<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tulungagung Arsip - JAKPOS</title>
	<atom:link href="https://jakpos.id/tag/tulungagung/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jakpos.id/tag/tulungagung/</link>
	<description>Medianya Orang Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Fri, 08 Dec 2023 12:30:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://jakpos.id/go/wp-content/uploads/2025/01/cropped-JPlogo2-2-32x32.png</url>
	<title>Tulungagung Arsip - JAKPOS</title>
	<link>https://jakpos.id/tag/tulungagung/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ragam Keunikan Tulungagung</title>
		<link>https://jakpos.id/ragam-keunikan-tulungagung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Dec 2023 12:30:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Tulungagung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61634</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Tulungagung, kota yang diperkirakan sudah berusia lebih dari 800 tahun. Kota satu ini&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ragam-keunikan-tulungagung/">Ragam Keunikan Tulungagung</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Tulungagung, kota yang diperkirakan sudah berusia lebih dari 800 tahun. Kota satu ini juga memiliki sejarah yang kental dengan kerajaan Majapahit. Hal tersebut dibuktukan dengan adanya makam Gayatri Sri Rajapatni di Desa Boyolangu, yang mana beliau adalah putri bungsu raja Kertanagara dan salah satu istri dari Dyah Wijaya raja pertama Majapahit (1293-1309). Konon dulunya kota ini bernama Ngrowo.</p>
<p>Membahas Tulungagung, ada banyak hal unik yang menjadi ciri dari kota ini, berikut keunikan-keunikan yang dimiliki oleh kota Tulungagung</p>
<h3>Beribu warung kopi</h3>
<p>Setidaknya ada 2 desa berdasarkan pengamatan dan penelitian yang menduduki urutan warung kopi terbanyak dan memiki jarak yang saling berdekatan dan selalu ada saja pengunjung. Yakni desa Bolorejo yang berada di Kecamatan Kauman. Dan desa Plosokandang yang berada di Kecamatan Kedungwaru.</p>
<p>Di desa Bolorejo berdasarkan jurnal “Feasibility Of Green Coffee Shop In Bolorejo Village District Kauman Region Tulungagung (2017)”, jumlah warung kopi di Tulungagung mencapai 100 warung. Dalam jurnal itu juga disebutkan ada 38 warung kopi ijo yang tercatat di kelurahan/desa.</p>
<p>Untuk warung kopi di desa Plosokandang, berdasarkan hasil wawancara salah satu mahasiswa UINSATU Tulungagung (7/12), yang mana penyebab banyaknya warkop lantaran dipengaruhi oleh popularitas mahasiswa yang mendominasi disana, kebanyakan mereka berasal dari UINSATU Tulungagung, yang menjadikan banyaknya warung kopi, bahkan warung makan yang buka.</p>
<h3>Kopi Hijau</h3>
<p>Mungkin nama minuman itu terdengar asing disebagian telinga para pelancong. Kopi hijau bukannya kopi yang berwarna hijau, melainkan biji kopi yang digiling bersamaan dengan biji kacang hijau sebelum diseduh menjadi minuman, dan mendapatkan cita rasa tersendiri. Minuman ini pasti dijumpai diberbagai warung kopi. Kopi hijau merupakan salah satu oleh-oleh khas Tulunggung</p>
<h3>Ayam Lodho</h3>
<p>Ayam lodho yaitu ayam yang megalami dua proses pemasakan sekaligus, yaitu dipanggang dan diolah bersama santan, sehingga bumbunya ersuk hingga tulang.</p>
<p>Ayam lodho menjadi salah satu icon Tulungagung lantaran tradisi yang mengadakan ayam lodho pada acara selamatan. Tak jarang ditemukan banyak warung ayam lodho karena hal tersebut sudah menjadi bagian dari kebutuhan upacar tradisi disan. Mungkin jika kamu jalan-jalan di Tulungangung sekli dua kali akan menjumpai warung ayam lodho.</p>
<h3>Nyethe</h3>
<p>Bagi para perokok siapa yang tak kenal dengan nyethe, atau yang biasa disebut juga lelet. Nyethe adalah tradisi mengoleskan endapan kopi ke permukaan rokok dengan tujuan agara cita rasa kopi meresap ke rokok. Bahkan di beberpa desa di kota ini, tradisi ini dijadikan sebagai perlombaan.</p>
