Diperkirakan rawon hadir sejak masa Kerajaan Kanjuruhan yang berdiri pada tahun 860 Masehi.
DEPOKPOS – Siapa yang tidak mengenal rawon? Olahan daging khas Jawa Timur ini sudah pasti banyak disukai oleh semua orang. Rasanya yang gurih membuat hidangan yang satu ini menjadi menu “wajib” dikala acara-acara pernikkahan, hajatan atau acara-acara lainnya.
Bahan utama dari makanan ini adalah daging sapi dan tentunya bagian terpenting nya adalah “keluak”. Keluak memiliki rasa unik.
Warna yang diberikan keluak ini menjadi alasan penamaan hidangan tersebut. Rawon, berasal dari bahasa Jawa ,”rawa” yang memiliki arti “gelap”.
Nama ini mencerminkan warna kuah gelap yang didapat dari penggunaan keluak. Warna hitam tidak hanya menambah daya tarik visual pada hidangan tetapi juga memberikan rasa unik serta khas.
Rawon ternyata sudah ada sejak zaman kerajaan jawa, lama sekali bukan umur dari makanan yang satu ini. dalam prasasti Taji (901 M) yang ditemukan di dekat Ponorogo Jawa Timur ,tersebut kata rarawwan yang memiliki arti sayur rawon.
Karena dicatat pada sebuah prasasti, bisa disimpulkan bahwa sajian ini disantap oleh kalangan kerajaan yang mengeluarkan prasasti Taji itu.
Ada anggapan bahwa rawon yang sangat populer awalnya merupakan makanan rakyat, yang kemudian menjadi digemari juga oleh kalangan kerajaan.
Jika menarik garis lebih panjang ke belakang, maka bisa diperkirakan rawon hadir sejak masa Kerajaan Kanjuruhan yang berdiri pada tahun 860 Masehi.
Rawon sendiri bisa disebut sebagai masakan yang berasal dari soto kemudian ditambahkan kluwek.Bukti sejarah tentang keberadaan rawon sebagai santapan kuliner kerajaan juga datang dari catatan dalam Serat Wulangan Olah-olah Warna-warni, yaitu catatan resep koleksi Istana Mangkunegaran Surakarta yang dicetak pada 1926.
Sudah disebutkan bahwa sajian rawon identik dengan warna kuahnya yang hitam dan punya aroma khas. Tampilan itu berasal dari bahan bernama kluwak yang berasal dari pepohonan liar yang bijinya sering dijadikan bahan bumbu dapur oleh masyarakat Nusantara.
Dahulu,hanya orang dengan kasta bangsawan saja yang bisa menikmati olahan daging. Olahan daging jaman jawa kuno lebih bervariatif dari olahan daging yang kita kenal sekarang. Daging kerbau (kbo/hadangan), ayam (ayam) , bebek (andah) , angsa (angsa),babi hutan (wok), kijang (kidang) ,kambing (wdus), babi ternak (celeng), kera (wrai), kalong (kaluang), dan bahkan kura-kura merupakan hidangan“mewah” pada masa tersebut.
Perlu dicatat,level konsumsi daging antara rakyat dan istana berbeda.Rakyat lebih sering makan nasi dan ikan. Namun,dalam perayaan yang diadakan raja, misalnya penetapan sima, persediaan daging istana dibagi untuk rakyat.
Hal ini menandakan rawon,merupakan hidangan “mahal” pada jaman kerajaan kuno. Meskipun rawon pada masa tersebut mungkin saja tidak sama dengan rawon yang kita kenal di zaman sekarang, tapi penggunaan kluwak dari masa ke masa terhadap hidangan ini cukup untuk membuat kita berangan-angan akan rasa hidangan zaman klasik ini.
Kluwak beberapa kali disebut dalam Serat Centhini yaitu salah satu naskah sastra Jawa yang yang ditulis pada tahun 1735 Jawa dengan sengkalan atau angka tahun berbunyi tata guna swareng nata (tahun 1811 Masehi).
Serat Centhini ditulis oleh raja bekerjasama dengan para pujangga kraton. Salah satu raja yang dikenal pandai menulis dalam hal sastra Jawa adalah Paku Buwana V. Adapun salah satu hasil tulisan beliau yang menjadi karya besar adalah Serat Centhini tersebut. Serat Centhini dikenal juga sebagai buku ensiklopedia budaya Jawa.
Menurut sejarahnya, Rawon diolah dengan menggunakan daging kerbau. Namun, karena daging kerbau semakin sulit diakses, daging sapi menjadi pengganti umum digunakan dalam hidangan tersebut.
Metode memasak lambat digunakan dalam menyiapkan hidangan ini memastikan daging sapi menjadi empuk dan meresap ke dalam kaldu serta menciptakan cita rasa yang kaya. Rawon telah berkembang selama berabad-abad dengan variasi bahan dan cara pembuatannya.
Penambahan berbagai bumbu, bumbu berkontribusi pada keragaman rasa yang ditemukan di berbagai versi hidangan ini. Jika menyambangi warung rawon biasanya para pengunjung juga akan disajikan lauk tambahan seperti potongan usus, babat dan daging sapi.
Ternyata budaya lauk pelengkap ini berasal dari tradisi orang China yang memakan jeroan ketika mereka merantau ke Nusantara.
Itulah sejarah singkat rawon.Ternyata,makanan yang kerap kita jumpai memilki fakta sejarah yang menakjubkan ya,tentu sebagai anak bangsa kita harus bangga dong.
Ditulis oleh : Nabila zahwa
Mahasiswa Universitas Sayyid Ali Rahmatullah Tulunggagung