<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Parenting Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/parenting/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/parenting/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jun 2025 11:01:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Parenting Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/parenting/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dampak Broken Home Akibat Keegoisan Orang Tua</title>
		<link>https://jakpos.id/dampak-broken-home-akibat-keegoisan-orang-tua/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2025 11:01:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Broken Home]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=89075</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Seperti yang kita tau sekarang banyak sekali fenomena dari Broken Home yang berdampak&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dampak-broken-home-akibat-keegoisan-orang-tua/">Dampak Broken Home Akibat Keegoisan Orang Tua</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Seperti yang kita tau sekarang banyak sekali fenomena dari Broken Home yang berdampak besar pada anak muda terlebih lagi pada generasi Gen -Z sekarang, banyak sekai anak Gen-Z yang terkena dampak dari keegoisan orang tua selain itu juga, walaupun memiliki ekonomi yang bisa terbilang cukup tapi mereka masih kurang komunikasi, kasihsayang, maupun perhatian dari orang tua baik dari ayah, ibu, maupun kedua nya ,hal ini yang ampu memicu dari ada nya fenomena kenakalan remaja.</p>
<p>Salah satu bentuk nyata dari keegoisan orang tua adalah perceraian yang tidak mempertimbangkan kondisi psikologis anak. Fenomena ini biasa disebut sebagai &#8216;broken home&#8217;. Anak yang berasal dari keluarga broken home cenderung mengalami gangguan emosi, rasa tidak aman, dan lebih mudah terlibat dalam kenakalan remaja.</p>
<p>Menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, sekitar 25% anak-anak dari keluarga yang mengalami perceraian mengaku merasa kesepian dan tertekan. Dari jumlah tersebut, 60% menunjukkan kecenderungan perilaku menyimpang seperti membolos sekolah, berkelahi, hingga penyalahgunaan narkoba.</p>
<p>Rata-rata anak yang terdampak broken home akibat keegoisan orang tua berada pada rentang usia 12–17 tahun, yakni masa remaja yang rentan terhadap tekanan sosial dan emosional. Tanpa pendampingan yang tepat, mereka dapat mencari pelarian pada pergaulan yang salah.</p>
<p>Keegoisan orang tua dalam mengasuh anak dapat berdampak buruk terhadap perkembangan psikologis anak. Ketika orang tua lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kebutuhan emosional dan mental anak, maka anak akan tumbuh dalam kondisi yang tidak sehat secara emosional. Hal ini dapat berujung pada munculnya kenakalan remaja.</p>
<p>&#8220;Anak-anak yang tumbuh tanpa perhatian dan kasih sayang yang memadai dari orang tuanya lebih rentan mengalami gangguan perilaku dan kenakalan remaja.&#8221; (Sumber: Psikologi Perkembangan, Santrock, 2012)</p>
<p>Keegoisan dapat berupa sikap otoriter, penolakan tanggung jawab, atau terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga mengabaikan anak. Ketika kebutuhan anak untuk diperhatikan tidak terpenuhi, mereka cenderung mencari perhatian dari luar rumah, yang bisa berujung pada perilaku menyimpang.</p>
<p>&#8220;Kurangnya komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak berkontribusi besar terhadap perilaku menyimpang remaja.&#8221; (Sumber: Jurnal Pendidikan dan Remaja, Universitas Negeri Malang, 2020)</p>
<p>Keegoisan orang tua kepada anaknya yang dapat menimbulkan kenakalan remaja juga berdampak pada masyarakat luas yang bisa membuat ke khawatiran, terlebih lagi pada masyarakat terdekat, Contohnya yang bisa kita liat sekarang seperti keributan antar remaja, balap liar, maupun tauran antar kampung. Seperti yang kita tau kegiatan yang tidak benar tersebut bisa merugikan masyarakat dan dapat merusak fasilitas umu yang ada.</p>
<p>Kesimpulan Peran orang tua sangat krusial dalam membentuk karakter anak. Keegoisan dalam pola asuh dapat mengakibatkan anak merasa tidak dicintai dan tidak dihargai. Hal ini dapat menimbulkan kemarahan, frustrasi, hingga kenakalan remaja. Oleh karena itu, orang tua harus belajar memahami kebutuhan emosional anak dan membangun komunikasi yang sehat sejak dini.</p>
