Detoks Gadgetmu, Raih Mimpi Muliamu!

Oleh: Elmira Fairuz Inayah, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Gadget itu memang kayak sahabat dekat, ya. Ada terus di samping kita. Bangun tidur, cek notifikasi, lagi makan sambil scroll TikTok, lagi belajar eh, buka IG dulu deh, mau tidur, nonton reels sampai ketiduran. Hidup kayaknya kurang lengkap tanpa layar 6 inci itu.

Bacaan Lainnya

Tapi sadar enggak, kadang-kadang “sahabat” ini justru ngegerogoti kita pelan-pelan ke jurang keterikatan yang nyaris tak terasa. Gejala ini dikenal dengan nomophobia. Ini bukan nama penyakit di film fiksi ilmiah, tapi singkatan dari no mobile phone phobia, alias ketakutan berlebihan kalau jauh dari HP.

Dari bangun tidur sampai tidur lagi, rasanya nempel terus sama HP. Bangun tidur langsung cek notifikasi, makan sambil scroll TikTok, belajar tapi nyambi dengerin lagu dan chatting. Nggak heran kalau nomophobia jadi salah satu isu kesehatan mental paling sering ditemukan di kalangan pelajar sekarang. Tak bisa hidup tanpa sinyal. Blank spot!

Oleh karenanya, hati-hati candu digital. Banyak dari kita enggak sadar sudah kecanduan gadget. Eggak bisa lepas. Dan yang lebih bahaya, kita merasa ini wajar-wajar aja. Padahal, makin lama, kebiasaan ini menggerogoti masa depan kita. Kita jadi gampang terdistaksi, susah fokus, susah tidur, gampang baper, insecure karena perbandingan hidup orang lain di sosmed, dan parahnya, jadi kehilangan arah hidup.

Kalau sudah kecanduan, jadi ketagihan. Lupa waktu, lupa diri, lupa dengan masa depan. Scrolling endless, stalking akun gosip, mabar sampai lupa waktu, nonton video reels berjam-jam. Katanya biar tetap tak ketinggalan berita viral, tetap update dengan gosip terbaru. Bisa ngikutin trending di linimasa dan konten fyp. Ujung-ujungnya jadi FOMO (Fear of Missing Out).

Namun, ingat akan bahayanya FOMO. Ngenes sih ketika banyak remaja dan pelajar terjebak dalam lingkaran gaya hidup FOMO. Rasa takut ketinggalan bikin enggak nyaman pas lihat teman-teman upload kegiatan keren, ngomongin konten viral, momen seru, atau barang baru — sementara kita ngerasa “enggak ikut”, “enggak punya”, atau “enggak sekeren mereka”. Enggak update.

Akibatnya, FOMO membuat remaja selalu merasa “kurang update”, merasa hidupnya kurang seru dibanding orang lain di media sosial. Ini bisa memicu kecemasan berlebihan, overthinking, bahkan depresi ringan hingga berat karena terus-menerus membandingkan hidupnya dengan orang lain yang di-highlight di media sosial.

Karena takut ketinggalan notifikasi atau konten baru, banyak remaja enggak bisa fokus belajar. Otaknya terus dipaksa bekerja untuk buka HP. Sampai rela scrolling TikTok, ngecek IG story, atau mantengin chat. Padahal, keharusan ini bisa menurunkan daya pikir, emosi jadi labil, dan tubuh gampang sakit. Sekolah jadi kacau, prestasi jeblok!

Selain FOMO, game online juga enggak kalah bikin candu. “Cuma 10 menit,” katanya. Tapi tiba-tiba sudah tengah malam. Ranking naik, tapi PR numpuk. Skin nambah, tapi hafalan Al-Qur’an mandek. Remaja yang kecanduan game seringkali kehilangan kehangatan interaksi dengan keluarga. Karena lebih banyak waktu dihabiskan untuk main game, komunikasi jadi minim. Bahkan, sebagian jadi menunda saat diminta berhenti main. Ini bisa memicu konflik berkepanjangan dan bikin hubungan dengan orang tua renggang.

Adapun game online berefek memicu pelepasan dopamin berlebihan di otak — mirip efek narkoba. Akibatnya, otak jadi “malas” menerima rangsangan lain seperti belajar atau membaca. Konsentrasi menurun, daya ingat melemah, prestasi sekolah jeblok. Banyak game yang menjual in-app purchase atau item berbayar. Sebagian remaja rela menghabiskan uang jajan, bahkan uang keluarga, untuk beli skin, senjata, atau item game lainnya. Bahkan sampai meminjam uang atau berutang demi game. Terjebak pinjol!

Dan yang enggak kalah miris, banyak game online yang menyisipkan unsur kekerasan, darah, bahkan sensualitas. Lama-lama, hati jadi bebal terhadap maksiat. Sebagian gamer bahkan memicu toxic behavior, seperti ngomong kasar, nge-cheat, atau nyinyirin orang lain.

Maka, sekarang saatnya detoks digital. Gadget bukan musuh, tapi dia harus dijinakkan dengan detoks digital. Eggak perlu ekstrem buang HP ke tong sampah terdekat. Cukup pakai dengan bijak sesuai kebutuhan saja. Biar otak dan hati kita enggak terus-terusan dibombardir racun-racun sdunia maya yang minim manfaat dan penuh mudarat.

Untuk detoks digital, bagaimana tipsnya? Yang pasti harus meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976).

Maka, berikut tips sederhana yang bisa kamu coba: Pertama, buat jadwal online. Tentukan waktu khusus buat buka sosmed dan game, misalnya 1 jam sehari. Di luar itu, matikan notifikasi atau aktifkan mode fokus.

Kedua, pasang target harian. Tulis target harian: baca 5 halaman buku, hafal 1 ayat, bantu ibu di rumah, selesaikan PR tanpa menunda. Setelah semua target selesai, baru boleh reward diri dengan main HP.

Ketiga, cari pengganti yang sehat. Bosen? Jangan lari ke HP. Coba olahraga ringan, ngobrol bareng keluarga, atau ikut komunitas positif. Kamu bakal kaget melihat dunia nyata itu jauh lebih keren dari dunia digital.

Keempat, gunakan gadget buat hal baik. Pakai HP untuk nonton kajian, dengar podcast Islami, nulis ide dakwah, atau hal yang bermanfaat lainnya. Jadikan gadgetmu alat perjuangan, bukan jebakan.

Ayo mulai detoks gadget sekarang! Mulai dari sekarang, segera kurangi layar, perbanyak karya. Stop gaming, perbanyak membaca, berjalan, dan berinteraksi dengan keluarga. Kurangi scrolling, perbanyak helping. Kurangi FOMO, perbanyak waktu nabung pahala.

Kita ini pelajar Muslim. Punya Allah sebagai tujuan, Rasulullah sebagai teladan, dan mimpi besar sebagai cita-cita tertinggi. Jangan biarkan dunia maya merampas mimpi mulia itu. Yuk, mulai dari sekarang: Detoks gadgetmu, raih mimpimu! Biar hidup makin berarti, makin berprestasi, dan selalu berkontribusi. []

Pos terkait