Oleh : Murodi Al Batawi
Idul Fitri Fitri atau Lebaran merupakan Hari Raya umat Islam , baik di Indonesia, maupun di dunia Islam lainnya, memilki sejarah yang cukup lama dan panjang.
Untuk pertama kali, perayaan Idul Fitri dilakukan umat Islam semasa Rasulullah saw masih hidup. Peristiwa itu terjadi pada tahun ke-2 H atau sekira tahun 642 M. Perayaan itu dilakukan setelah umat Islam memenangkan Perang Badar pada tahun ke-2 H yang terjadi pada Ramadhan tahun 624 M.
Kemenangan ini membuat umat Islam bersuka cita. Untuk merayakan kemenangan ini kemudian Rasulullah saw mengizinkan umat Islam merayakannya usai puasa Ramadhan. Bahkan Rasulullah saw sangat antusias merayakannya, sampai saat beliau berkhutbah pada Idul Fitri, saking lelah sehabis perang Badar, beliau bersandar pada Bilal bin Rabah. Sejak saat itu hingga kini, umat Islam melakukannya di setiap akhir Ramadhan.
Pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri yang perama kali dilakukan ini berpijak dari dua peristiwa yang terjadi pada masyarakat Arab.
Pertama, Peristiwa perayaan kemenangan umat Islam setelah selama satu bulan mereka bisa mengalahkan hawa nafsu diri meeka dan kemenangan dalam Perang Badar.
Kedua, Tradisi yang sudah lama dilakukan oleh bangsa Arab Jahiliyah, yaitu Nairuz dan Mahrajaan sebuah tradisi pesta pora masyarakat Arab Jahiliyah. Mereka bermabuk-mabukan.
Tapi Rasulullah saw melarang muslim meniru kebiasaan buruk Arab Jahiliyah tersebut. Sebab, dua tradisi itu merupakan tradisi masyarakat Persia yang ditiru masyarakat Arab Jahiliyah. Untuk itu kemudian Rasulullah saw mengganti dua tradisi Nairuz dan Mahrajaan dengan dua hari raya besar umat Islam; Idul Fitri dan Idul Adha.
Dalam merayakan hari raya tersebut, Rasul mewajibkan umat Islam mengisinya dengan berbuat kebajikan buat kemaslahatan umat manusia., antara lain, sebelum melaksanakan hari raya, umat Islam diwajibkan menunaikan membayar zakat fitrah dan zakat lainnya.
Semuanya untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat. Kemudian shalat Idul Fitri dan bermaaf maafan serta menikmati hidangan yang tersedia. Tradisi seperti ini terus dilakukan pada masa _al-Khulfa al-Rasyidun dan Dinasti Bani Umayah_.(661 M-750M)
Kemudian, pada masa pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah(750-1258) perayaan hari raya Idul Fitri dilakukan selama 3 hari dan diisi dengan berbagai kegiatan positif dan masyarakat memakan makanan yang disediakan masyarakat dan pemerintah Bani Abbasiyah.
Mereka berpakaian baru dan memakai wewangian. Hampir seluruh masyarakat muslim merayakannya, bahkan masyarakat non muslum banyak yang mengikuti acara mukbang tersebut. Mereka disajikan berbagai hiburan dari para seniman dan penyair yang sengaja didatangkan pemerintah saat itu untuk menghibur masyarakat.
Kemudian pada masa pemerintahan Dinasti Mamluk, pemerintah membagikan pakaian dan makanan untuk masyarakat yang sedang merayakan Idul Fitri.
Berbeda dengan Mamluk di Medir, pada masa pemerintahan Dinasti Mughal India (1526-1827) perayaan Idul Fitri dilakukan oleh raja dan pejabat negara dengan cara berkeliling kota Delhi diiringi dengan para panglima dan para pengawal istana dengan mengendarai gajah.
Sedangkan pada masa pemerintahan Turki Usmani, Sultan dan para ejabat setelah berbuka di akhir ramadhan, mengadakan pesta dengan menyalakan Meriam, sebuah kebanggan besar bagi masyarakat Turki, yang telah memiliki persenjataan modern yang dibeli dari Perancis.
Bahkan kemudian Turki membuat sendiri persenjataan tersebut. Karenanya tak heran Turki pada saat itu merupakan negara yang paling ditakuti oleh bangsa Eropa Kristen. Hampir setiap Idul Fitri, acara menyalakan sejata Meriam, menjadi agenda resmi negara.
Kemudian, penyambutan pelaksanaan Idul Fitri di Indonesia, sedikit agak berbeda dengan pelaksanaan di kerajaan atau kesultanan, seperti disebut di atas.
Umat Islam Indonesia, beragam cara dilakukannya. Mulai dari penyambutan sampai pelaksanaan Lebaran. Di penghijung malam bulan Ramadhan, ada masyarakat yang menyambutnya dengan Takbir, baik di medjid atau di luar masjid.
Bahkan ada tradisi yang sering disebut TARLING Takbir keliling. Mereka berkeliling untuk takbir hingga larut malam. Ada juga sebagian masyarakat yang menyambut kedatangan Idul Fitri dengan berkonvoy dan ada yang menyambutnya dengan membakar petasan.
Pagi hari, seluruh umat Islam, laku-laki dan perempuan yang tudak sedang _menstruasi_ berdatangan ke medjid atau ke lapangan untuk melaksanakan shalat Idul Futri. Setelah itu, bersalam untuk saling memafkan. Kemudian kembali ke rumah masing-masing memakan makanan yang sudah disediakan. Setelah itu ada yang berkunjung ke tetangga dan kerabat.
Baru setelah beberapa hari kemudian ada yang melaksanakan kegiatan Halal bi Halal. Dan Halal bi halal merupakan genuine produk Indonesia, yang bermanfaat untuk ajang silaturrahim. Masyarakat muslim Indonedia sangat antusias menyambut dan melaksanakan hari raya Lebaran. Ini merupakan tradisi baik yang mesti dipertahankan [odie].
Pamulang, 28 Maret 2024
Pukul 16.27