YUUK KITA SYUKURI APA YANG ADA…

YUUK KITA SYUKURI APA YANG ADA…

Oleh : Dr. Muslich Taman, Humas SMAN I Rumpin, Penulis Buku: Guru Sang Arsitek Masa Depan.

| Bogor – Ada orang yang berangkat kerja pagi-pagi dengan jas rapi, dasi, parfum harum, dan sepatu mengilap, Sesampai depan kantor, langsung dibukakan pintu gerbang dengan cepat. Keluar dari mobil mewah disambut hormat para bawahan. Masuk ruangan, duduk di kursi empuk dengan AC yang dingin. Semua fasilitas tersedia untuk memanjakan diri.

Ada pula sebaliknya, yang menapaki hari dengan peluh, mengayuh waktu di bawah terik matahari, di antara deru suara bising, di tengah kerumunan massa yang pengap, dan tanpa fasilitas apa pun. Tanpa tepuk tangan, dan tanpa sorot kamera apa pun.

Di hadapan Allah, sesungguhnya kemuliaan tidak pernah diukur dari gemerlap duniawi, kerennya penampilan, atau ramainya tepuk tangan. Melainkan dari luasnya manfaat dan kualitas kebaikan yang ada. Nabi bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Yaitu, bagaimana seseorang menunaikan amanah hidup yang diemban dengan sebaik-baiknya dan niat yang tulus.

Apa pun profesi yang Allah titipkan, di situlah ladang syukur dibentangkan. Syukur bukan sekadar ucapan, melainkan cara menjalani profesi dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, dan kesungguhan. Tangan bekerja keras, hati lapang terjaga dari keluh kesah, dan niat yang senantiasa lurus.Itulah wujud syukur yang sejati.

Sesungguhnya, profesi terbaik bukanlah yang paling tinggi gajinya, atau paling mentereng gengsinya. Profesi terbaik adalah yang membuat pelakunya semakin dekat kepada Allah, semakin tunduk dalam ibadah, dan semakin luas manfaat yang ditebarkan. Sebab, hidup bukan soal gaya diri, bukan tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang apa yang kita berikan dan persembahkan.

Betapa banyak orang yang memiliki jabatan bergengsi, penghasilan melimpah, fasilitas serba mewah, dan mendapat penghormatan dari banyak pihak. Namun sayang, kemewahan itu justru melalaikannya. Ia menjadi jauh dari nilai-nilai kebaikan. Waktu habis untuk kesenangan, hati kering dari dzikir, dan tangan ringan melakukan pelanggaran. Sering sibuk, berlagak sombong, ringan ingkar janji, mudah berkhianat, hingga lupa pada keluarga menjadi kisah yang sering berulang. Pada akhirnya, kehormatan yang dibanggakan runtuh dalam sekejap, menyisakan malu yang panjang. Maka, profesi yang seperti ini, meski tampak megah di mata manusia, sejatinya hina di hadapan Allah.

Sebaliknya, ada profesi yang dipandang sederhana, bahkan remeh. Gajinya kecil, pekerjaannya berat, dan fasilitasnya minim. Namun dari situlah lahir pribadi yang tekun beribadah, hati yang bersih, pikiran yang lapang, sikap makin bijak, serta tangan yang ringan membantu sesama. Ia pulang dengan lelah, tetapi membawa ketenangan dan ketentraman untuk keluarganya. Banyak manfaat dan kebaikan yang dirasakan oleh orang lain. Ia hidup dalam kesederhanaan, tetapi dipenuhi keberkahan. Maka, profesi seperti inilah yang sesungguhnya mulia.

Paling tidak, ada tiga kriteria agar pekerjaan atau profesi menjadi baik dan berkah. Pertama, harus halal —tidak bersentuhan dengan yang haram, penipuan, atau kemaksiatan. Kedua, tidak melalaikan ibadah —pekerjaan tidak boleh membuat kita lalai dari kewajiban kepada Allah. Ketiga, bermanfaat luas —memberikan maslahat bagi sebanyak mungkin orang. Bukan malah merepotkan dan menjadi beban pihak lain.

Maka, jika ingin menjadi manusia terbaik dengan profesi yang dimiliki, jalani dengan maksimal dan penuh rasa syukur. Jangan suka mengeluh, dan iri pada profesi orang lain. Jangan sibuk mencela kekurangan orang sementara kekurangan sendiri menggunung. Jika mengkritik, sampaikanlah dengan santun dan niat yang tulus.

Secara khusus, penulis berpesan pada diri sendiri dan para guru sahabat seprofesiku. Guru adalah profesi yang mulia dan agung, pilar kemajuan dan kejayaan bangsa. Jadikan tugas mendidik sebagai ibadah yang hidup. Aktivitas terbaik, dan investasi masa depan. Profesi kebanggaan. Hadirlah sepenuh hati di hadapan murid-murid dengan penuh syukur. Jangan malas dan ringan meninggalkan kelas. Jangan biasa mengurangi waktu mengajar dan bertugas, karena sibuk dengan urusan yang lain. Sebab setiap detik yang diabaikan adalah amanah yang dikhianati. Waktu, sebagaimana dikatakan, “lebih berharga daripada uang”. Maka, korupsi waktu sejatinya lebih berbahaya daripada korupsi uang.

Pada akhirnya, profesi hanyalah jalan. Kemuliaan ada pada bagaimana kita menapakinya. Jika jalan itu mengantarkan kita pada ketaatan, kebermanfaatan, dan keridhaan Allah, maka itulah sebaik-baik profesi. Apa pun namanya, di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya. Wallahu a’lam.(rosid/Mt-Rhidaayat).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *