<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sejarah Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/sejarah/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Aug 2025 13:02:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Sejarah Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/sejarah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</title>
		<link>https://jakpos.id/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/</link>
					<comments>https://jakpos.id/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2025 13:02:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=89353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi Para ulama dahulu, selalu melakukan perjalanan keilmuan untuk mencari ilmu pengetahuan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/">Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Para ulama dahulu, selalu melakukan perjalanan keilmuan untuk mencari ilmu pengetahuan dari sumber aslinya, para Syeikh. Ada ulama yang memperdalam Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqh, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, dan berbagai ilmu pengetahuan Islam. Mereka, para Ulama tersebut, melakukan Rihlah Ilmiah dari satu guru ke guru lainya. Dari suatu daerah ke daerah lainnya hanya untuk memperdalam suatu disiplin ilmu pengetahuan. Ada yang belajar dengan seorang cuma satu tahun atau lebih. Ada juga yang hanya singgah sementara hanya untuk menguji kemampuan ilmu yang dimilikinya.</p>
<p>Dengan cara seperti itu, banyaklah mata rantai atau Sanad keilmuan seseorang, sehingga ia boleh disebut sebagai seorang ilmuan yang mumpuni dalam bidang tertentu, misalnya Ustadz Marzuki, ia terus belajar dan memperdalam ilmu fiqh, maka mata rantai keilmuannya terus bersambung sanadnya hingga ke imam fiqh empat mazhab; Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanbali, dan Imam Hanafi. Begitu juga mereka yang memperdalam keilmuan Islam lainnya, pasti semua memiliki sanad yang jelas. Ternyata, tidak hanya mereka yang memiliki mata rantai keilmuan, kita juga memilikinya.</p>
<p>Dahulu kita pernah belajar keilmuan Islam di IAIN Syatif Hidayatullah, Jakarta. Kita mencari ilmu dan belajar dari para dosen yang sangat hebat. Misalnya, Kita belajar Bahasa Arab dari Prof.Dr. D. Hidayat,MA. Beliau, sekira tahun 1980-an masih sangat energik. Pintar, muda dan ganteng. Ia menjadi salah seorang dosen favorit, karena wajahnya yang mirip musisi musik pop legendaris, A.Riyanto.</p>
<p>Kemudian di fakultas yang sama, kita juga belajar ‘Arudh dari Prof. Khotibul Umam. Sepertinya, saat itu, hanya beliau yang bisa mengajar ilmu ‘Arudh, sebuah disiplin ilmu yang jarang dikuasai seseorang. Begitu juga dengan materi Ilmu Bayan dan Ma’ani, yang diberikan oleh Dr. AM. Hidayatullah, MA. Dosen yang satu ini memiliki khas tersendiri. Selain menguasai ilmu tersebut, beliau juga seorang qari’. Suaranya sangat bagus. Itu kami buktikan sendiri. Hampir di setiap acara fakultas, ia menjadi pembaca al-Qur’an.</p>
<p>Selain mereka, ada salah seorang dosen asli Betawi, yang pernah menjabat pemantu dekan. Kemudian ia menjadi dekan fakultas Adab periode pasca prof. Dr. Nabilah Lubis. Ia juga mengajar kami ilmu sejarah. Ia adalah Dr. Abdul Choir, MA. Bahkan saya sendiri saat menulis Risalah Sarjana Muda (BA), beliaulah yang menjadi pembimbing. Saat itu, ia tengah menjabat Pembantu Dekan I Bidan Akademik.</p>
<p>Di samping yang telah disebutkan di stas, ada salah seorang dosen asli Mesir, bernama Prof.Dr. Nabilah Lubis, MA. Ia juga pernah menakhodai fakultas Adab pada periode ‘96-an. Kita belajar banyak tentang bahasa dan Sastra Arab. Belajar Bahasa Arab dari native speaker, menjadi lebih menarik.</p>
<p>Kini, mereka sudah pensiun dan tinggal menikmati masa tua yang bahagia. Karena itu, untuk memperkuat ikatan tali silaturrahmi antara guru-murid, kami punya program melakukan kunjungan ke tempat tinggal mereka. Harapannya, ilmu yang kita peroleh bermanfaat untuk umat bangsa dan negara. Selain tengah melacak jaringan dan sanad keilmuan kita. Semoga bermanfaat(Odie).</p>
<p><em>Murodi al-Batawi</em><br />
<em>Pamulang,03-08-2025</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/">Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/www.senibudayabetawi.com/wp-content/uploads/2021/07/WhatsApp-Image-2021-07-14-.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</title>
