Belenggu Anemia: Risiko yang Mengancam  Segala Aspek Kehidupan Perempuan Antargenerasi

Belenggu Anemia: Risiko yang Mengancam  Segala Aspek Kehidupan Perempuan Antargenerasi

 

Pendahuluan

 

 Kesehatan merupakan suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan (cacat)” – WHO 

 

Peningkatan kualitas hidup penduduk di suatu negara semestinya beriringan pula dengan tingkat kesehatan masyarakatnya. Apabila masyarakat telah mampu terhindar dari risiko menderita suatu penyakit, maka rasio produktivitas dan kualitas hidupnya pun akan meningkat pula. Jika membicarakan mengenai isu kesehatan, tentunya kita dapat menelisik definisi kesehatan dari WHO, yang menyatakan bahwa kesehatan tidak hanya terbatas kepada aspek fisik saja, melainkan secara sistematis mencakup keadaan yang ideal, baik secara fisik, mental, maupun sosial. 

 

Di era society 5.0 yang sarat akan leburnya kehidupan manusia dan teknologi seperti saat ini, tentunya kemajuan dari suatu peradaban diprakarsai dengan semakin meningkatnya keterlibatan remaja putri dan tenaga kerja perempuan di berbagai sektor. Kelompok laki-laki dan perempuan pun semakin bersinergi bersama, sehingga mampu mengemban tugas dan peran sesuai dengan keahliannya masing-masing demi meningkatkan taraf kehidupan yang lebih baik  saat ini maupun di masa yang akan datang. Oleh karena itu, pemberdayaan ini harus semakin dikembangkan agar mampu menunjang produktivitas dan kualitas hidup masyarakat yang semakin baik kedepannya.  

 

Urgensi yang Harus Diperhatikan Saat Ini 

Namun, kenyataannya hingga saat ini masyarakat Indonesia terutama kelompok perempuan masih terbelenggu oleh teror dari suatu penyakit, yang mengancam tidak hanya dari segi kesehatan fisik saja, tetapi juga berpengaruh terhadap penurunan daya  produktivitas individu. Sebuah penyakit yang eksistensinya senantiasa mengikat bak jalinan mata rantai yang mampu mengancam status gizi antargenerasi. Penyakit ini sudah tak asing terdengar di telinga kita, sebuah momok mengerikan yang bernama anemia. Berdasarkan data dari Riskesdas pada tahun 2018 silam, melalui survey yang melibatkan anak dan remaja dengan rentang usia 5-24 tahun, diketahui bahwa setiap 3 dari 10 orang anak dan remaja di sekitar kita ternyata menderita anemia (Kemenkes, 2018). Sedangkan, pada studi di tahun 2017 lalu, kasus anemia khususnya pada remaja putri mencapai skor yang mencengangkan, yakni sebesar 57,1%, sedangkan pada wanita usia 19-45 tahun sebesar 39,5% (Angelina, et al., 2020). Mirisnya, prevalensi anemia pada perempuan usia subur (15-49 tahun) di Indonesia adalah yang tertinggi ke-4 di Asia Tenggara, yakni sebesar 30,4% (Attaqy, et al., 2021). Bahkan, pada kasus ibu hamil dengan anemia, ternyata berisiko 3,6 kali lebih besar mengalami kematian pada saat persalinan. Rasanya begitu penting untuk membahas penyakit ini terutama risikonya terhadap kelompok perempuan. Jadi, apa sebenarnya penyakit anemia itu? 

 

Presensi Anemia

Anemia merupakan peristiwa ketika tubuh memiliki kadar hemoglobin (Hb) dalam darah yang lebih rendah dari ambang normal (WHO, 2011). Hemoglobin merupakan sebuah bagian dari sel darah merah yang berguna untuk mengikat oksigen dan mengangkutnya ke seluruh sel jaringan tubuh. Hal ini diperlukan oleh tubuh kita yang sangat memerlukan oksigen agar mampu bekerja dengan baik sesuai dengan fungsinya. Jika jaringan otot dan otak kita kekurangan oksigen, maka akan berdampak pada kurangnya kebugaran tubuh dan berpengaruh terhadap daya konsentrasi yang jadi melemah. Pernahkan anda merasa lemas atau tidak mampu fokus saat berkonsentrasi? jika iya, cobalah untuk memahami tanda-tanda yang diberikan oleh tubuh anda, karena bisa saja itu adalah alarm yang menandakan bahwa terdapat kemungkinan anda menderita anemia.

