<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sampah Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/sampah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/sampah/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jun 2025 07:49:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Sampah Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/sampah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Haruskah Tunggu Banjir Baru Peduli Sampah?</title>
		<link>https://jakpos.id/haruskah-tunggu-banjir-baru-peduli-sampah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2025 07:49:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Peduli Sampah]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88946</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Di balik setiap banjir yang merendam pemukiman padat, selalu ada narasi berulang yang&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/haruskah-tunggu-banjir-baru-peduli-sampah/">Haruskah Tunggu Banjir Baru Peduli Sampah?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Di balik setiap banjir yang merendam pemukiman padat, selalu ada narasi berulang yang mengiringinya: saluran air tersumbat, sungai dipenuhi sampah, warga menyesal tapi tak tahu harus mulai dari mana. Fenomena ini telah menjadi semacam tradisi tak tertulis, seolah-olah bencana harus datang terlebih dahulu agar kita kembali teringat bahwa sampah adalah masalah bersama, bukan sekadar urusan petugas kebersihan atau pemerintah kota.</p>
<p>Namun, pertanyaannya sederhana dan sekaligus menyakitkan: haruskah selalu menunggu banjir baru kita peduli?</p>
<h3>Sampah Sebagai Cermin Kolektif</h3>
<p>Krisis sampah di lingkungan bukan semata-mata masalah manajemen limbah. Ia adalah cermin dari kebiasaan sosial, preferensi konsumsi, hingga pola pikir warga. Dalam skala mikro, kita melihatnya dari rumah ke rumah: minimnya pemilahan sampah, plastik yang dibakar sembarangan, dan tempat sampah yang dibiarkan terbuka di pinggir jalan.</p>
<p>Pada skala yang lebih besar, masalah ini menyebar menjadi paradoks sosial: kota-kota yang berkembang secara ekonomi justru memproduksi lebih banyak limbah tanpa strategi pengelolaan yang berkelanjutan. Fasilitas pengolahan ada, namun kesadaran pengguna minim. Ini bukan sekadar soal infrastruktur, tapi lebih pada “ketimpangan antara pengetahuan dan tindakan”.</p>
<p>Kita hidup di era di mana semua orang tahu dampak buruk sampah, tapi sangat sedikit yang merasa bertanggung jawab atasnya.</p>
<h4>Kesadaran yang Bersifat Reaktif</h4>
<p>Salah satu ironi terbesar dalam persoalan ini adalah sifat reaktif masyarakat terhadap bencana. Setiap kali hujan deras mengguyur dan air meluap, kita menyalahkan sistem drainase, menyudutkan instansi pemerintah, dan membanjiri media sosial dengan keluhan. Namun tak lama kemudian, rutinitas kembali berjalan: sampah dibuang di selokan, plastik dilempar dari jendela kendaraan, dan program daur ulang lokal dibiarkan mangkrak karena kurang partisipasi.</p>
<p>Kesadaran yang dibangun dari rasa takut, sayangnya, tidak pernah bertahan lama</p>
<p>Sama seperti tanggap darurat yang hanya aktif saat krisis, kepedulian terhadap lingkungan pun sering kali hanya muncul saat bencana terjadi. Setelah itu, lenyap ditelan kenyamanan dan kebiasaan lama.</p>
<p>Saat banjir datang dan halaman rumah tergenang, warga saling mengingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kampanye kebersihan muncul di mana-mana. Di pos ronda, di media sosial, di ruang-ruang kelas. Tapi begitu air surut dan langit kembali cerah, semua seruan itu pelan-pelan hilang. Kesadaran yang dibangun dari rasa takut memang cepat muncul, tapi tidak pernah mengakar. Ia mudah tergerus oleh pola hidup yang terlalu nyaman untuk diganggu.</p>
<p>Takut membuat orang bertindak, tapi hanya untuk sementara. Karena begitu ancaman dianggap berlalu, rasa urgensi ikut menghilang. Orang-orang kembali mencari yang paling praktis: membuang sampah tanpa memilah, membakar limbah rumah tangga, menumpuk plastik di sudut-sudut yang tidak terlihat. Bukan karena tidak tahu, tapi karena “takut bukan fondasi yang cukup kuat untuk perubahan jangka panjang”.</p>