		<link>https://jakpos.id/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2025 13:00:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=90320</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Murodi al-Batawi</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah-2/">Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Para ulama dahulu, selalu melakukan perjalanan keilmuan untuk mencari ilmu pengetahuan dari sumber aslinya, para Syeikh. Ada ulama yang memperdalam Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqh, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, dan berbagai ilmu pengetahuan Islam. Mereka, para Ulama tersebut, melakukan Rihlah Ilmiah dari satu guru ke guru lainya. Dari suatu daerah ke daerah lainnya hanya untuk memperdalam suatu disiplin ilmu pengetahuan. Ada yang belajar dengan seorang cuma satu tahun atau lebih. Ada juga yang hanya singgah sementara hanya untuk menguji kemampuan ilmu yang dimilikinya.</p>
<p>Dengan cara seperti itu, banyaklah mata rantai atau Sanad keilmuan seseorang, sehingga ia boleh disebut sebagai seorang ilmuan yang mumpuni dalam bidang tertentu, misalnya Ustadz Marzuki, ia terus belajar dan memperdalam ilmu fiqh, maka mata rantai keilmuannya terus bersambung sanadnya hingga ke imam fiqh empat mazhab; Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanbali, dan Imam Hanafi. Begitu juga mereka yang memperdalam keilmuan Islam lainnya, pasti semua memiliki sanad yang jelas. Ternyata, tidak hanya mereka yang memiliki mata rantai keilmuan, kita juga memilikinya.</p>
<p>Dahulu kita pernah belajar keilmuan Islam di IAIN Syatif Hidayatullah, Jakarta. Kita mencari ilmu dan belajar dari para dosen yang sangat hebat. Misalnya, Kita belajar Bahasa Arab dari Prof.Dr. D. Hidayat,MA. Beliau, sekira tahun 1980-an masih sangat energik. Pintar, muda dan ganteng. Ia menjadi salah seorang dosen favorit, karena wajahnya yang mirip musisi musik pop legendaris, A.Riyanto.</p>
<p>Kemudian di fakultas yang sama, kita juga belajar ‘Arudh dari Prof. Khotibul Umam. Sepertinya, saat itu, hanya beliau yang bisa mengajar ilmu ‘Arudh, sebuah disiplin ilmu yang jarang dikuasai seseorang. Begitu juga dengan materi Ilmu Bayan dan Ma’ani, yang diberikan oleh Dr. AM. Hidayatullah, MA. Dosen yang satu ini memiliki khas tersendiri. Selain menguasai ilmu tersebut, beliau juga seorang qari’. Suaranya sangat bagus. Itu kami buktikan sendiri. Hampir di setiap acara fakultas, ia menjadi pembaca al-Qur’an.</p>
<p>Selain mereka, ada salah seorang dosen asli Betawi, yang pernah menjabat pemantu dekan. Kemudian ia menjadi dekan fakultas Adab periode pasca prof. Dr. Nabilah Lubis. Ia juga mengajar kami ilmu sejarah. Ia adalah Dr. Abdul Choir, MA. Bahkan saya sendiri saat menulis Risalah Sarjana Muda (BA), beliaulah yang menjadi pembimbing. Saat itu, ia tengah menjabat Pembantu Dekan I Bidan Akademik.</p>
<p>Di samping yang telah disebutkan di stas, ada salah seorang dosen asli Mesir, bernama Prof.Dr. Nabilah Lubis, MA. Ia juga pernah menakhodai fakultas Adab pada periode ‘96-an. Kita belajar banyak tentang bahasa dan Sastra Arab. Belajar Bahasa Arab dari native speaker, menjadi lebih menarik.</p>
<p>Kini, mereka sudah pensiun dan tinggal menikmati masa tua yang bahagia. Karena itu, untuk memperkuat ikatan tali silaturrahmi antara guru-murid, kami punya program melakukan kunjungan ke tempat tinggal mereka. Harapannya, ilmu yang kita peroleh bermanfaat untuk umat bangsa dan negara. Selain tengah melacak jaringan dan sanad keilmuan kita. Semoga bermanfaat(Odie).</p>
<p><em>Murodi al-Batawi</em><br />
<em>Pamulang,03-08-2025</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah-2/">Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/para-ulama-betawi-tempo_220128200837-467.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Menelusuri Jejak Haji di Indonesia: Dari Simbol Kesalehan hingga Instrumen Kolonial</title>
		<link>https://jakpos.id/menelusuri-jejak-haji-di-indonesia-dari-simbol-kesalehan-hingga-instrumen-kolonial/</link>
					<comments>https://jakpos.id/menelusuri-jejak-haji-di-indonesia-dari-simbol-kesalehan-hingga-instrumen-kolonial/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 May 2025 01:47:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Penjajahan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://jakpos.id/?p=86259</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK* Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menelusuri-jejak-haji-di-indonesia-dari-simbol-kesalehan-hingga-instrumen-kolonial/">Menelusuri Jejak Haji di Indonesia: Dari Simbol Kesalehan hingga Instrumen Kolonial</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK*</strong></em></p>
