<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anak Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/anak/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jun 2025 06:06:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Anak Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/anak/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pelecehan Seksual Anak di Indonesia: Darurat Perlindungan yang Terabaikan</title>
		<link>https://jakpos.id/pelecehan-seksual-anak-di-indonesia-darurat-perlindungan-yang-terabaikan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2025 06:06:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Seksual]]></category>
		<category><![CDATA[pelecehan seksual]]></category>
		<category><![CDATA[Pelecehan Seksual Anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=89046</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Maraknya kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur menjadi persoalan serius yang&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pelecehan-seksual-anak-di-indonesia-darurat-perlindungan-yang-terabaikan/">Pelecehan Seksual Anak di Indonesia: Darurat Perlindungan yang Terabaikan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Maraknya kasus <a href="https://www.depokpos.com/2025/03/seniman-perempuan-di-jakarta-masih-hadapi-pelecehan-seksual-hingga-intelektual/">pelecehan seksual</a> terhadap anak di bawah umur menjadi persoalan serius yang terus mendapatkan sorotan publik. Orang tua semakin resah dan khawatir akan keamanan lingkungan sekitar anak-anak mereka. Fakta ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap anak masih belum maksimal.</p>
<p>Khususnya di Indonesia, <a href="https://www.depokpos.com/2024/12/stop-pelecehan-seksual-di-lingkungan-kampus/">pelecehan seksual</a> terhadap anak menjadi pusat perhatian berbagai organisasi perlindungan anak. Bagaimana tidak? Sejak awal tahun 2025, sudah banyak berita tentang kasus pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh berbagai oknum.</p>
<p>Salah satu kasus yang menyita perhatian terjadi di <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/anak-sekolah-masuk-jam-6-pagi-kang-dedi-ngadi-ngadi/">Sekolah</a> Dasar Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung, di mana polisi menetapkan seorang guru sebagai tersangka tindak pidana pencabulan. Kejadian ini membuktikan lemahnya pengawasan perlindungan anak di lingkungan pendidikan, yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi tumbuh kembang anak.</p>
<p>Menurut data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KEMENPPPA), jumlah kasus pelecehan seksual terhadap anak terus meningkat dari tahun ke tahun:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Data Kasus Kekerasan Seksual terhadap Anak (2020 – Juni 2025)</strong></p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-post-89046 wp-image-89047" src="https://res.cloudinary.com/dmshe0vyl/images/v1751263390/data10juni-FILEminimizer/data10juni-FILEminimizer.jpg?_i=AA" alt="" width="635" height="217" /></p>
<p>Dari data tersebut terlihat bahwa pada tahun 2020 hingga pertengahan 2025, kasus pelecehan terhadap anak mengalami peningkatan yang signifikan. Dalam lima bulan pertama tahun 2025 saja, sudah tercatat lebih dari 7.000 kasus. Angka yang mengkhawatirkan ini memperlihatkan bahwa sistem perlindungan anak di Indonesia masih sangat lemah.</p>
<p>Menteri PPPA,Arifatul Choiri Fauzi, menyoroti aspek kesehatan mental sebagai salah satu akar dari kekerasan seksual. Ia menyatakan, “Kekerasan seksual itu terjadi di mana-mana. Karen sebetulnya,kesehatan mental masyarakat kita dalam posisi yang sangat menghawatirkan” ungkapnya.</p>
<p>Sebagai langkah awal pencegahan, peran orang tua sangat krusial dalam membentuk pola pikir anak untuk menjaga diri,mengenali perilaku yang tidak pantas,memahami batasan tubuh mereka sendiri orang tua perlu memberikan pendidikan seks sesuai umur dan menciptakan kebiasaan komunikasi yang nyaman dan terbuka tanpa menghakimi. Anak harus merasa aman untuk bercerita jika mengalami atau melihat hal-hal mencurigakan.</p>
<p>Pelecehan seksual terhadap anak adalah kejahatan yang harus kita lawan bersama. Masyarakat,pemerintah,sekolah, dan keluarga harus menjadi garda terdepan dalam perlindungan anak. Dengan meciptakan lingkungan yang aman,edukatif,dan penuh empati bagi generasi masa depan Indonesia.</p>
<p>Sudah saatnya kita tidak lagi menutup mata. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan yang layak bagi generasi masa depan Indonesia.</p>
<p><em><strong>Jonathan Imanuel</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pelecehan-seksual-anak-di-indonesia-darurat-perlindungan-yang-terabaikan/">Pelecehan Seksual Anak di Indonesia: Darurat Perlindungan yang Terabaikan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/unair.ac.id/wp-content/uploads/2021/03/kekerasan-seksual-pada-anak.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Peran Orang Tua Dorong Kemandirian Finansial Anak Sejak Dini</title>
		<link>https://jakpos.id/pentingnya-peran-orang-tua-dorong-kemandirian-finansial-anak-sejak-dini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2025 13:32:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Finansial]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88919</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Kemandirian finansial perlu diajarkan sejak dini agar anak memiliki kebiasaan mengelola uang dengan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pentingnya-peran-orang-tua-dorong-kemandirian-finansial-anak-sejak-dini/">Pentingnya Peran Orang Tua Dorong Kemandirian Finansial Anak Sejak Dini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Kemandirian <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/rahasia-finansial-gen-z-7-strategi-cerdas-kelola-uang-sejak-dini/">finansial</a> perlu diajarkan sejak dini agar anak memiliki kebiasaan mengelola uang dengan baik. Orangtua berperan penting dalam mengenalkan konsep <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/peluang-bisnis-di-era-digital-bagi-generasi-muda/">uang</a> melalui pendekatan yang kreatif dan sesuai dengan seusianya. Selain itu orang tua juga harus mengajari anak tentang indahnya berbagi antar sesama dan tidak lupa juga terkait tanggung jawab <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/saatnya-mahasiswa-unpam-menjadi-agen-perubahan-sosial/">sosial</a> juga harus diajarkan. Dengan bimbingan orangtua yang konsisten, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bijak, dan bertanggung jawab secara finansial.</p>