<p>Padahal, kalau kita benar-benar jujur, kita tahu bahwa banjir itu bukan semata-mata akibat hujan deras. Ia adalah akumulasi dari keputusan-keputusan kecil yang salah, yang kita buat setiap hari: membiarkan saluran air tersumbat, mengabaikan program pengelolaan sampah, dan tidak menegur meski tahu ada yang membuang sampah sembarangan. Kita memilih diam, sampai suatu hari air datang dan memaksa kita peduli.</p>
<p>Namun, kepedulian yang dipaksa oleh situasi darurat akan selalu terlambat. Yang kita butuhkan bukan hanya reaksi cepat saat krisis, tetapi “kesadaran yang hidup di saat tidak ada bencana”. Kesadaran yang tidak bergantung pada rasa takut, melainkan tumbuh dari rasa tanggung jawab, rasa memiliki, dan harapan bahwa lingkungan yang bersih dan sehat adalah hak dan warisan bersama.</p>
<p>Perubahan sejati hanya bisa dimulai ketika kita peduli, bahkan saat tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang mengawasi, dan tidak ada yang mengancam. Dan itu hanya mungkin jika kita mulai membangun kesadaran yang lahir bukan dari ketakutan, tetapi dari pilihan.</p>
<h4>Perubahan Nyata Harus Dimulai dari Kebiasaan</h4>
<p>Mengandalkan kampanye sesaat atau respons spontan saat krisis terjadi tidak akan cukup untuk mengatasi persoalan sampah yang semakin kompleks. Dibutuhkan perubahan jangka panjang yang tidak sekadar bersifat teknis, tetapi juga menyentuh pola pikir dan kebiasaan sehari-hari masyarakat.</p>
<p>Transformasi tersebut hanya akan berhasil jika dibangun secara kolektif dan konsisten, melibatkan seluruh elemen masyarakat, dari individu, komunitas, hingga institusi formal seperti pemerintah dan dunia pendidikan.</p>
<p>Berikut adalah beberapa pendekatan yang dinilai lebih menjanjikan dalam membangun kesadaran dan perubahan perilaku terkait pengelolaan sampah:</p>
<p><strong>Edukasi yang Bersifat Partisipatif</strong><br />
Alih-alih hanya menyampaikan imbauan satu arah, proses edukasi lingkungan akan lebih berdampak jika melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Program seperti bank sampah berbasis komunitas, pelatihan pengelolaan limbah rumah tangga, serta kegiatan bersama seperti lomba kebersihan antarwilayah, mampu membangun keterlibatan emosional dan rasa tanggung jawab bersama. Dengan pengalaman langsung, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi bagian dari solusi.</p>
<p><strong>Sistem Insentif dan Penegakan Aturan yang Konsisten</strong><br />
Mendorong perubahan perilaku sering kali lebih efektif melalui pemberian insentif yang nyata. Beberapa kota di luar negeri telah berhasil menerapkan sistem penghargaan berbasis poin untuk warga yang aktif dalam memilah dan menyerahkan sampah daur ulang, poin tersebut dapat ditukar dengan kebutuhan pokok atau layanan publik. Sebaliknya, sanksi terhadap pelanggaran seperti pembuangan sampah sembarangan juga perlu diberlakukan secara konsisten. Penegakan aturan bukan untuk menghukum semata, melainkan untuk menciptakan efek jera dan menegaskan bahwa perilaku merusak lingkungan tidak dapat ditoleransi.</p>
<p><strong>Kolaborasi antara Masyarakat, Komunitas dan Pemerintah</strong><br />
Perubahan yang bersifat sistemik tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh satu pihak. Sekolah, lembaga keagamaan, komunitas lokal, dan pelaku usaha harus turut menjadi bagian dari upaya kolektif ini. Ketika seluruh elemen masyarakat menyuarakan nilai yang sama, bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab Bersama, maka akan terbentuk ekosistem sosial yang mendukung terbentuknya budaya baru yang lebih peduli terhadap keberlanjutan.</p>
<p><strong>Membangun Norma Sosial</strong><br />
Transformasi budaya dapat dimulai dari lingkungan terkecil, seperti RT, RW, atau desa dengan menciptakan norma sosial baru yang tidak lagi mentoleransi tindakan merugikan lingkungan. Membangun budaya malu atas perilaku membuang sampah sembarangan, misalnya, dapat menjadi alat kontrol sosial yang lebih efektif dibandingkan aturan tertulis. Ketika suatu perilaku dianggap tidak pantas secara sosial, maka kemungkinan besar akan ditinggalkan, bahkan tanpa adanya tekanan hukum.</p>
<h3>Menuju Kesadaran yang Berkelanjutan</h3>