<p>Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia menunaikan ibadah haji. Di Indonesia, haji telah menjadi simbol status sosial, spiritualitas, bahkan identitas kultural yang istimewa. Gelar “Haji” bukan hanya menunjukkan seseorang telah melaksanakan rukun Islam kelima, tetapi juga menjadi penanda kesalehan dan kehormatan sosial. Namun, sejarah panjang gelar ini menunjukkan bahwa ia bukan semata produk kultural, melainkan juga bentukan dari dinamika kolonialisme dan kontrol sosial.</p>
<p>Sejarawan Azyumardi Azra dalam karyanya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara menyoroti bagaimana Tanah Suci menjadi ruang bertemunya ulama Nusantara dengan jaringan intelektual global yang membawa arus pemikiran pembaruan dan antikolonialisme. Para jamaah haji tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga mengalami transformasi intelektual dan ideologis yang kemudian dibawa pulang ke tanah air.</p>
<p>Karena itu, pemerintah kolonial Belanda memandang para haji sebagai sosok potensial yang perlu diawasi. Berdasarkan saran Christiaan Snouck Hurgronje, seorang orientalis dan penasihat utama pemerintah Hindia Belanda, dikeluarkanlah Ordonansi Haji 1916 sebagai upaya untuk mengatur—dan sebenarnya mengendalikan—arus umat Islam yang pergi ke Tanah Suci. Tujuan utamanya bukan hanya administratif, tetapi juga politis: mencegah munculnya pemimpin-pemimpin lokal yang terinspirasi oleh semangat perlawanan Islam global.</p>
<p>Snouck Hurgronje menyadari bahwa Islam, jika dimobilisasi secara sosial-politik, bisa menjadi ancaman serius bagi stabilitas kolonial. Oleh karena itu, ia menyarankan agar ibadah haji dan ekspresi keagamaan dibiarkan berjalan sebatas ritual, tetapi diawasi agar tidak menjadi kekuatan politik.</p>
<p>Sejarawan Taufik Abdullah menambahkan bahwa para haji bukanlah figur pasif. Mereka sering kali menjadi penggerak perubahan di daerah asalnya—baik dalam bentuk pendidikan Islam, pembentukan organisasi sosial, maupun perlawanan terhadap ketidakadilan struktural. Kasus Haji Wasid dalam Pemberontakan Petani Banten 1888 menjadi salah satu bukti bagaimana pengalaman spiritual haji bisa menjelma menjadi energi resistensi sosial.</p>
<p>Dari perspektif Mazhab Ciputat—yang dikenal sebagai aliran pemikiran Islam progresif, kontekstual, dan rasional yang berkembang sejak era Harun Nasution, Nurcholish Madjid, hingga Azyumardi Azra—fenomena haji tidak bisa dipisahkan dari relasi antara agama, negara, dan kekuasaan. Mazhab ini mendorong kita untuk tidak hanya melihat haji secara normatif-teologis, tetapi juga secara sosiologis, historis, dan politis.</p>
<p>Mazhab Ciputat memandang agama sebagai kekuatan kultural yang hidup di tengah masyarakat dan senantiasa dipengaruhi oleh konstruksi sosial dan politik. Gelar “Haji” dalam masyarakat Indonesia misalnya, adalah produk dari relasi kolonial yang justru memanfaatkan agama sebagai alat kontrol sosial. Gelar itu, meskipun kini dimaknai sebagai prestise moral, pada awalnya lahir sebagai bagian dari proyek administrasi dan kontrol kolonial terhadap umat Islam.</p>
<p>Dalam semangat Islam rasional dan kontekstual ala Harun Nasution, haji seharusnya dimaknai sebagai proses penyadaran spiritual yang membuahkan etika sosial. Bukan sekadar gelar kehormatan, tetapi panggilan untuk melawan ketimpangan dan ketidakadilan. Mazhab Ciputat akan mengajak kita melihat bahwa pengalaman haji bukan puncak dari kesalehan individual, melainkan titik awal dari komitmen moral untuk perubahan sosial.</p>
<p>Lebih jauh lagi, Azyumardi Azra sebagai representasi Mazhab Ciputat generasi baru, menunjukkan bahwa ibadah haji sejak dahulu merupakan bagian dari dinamika Islam kosmopolitan. Para haji menjadi perantara pertukaran ide, pembaruan pemikiran, dan pembentukan solidaritas lintas bangsa. Maka dari itu, pembatasan terhadap haji oleh kolonial bukan hanya persoalan kontrol administratif, melainkan strategi untuk memutus jejaring kesadaran Islam global yang semakin berpengaruh terhadap gerakan pembebasan nasional.</p>
<p>Sudah saatnya umat Islam di Indonesia merefleksikan ulang makna haji—tidak hanya sebagai ritual individual, tetapi sebagai pengalaman transformasi sosial. Dalam kerangka Mazhab Ciputat, haji adalah medium pembebasan spiritual yang menuntut tanggung jawab sosial. Ibadah ini harus membentuk manusia yang sadar akan ketertindasan, peka terhadap ketimpangan, dan terlibat dalam perjuangan etis untuk kemanusiaan.</p>