<p><em>Muhammad Ragil Java Rangkuti</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dampak-broken-home-akibat-keegoisan-orang-tua/">Dampak Broken Home Akibat Keegoisan Orang Tua</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/grome.id/upload/quill/06a8aef1-ca1a-4508-bb69-10fe70174d5b.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Peran Orang Tua Dorong Kemandirian Finansial Anak Sejak Dini</title>
		<link>https://jakpos.id/pentingnya-peran-orang-tua-dorong-kemandirian-finansial-anak-sejak-dini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2025 13:32:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Finansial]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88919</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Kemandirian finansial perlu diajarkan sejak dini agar anak memiliki kebiasaan mengelola uang dengan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pentingnya-peran-orang-tua-dorong-kemandirian-finansial-anak-sejak-dini/">Pentingnya Peran Orang Tua Dorong Kemandirian Finansial Anak Sejak Dini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Kemandirian <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/rahasia-finansial-gen-z-7-strategi-cerdas-kelola-uang-sejak-dini/">finansial</a> perlu diajarkan sejak dini agar anak memiliki kebiasaan mengelola uang dengan baik. Orangtua berperan penting dalam mengenalkan konsep <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/peluang-bisnis-di-era-digital-bagi-generasi-muda/">uang</a> melalui pendekatan yang kreatif dan sesuai dengan seusianya. Selain itu orang tua juga harus mengajari anak tentang indahnya berbagi antar sesama dan tidak lupa juga terkait tanggung jawab <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/saatnya-mahasiswa-unpam-menjadi-agen-perubahan-sosial/">sosial</a> juga harus diajarkan. Dengan bimbingan orangtua yang konsisten, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bijak, dan bertanggung jawab secara finansial.</p>
<p>Kemandirian finansial akan menjadi bekal hidup penting yang seharusnya ditanamkan sejak anak usia dini. Di tengah kehidupan yang serba teknologi, anak-anak perlu dibimbing agar tidak hanya tahu cara membelanjakan uang, tetapi juga mengerti bagaimana mengelola uang tersebut mulai dari menyimpan, dan memanfaatkannya dengan bijak. Dalam hal ini, orangtua memegang peran utama dalam mengajarkan kemandirian finansial anak sejak dini. Pendidikan keuangan tidak perlu hal-hal yang rumit, tapi cukup lewat kebiasaan sehari-hari yang menyenangkan bagi anak.</p>
<p>Langkah pertama yang bisa dilakukan orangtua adalah mengenalkan konsep uang secara nyata. Anak dapat dilibatkan saat berbelanja, diberi penjelasan tentang harga barang, serta diajak membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Selain itu, permainan seperti Monopoli atau simulasi jual beli sederhana dapat menjadi alat belajar yang efektif dan menyenangkan.</p>
<p>Langkah berikutnya adalah mengajarkan anak membuat anggaran. Dari uang saku yang diberikan, anak dapat diarahkan untuk membagi uangnya ke dalam pos seperti tabungan, jajan, dan keperluan lainnya. Ini melatih mereka memahami prioritas dalam pengeluaran. Pada tahap yang lebih lanjut, anak juga bisa dikenalkan dengan konsep investasi secara sederhana, seperti menanam uang untuk membeli bahan kerajinan yang nantinya bisa dijual kembali.</p>
<p>Selain aspek teknis, nilai-nilai seperti berbagi dan tanggung jawab sosial juga harus ditanamkan. Anak diajarkan bahwa uang tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga bisa menjadi alat untuk membantu orang lain. Orangtua harus menjadi teladan dalam hal ini, anak akan meniru pola hidup dan kebiasaan yang mereka lihat setiap hari.</p>
<p><em>Muhamad Taji</em><br />
<em>S1-Akuntansi Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pentingnya-peran-orang-tua-dorong-kemandirian-finansial-anak-sejak-dini/">Pentingnya Peran Orang Tua Dorong Kemandirian Finansial Anak Sejak Dini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/disdikbud.acehtengahkab.go.id/media/2022.08/literasi_keuangan_parapuan1.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Multilingual vs Monolingual: Mana yang Lebih Mendukung Perkembangan Bahasa Anak?</title>