<p>Berbagai upaya tersebut hanya akan membuahkan hasil apabila dijalankan secara konsisten dan lintas generasi. Kesadaran yang dibangun atas dasar keterpaksaan atau ketakutan akan bencana cenderung bersifat sementara. Sebaliknya, kesadaran yang tumbuh dari pemahaman, keterlibatan, dan rasa tanggung jawab kolektif memiliki potensi untuk menjadi bagian dari budaya hidup masyarakat. Bila dicermati, yang membuat perubahan bertahan bukanlah program sesaat, tetapi kebiasaan sehari-hari yang dilakukan secara konsisten.</p>
<p>Pada akhirnya, daur ulang yang paling penting bukan hanya pada barang bekas, tapi pada cara kita memandang lingkungan. Jika kesadaran bisa kita daur ulang menjadi budaya, dan rasa tanggung jawab bisa dikembalikan ke tempatnya di dalam hati dan perilaku, maka kita tidak lagi harus menunggu banjir untuk mulai peduli.</p>
<p>Dan mungkin, suatu hari nanti, sampah tidak lagi menjadi musuh yang kita ciptakan sendiri.</p>
<div dir="auto"><strong>Indah Anggraeni </strong></div>
<div dir="auto">Mahasiswi Universitas Pamulang</div>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/haruskah-tunggu-banjir-baru-peduli-sampah/">Haruskah Tunggu Banjir Baru Peduli Sampah?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/greencampus.uad.ac.id/wp-content/uploads/WhatsApp-Image-2021-02-27-at-10.00.21.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Kelurahan Duser Bakal jadi Proyek Percontohan Pengelolaan Sampah di Depok</title>
		<link>https://jakpos.id/kelurahan-duser-bakal-jadi-proyek-percontohan-pengelolaan-sampah-di-depok/</link>
					<comments>https://jakpos.id/kelurahan-duser-bakal-jadi-proyek-percontohan-pengelolaan-sampah-di-depok/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2025 03:06:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah]]></category>
		<category><![CDATA[Supian Suri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=83817</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pemkot Depok menetapkan Kelurahan Duren Seribu (Duser) sebagai proyek percontohan dalam pengelolaan sampah.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/kelurahan-duser-bakal-jadi-proyek-percontohan-pengelolaan-sampah-di-depok/">Kelurahan Duser Bakal jadi Proyek Percontohan Pengelolaan Sampah di Depok</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://jakpos.id/"><b>JAKPOS.ID </b></a>&#8211; Pemerintah Kota (Pemkot) Depok menetapkan Kelurahan Duren Seribu (Duser) sebagai proyek percontohan dalam pengelolaan sampah.</p>
<p>Hal tersebut diungkapkan oleh Walikota Depok, Supian Suri, dalam acara Tarawih Keliling (Tarling) di Masjid Jami Nurul Hidayah, Kelurahan Duren Seribu RW4, Senin kemarin.</p>
<p>Menurut Supian Suri, masyarakat Duren Seribu telah menunjukkan komitmen kuat dalam menangani sampah secara mandiri tanpa harus membuangnya ke luar wilayah.</p>
<p>Sejumlah program telah berjalan di kelurahan ini, seperti pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot, produksi pupuk kompos, serta optimalisasi bank sampah.</p>
<p>&#8220;Sampah organiknya dikelola untuk budidaya maggot dan pembuatan pupuk, sementara bank sampah sudah berjalan dengan baik. Kini, kita mencari solusi untuk residu sampah agar pengelolaan semakin optimal,&#8221; ujar Supian Suri.</p>
<p>Untuk memastikan keberhasilan program ini, Supian meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok bekerja sama dengan warga mencari solusi terbaik.</p>
<p>Jika proyek ini berhasil, metode pengelolaan sampah di Duren Seribu akan diterapkan di kelurahan lain di Depok demi menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.</p>
<p>Pemerintah berharap langkah ini menjadi solusi jangka panjang dalam menangani permasalahan sampah, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/kelurahan-duser-bakal-jadi-proyek-percontohan-pengelolaan-sampah-di-depok/">Kelurahan Duser Bakal jadi Proyek Percontohan Pengelolaan Sampah di Depok</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/kelurahan-duser-bakal-jadi-proyek-percontohan-pengelolaan-sampah-di-depok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/cdn.antaranews.com/cache/1200x800/2024/07/10/IMG-20240709-WA0030_copy_1600x1242.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Krisis Sampah dalam Lingkungan</title>