<p>Sebagaimana warisan para haji dalam sejarah Indonesia: mereka bukan hanya pulang dengan gelar, tetapi dengan tekad untuk membangun masyarakat yang lebih adil, tercerahkan, dan merdeka dari segala bentuk penindasan.</p>
<p><em>*Penulis adalah Trio MAS FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menelusuri-jejak-haji-di-indonesia-dari-simbol-kesalehan-hingga-instrumen-kolonial/">Menelusuri Jejak Haji di Indonesia: Dari Simbol Kesalehan hingga Instrumen Kolonial</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/menelusuri-jejak-haji-di-indonesia-dari-simbol-kesalehan-hingga-instrumen-kolonial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/blue.kumparan.com/image/upload/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,q_auto:best,w_640/v1565705439/clh8jksque8uqsg7c0fw.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Menelusuri Jejak Haji di Indonesia: Dari Simbol Kesalehan hingga Instrumen Kolonial</title>
		<link>https://jakpos.id/menelusuri-jejak-haji-di-indonesia-dari-simbol-kesalehan-hingga-instrumen-kolonial-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 May 2025 01:40:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=86986</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK*</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menelusuri-jejak-haji-di-indonesia-dari-simbol-kesalehan-hingga-instrumen-kolonial-2/">Menelusuri Jejak Haji di Indonesia: Dari Simbol Kesalehan hingga Instrumen Kolonial</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK*</strong></em></p>
<p>Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia menunaikan ibadah haji. Di Indonesia, haji telah menjadi simbol status sosial, spiritualitas, bahkan identitas kultural yang istimewa. Gelar “Haji” bukan hanya menunjukkan seseorang telah melaksanakan rukun Islam kelima, tetapi juga menjadi penanda kesalehan dan kehormatan sosial. Namun, sejarah panjang gelar ini menunjukkan bahwa ia bukan semata produk kultural, melainkan juga bentukan dari dinamika kolonialisme dan kontrol sosial.</p>
<p>Sejarawan Azyumardi Azra dalam karyanya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara menyoroti bagaimana Tanah Suci menjadi ruang bertemunya ulama Nusantara dengan jaringan intelektual global yang membawa arus pemikiran pembaruan dan antikolonialisme. Para jamaah haji tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga mengalami transformasi intelektual dan ideologis yang kemudian dibawa pulang ke tanah air.</p>
<p>Karena itu, pemerintah kolonial Belanda memandang para haji sebagai sosok potensial yang perlu diawasi. Berdasarkan saran Christiaan Snouck Hurgronje, seorang orientalis dan penasihat utama pemerintah Hindia Belanda, dikeluarkanlah Ordonansi Haji 1916 sebagai upaya untuk mengatur—dan sebenarnya mengendalikan—arus umat Islam yang pergi ke Tanah Suci. Tujuan utamanya bukan hanya administratif, tetapi juga politis: mencegah munculnya pemimpin-pemimpin lokal yang terinspirasi oleh semangat perlawanan Islam global.</p>
<p>Snouck Hurgronje menyadari bahwa Islam, jika dimobilisasi secara sosial-politik, bisa menjadi ancaman serius bagi stabilitas kolonial. Oleh karena itu, ia menyarankan agar ibadah haji dan ekspresi keagamaan dibiarkan berjalan sebatas ritual, tetapi diawasi agar tidak menjadi kekuatan politik.</p>
<p>Sejarawan Taufik Abdullah menambahkan bahwa para haji bukanlah figur pasif. Mereka sering kali menjadi penggerak perubahan di daerah asalnya—baik dalam bentuk pendidikan Islam, pembentukan organisasi sosial, maupun perlawanan terhadap ketidakadilan struktural. Kasus Haji Wasid dalam Pemberontakan Petani Banten 1888 menjadi salah satu bukti bagaimana pengalaman spiritual haji bisa menjelma menjadi energi resistensi sosial.</p>
<p>Dari perspektif Mazhab Ciputat—yang dikenal sebagai aliran pemikiran Islam progresif, kontekstual, dan rasional yang berkembang sejak era Harun Nasution, Nurcholish Madjid, hingga Azyumardi Azra—fenomena haji tidak bisa dipisahkan dari relasi antara agama, negara, dan kekuasaan. Mazhab ini mendorong kita untuk tidak hanya melihat haji secara normatif-teologis, tetapi juga secara sosiologis, historis, dan politis.</p>
<p>Mazhab Ciputat memandang agama sebagai kekuatan kultural yang hidup di tengah masyarakat dan senantiasa dipengaruhi oleh konstruksi sosial dan politik. Gelar “Haji” dalam masyarakat Indonesia misalnya, adalah produk dari relasi kolonial yang justru memanfaatkan agama sebagai alat kontrol sosial. Gelar itu, meskipun kini dimaknai sebagai prestise moral, pada awalnya lahir sebagai bagian dari proyek administrasi dan kontrol kolonial terhadap umat Islam.</p>