		<link>https://jakpos.id/multilingual-vs-monolingual-mana-yang-lebih-mendukung-perkembangan-bahasa-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2025 09:15:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Monolingual]]></category>
		<category><![CDATA[Multilingual]]></category>
		<category><![CDATA[Multilingual vs Monolingual]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88858</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Bahasa merupakan jembatan awal bagi anak untuk memahami dunia di sekitarnya. Melalui bahasa,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/multilingual-vs-monolingual-mana-yang-lebih-mendukung-perkembangan-bahasa-anak/">Multilingual vs Monolingual: Mana yang Lebih Mendukung Perkembangan Bahasa Anak?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Bahasa merupakan jembatan awal bagi anak untuk memahami dunia di sekitarnya. Melalui <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/fenomena-grammar-police-dan-dampaknya-terhadap-kepercayaan-diri-masyarakat-dalam-berbahasa-inggris/">bahasa</a>, mereka belajar berbicara, mengenali lingkungan, dan mengekspresikan perasaan. Dalam kehidupan modern yang semakin terhubung, anak-anak bisa tumbuh di <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/benturan-budaya-anak-desa-beradaptasi-di-lingkungan-baru/">lingkungan</a> berbahasa tunggal (monolingual) atau lingkungan yang menggunakan beberapa bahasa (multilingual). Tapi, di antara keduanya, mana yang lebih mendukung perkembangan bahasa anak?</p>
<p><a href="https://www.depokpos.com/2025/06/pengaruh-lingkungan-sekitar-terhadap-kesehatan-mental-remaja/">Lingkungan</a> monolingual sering dianggap memberikan kestabilan dalam hal pembelajaran bahasa. Anak-anak yang hanya terpapar satu bahasa biasanya lebih cepat dalam menguasai bahasa tersebut karena tidak perlu membagi perhatian ke sistem bahasa lain. Hal ini tentu menguntungkan terutama di masa awal perkembangan, saat mereka sedang menyerap kosakata, tata bahasa, dan cara pengucapan. Namun, keterbatasan pada satu bahasa bisa menjadi hambatan ketika anak mulai berinteraksi dalam masyarakat yang lebih majemuk.</p>
<p>Di sisi lain, anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan multilingual terbiasa mendengar dan menggunakan beberapa bahasa dalam keseharian mereka. Paparan ini memperkaya kemampuan bahasa mereka dan melatih otak untuk berpikir lebih fleksibel. Berbagai riset menunjukkan bahwa anak yang bilingual atau multilingual cenderung memiliki kemampuan analisis yang lebih tajam, lebih peka terhadap struktur bahasa (metabahasa), dan lebih cepat beradaptasi. Meskipun di awal mereka mungkin terlihat lambat dalam satu bahasa tertentu, dalam jangka panjang mereka unggul dalam memahami konteks dan makna komunikasi.</p>
<p>Meski begitu, lingkungan multilingual tetap memiliki tantangannya. Jika tidak diarahkan dengan baik, anak bisa bingung membedakan bahasa atau mencampuradukkan tata bahasa yang berbeda. Oleh karena itu, peran orang tua dan pendidik sangat krusial dalam membantu anak menggunakan setiap bahasa dengan tepat sesuai konteksnya.</p>
<p>Jadi, apakah harus memilih antara lingkungan monolingual atau multilingual? Sebenarnya, bukan soal memilih yang satu dan meninggalkan yang lain. Kuncinya adalah menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan bahasa anak secara sehat dan seimbang. Lingkungan monolingual bisa memperkuat keterikatan anak pada bahasa ibu, sementara multilingual memberi peluang luas untuk menjalin relasi global dan memahami keragaman budaya.</p>
<p>Yang paling penting adalah memberi anak kesempatan untuk berkembang sesuai ritmenya, tanpa tekanan berlebihan. Karena, bahasa bukan sekadar alat komunikasi tetapi juga sarana anak untuk mengenali diri dan dunia di sekitarnya. Lingkungan yang merangsang pertumbuhan bahasa secara menyeluruh akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang terbuka, percaya diri, dan siap menghadapi dunia yang penuh warna.</p>