		<link>https://jakpos.id/krisis-sampah-dalam-lingkungan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Dec 2023 01:53:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Krisis]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62029</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Lingkungan dan isu sampah adalah dua hal yang tak terpisahkan dalam konteks krisis&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/krisis-sampah-dalam-lingkungan/">Krisis Sampah dalam Lingkungan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Lingkungan dan isu sampah adalah dua hal yang tak terpisahkan dalam konteks krisis lingkungan global yang kita hadapi saat ini. Krisis ini adalah hasil dari berbagai faktor, termasuk pertumbuhan populasi yang cepat, urbanisasi, konsumsi berlebihan, dan kurangnya kesadaran lingkungan.</p>
<p>Krisis sampah yang terjadi di seluruh dunia menjadi salah satu tantangan terbesar dalam menjaga integritas ekosistem bumi. Sampah, yang pada dasarnya adalah hasil samping dari aktivitas manusia, mencakup beragam bahan seperti plastik, kertas, logam, dan bahan organik. Seiring dengan pertumbuhan populasi dan urbanisasi yang tak terelakkan, produksi sampah telah melonjak secara dramatis.</p>
<p>Sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari, seperti konsumsi makanan, pembelian produk, dan penggunaan plastik sekali pakai, telah menciptakan tekanan serius pada sistem pengelolaan sampah. Krisis lingkungan global yang dihadapi saat ini adalah akibat dari berbagai faktor seperti pertumbuhan populasi yang cepat, urbanisasi, konsumsi berlebihan, dan kurangnya kesadaran lingkungan.</p>
<p>Di tengah krisis ini, salah satu tantangan terbesar yang muncul adalah masalah sampah yang melonjak secara dramatis. Sampah yang mencakup beragam bahan, termasuk plastik, kertas, logam, dan bahan organik, menjadi sumber tekanan serius pada sistem pengelolaan sampah.</p>
<p>Oleh karena itu, tujuan essay ini adalah untuk menjelaskan dampak sampah terhadap lingkungan, mengidentifikasi upaya yang dapat diambil untuk mengurangi dampak sampah, dan menggali pendapat tentang masyarakat yang mungkin kurang peduli terhadap masalah ini. Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang isu ini, kita dapat mencari solusi yang lebih efektif dalam menjaga integritas ekosistem bumi dan menjawab tantangan krisis sampah global.</p>
<p>Dalam essay ini, kerangka pemikiran yang akan digunakan adalah pendekatan holistik yang menggabungkan ilmu lingkungan, sosiologi, dan kebijakan publik. Pendekatan ini akan membantu kami menyelidiki dampak sampah terhadap lingkungan secara ilmiah, mengidentifikasi faktor-faktor sosial yang memengaruhi perilaku masyarakat terkait sampah, dan menganalisis peran kebijakan publik dalam mengatasi masalah sampah.</p>
<p>Dengan menggabungkan berbagai perspektif ini, kami berharap dapat merumuskan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana mengelola masalah sampah dan mengubah perilaku masyarakat untuk mencapai lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.</p>
<p>Sampah adalah hasil samping dari aktivitas manusia yang terdiri dari berbagai bahan seperti plastik, kertas, logam, dan bahan organik. Dampak sampah terhadap lingkungan sangat signifikan, terutama dalam hal pencemaran air dan tanah. Bahan kimia beracun yang dilepaskan dari sampah dapat menciptakan polusi air yang merusak ekosistem air dan mengancam kesehatan manusia yang bergantung pada sumber daya air dan tanah.</p>
<p>Sampah juga menjadi ancaman serius bagi lingkungan laut dan keberlanjutan ekosistem laut. Sampah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia telah menjadi ancaman serius bagi lingkungan. Data menunjukkan bahwa pencemaran air dan tanah oleh bahan kimia beracun yang dilepaskan dari sampah telah merusak ekosistem air dan tanah.</p>
<p>Sampah plastik yang mencemari laut telah membahayakan satwa laut dan ekosistem laut secara keseluruhan. Mikroplastik, yang merupakan fragmen plastik kecil, telah ditemukan di berbagai ekosistem laut di seluruh dunia. Ini menunjukkan dampak sampah terhadap lingkungan yang perlu diperhatikan secara serius.</p>
<p>Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi dampak negatif sampah terhadap lingkungan. Salah satu solusi utama adalah daur ulang, yang membantu mengurangi penggunaan sumber daya alam, mengurangi polusi, dan mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Selain itu, pengelolaan sampah yang efisien dan teknologi berkelanjutan juga memainkan peran penting dalam mengurangi dampak sampah.</p>