<p>Dalam semangat Islam rasional dan kontekstual ala Harun Nasution, haji seharusnya dimaknai sebagai proses penyadaran spiritual yang membuahkan etika sosial. Bukan sekadar gelar kehormatan, tetapi panggilan untuk melawan ketimpangan dan ketidakadilan. Mazhab Ciputat akan mengajak kita melihat bahwa pengalaman haji bukan puncak dari kesalehan individual, melainkan titik awal dari komitmen moral untuk perubahan sosial.</p>
<p>Lebih jauh lagi, Azyumardi Azra sebagai representasi Mazhab Ciputat generasi baru, menunjukkan bahwa ibadah haji sejak dahulu merupakan bagian dari dinamika Islam kosmopolitan. Para haji menjadi perantara pertukaran ide, pembaruan pemikiran, dan pembentukan solidaritas lintas bangsa. Maka dari itu, pembatasan terhadap haji oleh kolonial bukan hanya persoalan kontrol administratif, melainkan strategi untuk memutus jejaring kesadaran Islam global yang semakin berpengaruh terhadap gerakan pembebasan nasional.</p>
<p>Sudah saatnya umat Islam di Indonesia merefleksikan ulang makna haji—tidak hanya sebagai ritual individual, tetapi sebagai pengalaman transformasi sosial. Dalam kerangka Mazhab Ciputat, haji adalah medium pembebasan spiritual yang menuntut tanggung jawab sosial. Ibadah ini harus membentuk manusia yang sadar akan ketertindasan, peka terhadap ketimpangan, dan terlibat dalam perjuangan etis untuk kemanusiaan.</p>
<p>Sebagaimana warisan para haji dalam sejarah Indonesia: mereka bukan hanya pulang dengan gelar, tetapi dengan tekad untuk membangun masyarakat yang lebih adil, tercerahkan, dan merdeka dari segala bentuk penindasan.</p>
<p><strong><em>*Penulis adalah Trio MAS FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.</em></strong></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/menelusuri-jejak-haji-di-indonesia-dari-simbol-kesalehan-hingga-instrumen-kolonial-2/">Menelusuri Jejak Haji di Indonesia: Dari Simbol Kesalehan hingga Instrumen Kolonial</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/jamaah-haji-asal-aceh-1880-_180313121513-162.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkat dan Lirik Lagu Genjer-genjer yang Identik dengan PKI</title>
		<link>https://jakpos.id/sejarah-singkat-dan-lirik-lagu-genjer-genjer-yang-identik-dengan-pki/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Sep 2024 04:07:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Genjer-genjer]]></category>
		<category><![CDATA[PKI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=76320</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Genjer-genjer adalah sebuah lagu rakyat yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Berikut lirik&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/sejarah-singkat-dan-lirik-lagu-genjer-genjer-yang-identik-dengan-pki/">Sejarah Singkat dan Lirik Lagu Genjer-genjer yang Identik dengan PKI</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Genjer-genjer adalah sebuah lagu rakyat yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Berikut lirik lagu Genjer-genjer, pencipta, dan sejarah singkat di baliknya.</p>
<p>Lirik lagu Genjer-genjer menceritakan tentang tanaman genjer, yaitu sejenis sayuran air yang banyak tumbuh di rawa-rawa dan sawah. Sayuran ini dahulu dikenal sebagai makanan rakyat miskin.</p>
<p>Sebab kala itu, para petani yang terpaksa mengonsumsi tanaman yang dianggap hama tersebut untuk bertahan hidup.</p>
<p>Genjer yang identik dengan hal tersebut digambarkan oleh Muhammad Arif dalam lagu rakyat Genjer-genjer pada era 40-an.</p>
<h3>Sejarah singkat lagu Genjer-genjer</h3>
<p>Dilansir dari buku Mengenal Orde Baru (2021) lagu Genjer-genjer diciptakan oleh seniman asal Banyuwangi, Jawa Timur Muhammad Arif pada 1942.</p>
<p>Mulanya, Muhammad Arif membuat lagu Genjer-genjer dalam bahasa Osing sebagai media kritik atas penjajahan. Liriknya menceritakan kehidupan masyarakat Jawa khususnya petani yang mengalami kesulitan pangan di masa penjajahan Jepang.</p>
<p>Setelah merdeka dari Jepang, Muhammad Arief bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Pada awal tahun 60-an, lagu Genjer-genjer dinyanyikan oleh paduan suara Lekra Banyuwangi dan mulai bergema di kalangan PKI.</p>
<p>Lagu Genjer-genjer juga berhasil dikenal banyak orang setelah dinyanyikan oleh Bing Slamet dan Lilis Suryani dan diperdengarkan lewat televisi TVRI Jakarta serta radio RRI.</p>
