<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pola Asuh Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/pola-asuh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/pola-asuh/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jun 2025 02:54:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Pola Asuh Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/pola-asuh/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Perubahan Pola Asuh Orang Tua di Era Digital : Antara Gadget, Pendidikan dan Kedekatan Emosional</title>
		<link>https://jakpos.id/perubahan-pola-asuh-orang-tua-di-era-digital-antara-gadget-pendidikan-dan-kedekatan-emosional-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2025 02:54:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Era Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Asuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88754</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Di era digital saat ini, perkembangan teknologi telah menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/perubahan-pola-asuh-orang-tua-di-era-digital-antara-gadget-pendidikan-dan-kedekatan-emosional-2/">Perubahan Pola Asuh Orang Tua di Era Digital : Antara Gadget, Pendidikan dan Kedekatan Emosional</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Di era digital saat ini, perkembangan teknologi telah menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam hal pola asuh anak.</p>
<p>Para orang tua kini dihadapkan pada tantangan baru dalam membesarkan anak-anak yang tumbuh di tengah arus informasi yang cepat dan keberadaan gadget yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Meskipun teknologi membawa banyak manfaat, perubahan ini juga memunculkan dilema yang kompleks dalam membentuk karakter dan perkembangan emosi anak.</p>
<p>Gadget seperti smartphone dan tablet kini sering menjadi “pengasuh kedua” bagi anak-anak. Tidak sedikit orang tua yang memberikan anak gadget agar mereka tenang, tidak rewel, atau sibuk sendiri.</p>
<p>Di sisi lain, gadget juga menjadi sarana belajar yang interaktif melalui video edukatif, aplikasi belajar, hingga komunikasi dengan guru.Namun, penggunaan gadget yang berlebihan dapat menimbulkan risiko serius.</p>
<p>Anak-anak yang terlalu lama terpapar layar bisa mengalami gangguan konsentrasi, penurunan keterampilan sosial, bahkan ketergantungan.</p>
<p>Selain itu, akses bebas ke internet tanpa pengawasan juga membuka peluang anak melihat konten yang tidak sesuai dengan usianya.Era digital telah memperluas akses pendidikan.</p>
<p>Anak-anak bisa belajar kapan saja dan di mana saja melalui platform seperti YouTube, Ruangguru, atau Google Classroom. Pandemi COVID-19 mempercepat adaptasi teknologi ini, menjadikan pembelajaran daring sebagai bagian dari rutinitas harian.</p>
<p>Namun, meskipun teknologi mendukung pembelajaran formal, hal ini tidak serta-merta menggantikan peran orang tua dalam pendidikan karakter. Nilai-nilai seperti empati, tanggung jawab, dan disiplin tetap membutuhkan sentuhan langsung dari orang tua.</p>
<p>Tanpa keterlibatan aktif, anak dapat tumbuh dengan pemahaman yang sempit, hanya terpaku pada pengetahuan kognitif semata.Salah satu dampak signifikan dari perubahan pola asuh di era digital adalah berkurangnya kedekatan emosional antara orang tua dan anak.</p>
<p>Banyak orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan atau juga larut dalam penggunaan gadget, sehingga interaksi berkualitas dengan anak menjadi minim. Begitu pula sebaliknya, anak yang sudah kecanduan layar cenderung mengabaikan komunikasi langsung.</p>
<p>Padahal, kedekatan emosional merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Komunikasi hangat, waktu berkualitas bersama, dan perhatian penuh dari orang tua adalah hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun.</p>
<p>Anak yang merasa dekat secara emosional dengan orang tuanya cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih baik, lebih terbuka, dan lebih siap menghadapi tantangan hidup.</p>
<h3>Solusi dan Rekomendasi</h3>
<p>Agar pola asuh tetap sehat di era digital, orang tua perlu menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan interaksi langsung. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil:</p>
<ul>
<li>Batasi waktu penggunaan gadget sesuai usia anak dan isi dengan aktivitas fisik atau permainan kreatif.</li>
<li>Berperan aktif dalam penggunaan teknologi anak, misalnya dengan menonton video edukatif bersama lalu mendiskusikannya.</li>
<li>Sediakan waktu khusus setiap hari untuk berbicara dari hati ke hati tanpa gangguan gadget.</li>
