Judul : Kucing Bernama Dickens
Penulis : Callie Smith Grant
Genre : Fiksi/Kumpulan Cerita
“Kucing itu mengingatkanku pada lengan Tuhan yang mengulurkan persahabatan sejati, pangkuan yang hangat, dan pemujaan yang nyata.” — Clover, Twila Bennett, h. 28
Kucing, makhluk berwajah imut dengan kedua bola matanya yang berbinar disertai dengan tingkahnya yang terkadang berada di luar dugaan manusia. Melalui tingkahnya tersebut, kucing sebenarnya tengah mengungkapkan perasaannya atau bahkan menyampaikan pesan-Nya kepada kita, tetapi kita enggan untuk meluangkan waktu sejenak dan merenungi kehadiran makhluk menggemaskan itu di dunia ini. Banyak pula dari kita yang terkadang sampai hati menyiksa kucing tanpa sebab yang jelas. Padahal, apabila kita mengasihi dan bersahabat dengan kucing, akan hadir berbagai keajaiban dalam hidup kita.
Buku berjudul “Kucing Bernama Dickens” merupakan sebuah kumpulan cerita pendek mengenai kucing dan kehidupan manusia karya Callie Smith Grant. Buku tersebut diterbitkan pada 7 September 2023 oleh penerbit Baca. Buku “Kucing Bernama Dickens” terdiri dari 236 halaman dengan 24 cerita pendek di dalamnya. Buku tersebut adalah buku terjemahan yang berjudul asli “A Dickens of a Cat” dalam bahasa Inggris. Di Amerika Serikat, buku “A Dickens of a Cat” diterbitkan pada tahun 2007 oleh Baker Publishing Group di Michigan.
Callie Smith Grant adalah editor dari buku “A Prince among Dogs” dan “A Dickens of a Cat”. Ia juga merupakan penulis dari beberapa buku non-fiksi untuk pembaca muda dan dewasa serta banyak cerita maupun puisi yang bertemakan hewan dalam antologi Guidepost dan di majalah seperti Small Farmers Journal. Callie Smith Grant sangat menyukai berbagai jenis hewan. Ia menuliskan banyak cerita hewan yang berhasil diterbitkan dan berhasil memenangkan Medali Maxwell dari Dog Writers Association of America melalui karya “Second-Chance Dog”, “Second-Chance Cats” (memenangkan Medali Muse dari Cat Writers’ Association), The Horse of My Dreams, The Horse of My Heart, The Dog Next Door, The Cat in the Window, The Dog at My Feet, dan The Cat in My Lap.
Setiap orang yang memiliki kucing tentunya punya kisah tersendiri dengan kucingnya. Beberapa orang memiliki pengalaman dengan keseharian hidup mereka yang selalu ditemani dengan kucing, hingga pengalaman buruk berupa ditinggal mati oleh kucing kesayangannya. Bahkan, ada yang mengalami sebuah kejadian mengagumkan seperti terselamatkan karena kehadiran seekor kucing. Inilah yang menjadi beberapa alasan mengapa penulis mengambil kucing sebagai inspirasi karyanya. Buku berjudul “Kucing Bernama Dickens” karya Callie Smith Grant merupakan gambaran dari berbagai pengalaman hidup yang dialaminya bersama seekor kucing. Salah satu yang masih lekat dalam ingatan Callie adalah ketika kucing membangunkan seorang temannya saat terjadi kebakaran di rumahnya. Hal-hal tersebutlah yang penulis rangkum dalam 24 cerita pendek yang ditulis oleh 22 kontributor. Para kontributor tersebut rata-rata merupakan pencinta hewan atau yang memiliki hewan peliharaan. Pada setiap cerita pendek dalam buku “Kucing Bernama Dickens”, kucing memainkan peran penting dalam cerita. Isi dari cerita-cerita tersebut membahas permasalahan hidup yang biasa terjadi di kehidupan manusia dan kemudian kucing datang sebagai ‘solusi’ dari permasalahan itu.
Ketika seseorang dilanda masalah atau mengalami suatu penyakit keras, maka ia akan merasa cemas dan beranggapan bahwa ia tidak akan memiliki masa depan. Alih-alih masalah diselesaikan atau berjuang melawan penyakit yang diderita, rasa takut dan rasa cemas hanya akan membuat kondisi seseorang semakin memburuk. Memang demikianlah yang berlangsung di sekitar kita, termasuk yang dialami oleh Gwen Ellis dalam cerita pendek “Kucing Bernama Dickens”. Cerita pendek tersebut sangat lekat dengan reaksi kita apabila kita tengah putus asa, hingga terkadang kita tidak menyadari bahwa kebahagiaan dari dalam diri sendiri merupakan ‘solusi’ dari masalah atau ‘obat’ dari penyakit itu sendiri. Hal serupa lainnya, ketika seorang anak mendapat hukuman di sekolahnya akibat kenakalan yang diperbuatnya, orang tua dari anak tersebut pasti akan marah atau bahkan tidak mengharapkan anak itu lagi dalam hidupnya. Cerita pendek “Kucing yang Menyelamatkan Seorang Bocah” oleh Linda S. Clare benar-benar menggambarkan perasaan orang tua terhadap sikap anaknya yang nakal dan merasa tidak tahan lagi untuk mengurus anaknya itu. Selain itu, cerita pendek tersebut juga sangat berkaitan erat dengan ketidaktahuan orang tua atas sikap anaknya, yang mungkin saja positif dan berguna bagi orang lain.
