Oleh : Anneke Tsabitah Zhafirah, mahasiswi dari IAI SEBI
Di era digital saat ini, kebiasaan “scroll” media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda. Tanpa terasa, waktu berjam-jam bisa habis hanya untuk melihat berbagai konten singkat yang terus muncul tanpa akhir. Fenomena ini dikenal sebagai doomscrolling, yaitu kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan tanpa tujuan yang jelas.
Kemudahan akses informasi memang membawa banyak manfaat. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan baru yang sering kali luput dari perhatian, yaitu menurunnya produktivitas dan terganggunya keseimbangan hidup. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: apakah kebiasaan ini masih bisa dikendalikan, atau justru sudah menjadi gaya hidup yang sulit dilepaskan?
Kebiasaan scroll tanpa henti di media sosial dapat menjadi salah satu penyebab menurunnya produktivitas generasi muda, terutama ketika penggunaannya tidak disertai dengan kesadaran dan pengendalian diri.
Pertama, media sosial dirancang sedemikian rupa agar pengguna betah berlama-lama. Fitur seperti infinite scroll dan konten yang disesuaikan dengan minat pengguna membuat aktivitas ini terasa menyenangkan, tetapi tanpa disadari menyita banyak waktu. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, bekerja, atau beristirahat menjadi terabaikan.
Kedua, kebiasaan ini juga memengaruhi kemampuan fokus. Terbiasa dengan konten yang singkat dan cepat membuat seseorang cenderung kesulitan untuk berkonsentrasi dalam jangka waktu lama. Hal ini dapat berdampak pada penurunan kualitas belajar maupun pekerjaan.
Ketiga, dari sisi psikologis, konsumsi media sosial yang berlebihan dapat memicu perasaan cemas, lelah, bahkan tidak percaya diri. Hal ini sering terjadi karena adanya kecenderungan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih ideal di media sosial.
Tinjauan
Meski demikian, media sosial tidak sepenuhnya berdampak negatif. Jika digunakan secara bijak, platform ini dapat menjadi sarana hiburan, sumber informasi, hingga peluang untuk mengembangkan diri dan bisnis. Banyak individu yang berhasil memanfaatkan media sosial untuk membangun citra diri maupun memperluas jaringan.
Namun, manfaat tersebut hanya dapat dirasakan apabila penggunaan media sosial tetap berada dalam batas yang wajar. Tanpa kontrol yang baik, penggunaan yang berlebihan justru lebih banyak membawa dampak yang merugikan.
Penutup
Scroll tanpa henti bukan sekadar kebiasaan kecil, melainkan fenomena yang dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran untuk menggunakan media sosial secara lebih bijak dan terarah.
Langkah sederhana seperti membatasi waktu penggunaan, memiliki tujuan saat membuka media sosial, serta memprioritaskan aktivitas yang lebih bermanfaat dapat membantu menjaga keseimbangan. Dengan demikian, teknologi dapat tetap menjadi alat yang mendukung kehidupan, bukan justru menghambat perkembangan diri.