<p>Kemandirian finansial akan menjadi bekal hidup penting yang seharusnya ditanamkan sejak anak usia dini. Di tengah kehidupan yang serba teknologi, anak-anak perlu dibimbing agar tidak hanya tahu cara membelanjakan uang, tetapi juga mengerti bagaimana mengelola uang tersebut mulai dari menyimpan, dan memanfaatkannya dengan bijak. Dalam hal ini, orangtua memegang peran utama dalam mengajarkan kemandirian finansial anak sejak dini. Pendidikan keuangan tidak perlu hal-hal yang rumit, tapi cukup lewat kebiasaan sehari-hari yang menyenangkan bagi anak.</p>
<p>Langkah pertama yang bisa dilakukan orangtua adalah mengenalkan konsep uang secara nyata. Anak dapat dilibatkan saat berbelanja, diberi penjelasan tentang harga barang, serta diajak membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Selain itu, permainan seperti Monopoli atau simulasi jual beli sederhana dapat menjadi alat belajar yang efektif dan menyenangkan.</p>
<p>Langkah berikutnya adalah mengajarkan anak membuat anggaran. Dari uang saku yang diberikan, anak dapat diarahkan untuk membagi uangnya ke dalam pos seperti tabungan, jajan, dan keperluan lainnya. Ini melatih mereka memahami prioritas dalam pengeluaran. Pada tahap yang lebih lanjut, anak juga bisa dikenalkan dengan konsep investasi secara sederhana, seperti menanam uang untuk membeli bahan kerajinan yang nantinya bisa dijual kembali.</p>
<p>Selain aspek teknis, nilai-nilai seperti berbagi dan tanggung jawab sosial juga harus ditanamkan. Anak diajarkan bahwa uang tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga bisa menjadi alat untuk membantu orang lain. Orangtua harus menjadi teladan dalam hal ini, anak akan meniru pola hidup dan kebiasaan yang mereka lihat setiap hari.</p>
<p><em>Muhamad Taji</em><br />
<em>S1-Akuntansi Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pentingnya-peran-orang-tua-dorong-kemandirian-finansial-anak-sejak-dini/">Pentingnya Peran Orang Tua Dorong Kemandirian Finansial Anak Sejak Dini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/disdikbud.acehtengahkab.go.id/media/2022.08/literasi_keuangan_parapuan1.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Multilingual vs Monolingual: Mana yang Lebih Mendukung Perkembangan Bahasa Anak?</title>
		<link>https://jakpos.id/multilingual-vs-monolingual-mana-yang-lebih-mendukung-perkembangan-bahasa-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2025 09:15:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Monolingual]]></category>
		<category><![CDATA[Multilingual]]></category>
		<category><![CDATA[Multilingual vs Monolingual]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88858</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Bahasa merupakan jembatan awal bagi anak untuk memahami dunia di sekitarnya. Melalui bahasa,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/multilingual-vs-monolingual-mana-yang-lebih-mendukung-perkembangan-bahasa-anak/">Multilingual vs Monolingual: Mana yang Lebih Mendukung Perkembangan Bahasa Anak?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Bahasa merupakan jembatan awal bagi anak untuk memahami dunia di sekitarnya. Melalui <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/fenomena-grammar-police-dan-dampaknya-terhadap-kepercayaan-diri-masyarakat-dalam-berbahasa-inggris/">bahasa</a>, mereka belajar berbicara, mengenali lingkungan, dan mengekspresikan perasaan. Dalam kehidupan modern yang semakin terhubung, anak-anak bisa tumbuh di <a href="https://www.depokpos.com/2025/06/benturan-budaya-anak-desa-beradaptasi-di-lingkungan-baru/">lingkungan</a> berbahasa tunggal (monolingual) atau lingkungan yang menggunakan beberapa bahasa (multilingual). Tapi, di antara keduanya, mana yang lebih mendukung perkembangan bahasa anak?</p>
<p><a href="https://www.depokpos.com/2025/06/pengaruh-lingkungan-sekitar-terhadap-kesehatan-mental-remaja/">Lingkungan</a> monolingual sering dianggap memberikan kestabilan dalam hal pembelajaran bahasa. Anak-anak yang hanya terpapar satu bahasa biasanya lebih cepat dalam menguasai bahasa tersebut karena tidak perlu membagi perhatian ke sistem bahasa lain. Hal ini tentu menguntungkan terutama di masa awal perkembangan, saat mereka sedang menyerap kosakata, tata bahasa, dan cara pengucapan. Namun, keterbatasan pada satu bahasa bisa menjadi hambatan ketika anak mulai berinteraksi dalam masyarakat yang lebih majemuk.</p>
<p>Di sisi lain, anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan multilingual terbiasa mendengar dan menggunakan beberapa bahasa dalam keseharian mereka. Paparan ini memperkaya kemampuan bahasa mereka dan melatih otak untuk berpikir lebih fleksibel. Berbagai riset menunjukkan bahwa anak yang bilingual atau multilingual cenderung memiliki kemampuan analisis yang lebih tajam, lebih peka terhadap struktur bahasa (metabahasa), dan lebih cepat beradaptasi. Meskipun di awal mereka mungkin terlihat lambat dalam satu bahasa tertentu, dalam jangka panjang mereka unggul dalam memahami konteks dan makna komunikasi.</p>
<p>Meski begitu, lingkungan multilingual tetap memiliki tantangannya. Jika tidak diarahkan dengan baik, anak bisa bingung membedakan bahasa atau mencampuradukkan tata bahasa yang berbeda. Oleh karena itu, peran orang tua dan pendidik sangat krusial dalam membantu anak menggunakan setiap bahasa dengan tepat sesuai konteksnya.</p>
<p>Jadi, apakah harus memilih antara lingkungan monolingual atau multilingual? Sebenarnya, bukan soal memilih yang satu dan meninggalkan yang lain. Kuncinya adalah menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan bahasa anak secara sehat dan seimbang. Lingkungan monolingual bisa memperkuat keterikatan anak pada bahasa ibu, sementara multilingual memberi peluang luas untuk menjalin relasi global dan memahami keragaman budaya.</p>
<p>Yang paling penting adalah memberi anak kesempatan untuk berkembang sesuai ritmenya, tanpa tekanan berlebihan. Karena, bahasa bukan sekadar alat komunikasi tetapi juga sarana anak untuk mengenali diri dan dunia di sekitarnya. Lingkungan yang merangsang pertumbuhan bahasa secara menyeluruh akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang terbuka, percaya diri, dan siap menghadapi dunia yang penuh warna.</p>
<p><em><strong>Azalia Davina</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/multilingual-vs-monolingual-mana-yang-lebih-mendukung-perkembangan-bahasa-anak/">Multilingual vs Monolingual: Mana yang Lebih Mendukung Perkembangan Bahasa Anak?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/language200.wordpress.com/wp-content/uploads/2016/02/cropped-cropped-untitled-document.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Teknologi: Jembatan Akses atau Hambatan dalam Membaca Anak?</title>
