remaja bukanlah sesuatu yang asing di telinga masyarakat.</p>
<p>Berbagai media masa, baik itu televisi maupun medi sosial. Banyak memberitakan perilaku-perilaku mengenai kemerosotan moral yang dilakukan oleh remaja. Jadi perlu adanya sosialisasi untuk pencegahan kenalakan di media sosial, karena media sosial ketika kita tidak bisa mengendalikan akan menimbulkan kesalah pahaman dan akan dibawa ke tindakan hukum.</p>
<p>Pentingnya memanfaatkan media sosial sebaik-baiknya, dan harus bijak menggunakan media sosial.</p>
<div><em>Nabila Nur Hidayati </em></div>
<div><em>Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta </em></div>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pemanfaatan-media-sosial-sebagai-sarana-sosialisasi-pencegahan-kenakalan-remaja/">Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Sarana Sosialisasi Pencegahan Kenakalan Remaja</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/www.sampoernauniversity.ac.id/wp-content/uploads/2022/05/social-media-icons-logos-mobile-phone-screen-3d_125322-174.webp?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Fungsi Media Sosial yang Kerap Diabaikan</title>
		<link>https://jakpos.id/fungsi-media-sosial-yang-kerap-diabaikan/</link>
					<comments>https://jakpos.id/fungsi-media-sosial-yang-kerap-diabaikan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jul 2019 14:11:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=23231</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kita tau bahwa fungsi dasar sosial media sebagai sarana komunikasi antarpersonal. Media sosial seringkali digunakan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/fungsi-media-sosial-yang-kerap-diabaikan/">Fungsi Media Sosial yang Kerap Diabaikan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kita tau bahwa fungsi dasar sosial media sebagai sarana komunikasi antarpersonal. Media sosial seringkali digunakan untuk kepentingan yang menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Saat ini sosial media sangat bereran aktif terhadap perkembangan berita hoax di Indonesia.</p>
<p>Selain itu media sosial kerap dijadikan sebagai sarana penyebaran isu isu pornografi. Sosial media yang tidak mengenal usia akan menyebarkan isu pornografi ini dan dapt diakses oleh semua pengguna sosial media. Bahkan dapat diartikan kalau pornografi menjadi konsumsi publik sehari hari.</p>
<p>Pengguna sosial media sering mengangga bahwa semua informasi yang didapatkannya adalah benar. Mereka tidak emmperdulikan kebenaran dan keaslian dari informasi tersebut. Bahkan mereka langsung menyebarluaskan infomasi tersebut ke orang lain.</p>
<p>Kurangnya pengetahuan merupakan salah satu faktor penyebab berkembangnya penyalahgunaan sosial media. Mereka mengangga bahwa eksistensi diri dianggap lebih penting dibandingkan kebenaran informasi yang dibuat. Hal ini terjadi hampir disemua jenis sosial media.</p>
<p>Seperti halnya Instagram yang mereka jadikan sebagai media untuk menunjukan keunggulan dirinya. Bahkan untuk menuliskan keterangan yang mereka akan posting mereka lebih dianggap susah dibandingkan menjawab soal ujian. Bagi mereka keterangan ini adalah kunci dari informasi yang mereka ingin sampaikan.</p>
<p>Batas batas penggunaan sosial media bukan lagi menjadi hal yang di perhatikan. Mereka menyangkutkan masalah pribadi ke dalam sosial media mereka. Semua itu dilakukan demi like yang banyak dan komentar dari publik. Karna itu banyaknya masalah yang terjadi berawal dari sosial media.</p>
<p>Di sisi lain sosial media ini dianggap sebagai lapangan pekerjaan yang menguntungkan. Banyak orang orang yang terkenal karena sosial media seperti Atta Halilintar dan Ria Ricis. Namun dengan syarat yaitu memiliki pengikut yang banyak. Hal inilah yang mendorong masyarakat untuk berlomba lomba mendapatkan pengikut, like &amp; comment yang banyak.</p>
<p>Tinggal di negara yang menganut sistem demokratis merupakan keuntungan bagi masyarakartnya karena setiap orang dibebaskan untuk membuat informasi sendiri. Bahkan diberi kebebasan untuk mengkritik pemerintahan melalui sosial media selama tidak melanggar kaidah kaidah yang ada.</p>
<p>Kebijakan penggunaan sosial media yang dibuat pemerintah beberapa tahun lalu berdampak positif terhadap pelanggaran pelanggaran yang terjadi. Sehingga sekarang masyarakat takut untuk memposting informasi yang dibuatnya apalagi berkaitan dengan pemerintah. Dan mereka umumnya lebih suka mengkonsumsi informasi yang dibuat orang lain atau akun terpercaya.</p>
<p>Perusahaan yang membuat sosial media harus lebih bijak dalam memilah informasi yang dibuat oleh masyarakat. Seperti contohnya menghapus postingan yang berbau isu-isu negatif ataupun hoax. Bahkan juga harus memperhatikan hal yang berkaitan dengan pornografi.</p>
<p>Saat ini setiap orang perlu memperhatikan lebih mengani apa yang akan mereka publikasikan di sosial media. Karena itulah yang akan menjadi gambaran mengenai diri mereka. Sosial media harus dijalankan sebagaimana fungsinya. Jika dengan alasan untuk membangun eksistensi diperbolehkan selama tidak melanggar aturan yang ada.</p>
<p><em><strong>Dituiis oleh Muhamad Ridwan, mahasiswa Stikom Lspr Jakarta</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/fungsi-media-sosial-yang-kerap-diabaikan/">Fungsi Media Sosial yang Kerap Diabaikan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/fungsi-media-sosial-yang-kerap-diabaikan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
