Dimana Lokasi Weltevreden? Tempat Wisata Pertama di Jakarta

Jika nama Weltevreden tak terlalu familiar di telinga kita, bagaimana dengan kawasan Jakarta Pusat?

DEPOKPOS – Weltevreden adalah sebuah kawasan yang sekarang menjadi Jakarta Pusat yang pada saat itu merupakan hutan rata berpadang rumput yang dimiliki oleh Anthony Paviljoen, sehingga dinamai sebagai Paviljoenved.

Padang rumput milik Paviljoen tersebut digunakan untuk memelihara ternak seperti lembu dan kerbau yang sekarang dikenal dengan nama Lapangan Banteng.

Pada masa itu, Weltevreden juga menjadi tempat pelesir orang gedongan tempo doeloe saat Jakarta masih bernama Batavia.

Peta Batavia tahun 1888. (Wikipedia)
Peta Batavia tahun 1888. (Wikipedia)

Sumber literatur laman resmi Badan Perencanaan Kotamadya Jakarta Pusat rilisan 2005 memberikan informasi bahwa ada kebutuhan untuk pengembangan wilayah baru di Batavia. Tahunnya, di sekitaran 1628 hingga 1800.

Sementara pada laman wikipedia, disebutkan bahwa Weltevreden (dalam bahasa Belanda yang berarti dalam suasana tenang dan puas) adalah daerah tempat tinggal utama orang-orang Eropa di pinggiran Batavia, Hindia Belanda yang berjarak kurang lebih 10 kilometer dari Batavia lama ke arah selatan.

Letaknya kini di sekitar Sawah Besar, Jakarta Pusat yang membentang dari RSPAD Gatot Subroto hingga Museum Gajah.

Paviljoen juga mendirikan rumah-rumah peristirahatan (vila) di kawasannya tersebut. Menurut Asep Kambali, sejarawan dan pendiri Komunitas Historia Indonesia, di masa lalu, kawasan milik Anthony Paviljoen masih seperti hutan belantara.

Kawasan milik Paviljoen tersebut bahkan sempat disewakan pada warga China yang datang ke Indonesia untuk ditanami tebu, sayuran, dan dijadikan lahan persawahan.

Hawanya yang masih segar, sejuk, dan tanpa batas sangat berbeda dengan kondisi Kota Batavia. Sehingga memberikan kesempatan bagi penduduk Kota Batavia (Kota Tua) yang berpusat di Fatahillah ‘terlepas’ dari rasa terkungkung karena hidup berbatasan dengan tembok dan benteng.

Di kawasan ini banyak dibangun rumah-rumah peristirahatan dan taman-taman besar, seperti Waterloo Plein (kini Lapangan Banteng), Wilhelmina Park (kini Masjid Istiqlal) dan Koningsplein (kawasan Monas).

Lingkungannya yang lebih sehat ketimbang daerah bisnis dan pemerintahan menjadikannya tempat favorit bagi turis-turis asing yang berkunjung ke Batavia.

Karena sering didatangi turis, Weltevreden memiliki banyak hotel. Di sana ada Hotel des Indes (baca Hotel des Indes Ikon Batavia), Hotel der Nederlanden, Grand Hotel de Java, dan lain-lain. Kamar-kamarnya luas dan berplafon tinggi. Ranjangnya besar dan ditutupi kelambu anti nyamuk.

Hotel des Indes. Foto: Arsip Nasional
Hotel des Indes. Foto: Arsip Nasional

Kamar mandinya mengikuti kebiasaan lokal, sehingga pelancong Eropa harus membiasakan diri menyiram tubuh mereka dengan air dari bak penampung dengan menggunakan gayung. Ongkos menginap di hotel-hotel ini terbilang murah, yaitu sekitar 5-6 gulden per malam (tarif 1900-an). Harga segitu biasanya sudah termasuk makan tiga kali.

Menurut buku Guide through Netherlands India (1903), ada beberapa rute wisata yang biasa diambil oleh para pelancong.

Jika ingin menikmati arsitektur bangunan-bangunan tua, mereka bisa naik trem uap pada pukul 6 pagi ke arah kota lama. Sampai di terminal akhir, mereka bisa berjalan kaki menuju Kleine Boom, pos pabean dekat pelabuhan, melalui gerbang tua kastil Batavia.