<p>Berbagai sumber menyebut, bahkan di era pemerintahan Soekarno, Genjer-genjer termasuk lagu populer dan sering dinyanyikan musisi-musisi di berbagai kesempatan.</p>
<p>Sayangnya, citra lagu Genjer-genjer yang semula hanya menggambarkan situasi sulit petani di masa penjajahan Jepang, dimanfaatkan pula oleh pihak PKI sebagai keperluan politik hingga akhirnya dicap sebagai lagu kebangsaan PKI.</p>
<p>Lagu ini sering dinyanyikan dalam acara-acara PKI dan organisasi afiliasinya. Setelah peristiwa G30S 1965, lagu ini dilarang lantaran dianggap sebagai propaganda komunis oleh pemerintah Orde Baru.</p>
<p>Lirik lagu tersebut juga sempat diubah karena propaganda anti-komunis yang dilancarkan oleh pemerintah rezim Orde Baru.</p>
<p>Setelah rezim Orde Baru berakhir pada 1998, larangan resmi terhadap lagu Genjer-genjer berakhir. Lagu ini kini bisa didengar secara bebas, meski stigma lagu tersebut masih amat lekat dengan PKI.</p>
<h3>Lirik lagu Genjer-genjer</h3>
<p>Di bawah ini terdapat lirik lagu Genjer-genjer dan penciptanya yaitu Muhammad Arif dari bahasa Osing, serta terjemahan dalam versi bahasa Indonesia.</p>
<p><em>Lirik lagu Genjer-genjer bahasa Osing</em><br />
<em>Genjer-genjer nong kedokan pating keleler</em><br />
<em>Genjer-genjer nong kedokan pating keleler</em><br />
<em>Emake thulik teko-teko mbubuti genjer</em><br />
<em>Emake thulik teko-teko mbubuti genjer</em></p>
<p><em>Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tulih-tulih</em></p>
<p><em>Genjer-genjer saiki wis digawa mulih</em><br />
<em>Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar</em><br />
<em>Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar</em></p>
<p><em>Dijejer-jejer duintingi padha didhasar</em><br />
<em>Dijejer-jejer diuntingi padha didhasar</em><br />
<em>Emake jebeng padha tuku nggawa welasan</em><br />
<em>Genjer-genjer saiki wis arep diolah</em></p>
<h3>Lirik lagu Genjer-genjer gubahan Muhammad Arif versi bahasa Indonesia</h3>
<p><em>Genjer-genjer bertaburan di pematang</em><br />
<em>Emak si Buyung datang mencabut genjer</em><br />
<em>Setelah mendapatkan satu tenong lalu berhenti</em><br />
<em>Genjer-genjer sekarang dibawa pulang</em></p>
<p><em>Genjer-genjer pagi-pagi di bawa ke pasar</em><br />
<em>Ditata dalam ikatan lalu digelar</em><br />
<em>Emak si Jebeng beli genjer mendapat tambahan</em><br />
<em>Genjer-genjer sekarang harus dimasak</em></p>
<p><em>Genjer-genjer dimasukkan ke dalam kuali panas</em><br />
<em>Setelah setengah matang di angkat untuk lauk</em><br />
<em>Nasi di piring dan sambal jeruk di atas cobek</em><br />
<em>Genjer-genjer dimakan bersama nasi</em></p>
<h3>Lirik lagu Genjer-genjer versi Orde Baru</h3>
<p>Sementara itu, di bawah ini terdapat lirik lagu Genjer-genjer yang versi Orde Baru atau telah diubah seperti yang pernah dimuat di surat kabar Harian KAMI.</p>
<p><em>Jenderal-jenderal di ibukota tersebar</em><br />
<em>Emak Gerwani datang untuk menculik jenderaL</em><br />
<em>Dapat satu truk, membelakangi yang menoleh ke kanan dan kiri</em></p>
<p><em>Jenderal-jenderal sekarang sudah tertangkap</em><br />
<em>Jenderal-jenderal pada pagi hari disiksa</em><br />
<em>Dibariskan, diikat, dan dihajar</em></p>
<p><em>Emak Gerwani datang semua untuk menghajar</em><br />
<em>Jenderal-jenderal maju lalu dibunuh</em></p>
<p>Itulah lirik lagu Genjer-genjer dan penciptanya yaitu Muhammad Arif serta sejarah di baliknya. Semoga membantu.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/sejarah-singkat-dan-lirik-lagu-genjer-genjer-yang-identik-dengan-pki/">Sejarah Singkat dan Lirik Lagu Genjer-genjer yang Identik dengan PKI</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/static.promediateknologi.id/crop/0x0:0x0/0x0/webp/photo/indizone/2023/04/03/DNsgzXN/sejarah-lagu-genjer-genjer-yang-kemudian-jadi-propaganda-pki44.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Kenapa Cuma Indonesia yang Sebut Netherland sebagai Belanda? Ini Sebabnya</title>
		<link>https://jakpos.id/kenapa-cuma-indonesia-yang-sebut-netherland-sebagai-belanda-ini-sebabnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Jun 2024 02:42:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Histori]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=70259</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belanda merupakan sebutan yang sangat umum diucapkan oleh masyarakat Indonesia sejak sebelum merdeka</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/kenapa-cuma-indonesia-yang-sebut-netherland-sebagai-belanda-ini-sebabnya/">Kenapa Cuma Indonesia yang Sebut Netherland sebagai Belanda? Ini Sebabnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Belanda merupakan sebutan yang sangat umum diucapkan oleh masyarakat Indonesia sejak sebelum merdeka</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Penyebutan nama Netherland dan Belanda sebenarnya tak jauh dari sejarah penjajahan negara tersebut di nusantara.</p>