<li>Jadilah teladan digital, dengan menggunakan teknologi secara bijak dan menunjukkan pentingnya batasan.</li>
</ul>
<p>Kembangkan pola asuh yang adaptif, dengan tetap menjaga nilai-nilai dasar seperti kasih sayang, perhatian, dan disiplin.</p>
<p>Perubahan pola asuh di era digital adalah keniscayaan. Orang tua tidak bisa menghindari kemajuan teknologi, namun dapat mengelolanya agar tetap memberikan dampak positif.</p>
<p>Kunci utamanya terletak pada keseimbangan: antara pemanfaatan gadget untuk pendidikan dan pemeliharaan kedekatan emosional dalam keluarga. Dengan pola asuh yang bijak dan adaptif, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual dan matang secara emosional.</p>
<p><strong><em>Yeni Asnawati</em></strong><br />
<em>Program Studi S1 Akuntansi</em><br />
<em>Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/perubahan-pola-asuh-orang-tua-di-era-digital-antara-gadget-pendidikan-dan-kedekatan-emosional-2/">Perubahan Pola Asuh Orang Tua di Era Digital : Antara Gadget, Pendidikan dan Kedekatan Emosional</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/asset.kompas.com/crops/PDltMW-_Agdq1EciX6Cjn5PTsYw=/0x0:780x520/1200x800/data/photo/2023/06/09/6482fc48a8df6.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Perubahan Pola Asuh Orang Tua di Era Digital: Antara Gadget, Pendidikan dan Kedekatan Emosional</title>
		<link>https://jakpos.id/perubahan-pola-asuh-orang-tua-di-era-digital-antara-gadget-pendidikan-dan-kedekatan-emosional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2025 06:25:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Asuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=87742</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di era digital saat ini, perkembangan teknologi telah menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam hal pola asuh anak</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/perubahan-pola-asuh-orang-tua-di-era-digital-antara-gadget-pendidikan-dan-kedekatan-emosional/">Perubahan Pola Asuh Orang Tua di Era Digital: Antara Gadget, Pendidikan dan Kedekatan Emosional</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Di era digital saat ini, perkembangan teknologi telah menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam hal pola asuh anak. Para orang tua kini dihadapkan pada tantangan baru dalam membesarkan anak-anak yang tumbuh di tengah arus informasi yang cepat dan keberadaan gadget yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Meskipun teknologi membawa banyak manfaat, perubahan ini juga memunculkan dilema yang kompleks dalam membentuk karakter dan perkembangan emosi anak.</p>
<h3>Peran Gadget dalam Keseharian Anak</h3>
<p>Gadget seperti smartphone dan tablet kini sering menjadi &#8220;pengasuh kedua&#8221; bagi anak-anak. Tidak sedikit orang tua yang memberikan anak gadget agar mereka tenang, tidak rewel, atau sibuk sendiri. Di sisi lain, gadget juga menjadi sarana belajar yang interaktif melalui video edukatif, aplikasi belajar, hingga komunikasi dengan guru.</p>
<p>Namun, penggunaan gadget yang berlebihan dapat menimbulkan risiko serius. Anak-anak yang terlalu lama terpapar layar bisa mengalami gangguan konsentrasi, penurunan keterampilan sosial, bahkan ketergantungan. Selain itu, akses bebas ke internet tanpa pengawasan juga membuka peluang anak melihat konten yang tidak sesuai dengan usianya.</p>
<h3>Pendidikan dalam Genggaman: Positif tapi Tak Cukup</h3>
<p>Era digital telah memperluas akses pendidikan. Anak-anak bisa belajar kapan saja dan di mana saja melalui platform seperti YouTube, Ruangguru, atau Google Classroom. Pandemi COVID-19 mempercepat adaptasi teknologi ini, menjadikan pembelajaran daring sebagai bagian dari rutinitas harian.</p>
<p>Namun, meskipun teknologi mendukung pembelajaran formal, hal ini tidak serta-merta menggantikan peran orang tua dalam pendidikan karakter. Nilai-nilai seperti empati, tanggung jawab, dan disiplin tetap membutuhkan sentuhan langsung dari orang tua. Tanpa keterlibatan aktif, anak dapat tumbuh dengan pemahaman yang sempit, hanya terpaku pada pengetahuan kognitif semata.</p>
<h3>Kedekatan Emosional yang Semakin Menipis</h3>
<p>Salah satu dampak signifikan dari perubahan pola asuh di era digital adalah berkurangnya kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Banyak orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan atau juga larut dalam penggunaan gadget, sehingga interaksi berkualitas dengan anak menjadi minim. Begitu pula sebaliknya, anak yang sudah kecanduan layar cenderung mengabaikan komunikasi langsung.</p>