<p><em><strong>Azalia Davina</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/multilingual-vs-monolingual-mana-yang-lebih-mendukung-perkembangan-bahasa-anak/">Multilingual vs Monolingual: Mana yang Lebih Mendukung Perkembangan Bahasa Anak?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/language200.wordpress.com/wp-content/uploads/2016/02/cropped-cropped-untitled-document.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Teknologi: Jembatan Akses atau Hambatan dalam Membaca Anak?</title>
		<link>https://jakpos.id/teknologi-jembatan-akses-atau-hambatan-dalam-membaca-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2025 03:04:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88757</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Membaca merupakan kegiatan proses memahami makna dari simbol tertulis, baik huruf, tanda baca,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/teknologi-jembatan-akses-atau-hambatan-dalam-membaca-anak/">Teknologi: Jembatan Akses atau Hambatan dalam Membaca Anak?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Membaca merupakan kegiatan proses memahami makna dari simbol tertulis, baik huruf, tanda baca, maupun spasi. Dengan Membaca, kita dapat memperoleh pengetahuan, wawasan , dan pemahaman tentang dunia di sekitar kita, bahkan tanpa harus melakukan perjalanan atau pengalaman langsung.</p>
<p>Karena, Membaca adalah Jendela Dunia. Membaca buku sangat penting karena dapat memberikan pemahaman tentang dunia dan dapat memberikan perkembangan hidup.</p>
<p>Kemajuan teknologi saat ini merupakan anugerah karena memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Teknologi juga dapat memudahkan berbagai aktivitas seperti saat ini. dengan teknologi juga kita bisa membaca melalui gadget. Serta tidak lagi harus selalu membawa buku kemana-mana dan bisa membaca dimana pun dan kapan pun.</p>
<p>Dengan adanya teknologi juga dapat membantu proses membaca dan belajar anak-anak dengan akses yang mudah, fitur yang menarik, dan juga terdapat banyak sumber-sumber informasi terkait pembelajaran melalu digital.</p>
<p>Akan tetapi di satu sisi, pentingnya peran Orang tua dalam memberikan teknologi kepada anak-anak saat ini menjadi penting karena teknologi sangat mudah sekali dijangkau dan diakses oleh kalangan anak-anak. serta tingkat ketergantungan anak pada gadget saat ini sudah mulai menjadi serius karena semangat anak- anak dalam membaca kalah dengan lamanya anak bermain gadget.</p>
<p>Di era dengan Perkembangan zaman yang sangat berbau teknologi saat ini, tingkat populasi minat dalam membaca sangat tergolong rendah. ‘’Minat baca di Indonesia, menurut data UNESCO, sangat rendah, dengan indeks hanya 0,001%. Ini berarti, dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Data ini menunjukkan bahwa budaya membaca di Indonesia masih perlu ditingkatkan secara signifikan’’ Hal ini dilansir dari UNESCO saat meneliti minat baca di Indonesia yang terbilang sangat rendah.</p>
<p>Jika dilihat dalam penelitian UNESCO tentang rendahnya tingkat membaca di Indonesia, ini menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan Bersama. Baik pihak Pemerintah, Tokoh Masyarakat, peran Orang tua, Mahasiswa, dan semua penduduk negara ini. Karena Membaca adalah awal dari banyak hal, membaca bagian awal dari tumbuhnya ide, karakter, dan masa depan. Juga dengan membaca mampu memajukan sebuah negara serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.</p>
<p>Beberapa faktor yang menyebabkan anak memiliki ketergantungan pada gadget disebabkan oleh dua faktor yaitu:</p>
<h3>Faktor Internal</h3>
<p><strong>⦁ Minat anak:</strong><br />
Jika anak tidak memiliki minat baca yang kuat, mereka cenderung lebih tertarik pada konten digital yang lebih atraktif dan mudah dicerna.</p>
<p><strong>⦁ Kecanduan:</strong><br />
Penggunaan gadget yang berlebihan dapat menyebabkan kecanduan, membuat anak sulit lepas dari perangkat dan enggan melakukan aktivitas lain, termasuk membaca.</p>
<p><strong>⦁ Kontrol diri rendah:</strong><br />
Beberapa anak memiliki kontrol diri yang kurang baik, sehingga sulit untuk membatasi waktu penggunaan gadget dan beralih ke aktivitas lain.</p>
<p><strong>⦁ Gangguan psikologis:</strong><br />