<h3>Kota marmer</h3>
<p>Kota ini dijuluki demikian lantaran ada satu desa penghasil marmer dengan kualitas terbaik, bahkan sampai-sampai menembus pasar internasional. Ialah desa Basole, yang berada di kecamatan Besuki. Tak hanya marmer, ada beberapa desa penghasil perindustrian, oleh karena itu ada sebagian orang yang menyebutnya dengan kota produksi</p>
<p>Dilansir dari repository UIN Satu Tulungagung, salah satu sentra industri penghasil marmer di Desa Besole adalah PT Industri Marmer Indonesia, yang sudah berdiri sejak tahun 1961. Industri ini kemudian berkembang menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada 1970.</p>
<p>Hingga kini, terus bermunculan industri marmer di berbagai wilayah di Desa Besole. Yuk, intip sekilas Desa Besole yang jadi daerah penghasil marmer di Kabupaten Tulungagung.</p>
<h3>Biaya hidup murah</h3>
<p>Mungkin ini menjadi salah satu alasan para perantau memilih Tulunggung sebagai tempat perantauan.</p>
<p>Biaya hidup per orang di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur menurut Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh BPS pada bulan Maret 2021 adalah sebesar 1.074.754, dengan tingkat inflasi umum tahunan pada tahun 2022 adalah sebesar 5.5% dan estimasi inflasi tahun 2023 sebesar 6% (INDEF), maka biaya hidup per kapita/orang di Kabupaten Tulungagung mungkin akan naik menjadi 1.201.897.</p>
<p>Sedangkan UMK 2023 Kabupaten Tulungagung ditetapkan sebesar 2.229.358 (+8.97%) dari UMK tahun 2022 sebesar 2.029.359.</p>
<p><em>Ahsanu Nadiya Elfara</em><br />
<em>Mahasiswi prodi Bahasa dan Sastra Arab, UINSATU Tulungagung</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/ragam-keunikan-tulungagung/">Ragam Keunikan Tulungagung</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/tulungagungdaring.id/wp/wp-content/uploads/2017/07/kota-tulungagung-jawa-timur.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pantai Reco Sewu Popoh, Wisata yang Berbau Mistis Mitos dari Laut Selatan</title>
		<link>https://jakpos.id/pantai-reco-sewu-popoh-wisata-yang-berbau-mistis-mitos-dari-laut-selatan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 Dec 2023 06:45:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai Reco Sewu Popoh]]></category>
		<category><![CDATA[Tulungagung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61286</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Tulungagung adalah salah satu Kota di Provinsi Jawa Timur, yang biasa di sebut&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pantai-reco-sewu-popoh-wisata-yang-berbau-mistis-mitos-dari-laut-selatan/">Pantai Reco Sewu Popoh, Wisata yang Berbau Mistis Mitos dari Laut Selatan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Tulungagung adalah salah satu Kota di Provinsi Jawa Timur, yang biasa di sebut sebagai bumi gayatri. Terletak di bagian selatan pulau jawa. Terkenal dengan keunikan ragam budaya, adat istiadat, serta keelokan wisata. Sehingga daerah ini menjadi salah satu destinasi yang menarik wisatawan untuk mengunjunginya.</p>
<p>Tidak hanya itu, sebagian dari mereka menyebut daerah Tulungagung ini terpencil karena letak geografinya yang berada di garis pantai pesisir selatan, juga berdekatan langsung dengan Samudra hindia, menjadika mereka enggan untuk mengunjunginya.</p>
<p>Daerah Tulungagung ini juga terkenal akan pariwisatanya, yang awalnya hanya beberapa yang menonjol. Seperti Wisata alam Pantai Reco Sewu Popoh Tulungagung yang terletak di desa Besole, kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung.</p>