<p>Padahal, kedekatan emosional merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Komunikasi hangat, waktu berkualitas bersama, dan perhatian penuh dari orang tua adalah hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun. Anak yang merasa dekat secara emosional dengan orang tuanya cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih baik, lebih terbuka, dan lebih siap menghadapi tantangan hidup.</p>
<h3>Solusi dan Rekomendasi</h3>
<p>Agar pola asuh tetap sehat di era digital, orang tua perlu menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan interaksi langsung. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil:</p>
<ul>
<li>Batasi waktu penggunaan gadget sesuai usia anak dan isi dengan aktivitas fisik atau permainan kreatif.</li>
<li>Berperan aktif dalam penggunaan teknologi anak, misalnya dengan menonton video edukatif bersama lalu mendiskusikannya.</li>
<li>Sediakan waktu khusus setiap hari untuk berbicara dari hati ke hati tanpa gangguan gadget.</li>
<li>Jadilah teladan digital, dengan menggunakan teknologi secara bijak dan menunjukkan pentingnya batasan.</li>
<li>Kembangkan pola asuh yang adaptif, dengan tetap menjaga nilai-nilai dasar seperti kasih sayang, perhatian, dan disiplin.</li>
</ul>
<p>Perubahan pola asuh di era digital adalah keniscayaan. Orang tua tidak bisa menghindari kemajuan teknologi, namun dapat mengelolanya agar tetap memberikan dampak positif. Kunci utamanya terletak pada keseimbangan: antara pemanfaatan gadget untuk pendidikan dan pemeliharaan kedekatan emosional dalam keluarga. Dengan pola asuh yang bijak dan adaptif, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual dan matang secara emosional.</p>
<p>Arni Ardi<br />
arniardi09@****.com</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/perubahan-pola-asuh-orang-tua-di-era-digital-antara-gadget-pendidikan-dan-kedekatan-emosional/">Perubahan Pola Asuh Orang Tua di Era Digital: Antara Gadget, Pendidikan dan Kedekatan Emosional</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/cdn.antaranews.com/cache/1200x800/2022/08/15/pexels-jep-gambardella-6212771.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Meningkatkan Sikap Mandiri Anak: Strategi Pola Asuh Seorang Ibu Tunggal</title>
		<link>https://jakpos.id/meningkatkan-sikap-mandiri-anak-strategi-pola-asuh-seorang-ibu-tunggal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Dec 2023 04:28:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Asuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62766</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Keluarga adalah bagian pertama dan utama untuk seorang anak. Melalui keluarga, anak memperoleh&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/meningkatkan-sikap-mandiri-anak-strategi-pola-asuh-seorang-ibu-tunggal/">Meningkatkan Sikap Mandiri Anak: Strategi Pola Asuh Seorang Ibu Tunggal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Keluarga adalah bagian pertama dan utama untuk seorang anak. Melalui keluarga, anak memperoleh dasar pembentukan perilaku, watak, moralitas dan pendidikannya untuk penyesuaian diri di kemudian hari. Dalam sebuah struktur keluarga setiap anggota keluarga, ayah, ibu, dan anak mempunyai peran masing-masing yang dapat melengkapi satu sama lain.</p>
<p>Kehadiran orang tua, ayah dan ibu, memiliki peran untuk keutuhan sebuah keluarga. Setiap keluarga memiliki gaya hidup keluarga dengan budaya yang berbeda, peran sebagai anggota keluarga dan juga metode pengasuhan yang berbeda. Orang tua memiliki peran penting dalam membesarkan, merawat, mengasuh, dan mengajarkan anak.</p>
<p>Kehidupan keluarga dan pengasuhan yang diberikan oleh keluarga untuk seorang anak, pada dasarnya akan mempengaruhi pola asuh bagi anak-anaknya. Setiap keluarga memiliki pola asuh yang berbeda-beda. Pola asuh meliputi sikap atau perilaku orang tua ketika berhadapan dengan anak-anaknya (Ulfah, M., Yanti, L., Adriani, P., &amp; Soliyah, 2021).</p>
<p>Pola asuh adalah pola interaksi antara anak dan orang tuanya yang mencakup tidak hanya pemenuhan kebutuhan fisik (makan, minum, berpakaian, dll)) tetapi juga norma-norma eksistensial yang diterapkan di masyarakat. agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungan.</p>
<p>Namun, tidak semua keluarga memiliki struktur yang utuh dan lengkap. Tak jarang terjadi terdapat suatu  keluarga dengan struktur keluarga yang tidak lengkap, misalnya, keluarga yang diasuh dengan ibu tunggal atau kian disapa sebagai single mother. Seorang ibu yang menjadi single mother dan menjalankan dua peran sekaligus tentu bukan hal yang mudah.</p>