		<link>https://jakpos.id/teknologi-jembatan-akses-atau-hambatan-dalam-membaca-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2025 03:04:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88757</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Membaca merupakan kegiatan proses memahami makna dari simbol tertulis, baik huruf, tanda baca,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/teknologi-jembatan-akses-atau-hambatan-dalam-membaca-anak/">Teknologi: Jembatan Akses atau Hambatan dalam Membaca Anak?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Membaca merupakan kegiatan proses memahami makna dari simbol tertulis, baik huruf, tanda baca, maupun spasi. Dengan Membaca, kita dapat memperoleh pengetahuan, wawasan , dan pemahaman tentang dunia di sekitar kita, bahkan tanpa harus melakukan perjalanan atau pengalaman langsung.</p>
<p>Karena, Membaca adalah Jendela Dunia. Membaca buku sangat penting karena dapat memberikan pemahaman tentang dunia dan dapat memberikan perkembangan hidup.</p>
<p>Kemajuan teknologi saat ini merupakan anugerah karena memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Teknologi juga dapat memudahkan berbagai aktivitas seperti saat ini. dengan teknologi juga kita bisa membaca melalui gadget. Serta tidak lagi harus selalu membawa buku kemana-mana dan bisa membaca dimana pun dan kapan pun.</p>
<p>Dengan adanya teknologi juga dapat membantu proses membaca dan belajar anak-anak dengan akses yang mudah, fitur yang menarik, dan juga terdapat banyak sumber-sumber informasi terkait pembelajaran melalu digital.</p>
<p>Akan tetapi di satu sisi, pentingnya peran Orang tua dalam memberikan teknologi kepada anak-anak saat ini menjadi penting karena teknologi sangat mudah sekali dijangkau dan diakses oleh kalangan anak-anak. serta tingkat ketergantungan anak pada gadget saat ini sudah mulai menjadi serius karena semangat anak- anak dalam membaca kalah dengan lamanya anak bermain gadget.</p>
<p>Di era dengan Perkembangan zaman yang sangat berbau teknologi saat ini, tingkat populasi minat dalam membaca sangat tergolong rendah. ‘’Minat baca di Indonesia, menurut data UNESCO, sangat rendah, dengan indeks hanya 0,001%. Ini berarti, dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Data ini menunjukkan bahwa budaya membaca di Indonesia masih perlu ditingkatkan secara signifikan’’ Hal ini dilansir dari UNESCO saat meneliti minat baca di Indonesia yang terbilang sangat rendah.</p>
<p>Jika dilihat dalam penelitian UNESCO tentang rendahnya tingkat membaca di Indonesia, ini menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan Bersama. Baik pihak Pemerintah, Tokoh Masyarakat, peran Orang tua, Mahasiswa, dan semua penduduk negara ini. Karena Membaca adalah awal dari banyak hal, membaca bagian awal dari tumbuhnya ide, karakter, dan masa depan. Juga dengan membaca mampu memajukan sebuah negara serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.</p>
<p>Beberapa faktor yang menyebabkan anak memiliki ketergantungan pada gadget disebabkan oleh dua faktor yaitu:</p>
<h3>Faktor Internal</h3>
<p><strong>⦁ Minat anak:</strong><br />
Jika anak tidak memiliki minat baca yang kuat, mereka cenderung lebih tertarik pada konten digital yang lebih atraktif dan mudah dicerna.</p>
<p><strong>⦁ Kecanduan:</strong><br />
Penggunaan gadget yang berlebihan dapat menyebabkan kecanduan, membuat anak sulit lepas dari perangkat dan enggan melakukan aktivitas lain, termasuk membaca.</p>
<p><strong>⦁ Kontrol diri rendah:</strong><br />
Beberapa anak memiliki kontrol diri yang kurang baik, sehingga sulit untuk membatasi waktu penggunaan gadget dan beralih ke aktivitas lain.</p>
<p><strong>⦁ Gangguan psikologis:</strong><br />
Masalah psikologis seperti depresi atau kecemasan juga bisa menjadi faktor pemicu kecanduan gadget, menurut Alodokter.</p>
<h3>Faktor Eksternal</h3>
<p><strong>⦁ Pengawasan orang tua:</strong><br />
Kurangnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan gadget anak dapat menyebabkan mereka terpapar konten yang tidak sesuai usia dan menghabiskan waktu terlalu lama di depan layar.</p>
<p><strong>⦁ Konten digital yang menarik:</strong><br />
Konten digital, seperti video game atau media sosial, seringkali dirancang untuk menarik perhatian dan membuat anak betah berlama-lama.</p>
<p><strong>⦁ Kurangnya kegiatan alternatif:</strong><br />
Jika anak tidak memiliki banyak kegiatan alternatif yang menarik di dunia nyata, mereka cenderung akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget.</p>
<p><strong>⦁ Tekanan teman sebaya:</strong><br />
Tekanan dari teman sebaya yang juga kecanduan gadget dapat membuat anak merasa terdorong untuk mengikuti gaya hidup yang sama.</p>
<p>Kemajuan teknlogi memberikan kemudahan luar biasa dalam mengakses informasi, termasuk dalam kegiatan membaca. Anak- anak kini bisa membaca kapan saja dan di mana saja melalui perangkat digital seperti gadget, yang tentunya lebih efisien dan lebih praktis di bandingkan dengan membawa buku fisik. Namun, kemudahan ini memilki dua sisi.</p>
<p>Di satu sisi, teknologi dapat menjadi jembatan akses menuju dunia membaca dengan berbagai fitur dan sumber pembelajaran yang menarik. Di sisi lain, teknologi juga bisa menjadi hambatan yang serius ketika penggunaannya tidak diawasi, terutama bagi anak-anak yang mudah terdistraksi oleh konten digital yang bersifat hiburan sehingga mengakibatkan anak menjadi malas untuk membaca dibandingkan dengan bermain gadget.</p>
<p>Saran saya sebagai penulis di sini ingin mengajak semua terutama peran orang tua , guru dan pemerintah untuk melihat betapa pentingnya dalam kita membangun minat membaca pada anak-anak. orang tua wajib mengawasi dan membatasi penggunaan gadget pada anak-anak dirumah, juga ketika di sekolah guru mewajibkan agar penggunaan gadget pada jam pembelajaran dilarang agar anak-anak mampu mempunyai pemikiran kritis untuk memecahkan suatu masalah dikelas.</p>
<p>Dan dengan mudahnya akses pada penggunaan gadget semoga pemerintah dapat membuat kebijakan membuat program literasi nasional berbasis komunitas dan membuat Program Subsidi Buku dan Perpustakaan Digital Gratis.yang karena dengan minat membaca yang tinggi maka akan banyak melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi serta mampu membangun masa depan Indonesia lebih baik lagi di era generasi mendatang.</p>
<p><em>Intan Marina</em><br />
