Oleh: Siti Aisyah, S.Sos., Koordinator Kepenulisan Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Setiap 12 Rabiul Awal, kaum Muslim selalu mengenang kelahiran manusia agung, seorang yang Allah SWT disebut sebagai rahmatan lil ‘alamin. Beliau adalah Rasulullah SAW, manusia yang dipilih Allah untuk mengusir kegelapan jahiliyah dan membawa cahaya Islam ke seluruh penjuru dunia.
Ketahuilah, kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada umat manusia. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Anbiya ayat 107 yang artinya, “Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Rahmat di sini bukan sekadar risalah saja, tapi dalam akhlak, kasih sayang, dan tuntunan kehidupan yang beliau wariskan kepada kita. Beliau itu bukan hanya sebagai pemimpin spiritual saja, tapi pemimpin politik, kepala negara, pemimpin militer, pendidik, suami, ayah dan sahabat. Dalam setiap aspek beliau menunjukkan keteladanannya.
Maka, kecintaan yang hakiki hanya kepada Rasulullah SAW yakni dengan meneladaninya, mengamalkan sunnahnya, mengikuti ucapan dan perkataannya, menjalankan perintah dan larangan karena itu semata-mata perintah Allah SWT dan berusaha memiliki akhlak seperti akhlaknya beliau. Tanpa beliau, kita akan tetap berada dalam kegelapan dan kesesatan.
Oleh karena itu, dengan memperingati Maulid Nabi SAW, kita bisa mengambil hikmahnya yakni:
Pertama, memupuk cinta kepada Nabi SAW. Iman tidak akan sempurna tanpa cinta kepada Nabi. Rasulullah SAW bersabda,“Tidak sempurna iman seseorang hingga aku lebih ia cintai daripada dirinya, orang tuanya, dan seluruh manusia” (HR. Bukhari & Muslim).
Peringatan Maulid sebagai momen menyegarkan kembali cinta kita kepada Nabi SAW mengenang kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang beliau.
Kedua, meneladani akhlak Mulia Nabi SAW. Sebagaimana yang disampaikan Allah SWT dalam Al-Qur’an surah al-Ahzab ayat 21 yang artinya, “Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu.”
Dengan mengenang kehidupan Nabi, kita diajak untuk meneladani akhlaknya — kejujuran, amanah, kesabaran, dan keberanian dalam menegakkan kebenaran.
Ketiga, menyadarkan akan pentingnya meneladani perjuangan beliau dalam menegakkan Islam secara kaffah. Pasalnya beliua menerapkan aturan Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan, baik itu dalam masalah ibadah, akhlak, keluarga, ekonomi, politik, kenegaraan, dan jihad. Yang pasti Nabi SAW menerapkan Islam dalam segala aspek kehidupan.
Oleh karena itu, kita juga saat ini harus berjuang dan berdakwah sekuat tenaga agar sistem Islam bisa diterapkan dalam segala aspek kehidupan di bawah kepemimpinan Islam yakni khilafah Islam.
Keempat, mempererat ukhuwah Islamiyah. Peringatan Maulid bukan hanya soal mengenang kelahiran Nabi, tapi juga memperkuat persaudaraan umat Islam. Umat Islam harus saling bahu membahu menolong sesama Muslim. Pasalnya, sesama Muslim itu adalah saudara seiman. Jika mereka kesulitan, kelaparan, diintimidasi, dijajah, Muslim yang lainnya harus membantu dan membela.
Oleh karena itu peringatan Maulid Nabi SAW kali ini harusnya bisa menyadarkan umat Islam, para pemimpin negeri-negeri kaum Muslim, akan pembelaannya kepada saudara seiman seperti yang dialami warga Gaza di Palestina, karena mereka sebagai bagian dari umat Muslim agar mereka terbebas dari penjajah kafir laknatullah.[]