 

Hemoglobin dibentuk oleh zat gizi makro, yaitu protein yang biasa kita dapatkan pada daging atau kacang-kacangan dan zat gizi mikro besi, yang merupakan suatu zat di dalam daging, sayuran, hati, dan sebagainya. Kedua zat ini akhirnya membentuk sel darah merah (Kemenkes, 2018). Protein berguna dalam transportasi zat besi di dalam tubuh, sementara zat besi berfungsi sebagai pembentuk hemoglobin. Oleh karena itu, defisiensi (kekurangan) zat besi dapat menghambat pembentukan sel darah merah yang menjadi cikal bakal timbulnya anemia. 

 

Penyebab Anemia

Penyebab dari anemia sebenarnya bervariasi, beberapa di antaranya yakni defisiensi (rendahnya asupan) zat gizi akibat tidak cukup mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi, lalu pendarahan yang dapat terjadi karena menstruasi yang lama dan berlebihan, serta hemolitik, yakni dapat terjadi pada kasus malaria kronis ketika terjadi penumpukan zat besi di hati dan limpa ataupun pada penderita thalasemia yang sel darah merahnya mudah pecah, sehingga menyebabkan akumulasi zat besi yang dapat menyebabkan kerusakan organ. Kasus anemia secara garis besar di Indonesia lebih sering diakibatkan oleh rendahnya asupan zat besi (Kemenkes, 2018). Namun, kelompok perempuan ternyata lebih berisiko mengalami anemia, yang dapat diakibatkan oleh pendarahan berupa siklus menstruasi yang tidak wajar, dalam artian berlebihan atau terjadi dalam kurun waktu yang lama. Apalagi, siklus menstruasi senantiasa terjadi setiap bulan, sehingga risiko perempuan menderita anemia menjadi semakin tinggi. 

 

Gejala anemia

Apabila seseorang mengalami anemia, maka gejala yang tampak secara umum, yaitu 5 L (Lesu, Letih, Lemah, Lelah, Lalai), sakit kepala dan merasa pusing, mata berkunang-kunang, mudah mengantuk, mudah lelah dan sulit konsentrasi, serta wajah, kelopak mata, bibir, kulit, kuku, dan telapak tangan yang pucat akibat kekurangan besi. Oleh sebab itu, kecenderungan yang terjadi pada perempuan yang mengalami kekurangan zat besi ialah merasa tidak enak badan, mudah lelah, kurang tanggap, lemas, mudah sakit, dan kesulitan dalam menjalani aktivitas. Hal ini juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan reproduksi perempuan secara berkelanjutan, mengingat bahwa perempuan  cenderung lebih rentan terkena penyakit ini karena siklus menstruasi yang tidak wajar. Prevalensi anemia lebih banyak terjadi pada perempuan, sebab perempuan mengalami siklus menstruasi secara teratur setiap bulan. Apabila jumlah darah yang keluar terjadi secara tidak wajar, tentunya berpengaruh terhadap kurangnya kadar hemoglobin di dalam tubuh (Aulya, et al., 2022). 

 

Selain aspek kesehatan dan reproduksi, tentunya penderita anemia akan mengalami gangguan seperti kehilangan fokus, mudah letih, prestasi menurun, dan merasa lesu berkepanjangan yang dapat berpengaruh terhadap produktivitas kerja mereka, bahkan berisiko mengurangi kualitas hidup perempuan secara jangka panjang, sehingga penting untuk mencari kausalitas antara anemia dengan berbagai permasalahan ini.

 

Isi 

 

Dampak anemia terhadap kesehatan reproduksi

Anemia memiliki hubungan yang timbal-balik dengan kesehatan reproduksi perempuan. Pada siklus menstruasi yang tidak normal, pendarahan dapat terjadi karena darah yang keluar secara berlebihan atau siklus haid yang terjadi cukup lama, sehingga menyebabkan kadar hemoglobin perempuan menjadi berkurang. Riset penelitian menunjukkan bahwa kadar hemoglobin yang cukup dapat membantu keteraturan siklus menstruasi pada perempuan. Maka, yang terjadi apabila kadar hemoglobin rendah adalah sebaliknya, yakni dapat berpengaruh terhadap gangguan sistem reproduksi perempuan. Anemia pada remaja putri pun dapat berdampak buruk terhadap kesehatan reproduksinya, karena dapat mengganggu siklus menstruasi mereka. Berdasarkan hasil suatu penelitian, sebanyak 33% responden dari siswi SMA sebenarnya telah mengenali bahwa siklus menstruasi dapat menimbulkan anemia yang akan berdampak terhadap kesehatan reproduksi mereka, apabila menstruasi terjadi secara tidak wajar (Angelina, et al., 2020). 