<p>Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2017, persentase ibu tunggal di Indonesia sebesar 14,84%, sedangkan persentase ayah tunggal hanya sebesar 4,05% (Heri, M., Pratama, A. A., &amp; Wijaya, 2022). Dalam menjalani peran sebagai single mother, tak jarang seorang ibu mendapatkan tekanan dan stress karena harus menjalani dua peran sekaligus, yaitu sebagai ayah dan ibu.</p>
<p>Seorang Ibu yang menjadi single parent cenderung mengalami stress karena belum mampu membagi waktunya untuk mengasuh anak dan bekerja. Menjadi seorang single mother tentunya memberi dampak pada aspek sosial, pendidikan, dan psikologis anak. Anak-anak yang diasuh oleh ibu tunggal tak jarang mendapatkan persepsi yang buruk dari orang-orang di sekitar mereka.</p>
<p>Meskipun terdapat beberapa aspek yang dapat memiliki dampak negatif pada anak akibat pola asuh yang diterapkan oleh orang tua tunggal. Penelitian di negara-negara maju menunjukkan bahwa perubahan dalam struktur keluarga dan peran dalam keluarga dapat menghasilkan dampak positif, seperti perkembangan kematangan, perilaku mandiri, dan kesadaran psikologis yang lebih tinggi pada anak daripada teman sebaya mereka (Wiludjeng, 2011).</p>
<p>Pola asuh yang diterapkan oleh single parent akan mengembangkan sikap kemandirian pada anak. Anak-anak yang diasuh oleh single parent cenderung memiliki kemandirian lebih tinggi (Sunarty, K., &amp; Dirawan Darma, 2015).</p>
<p>Kemandirian adalah kemampuan atau keterampilan yang dimiliki seorang anak untuk melakukan sesuatu sendiri, termasuk kegiatan mandiri dan kegiatan sehari-hari, tanpa bergantung pada orang lain. Kemandirian merupakan sikap individu yang terakumulasi selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar mandiri dalam menghadapi situasi lingkungan yang berbeda, sehingga pada akhirnya individu akan mampu berpikir dan bertindak secara mandiri.</p>
<p>Kemandirian merupakan aspek perkembangan pada setiap individu, bentuknya sangat beragam, sesuai dengan perkembangan dan proses belajar setiap orang (Rusmayadi &amp; Herman, 2019).</p>
<p>Pola asuh ibu single parent memegang peranan krusial dalam pengembangan sikap mandiri anak, dan melalui penerapan strategi-strategi yang tepat, ibu single parent dapat membantu anak-anak mereka untuk menjadi mandiri dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Meskipun terdapat beberapa pola asuh yang berbeda dan masing-masing dapat mengembangkan sikap dan karakter anak, saya percaya bahwa ada pola asuh yang ampuh dalam mengembangkan sikap kemandirian pada anak.</p>
<p>Pola asuh merupakan kebiasaan yang sering diterapkan oleh para ayah dan ibu terhadap perkembangan anak, dapat diterapkan dalam berbagai bentuk pengasuhan anak, namun alangkah baiknya jika pola asuh keturunan akan disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak yang melibatkan orang tua untuk mengasuh, membimbing, dan membesarkan anak-anaknya agar diterima di lingkungan atau masyarakat (Sonia, G., &amp; Apsari, 2020). Pola asuh adalah sikap atau cara yang dilakukan orang tua dalam berhubungan atau berinteraksi dengan anak.</p>
<p>Terdapat tiga macam pola asuh menurut Hurlock, di antaranya yaitu, yang pertama adalah pola asuh permisif. Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua yang memberikan kebebasan kepada anak untuk melakukan aktivitasnya sendiri tanpa mempertanyakan sesuatu kepada anak.  Orang tua dengan tipe pola asuh ini sangat sedikit mengontrol anak dan jarang menghukumnya.</p>
<p>Pola asuh permisif sering kali tidak memberikan penjelasan sedikit pun tentang tuntutan dan disiplin. Anak-anak perlu mengatur perilaku mereka sendiri dan membuat keputusan untuk diri mereka sendiri. Orang tua yang menerapkan pola asuh permisif memberikan anak wewenang penuh tanpa menetapkan kewajiban dan tanggung jawab, kurang mengendalikan perilaku anak, berperan hanya sebagai penyedia fasilitas, dan memiliki kurang interaksi komunikatif dengan anak (Riati, 2016).</p>
<p>Dalam pengasuhan semacam ini, pertumbuhan kepribadian anak menjadi tidak terpandu, dan anak dapat mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada larangan dalam lingkungannya. Namun, apabila anak mampu menggunakan kebebasannya dengan tanggung jawab, hal tersebut bisa menjadikannya pribadi yang mandiri, kreatif, dan mampu mewujudkan potensinya (Lestari, 2019).</p>
