Halal bi Halal: Tradisi Genuine Khas Muslim Indonesia

Oleh: Murodi al-Batawi

Bagi Muslim Indonesia, Idul Fitri merupakan hari raya besar. Karena, mereka baru merayakannya selepas sebulan penuh berpuasa. Hal ini berbeda dengan negara di Timur Tengah, terutama Saudi Arabia. Muslim di sana baru menganggap Idul Adha adalah hari raya besar, karena ada mu’tamarbterbesar Muslim se dunia, yaitu ibadah haji.

Bacaan Lainnya

Setelah sebulan penuh Muslim Indonesia berpuasa, mereka lalu merayakan kemenangan dengan beridul fitri. Ada beberapa rangkaian acara sebelum mereka berlebaran, semisal persiapan pulang kampung atau mudik bagi para perantau.

Ada acara selamatan dengan mengundang muslim lainnya untuk datang ke rumah mereka, takbiran yang mereka lakukan hingga larut malam dan lain sebagainya. Dan biasanya pada setiap lembaga dan masjid menyelenggarakan kegiatan penerimaan dan penyakuran zakat fitrah, zakat mal, zakat profesi dan lain sebagainya.

Mereka menampung zakat dari masyarakat dan mendistribusikannya ke masyarakat, sesuai anjuran al- Qur’an 8 ashnaf, yang berhak menerimanya. Kegiatan ini dilakukan hingga menjelang shalat Idul Fitri. Selesai itu semua,

Muslim Indonesia, laki-laki, perempuan dan anak-anak datang ke masjid atau lapangan untuk melaksanakan kegiatan ibadah shakat Idul Fitri.

Kemudian, selesai melaksanakan shalat Idul Fitri, mereka bersalaman untuk saling meminta maaf stas kekeliruan dan kesalahan yang pernah mereka lakukan, sengaja atau tidak sengaja. Setelah itu, mereka semua pulang dengan perasaan senang gembira, karena kesalahan mereka sudah termaafkan.

Sesampainya di rumah, mereka sudah ditunggu dan disambut sanak keluarga dan handai tolan. Mereka bersalaman dan bersungkem ke orang tua atau yang dituakan. Lalu kemudian, mereka semua menyantap kuliner yang sudah disajikan yang dibuat sebelumnya.

Kemudian, bagi mereka yang tidak berkesempatan bertemu dan bermaafan pada saat itu, mereka merencanakan kegiatan halal bi halal keluarga besar. Dan biasanya kegiatan ini dilakukan beberapa hari setelah lebaran.

Sejarah Halal bi Halal

Ada beberapa versi mengenai sejarah pelaksanaan halal bi halal. Ada yang mengatakan bahwa kegiatan sejenis halal bi halal pernah dilakukan oleh Amangkurat I Pangeran Samber Nyawa. Ketimbang berkeliling dengan para punggawa dan prajurit, ia meminta panglima untuk mengundang para pejabat kerajaan Mataram datang ke istana.

Hak itu dilakukan untuk menghemat waktu dan tenaga. Ajhirnya seluruh punggawa dan prajutit datang ke istana raja untuk memohon ampun dan rajapun mau memaafkan kesalahan mereka.

Kemudian versi lain mengatakan sekira 1948, krisis politik di Indonesia kian meruncing. Antara satu pimpinan dengan pimpinan partai politik saling bertikai dan membuat presiden Soekarno pusing.

Karena usia Republik Indonesia baru seumur jagung, kabinet pemerintahan madih belum stabil. Akhirnya, ia berkonsultasi dengan ulama besar NU, KH. Wahab Hasbullah. Beliau menyarankan ke presiden Soekarno agar mengundang semua pimpinan patai politik datang ke istana.

Setelah pimpinan partai berkumpul semuanya di istana, mereka berkumpul sambil menyantap hidangan yang tersedia. Kemudian mendiskusikan keadaan Indonesia yang pada akhirnya, mereka bersedia saling memaafkan, dan bersedia bersatu kembali untuk membangun Negara Indonesia yang masih berusia muda.

Mereka kemudian menyebutnya kegiatan halal dengan cara halal, jadi Halal bi halal. Ini merupakan kegiatan halal bi halal untuk pertama kali yang dilaksanakan di istana negara. Sejak saat hingga kini, istana negara selalu mengadakan kegiatan halal bi halal setiap tahunnya. Kemudian diikuti oleh kementerian dan lembaga, organisasi dan masyarakat dengan keluarga besarnya.

Jadi, kita wajib merawat dan menjaga kegiatan halal bi halal ini untuk merajut benang kusut politik, terlebih setelah Pemilu Februari 2024, yang sedikit banyak telah menganggu sistem sosial politik kita.

Karena ia sebagai genuine produk Indonesia, sepatutnya kita jaga dengan baik, untuk menjaga kesatuan dan persatuan Republik Indinesia. Demi generasi anaj cucu kita selabjutnya.[odie].

Pamulang, 31 Maret 2024
Pukul 8.05

Pos terkait