<p>Memiliki sebutan gerbang segoro kidul atau laut selatan, menggambarkan pantai ini memiliki daya tarik mistis tersendiri, sebutan ini sering kali di kaitkan dengan sejarah mitos tentang adat mereka yang mempercayai adanya Nyi Loro Kidul sebagai penguasa laut di daerah mereka.</p>
<p>Tak heran, jika konsep bangunan wsiata ini bedekatan langsung dengan tempat pesarehan dan tempat pelarungan sesaji mereka. Di sebutkan juga oleh beberapa masyarakat, agama yang di anut masyrakat daerah setempat adalah kepercayaan dinamisme dan animisme. Yang pastinya masih menganut adat kejawen mereka.</p>
<p>Di samping itu juga wisata ini di lengkapi dengan bangunan reco sewu atau seribu arca, dengan 999 anak arca, juga 1 arca utama di tengah-tengah ribuan arca tersebut. Kita bisa menjumpainya di gerbang masuk kawasan laut bebas pantai popoh. Terletak di sebelah selatan agak kebawah dari wisata pantainya itu sendiri.</p>
<p><img decoding="async" class="size-full aligncenter" src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2015/10/26/344511_retjo-sewu-_665_374.jpg" /></p>
<p>Wisata ini pula di lengkapi Tim keamanan untuk menjaga jika terjadi kecelakaan wisatawan ketika berada di kawasan pantai ini.</p>
<p>Menurut mitos masyarakat yang beredar, pantai ini memiliki aturan tersendiri untuk di taati. Seperti ketika kita bermain di pantai ini, kita di larang memakai pakaian yang berwarna hijau, karena konon akan di tarik oleh mahluk ghaib pengikut nyi loro kidul yang menyukai warna hijau.</p>
<p>Padahal, hal itu hanya di buat agar wisatawan berhati-hati untuk keselamatanya sendiri. Di karenaka air dari pantai tersebut berwarna hijau, di khawatirkan ketika ombak menerjang, dan ada wisatawan yang memakai pakaian berwarna hijau ikut terbawa arus, mereka sulit di temukan, karena proses evakuasi terkendala oleh warna pakaianya yang sama dengan warna airnya. Sehingga sangat sulit untuk di temukan.</p>
<p>Selain itu juga, ketika kita berkunjung ke laut bebas pantai popoh ini, kita harus menghargai adat istiadat mereka seperti tidak duduk di sembarang tempat, dan tidak merusak sesajen mereka.</p>
<p>Wisata yang berbau mistis ini kerap menjadi sumber mitos dari laut selatan karena banyak peninggalan bangunan serta masih berbau kejawen yang sangat melekat.</p>
<p>Tidak hanya itu wisata alam tulungagung lainya masih banyak lagi, dan sampai sekarang wisata itu terus berkembang. Kerap sekali para wisatawan mengeluh, karena fasilitas jalan yang kurang mendukung.</p>
<p>Juga masih terlalu alami perbukitan hingga hutan yang harus kita lewati untuk sampai ke wisata itu.</p>
<p>Sehingga pemerintah tulungagung sekarang memilih untuk membangun jalur perlintasan di sepanjang garis pantai selatan yang bernama JLS. JLS atau jalur lintas selatan adalah salah satu jalur alternatif yang menghubungkan tulungagung dan kota-kota kecil di sekitarnya.</p>
<p>Tak hanya itu, sejak di bangun jalur alternatif ini wisata baru yang di temukan di tulungagung dan juga memudahkan masyarakat sekitar dalam melakukan perjalanan.</p>
<p>Selanjutnya, jalur alternatif ini pula, menambah pesona kota tulungagung. Karena ketika kita melewati daerah tersebut kita bisa menikmati hamparan pantai di sepanjang jalurnya.</p>
<p>Hal ini di manfaatkan pengguna jalur untuk tempat beristirahat sejenak, juga banyak kalangan anak muda yang memilih nonkrong di sepanjang jalan itu.</p>
<p>View yang tidak kalah menarik, beserta senja dan sunrise di pagi hari juga menjadi hiasan alam yang mewarnai jalur tersebut. Tak hanyaitu pula, di seberang jalur lintas selatan, tepatnya di bagian arah tulungagung blitar.</p>
<p>Kita berdekatan dengan wisata baru yakni, Pantai Pacar. Dari namanya saja sudah menarik. Apa lagi pesonanya ?</p>
<p>Pantai Pacar. Terletak di bagian timur kota tulungagung, tepatnya di pucang laban, kali dawir, Tulungagung. Nama dari pantai ini di ambil dari banyaknya tumbuhan daun pacar yang tumbuh di sekitar kawasan pantai tersebut.</p>