<p>Kemudian pola asuh otoriter. Pola asuh otoriter merujuk pada pola asuh di mana orang tua menetapkan aturan yang bersifat mutlak tanpa memberikan kesempatan bagi anak untuk menyatakan pendapatnya. Anak-anak yang tidak mematuhi aturan ini akan dihadapi dengan ancaman dan hukuman. Penggunaan pola asuh otoriter ini dapat mengakibatkan kehilangan kebebasan pada anak, mengurangi inisiatif dan aktivitasnya, sehingga anak cenderung kekurangan rasa percaya diri terhadap kemampuannya (Paramitha, 2018).</p>
<p>Terakhir yaitu pola asuh demokratis. Pola asuh demokratis merujuk pada pendekatan orang tua yang mengarah pada pembentukan kepribadian anak dengan memberikan prioritas pada kepentingan anak dan bersikap rasional dalam memberikan perlakuan kepada mereka. Pola asuh demokratis merupakan pendekatan pengasuhan yang memperhatikan dan menghargai kebebasan anak. Meskipun kebebasan itu tidak bersifat mutlak, orang tua memberikan panduan yang penuh pengertian kepada anak.</p>
<p>Dalam pola asuh ini, anak diberi kebebasan untuk menyampaikan pendapat mereka dan melakukan keinginan mereka, selama tetap mematuhi batas-batas atau aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh orang tua. Pola asuh demokratis memiliki potensi untuk memfasilitasi perkembangan kemampuan anak dalam mengatur perilakunya sendiri dengan norma-norma yang dapat diterima oleh masyarakat. Pendekatan ini mendorong anak agar dapat mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki keyakinan pada diri sendiri (Fatchurahman, 2012).</p>
<p>Kemandirian tidak hanya dapat diartikan secara sempit, namun juga dapat dipahami secara luas merujuk pada pengalaman dan partisipasi anak dalam kegiatan sosial. Kemandirian merupakan kecakapan hidup berharga yang harus dikembangkan sejak dini. Ketika seseorang hidup sendiri, terutama dalam menjalankan tugas sehari-hari, ia dianggap mandiri (Ramananda, M. S., &amp; Munir, 2023).</p>
<p>Kemandirian dapat dipahami sebagai kemampuan individu untuk membuat keputusan sendiri tentang kebutuhan atau kegiatannya sehari-hari. Kemandirian adalah kekuatan intrinsik seseorang yang dicapai melalui proses personalisasi. Kemandirian meliputi menghargai/pikiran untuk menjadi lebih baik dan percaya diri, mengelola pikiran untuk melihat masalah dan mengambil keputusan yang dapat ditindaklanjuti, disiplin, bertanggung jawab serta tidak menggantungkan diri pada orang lain (Ramananda, M. S., &amp; Munir, 2023).</p>
<p>Pengambilan keputusan didasarkan pada: pemikiran rasional/logis, kepercayaan diri, tegas, empati, keluwesan, keterbukaan dan kerjasama, kemampuan memecahkan masalah dan bertanggung jawab. Mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian, yaitu: orang tua atau gen anak, pola asuh, sistem pendidikan yang didapatkan, lingkungan sosial.</p>
<p>Karakteristik perilaku mandiri adalah sebagai berikut: berani mengambil tindakan proaktif, kontrol diri atas aktivitas yang dilakukan, peningkatan kapasitas yang dimiliki. Jenis pola asuh, cara anak dibesarkan dan dididik akan mempengaruhi sejauh mana kemandirian anak berkembang (Sunarty, K., &amp; Dirawan Darma, 2015). Oleh karena itu, setiap anak perlu dibantu atau diinstruksikan untuk menjadi mandiri sesuai dengan kemampuan dan tahap perkembangannya.</p>
<p>Seorang ibu yang berperan sebagai single parent cenderung menggunakan pola asuh jenis demokratis dan permisif untuk mendidik dan mengasuh anak mereka. Hal tersebut dikarenakan seorang ibu tetap ingin memberikan kebebasan pada anak-anak mereka, melatih kemandirian anak-anak mereka, namun tetap memberikan batasan yang sesuai untuk anak-anak mereka . Pola asuh demokratis yang dipilih oleh para ibu single parent akan melatih dan mengembangkan kemandirian pada anak karena dapat meningkatkan kemandirian anak dalam mengambil keputusan, karena perkataan dan tindakan orang tua (Daryanani, I., Hamilton, J. L., Abramson, L. Y., &amp; Alloy, 2016).</p>
<p>Dampak dari pola asuh demokratis yaitu anak menjadi memandang diri sendiri dan anak memiliki peran yang sesuai, memberdayakan dan mendorong anak untuk melakukan aktivitasnya sendiri, berdialog, memberi dan menerima, mendengarkan keluhan, menghargai dan menghargai suatu keputusan, bertindak objektif, tegas, hangat dan penuh pengertian, tegas dalam proses pengambilan keputusan, menumbuhkan rasa percaya diri, rasa percaya diri pada anak, selalu mendorong anak untuk bertindak sesuai dengan kemampuannya sendiri sesuai dengan tahapan perkembangannya, mendorong anak untuk dapat memutuskan sendiri, selalu mendorong anak untuk melakukan pekerjaan dan aktivitasnya sendiri, berani mengambil keputusan dan mengambil risiko dengan keputusannya (Lee, E., Bristow, J., Faircloth, C., Macvarish, J., &amp; Faircloth, 2014).</p>