<em>Prodi S1 Akuntansi Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/teknologi-jembatan-akses-atau-hambatan-dalam-membaca-anak/">Teknologi: Jembatan Akses atau Hambatan dalam Membaca Anak?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/untag-sby.ac.id/uploads/artikel/Cara-mengatasi-Anak-kecanduan-gadget-atau-hp.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Ketergantungan Anak pada Media Sosial Sejak Dini</title>
		<link>https://jakpos.id/ketergantungan-anak-pada-media-sosial-sejak-dini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Jun 2025 05:44:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88468</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOPOS &#8211; Perkembangan teknologi memberikan dampak besar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak. Pada usia&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ketergantungan-anak-pada-media-sosial-sejak-dini/">Ketergantungan Anak pada Media Sosial Sejak Dini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOPOS</strong></a> &#8211; Perkembangan teknologi memberikan dampak besar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak. Pada usia yang seharusnya diisi dengan interaksi langsung dan permainan fisik, kini banyak anak justru tenggelam dalam dunia media sosial, bahkan sebelum mereka cukup dewasa untuk memahaminya.</p>
<p>Fenomena ini menunjukkan adanya ketergantungan sejak dini, yang tidak hanya memengaruhi perkembangan emosional dan sosial, tetapi juga dapat menimbulkan gangguan perilaku di masa mendatang.</p>
<h3>Peran Orang Tua</h3>
<p>Orang tua memiliki peran utama dalam membentuk kebiasaan digital anak. Anak belajar melalui contoh, sehingga perilaku orang tua dalam menggunakan gawai pun berpengaruh besar. Oleh karena itu, pengawasan dan pendampingan sangat diperlukan. Orang tua perlu memperkenalkan batasan penggunaan gawai sejak dini serta memberikan pemahaman tentang konten yang layak dan tidak layak diakses.</p>
<p>Selain itu, keterlibatan orang tua dalam aktivitas sehari-hari anak seperti bermain, membaca, atau berdiskusi ringan dapat menjadi alternatif yang lebih sehat dibandingkan penggunaan gawai secara terus-menerus.</p>
<h4>Solusi untuk Mengurangi Ketergantungan Anak pada Media Sosial</h4>
<p><strong>1. Membatasi Waktu Penggunaan</strong><br />
Terapkan aturan waktu penggunaan gawai, misalnya hanya 1 jam per hari. Gunakan fitur pengawasan orang tua untuk membantu mengatur durasi.</p>
<p><strong>2. Menciptakan Zona Bebas Gawai</strong><br />
Tetapkan area tertentu di rumah, seperti ruang makan atau kamar tidur, sebagai zona tanpa gawai agar anak dapat fokus pada interaksi nyata.</p>
<p><strong>3. Mengalihkan pada Kegiatan Positif</strong><br />
Ajak anak mengikuti kegiatan fisik seperti olahraga, menggambar, atau kegiatan sosial agar mereka tidak hanya bergantung pada media digital.</p>
<p><strong>4. Menjadi Teladan yang Baik</strong><br />
Orang tua perlu menunjukkan perilaku yang bijak dalam menggunakan media sosial. Keteladanan adalah pendidikan yang paling efektif.</p>
<p><em>Siti Latifhatul Rohmah<br />
Fakultas Ekonomi dan Bisnis-Prodi Akuntansi Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ketergantungan-anak-pada-media-sosial-sejak-dini/">Ketergantungan Anak pada Media Sosial Sejak Dini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/www.itworks.id/wp-content/uploads/2018/07/kids-social-media.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Dampak dari Kurangnya Ruang Kreatif dan Kebebasan Bermain pada Anak di Era Digital</title>
		<link>https://jakpos.id/dampak-dari-kurangnya-ruang-kreatif-dan-kebebasan-bermain-pada-anak-di-era-digital/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2025 01:36:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Bermain]]></category>
		<category><![CDATA[Era Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang Kreatif]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=87905</guid>

					<description><![CDATA[<p>Permainan tradisional pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak-anak Indonesia. Dari gobak sodor, bentengan, hingga congklak</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dampak-dari-kurangnya-ruang-kreatif-dan-kebebasan-bermain-pada-anak-di-era-digital/">Dampak dari Kurangnya Ruang Kreatif dan Kebebasan Bermain pada Anak di Era Digital</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Di era digitalisasi yang serba cepat dan penuh dengan gadget canggih, dunia anak-anak mengalami perubahan drastis. Dari cara belajar, bermain, hingga berinteraksi sosial, semuanya kini kian dipengaruhi oleh teknologi. Meski membawa banyak kemudahan, ada sisi gelap yang sering luput dari perhatian: kurangnya ruang kreatif dan kebebasan bermain bagi anak-anak. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi kebahagiaan mereka, tetapi juga mengancam perkembangan imajinasi dan keterampilan sosial yang menjadi fondasi penting dalam tumbuh kembang anak.</p>
<p>Permainan tradisional pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak-anak Indonesia. Dari gobak sodor, bentengan, hingga congklak—permainan ini tidak hanya menghibur, tapi juga mengajarkan kerja sama, sportivitas, dan empati. Namun, dalam dua dekade terakhir, permainan tradisional perlahan menghilang, tergantikan oleh gawai dan game digital yang bersifat individualistik.</p>
<p>Dampaknya tidak sekadar nostalgia yang hilang, tetapi juga krisis dalam perkembangan sosial, emosional, dan budaya generasi muda. Ini bukan sekadar urusan hiburan anak, tapi menyangkut masa depan masyarakat sebagai komunitas yang terhubung secara sosial dan kultural.</p>
<p>Sosiolog Emile Durkheim menyatakan bahwa masyarakat terbentuk melalui interaksi sosial yang teratur dan bermakna. Dalam konteks anak-anak, permainan adalah bentuk interaksi paling dasar yang memperkenalkan nilai-nilai seperti giliran, aturan, toleransi, dan solidaritas., bermain bukan sekadar aktivitas menyenangkan, melainkan proses penting bagi anak dalam memahami dunia dan dirinya sendiri. Bermain menyediakan ruang bagi anak untuk mengekspresikan kreativitas, belajar berempati, berkolaborasi, serta mengasah kemampuan problem solving. Melalui bermain, anak belajar mengelola konflik, memahami peran sosial, dan membangun rasa percaya diri.</p>
<p>Sayangnya, di zaman digital, banyak anak lebih memilih bermain gadget yang cenderung pasif dibanding bermain secara fisik dan kreatif. Hal ini diperparah dengan semakin sempitnya ruang terbuka hijau, taman, dan area bermain yang aman dan nyaman di lingkungan sekitar.</p>
<p>Kondisi ini melahirkan apa yang bisa disebut sebagai “krisis imajinasi.” Anak-anak yang terlalu banyak terpaku pada layar digital cenderung mengalami penurunan kemampuan untuk berimajinasi dan berkreasi secara bebas.Tak bisa dimungkiri, game digital menawarkan daya tarik yang besar: visual menarik, skor instan, dan kompetisi yang menantang. Tapi banyak di antaranya bersifat individual atau kompetitif tanpa relasi emosional. Bahkan dalam game daring (online), kerja sama lebih sering berdasarkan strategi menang, bukan empati atau kebersamaan.</p>