 

Tentunya, selain akibat dari pendarahan, anemia defisiensi (kekurangan) zat besi juga berpengaruh terhadap reproduksi perempuan. Kekurangan gizi mikro, yakni zat besi akan menimbulkan masalah pada perempuan antargenerasi, baik remaja putri, wanita dewasa, maupun ibu hamil dan janin. Remaja dan wanita dewasa berisiko mengalami defisiensi besi, karena perilaku diet atau pola makan yang tidak sehat dengan memangkas asupan pangan yang kaya akan zat besi, sehingga berisiko mengalami kekurangan asupan nutrisi yang membentuk hemoglobin. Pada masa menstruasi, kebutuhan zat besi pada remaja putri dan wanita dewasa tentunya akan meningkat dibandingkan sebelum siklus terjadi. 

 

Ditambah pada masa kehamilan, kebutuhan zat besi ibu meningkat sebanyak tiga kali lipat, karena terjadi peningkatan jumlah sel darah merah untuk memenuhi kebutuhan terbentuknya plasenta dan janin (WHO, 2016). Apabila gizi ibu hamil tidak terpenuhi dengan baik, tentu akan berpengaruh terhadap kesehatan diri dan janin yang dikandungnya. Bahkan, seorang ibu yang menderita anemia juga lebih berpotensi meningkatkan kematian, bayi lahir prematur, stunting, gangguan neurokognitif, gangguan tumbuh kembang, serta bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Sebenarnya, bayi memperoleh zat gizi dari simpanan gizi milik ibunya, sehingga kualitas gizi selama kehamilan tentu sangat penting untuk dijaga demi kesehatan dan keberlangsungan kualitas hidup bayi. Apabila bayi-bayi telah lahir, mereka akan membawa ovum (sel telur) yang akan dimiliki sepanjang hidupnya. Dengan demikian, kualitas sel-sel telur tersebut adalah refleksi dari status gizi milik sang ibu. Maknanya secara sederhananya adalah, kualitas sel telur yang akan menjadi seorang cucu, ternyata ditentukan oleh kualitas gizi neneknya (Kemenkes, 2018). 

 

Intinya, apabila seorang perempuan di masa mudanya mengalami anemia, ternyata akan berisiko meningkatkan ancaman terhadap kualitas gizi bayinya, sehingga si bayi juga berisiko mengalami anemia sejak usia dini.  Hal ini menjadi pembuktian bahwa anemia mengancam bukan hanya individu saja, melainkan menjadi jalinan mata rantai yang membelenggu tiga generasi sekaligus, yakni nenek, ibu (anak perempuan), dan cucu. Nyatanya, anemia adalah penyakit yang menghantui kelompok antargenerasi. Hal ini tentunya menjadi perhatian krusial mengingat bahwa risiko perempuan penderita anemia akan berdampak serius terhadap generasi yang akan dilahirkannya. 

 

Dampak anemia terhadap produktivitas dan kualitas hidup perempuan

Gambar 1.1 Besi dan Dampak Ekonomi (Produktivitas dan Kesadaran). Sangobion

Anemia memiliki dampak buruk terhadap perempuan usia subur, di antaranya ialah kelelahan, penurunan daya tahan tubuh menjadi mudah terinfeksi, merosotnya kebugaran dan kelihaian berpikir akibat kurangnya asupan oksigen ke sel otot dan otak, serta mengganggu produktivitas kerja (Kemenkes, 2018). Selain pernyataan dari Kemenkes tersebut, berdasarkan hasil penelitian lainnya dari Maulidia, (2017), menunjukkan bahwa risiko anemia pada pekerja ditandai melalui kelelahan, penurunan kapasitas, serta  terganggunya produktivitas kerja (Rasyidi, et al., 2021). 