<p>Hamparan pasir putih dan ombak yang melengkapi pantai tersebut. Juga tidak lupa dengan air terjun kecil yang mengalir kebawah pantai itu. Namun, anehnya air dari air terjun itu berbeda dengan air laut yang asin pada umumnya, di karenakan mengalir dari sumber pengunungan pucang laban itu sendiri.</p>
<p>Air terjun kecil yang melengkapi keindahan pantai acar ini biasanya di manfaatkan oleh pengunjung untuk membersihkan diri setelah berenang ataupun bermain pasir di pantai pacar ini.</p>
<p>Namun, antisipasi pemerintah tetap tidak lengah karena setiap pantai di daerah selatan ini langsung berbatasan dengan samudera hindia.</p>
<p>Pada jadwal waktu terntentu akan ada penutupan wisata dan jalur ini sendiri. Bukan hanya karena letak geografisnya.</p>
<p>Namun, cuaca juga mempengaruhi, di khawatirkan terjadi ombak besar dan angin, yang membahayakan pengguna jalan. Ketika hujan badai pun di khawatirkan perbukitan di sekitar JLS longsor.</p>
<p>Jadi, bagi pengguna jalan dan wisatawan jangan risau, karena semua yang berhubungan dengan informasi terkini tentang kondisi tulungagung akan di siarkan melalui akun sosmed kacamata tulungagung. Jangan lupa berkunjung ke tulungagung dan nikmati pesona alamnya ya teman-teman.</p>
<p><em>Oleh : Syadza Dahlia Afiqah</em><br />
<em>Mahasiswi PRODI BAHASA DAN SASTRA ARAB</em><br />
<em>UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH</em><br />
<em>TULUNGAGUNG</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/pantai-reco-sewu-popoh-wisata-yang-berbau-mistis-mitos-dari-laut-selatan/">Pantai Reco Sewu Popoh, Wisata yang Berbau Mistis Mitos dari Laut Selatan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/tempatwisataseru.com/wp-content/uploads/2022/01/Pantai-Popoh-Indah-Tulungagung-via-IG-@wahyublitar.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sejarah Tradisi Grebeg Maulud Agung di Tulungagung</title>
		<link>https://jakpos.id/mengenal-sejarah-tradisi-grebeg-maulud-agung-di-tulungagung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Nov 2023 07:10:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Grebeg Maulud]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Grebeg Maulud]]></category>
		<category><![CDATA[Tulungagung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61222</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Tradisi merupakan suatu adat atau kebiasaan yang diterapkan sejak zaman dahulu, diturunkan secara&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/mengenal-sejarah-tradisi-grebeg-maulud-agung-di-tulungagung/">Mengenal Sejarah Tradisi Grebeg Maulud Agung di Tulungagung</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Tradisi merupakan suatu adat atau kebiasaan yang diterapkan sejak zaman dahulu, diturunkan secara turun temurun dan dilestarikan di masyarakat. Kebudayaan dan Tradisi merupakan suatu kesatuan yang utuh, jika tidak ada tradisi maka tidak akan ada budaya, dan sebaliknya jika budaya tidak didasarkan dengan tradisi yang ada maka tidak akan tercipta suatu budaya.</p>
<p>Di Indonesia sendiri banyak sekali ragam budaya, tradisi dan adat, di mana tiap-tiap suatu daerah memiliki adat istiadat yang berbeda-beda. Karena Indonesia sendiri merupakan bangsa yang masih mempertahankan nilai-nilai budaya, agama, dan adat, dan Indonesia memiliki tingkat perkembangan budaya yang sangat pesat.</p>
<p>Tetapi dalam perkembangannya, budaya, tradisi, adat masih asing dikalangkan para remaja generasi sekarang dan tentunya akan berpengaruh besar bagi sebagian masyarakat di Indonesia yang masih minim tentang perkembangan budaya apa saja yang ada di Indonesia.</p>