<p>Selain itu, pola pembelajaran yang masih seragam dan berorientasi pada jawaban benar-salah membuat ruang untuk kreativitas makin terbatasi. Anak-anak lebih fokus pada hasil dan nilai, daripada proses eksplorasi dan eksperimen yang sebenarnya dapat menstimulasi imajinasi dan kemampuan berpikir kritis.</p>
<p>Keterbatasan ruang bermain fisik dan dominasi interaksi digital juga berdampak pada keterampilan sosial anak. Bermain secara langsung dengan teman sebaya memberi kesempatan untuk belajar negosiasi, empati, hingga mengelola emosi dalam konteks nyata. Tanpa interaksi sosial yang cukup, anak bisa mengalami kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat di masa depan.</p>
<p>Lebih jauh, keterampilan komunikasi verbal dan nonverbal yang berkembang melalui permainan fisik cenderung berkurang bila anak lebih banyak berinteraksi secara digital. Hal ini dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk memahami ekspresi dan bahasa tubuh orang lain, yang sangat penting dalam hubungan sosial.</p>
<p>Untuk mengatasi krisis imajinasi dan keterampilan sosial anak, diperlukan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah harus menyediakan ruang bermain yang aman dan mudah diakses, sementara orang tua perlu membatasi penggunaan gadget dan mendorong eksplorasi kreatif. Di sekolah, sistem pendidikan harus menyeimbangkan pembelajaran akademik dengan aktivitas yang merangsang imajinasi, seperti proyek kreatif dan permainan edukatif.</p>
<p>Peran komunitas dan media juga krusial. Komunitas dapat mengadakan kegiatan seperti klub seni atau festival anak-anak untuk memupuk kreativitas, sedangkan media berperan dalam menyosialisasikan pentingnya bermain bagi perkembangan anak. Dengan sinergi ini, anak-anak dapat tumbuh dengan imajinasi yang kaya dan keterampilan sosial yang matang.</p>
<p>Imajinasi dan keterampilan sosial adalah fondasi penting yang membentuk kualitas manusia masa depan. Membatasi ruang kreatif dan kebebasan bermain anak sama dengan menghambat potensi generasi penerus bangsa. Oleh sebab itu, menjadi tanggung jawab bersama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara utuh—bukan hanya sebagai pembelajar akademik, tapi sebagai pribadi kreatif, sosial, dan empatik.</p>
<p>Dengan memberikan ruang dan waktu yang cukup untuk anak bermain dan berimajinasi, kita sedang berinvestasi pada masa depan bangsa yang lebih inovatif, inklusif, dan berdaya saing.</p>
<p><em>Sherly Agnitya</em><br />
<em>Mahasiswa Universitas Pamulang</em><br />
<em>Program Studi Akuntansi S1</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dampak-dari-kurangnya-ruang-kreatif-dan-kebebasan-bermain-pada-anak-di-era-digital/">Dampak dari Kurangnya Ruang Kreatif dan Kebebasan Bermain pada Anak di Era Digital</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/asset.kompas.com/crops/JSevcavFEBJuxwQbNmMm5x9YxV0=/38x69:838x602/1200x800/data/photo/2020/07/23/5f18d345cb9dd.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Peran Orang Tua Dalam Membangun Komunikasi Efektif pada Anak dalam Keluarga</title>
		<link>https://jakpos.id/peran-orang-tua-dalam-membangun-komunikasi-efektif-pada-anak-dalam-keluarga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Dec 2023 08:01:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Efektif]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62188</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Komunikasi merupakan salah satu fungsi manusia dalam kehidupan disamping fungsi yang lain. Melalui’komunikasi&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/peran-orang-tua-dalam-membangun-komunikasi-efektif-pada-anak-dalam-keluarga/">Peran Orang Tua Dalam Membangun Komunikasi Efektif pada Anak dalam Keluarga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Komunikasi merupakan salah satu fungsi manusia dalam kehidupan disamping fungsi yang lain. Melalui’komunikasi seseorang dapat menyampaikan apa yang ada dalam pikiran atau perasaan kepada orang lain. Komunikasi juga adalah cara membangun ikatan atau ‘hubungan yang kuat dengan orang lain, termasuk antara orang tua dan anaknya. Komunikasi’ yang harmonis dalam keluarga adalah bagian dari proses pendidikan, penanaman nilai-nilai ajaran agama dan akhlak. Untuk itu interaksi komunikasi dalam keluarga antara orang tua sangat penting untuk membantu terbentuknya karakter sang anak.</p>
<p>Tujuan ‘komunikasi dalam Islam tidak sekedar sampainya pesan dan terjadinya perubahan sikap serta perilaku yang saling berinteraksi, tetapi terwujudnya kemaslahatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Pola’ komunikasi yang efektif dalam keluarga perlu dibangun agar terjalin hubungan yang harmonis dan tercipta saling memiliki serta menghargai’ antar anggota ‘keluarga. Karna dengan adanya keluarga harmonis dapat menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah.</p>
<p>Al-Qur’an sebagai’ kitab suci yang memberikan petunjuk kepada umat’ Islam dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, tidak saja berisi pokok ajaran tentang aqidah dan syariat, tetapi juga menyinggung aspek kehidupan sebagai makhluk sosial, diantaranya memberikan isyarat dalam berbagai ayat tentang cara ‘berkomunikasi yang efektif. Kemampuan’ komunikasi seorang anak’ tergantung dari kata dan’ stimulus yang di dapatkan dalam keseharian dari orang terdekatnya, dalam hal ini diantaranya adalah orang tua serta anggota keluarga lainnya. Dalam Islam orang tua juga memiliki peranan penting dalam membimbing dan mendidik, sejak dalam kandungan sampai menjelang dewasa, kewajiban orang tua merawat dan memelihara baik dari segi kesehatan fisik, mental dan sosial serta perkembangannya.</p>
<p>Al-Qur’an’ memberikan isyarat tentang enam bentuk komunikasi efektif ‘yang dapat dijadikan acuan para orang tua dalam membangun komunikasi dengan anaknya, isyarat tersebut adalah: Qaulan Sadiida (perkataan yang benar), Qaulan’ Baligha (Perkataan yang Membekas Pada Jiwa), Qaulan’ Layyina (Perkataan yang Lemah Lembut), Qaulan’ Ma’rufa (menyenangkan hati), Qaulan’ Kariima (perkataan yang mulia), Qaulan’ Maisuura (Mudah Dimengerti)</p>
<p>Oleh karna itu dalam’ konteks pendidikan, keluarga adalah tuntunan bagaimana seharusnya orang tua berbicara kepada anaknya sejak’ usia dini, yaitu dengan lemah’ lembut, ‘memperlakukan anaknya dengan arif dan bijak, ‘sehingga tertanam dalam jiwa anak dan anggota keluarga’ ujaran yang baik.</p>