 

Dampak dari anemia nyatanya secara sistematis tidak hanya mengancam kesehatan seseorang, tetapi juga mengganggu produktivitas dan kualitas hidupnya. Hal ini berkaitan dengan pernyataan WHO mengenai prinsip kesehatan yang mencakup keadaan sempurna secara fisik, mental, dan sosial. Hasil penelitian lainnya pun juga menunjukkan bahwa anemia memberikan dampak buruk pada produktivitas perempuan, di antaranya yakni kelelahan bekerja, tidak fokus, kualitas kerja menurun, bahkan berisiko menyebabkan target kinerja sulit untuk dicapai. Hal ini tentunya disebabkan oleh penurunan kadar hemoglobin yang dapat menyebabkan merosotnya kebugaran tubuh dikarenakan krisis kadar oksigen yang masuk ke sel otot dan sel otak. 

 

Polemik anemia menjadi topik yang sangat krusial, terutama bagi perempuan yang senantiasa mengalami siklus menstruasi setiap bulan. Menjadi penderita anemia adalah mimpi buruk bagi  perempuan di setiap kalangan, mulai dari remaja putri,  ibu rumah tangga, maupun wanita karir, semuanya berisiko terkena anemia. Bagi remaja putri, mereka akan merasa kesulitan untuk fokus selama proses pembelajaran, merasa lemas tidak bersemangat, sehingga kegiatan akademiknya pun dapat terganggu. Sedangkan pada ibu rumah tangga dan wanita karir, mereka yang sudah merasa sangat kewalahan dengan pekerjaannya pun semakin dibuat stres dengan penyakit ini. Acapkali mereka merasa lemas, kelelahan, tidak mampu berkonsentrasi, dan mudah terkena infeksi, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan semakin menurunnya tingkat kualitas hidup mereka kedepannya apabila penyakit ini tidak segera ditangani. 

 

Belum lagi fakta mengenai kengerian siklus anemia antargenerasi yang mampu menurunkan kualitas gizi buruk pada anak dan cucu, sehingga berisiko pula mengakibatkan stunting pada anak. Anemia, yang pada dasarnya merupakan sebuah penyakit yang cenderung dianggap sepele oleh masyarakat, nyatanya secara sistematis mampu menggerogoti segala aspek di hidup kita, terutama kelompok perempuan yang akhirnya menimbulkan pengaruh terhadap penurunan kualitas hidup kita kedepannya. Lantas, solusi apa yang bisa menjadi pilihan untuk para perempuan dalam memberantas mata rantai anemia? 

 

Solusi Memutus Belenggu Anemia 

 

Gambar 1.2 Anemia Pada Remaja Putri. Kompas/Kementerian Kesehatan

Sebenarnya, pemerintah sudah sejak lama telah  rutin memberikan edukasi yang preventif dan kuratif mengenai pencegahan dan pengobatan anemia melalui penyuluhan tentang kewajiban pemenuhan gizi dan kewajiban meminum tablet tambah darah, dengan melakukan sosialisasi di berbagai lini seperti penyuluhan di puskesmas, sekolah, posyandu, ditambah gencarnya penyebaran informasi melalui internet, dan sebagainya. Bahkan, Kemenkes RI sudah pernah merilis aplikasi pencegahan anemia pada remaja bernama CERIA (Cegah Anemia Remaja Indonesia). 

 

Pengecekan TTD penting karena 8,3 juta dari 12,1 juta remaja putri di sekitar kita tidak mengonsumsi TTD yang membuat mereka lebih berisiko mengalami anemia. Namun, masih terdapat kekurangan pada aplikasi tersebut yang hanya mencakup tracking tablet tambah darah (TTD) dan kurang lengkap merangkum mengenai segala hal mengenai anemia, sasarannya pun hanya remaja putri. 

 

Padahal, perempuan usia subur (15-49) tahun di era 5.0 seperti saat ini merupakan audiens yang lebih melek teknologi dibandingkan dengan generasi sebelumnya, tetapi sayangnya momentum tersebut kurang dimanfaatkan dengan maksimal. Oleh karena itu, agar tujuan pencegahan dan pengobatan anemia ini mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat, terutama bagi audiens wanita usia subur (15-49 tahun), maka ekspansi suatu promosi kesehatan juga perlu sesuai dengan perubahan minat dan tren pasar saat ini.