<p>Penggunaan teknologi yang ramah lingkungan dalam pembuatan produk dan pengelolaan sampah menjadi kunci dalam mengurangi dampak sampah. Upaya untuk mengurangi dampak sampah telah menjadi fokus utama dalam menjaga integritas lingkungan. Praktik daur ulang telah membantu mengurangi jumlah sampah yang masuk ke tempat pembuangan sampah di beberapa negara maju.</p>
<p>Selain itu, teknologi hijau dan inovasi dalam pengelolaan sampah telah menghasilkan pengurangan dampak negatif sampah. Contohnya adalah teknologi yang memungkinkan penggunaan kembali bahan-bahan dari sampah elektronik untuk mengurangi limbah elektronik yang mencemari lingkungan.</p>
<p>Data menunjukkan bahwa masih ada masyarakat yang kurang peduli terhadap masalah sampah. Meskipun telah dilakukan banyak upaya untuk mengatasi masalah sampah, masih ada segmen masyarakat yang kurang peduli. Alasan ketidakpedulian ini bervariasi, mulai dari kurangnya kesadaran akan dampak sampah hingga kurangnya akses terhadap fasilitas pengelolaan sampah yang memadai.</p>
<p>Oleh karena itu, meningkatkan pendidikan dan kesadaran masyarakat tentang masalah sampah serta memperbaiki aksesibilitas fasilitas pengelolaan sampah menjadi langkah penting dalam meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap isu ini. Survei yang dilakukan oleh lembaga penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan kurangnya kesadaran akan dampak sampah sebagai alasan utama ketidakpedulian mereka.</p>
<p>Selain itu, di beberapa daerah, fasilitas pengelolaan sampah yang memadai belum tersedia untuk semua warganya, yang juga menjadi faktor dalam ketidakpedulian masyarakat terhadap masalah ini. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan kesadaran dan memberikan aksesibilitas yang lebih baik terhadap fasilitas pengelolaan sampah menjadi langkah yang sangat penting dalam mengubah perilaku masyarakat terkait sampah.</p>
<p>Masalah lingkungan dan sampah adalah tantangan serius dalam menghadapi krisis lingkungan global. Dampak sampah terhadap lingkungan sangat signifikan, terutama dalam hal pencemaran air dan tanah. Upaya untuk mengurangi dampak sampah telah dilakukan melalui daur ulang, teknologi berkelanjutan, dan pengelolaan sampah yang efisien.</p>
<p>Namun, masalah ketidakpedulian sebagian masyarakat tetap menjadi hambatan. Untuk mengatasi krisis sampah global, diperlukan pendekatan holistik yang menggabungkan ilmu lingkungan, sosiologi, dan kebijakan publik. Dengan upaya yang lebih serius dan kerjasama, kita dapat menjaga keberlanjutan lingkungan dan ekosistem bumi.</p>
<p>Yovita Nayu Mahendra<br />
Mahasiswa Universitas Sebelas Maret,</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/krisis-sampah-dalam-lingkungan/">Krisis Sampah dalam Lingkungan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/ichef.bbci.co.uk/news/640/cpsprodpb/131AC/production/_107925287_gettyimages-1152932601.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Budaya Buruk Membuang Sampah ke Sungai</title>
		<link>https://jakpos.id/budaya-buruk-membuang-sampah-ke-sungai/</link>
					<comments>https://jakpos.id/budaya-buruk-membuang-sampah-ke-sungai/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2016 13:13:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[kali]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>
		<category><![CDATA[zero waste city]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=6283</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gundukan sampah di bantaran kali Angke, menimbulkan bau yang tidak sedap bagi warga sekitar. Namun,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/budaya-buruk-membuang-sampah-ke-sungai/">Budaya Buruk Membuang Sampah ke Sungai</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_6287" aria-describedby="caption-attachment-6287" style="width: 500px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/wp-content/uploads/gdwpm_images/0B0VmhKFEqTcAV3NpUVRpZ0JQd3c.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-post-6283 wp-image-6287" src="http://www.depokpos.com/go/wp-content/uploads/gdwpm_images/0B0VmhKFEqTcAV3NpUVRpZ0JQd3c.jpg" alt="(Foto: Khaura)" width="500" height="500" /></a><figcaption id="caption-attachment-6287" class="wp-caption-text">(Foto: Khaura)</figcaption></figure>