<p>Siti Sekar Puspitasari<br />
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/peran-orang-tua-dalam-membangun-komunikasi-efektif-pada-anak-dalam-keluarga/">Peran Orang Tua Dalam Membangun Komunikasi Efektif pada Anak dalam Keluarga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/tabungamal.id/assets/frontend/img/berita/Komunikasi-Efektif-Orang-Tua-dan-Anak1644811845.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Dampak Negatif Strict Parents pada Perkembangan Anak</title>
		<link>https://jakpos.id/dampak-negatif-strict-parents-pada-perkembangan-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Dec 2023 10:12:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[Strict Parents]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61984</guid>

					<description><![CDATA[<p>Strict parents adalah pola asuh orang tua yang cenderung menerapkan banyak peraturan, ketentuan, standar, dan tuntutan terhadap anaknya</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dampak-negatif-strict-parents-pada-perkembangan-anak/">Dampak Negatif Strict Parents pada Perkembangan Anak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em><strong>Strict parents adalah</strong> pola asuh orang tua yang cenderung menerapkan banyak peraturan, ketentuan, standar, dan tuntutan terhadap anaknya</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Sebagian anak menganggap bahwa strict parents itu seperti penjara, karena terikat aturan orang tua yang ketat, sehingga tidak bebas untuk melakukan suatu hal. Seperti tidak boleh pulang malam, kalau main atau pergi sama teman harus izin, tidak boleh main terlalu jauh, dan harus selalu memberi kabar kepada orang tua. Yups! Itulah anak strict parents. Anak strict parents cenderung jarang keluar rumah sehingga sulit untuk bergaul ataupun bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, selalu menuruti perkataan ataupun perintah orang tua, memiliki sifat pemalu, serta memiliki kepercayaan diri yang rendah.</p>
<p><strong>Strict parents adalah</strong> pola asuh orang tua yang cenderung menerapkan banyak peraturan, ketentuan, standar, dan tuntutan terhadap anaknya. Mereka menetapkan aturan yang ketat dan mengharapkan anaknya untuk mematuhi aturannya tanpa penjelasan yang objektif. Mereka juga sering tidak peka terhadap kebutuhan atau perasaan anaknya dan hanya mementingkan egonya sendiri. Mereka tidak menyadari bahwa anaknya bukan anak kecil lagi melainkan sudah dewasa.</p>
<p>Beberapa orang tua menerapkan pola asuh ini dengan menetapkan aturan yang ketat dan tegas, mengawasi setiap kegiatan anak, dan membatasi kebebasan anak dengan harapan agar anaknya tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, disiplin, dan sukses. Meskipun tujuan mereka baik, pola asuh ini jika dilakukan secara berlebihan dapat menimbulkan dampak yang kompleks pada anak.</p>
<h3>Dampak Positif Strict Parents</h3>
<p>Dampak positif anak dengan pola asuh strict parents yaitu cenderung memiliki disiplin yang tinggi. Mereka diajarkan untuk menghormati dan mengikuti aturan yang ditetapkan oleh orang tuanya. Hal tersebut dapat membantu mereka menjadi individu yang bertanggung jawab dan teratur dalam menjalani kehidupan sehari-hari.</p>
<h3>Dampak Negatif Strict Parents</h3>
<p>Anak dengan pola asuh strict parents mungkin merasa terkekang dan tidak memiliki kebebasan untuk mengeksplor minat dan bakat mereka. Mereka merasa berada dibawah tekanan karena harapan yang tinggi dari orang tua. Hal ini dapat mempengaruhi kreativitas dan kemampuan mereka dalam mencapai cita-cita yang mereka inginkan, sulit untuk membuat keputusan dan mengatur emosi.</p>
<p>Secara emosional, anak dengan pola asuh strict parents sulit untuk mengungkapkan perasaan dan pemikirannya kepada orang tua mereka, karena takut akan penilaian orang tua terhadap mereka. Selain itu, mereka juga merasakan tekanan yang berlebihan, merasa tidak puas dengan diri mereka sendiri jika tidak memenuhi harapan orang tuanya. Sehingga hal tersebut dapat menyebabkan stres, rasa cemas, dan rendahnya harga diri.</p>
<p>Berdasarkan komentar-komentar yang pernah saya baca di media sosial seperti tik tok ataupun instagram, menurut beberapa orang khususnya anak perempuan mengatakan bahwa menjadi anak strict parents tidaklah terlalu buruk, mereka merasa bahwa mereka dijaga oleh orang tua mereka dan hal tersebut merupakan bentuk kasih sayang atau perhatian orang tua terhadap anaknya, sehingga mereka terhindar dari hal-hal buruk dan menjadi pribadi yang bertanggung jawab.</p>
<p>Tetapi sebagian dari mereka mengatakan bahwa mereka merasa tertekan oleh aturan orang tua, merasa bosan, terkekang, jenuh dan iri ketika melihat orang lain yang dengan bebas dapat bergaul dan bermain dengan teman-temannya tanpa waktu yang dibatasi dan aturan yang ditetapkan, mereka juga mempunyai impian yang ingin dicapai, serta dapat menentukan jalan hidupnya sendiri. Sedangkan kehidupan anak strict parents dikendalikan oleh orang tua mereka sejak kecil.</p>
<p>Menurut saya, menjadi anak strict parents bukanlah sebuah kekangan tetapi sebuah kasih sayang dari orang tua kepada anaknya dan demi kebaikan anaknya, tetapi orang tua juga harus mengimbangi dengan komunikasi yang terbuka, memahami kebutuhan dan kepribadian anak sehingga terjalin hubungan yang baik pula. Kita sebagai anak juga harus mengimbangi dengan memiliki prinsip dan batasan untuk menjaga diri sendiri.</p>
<p>Orang tua dengan pola asuh strict parents memiliki tujuan yang baik dalam mendidik anaknya yaitu dapat membantu anak menjadi individu yang bertanggung jawab dan teratur. Namun, orang tua juga harus memperhatikan dampak yang mungkin terjadi kepada anak. Sebagai anak, kita juga harus tetap menjaga keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab. Sehingga dengan kerjasama tersebut dapat mencapai hubungan yang sehat antara orang tua dan anak.</p>
<p>Febrina Nabilah Saputri<br />
Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/dampak-negatif-strict-parents-pada-perkembangan-anak/">Dampak Negatif Strict Parents pada Perkembangan Anak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/www.noice.id/wp-content/uploads/2022/10/Strict-parents-Noice-Envato.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pola Asuh pada Anak menurut Perspektif Psikologi Islam</title>