<p>Tipe pola asuh demokratis dan pola asuh permisif adalah tipe pola asuh yang seringkali digunakan oleh para ibu single parent, karena kedua pola asuh tersebut dapat membuat anak menjadi seseorang yang mandiri dalam mengambil keputusan. Hal itu dikarenakan penerapan pola asuh demokratis yang menggunakan cara pengasuhan yang tegas, tetapi tidak ketat dan membuat anak terkekang.</p>
<p>Selain itu, orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis juga memberikan kesempatan berpendapat untuk si anak, dan membiarkan anak memilih apa yang anak paling sukai atau apa yang anak mau. Pola asuh permisif juga bisa membuat anak mandiri dalam mengambil keputusan apapun, karena cara asuh ini adalah memberikan kebebasan untuk anak melakukan aktivitas yang diinginkannya, dan sedikit mengontrol anak, dan jarang menghukum anak (Zuriati, N., &amp; Marnelly, 2021).</p>
<p>Berbagai macam tipe pola asuh tentu saja memberikan dampak positif dan dampak negatif pada seorang anak baik pada perilaku maupun kognisinya. Dampak positif dari penerapan pola asuh demokratis terhadap anak yaitu anak menjadi memiliki kepribadian yang yang seimbang, berani mengambil keputusan disiplin, memiliki rasa percaya diri, kreatif, dan bahagia secara psikologis (Hendri, 2019).</p>
<p>Tidak hanya itu, penerapan pola asuh permisif juga dapat memberikan dampak negatif terhadap anak, yaitu seperti anak menjadi menuntut, bersifat egois, sulit beradaptasi dengan suatu lingkungan yang baru, cenderung memberontak, dan kurangnya motivasi dalam belajar. Dampak pola pengasuhan yang diterapkan kepada anak akan bertahan lama atau bahkan permanen (Uji, M., Sakamoto, A., Adachi, K., &amp; Kitamura, 2014).</p>
<p>Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kemandirian anak dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, termasuk pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Kemandirian anak dalam mengambil keputusan pun dapat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua yang diterapkan sejak lahir. Ibu single parent cenderung menerapkan pola asuh demokratis dan permisif dalam mendidik dan mengasuh anak-anak mereka, sehingga anak mereka terbentuk menjadi pribadi yang mandiri.</p>
<p>Hal itu disebabkan karena pola asuh demokratis memberikan pengasuhan yang tegas, tetapi tidak mengekang anak. Begitu juga dengan pola asuh permisif yang memberikan kebebasan untuk anak melakukan aktivitas yang diinginkannya, dan sedikit mengontrol anak, serta jarang menghukum anak. Kedua pola asuh tersebut dapat meningkatkan kemandirian anak. Namun, apapun pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anak, akan tetap memberikan dampak positif maupun dampak negatif untuk anak, baik perilaku, kognisi, perkembangan anak dll.</p>
<p>Oleh karena itu, pola asuh yang dilakukan oleh orang tua tunggal mempunyai dampak yang signifikan terhadap tumbuh kembang anak yang mandiri. Anak-anak dapat memandang ibu tunggal sebagai panutan yang kuat ketika mereka melihat mereka sebagai orang yang tangguh, penuh kasih sayang, dan memberikan dukungan tanpa henti. Orang tua tunggal dapat membantu anak mengembangkan kemandirian yang diperlukan untuk menghadapi berbagai kendala hidup dengan memberikan perhatian dan nasihat yang tepat.</p>
<p>Oleh karena itu, menciptakan suasana yang mendorong pertumbuhan dan perkembangan terbaik bagi anak-anak dari rumah tangga dengan orang tua tunggal memerlukan pengakuan dan dukungan terhadap tantangan yang dihadapi oleh ibu dengan orang tua tunggal dalam membantu anak-anak mereka menjadi mandiri.</p>
<p><em>Oleh: Azra Nurrahmah</em><br />
<em>Awardee Pertukaran Mahasiswa Merdeka Batch 3 Inbound Universitas Andalas</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/meningkatkan-sikap-mandiri-anak-strategi-pola-asuh-seorang-ibu-tunggal/">Meningkatkan Sikap Mandiri Anak: Strategi Pola Asuh Seorang Ibu Tunggal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/media.suara.com/pictures/653x366/2022/08/11/35095-ilustrasi-ibu-pexelstaryn-elliott.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pola Asuh pada Anak menurut Perspektif Psikologi Islam</title>