Di sana mereka bisa melihat “senjata besar” (Meriam Si Jagur) yang berada di bawah pohon dan dipercaya penduduk setempat dapat meningkatkan kesuburan wanita.

Dari sana mereka bisa mendatangi Pasar Ikan yang tak jauh letaknya dari masjid Loear Batang. Melewati jembatan angkat buatan Belanda, mereka dapat menyusuri jalan Kali Besar yang salah satu sisinya dinaungi pohon-pohon besar.

Di sana mereka bisa melihat rumah-rumah peninggalan kaum ningrat Belanda. Menyusuri kawasan pecinan, mereka seperti diingatkan pada kota Venisia di Italia yang dipenuhi kanal.

Dari sana para pelancong dapat melihat aktivitas para pedagang Tionghoa hingga ke daerah Glodok. Jika puas berjalan-jalan, mereka bisa naik trem dari sana untuk kembali ke hotel dan menikmati sarapan.

Jika ingin menikmati kawasan Weltevreden, mereka bisa menggunakan dos-a-dos (sado) ke arah Noordwijk dan Rijswijk melewati jalan di belakang Istana Gubernur Jenderal (kini Istana Merdeka).

Menyusuri Waterloo Plein, mereka bisa melihat tangsi-tangsi militer, gereja Katolik Roma yang cantik dan monumen Jenderal Michiels. Melalui Willemslaan, mereka bisa meneruskan perjalanan ke sisi utara, barat dan selatan Koningsplein, melewati depan Istana, museum Batavian Society dan Physical Society, dan kediaman tuan residen.

Waterloo Plein 1920. (Istimewa)
Waterloo Plein 1920. (Istimewa)

Dari situ, pelancong bisa terus ke arah Prapatan, Kwitang, Kramat dan Salemba, lalu belok ke kanan melalui jembatan Matraman menuju Pegangsaan, yang dipenuhi vila-vila milik orang Inggris, dan Tjikini, dimana terdapat sebuah kebun binatang.

Kebun binatang Tjikini merupakan kebun binatang pertama yang ada sejak 1864 dan didirikan oleh Raden Salah yang akhirnya dipindah ke Ragunan pada tahun 1964.

Gerbang Kebun binatang Planten En Dierentuin di Cikini, Jakarta Pusat, tahun 1846. Foto: goodnewsfromindonesia.id
Gerbang Kebun binatang Planten En Dierentuin di Cikini, Jakarta Pusat, tahun 1846. Foto: goodnewsfromindonesia.id

Mereka dapat melanjutkan perjalanan ke Menteng, Kebon Sirih yang diteduhi pepohonan, terus ke Djati Bahroe, melewati kuburan Eropa di Tanah Abang, berbelanja di Rijswijk, lalu kembali ke hotel.

Rute lain yang lebih singkat adalah ke Meester-Cornelis (Jatinegara) dengan menumpang trem ke arah selatan. Sampai di terminal terakhir, pelancong bisa berjalan-jalan di bawah kerimbunan pohon di jalan besar menuju Bidara Tjina, lalu kembali ke terminal untuk menumpang trem dan kembali ke hotel.

Pemilik tanah Paviljoun berikutnya adalah Cornelis Chastelein, seorang anggota Dewan Hindia (1693).

Ia termasuk orang pertama di Indonesia yang berusaha mengembangkan sebuah perkebunan kopi di tengah-tengah kota Jakarta saat itu dengan memanfaatkan budak-budak yang diambilnya dari Bali.

Pada 1733, Yustinus Vinck membeli sebagian tanah Weltevreden dan membuka dua pasar besar, yakni Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang.

Pada tahun 1735, ia menghubungkan kedua pasar tersebut dengan sebuah jalan, yang sekarang disebut Jl. Prapatan dan Jl. Kebon Sirih yang juga merupakan jalur penghubung timur-barat pertama di Jakarta Pusat kini.

Pemilik berikutnya, Gubernur Jenderal Jacob Mossel (1704-1761), membangun rumah mewah di tikungan Ciliwung. Mossel juga menggali Kali Lio untuk memudahkan sekoci kecil mengangkut kebutuhan pasar. Pada 1767, rumah Weltevreden dibeli Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra.