		<link>https://jakpos.id/pola-asuh-pada-anak-menurut-perspektif-psikologi-islam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Dec 2023 02:38:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Asuh]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61733</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Sebagai orang tua, salah satu tujuan terbesar kita adalah membantu anak-anak kita tumbuh&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pola-asuh-pada-anak-menurut-perspektif-psikologi-islam/">Pola Asuh pada Anak menurut Perspektif Psikologi Islam</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Sebagai orang tua, salah satu tujuan terbesar kita adalah membantu anak-anak kita tumbuh menjadi individu yang tangguh dan seimbang. Dalam mengasuh anak-anak kita, tidak hanya penting untuk memperhatikan perkembangan fisik dan intelektual mereka, tetapi juga perkembangan spiritual mereka.</p>
<p>Dalam pandangan Psikologi Islam, spiritualitas memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian dan kesejahteraan anak-anak kita. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi wawasan dari Psikologi Islam yang dapat membantu kita mengasuh anak-anak dengan cara yang seimbang dan mengedepankan nilai-nilai Islami.</p>
<p>Adapun cara yang dapat dilakukan oleh para orang tua untuk menumbuhkembangkan pribadi yang baik pada anak menurut pandangan psikologi islam yaitu:</p>
<h3><strong>Memberi Teladan</strong></h3>
<p>Orang tua harus bertindak sebagai contoh bagi anaknya pada tahap pertama. Orang tua harus memahami dan mengamalkannya sebelum menjadi teladan. Pengamalan ajaran agama oleh orang tua secara tidak langsung memberikan pendidikan yang baik, terutama akhlak, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.</p>
<p>Orang tua harus mengajarkan anak-anak mereka nilai-nilai moral. Jalaluddin (2014) menyatakan bahwa akhlak sangat terkait dengan Kholiq (Allah SWT), yang berbeda dengan moral. Artinya, terkait erat dengan ibadah atau penghambaan diri kepada Allah Swt.</p>
<p>Kepribadian anak yang saleh sangat dipengaruhi oleh pendidikan moral yang diberikan oleh keluarga mereka. Hal ini sesuai dengan peran Rasulullah Saw. dan metode pendidikan yang dia terima.</p>
<p>Rasulullah SAW berkata: Artinya: <em>“Sesungguhnya aku Muhammad di utus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak”</em> (Al-Hadist).</p>
<p>Saat ini, orang tua lebih sibuk membantu anak-anak mereka belajar bahasa Inggris, IPA, Mandarin, dan bidang lain. Bahkan mereka tidak mengingat masa lalu pendidikan moral anak di rumah. Mereka tidak mengerti mengapa Rasulullah Saw. dipuji, hidupnya dalam perlindungan Allah, dan menjadi teladan bagi orang lain. Jawabannya adalah akhlak.</p>
<p>Dalam firmannya, Allah Swt. bahkan memuji Rasulullah Swt. Yang artinya: <em>“Sungguh engkau memiliki akhlaq yang sangat tinggi”</em> (Q.S. al-Qalam: 4). Pendidikan moral dalam keluarga sangatlah penting dan saat ini merupakan solusi.</p>
<p>Akhlak tersebut berfungsi sebagai benteng yang melindungi anak dari dampak budaya asing yang dapat merusak moral anak. Berpotensi membahayakan kepribadian anak, terutama jika tidak melewati proses identifikasi budaya.</p>
<h3>Memelihara Anak</h3>
<p>Fokus tanggung jawab ini adalah meningkatkan potensi anak dan menjaga kesehatan secara fisik melalui makanan dan minuman. Orang tua harus memperhatikan makanan dan minuman anak karena penting untuk kelancaran pertumbuhan fisik mereka.</p>
<p>Menurut Jalaluddin (2002: 7), makanan dan minuman harus memenuhi persyaratan halal (hukumnya) dan thayyib (bahannya). Halal dari segi mencari dan mendapatkannya dalam berbagai cara, seperti berdagang, menjadi guru, dan berbisnis.</p>
<p>Thayyib secara gizi meliputi berbagai makanan seperti nasi, daging, jagung, susu, tempe, tahu, dan makanan empat sehat lima sempurna. Makanan dan minuman thayyib agar dan halal diperhatikan dan dianggap penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.</p>
<p>Sebagaimana firman Allah yang artinya: Artinya:<em> “Makanlah dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah berkeliaran di muka bumi ini dengan berbuat kerusakan”</em> (Q.S. al-Baqarah: 60).</p>
<p>Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia diharuskan untuk mencari makanan dan minuman yang berasal dari Allah Swt kapan saja dan sesuai kebutuhan, tetapi tidak terlalu banyak. Selain itu, penting untuk memperhatikan ke-halal-an dan ke-thayyib-annya saat mencari rezeki dari Allah.</p>
<p>Manusia terus digoda oleh setan agar mereka tidak memperhatikan kedua hal tersebut. Salah satu cara untuk mendapatkan uang yang tergoda oleh tindakan jahat adalah melalui praktik riba, perjudian, korupsi, merampok, dan lain-lain.</p>
<p>Makanan dan minuman juga berdampak pada kepribadian anak, terutama pada pembentukan akhlak. Para orang tua saat ini mencari rizki melalui cara yang tidak dibenarkan dalam Islam, seperti korupsi, padahal anak adalah anugerah terbaik dari Allah yang harus dijaga dan dipelihara sebaik mungkin.</p>
<p>Ironisnya, ini adalah kenyataan. Orang tua membentuk kepribadian anaknya secara signifikan. Jika mereka memberinya rangsangan yang positif, maka kepribadiannya juga akan positif, dan sebaliknya. Ibn Miskawih mengatakan bahwa karakter atau watak dapat berubah karena rangsangan pendidikan.</p>
<h3>Membiasakan Anak Sesuai dengan Perintah Agama</h3>
<p>Fokus tugas ini adalah memberikan aturan agama kepada anak-anak. Aturan agama memiliki hubungan dengan syariat dan sistem nilai masyarakat.Orang tua harus melaksanakan perintah agama melalui pelatihan atau pembiasaan. Pembiasaan ini terkait dengan berperilaku dengan baik terhadap Allah Swt., kedua orang tua, dan sesama manusia.</p>
<p>Dalam kitabnya Thabiz al-Akhlaq, Ibn Miskawih (1967: 9) mengatakan bahwa akhlak adalah keadaan jiwa yang mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan tertentu tanpa dipikirkan dan dipertimbangkan sebelumnya. Al-Ghazali juga menganggap akhlak sebagai sesuatu yang tetap dalam jiwa dan dapat muncul dalam perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran sebelumnya.</p>
<p>Akhlak tidak berasal dari perbuatan, kekuatan, atau ma&#8217;rifah. &#8220;Haal&#8221;, atau kondisi jiwa, adalah bentuk akhlak bathiniyah (Rohayati, 2011: 12). Dengan kata lain, akhlak adalah keadaan jiwa yang memotivasi tindakan.</p>
<p>Dua jenis perspektif jiwa atau keadaan jiwa ini berasal dari kebiasaan. Yang pertama berasal dari watak (bawaan) atau fitrah sejak kecil, dan yang lain berasal dari latihan. pelanggaran ibadah agama seperti sholat, puasa, dan sebagainya.</p>
<p>Akhlak anak, seperti makan dan minum dengan tangan kanan, berbicara dengan orang yang lebih tua, dan hal lainnya, terkait dengan pelanggaran sistem nilai.Akhlak adalah sesuatu yang dapat mendorong perbuatan manusia secara spontan, seperti yang dilakukan oleh fitrah (naluria) manusia sejak kecil, serta melalui kebiasaan latihan dan proses pendidikan, sehingga perbuatan-perbuatan itu menjadi baik.</p>