Cerita pendek “Keajaiban-Keajaiban Kecil” oleh Lonnie Hull DuPont dapat dijadikan suatu asupan rohani bagi pembacanya. Cerita pendek tersebut mengajarkan bagaimana seharusnya kita mensyukuri hal-hal kecil yang kita punya dalam kehidupan ini dan menyadari bahwa Sang Pencipta selalu menjaga kita. Dengan tokoh “Aku” yang mengenang kembali ibunya yang telah meninggal serta menyadari adanya kehidupan berikutnya setelah kehidupan ini, cerita pendek “Keajaiban-Keajaiban Kecil” patut dinobatkan sebagai cerita paling religius dalam buku ini. Gelar tersebut juga berlaku untuk cerita pendek “Kucing Pemakan Segala” oleh Tracie Peterson, di mana tokoh “Aku” dan anaknya selalu melibatkan Tuhan dalam segala hal yang tengah dihadapinya. Percakapan yang dilakukan oleh keduanya tidak pernah luput dari menyebut kata “Tuhan”.
Pada cerita pendek “Sang Pendamai”, Callie Smith Grant sebagai penulis secara tidak langsung melukiskan apa yang ia rasakan ketika ia melihat kucing yang tersesat dan ingin sekali merawatnya. Callie mengungkapkan sifatnya yang iba dan tidak tega terhadap kucing tersebut walaupun ia dan suaminya harus mempertimbangkan hal itu dengan matang. Callie juga secara tidak langsung menggambarkan karakternya dan suaminya yang tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Hal yang sama terlihat pula pada cerita pendek “Kucing Ibuku” oleh Renie Burghardt. Dalam setiap kalimat yang ditulis dalam cerita tersebut, Renie berusaha mengekspresikan rasa rindunya kepada ibunya yang telah meninggal dan hanya mewariskan seekor kucing kepadanya. Renie juga menjelaskan perasaannya bahwa ia begitu menyayangi kucing warisan ibunya tersebut.
Pada cerita pendek “Keajaiban-Keajaiban Kecil” oleh Lonnie Hull DuPont terdapat adegan sedih yang akan membuat kita meneteskan air mata. Ini terjadi ketika sang dokter hewan hendak menawarkan kepada tokoh “Aku” dan suaminya untuk menyuntik mati kucingnya yang diduga menderita FIP (feline infectious perintonitis) alias radang selaput rongga perut yang ganas serta menular karena kucing itu tidak akan hidup lama. Kabar buruk tentang kematian hewan menggemaskan tersebut serta tokoh “Aku” dan suaminya yang lebih memilih untuk merawat kucing malang itu hingga kematiannya tiba menjadi puncak kesedihan yang dirasakan ketika membaca cerita pendek “Keajaiban-Keajaiban Kecil”. Kesedihan luar biasa juga dapat ditemukan pada cerita pendek “Frankie, si Kucing Penjaga” oleh Alyce McSwain. Cerita tersebut mampu menyentuh hati kecil kita dengan karakter Frankie si kucing yang begitu setia kepada tokoh Robert dan Frankie berusaha menyampaikan bahwa ia ingin berpamitan kepada Robert karena perpisahan antara mereka telah tiba untuk selamanya. Tidak hanya itu, cerita pendek “Frankie, si Kucing Penjaga” dibawakan dalam kalimat-kalimat yang indah dan puitis.
Ketika membaca buku, kita berharap bahwa kita mendapatkan sesuatu yang baru dari buku tersebut. Buku berjudul “Kucing Bernama Dickens” patut mendapatkan apresiasi atas isi ceritanya yang mengandung wawasan baru, misalnya pada cerita pendek “Konser Terakhir” oleh Terri Castillo-Chapin. Cerita pendek tersebut mengenalkan tokoh Yuri Kuklachev dari Teater Moskow Rusia yang bepergian ke seluruh dunia dengan dua puluh ekor kucing rumahan. Begitu juga pada cerita pendek “Kucing Ibuku” oleh Renie Burghardt yang kaya akan peristiwa sejarah Perang Dunia II dan dampak perang yang dirasakan tokoh “Aku”.
Buku ini tidak banyak memberikan ilustrasi di dalamnya dan hanya dipenuhi oleh narasi-narasi, sehingga pembaca yang tidak terbiasa mungkin akan merasa bosan dengan alur ceritanya. Di samping tidak adanya ilustrasi, buku ini juga tidak berwarna, sehingga pembaca yang tidak terbiasa mungkin akan merasa bosan dengan alur ceritanya. Namun, secara keseluruhan, setiap cerita pendek dalam buku tersebut dituliskan dengan bahasa yang mampu menarik hati kita dan membawa kita mengikuti perjalanan dalam cerita. Selain itu, diselipkan beragam kutipan indah, informasi singkat atau fakta unik, dan peribahasa mengenai kucing. Bagi penggemar binatang dan hewan peliharaan, khususnya kucing, sudah siapkah untuk membaca buku “Kucing Bernama Dickens”?
NASTITI SWASIWI N.
RIFAT
Mahasiswa Sastra Belanda Universitas Indonesia