<p>Melansir dari Babbel, penggunaan Netherland mulanya berasal dari dua suku kata yang berbeda yaitu &#8220;Nether&#8221; dan &#8220;Land.&#8221;</p>
<p>Nether yang memiliki arti rendah, sedangkan Land mempunyai makna sebagai tanah. Pakar sejarah melihat penamaan itu berdasarkan struktur tanah Belanda yang lebih rendah dibandingkan daratan di Eropa.</p>
<p>Kata itu pun pertama kali diucapkan oleh masyarakat setempat pada masa Kerajaan Jerman di abad ke-15. Masyarakat Belanda melihat dataran sekitar tempat tinggalnya lebih rendah dari wilayah sekitar.</p>
<p>Selain itu, penggunaan Holland sebagai identitas tak resmi juga merujuk pada wilayah Belanda bernama Noord Holland dan Zuid Holland.</p>
<p>Holland berasal dari kata Houtland yang berarti &#8216;Wooden Land,&#8217; seperti dilansir dari Britannica.</p>
<p>Sebab, kedua wilayah tersebut memang dipenuhi oleh hutan lebat yang membentang luas.</p>
<p>Warga asing yang berkunjung ke Belanda pun menggunakan kata Holland sebagai rujukan identitas masyarakat yang bermukim di wilayah itu.</p>
<h3>Awal Mula Penyebutan Belanda di Indonesia</h3>
<p>Kata Belanda yang digunakan masyarakat Indonesia sebenarnya berawal dari Holland.</p>
<p>Holland yang dikenal oleh warga asing sebagai sebuah wilayah juga digunakan oleh masyarakat Portugis. Kolonial Portugis yang mengenal Holland menyebutnya sebagai Holanda.</p>
<p>Sebelum Kolonial Belanda, orang-orang Portugis telah lama tiba di Indonesia untuk berdagang.</p>
<p>Menurut artikel jurnal Philippe Grange bertajuk &#8220;An Overview of Indonesian Loanwords From French,&#8221; bahasa Prancis-Portugis memang diserap oleh masyarakat Indonesia selama masa pendudukan Kolonial Portugis.</p>
<p>Artikel itu juga menyebut berbagai perbendaharaan kata Indonesia yang meminjam kosa kata dari Prancis-Portugis.</p>
<p>Alhasil, pengucapan Holanda dari Portugis diserap oleh warga Indonesia untuk mengidentifikasi penjelajah Belanda.</p>
<p>Pada catatan sejarah lain, masyarakat Indonesia juga menyebut orang-orang Belanda sebagai Londo. Dalam bahasa Jawa, Londo berarti orang asing atau pendatang.</p>
<p>Seiring perkembangan zaman, kata Holanda dan Londo melebur menjadi satu yaitu Belanda.</p>
<p>Sampai saat ini penggunaan Belanda sangat melekat di telinga dan perbendaharaan bahasa Indonesia.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/kenapa-cuma-indonesia-yang-sebut-netherland-sebagai-belanda-ini-sebabnya/">Kenapa Cuma Indonesia yang Sebut Netherland sebagai Belanda? Ini Sebabnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/assets.promediateknologi.id/crop/0x0:0x0/750x500/webp/photo/p1/793/2023/09/04/Penjajah-3887752405.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Rawon, Hidangan Favorit Para Raja</title>
		<link>https://jakpos.id/sejarah-rawon-hidangan-favorit-para-raja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Dec 2023 05:14:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Rawon]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Rawon]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61430</guid>

					<description><![CDATA[<p>Diperkirakan rawon hadir sejak masa Kerajaan Kanjuruhan yang berdiri pada tahun 860 Masehi.</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/sejarah-rawon-hidangan-favorit-para-raja/">Sejarah Rawon, Hidangan Favorit Para Raja</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Diperkirakan rawon hadir sejak masa Kerajaan Kanjuruhan yang berdiri pada tahun 860 Masehi.</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Siapa yang tidak mengenal rawon? Olahan daging khas Jawa Timur ini sudah pasti banyak disukai oleh semua orang. Rasanya yang gurih membuat hidangan yang satu ini menjadi menu “wajib” dikala acara-acara pernikkahan, hajatan atau acara-acara lainnya.</p>
<p>Bahan utama dari makanan ini adalah daging sapi dan tentunya bagian terpenting nya adalah “keluak”. Keluak memiliki rasa unik.</p>
<p>Warna yang diberikan keluak ini menjadi alasan penamaan hidangan tersebut. Rawon, berasal dari bahasa Jawa ,&#8221;rawa&#8221;  yang memiliki arti &#8220;gelap&#8221;.</p>