<p>Seorang ibu harus berusaha keras untuk mengasuh dan memuaskan cinta kasih anaknya, seperti dengan sering mengelus kepalanya sebagai tanda cinta. Ayah juga harus memperhatikan kebutuhan cinta kasih anak-anaknya, menempatkan mereka di pangkuannya atau di sebelahnya sebagai tanda kasih.</p>
<p>Ada empat teori yang dikatakan oleh seorang psikolog dan peneliti Mesir, Sayyid Muhammad Ghanim. Mereka termasuk teori perkembangan sosial Erickson, teori perkembangan identitas Albert, teori pola perkembanan seksual Freud, dan teori perkembangan kognitif Piaget.</p>
<p>Yang paling penting dari empat perspektif ini setuju bahwa anak-anak memerlukan kasih sayang dan perhatian psikologis dari kedua orang tua sejak kecil (Mazhahiri, 2000: 202).</p>
<p>Sebenarnya, kasih sayanglah yang dapat membangun kepribadian anak. Ia memiliki kemampuan untuk berkembang dengan baik secara fisik dan mental sehingga ia dapat menjadi anak yang memenuhi harapan agama dan orang tua.</p>
<h3>Mengadopsi Kekuatan Psikologi Islam dalam Mengasuh Anak yang Berkarakter Islami</h3>
<p>Dalam mengasuh anak-anak kita, penting untuk mengadopsi wawasan dari Psikologi Islam yang dapat membantu kita menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan spiritual, moral, dan emosional mereka.</p>
<p>Dengan memahami pentingnya pertumbuhan spiritual anak, peran spiritualitas dalam pengasuhan, prinsip-prinsip Psikologi Islam, dan praktik pengasuhan sehari-hari yang Islami, kita dapat membantu anak-anak kita tumbuh menjadi individu yang tangguh dan seimbang, dengan identitas Islami yang kuat.</p>
<p>Meskipun ada tantangan dalam mengaplikasikan Psikologi Islam dalam pengasuhan, dengan tekad dan dukungan yang tepat, kita dapat mengatasi hambatan ini. Mari kita memeluk kekuatan Psikologi Islam dalam mengasuh anak-anak kita dan membantu mereka menjadi individu yang berakhlak baik, berdaya tahan, dan memiliki ikatan yang kuat dengan Allah.</p>
<p>Dalam mengasuh anak yang tangguh dan seimbang, kita membentuk generasi masa depan yang Islami dan bermanfaat bagi umat manusia.</p>
<p><em>Umar Hamid Nugroho</em><br />
<em>Universitas Muhammadiyah. Prof. Dr. Hamka</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pola-asuh-pada-anak-menurut-perspektif-psikologi-islam/">Pola Asuh pada Anak menurut Perspektif Psikologi Islam</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/tebuireng.online/wp-content/uploads/2023/01/cara-mendidik-anak-secara-islami-dengan-lima-prinsip-dasar-191007k_3x2.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Kapan Anak Boleh Diberikan Ponsel?</title>
		<link>https://jakpos.id/kapan-anak-boleh-diberikan-ponsel/</link>
					<comments>https://jakpos.id/kapan-anak-boleh-diberikan-ponsel/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Dec 2017 02:42:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[depok kota layak anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=16227</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pnsel atau Telepon Seluler merupakan salah satu alat komunikasi yang kini kian marak penggunaannya, dan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/kapan-anak-boleh-diberikan-ponsel/">Kapan Anak Boleh Diberikan Ponsel?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_16229" aria-describedby="caption-attachment-16229" style="width: 700px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-post-16227 wp-image-16229" src="https://res.cloudinary.com/de5lnco7h/image/upload/v1513651290/anak-ponsel-gadget_20160628_130822_1_xumt0x.jpg" alt="" width="700" height="393" /><figcaption id="caption-attachment-16229" class="wp-caption-text">Ilustrasi. (Istimewa)</figcaption></figure>
<p>Pnsel atau Telepon Seluler merupakan salah satu alat komunikasi yang kini kian marak penggunaannya, dan tahukah anda dengan kemajuan teknologi kini perkembangan Handphone semakin meningkat, mulai dari Nokia yang dikenal dengan hp sejuta umat dan hingga saat ini yang popular adalah Android &amp; Iphone.</p>
<p>Namun, dengan berkembangnya teknologi saat ini ada sisi kebaikan dan ada pula sisi keburukan yang ditimbulkan dari teknologi tersebut. Terutama bagi kalangan anak-anak yang mana dapat membentuk karakter yang individualis dan enggan berinteraksi dengan sosial.</p>
<p>Hal inilah yang memang perlu kita tanggulangi agar tidak lagi banyak kasus yang seperti itu. Dan kali ini adalah ungkapan yang dikatakan oleh seorang pakar teknologi tentang kapan anak diperbolehkan dalam penggunaan teknologi, Jika berbicara soal teknologi, tentunya Bill Gates paling tahu apa yang baik dan yang tidak.Bos komputer kelas dunia ini memiliki tiga orang anak yang beranjak remaja.</p>
<p>Sebagai orang yang berkecimpung di dunia teknologi, pastinya dia tahu kapan usia terbaik memberikan gadget pada anak.Dalam sebuah wawancara yang dimuat di Tenplay, Bill Gates menegaskan bahwa anak seharusnya TIDAK dibolehkan memiliki ponsel pintar atau gadget sebelum usianya 14 tahun. Pakar parenting dan ahli teknologi mengamini ucapan Bill Gates. Karena penelitian juga telah membuktikan bahwa membiarkan anak menyentuh teknologi terlalu dini bisa berdampak buruk pada anak. Bill mengaku, bahwa dia dan istrinya Melinda menetapkan aturan ketat terkait memberikan gadget pada anak-anaknya. Meskipun anak mereka memprotes aturan tersebut, namun Bill tetap tegas.</p>
<p>“Kami tidak membolehkan ada yang memegang ponsel pada saat makan. Kami juga tidak memberikan anak kami ponsel sebelum usianya 14 tahun, dan mereka mengeluh bahwa teman-teman merek sudah memiliki ponsel sebelum berusia 14 tahun,” ungkap ayah tiga anak ini.</p>
<p>Berikut ini adalah sederet aturan terkait penggunaan teknologi, yang diterapkan Bill Gates dan sang istri pada anak-anak mereka.</p>
<ul>
<li>Melarang anak mereka memiliki ponsel sebelum berusia 14 tahun</li>
<li>Membatasi screen time, sehingga mereka punya waktu lebih banyak untuk dihabiskan bersama keluarga</li>
<li>Tidak dibolehkan membawa ponsel pada saat makan</li>
<li>Menentukan jam berlaku untuk melihat televisi dan ponsel setiap hari sehingga anak-anak bisa pergi tidur lebih awal dibanding anak lain</li>
</ul>
<p>Dari penjelasan yang diutarakan oleh Bill Gates tersebut, diharapkan orang tua mampu mengontrol anak-anaknya dalam masalah penggunaan teknologi.</p>
<p>Ditulis oleh: Lukman (MAHASISWA STEI SEBI)</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/kapan-anak-boleh-diberikan-ponsel/">Kapan Anak Boleh Diberikan Ponsel?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://jakpos.id/kapan-anak-boleh-diberikan-ponsel/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