<p>Generasi-generasi sekarang lebih memilih budaya dari luar yaitu budaya barat yang semakin terbuka dengan adanya produk dari luar, seperti gaya berpakaian, gaya bahasa, gaya berteman, dll yang menjadi saingan tersendiri bagi bangsa Indonesia.</p>
<p>Tentunya generasi sekarang yang semakin canggih dengan teknologi yang berkembang secara pesat dan menyeluruh ke seluruh dunia, maka kita harus waspada dan berhati-hati terhadap berita yang tidak benar. Maka caranya agar generasi turunan kita dapat melestarikan dan menghargai budaya yang telah ditetapkan oleh nenek moyang, yaitu melalui perantara generasi selanjutnya.</p>
<p>Tradisi yang saat ini tetap dilestarikan di Tulungagung adalah di Desa Majan, atau kerap disebut Bumi Kasepuhan Perdikan. Desa Majan terletak di kecamatan Kedungwaru kabupaten Tulungagung, tepatnya 4 km sebelah utara Ibukota kabupaten Tulungagung yang mayoritas penduduknya beragama Islam.</p>
<p>Di Desa Majan inilah peradaban sejarah Islam di Tulungagung dimulai pada abad-17, tahun 1727. Harapan generasi masyarakat Tulungagung bisa memahami sejarah atau tradisi yang ada di Tulungagung, Beliau KHR Hasan Mimbar melaksanakan syiar atas perintah eyang Pangkubuwono ke 2 pada 1727 mempunyai pusaka yang disebut Pusaka Kyai golok yang diberi leluhur, berupa pusaka raja Mataram ke 2 sebagai bentuk syiar islam di Kadipaten Ngrowo tahun 1727.</p>
<p>Bahwa desa Majan adalah satu satunya sejarah yang ada di Tulungagung terkhusus di Jawa Timur mempunyai keistimewaan yaitu merdeka sebelum merdeka, merdeka setelah merdeka.</p>
<p>Pada era belanda melakukan pengelolaan pemerintah secara mandiri dengan nama Perdikan Majan, setelah era 1945 masih melakukan pemerintah sendiri dengan pertemuan antara gubernur Jawa Timur, Bupati Tulungagung tahun 1979 yang pada akhirnya disepakati desa Majan melebur menjadi NKRI dan menjadi desa biasa, pemerintah biasa, tetapi dalam adat istiadat nya masih dipertahankan.</p>
<p>Sebelum mengenal tradisi Grebeg Maulud Agung, perlu diketahui bahwasanya adat ini merupakan peninggalan yang bersejarah bagi desa Majan. Dimana diadakan setiap tahunnya oleh keluarga besar yayasan Sentono Dalem Majan, sebagai rasa untuk menghormati leluhur nya.</p>
<p>Tradisi ini dilakukan oleh inti dari keluarga besar KHR Hasan mimbar, diantaranya sesepuh yasendam KHR. Moh Yasin dan juga Ketua Umum yasendam DR. Raden Mohammad Ali Sodik, M.PdI, M.H.</p>
<p>Kata grebeg sendiri berasal dari Bahasa Jawa &#8216;Gembrebeg&#8217; yaitu suara keras yang timbul ketika Kyai Ageng Raden Khasan Mimbar keluar dari dalem pendapa untuk mengajak masyarakat Tulungagung menggelar sholawat di Masjid Agung Al Mimbar, dengan ditandai dikeluarkannya pusaka kanjeng kyai golok memberikan raja Mataram atas perintah mensyiarkan agama islam dan nikah majan dikadipaten Ngrowo pada tahun 1727 Masehi.</p>
<p>Keluarga Kyai Ageng Raden Khasan Mimbar membagikan tumpeng kepada masyarakat yang hadir. Tumpengan merupakan makanan tradisional, dikawal oleh pasukan genjring yang menunjukkan seni bela diri dengan bunyi jedor dan sholawat . Seiring perjalanan waktu, nama gembrebeg berubah menjadi grebeg.</p>
<p>Di Indonesia sendiri, upacara grebeg dilaksanakan di tiga kota yakni Jogjakarta, Solo dan kasepuhan perdikan Majan Tulungagung. Dikarenakan Jogjakarta, Solo, dan kasepuhan perdikan Majan memiliki hubungan kekeluargaan dari trah eyang penembahan Panembahan Senopati R. Sutowijoyo atau raja Mataram yang ke I.</p>
<p>Tradisi yang masih melekat adalah “Tradisi Grebeg Maulud Agung”. Warga desa Majan dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW mengadakan serangkaian ritual yang sudah menjadi tradisi yaitu dengan penjamasan pusaka, yang terkenal dengan sebutan nama “Jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Golok”.</p>
