Awas! BBM Tak Sesuai Rasio Kompresi Picu Kerusakan Mesin

Oleh Fahriza Henrissa Zafir, Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri dan Informatika (FTII) – Prodi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

DEPOKPOS – Penggunaan bahan bakar minyak (BBM) sering dianggap sepele oleh sebagian pengendara. Banyak yang memilih BBM hanya berdasarkan harga, tanpa memahami apakah jenis tersebut sesuai dengan spesifikasi mesin. Padahal, ketidaksesuaian antara nilai oktan bahan bakar dan rasio kompresi mesin dapat berdampak serius, mulai dari penurunan performa hingga kerusakan komponen mesin.

Bacaan Lainnya

Nilai oktan atau Research Octane Number (RON) menunjukkan kemampuan bahan bakar dalam menahan tekanan sebelum terbakar secara spontan. Semakin tinggi rasio kompresi mesin, semakin tinggi pula nilai oktan yang dibutuhkan agar proses pembakaran berlangsung optimal.

Penggunaan BBM beroktan rendah pada mesin dengan rasio kompresi tinggi dapat menyebabkan fenomena knocking atau detonasi dini. Kondisi ini ditandai dengan suara “ngelitik” pada mesin akibat pembakaran yang tidak terkontrol. Jika dibiarkan, knocking dapat merusak piston, ring piston, hingga dinding silinder akibat tekanan dan suhu yang berlebihan.

Penggunaan BBM yang tidak sesuai juga dapat menyebabkan misfiring atau kegagalan pembakaran. Ruang bakar menjadi cepat kotor, performa mesin menurun, bahkan berpotensi menyebabkan mesin mati secara tiba-tiba sebagai akibatnya. Sebaliknya, penggunaan BBM dengan oktan terlalu tinggi pada mesin berkompresi rendah juga tidak efisien karena pembakaran menjadi tidak sempurna.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mesin dengan rasio kompresi di atas 9:1 umumnya memerlukan BBM dengan RON minimal 90. Sementara itu, mesin dengan rasio kompresi 7-9:1 masih dapat menggunakan BBM dengan RON sekitar 88. Ketidaksesuaian dalam pemilihan ini dapat menurunkan efisiensi bahan bakar hingga 5-8 persen serta meningkatkan konsumsi BBM.

Peningkatan rasio kompresi memang terbukti dapat meningkatkan torsi dan daya dalam pengujian performa mesin. Misalnya, pada mesin yang menggunakan campuran etanol seperti E85, kenaikan rasio kompresi mampu meningkatkan torsi dan daya secara signifikan. Namun, peningkatan tersebut tetap harus diimbangi dengan pemilihan bahan bakar yang tepat agar tidak menimbulkan knocking.

Dampak lain yang sering luput dari perhatian adalah peningkatan emisi gas buang. Pembakaran yang tidak sempurna akibat ketidaksesuaian BBM akan menghasilkan emisi karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon (HC) yang lebih tinggi. Hal ini tidak hanya merugikan dari sisi efisiensi kendaraan, tetapi juga berkontribusi terhadap pencemaran udara dan berdampak pada kesehatan masyarakat.

Jenis BBM bensin yang umum digunakan memiliki variasi nilai RON, mulai dari 88 hingga 98 di Indonesia. Perbedaan ini secara langsung memengaruhi performa mesin dan emisi yang dihasilkan. Oleh karena itu, penting bagi pengguna kendaraan untuk memahami spesifikasi mesin masing-masing sebelum memilih bahan bakar.

Selain faktor teknis, penggunaan BBM juga dipengaruhi oleh berbagai hal seperti gaya berkendara, kondisi jalan, beban kendaraan, hingga perawatan mesin. Berkendara dengan kecepatan stabil, melakukan servis rutin, serta menjaga tekanan ban tetap optimal dapat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar.

Melihat jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat setiap tahun, kesadaran dalam penggunaan BBM yang tepat menjadi semakin penting. Penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai tidak hanya merugikan pemilik kendaraan, tetapi juga memperburuk kualitas lingkungan akibat meningkatnya emisi gas buang.

Pengguna kendaraan disarankan untuk selalu merujuk pada buku manual kendaraan guna mengetahui rasio kompresi mesin dan jenis BBM yang direkomendasikan sebagai langkah sederhana. Penggunaan alat seperti compression tester juga dapat membantu memastikan kondisi mesin tetap optimal.

Saat memilih BBM, jangan terpengaruh oleh harga. Pilih yang tepat untuk menjaga mesin bekerja dengan baik, menghemat biaya perawatan dalam jangka panjang, dan membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat.

Pos terkait