Oleh Dr. H. Bambang Sutopo, S.E.I., M.M., Anggota Komisi C DPRD Kota Depok
Peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026, seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Ia adalah momentum refleksi kolektif: apakah arah pendidikan kita benar-benar telah memuliakan manusia, atau justru terjebak dalam rutinitas administratif yang kehilangan ruh?
Di tengah berbagai capaian pembangunan, kita dihadapkan pada paradoks pendidikan. Akses semakin terbuka, angka partisipasi meningkat, tetapi kualitas dan karakter belum sepenuhnya mengakar kuat. Kita menyaksikan fenomena generasi yang cerdas secara akademik, namun rapuh secara moral dan spiritual. Ini bukan semata persoalan kurikulum, melainkan persoalan orientasi.
Pendidikan sejatinya bukan sekadar proses transfer pengetahuan. Ia adalah proses memanusiakan manusia—proses menumbuhkan fitrah, mengembangkan potensi, dan memuliakan martabat setiap anak bangsa. Dalam perspektif ini, pendidikan harus kembali pada hakikatnya: menghadirkan ketulusan, kasih sayang, dan keteladanan sebagai fondasi utama.
Pengalaman panjang dalam membina Yayasan Pendidikan Ruhama sejak 1992 memberikan pelajaran penting: pendidikan yang berhasil bukan hanya yang menghasilkan lulusan berprestasi, tetapi yang mampu melahirkan manusia utuh—yang berpikir jernih, berhati bersih, dan berakhlak mulia.
Melalui pendekatan Sekolah Islam Terpadu dan pendidikan Al-Qur’an yang integratif, kami melihat bahwa integrasi antara ilmu, iman, dan amal bukanlah konsep normatif, melainkan kebutuhan nyata.
Di sinilah pentingnya keberanian untuk melakukan reposisi arah kebijakan pendidikan. Kita tidak cukup hanya berbicara tentang infrastruktur, digitalisasi, atau standar evaluasi. Yang lebih mendasar adalah memastikan bahwa seluruh ekosistem pendidikan—guru, kurikulum, kebijakan, hingga lingkungan belajar—berorientasi pada pembentukan karakter dan kemuliaan manusia.
Tema “Partisipasi Semesta” dalam Hardiknas tahun ini harus dimaknai secara substantif. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi gerakan bersama seluruh elemen bangsa: keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, dan dunia usaha. Kolaborasi ini harus dibangun bukan sekadar formalitas, tetapi sebagai sinergi yang hidup dan berdampak.
Pemerintah daerah juga memiliki peran strategis dalam memastikan pendidikan yang inklusif dan bermutu. Kebijakan harus adaptif terhadap perubahan zaman, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai dasar bangsa. Pendidikan tidak boleh kehilangan arah hanya karena mengejar tren global, tanpa mempertimbangkan jati diri dan kebutuhan lokal.
Hardiknas 2026 harus menjadi titik balik. Saatnya kita tidak hanya memperbaiki sistem, tetapi menghidupkan kembali ruh pendidikan. Kita butuh lebih dari sekadar sekolah yang baik; kita butuh ekosistem pendidikan yang memuliakan manusia.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya pada angka-angka statistik, tetapi pada kualitas manusia yang dihasilkan manusia yang mampu membawa peradaban menuju kebaikan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026.
Mari kita teguhkan komitmen, pendidikan untuk memuliakan manusia, dan mencerdaskan kehidupan bangsa secara utuh.