		<link>https://jakpos.id/pola-asuh-pada-anak-menurut-perspektif-psikologi-islam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Dec 2023 02:38:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Asuh]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61733</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Sebagai orang tua, salah satu tujuan terbesar kita adalah membantu anak-anak kita tumbuh&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pola-asuh-pada-anak-menurut-perspektif-psikologi-islam/">Pola Asuh pada Anak menurut Perspektif Psikologi Islam</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Sebagai orang tua, salah satu tujuan terbesar kita adalah membantu anak-anak kita tumbuh menjadi individu yang tangguh dan seimbang. Dalam mengasuh anak-anak kita, tidak hanya penting untuk memperhatikan perkembangan fisik dan intelektual mereka, tetapi juga perkembangan spiritual mereka.</p>
<p>Dalam pandangan Psikologi Islam, spiritualitas memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian dan kesejahteraan anak-anak kita. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi wawasan dari Psikologi Islam yang dapat membantu kita mengasuh anak-anak dengan cara yang seimbang dan mengedepankan nilai-nilai Islami.</p>
<p>Adapun cara yang dapat dilakukan oleh para orang tua untuk menumbuhkembangkan pribadi yang baik pada anak menurut pandangan psikologi islam yaitu:</p>
<h3><strong>Memberi Teladan</strong></h3>
<p>Orang tua harus bertindak sebagai contoh bagi anaknya pada tahap pertama. Orang tua harus memahami dan mengamalkannya sebelum menjadi teladan. Pengamalan ajaran agama oleh orang tua secara tidak langsung memberikan pendidikan yang baik, terutama akhlak, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.</p>
<p>Orang tua harus mengajarkan anak-anak mereka nilai-nilai moral. Jalaluddin (2014) menyatakan bahwa akhlak sangat terkait dengan Kholiq (Allah SWT), yang berbeda dengan moral. Artinya, terkait erat dengan ibadah atau penghambaan diri kepada Allah Swt.</p>
<p>Kepribadian anak yang saleh sangat dipengaruhi oleh pendidikan moral yang diberikan oleh keluarga mereka. Hal ini sesuai dengan peran Rasulullah Saw. dan metode pendidikan yang dia terima.</p>
<p>Rasulullah SAW berkata: Artinya: <em>“Sesungguhnya aku Muhammad di utus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak”</em> (Al-Hadist).</p>
<p>Saat ini, orang tua lebih sibuk membantu anak-anak mereka belajar bahasa Inggris, IPA, Mandarin, dan bidang lain. Bahkan mereka tidak mengingat masa lalu pendidikan moral anak di rumah. Mereka tidak mengerti mengapa Rasulullah Saw. dipuji, hidupnya dalam perlindungan Allah, dan menjadi teladan bagi orang lain. Jawabannya adalah akhlak.</p>
<p>Dalam firmannya, Allah Swt. bahkan memuji Rasulullah Swt. Yang artinya: <em>“Sungguh engkau memiliki akhlaq yang sangat tinggi”</em> (Q.S. al-Qalam: 4). Pendidikan moral dalam keluarga sangatlah penting dan saat ini merupakan solusi.</p>
<p>Akhlak tersebut berfungsi sebagai benteng yang melindungi anak dari dampak budaya asing yang dapat merusak moral anak. Berpotensi membahayakan kepribadian anak, terutama jika tidak melewati proses identifikasi budaya.</p>
<h3>Memelihara Anak</h3>
<p>Fokus tanggung jawab ini adalah meningkatkan potensi anak dan menjaga kesehatan secara fisik melalui makanan dan minuman. Orang tua harus memperhatikan makanan dan minuman anak karena penting untuk kelancaran pertumbuhan fisik mereka.</p>
<p>Menurut Jalaluddin (2002: 7), makanan dan minuman harus memenuhi persyaratan halal (hukumnya) dan thayyib (bahannya). Halal dari segi mencari dan mendapatkannya dalam berbagai cara, seperti berdagang, menjadi guru, dan berbisnis.</p>
<p>Thayyib secara gizi meliputi berbagai makanan seperti nasi, daging, jagung, susu, tempe, tahu, dan makanan empat sehat lima sempurna. Makanan dan minuman thayyib agar dan halal diperhatikan dan dianggap penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.</p>
<p>Sebagaimana firman Allah yang artinya: Artinya:<em> “Makanlah dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah berkeliaran di muka bumi ini dengan berbuat kerusakan”</em> (Q.S. al-Baqarah: 60).</p>
<p>Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia diharuskan untuk mencari makanan dan minuman yang berasal dari Allah Swt kapan saja dan sesuai kebutuhan, tetapi tidak terlalu banyak. Selain itu, penting untuk memperhatikan ke-halal-an dan ke-thayyib-annya saat mencari rezeki dari Allah.</p>
<p>Manusia terus digoda oleh setan agar mereka tidak memperhatikan kedua hal tersebut. Salah satu cara untuk mendapatkan uang yang tergoda oleh tindakan jahat adalah melalui praktik riba, perjudian, korupsi, merampok, dan lain-lain.</p>
<p>Makanan dan minuman juga berdampak pada kepribadian anak, terutama pada pembentukan akhlak. Para orang tua saat ini mencari rizki melalui cara yang tidak dibenarkan dalam Islam, seperti korupsi, padahal anak adalah anugerah terbaik dari Allah yang harus dijaga dan dipelihara sebaik mungkin.</p>