Tanah itu kemudian dijual kembali pada Gubernur Jenderal VOC terakhir, Pieter Gerardus van Overstraten. Sejak masa itu, Weltevreden menjadi kedudukan resmi gubernur jenderal dan pemerintahannya.

Pada tahun 1809 Gubernur Jendral Herman Willem Daendels mendirikan Paleis van Daendels atau disebut juga Het Groote Huis.

Paleis van Daendels atau disebut juga Het Groote Huis. (Sumber: Commons Wikimedia)
Paleis van Daendels atau disebut juga Het Groote Huis. (Sumber: Commons Wikimedia)

Istana ini dirancang Kolonel J.C.Schultze, tetapi bangunan ini baru dapat diselesaikan pada 1826 dan 1828 oleh insinyur Tromp atas perintah Pejabat Gubernur Jenderal Du Bus de Ghisignies.

Istana yang besar dan megah itu ditempati oleh Departemen Keuangan Hindia Belanda sampai masa pendudukan Jepang, sebelum akhirnya menjadi kantor Departemen Keuangan Republik Indonesia.

Untuk latihan militer, Daendels mengalokasikan lapangan Buffelsveld (lapangan kerbau) yang kini menjadi Lapangan Monumen Nasional.

Lapangan itu juga biasa disebut Champs de Mars. Sesudah masa kuasa sementara Inggris (1818), lapangan itu diberi nama baru lagi, yakni Koningsplein (lapangan raja).

Lapangan itu dikelilingi oleh Museum Gajah, Istana Merdeka, serta Stasiun Weltevreden (sekarang Stasiun Gambir).

Pada tahun 1821 didirikan di Theater Schouwburg Weltevreden, yang sekarang disebut Gedung Kesenian Jakarta.

Theater Schouwburg Weltevreden, yang sekarang disebut Gedung Kesenian Jakarta.
Theater Schouwburg Weltevreden, yang sekarang disebut Gedung Kesenian Jakarta.

Pada tahun 1937, pemerintah kolonial mengesahkan sebuah rencana induk kota Batavia dengan Koningsplein (Lapangan Monas) sebagai pusatnya.

Rencana induk itu sendiri merupakan tindak lanjut dari dikukuhkannya Undang-Undang Desentralisasi tahun 1903 dan berbagai ordonansi tentang kewenangan lokal dalam pengaturan kota. Berbagai prasarana kota dalam skala makro pun mulai digarap.

Saluran pengendali banjir (banjir kanal) mulai dibangun dari Karet-Tanah Abang terus ke laut. Pembangunan Banjir Kanal telah direncanakan sejak 1870, tidak lama setelah Batavia dilanda banjir besar dan baru selesai pada tahun 1920.

Sementara itu, rel kereta api juga mulai dikembangkan. Dimulai dengan jalur tengah dan timur, kemudian ditambah jalur barat melalui Manggarai – Tanah Abang – Duri – Kota.

Pada masa penjajahan Jepang, kawasan yang dihitung sebagai Weltevreden adalah hampir seluruh daerah Jakarta Pusat saat ini. Bangunan peninggalan sejarah Belanda pun masih dapat kamu temukan di Jakarta Pusat.

Tak sedikit juga yang akhirnya dialihfungsikan sebagai bangunan untuk operasional Pemerintah Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Beberapa di antaranya adalah Schouwburg Weltevreden dan Gedung Post Telefon en Telegraf milik Pemerintah Hindia Belanda.

Schouwburg Weltevreden merupakan gedung konser yang berada di kawasan Sawah Besar yang kini lebih dikenal sebagai Gedung Kesenian Jakarta.

Sementara gedung Post Telefon en Telegraf adalah kantor pos yang sempat dijadikan sebagai Kantor Pos Pasar Baru sebelum akhirnya menjadi Gedung Filateli.

Lantas, ke mana masyarakat kolonial Belanda plesiran setelah Weltevreden beralihfungsi jadi pusat pemerintahan?

Belanda lalu mulai kembali mengeksplorasi kawasan lain di luar Jakarta, mencari area plesiran baru, hingga akhirnya menemukan destinasi wisata baru, yakni kawasan Puncak di Bogor, pada 1900-an.

Pos terkait