<p>Gundukan sampah di bantaran kali Angke, menimbulkan bau yang tidak sedap bagi warga sekitar. Namun, hal itu tidak menjadi pemandangan baru bagi warga sekitar. Budaya membuang sampah ke sungai-sungai menjadi salah satu budaya buruk yang melekat pada sebagian warga Indonesia.“iya, memang warga sini sering banget buat sampah ke kali itu,” ujar Inah, seorang ibu rumah tangga.</p>
<p>Tidak heran bilan musim penghujan dating, banjir pun tidak dapat di hindari di kawasan ini. Banjir yang biasanya hingga lutut orang dewasa ini sudah amat biasa di rasakan oleh warga sekitar, bila sudah terjadi mereka tidak bisa berbuat apa apa.</p>
<p>Kota Tangerang Selatan menjadi salah satu yang sulit menangani masalah sampah yang masih menjadi momok utama. Kepala Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman Tangerang Selatan, Nur Slamet menyatakan produksi sampah di Tangerang Selatan mencapai 800 ton setiap harinya. Sampah tersebut dihasilkan dari 500 ribu kepala keluarga, pasar tradisional dan kawasan pertokoan. Dari sekian banyak sampah tersebut, hanya 30 persen yang terangkut ke TPA Cipecang, 20 persen tereduksi melalui bank sampah.</p>
<p>Kurangnya perhatian masyarakat terhadap kebiasaan membuang sampah pada tempatnya sangatlah minim. Banyaknya masyarakat yang membuang sampah ke sungai di kawasan tempat tinggal mereka, sehingga menyebabkan berbagai masalah. Aroma yang tidak sedap di kawasan sungai, banyaknya sampah yang menyumbat aliran sungai sehingga sering mengakibatkan banjir ketika hujan besar dan juga masalah kesehatan.</p>
<p>Perilaku membuang sampah sembarangan ini, tidak mengenal tingkat pendidikan maupun status sosial. Keberadaan sampah di kehidupan sehari-hari tak lepas dari tangan manusia yang membuang sampah sembarangan, mereka menganggap barang yang telah dipakai tidak memiliki kegunaan lagi dan membuang dengan seenaknya sendiri.</p>
<p>Parahnya lagi kebiasaan tersebut oleh sebagian besar masyarakat kita tidak dianggap sebagai sesuatu yang salah. Kebiasaan untuk hidup sehat dan bersih tidak terlalu menjadi prioritas masyarakat karena masih banyak hal-hal yang lebih penting antara lain seperti memikirkan bagaimana menyediakan makanan sehari-hari di atas meja atau lantai untuk keluarga, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya</p>
<p>Melibatkan masyarakat umum untuk membantu menjaga kebersihan di lingkungan masing-masing secara umum akan lebih efektif dan efisien. Masyarakat harus berani menegur orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan membuat sampah sembarangan.</p>
<p>Padahal ada empat prinsip dasar yang dapat digunakan dalam menangani masalah sampah ini. Ke empat prinsip tersebut lebih dikenal dengan nama 4R yang meliputi:</p>
<p><strong>Reduce (Mengurangi)</strong></p>
<p>Sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.</p>
<p><strong>Reuse (Memakai kembali)</strong></p>
<p>Sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.</p>
<p><strong>Recycle (Mendaur ulang)</strong></p>
<p>Sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.</p>
<p><strong>Replace (Mengganti)</strong></p>
<p>Teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekalai dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan, misalnya, ganti kantong keresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami.</p>
<p>Budaya membuang sampah sembarangan yang sudah lama melekat ini harus segera di hentikan. Masyarakat harus sadar akan damapak yang akan di akibatkan dengan membuang sampah sembarangan. Mulai dari bencana Banjir hingga kesehatan yang terancam jika mengirup sampah. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri tanpa ada turun tangan dari masyarakat sekitar. Jika lingkungan hidup kita bersih dan sehat kita bisa memikirkan hal hal penting lainnya.</p>
<p><strong>Khaura Sanabillah La Macca</strong><br />
(Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/budaya-buruk-membuang-sampah-ke-sungai/">Budaya Buruk Membuang Sampah ke Sungai</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/budaya-buruk-membuang-sampah-ke-sungai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