<p>Ironisnya, ini adalah kenyataan. Orang tua membentuk kepribadian anaknya secara signifikan. Jika mereka memberinya rangsangan yang positif, maka kepribadiannya juga akan positif, dan sebaliknya. Ibn Miskawih mengatakan bahwa karakter atau watak dapat berubah karena rangsangan pendidikan.</p>
<h3>Membiasakan Anak Sesuai dengan Perintah Agama</h3>
<p>Fokus tugas ini adalah memberikan aturan agama kepada anak-anak. Aturan agama memiliki hubungan dengan syariat dan sistem nilai masyarakat.Orang tua harus melaksanakan perintah agama melalui pelatihan atau pembiasaan. Pembiasaan ini terkait dengan berperilaku dengan baik terhadap Allah Swt., kedua orang tua, dan sesama manusia.</p>
<p>Dalam kitabnya Thabiz al-Akhlaq, Ibn Miskawih (1967: 9) mengatakan bahwa akhlak adalah keadaan jiwa yang mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan tertentu tanpa dipikirkan dan dipertimbangkan sebelumnya. Al-Ghazali juga menganggap akhlak sebagai sesuatu yang tetap dalam jiwa dan dapat muncul dalam perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran sebelumnya.</p>
<p>Akhlak tidak berasal dari perbuatan, kekuatan, atau ma&#8217;rifah. &#8220;Haal&#8221;, atau kondisi jiwa, adalah bentuk akhlak bathiniyah (Rohayati, 2011: 12). Dengan kata lain, akhlak adalah keadaan jiwa yang memotivasi tindakan.</p>
<p>Dua jenis perspektif jiwa atau keadaan jiwa ini berasal dari kebiasaan. Yang pertama berasal dari watak (bawaan) atau fitrah sejak kecil, dan yang lain berasal dari latihan. pelanggaran ibadah agama seperti sholat, puasa, dan sebagainya.</p>
<p>Akhlak anak, seperti makan dan minum dengan tangan kanan, berbicara dengan orang yang lebih tua, dan hal lainnya, terkait dengan pelanggaran sistem nilai.Akhlak adalah sesuatu yang dapat mendorong perbuatan manusia secara spontan, seperti yang dilakukan oleh fitrah (naluria) manusia sejak kecil, serta melalui kebiasaan latihan dan proses pendidikan, sehingga perbuatan-perbuatan itu menjadi baik.</p>
<p>Seorang ibu harus berusaha keras untuk mengasuh dan memuaskan cinta kasih anaknya, seperti dengan sering mengelus kepalanya sebagai tanda cinta. Ayah juga harus memperhatikan kebutuhan cinta kasih anak-anaknya, menempatkan mereka di pangkuannya atau di sebelahnya sebagai tanda kasih.</p>
<p>Ada empat teori yang dikatakan oleh seorang psikolog dan peneliti Mesir, Sayyid Muhammad Ghanim. Mereka termasuk teori perkembangan sosial Erickson, teori perkembangan identitas Albert, teori pola perkembanan seksual Freud, dan teori perkembangan kognitif Piaget.</p>
<p>Yang paling penting dari empat perspektif ini setuju bahwa anak-anak memerlukan kasih sayang dan perhatian psikologis dari kedua orang tua sejak kecil (Mazhahiri, 2000: 202).</p>
<p>Sebenarnya, kasih sayanglah yang dapat membangun kepribadian anak. Ia memiliki kemampuan untuk berkembang dengan baik secara fisik dan mental sehingga ia dapat menjadi anak yang memenuhi harapan agama dan orang tua.</p>
<h3>Mengadopsi Kekuatan Psikologi Islam dalam Mengasuh Anak yang Berkarakter Islami</h3>
<p>Dalam mengasuh anak-anak kita, penting untuk mengadopsi wawasan dari Psikologi Islam yang dapat membantu kita menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan spiritual, moral, dan emosional mereka.</p>
<p>Dengan memahami pentingnya pertumbuhan spiritual anak, peran spiritualitas dalam pengasuhan, prinsip-prinsip Psikologi Islam, dan praktik pengasuhan sehari-hari yang Islami, kita dapat membantu anak-anak kita tumbuh menjadi individu yang tangguh dan seimbang, dengan identitas Islami yang kuat.</p>
<p>Meskipun ada tantangan dalam mengaplikasikan Psikologi Islam dalam pengasuhan, dengan tekad dan dukungan yang tepat, kita dapat mengatasi hambatan ini. Mari kita memeluk kekuatan Psikologi Islam dalam mengasuh anak-anak kita dan membantu mereka menjadi individu yang berakhlak baik, berdaya tahan, dan memiliki ikatan yang kuat dengan Allah.</p>
<p>Dalam mengasuh anak yang tangguh dan seimbang, kita membentuk generasi masa depan yang Islami dan bermanfaat bagi umat manusia.</p>
<p><em>Umar Hamid Nugroho</em><br />
<em>Universitas Muhammadiyah. Prof. Dr. Hamka</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pola-asuh-pada-anak-menurut-perspektif-psikologi-islam/">Pola Asuh pada Anak menurut Perspektif Psikologi Islam</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/tebuireng.online/wp-content/uploads/2023/01/cara-mendidik-anak-secara-islami-dengan-lima-prinsip-dasar-191007k_3x2.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