 

Dengan kemajuan teknologi pula, masyarakat di era ini sudah mampu melakukan pencarian dengan mudah dengan hasil yang sangat lengkap mengenai anemia. Mulai dari presensi, setidaknya masyarakat terutama kelompok perempuan harus memahami betul apa dan bagaimana anemia bisa terjadi, yang tentunya sumber rujukan harus sesuai dengan fakta saintifik. Kemudian, dapat pula mencari mengenai pencegahan, pengobatan, bahkan tips makanan bergizi seimbang untuk mencegah anemia. Pada pencegahan anemia, kita memerlukan pola hidup yang sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

 

Adapun, makanan-makanan yang dapat membantu meningkatkan zat besi terbagi atas sumber hewani dan nabati. Pada sumber hewani, kita dapat mengonsumsi makanan tinggi protein dan besi, di antaranya ada ikan, daging, hati, dan unggas. Sedangkan pada sumber nabati, kita dapat mengonsumsi buah yang mengandung vitamin C (jeruk, jambu, kiwi, dan sebagainya), kacang-kacangan, bayak, tahu dan tempe, brokoli, dan masih banyak lagi. Namun, perlu diperhatikan pula bahwa terdapat zat yang dapat menghambat penyerapan zat besi, yakni tanin, fosfor, serat, kalsium, dan fitat (Kemenkes, 2018). Oleh karena itu, hindari mengonsumsi makanan yang mengandung zat-zat tersebut saat ingin meningkatkan jumlah zat besi dalam tubuh.

 

Bahkan, berkat kemajuan teknologi saat ini, sudah terdapat fortifikasi bahan makanan dengan zat besi. Sederhananya yaitu menambahkan zat besi ke dalam bahan pangan yang biasa dilakukan di industri pangan (Kemenkes, 2018). Untuk mengetahui adanya fortifikasi makanan, kita dapat membaca komposisi bahan makanan untuk mengecek apakah sudah dilakukan fortifikasi sebelumnya. Beberapa bahan makanan tersebut di antaranya ada tepung terigu, beras, minyak goreng, mentega, bubuk tabur gizi (multiple micronutrient powder), bahkan makanan ringan. 

 

Kemudian, kita juga dapat memutuskan belenggu mata rantai anemia dengan tracking tablet tambah darah (TTD). Pada suatu keadaan ketika makanan tidak mampu mencukupi kebutuhan zat besi dalam tubuh kita, maka jalan yang selanjutnya perlu dilakukan ialah dengan konsumsi suplementasi zat besi. Hal ini bertujuan meningkatkan kadar hemogobin secara instan. Bahkan, pemerintah pun sudah membuat program pemberian TTD pada remaja  putri dan wanita usia subur (WUS) yang dilakukan sekali seminggu. Untuk memudahkan pengecekan, Kemenkes juga telah merilis aplikasi tracking CERIA untuk minum TTD ini, walaupun masih jauh dari kata sempurna dan baru terbatas pada audiens remaja putri, sehingga belum mampu secara holistik membantu seluruh perempuan dalam melakukan tracking minum TTD. 

 

Padahal, proporsi anemia pada perempuan usia subur dan wanita hamil di Indonesia juga masih terbilang tinggi (24,3%), dengan faktor dominan terjadinya anemia pada perempuan usia subur yang pernah hamil di Indonesia adalah ketidakpatuhan mengonsumsi tablet tambah darah (Attaqy, et. al., 2021). Seharusnya, hal ini perlu menjadi perhatian lebih dari pemerintah untuk memperluas ekspansi dari aplikasi agar mampu melakukan tracking kepada seluruh kategori perempuan usia subur.

 

Ditambah, kini terdapat pula laman website yang mampu melakukan diagnosis dasar bagi seseorang yang ingin mengecek apakah mereka mengidap anemia, yakni website Anemia Meter dari Sangobion. Website ini mudah untuk diakses dan mampu memberikan gambaran awal yang jelas mengenai faktor risiko anemia, sehingga memudahkan pengguna untuk memutuskan kapan harus berkonsultasi ke dokter. Semakin maraknya penggunaan media sosial juga dapat menjadi nilai tambah agar masyarakat semakin mudah mengakses informasi dan semakin gencar meningkatkan pengetahuan seputar anemia. 

 

Hal ini tentunya dapat menjadi alasan untuk semakin meningkatkan kesadaran bersama untuk memanfaatkan lekatnya teknologi dengan kehidupan manusia saat ini di era 5.0, mengingat bahwa semakin mudahnya mendapat akses informasi ternyata mampu menyelamatkan begitu banyak jiwa, sehingga penting dilakukan intervensi dan kerja sama multisektoral, baik dari sisi pemerintah, pihak swasta, maupun masyarakat dalam memberantas siklus anemia antargenerasi ini melalui media internet.