<p>Pusaka yang dijamas itu dinamakan pusaka Kyai Golok. Pusaka tersebut adalah pusaka peninggalan KHR Hasan Mimbar. Selain tradisi jamasan dan kirab pusaka, di desa majan terdapat kebudayaan dan aset_aset lain peninggalan KHR Hasan Mimbar yaitu tahlil naluri khas Tegalsaren, bedug, kentongan, mimbar tertutup, masjid, manuskrip-manuskrip teks kuno dan lain sebagainya.</p>
<p>Acara ini bertempat di Pendopo Agung Kesepuhan Perdikan Majan, Menuju Masjid Jami&#8217; Al-Mimbar Majan. Para warga, terkhusus di desa Majan sangat antusias karena hari tersebut merupakan hari yang mulia yaitu merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dimana dilaksanakan setiap 12 Maulid .</p>
<p>Tidak hanya dari penduduk desa setempat yang turut memeriahkan acara tersebut, ada juga dari sesepuh Yayasan Sentono Dalem Majan, Sarinah, Pemerintah daerah dinas kebudayaan, direktur RS Campurdarat, Bapak Bupati Tulungagung dan Wakil Bupati Tulungagung yang turut memeriahkan tradisi ini serta anggota penting lainnya.</p>
<p>Serangkaian acara yang dilakukan seperti, Diba&#8217;an, Santunan Anak Yatim dan Ishari, Jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Golok, Arak Arak an Tumpeng dan Genjring Rudar Majan.</p>
<p>Dalam tradisi grebeg maulud menampilkan banyak acara seperti pada tanggal 28 September sampai 10 Oktober 2023, diadakannya Shalawat Festival Al-Banjari Pelajar se-Tulungagung, Lomba Permainan tradisional, Jo Klithik &amp; Jo Kluthuk, Jalan Sehat Tradisional, Ishari Khusus Indonesia (ISKHI) se-Jawa Timur, Sholawat bersama Al-Khidmah Tulungagung, Sholawat Nariyah Akbar bersama Gus Shon &amp; JSN Al-Mughits.</p>
<p>Acara ini sangat menekankan budaya dari zaman dahulu hingga sekarang yang masih tetap dilestarikan, karena merupakan salah satu bentuk kehormatan dan kebanggaan tersendiri bagi warga desa Majan atas acara yang telah dibuat oleh keluarga besar Sentono Dalem Majan.</p>
<p>Salah satu penuturan dari ketua umum perdikan Majan, mengatakan “ Acara ini sudah menjadi bagian dari cagar budaya, sehingga pemerintah daerah ikut serta dalam rangka melestarikan Jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Golok. Di Tulungagung ada 2 Pusaka, Pertama Raden Kyai Golok ( KHR Hasan Mimbar), Kedua Pusaka Kyai Upas yang juga milik majan (Raden Mas Tumenggung Adipati Prenggodiningrat). Sehingga, anak bangsa ini tidak akan melupakan sejarah dan peninggalan para leluhur yang akan diperlihatkan secara langsung”. ~DR. Raden Mohammad Ali Sodik, M.PdI, M.H</p>
<p>Seiring berjalannya waktu, acara semakin meriah dan antusiasme masyarakat juga semakin meningkat. Maka, meskipun masyarakat Tulungagung sudah banyak menganut tradisi Islam ini terus dilangsungkan oleh kasepuhan perdikan majan hingga sekarang.</p>
<p>Meskipun mengalami pengembangan, tradisi ini dianggap sebagai salah satu warisan kebudayaan yang terus dilestarikan oleh keluarga Sentono Dalem perdikan Majan.</p>
<p>Di zaman yang serba canggih ini, perlu adanya keterkaitan antara generasi-generasi muda yang terus menerus memberikan suatu edukasi terhadap kebudayaan yang ada di suatu daerah tertentu, seperti hal nya ikut serta dalam acara keagamaan, dan mengayomi masyarakat yang masih minim tentang kebudayaan.</p>
<p>Di Indonesia sendiri terutama di suku Jawa, sangatlah banyak ada istiadat yang masih kental dan berlaku untuk dilestarikan.</p>
<p><em>Oleh Layalia Zahro&#8217;ul Azizah</em><br />
<em>Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung</em></p>
<p>Artikel <a href="https://jakpos.id/mengenal-sejarah-tradisi-grebeg-maulud-agung-di-tulungagung/">Mengenal Sejarah Tradisi Grebeg Maulud Agung di Tulungagung</a> pertama kali tampil pada <a href="https://jakpos.id">JAKPOS</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/asset.kompas.com/crops/fUzkmKpIjAPHEUq31vPIwKVtJmM=/0x0:998x665/750x500/data/photo/2019/10/18/5da9992e07cf7.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