Masalah psikologis seperti depresi atau kecemasan juga bisa menjadi faktor pemicu kecanduan gadget, menurut Alodokter.</p>
<h3>Faktor Eksternal</h3>
<p><strong>⦁ Pengawasan orang tua:</strong><br />
Kurangnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan gadget anak dapat menyebabkan mereka terpapar konten yang tidak sesuai usia dan menghabiskan waktu terlalu lama di depan layar.</p>
<p><strong>⦁ Konten digital yang menarik:</strong><br />
Konten digital, seperti video game atau media sosial, seringkali dirancang untuk menarik perhatian dan membuat anak betah berlama-lama.</p>
<p><strong>⦁ Kurangnya kegiatan alternatif:</strong><br />
Jika anak tidak memiliki banyak kegiatan alternatif yang menarik di dunia nyata, mereka cenderung akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget.</p>
<p><strong>⦁ Tekanan teman sebaya:</strong><br />
Tekanan dari teman sebaya yang juga kecanduan gadget dapat membuat anak merasa terdorong untuk mengikuti gaya hidup yang sama.</p>
<p>Kemajuan teknlogi memberikan kemudahan luar biasa dalam mengakses informasi, termasuk dalam kegiatan membaca. Anak- anak kini bisa membaca kapan saja dan di mana saja melalui perangkat digital seperti gadget, yang tentunya lebih efisien dan lebih praktis di bandingkan dengan membawa buku fisik. Namun, kemudahan ini memilki dua sisi.</p>
<p>Di satu sisi, teknologi dapat menjadi jembatan akses menuju dunia membaca dengan berbagai fitur dan sumber pembelajaran yang menarik. Di sisi lain, teknologi juga bisa menjadi hambatan yang serius ketika penggunaannya tidak diawasi, terutama bagi anak-anak yang mudah terdistraksi oleh konten digital yang bersifat hiburan sehingga mengakibatkan anak menjadi malas untuk membaca dibandingkan dengan bermain gadget.</p>
<p>Saran saya sebagai penulis di sini ingin mengajak semua terutama peran orang tua , guru dan pemerintah untuk melihat betapa pentingnya dalam kita membangun minat membaca pada anak-anak. orang tua wajib mengawasi dan membatasi penggunaan gadget pada anak-anak dirumah, juga ketika di sekolah guru mewajibkan agar penggunaan gadget pada jam pembelajaran dilarang agar anak-anak mampu mempunyai pemikiran kritis untuk memecahkan suatu masalah dikelas.</p>
<p>Dan dengan mudahnya akses pada penggunaan gadget semoga pemerintah dapat membuat kebijakan membuat program literasi nasional berbasis komunitas dan membuat Program Subsidi Buku dan Perpustakaan Digital Gratis.yang karena dengan minat membaca yang tinggi maka akan banyak melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi serta mampu membangun masa depan Indonesia lebih baik lagi di era generasi mendatang.</p>
<p><em>Intan Marina</em><br />
<em>Prodi S1 Akuntansi Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/teknologi-jembatan-akses-atau-hambatan-dalam-membaca-anak/">Teknologi: Jembatan Akses atau Hambatan dalam Membaca Anak?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/untag-sby.ac.id/uploads/artikel/Cara-mengatasi-Anak-kecanduan-gadget-atau-hp.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Perubahan Pola Asuh Orang Tua di Era Digital : Antara Gadget, Pendidikan dan Kedekatan Emosional</title>
		<link>https://jakpos.id/perubahan-pola-asuh-orang-tua-di-era-digital-antara-gadget-pendidikan-dan-kedekatan-emosional-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2025 02:54:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Era Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Asuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88754</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Di era digital saat ini, perkembangan teknologi telah menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/perubahan-pola-asuh-orang-tua-di-era-digital-antara-gadget-pendidikan-dan-kedekatan-emosional-2/">Perubahan Pola Asuh Orang Tua di Era Digital : Antara Gadget, Pendidikan dan Kedekatan Emosional</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Di era digital saat ini, perkembangan teknologi telah menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam hal pola asuh anak.</p>
<p>Para orang tua kini dihadapkan pada tantangan baru dalam membesarkan anak-anak yang tumbuh di tengah arus informasi yang cepat dan keberadaan gadget yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Meskipun teknologi membawa banyak manfaat, perubahan ini juga memunculkan dilema yang kompleks dalam membentuk karakter dan perkembangan emosi anak.</p>