<p>Nama ini mencerminkan warna kuah gelap yang didapat dari penggunaan keluak. Warna hitam tidak hanya menambah daya tarik visual pada hidangan tetapi juga memberikan rasa unik serta khas.</p>
<p>Rawon ternyata sudah ada sejak zaman kerajaan jawa, lama sekali bukan umur dari makanan yang satu ini. dalam prasasti Taji (901 M) yang ditemukan di dekat Ponorogo Jawa Timur ,tersebut kata rarawwan yang memiliki arti sayur rawon.</p>
<p>Karena dicatat pada sebuah prasasti, bisa disimpulkan bahwa sajian ini disantap oleh kalangan kerajaan yang mengeluarkan prasasti Taji itu.</p>
<p>Ada anggapan bahwa rawon yang sangat populer awalnya merupakan makanan rakyat, yang kemudian menjadi digemari juga oleh kalangan kerajaan.</p>
<p>Jika menarik garis lebih panjang ke belakang, maka bisa diperkirakan rawon hadir sejak masa Kerajaan Kanjuruhan yang berdiri pada tahun 860 Masehi.</p>
<p>Rawon sendiri bisa disebut sebagai masakan yang berasal dari soto kemudian ditambahkan kluwek.Bukti sejarah tentang keberadaan rawon sebagai santapan kuliner kerajaan juga datang dari catatan dalam Serat Wulangan Olah-olah Warna-warni, yaitu catatan resep koleksi Istana Mangkunegaran Surakarta yang dicetak pada 1926.</p>
<p>Sudah disebutkan bahwa sajian rawon identik dengan warna kuahnya yang hitam dan punya aroma khas. Tampilan itu berasal dari bahan bernama kluwak yang berasal dari pepohonan liar yang bijinya sering dijadikan bahan bumbu dapur oleh masyarakat Nusantara.</p>
<p>Dahulu,hanya orang dengan kasta bangsawan saja yang bisa menikmati olahan daging. Olahan daging jaman jawa kuno lebih bervariatif dari olahan daging yang kita kenal sekarang. Daging kerbau (kbo/hadangan), ayam (ayam) , bebek (andah) , angsa (angsa),babi hutan (wok), kijang (kidang) ,kambing (wdus), babi ternak (celeng), kera (wrai), kalong (kaluang), dan bahkan kura-kura merupakan hidangan“mewah” pada masa tersebut.</p>
<p>Perlu dicatat,level konsumsi daging antara rakyat dan istana berbeda.Rakyat lebih sering makan nasi dan ikan. Namun,dalam perayaan yang diadakan raja, misalnya penetapan sima, persediaan daging istana dibagi untuk rakyat.</p>
<p>Hal ini menandakan rawon,merupakan hidangan “mahal” pada jaman kerajaan kuno. Meskipun rawon pada masa tersebut mungkin saja tidak sama dengan rawon yang kita kenal di zaman sekarang, tapi penggunaan kluwak dari masa ke masa terhadap hidangan ini cukup untuk membuat kita berangan-angan akan rasa hidangan zaman klasik ini.</p>
<p>Kluwak beberapa kali disebut dalam Serat Centhini yaitu salah satu naskah sastra Jawa yang yang ditulis pada tahun 1735 Jawa dengan sengkalan atau angka tahun berbunyi tata guna swareng nata (tahun 1811 Masehi).</p>
<p>Serat Centhini ditulis oleh raja bekerjasama dengan para pujangga kraton. Salah satu raja yang dikenal pandai menulis dalam hal sastra Jawa adalah Paku Buwana V. Adapun salah satu hasil tulisan beliau yang menjadi karya besar adalah Serat Centhini tersebut. Serat Centhini dikenal juga sebagai buku ensiklopedia budaya Jawa.</p>
<p>Menurut sejarahnya, Rawon diolah dengan menggunakan daging kerbau. Namun, karena daging kerbau semakin sulit diakses, daging sapi menjadi pengganti umum digunakan dalam hidangan tersebut.</p>
<p>Metode memasak lambat digunakan dalam menyiapkan hidangan ini memastikan daging sapi menjadi empuk dan meresap ke dalam kaldu serta menciptakan cita rasa yang kaya. Rawon telah berkembang selama berabad-abad dengan variasi bahan dan cara pembuatannya.</p>
<p>Penambahan berbagai bumbu, bumbu berkontribusi pada keragaman rasa yang ditemukan di berbagai versi hidangan ini. Jika menyambangi warung rawon biasanya para pengunjung juga akan disajikan lauk tambahan seperti potongan usus, babat dan daging sapi.</p>
<p>Ternyata budaya lauk pelengkap ini berasal dari tradisi orang China yang memakan jeroan ketika mereka merantau ke Nusantara.</p>
<p>Itulah sejarah singkat rawon.Ternyata,makanan yang kerap kita jumpai memilki fakta sejarah yang menakjubkan ya,tentu sebagai anak bangsa kita harus bangga dong.</p>
<p>Ditulis oleh : Nabila zahwa<br />
Mahasiswa Universitas Sayyid Ali Rahmatullah Tulunggagung</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/sejarah-rawon-hidangan-favorit-para-raja/">Sejarah Rawon, Hidangan Favorit Para Raja</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/storage.googleapis.com/narasi-production.appspot.com/production/medium/1690883765380/rawon-jadi-sup-paling-enak-di-dunia-berikut-fakta-dan-cara-membuat-rawon-di-rumah-medium.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