 

Oleh karena itu, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah dengan memantapkan kualitas aplikasi CERIA, semakin menggencarkan penyuluhan mengenai anemia di berbagai platform, serta mengedukasi masyarakat agar semakin aktif memanfaatkan gawai dalam mencari informasi yang dapat dipantik dengan menyediakan website atau akun media sosial yang lebih mengerucut membahas anemia, sehingga dapat menjadi rujukan lengkap mengenai segala hal tentang anemia, sebab hal tersebut akan memudahkan akses dan meningkatkan minat masyarakat untuk semakin menaruh perhatian terhadap anemia, sehingga tujuan memutus belenggu mata rantai anemia antargenerasi di negeri kita pun tidak hanya sebatas angan-angan saja. 

 

Penutup

Kesimpulan

Pengaruh anemia ternyata tidak sesederhana seorang individu merasa lesu dan kurang konsentrasi dalam menjalani aktivitas, tetapi lebih daripada itu. Anemia berperan terhadap gangguan reproduksi dan menganggu produktivitas perempuan secara berkelanjutan, sehingga menimbulkan risiko menurunnya kualitas hidup perempuan antargenerasi. Hal ini semakin menimbulkan keresahan, karena risiko anemia dapat berpengaruh secara signifikan terhadap menurunnya kualitas gizi antargenerasi. Apabila berbagai pihak terus menerus tak acuh terhadap eksistensi penyakit ini, maka masyarakat, terutama  kelompok perempuan di negeri ini dapat terbelenggu oleh siklus anemia secara berkelanjutan, sehingga penurunan kualitas sumber daya manusia dari suatu bangsa pun juga akan dipertaruhkan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kesadaran dan intervensi dari kerja sama multisektoral agar dapat menghentikan jalinan mata rantai anemia secara holistik dan berkelanjutan, demi peningkatan kualitas hidup masyarakat yang semakin baik kedepannya.

Nama Peserta : Maya Angelika Praba Astuti 

Tema : Memutus Mata Rantai Anemia Sebagai Siklus Antargenerasi (Breaking the Chain of Anemia as an Intergenerational Cycle)

Sub Tema :Hubungan Anemia dengan Kesehatan Reproduksi, Produktivitas, dan Kualitas Hidup Perempuan (Correlation between Anemia and Women’s

Reproductive Health, Productivity, and Quality of Life)

Daftar Pustaka

Attaqy, F. C., Kalsum, U. & Syukri, M., 2021. Determinan Anemia Pada Wanita Usia Subur (15-49 Tahun) Pernah Hamil di Indonesia. JMJ, Special Issues, JAMHESIC, pp. 220-233.

Aulya, Y., Siauta, J. A. & Nizmadilla, Y., 2022. Analisis Anemia Pada Remaja Putri. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 4(4), pp. 1377-1386.

Ayosehat.Kemenkes.go.id, 2022. Remaja Bebas Anemia: Konsentrasi Belajar Meningkat, Bebas Prestasi. [Online] Available at: https://promkes.kemkes.go.id/remaja-bebas-anemia-konsentrasi-belajar-meningkat-bebas-prestasi  [Diakses August 2023].

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018. Pedoman . Dalam: Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Pada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur (WUS). Jakarta: s.n., pp. 2-59.

Khobibah, Nurhidayati, T., Ruspita, M. & Astyandini, B., 2021. Anemia Remaja dan Kesehatan Reproduksi. Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan, Volume 3(2), pp. 11-17.

Koerniawati, R. D., 2022. Dampak Kekurangan Zat Besi (Anemia) Pada Pekerja Wanita. Tirtayasa Medical Journal, Volume 2(1), pp. 30-34.

Qudriani, M. & Umriaty, 2020. Peningkatan Pengetahuan Karyawati Yogya Mall Tentang Anemia Pada Wanita Usia Subur (WUS). Jurnal Abdimas PHB , Volume 3(2), pp. 61-68.

Angelina, C., Siregar, D. N., Siregar, P. S. & Anggeria, E., 2020. Pengetahuan Siswi Kelas XI Tentang Dampak Anemia Terhadap Kesehatan Reproduksi. Jurnal Keperawatan Priority, Volume 3(1), pp. 99-106.

Arlinta, D., 2021. Penanganan Anemia Cegah Malnutrisi. [Online] Available at: https://www.kompas.id/baca/ilmu-pengetahuan-teknologi/2021/05/28/penanganan-anemia-cegah-malnutrisi  [Diakses August 2023].

 

Pos terkait