<p>Gadget seperti smartphone dan tablet kini sering menjadi “pengasuh kedua” bagi anak-anak. Tidak sedikit orang tua yang memberikan anak gadget agar mereka tenang, tidak rewel, atau sibuk sendiri.</p>
<p>Di sisi lain, gadget juga menjadi sarana belajar yang interaktif melalui video edukatif, aplikasi belajar, hingga komunikasi dengan guru.Namun, penggunaan gadget yang berlebihan dapat menimbulkan risiko serius.</p>
<p>Anak-anak yang terlalu lama terpapar layar bisa mengalami gangguan konsentrasi, penurunan keterampilan sosial, bahkan ketergantungan.</p>
<p>Selain itu, akses bebas ke internet tanpa pengawasan juga membuka peluang anak melihat konten yang tidak sesuai dengan usianya.Era digital telah memperluas akses pendidikan.</p>
<p>Anak-anak bisa belajar kapan saja dan di mana saja melalui platform seperti YouTube, Ruangguru, atau Google Classroom. Pandemi COVID-19 mempercepat adaptasi teknologi ini, menjadikan pembelajaran daring sebagai bagian dari rutinitas harian.</p>
<p>Namun, meskipun teknologi mendukung pembelajaran formal, hal ini tidak serta-merta menggantikan peran orang tua dalam pendidikan karakter. Nilai-nilai seperti empati, tanggung jawab, dan disiplin tetap membutuhkan sentuhan langsung dari orang tua.</p>
<p>Tanpa keterlibatan aktif, anak dapat tumbuh dengan pemahaman yang sempit, hanya terpaku pada pengetahuan kognitif semata.Salah satu dampak signifikan dari perubahan pola asuh di era digital adalah berkurangnya kedekatan emosional antara orang tua dan anak.</p>
<p>Banyak orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan atau juga larut dalam penggunaan gadget, sehingga interaksi berkualitas dengan anak menjadi minim. Begitu pula sebaliknya, anak yang sudah kecanduan layar cenderung mengabaikan komunikasi langsung.</p>
<p>Padahal, kedekatan emosional merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Komunikasi hangat, waktu berkualitas bersama, dan perhatian penuh dari orang tua adalah hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun.</p>
<p>Anak yang merasa dekat secara emosional dengan orang tuanya cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih baik, lebih terbuka, dan lebih siap menghadapi tantangan hidup.</p>
<h3>Solusi dan Rekomendasi</h3>
<p>Agar pola asuh tetap sehat di era digital, orang tua perlu menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan interaksi langsung. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil:</p>
<ul>
<li>Batasi waktu penggunaan gadget sesuai usia anak dan isi dengan aktivitas fisik atau permainan kreatif.</li>
<li>Berperan aktif dalam penggunaan teknologi anak, misalnya dengan menonton video edukatif bersama lalu mendiskusikannya.</li>
<li>Sediakan waktu khusus setiap hari untuk berbicara dari hati ke hati tanpa gangguan gadget.</li>
<li>Jadilah teladan digital, dengan menggunakan teknologi secara bijak dan menunjukkan pentingnya batasan.</li>
</ul>
<p>Kembangkan pola asuh yang adaptif, dengan tetap menjaga nilai-nilai dasar seperti kasih sayang, perhatian, dan disiplin.</p>
<p>Perubahan pola asuh di era digital adalah keniscayaan. Orang tua tidak bisa menghindari kemajuan teknologi, namun dapat mengelolanya agar tetap memberikan dampak positif.</p>
<p>Kunci utamanya terletak pada keseimbangan: antara pemanfaatan gadget untuk pendidikan dan pemeliharaan kedekatan emosional dalam keluarga. Dengan pola asuh yang bijak dan adaptif, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual dan matang secara emosional.</p>
<p><strong><em>Yeni Asnawati</em></strong><br />
<em>Program Studi S1 Akuntansi</em><br />
<em>Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/perubahan-pola-asuh-orang-tua-di-era-digital-antara-gadget-pendidikan-dan-kedekatan-emosional-2/">Perubahan Pola Asuh Orang Tua di Era Digital : Antara Gadget, Pendidikan dan Kedekatan Emosional</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/asset.kompas.com/crops/PDltMW-_Agdq1EciX6Cjn5PTsYw=/0x0:780x520/1200x800/data/photo/2023/06/09/6482fc48a8df6.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
